If We Love Again

Chapter 4

.

.

"Mwo? Novelku akan dibuat versi filmnya? " Kyungsoo tak dapat menahan rasa terkejutnya kali ini, baru saja ia di beritahu bahwa novel miliknya akan di jadikan film. Demi apapun novelnya bisa di cetak saja ia sudah bahagia dan kini kebahagiaan itu di tambah. Tuhan kau memang yang terbaik.

"Aku sudah menghubungi pihak Kai dan mereka setuju untuk Kai mengambil peran sebagai aktor utama" lanjut Kim sajangnim.

"Eoh? Kai yang member Kim Bro itu? " tanya Kyungsoo balik.

"Benar sekali"

"Bisakah pemeran utamanya jangan dia? "

"Wae? Kai adalah idol paling diminati saat ini. Film mu pasti akan laris dan untuk pemeran wanitanya aku akan menghubungi agensi dari Vania Huang dia aktris yang namanya sedang melejit juga." ujar Kim sajangnim namun Kyungsoo hanya diam. Tentu saja ia ingin jika film ini bisa di bintangi oleh idol sekelas Kai hanya saja Kai itu adalah teman baik Chen yang adalah orang paling di hindari Minseok.

Bagaimana ini?

.

.

Seoul seakan tak pernah tidur, hiruk pikuk kota tetap terasa walaupun jam telah menunjukan pukul 11 malam. Baekhyun berjalan santai di trotoar, Seoul itu salah satu kota teraman di dunia setelah tokyo jadi dia santai-santai saja karena tak akan ada hal buruk. Polisi siap berpatroli 24 jam menjaga masyarakat.

Tap

Tap

Tap

Baekhyun mendengar suara langkah kaki seseorang dari arah belakang, disini memang sedikit sepi dan jujur saja ia merasa takut padahal baru tadi ia dengan bangga menyebutkan bahwa Seoul adalah kota yang aman.

Suara langkah kaki itu terdengar sangat terburu-buru dan semakin dekat. Baekhyun yakin siapapun orang itu pasti ia tengah berlari.

Sret

"Ehh? " Baekhyun mengerjap kala pundaknya di tarik. Pria tinggi dengan nafas yang memburu kini tengah mengukung dirinya diantara tembok.

"Siapa kau? " tanya Baekhyun karena demi tuhan ia tak mengenal namja asing ini.

"Kau lihat ia lari kemana?"

"Tidak "

"Ayo cari lagi "

Sayup-sayup Baekhyun mendengar suara beberapa orang dan itu membuat pandangannya teralih. Tanpa Baekhyun sadari namja yang kini masih mengukungnya sudah melepaskan jaket yang tadi ia kenakan meninggalkan kaos berwarna biru muda di tubuhnya.

Tap

Tap

Tap

Suara orang-orang tadi semakin dekat dan Baekhyun penasaran.

"Maaf"

"Hmm? "

Cup

Tubuh Baekhyun kaku seketika, namja tak di kenal ini menciumnya begitu saja. Astaga!

"Coba cari disana " Baekhyun dapat mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat.

"Tidak ada, ayo cari lagi" dan dengan suara itu beberapa orang tadi pun langsung melangkah menjauh.

"Terima kasih" Baekhyun masih belum kembali dari dunianya bahkan ketika namja ini melepas tautan mereka otak Baekhyun masih belum bisa berpikir.

3 menit waktu yang di butuhkan Baekhyun untuk kembali pada dunianya namun sial selama 3 menit itu pula namja tadi sudah menghilang.

"Aaarrgg sial! Siapa namja tadi?! Ya tuhan bibirku" racau Baekhyun, tubuhnya merosot ke jalan. Pandangan mata Baekhyun tertuju pada jaket tebal yang tergeletak begitu saja. Tunggu dulu ia ingat jika namja itu awalnya memakai jaket ini sebelum akhirnya ia lepas.

Baekhyun mengambil jaket tersebut memeriksa setiap kantungnya dengan brutal. Dan bibirnya melengkung senyum saat menemukan sebuah gelang dengan nama yang terukir diatasnya.

"Park Chanyeol"

.

