Before Sunrise You Are Mine
Disclaimer: I Own Nothing
Multi Chapter
Sequel Enchanted
Bagian 3
Mereka berjalan menyusuri jalanan Suna yang diterangi lampu jalan. Angin malam sesekali menghembus membuat Hinata mempererat jaket hitam yang ia kenakan. Setelah berganti pakaian, mereka menitipkan setelan pesta itu di apartemen Shino. Malam hari di Suna masih ramai dengan para penduduknya yang berjalan-jalan menikmati kota yang indah itu. Hinata membimbing mereka menuju tempat churro yang terkenal di Suna.
"Kenapa kau tahu jalanan di Suna?" tanya Naruto menyamakan langkahnya dengan Hinata.
"Kakekku tinggal di sini," ujarnya.
"Oh ya? Berarti kau asli Suna dong?"
"Tidak juga. Ayahku lahir di sini, tapi saat dia berumur tiga tahun ia bersama saudaranya pindah ke Konoha untuk tinggal bersama ibu mereka. Intinya mereka ke sana untuk sekolah," ujar Hinata sambil meletakkan kedua tangannya di saku jaket. "Belok kiri," ujarnya melanjutkan jalan dan Naruto mengikutinya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku yang tadi. Bagaimana Eropa?" tanya Naruto.
Hinata tertawa lepas mendengar pertanyaan itu "Kau sungguh ingin tahu?" tanya Hinata.
"Ya," ujar Naruto pasti. Hinata lalu menggelengkan kepala menolak memberi jawaban. "Oh,ayolah," paksa Naruto. Hinata menghela nafas panjang lalu menatap Naruto penuh selidik "Baiklah," ujarnya.
"Apa yang ingin kau tahu tentang perjalananku di Eropa? Selain bahwa tempat itu sungguh indah. Kapan-kapan kau harus ke sana," tutur Hinata.
"Apa saja," ujar Naruto.
"Well, itu menyenangkan. Tapi aku hanya di sana selama 3 bulan,"
"Apa yang terjadi? Bukannya setahun?"
"Ugh, ini sungguh canggung jika aku ceritakan,"
"Oh ayolah," pinta Naruto "Kita tidak bertemu selama delapan tahun setidaknya aku harus mengetahui bagaimana kabarmu,"
Hinata lalu menghela nafas panjang dan menyelipkan helaian rambutnya di belakang telinga "Jadi, perjalananku dengan Toneri berjalan sungguh lancar. Awalnya. Namun, aku tidak bisa melakukan itu kepadanya. Maksudku, aku tahu dia memiliki rasa kepadaku dan aku tidak. Perjalanan itu sungguh menyakitkan untuk Toneri, jadi aku mengakhirinya. Setidaknya kami masih berteman sekarang," ujar Hinata.
"Ouch, masih dengan komitmenmu untuk tidak menyakiti hati orang?"
Hinata mengagguk dan mengangkat kedua bahunya ke Naruto.
Mereka kembali berjalan dalam keheningan.
"Sekarang saatnya aku yang bertanya," tutur Hinata tiba-tiba "Mengapa kau tidak datang ke pantai hari itu?"
"Pertanyaan berat," ujar Naruto. Ia membuka lalu kembali menutup mulutnya. Tidak ada kata yang keluar. Seolah-olah mencari kata yang tepat.
"Baiklah," ujar Naruto lagi "Ayah angkatku meninggal hari itu,"
"Oh, aku turut menyesal Naruto,"
"Itu hari yang cukup berat bagiku. Aku ingat saat itu aku menangis, entah karena aku tidak bisa lagi bertemu dengan ayah angkatku atau tidak bisa menemuimu," aku Naruto. Hinata hanya bisa tersipu mendengarnya. Ia tidak tahu harus merasakan apa.
"Lalu, bagaimana denganmu? Kenapa kau tidak datang?" lanjutnya.
Hinata melihatnya sekilas lalu menampilkan seulas senyum simpul. "Jadi, sehari sebelum waktu pertemuan kita aku ada tes masuk universitas. Aku sudah merencakan akan segera pergi naik pesawat ke sana. Sialnya, pesawat yang akan kutumpangi ditunda dan ingin mencari penerbangan lain pun tidak bisa. Jadi, itulah alasanku,"
"Kau kuliah di mana?" tanya Naruto tiba-tiba. Hinata lalu menatapnya tidak percaya "Dari semua yang aku katakan itu yang kau tangkap?"
Naruto hanya mengangkat bahunya dan Hinata menghembuskan nafas pendek. "Aku kuliah di Oto," jawab Hinata akhirnya.
"Serius kau kuliah di oto?" ujar Naruto terkejut. Ia sungguh tidak percaya hal ini. Apakah mungkin hal yang diduga-duganya selama ini benar.
"Ya? Apakah aku tampak bercanda?"
"Tidak. Hanya saja aku pernah tinggal di Oto juga,"
"Oh ya? Kapan kau tinggal di Oto?" Hinata kembali bertanya.
