Before Sunrise You Are Mine
Sequel Enchanted
Disclaimer: I Own Nothing
Multi Chapter
Review and Enjoy!
.
.
.
.
Bagian 2
Ia menatap lekat-lekat wanita dihadapannya. Sungguh tidak percaya bisa menemuinya sekarang. Sungguh hidup itu sangat lucu. Naruto ingin mengatakan sesuatu. Meminta maaf karena ia tidak menemuinya. Bertanya bagaimana kehidupannya. Naruto sungguh ingin mengatakan sesuatu, tapi semua terhenti di tenggorokannya. Sungguh ia tidak percaya siapa sosok yang dihadapannya sekarang.
"Kau baik-baik saja? Kau kelihatan sedikit pucat?" Tanya wanita itu khawatir.
Saat mendengar kata itu, seulas senyuman tergambar di wajahnya.
"Bagaimana Eropa?" Tanya Naruto tiba-tiba.
Wanita itu lalu tertawa dan menutup mulutnya dengan punggung tangan. "Bukankah sudah terlambat delapan tahun untuk menanyakannya?"
"Yah, tidak ada salahnya bertanya kan?" tukas Naruto.
Wanita itu menatapnya dengan pandangan menyelidik. Berpikir pria dihadapannya ini sungguh keren dengan kedua tangan dimasukkan di saku celana.
'Bukankah dia selalu keren' akunya dalam hati.
"Kau benar," ujar wanita itu. "Bagaimana kabarmu?" lanjutnya.
"Aku baik-baik saja. Hidup sampai melewati wisuda," ujarnya bercanda. Candaan yang garing itu disambut tawa sopan dari wanita di hadapannya.
Mereka saling menatap. Keheningan mengisi ruang di antara mereka. Hembusan angin malam membuat wanita itu menggosok-gosok lengannya. 'Dia tidak berubah sama sekali. Masih sama seperti terakhir kali aku melihatnya,' pikir Naruto.
"Ku dengar kau bertunangan? Selamat ya," ujar wanita itu memecah keheningan.
Naruto menggaruk belakang lehernya dan menunduk menatap sepatu hitamnya. "Ya," akunya.
Keheningan lagi.
Merasa agak kikuk akhirnya wanita itu memutuskan untuk berpamitan.
"Baiklah, karena malam ini sangat dingin aku akan pulang. Aku tidak ingin mati kedinginan di sini. Itu sungguh absurd," ujarnya lalu membuka pintu lalu meletakkan tasnya di kursi mobil.
"Selamat malam Naruto," ujar wanita itu dengan senyuman yang sangat Naruto rindukan. Dan sekali lagi ia menahan wanita itu masuk ke dalam mobil.
"Hinata," ujarnya.
"Ya?"
"Aku ingin meminta maaf," ujar Naruto agak gugup. Hinata memandangnya bingung. "Minta maaf untuk?" tanyanya.
"Kau tahu. Persetujuan kita," ujar Naruto penuh rasa sesal.
'Ah, dia sungguh lucu' ungkap Hinata dalam diam.
"Aku seharusnya menemuimu setahun kemudian di pantai Kirigakure karena aku tidak menemukan buku itu. Aku sungguh minta maaf akan hal itu.."
"Naruto," ujar Hinata berusaha memotongnya.
Namun, ia tidak menggubrisnya, ia terus berceloteh "Aku seharusnya menemuimu. Aku sungguh berengsek. Padahal aku yang meminta untuk melakukan persetujuan itu.."
"NARUTO!" ujar Hinata keras. Akhirnya pria dihadapannya itu berhenti bicara.
"It's okay," tukas Hinata lagi "Aku juga tidak datang waktu itu. Kau tidak perlu merasa bersalah," akunya.
Mendengar hal itu Naruto mendengus lega.
"Aku merasa sangat bodoh," ujar Naruto sambil tertawa.
"Ya. Aku sadar akan hal itu," canda Hinata. Mendengar perkataan itu mereka saling berbagi senyuman.
"Baiklah, aku harus pulang sekarang," ujar Hinata lagi. "Selamat malam Naruto," Hinata merapikan mantel yang ia kenakan. Bersiap masuk ke dalam mobil.
Sekali lagi Naruto mencegahnya..