.

"Daemin tidak mau makan! Daemin maunya Jongdae ahjusi !" Minseok mendesah lelah mendengar penuturan putra kecilnya. Ini sudah sore dan sejak pagi Daemin belum makan sedikitpun, dan lagi permintaan Daemin sangat tak wajar. Bagaimana mungkin Minsrok mendatangkan Jongdae? Itu mustahil.

"Sayang dengarkan eomma. Daemin harus makan dulu nanti kita temui Jongdae ahjusi? "

"Andwe! Eomma pasti bohong! Pokoknya Daemin tak mau makan jika tak ada Jongdae ahjusi " Daemin berlari kedalam kamarnya membuat hati Minseok mencelos. Apakah ikatan batin antara anak dan ayah begitu kuat?

.

.

"Jadi?" Luhan menatap laki-laki di hadapannya tanpa berkedip sedikitpun. Apakah ia tak salah dengar? Baru saja Sehun pulang ke rumah namun ia tak sendirian. Sehun datang dengan Jongdae artis terkenal yang dua tahun ini menjadi pasien rahasia suaminya. Mereka sudah beberapa kali bertemu dan Luhan akui Jongdae adalah sosok idol yang sangat pantas di cintai. Tapi baru saja ia membuat pengakuan yang sangat mengejutkan.

"Akulah pria brengsek itu. Aku yang sudah merusak Minseok." ujar Jongdae tegas. Bahkan Sehun saja dibuat lupa caranya bernafas. Setelah menceritakan tentang Minseok tadi Jongdae tiba-tiba ingin bertemu dengan Luhan. Sehun sudah curiga pasti ada sesuatu tapi ia tak menyangka jika ini yang akan terjadi.

"Aku sudah mendengar semuanya dari Sehun hyung dan saat itu pula aku tahu bahwa akulah orangnya. Kami berpacaran sudah cukup lama dan aku rasa alasan Minseok melindungi ku dulu karena aku akan debut. Aku-"

Plak

Tamparan keras mendarat di pipi Jongdae yang tampak memucat. Air mata sudah membanjiri wajah Luhan, matanya menyalang marah.

"Kenapa kau baru muncul sekarang? " desis Luhan tajam.

"Karena aku baru tahu siang tadi. Mungkin jika Sehun hyung tak bercerita aku tak akan pernah tau. Aku mencintai Minseok dengan seluruh jiwa yang kupunya tapi aku menyakitinya hingga separah ini" lirih Jongdae.

Plak

Satu lagi tamparan keras diberikan Luhan untuk Jongdae, jika bisa bahkan ia ingin membunuh Jongdae saat ini juga. Selama ini ia bahagia, menerima banyak cinta dari penggemar dan hidup bergelimbang harta. Sementara Minseok? Ia terusir bahkan Luhan tidak tahu bagaimana caranya bertahan hidup. Rasa bersalah seketika merasuk ke dalam diri Luhan. Ia telah salah selama ini.

"Hiks hiks" dan tangisan pilu dari seorang kakak semakin menambah pedih perasaan Jongdae malam ini.

.

.

"Kenapa kau selalu menatapku seperti itu? " Kyungsoo mengerjap ketika Kai menginterupsinya. Aahh hari ini ia berkesempatan untuk bertemu dengan sang idol besar untuk membahas project film. Kai yang memiliki nama asli Kim Jongin ternyata tak seburuk yang ia pikirkan. Ia cukup ramah sebagai seorang idola dan lagi ia mempunyai kharisma yang luar buasa dan mampu untuk membuat seorang Do Kyungsoo terpana.

"Memangnya kenapa? Ini mataku " jawab Kyungsoo galak.

"Kau memiliki mata yang bulat dan besar. Kau membuatku takut dengan tatapanmu " Ujar Jongin membuat Kyungsoo justru mengerjap dan membulatkan matanya.

"Tapi ekspresimu ini sangat manis di waktu yang bersamaan" lanjutnya lagi membuat jantung Kyungsoo menggila.

"Aku harus pergi" ujar Kyungsoo cepat. Ia harus menyelamatkan jantung dan juga hatinya kali ini.