Naruto mengernyitkan alisnya berusaha mengingat-ingat "Aku menetap di sana selama setahun. Kalau tidak salah 2014,"
"Sungguh? Aku tinggal di sana dari 2010 sampai 2015," Kali ini Hinata yang terkejut mendengarnya.
Tiba-tiba Naruto menghentikan langkahnya dan mengerang kesal. Hinata tampak terkejut dan menghentikan langkahnya. "Ada apa?" tanya Hinata polos.
"Sial," rutuk Naruto. Hinata hanya bisa tertawa.
"Aku ingat ada hari-hari di mana aku menduga melihatmu,"
"Oh ya? Maukah kau menceritakannya?" ujar Hinata dengan nada menggoda dan raut nakal di wajahnya.
"Jadi, waktu itu hujan. Aku ingat sekali. Lalu aku berteduh di depan sebuah toko di jalan Oto Timur 12 dan aku melihat sosok perempuan dengan ciri-cirimu keluar dari sebuah warung. Awalnya aku kira itu kau, tapi tampaknya itu mustahil karena banyak perempuan yang memiliki rambut panjang dan gelap sepertimu."
"Wow," ujar Hinata "Kau tahu, aku tinggal di jalan Oto Timur 14," jelasnya.
Naruto kembali mengerang dan menunjukkan wajah kesal "Jangan beritahu aku hal seperti itu,"
Hinata hanya bisa tertawa melihat tingkah lelaki yang berjalan di sebelahnya itu. "Tidak apa-apa. Setidaknya kita bertemu lagi,"
"Ya, delapan tahun kemudian. Saat kita sudah punya hidup masing-masing," ujar Naruto dengan nada penuh kesal.
"Kadang hal seperti itu memang terjadi." Ujar Hinata memperlambat langkahnya. Ia lalu menggosok-gosok kedua tangannya. Memberinya sedikit rasa hangat kemudian kembali memasukkannya di dalam saku jaket.
"Aku punya cerita," lanjut Hinata "konteksnya berbeda sih, tapi intinya masih sama. Jadi, kau tahu toko buku bekas di jalan Oto Barat 2?"
"Ya, toko yang memiliki pintu merah itu?" tanya Naruto.
Hinata mengangguk lalu merapikan helaian rambut panjangnya yang diterpa angin. "Kau tahu kan kadang mereka meletakkan rak buku di luar toko yang isinya novel-novel tua?"
"Ya," sahut Naruto.
"Setiap hari, sebelum kuliah aku selalu melewati toko buku itu. dan tiba-tiba suatu hari entah bagaimana sebersit aku melihat judul dari buku yang selama ini aku cari. Awalnya aku ragu, lalu aku menghampiri rak itu dan ternyata benar. Di sana tersusun rapi bagaikan ia memang selalu di situ, buku yang aku cari dari aku SMP. Langsung saja aku membelinya," jelas Hinata.
"Intinya adalah?" tanya Naruto masih kebingungan.
"Sama seperti kita. Berada di waktu dan tempat yang sama, hanya saja kita tidak bertemu. Jika memang itu adalah takdir aku yakin pasti ada jalan untuk bertemu, seperti aku dan buku itu,."
Naruto lalu mengacak-acak rambut pirangnya dan mengusap wajahnya "Sekarang aku merasa sangat bersalah" ujarnya.
"Kenapa?" tanya Hinata kebingungan.
"Karena terkadang aku memikirkan bagaimana jadinya hidupku jika kita benar-benar bertemu di kesempatan-kesempatan seperti itu," aku Naruto.
"Menurutku ada benarnya kita tidak bertemu, bisa-bisa kita saling benci," canda Hinata. Naruto hanya bisa menatapnya tidak percaya.
"Oh Naruto, percayalah cepat atau lambat kau akan membenciku. Aku adalah orang yang sangat sulit untuk ditemani," ujar Hinata dengan raut serius yang kemudian berubah menjadi senyuman dan tawa. Naruto hanya bisa memutar bola matanya. Mereka lalu kembali berjalan dalam diam. Masing-masing memperhatikan suasana di sekitar mereka. Jauh di depan mereka ad ataman yang masih ramai dikunjungi orang. Kekasih saling berbagi cerita, sekumpulan teman, bahkan keluarga yang berpiknik di malam hari. Dekat dari taman itu ada gerai kecil yang menjual churro legendaries dari Suna itu. Hinata lalu menunjuknya dan menarik lengan Naruto. Ikut mengantri di belakang beberapa orang.
X
Jadi itulah teman-teman, bagian ketiga dari cerita ini. Malam masih panjang, masih banyak cerita yang harus mereka bagi (terlebih tentang pertunangan Naruto dan love life Hinata sendiri) Cerita ini belum selesai. Setelah malam petualangan mereka ini masih ada lanjutan dan liku-liku bagi mereka berdua. Jadi, tunggu saja ya teman-teman dan selamat menikmati ceritanya. XOXO.
P.S: Jangan lupa review!
