Chapter. 02
Would you see me?
Author: Seykim
Cast: Jungkook, Taehyung, other's
Rated: T...M (?)
Genre: romance, drama, hurt, apa aja suka-suka author (?)
-WARNING-
Yaoi, boy x boy. Typo bertebaran! Author abal-abal, alur suka-suka author.
Fanfiction hasil karya author seykim. Fanfiction ini milik author. Dan Taehyung milik author juga. Hehehe *di tabok kth stan;(
.
.
Selamat membaca readers ku~
.
.
.
.
.
Taehyung meringis saat sebuah memori melintas di benaknya. Dadany berdenyut nyeri. Terasa sangat perih, seperti berdarah namun tak terlihat. Air mata seperti siap membasahi pipinya, jantungnya berpacu depan cepat
'Jungkook aku merindukan mu'
.
.
Jungkook menatap Jung songsaenim yang sedang menerangkan pelajaran sejarh di depan sana, mata Jungkook menatap ke arah papan tulis seakan ia sedang memperhatikan penuh apa yang di omongkan oleh Jung songsaenim disana. Sorot mata Jungkook begitu kosong, bgeitu juga dengan isi kepalanya. Terutama juga hatinya yang mencelos berulang kali,
'kau tau jalan pulang kan? Aku ada latihan basket nanti'
Apa secara tidak langsung Taehyung menyuruh nya pulang sendiri? Apa Taehyung tidak ingin menghabiskan hari pertama pertemuan mereka setelah bertahun-tahun tidak bertemu? Apa basket sialan itu lebih penting darinya? Fikir Jungkook. Mungkin setelah bertahun-tahun berpisah, Jungkook bukan lagi prioritas bagi Taehyung, terlebih sekarang banyak orang-orang yang dekat dengan Taehyung, berada di sisi Taehyung setiap saat.
Meski dulu saling berjanji akan selalu di sisi berama, tapi tidak. Roda memang berputar, memang begitu adanya. Jungkook hanya sebagian kecil dari hidup Taehyung sekarang. Jungkook menggeleng, 'tidak mungkin!'
Jungkook tidak akan membiarkan ini terjadi.
Taehyung, maaf. Aku akan selalu di sisi mu, selamanya. Apa pun yang akan terjadi.
"jungkook-ssi, apa kau baik-baik saja?" Jungkook mengedipkan matanya berulang kali, saat Jimin –teman sebangkunya sekaligus teman barunya itu mengguncang lengan Jungkook barusan,
"kau terlihat tidak memperhatikan Jung songsaenim barusan" lanjut Jimin, Jungkook menoleh menatap jimin, "kemana Jung songsaenim?" melihat meja guru yang telah kosong dan murid-murid yang mulai berisik membuat Jungkook tersadar,
"sudah bel istirahat" Jimin mendengus merasa pertanyaan nya di abaikan Jungkook, "kau mau ke kantin?" tanya Jimin (lagi), Jungkook menggeleng pelan, "tidak, kau duluan saja. Aku ada perlu dulu"
Setelah mendapat gelengan pelan dari Jungkook, membuat Jimin lagi-lagi mendengus kesal dan beranjak dari bangku nya meninggalkan Jungkook di kelas sendiri.
Jungkook menyusuri koridor, siswa siswi berlalu lalang di depannya, berada di kelas saat jam istirahat malah membuat Jungkook begitu bosan dan mengantuk, dan Jungkook memutuskan untuk keluar kelas. Astaga, sekolah baru nya ini benar-benar besar sekali. Jungkook berjalan pelan di koridor, terlihat sepi, mungkin murid-murid sedang makan siang di kantin, earphone putih yang tersemat di kuping Jungkook memutarkan lagu ballad, yang entah kenapa terasa begitu pas dengan hatinya sekarang. Sesekali dadanya terasa sesak setiap ada lirik lagu yang mengenai hatinya, seakan mengerti bahwa seorang Jeon Jungkook kini tengah 'galau'.
Jungkook berjalan tanpa arah, dimana ia sekarang? Kakinya yang membawanya berjalan tak tentu arah sekarang. Otaknya seperti memerintah Jungkook sesuatu yang bertentangan dengan hatinya. Dengan sekolah yang besar seperti ini, memungkinkan harapan begitu kecil bahwa Jungkook bisa menemukan Taehyung tanpa di sengaja. Atau bisa saja berpapasan dengan sosok Taehyung. Ugh, bodohnya Jungkook. Ia kan tidak tau dimana kelas Taehyung, dimana bocah itu biasa nongkrong bersama teman-teman nya.