Bruk

"Awwww" Karena terburu-buru Kyungsoo tidak sadar jika di belakang kursinya masih ada meja dan terbentur meja di bagian perutnya, itu sakit ngomong-ngomong.

"Kau baik-baik saja? "

"Ya " jawab Kyungsoo singkat sambil menahan perih.

"Di kantor ini ada ruang kesehatan ayo kuantar " ujar Jongin panik.

"Hmmm ya" Jongin mendesah kesal, karena Kyungsoo tak kunjung berdiri. Lalu bagaimana ia bisa ke ruang kesehatan.

"Kyung, tahan sebentar "

"Omo! Jongin turunkan aku!" Kyungsoo merengek pada Jongin namun namja itu seakan tuli. Ia tetap menggendong Kyungsoo untuk di bawa ke ruang kesehatan. Untunglah ini di agensinya sendiri dan seluruh karyawan sudah tau bahwa Jongin di depan kamera saja terlihat keren aslinya dia seperti anak-anak yang sering merengek pada Jongdae namun juga ia memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Pernah salah satu cleaning service terpeleset saat sedang mengepel dan tanpa melihat status Jongin menggendong cleaning service tersebut lalu mengobatinya.

"Bagaimana? Apakah lebih baik? " tanya Jongin polos. Tak taukah kau bahwa yang sedang kau lakukan memperburuk kondisi Kyungsoo?

Bagaimana bisa jantung Kyungsoo selamat jika kini Jongin mengusapkan salep penghilang rasa sakit di perutnya?

.

.

Siang hari yang terik membuat suasana hati Baekhyun bertambah buruk. Belum hilang dari ingatannya bagaimana seorang namja tak di kenal menciumnya semalam lalu meninggalkannya begitu saja di pinggir jalan.

Dan barusan atasannya mengabari agar Baekhyun mencari seorang model pria karena model yang akan di pakai berhalangan hadir. Lalu Baekhyun harus mencari kemana?

Ngomong-ngomong sejak kembali ke Seoul ia belum bertemu Jongdae. Apakah ia baik-baik saja ya? Terakhir Jongdae terlihat sangat menyedihkan.

Pikiran tentang Jongdae hilang begitu saja ketika netra matanya menangkap seorang namja tinggi di dalam minimarket. Dari postur tubuhnya ia sudah sangat pas jika di jadikan model. Otak Baekhyun berpikir cepat ia harus bisa mendapatkan namja mungilnya berjalan cepat ia merapihkan sedikir rambutnya agar terlihat lebih manis dan dengan senyum merekah Baekhyun menepuk pelan namja tersebut dari belakang.

"Permisi" ujar Baekhyun lembut, namun semua sikap manis tadi hancur seketika saat namja tadi berbalik. Sungguh Baekhyun tak akan melupakan wajahnya.

"Yak! Kau si Park Mesum Chanyeol! " ujar Baekhyun keras membuat perhatian beberapa orang di minimarket tertuju pada mereka.

"Mati kau! " Baekhyun memukul Chanyeol brutal, ia masih sangat marah dengan namja ini demi seluruh koleksi pikachu milik Jongdae. Baekhyun ingin menenggelamkan Chanyeol ke sungai han sekarang juga.

"KALIAN BERDUA KELUAR DARI TOKO KU !"

Chanyeol mengusap pelan tubuhnya, bagaimana ia bisa sangat sial setelah di pukul oleh wanita asing ia pun harus menerima pukulan dari pemikil mini market karena dianggap mengacau di tokonya.

"Kau ini jadi wanita bar-bar sekali" Baekhyun mendelik marah menatap Chanyeol setelah laki-laki tersebut buka suara. Bukannya meminta maaf karena sudah melakukan hal tidak pantas padanya semalam kini ia malah mengatai Baekhyun bar-bar?

"Dasar pria mesum! "

"Maaf semalam aku sedang menghindar dari orang-orang gila itu"

"Apa kau tidak bisa bersembunyi dengan benar hah? Kenapa kau harus men-" Baekhyun menghentikan ucapannya. Telinganya seketika memerah dan itu dapat Chanyeol lihat dengan sangat jelas.