"Hinata," ujarnya perlahan "Maukah kau mengambil satu perjalanan lagi denganku,"
Agak terkejut mendengarkan hal itu Hinata memalingkan wajahnya. Semilir angin menemai kecanggungan mereka. Tidak ada jawaban dari Hinata. Ia lalu menatapnya lurus. Dan itu membuat Naruto sangat gugup.
"Kumohon," ujarnya memelas.
'Ini bermain dengan api' pikir Hinata. Ia memejamkan matanya. Mencoba mencari jawaban pasti. Ia tahu apa konsekuensinya. Namun, entah dorongan apa dari semesta yang dirasakannya ia ingin mengambil kesempatan itu. Hinata membuka matanya dan langsung bertemu tatap dengan warna biru yang sangat indah.
Hinata pun mengangguk kecil dengan seulas senyuman.
X X X
Hinata menyetir sedan hitamnya menyusuri jalanan Konoha yang diterangi temaram lampu jalan. Duduk di sebelahnya ada Naruto yang sedang memandang ke jendela. Asyik sendiri dengan pikirannya.
"Jadi, mau ke mana kita?" Tanya Hinata akhirnya. Memecah keheningan. Seakan tersadar dari lamunan Naruto berpaling dan menatap Hinata yang sedang memusatkan konsentrasi pada jalan.
"Aku dengar ada churros yang enak di Suna,," ujar Naruto. Hinata memandangnya aneh. Raut wajahnya seakan-akan menggambarkan 'apakah orang ini serius.'
"Kau ingin ke Suna hanya karena churros?" Tanya Hinata kebingungan.
"Ya," angguk Naruto polos.
"Baiklah," tutur Hinata dengan sedikit tertawa lalu menyalakan stereo mobil. Seketika suasana hening yang mengisi tergantikan oleh alunan musik psychedelic. Seakan-akan menambah nuansa magis sebuah perjalanan yang sekali lagi mereka ambil. Naruto memandang pepohonan dengan daun kecokelatan silih berganti. Pepohonan itu pun berganti dengan pemandangan bangunan-bangunan mewah dengan arsitektur klasik. Konoha memang dikenal sebagai kota seni. Beralih pandang dari pemandangan di luar, ia menatap Hinata. Melihat wajahnya yang hanya disinari cahaya remang-remang membuatnya sedikit terpana. Ia masih sama, seperti delapan tahun yang lalu. Masih gadis misterius bagi Naruto. Ia pun bertanya-tanya apakah hidupnya akan berubah jika waktu itu ia menemukan buku itu? Dan siapa yang mengambil buku itu? Apakah orang itu menghubungi Hinata? Berbagai pertanyaan memendungi pikiran Naruto. Namun, ia teringat perkataan Sasuke, 'apa pun yang kau alami sekarang, itulah yang terbaik. Mungkin agak berat sekarang, tapi percayalah semesta memiliki rencana yang baik untukmu.'
Hinata yang sadar sedari tadi dipandangi oleh orang yang duduk di kursi penumpang balik menatapnya dengan pandangan aneh. "Apa?" tanyanya.
Naruto hanya menggeleng singkat dan mengalihkan pandangan ke depan "Tidak ada," ujarnya.
Tidak percaya akan hal itu Hinata menyipitkan matanya dan menusuk pipi Naruto dengan telunjuknya, "Ada sesuatu di wajahku kan?" ujarnya.
Naruto hanya mengangkat bahunya tidak ingin memberikan jawaban. Masih bersikukuh Hinata kembali menusuk pipinya dengan telunjuk, "Apakah karena make up ku? Aku terlihat aneh ya?" ujar Hinata lalu mengambil cermin kecilnya.
Naruto hanya tersenyum simpul melihat tingkah laku wanita di sampingnya yang kalang kabut mencari cermin. "Tidak ada yang salah denganmu. Kau sempurna," ujarnya.
Hinata tersentak mendengar hal itu lalu tersenyum menatap Naruto, "Dasar kamu keju,"
X X X
Hinata memarkirkan mobilnya setelah 15 menit perjalanan. Itu membuat Naruto kebingungan. Bukankah seharusnya mereka ke Suna. Ia pun mengikuti langkah Hinata yang keluar dari mobil. Sedikit kebingungan ia lalu mengejar kecil Hinata. Berusaha menyamakan langkah mereka.
"Kukira kita akan pergi ke Suna?" Tanya Naruto.
