Italic untuk apa yang dipikirkan Taehyung
.
.
Chapter 8
−Weak
Aku ingin menjadi bahagia dan kuat. Tapi, mengapa aku melemah? Apa karena kau yang semakin hari semakin menjauh?
.
.
Ruangan itu gelap. Suara cicit tikus terdengar beberapa kali dan membuat Taehyung menendang-nendang kakinya kesana kemari. Meras geli sendiri jika tikus-tikus itu naik ke atas tubuhnya. Bibir kissablenya yang menawan tertutup oleh sebuah lakban berwarna hitam. Kedua tangannya terikat pada kursi yang ia duduki. Beruntung kaki dan matanya masih selamat.
Keringat mengucur deras dari wajah Taehyung, tubuhnya bergetar hebat. Tangannya berusaha untuk membuka ikatan itu, namun yang ada malah membuatnya kesakitan. Beberapa kali ia juga membuat suara untuk meminta tolong, tapi ketimbang suaranya, cicitan tikus mungkin lebih terdengar keras.
Suara deritan pintu terdengar. Taehyung mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang. Dan wajah Myungsoo terlihat dengan jelas detik itu juga. Seringaiannya juga terlihat semakin lebar, ya tentu saja semakin lebar, apa yang dia inginkan sudah ia dapat bukan? Lelaki brengsek itu pasti sudah merayakan pesta kemenangannya sekarang, pikir Taehyung kesal.
"Merasa bosan?" pertanyaan paling bodoh!
Myungsoo mendekat, dan berjongkok untuk melihat dengan jelas ketakutan di wajah Taehyung saat ini. "Kau lapar? Aku membelikanmu makanan dan minuman. Setidaknya makanlah. Percuma aku membawamu kalau ka mati"
Kedua mata Taehyung menajam. Lebih baik aku mati daripada harus hidup bersama orang gila sepertimu!
"Kau tahu, keringatmu mengalir deras. Kau jadi semakin sexy" ucap Myungsoo dengan suara rendah, dan Taehyung menganggap Myungoo orang paling sinting sekarang
Setelah cukup lama memandang Taehyung, Myungsoo berdiri dan membuka lakban hitam itu dan Taehyung langsung saja terengah-engah. Sudah tiga hari dan perutnya memang belum terisi apapun, perutnya sakit dan Taehyung yakin lambungnya pasti sudah meraung-raung.
Dan, kapan ia mendapatkan bantuan? Kemana sahabat-sahabatnya itu? Kenapa sampai detik ini tak ada yang membantunya? Mereka sudah tidak peduli kah padanya? Jungkook juga, bukankah dia mencintai Taehyung? Tapi kenapa dia tidak datang sebagai pahlawan?
Myungsoo menyodorkaan sekotak makanan dan juga air mineral pada Taehyung. Taehyung tak segera mengambilnya, ia hanya menatap Myungsoo dengan ragu. Tidak ada racun di dalamnya 'kan? Atau sesuatu yang aneh?
"Aku tidak memasukan apapun ke dalamnya meski aku sangat ingin. Makanlah sekarang atau aku akan memberikannya pada anjing peliharaanku" Seketika terdengar gonggongan anjing dari luar rumah tak layak huni itu, Taehyung merinding mendengarnya. Pemuda itu dengan cepat meraih makanan dan minumannya.
"Well, kemana superheromu? Dia belum datang juga?" Myungsoo bergumam
Taehyung tak menjawabnya, ia terlalu fokus pada makanan yang terasa sangat lezat dilidahnya itu. Apa ini karena ia sudah lama tidak makan? Ya, pasti.
"Aku pikir, setelah ada kabar kau menghilang, dia akan datang dengan cepat dengan kuda putihnya. Tch, kau memang tidak pantas bersamanya, Tae. Aku hanya cocok bersanding denganku. Kita banyak memiliki persamaan."
Taehyung berhenti melahap makanannya dan menatap Myungsoo dengan keda pipi yang mengembung. Myungsoo tersenyum, senyumnya tidak menakutkan kali ini, terkesan tulus.
"Aku dengar dia mencintaimu. Dan aku juga mencintaimu. Kau pilih siapa?"
Taehyung mengunyah makanannya perlahan. Kalau ia memilih Jungkook, apa kabar dengan nyawanya? Tapi kalau ia memilih Myungsoo, itu pun ebih parah lagi. Bisa-bisa dia akan terkurung bersama orang gila itu sampai mati.
Myungsoo tetap tersenyum, Taehyung berpikir mungkin Myungsoo juga tidak menuntut jawaban darinya.