Badannya yang akan berbalik menuju ke kelas seketika berhenti saat manik coklatnya menemukan sosok Taehyung. Apa ini hanya kebetulan? Jungkook terdiam di tempatnya saat matanya benar-benar tak sengaja melirik ke ujung koridor dekat lapangan di sebrang sana, Taehyung berada disana. Jungkook sempat tersenyum tipis saat sebelum ia melihat Taehyung tengah bersama seorang namja pendek berkulit putih pucat terlihat manis –Jungkook tidak bisa menyangkal itu, terlihat begitu mesra.
Kenapa begitu mesra? Taehyung tertawa dengan sebelah tangannya terulur mengusap rambut pirang namja berkulit pucat itu. Demi Tuhan, Jungkook merasa seluruh darah nya naik ke atas kepala. Meski Jungkook benci melihat pemandangan di depannya, yang membuat dadanya berdenyut nyeri, tapi kenapa ia enggan sekali pergi dari tempat laknat ini? Lagi-lagi otak dan hatinya berperang kembali. Otaknya memaksa tetap berdiam diri, karna Jungkook benar-benar ingin melihat Taehyung, tapi hatinya berkata tidak. Pergi atau kau akan menyakiti hati sendiri.
Si namja berkulit pucat ini meninggalkan Taehyung setelah mengecup singkat pipi Taehyung, dan Jungkook masih berdiam di tempat. 'Taehyung, apa kau tidak akan melihat ku disini?'
Taehyung melambai saat kekasih nya pergi, bel masuk mengusik kegiatan mereka. Dan Taehyung sekarang harus segera kembali ke kelas. Saat tubuhnya berbalik, manik Taehyung menemukan sosok seseorang yang tengah menatapnya dari jarak beberapa meter di depannya. Manik coklat di depan Taehyung terlihat gusar saat Taehyung menatap mata itu.
"apa yang kau lakukan disini?" Taehyung mendekati Jungkook, Jungkook hanya menatap Taehyung yang terlihat sedikit salah tingkah, "kau memata-matai ku?"
Jungkook menggeleng pelan, "t-tidak, aku mau kembali kekelas, tapi salah koridor" Jungkook menggaruk tengkuk nya, Jungkook mengutuk dirinya yang malah diam disitu dari tadi. Taehyung hanya berdeham pelan, lalu mengangguk dan berlalu membiarkan Jungkook yang masih emmatung dengan segala perasaannya yang bercampur aduk menjadi satu,
"Jeon Jungkook"
Panggilan Taehyung membuat Jungkook mendongak, dan berbalik badan, "Ye?"
"berhentilah seolah kau mengenal ku. Anggap saja kita tidak pernah kenal saat di sekolah, kita sebatas senior dan junior tidak lebih. Dan jangan menguntit ku, seperti tadi. Kau bisa saja di mati di tangan senior mu seperti tadi, saat kau melihat ku dengan kekasih ku" terang Taehyung begitu dingin dan datar. Jungkook terdiam, saat Taehyung melontarkan kata-kata yang menyata hatinya perlahan seperti tadi,
"T-tapi kenapa?" lirih Jungkook parau. Jungkook menahan sesuatu yang bergerumul di ujung matanya, menahan suaranya yang terdengar bergetar
"kau tidak ingin menjadi parasit bagi hidup ku kan, Jungkook?" tanya Taehyung
"apa aku sebelumnya jadi parasit untuk mu? Apa kau sebegitu mengganggu bagi mu? Apa yang terjadi pada mu Taehyung-ah? Apa yang membuat mu melakukan ini pada ku?" Jungkook berteriak parau, ia benar-benar tidak bisa menahan luapan yang memuncak di dadanya,
"memang nya aku melakukan apa pada mu? Aku hanya minta kau berhenti seolah kau mengenal ku. Dan jika bisa, meski di luar sekolah, atau dimana pun, anggap saja kita tidak pernah mengenal. Hanya itu" nada suara Taehyung terdengar sangat muak, entah begitu menyakitkan bagi Jungkook
Jungkook menarik nafas panjang di tengah isakan pelannya, "aku tidak tau apa yang terjadi pada mu setelah 8 tahun kita berpisah. Aku kembali ke Seoul, hanya untuk menemui mu" terang Jungkook di tengah suaranya yang bergetar
"aku tidak pernah menyuruh mu untuk kembali kan?" kini Taehyung berbalik dan menatap Jungkook yang di banjiri air mata, "lalu untuk apa kau kembali?"
"Taehyung..." desah Jungkook. Demi Tuhan, Jungkook tidak menyangka Taehyung akan berkata seperti itu padanya,
Taehyung hanya menatap nya tanpa berkata sedikit pun, setelah itu Taehyung berlalu begitu saja meninggalkan Jungkook disitu.
.
.