"Ya, kita memang akan ke sana. Tapi jika ingin melakukannya, kita harus melakukannya dengan benar. Seperti perjalanan kita kemarin,"
Naruto kebingungan mendengar perkataan Hinata. Ia menghentikan langkahnya sedangkan wanita dihadapannya melangkah cepat dan sesekali melihat jam di ponselnya. Sadar akan kawan perjalanannya tidak mengikutinya ia lalu membalikkan badan menatapnya aneh.
"Ayo Naruto, kita harus cepat kereta terakhir ke Suna akan berangkat lima menit lagi," ujar Hinata dengan nada yang buru-buru.
'Ah. Melakukannya dengan benar' pikir Naruto. Ia pun tersenyum dan menyamakan langkah. Setelah mereka saling berdampingan lagi. Hinata memutuskan untuk melakukan sesuatu yang agak nakal.
"Aku tanding kau sampai ke peron," ujarnya dengan senyuman nakal. Dengan itu Hinata melepas sepatu hak tingginya dan berlari.
Merasa dicurangi Naruto terpaku "Hei, ini tidak adil!" teriaknya. Sadar bahwa wanita itu tidak akan berhenti ia pun mengambil langkah cepat mengejar perempuan itu.
Mereka melihat pintu kereta sudah mulai tertutup. Menambah kecepatan mereka akhirnya bisa menyelipkan badan dan ikut ke dalam kereta. Hampir saja mereka ketinggalan. Dengan nafas yang memburu dan langkah sembarangan merekaa mengambil tempat duduk di kereta menuju Suna yang sangat sepi itu.
"Kita harus mengganti pakaian sesampai di Suna," ujar Hinata dengan nafas yang masih memburu.
"Setuju," ujar Naruto.
Hinata pun mengambil ponselnya dan memencet nomor yang sudah sangat ia hafal. "Aku akan menelepon temanku di Suna, siapa tahu ia punya pakaian yang bisa kita pinjam," ujarnya. Hinata meletakkan telepon di telinganya. Menunggu orang di ujung lain untuk mengangkatnya. Hinata pun mengucapkan kata sapaan setelah orang itu mengangkat telepon. Naruto lalu memalingkan wajahnya dari Hinata dan menatap lurus ke depan. Menyaksikan warna lampu di terowongan berganti-ganti dengan cepat. Sesekali menerangi kegelapan di terowngan itu. Naruto pun tersenyum, tidak percaya bahwa ia masih di beri kesempatan untuk bertemu wanita di sampingnya sebelum ia mengikat janji dengan wanita kesayangannya. Ia tahu ini akan jadi masalah. Namun, itu adalah urusan di masa mendatang. Saat ini ia hanya ingin menikmati sensasi berdebar yang pernah ia rasakan bersama Hinata delapan tahun yang lalu.
Mereka tiba di Suna, dan udara malam benar-benar berbeda di Konoha. Tidak menusuk tulang, tapi lembut bagai angin sepoi-sepoi. Mereka lalu mengambil bus menuju rumah kawan Hinata itu. Naruto pernah ke Suna, tapi ia tidak begitu mengetahui jalanan di tempat ini. Berbeda dengan Hinata yang seakan-akan Suna adalah rumah keduanya.
Mereka tiba di sebuah gedung apartemen berwarna merah bata. Hinata lalu memencet nomor 7 dan berbicara di intercom.
"Hei, ini aku. Aku ada di bawah," tutur Hinata.
Tak lama kemudian suara berat dan samar-samar terdengar dari intercom, "Oke," ujarnya.
Bell pun berbunyi dan pintu otomatis segera terbuka. Hinata lalu menarik tangan Naruto dan segera menaiki tangga menuju lantai dua.
Pintunya berwarna cokelat tua. Kayunya sudah lapuk. Naruto berpikir orang ini harus segera mengganti pintunya. Hinata lalu memberikan dua ketukan lembut. Dan seketika pintu pun terbuka. Menampilkan seorang pria tinggi dengan rambut gelap dan acak-acakan.
'Tunggu, sepertinya aku pernah melihat orang ini,' pikir Naruto.
"Hei," ujar Hinata seraya memeluk pria tinggi itu.
"Shino, kau masih mengingat Naruto kan?" lanjutnya lembut.