"Aku anak yatim piatu" ucap Myungsoo sesaat setelah Taehyung kembali melanjutkan acara makannya
"Kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan saat aku berumur tujuh tahun. Dan hal itu terjadi di depan mataku. Saat itu aku sedang berjalan menuju sekolah yang letaknya tidak begitu jauh dari rumahku. Ayah dan Ibu hendak pergi ke pesta rekan kerja mereka. Di sepanjang jalan aku tersenyum sembari memikirkan oleh-oleh apa yang akan dibawakan oleh Ayah dan Ibu sepulang dari sana,"
Taehyung berhenti mengunyah dan memandang Myungsoo yang sedang menatap lurus pada jendela di hadapannya.
"Tidak lama, bahkan aku berpikir baru sepuluh langkah aku berjalan. Tapi suara mobil yang beradu dengan sebuah truk besar itu terjadi. Awalnya aku mengabaikannya, karena aku tak ingin terlambat. Tapi ketika melihat syal berwarna biru yang tergeletak di aspal itu, aku memutuskan untuk ikut melihat siapa yang kecelakaan. Dan disanalah aku melihat Ayah dan Ibu bersimbah darah. Syal biru itu adalah pemberian dariku saat Ibu berulang tahun dua hari sebelumnya"
"Aku tidak menangis. Ibu akan marah jika aku menangis. Lalu, keluargaku yang lain mulai melakukan kekerasan padaku. Aku tidak tahu apa sebabnya, tapi yang aku ingat, aku menaruh benci dan dendam pada mereka. Hingga sekarang"
Myungsoo menyelesaikan ceritanya dan menatap Taehyung dengan tatapan yang sulit diartikan. Seakan-akan ada kobaran api di dalam kedua matanya, dan Taehyung merasa terbakar karena tatapan itu.
"Lalu, kenapa aku begitu mencintaimu?"
Taehyung diam.
Myungsoo tersenyum.
"Itu karena kau bisa bermain piano. Dan kedua orangtuaku adalah, pianis"
.
.
"Tuan Jungkook, sebaiknya Anda tidak masuk. Tuan besar sedang berbicara dengan rekan kerjanya" seorang pelayan mencoba menghentikan Jungkook yang sedari tadi tetap kukuh ingin masuke ke ruang dimana Ayahnya berada.
"Adakah rekan kerja yang berbicara seraya mengeluarkan suara tembakan? Biarkan aku masuk pak Jang, aku ingin tahu pembicaraan apa yang mereka bahas" Jungkook melepaskan cengkraman tangan pelayan itu dengan sedikit kasar
Ada apa dengan suara tembakan? Kenapa Ayahnya itu harus mengobrol sembari bermain-main dengan pistol? Dia pikir rumahnya itu untuk latihan menembak apa?
Jungkook berjalan cepat menuju pintu besar dengan ornamen-ornamen emas yang menempel disana. Pemuda itu membuka pintunya dengan sekali coba. Dan kedua matanya langsung melebar ketika ia melihat Ayahnya jatuh dengan tangan yang menutup dadanya. Beberapa orang yang Jungkook tahu itu adalah bodyguard Ayahnya dengan cepat memeriksa kondisi Ayahnya. Apa itu darah? Batin Jungkook saat melihat warna merah menyebar di piyama Ayahnya itu. Dia ingin mendekati Ayahnya, tapi kemudian matanya terpaku pada sebuah pistol yang tengah di genggam oleh pria di depannya itu.
Jungkook memalingkan wajahnya pada seorang pria yang berdiri tepat di depan tubuh Ayahnya. Pria itu memakai topi, sehingga Jungkook tidak bisa melihatnya dengan jelas. Dan ketika pria itu berbalik, Jungkook merasa dunia sudah gila.
"Kau?"
Pria itu tersenyum, atau menyeringai? Pria yang Jungkook kenal sebagai polisi paling malas yang selalu bisa menumpas kejahatan, adalah seseorang yang telah menembak Ayahnya. Kim Namjoon.
"Selamat malam, Jeon Jungkook. Senang bertemu denganmu"
"M—mengapa kau menembak Ayahku?"
"Sebagai balasan karena dia telah menembak keluargaku. Bahkan lebih parah dari ini"
"K—kau—"
"Ayahmu, ah tidak, bajingan itu pantas mendapatkannya"
Lalu Namjoon pergi, tanpa bisa Jungkook cegah karena ia terlalu syok. Ia sudah dengar semuanya dari Seokjin. Tapi kenapa di hari ini Namjoon membalaskan dendamnya? Kenapa di saat-saat ia juga tengah kalut karena Taehyung entah dimana? Bagaimanapun juga Junghwan adalah Ayahnya 'kan?
Beberapa pelayan mulai berdatangan mendekati Jungkook, bertanya apa ia juga ikut terluka. Tapi tak ada satupun suara yang keluar dari mulut Jungkook. Jungkook hanya diam dengan pandangan kosong.