"Maaf" ujar Chanyeol.

"Maaf ku itu mahal"

"Lalu aku harus apa? " tanya Chanyeol lagi, Baekhyun sempat terdiam namun otaknya berpikir cepat. Bukankah tadi ia mendatangi Chanyeol untuk memintanya menjadi model. Ini kesempatan bagus.

"Kau harus menjadi model untuk perusahaanku "

"MWO? "

.

.

Minseok tersenyum sedih menatap Daemin. Putranya lebih memilih langsung tidur padahal ia belum makan sama sekali. Minseok hanya takut jika putranya ini sakit dan itu terjadi, tubuh Daemin panas namun ketika Minseok memaksanya makan Daemin akan memuntahkannya lagi.

Apa yang harus ku lakukan?

Tok

Tok

Tok

Minseok mengalihkan perhatiannya pada pintu yang di ketuk. Ia tak ingin beranjak sedikitpun namun ketukan di pintu bukannya berhenti tapi semakin keras.

"Iya sebentar"

Minseok berjalan cepat, siapa yang kini bertamu? Tak taukah bahwa Minseok sedang sedih karena putranya tengah sakit? "

Ceklek

Minseok membatu seketika, tamu yang kini datang sungguh di luar prediksinya. Jongdae bersama Yixing ahjuma dan Suho ahjusi lalu yang paling membuat Minseok blank adalah kehadiran Luhan dan Sehun bersama mereka.

Prang

Kesadaran Minseok kembali ketika ia mendengar suara gelas pecah. Seakan lupa dengan para tamu yang kini berdiri di depan pintu memandang Minseok dengan perasaan yang bercampur menjadi satu. Wanita tersebut berlari ke kamar untuk melihat Daemin.

"Sayang "

"Eomma Daemin haus, maaf karena Daemin memecahkan gelas"

"Tunggu disini sebentar ya sayang, eoma akan ambilkan minum"

"Ini"

Belum juga Minseok beranjak ke dapur, Jongdae sudah berdiri di sampingnya dan membawakan air minum.

"Jongdae ahjusi? " panggil Daemin.

"Ia nak"

"Huwaaa ahjusiii Daemin rinduuu " seakan lupa dengan sakitnya Daemin langsung berdiri dan meminta di gendong oleh Jongdae.

Yixing, Suho,Luhan serta Sehun bahkan tak dapat menahan haru melihat keduanya kini.

"Eomma Daemin sekarang mau makan, kan Jongdae ahjusi sudah ada. Daemin lapar eomma " rengek Daemin dan Minseok hanya bisa tersenyum.

"Daemin belum makan? " Jongdae bertanya pada Minseok.

"Dia hanya ingin makan jika ada kau" ujar Minseok pelan membuat Jongdae kini menaruh perhatiannya pada Daemin.

Jongdae kini sedang di kamar sambil menyuapi Daemin di temani Minseok, sementara yang lain hanya bisa menunggu di ruang tengah.

Luhan memperhatikan rumah tempat selama ini Minseok hidup. Ini sangat jauh dari kesan megah. Hal yang sejak kecil Minseok dapatkan, pasti sangat sulit untuknya tinggal dengan kondisi serba sederhana padahal dulu ia selalu di manjakan oleh harta yang berlimpah oleh mendiang ayah mereka.

Luhan berdiri matanya menyusuri barisan foto yang terpajang rapi. Foto Minseok sejak ia hamil hingga Daemin sebesar sekarang terabadikan dengan sempurna. Hatinya kembali teriris, selama itukah ia mengabaikan adiknya?

"Sebenarnya ada apa ?" Luhan menoleh ketika mendengar suara imut yang dulu selalu merengek meminta di belikan permen kapas, kini suara itu sudah berubah menjadi suara wanita dewasa yang sangat merdu.

Grep

"Maafkan aku Minseok-ah " Minseok mengerjap ketika Luhan tiba-tiba saja memeluk dirinya erat.

"Eonie" lirih Minseok.

"Hiks maaf" lagi isakan yang Minseok dengar.