Oh ya, dia salah satu dari teman-teman Hinata semasa SMA dulu. Naruto hanya memberikannya agukan kecil dan senyuman. Pria itu membalasnya dengan a grunt. Layaknya pria-pria minim kata lainnya. Shino pun menggeser badannya dari ambang pintu dan mempersilahkan mereka masuk.
"Tunggu saja di sini," ujar Hinata sambil mengikuti Shino masuk ke sebuah kamar.
Naruto pun mengangguk dan melihat dekorasi apartemen itu. Dekat perapian ia melihat beberapa bingkai foto dan ia mendekatinya. Ada foto pria itu bersama keluarganya. Bersama lebah-lebah. Bersama dengan Kiba dan Hinata. Lalu foto terakhir foto saat kelulusan mereka, berjejer di sana ada Ino, Sai, Shikamaru, Chouji, Kiba, dan Kurenai beserta anaknya. Sungguh kumpulan yang ramai pikirnya sambil tersenyum sedih. Ia sadar bahwa satu orang dari foto itu tidak ada, yaitu Hinata. Tentu saja ia mengingat bahwa Hinata tidak ikut upacara kelulusan SMA mereka. Ia pun bertanya-tanya apakah ia tidak merasa menyesal ikut upacara kelulusan hari itu dan kehilangan momen-momen ganjil seperti ini. Naruto berjanji akan menanyakan hal itu nanti.
Beranjak dari sana di sebuah nakas berjejer kotak plastik dengan lubang-lubang kecil. Di dalamnya ada kumbang-kumbang yang jenisnya baru ia lihat sekarang. Ia pun bertanya-tanya apa pekerjaan pria ini.
Tak lama kemudian Hinata muncul dari kamar dengan sebuah kaos, jaket parka, dan jeans hitam. Ia lalu menyodorkannya ke Naruto.
"Kamar mandi ada di ujung lorong," ujar Hinta lalu kembali masuk ke dalam kamar.
Naruto pun memandang pakaian di tangannya bertanya apakah ini akan muat di badannya, mengingat tubuh Shino yang lebih besar dari badannya. Namun, pada akhirnya ia memutuskan untuk menggunakannya saja. Lebih nyaman memakai pakaian itu, daripada memakai tuxedo yang tentunya akan mengundang banyak perhatian orang. Setelah ini ia akan kembali melakukan perjalanan baru dengan Hinata. Dan ia sungguh tidak sabar untuk hal itu.
X X X
TBC
Author's Note:
Halo teman-teman, terima kasih atas review kalian. Dari review teman-teman aku merasa bahagia karena itulah efek yang kuinginkan saat kalian membacanya (muahahaha *evil laugh). AKu tidak menyangka bisa update bagian kedua secepat ini. Namun, aku ingin meminta maaf kalau bagian kedua agak sedikit menggantung. Tapi, aku ingin membuat cerita ini berjalan selama mungkin. So, aku buat ini menjadi cliffhanger.
Buat kakak yang mereview tentang paper towns, my answer is yes (Oh My Freaking God I really love the book. And the movie) Just like I said di Enchanted cerita itu diinspirasi dari berbagai film dan buku coming of age. Untuk bagian ini Hinata memutar musik dari stereo mobilnya, nah lagu itu adalah "Midnight City" oleh M83.
Anyway, aku tidak tahu bagaimana caranya membalas review langsung tanpa harus menuliskannya di sini. Hmm benar-benar katrok aku. Buat teman-teman yang khawatir, tenang saja. Cerita ini akan berakhir seperti yang kalian mau (Hopefully aja ya guys. For now, I think that ending it with that conclusion is a good idea, but I don't know if in the future I will change my mind. Sorry). If it's a love story at some point someone has to get hurt.
Berbeda dengan cerita pertama di mana nuansa remaja dan dewasa muda sangat kental (menurut aku aja ni ya). Untuk cerita ini mungkin agak lebih berat karena mereka berdua sudah dewasa and sometimes life gets in the way. But trust me guys, meskipun banyak rintangan untuk mereka di beberapa bab ke depan, if it's really meant to be, love will find a way. Dan aku benar-benar percaya bahwa Naruhina is a couple made in heaven. So, bear with me in this rollercoaster (I hope) story. Untuk mencapai akhir yang indah harus melewati bebatuan yang tajam. So don't get bored with this story guys.
Love Always.
Ps: Jangan lupa review and enjoy the story.