Jadi, bagaimana ia bisa membantu Taehyung? Padahal dia ingin meminta pertolongan pada Namjoon? Tapi setelah pria itu menembak Ayahnya?
Jungkook menangis dalam hatinya.
.
.
Taehyung mulai lelah. Ia lelah untuk menunggu kedatangan Jungkook atau sahabatnya yang lain. Dia sudah muak harus dikurung di ruangan gelap yang bahkan ia yakin sebentar lagi ruangan—atau gubuk—ini akan rubuh jika ada angin topan yang menyerangnya.
Myungsoo baru saja pergi meninggalkannya. Taehyun tidak mau tahu lelaki itu pergi kemana. Tapi dia harus bersyukur, karena sejak hari pertama ia diculik sampai sekarang, Myungsoo tidak pernah melukainya. Lelaki itu bahkan memberinya makan tiga kali sehari, minus ikatan di tangan dan kakinya. Tapi setidaknya ia diberi makan 'kan? Karena kalau Myungsoo memang jahat padanya, dia sudah pasti mati pada hari pertama penculikannya.
Myungsoo itu, harus Taehyung akui ia iba pada Myungsoo. Ia tahu Myungsoo pasti melakukan itu karena dia marah. Karena dia tidak tahu harus bagaimana setelah ditinggal kedua orang tua. Tinggal sendiri dengan bayang-bayang mengerikan tentang kematian orang tuanya. Karena Taehyung juga sama.
Tapi Myungsoo lebih parah menurutnya, karena Myungsoo tetap sendiri. Tidak sepertinya yang punya sahabat disana-sini.
Setiap kali Myungsoo datang untuk memberinya makan. Setiap kali itu juga Myungsoo bercerita. Tentang apa yang dia lakukan hari itu, atau hal-hal kecil mengenai masa lalunya. Taehyung tahu, Myungsoo menculiknya karena ia butuh teman bercerita.
Meski Taehyung tidak pernah meladeninya—karena bingung harus mengatakan apa—Myungsoo tidak marah. Mungkin karena lebih baik begitu. Setidaknya ada yang mendengarkan ceritanya. Ada yang mendengar kesedihannya.
Derit pintu terdengar. Taehyung mungkin sudah biasa tinggal di ruangan pengap ini. Tapi tetap saja, mendengar pintu terbuka di malam hari membuat Taehyung takut. Bagaimana jika ada hantu disana?
"Kau tidak mau keluar?" suara Myungsoo terdengar
Ia membawa kantong plastik berwarna hitam. Mengeluarkan sebuah kotak makan dan meletakannya di sebuah meja kecil yang sudah rusak dimakan rayap.
Taehyung berdeham pelam. "Aku sangat ingin"
"Aku tidak akan membebaskanmu kalau mereka belum datang"
"Lalu kenapa kau bertanya?" gerutu Taehyung
Myungsoo tertawa kecil. Tawanya lucu sekali, Taehyung hampir tidak yakin kalau Myungsoo yang tawanya lucu itu telah tega menculiknya.
"Aku hanya ingin tahu seberapa pedulinya mereka padamu. Tapi sudah tiga hari ini mereka belum datang"
Penculik seperti itu? Dia memang bukan penculik sejati
"Kau pasti berpikir kenapa aku repot-repot begini?"
Tidak juga
"Itu karena aku ingin tahu, apakah di dunia benar-benar ada orang yang peduli? Kebanyakan aku melihat mereka peduli hanya saat mereka memang ingin peduli, bukan karena harus peduli"
Taehyung diam. Mencerna perkataan Myungsoo. Agak membingungkan baginya.
"Kau—mengerti maksudku 'kan?"
"Ya"
Myungsoo tersenyum. Senyuman simpul yang Taehyung tahu apa artinya.
"Sebenarnya banyak yang peduli padaku. Bahkan aku tidak bisa menghitungnya. Namun, mereka peduli karena ingin. Karena merasa iba. Mereka tidak tulus peduli padaku. Mereka hanya berpikir bagaimana jika aku bunuh diri karena tinggal sendiri. Bukan berpikir bagimana aku bisa menghadapi dunia meskipun hanya sendiri"
"Aku—aku tidak ingin seperti itu. Aku hanya ingin dipercayai mereka kalau aku bisa melakukannya walaupun sendiri. Aku ingin mereka menguatkanku, bukan membuatku selalu ingat pada kematian dan kesedihan. Mereka datang hanya ingin membuatku semakin jatuh"
"Aku—"
"Kau tidak sendiri, Myungsoo" Taehyung bersuara
Myungsoo mendongak, matanya berair.
"Aku tahu rasanya terus diingatkan pada kesedihan. Aku tahu rasanya dikasihani. Itu memang memuakkan. Mereka hanya datang untuk berkata, yang sabar yaa~ tanpa pernah berpikir kalau itu malah semakin membebani orang yang sedang sedih. Yang orang-orang sedih butuhkan itu adalah kekuatan"
Taehyung memandangi lampu yang mulai meredup. Tapi tetap bertahan untuk menerangi ruangan itu.