"Jongdae sudah menceritakan semuanya padaku " ujar Luhan ketika ia bisa kembali bersuara.

"Cerita? Cerita apa? " Minseok bingung sendiri, seingatnya kemarin Jongdae hanya bertanya tentang Daemin lalu pergi. Jadi apa yang Jongdae ceritakan pada Luhan hingga kakaknya itu kini memeluknya erat.

"Jongdae adalah kekasihmu enam tahun lalu. Itu berarti dia ayahnya Daemin kan? " itu adalah sebuah pernyataan untuk Minseok.

"ituu hm diaa.. Bukan.. Ayah Daemin itu.. Hmm "

"Kau buruk dalam berbohong" ujar Jongdae "Tapi kau sangat baik dalam menyembunyikan kebenaran" lanjutnya.

"Minseok-ah aku mohon, jangan pergi lagi. Jangan menghindar lagi dan jangan menyimpan semuanya seorang diri lagi. Izinkan aku menjadi ayah Daemin, izinkan aku menebus dosaku selama enam tahun terakhir"

Minseok tak mampu menahan air mata yang kini menetes di pipinya. Jongdae kini tengah berlutut di hadapan dirinya, orang tuanya dan juga keluarganya.

Apakah ini adalah buah dari kesabarannya selama enam tahun?

"Aku mencintaimu dan rasa cintaku tak pernah berkurang sedikitpun" ujar Jongdae tulus. Dan Minseok tak bisa melakukan hal lain selain mengangguk.

.

.

Suho, Yixing,Sehun serta Luhan sudah pergi sejak setengah jam lalu, kini Minseok dan Jongdae tengah berbaring di ranjang dengan Daemin di tengah-tengah mereka.

Jongdae tak pernah sedetik pun mengalihkan perhatiannya dari dua orang yang sangat ia cintai. Jongdae pun rela menukarkan seluruh harta yang ia punya asalkan ia bisa terus bersama dengan Minseok juga Daemin.

"Aku mencintai kalian" Lagi kata-kata itu yang Minseok dengar dari mulut Jongdae. Ia masih tak percaya kini Jongdaenya benar-benar ada disini. Bersamanya dan memeluknya juga Daemin.

"Tidurlah, ini sudah malam" ujar Jongdae tangan besarnya merangkul Minseok juga Daemin dalam satu pelukan.

Minseok terlelap begitu saja, usapan pada kepalanya membuat rasa kantuk lebih cepat datang namun satu jam kemudian ia terbangun karena angin malam yang menyapa kulitnya. Ya ampun karena terlalu senang Minseok bahkan lupa menutup jendela kamar.

Minseok membuka matanya namun ia yang semula ingin menutup jendela kini mengurungkan niatnya saat melihat sesuatu ganjil.

Hidung Jongdae mimisan dan wajah pria tersebut pucat pasi.

"Astaga, Jongdae-ya kau kenapa? "

"Kim bangunn.. Jongdae! "

Minseok mengguncang tubuh Jongdae keras namun pria tersebut tetap tak membuka matanya.

"Kim Jongdae bangun! "

Tbc..

Anyeongg chap 4 hadiiiirrrrrrrrr.. Wahh aku seneng banget baca review kalian dan ga nyangka kalau masih ada yang menanti ini ff. Jadi ngerasa bersalah karena udah mengangtung cerita ini sekian lama..

Lovu u readirnimmm

...

Park eun yeong : Hehehehe maaf yaa karena lama tapi kan yang penting tetep di lanjut hehehhee.. Kecepetan ya? Karena aku ga bikin ini berchapter banyak.. Takut kebengkalai lagi

Kim Hyomi : ini kamu komen sayang.. Hooh Minseok berkorban banyak! Ini ku lanjut koo.. Fightinggg

Initial D 0326 : INI KU LANJUT! Jangan nagis donggggg yaampunnn.. Nanti ku kena omel Jongdae klo bikin kamu nangis.. Fighting2 makasih juga udah setia di ff ini

Vampire DPS : wkwkwkkw hooh seorang Oh Sehun juga butuh temen curhat hihihihi

Okeee paii paii see you in next Chap ~