Malam ini Seoul di guyur hujan begitu deras, membuat orang-orang lebih memilih bergerumul dengan selimut tebal di dalam kamar, di tambah dengan coffee panas membuat siapa pun enggan turun dari kasur. Begitu juga dengan Jungkook, namja ini bersandar di tembok kasurnya dengan selimut tebal menutupi badannya hingga lututnya yang ia tekuk. Sejak sepulang sekolah tadi, Jungkook benar-benar seperti kehilangan separuh nyawanya. Matanya menatap lurus ke arah pintu kamar nya yang tertutup –dan terkunci, disana terdapat foto berukuran besar dua orang anak kecil sedang berpelukan di tengah-tengah taman bermain.
Saat isi kepala Jungkook memutar kenangan 8 tahun lalu, kembali ucapan Taehyung tadi siang bergema di telinganya, begitu kasar dan membuat hati Jungkook seakan seperti di remukan layaknya kertas,
'berhentilah seolah kau mengenal ku'
Bagaimana mungkin Taehyung bisa mengatakan hal itu pada nya? Berhenti seolah Jungkook mengenal Taehyung? Bagaimana hal menyakitkan itu bisa Jungkook lakukan, ketika memang kenyatan nya mereka berdua benar-benar saling mengenal satu sama lain, menghabiskan masa kecil bersama tidak memungkin Jungkook bisa begitu saja melupakan Taehyung.
Jungkook meringis setelah memikirkan hari-hari selanjutnya apa yang terjadi anatar dirinya dan Taehyung. Menjadi dua orang yang pura pura tak saling kenal. Apa itu terlihat lebih baik? Tidak sama sekali. Jungkook benar-benar tidak bisa melakukan hal itu. Tapi tidak tau dengan Taehyung, apa namja itu bisa melakukan hal yang ia ucapkan sendiri.
Siapa yang membuat Taehyung ku seperti ini?
Jika dilihat dari kronologi segalanya, Taehyung lah yang salah –menurut Jungkook. Kemana saja dia saat Jungkook di Jepan selama 8 tahun? Mengapa seluruh email nya tidak Taehyung balas? Lalu mengapa Taehyung dulu tidak mencegah nya pergi?
"Jungkook-ah, apa kau di dalam?" lamuan Jungkook buyar saat eomma mengetuk pintu kamarnya, "kenapa pintu nya kau kunci? Kau baik-baik saja di dalam Jeon?"
"ne, eomma. Ada apa?"
"buka kan pintu nya" eomma mengetuk pintu kamar Jungkook berulang kali, "kau tidak mau membuka nya eoh?"
Jungkook masih berdiam diri enggan untuk kembali bersuara, "baiklah, eomma hanya ingin memberitau sebentar lagi Taehyung dan orang tua nya akan datang, kita akan makan bersama disini. Jadi cepat ganti baju mu"
Jungkook melebarkan matanya, Taehyung akan ke rumah? Apa pria itu benar-benar akan datang setelah tadi siang dia bilang bahwa mereka lebih baik tidak usah saling mengenal?
.
.
Taehyung menatap keluar jendela yang berembun, hujan deras di luar sana sangat membuat Taehyung ingin menarik selimut lalu terjun ke alam mimpi dengan para bidadari-bidadari di dalamnya.
"bagaimana kau dengan Jungkook, Taehyung?" eomma memecahkan keheningan yang di rasa tidak nyaman dari beberapa menit yang lalu,
"ye?"
"apa kau masih berteman baik dengan nya?" jelas eomma, Taehyung berdeham pertanda 'iya'.
Berteman baik? Tsk- yang benar saja. Sebuah pertemanan macam apa setelah memutuskan untuk tidak saling mengenal. Hhh, bahkan itu terdengar jauh lebih baik untuk Taehyung. Seakan tidak pernah kenal di masa sebelum nya itu malah membuat dada Taehyung berdetak lebih kencang.
Bukan kah itu lebih kan? Taehyung meyakinkan diri nya sendiri.
'dengan begini mungkin adalah cara terakhir untuk kita berhenti saling menyakiti satu sama lain'
Taehyung memejamkan matanya, mencoba tidak mengingat apa pun tentang masa lalu nya dengan namja bernama Jungkook itu. Apa pun yang terjadi, masa lalu mereka hanya bayangan semu. Sebuah kisah klasik yang Taehyung akan simpan di dalam hati nya yang paling dalam, mungkin dengan seiring waktu, perlahan semua nya akan ia lupakan. Seluruh kenangan nya, begitu juga Jungkook yang ada di dalam kenangan klasik itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
INI TUH TERLALU PENDEK G SIH?! T.T
Maaf kalo pendek lagi T.T
Aku sudah mentok dan pengen post buru-buru (?)
buat chapter 1 tengseuu yang abis baca mau review ^^
Aku tuh semangat kalo ada yg review ._. jadi usahain review deh kalo abis baca, biar akunya semangat ^^ /ketjup basah dari sey/ ^^