"Aku sama sepertimu, aku juga pernah sedih sekali. Tapi aku selalu mengatakan pada diriku sendiri kalau aku bisa. Aku bisa melewatinya. Aku bisa menghadapinya"
Kali ini mereka berpandangan. Myungsoo dengan pandangannya yng diliputi kesedihan, dan Taehyung dengan pandangannya yang tulus peduli pada Myungsoo.
"Kau masih punya banyak waktu untuk memperbaikinya, Myungsoo"
Dan Myungsoo sadar akan satu hal.
Dia memang hanya harus menguatkan dirinya sendiri.
.
.
Jungkook selalu benci dengan rumah sakit. Dan melihat Ayahnya terlelap di bangsal dengan banyak alat terpasang di tubuhnya itu membuat Jungkook tidak tahu harus apalagi. Ia hancur melihat Ayahnya harus terbaring lemah di sana. Koma.
Karena Junghwan tetaplah Ayah Jungkook , sebenci apapun ia pada pria itu.
"Tuan Muda, Anda harus pulang. Sejak kemarin Anda juga belum makan apapun. Anda tidak boleh sakit, Ayah Anda pasti akan sedih melihat Tuan Muda seperti ini"
Jungkook tidak mau mendengarnya lagi. Ia tidak mau mendengar siapapun. Ia ingin bersama Ayahnya untuk saat ini.
Tapi, semuanya benar. Ayahnya pasti sedih bila ia seperti ini. Jadi ia bangkit meski sedikit lemas karena sejak kemarin belum ada makanan apapun yang masuk ke dalam tubuhnya. Jungkook menepis tangan pelayan pribadinya itu dan berkata bahwa ia baik-baik saja dan masih bisa berjalan sendiri.
Sang pelayan tentu saja tidak percaya. Tetapi Tuan Mudanya itu sangat keras kepala. Mau tidak mau ia harus menurut. Jungkook berjalan dengan diawasi beberapa pelayan yang memang siaga di depan ruang rawat Ayahnya.
Mata itu kembali menetes tatkala mendapati seorang lelaki yang menyebabkan Ayahnya terbaring di rumah sakit. Siapa lagi kalau bukan Kim Namjoon?
Pria itu berdiri dengan tegap, pancaran matanya penuh dengan kebencian. Jungkook bisa melihatnya, kedua tangan itu terkepal kuat. Menahan amarah.
Dan kejadian berikutnya adalah hal yang sangat tidak di duga-duga oleh para pelayan dan juga Kim Namjoon. Pria itu sama sekali tidak menduga bahwa Jungkook akan bersujud seperti ini.
Ya, bersujud. Pada kaki yang sudah menembakkan pelurunya pada Ayahnya, dan juga menanggung derita karena pembantaian Ayahnya.
"Aku minta maaf padamu. Aku minta maaf. Aku sangat minta maaf"
Jungkook bangun, hanya untuk sekedar melihat Namjoon yang terdiam.
"Aku tahu—aku tahu maaf saja tidak cukup untuk semua yang Ayahku pernah lakukan padamu. Aku tahu kau sangat menderita karena Ayahku. Aku tahu Ayahku memang pantas mendapatkannya. Tapi—tapi bisakah kau memaafkannya?"
"Dia tetaplah Ayahku. Dia—hanya satu-satunya yang ku punya di dunia ini. Aku tidak tahu harus bagaimana jika dia pergi meninggalkanku. Aku tidak tahu harus bagaimana"
Namjoon tetap diam. Memandang Jungkook yang keadaannya sangat jauh dari kata baik. Air mata itu tidak berhenti mengalir. Wajahnya memerah, matanya yang bengkak sudah menjelaskan berapa lama ia telah menangis.
Jungkook menyeka air matanya dengan kasar. Lalu membungkuk lagi. Meminta maaf dengan sungguh-sunggu. Meminta maaf atas perbuatan yang pernah Ayahnya lakukan.
"Aku mohon maafkan Ayahku! Aku mohon!"
Tepat saat itu, Jungkook kehilangan Ayahnya.
.
.
.
.
T B C
Sorry untuk update yang lama banget. Maafkan typo(s) yang ada karena gue ngerjainnya dengan terburu-buru, karena gue yakin kalian pasti lama banget nunggu chap ini. Entah ada yang masih mau baca atau engga, yang pasti gue cuma gamau ninggalin utang:')
Gue gatau bagaimana dengan chap ini, tapi gue berharap kalian senang. Tinggal dua chap lagi, dan doain aja semoga gue ga update lama lagi.
Seeeyaaa~
