If We Love Again
Chapter 5
.
.
Minseok panik bukan main, ia terus mengguncang tubuh Jongdae namun pria tersebut tetap tak bereaksi. Bahkan Daemin saja terbangun karena ulahnya.
"Eomma wae? "
"Daemin coba kau tolong bangunkan Jongdae ahjusi " Minseok memohon pada Daemin, putra kecilnya ikut mengguncang dan memanggil nama Jongdae namun tetap tak ada mengambil ponselnya namun tangannya terhenti ketika ia sadar bahwa ia tak memiliki nomor ponsel siapapun.
Ambulance! Ya ambulance. Minseok kembali mengetik nomor telepon meminta ambulance datang secepatnya dan terus berdoa di dalam hati agar semua baik-baik saja.
Tap
Tap
Tap
"Minseok! " Minseok menoleh ketika namanya disebut, ia sudah berada di rumah sakit sekarang dan kini Yixing,Suho,Luhan dan Sehun pun datang. Tunggu dulu bagaimana mereka tau jika Minseok disini?
"Dokter, pasien harus segera di tangani" Seorang perawat langsung datang menjemput Sehun membuat kening Minseok berkerut.
"Eonnie " lirih Minseok.
"Kami mendapat telepon darurat dari rumah sakit, mereka meminta Sehun datang dan setelah tau bahwa pasiennya adalah Jongdae kami pergi kemari bersama" jelas Luhan.
"Jongdae akan baik-baik saja kan? " tanya Minseok pada Luhan, matanya kini menatap Yixing dan Suho bergantian. Ia baru saja bisa bersama kembali dengan Jongdae, apa Tuhan akan memisahkannya lagi?
"Tenang saja selama dua tahun ini ia tetap bisa bertahan. Kali ini pun pasti bisa" jawab Yixing.
"Dua tahun? Sebenarnya Jongdae sakit apa? "
.
.
"Jadi kau hanya memfoto punggungku saja? " Chanyeol menatap beberapa lembar foto di tangannya. Hari ini ia datang ke studio pemotretan untuk membantu Baekhyun. Walaupun awalnga ia tak ingin tapi Chanyeol adalah pria dengan tingkat kepercayaan diri diatas rata-rata. Mendadak di tawari menjadi model tentu saja membuat ia besar kepala bahkan sebelum pergi Chanyeol benar-benar memperhatikab penampilannya.
'Im handsome and i know it'
Itulah semboyan hidupnya. Namun kini ia harus menelan kekecewaan karena ternyata yang di foto itu adalah punggungnya bukan wajahnya.
"Ini kan untuk iklan tas ransel di majalah, tentu kami memfoto punggungmu saja karena tas itu tersampir indah di punggung" jawab Baekhyun tanpa melihat kearah Chanyeol sedikitpun, matanya sibuk memilih foto tas mana yang terlihat cocok.
.
.
"Cerita mu benar-benar menarik. Saat produser menawariku untuk film ini aku langsung meminta naskahnya dan aku suka. Bagaimana caramu mendapat inspirasi menulis? " tanya Jongin maraton, kini ia sedang bersama dengan Kyungsoo di atap. Tangannya memegang kopi namun matanya menatap lekat kearah Kyungsoo.
Dari awal membaca cerita ini Jongin sudah tertarik dan siapa sangka penulisnya bahkan lebih menarik.
"Ini semua terinspirasi dari kakakku, ia wanita tangguh. Demi cintanya ia rela melakukan apapun. Hanya saja kemalangan selalu menyertainya jadi aku membuat cerita ini berakhir bahagia karena aku ingin kakak ku pun berbahagia"
"Kau terlihat sangat menyayangi kakakmu "
"Tentu karena aku hanya memiliki eonnie di dunia ini" jawab Kyungsoo dengan senyum yang merekah membuat Jongin lupa bagaimana caranya berkedip.
.
.
Donor ginjal
Minseok merasa separuh nyawanya menghilang, baru saja Sehun memberitahukan tentang penyakit Jongdae. Ia membutuhkan donor secepatnya jika tidak maka Jongdae tak akan selamat tapi bagaimana bisa? Bahkan kedua orang tuanya saja tak cocok.
"Haraboji Daemin mau Bertany boleh? "
"Boleh, Daemin mau tanya apa? "
"Bagaimana rasanya memiliki seorang appa? Daemin kan hanya punya eomma dan noona. Daemin tidak punya appa, dan semua teman-teman Daemin punya. Apakah jika kita memiliki Appa maka kita akan lebih bahagia? " Suho memandang Daemin lama, bocah kecil yang sesungguhnya adalah cucu kandungnya ini sudah melewati masa-masa yang sulit tanpa ia ketahui.
"Maafkan kami nak maaf" Suho berujar lirih sambil memeluk Daemin erat. Minseok melihatnya, melihat bagaimana Daemin bertanya dan bagaimana Suho yang menangis. Minseok menggunakan tangannya untuk menutup mulutnya sendiri agar isakan itu tak terdengar oleh siapapun. Dengan terseok Minseok berusaha untuk terus berjalan menjauh dari sepasang kakek dan cucu disana.
Ceklek
Minseok masuk ke ruang rawat Jongdae, wajah Jongdae pucat pasi dengan beberapa alat menempel pada tubuhnya.
"Dae-ah, mau sampai kapan kau tidur? Kita baru bertemu kembali setelah enam tahun dan kau sekarang tidur? Bahkan aku belum sempat mengatakan pada Daemin jika kau adalah ayahnya. Apa kau tak ingin mendengar Daemin memanggimu 'appa' ? Jongdae appa. Cepatlah bangun Dae, aku percaya padamu. Hiks hiks Dae bangun" tumpah sudah air mata Minseok. Ia lelah atas semua yang terjadi, ia butuh Jongdae. Tapi kenapa di saat Tuhan mempertemukan mereka Jongdae harus sakit seperti ini, rasanya ini jauh lebih menyesakan dari enam tahun lalu. Minseok bagai sudah di bawa terbang tinggi, bertemu dengan Jongdae kembali dan memulai kehidupan mereka dari awal membayangkannya saja sudah membuat Minseok bahagia. Tapi sekarang Jongdaenya terbaring lemah bahkan ia tak tahu kapan cahaya hidupnya ini akan membuka mata.
Flashback
"Kau percaya padaku? " Minseok menatap Jongdae lama, tatapan mata itu begitu tegas namun lembut di waktu yang bersamaan.
"Kapan aku pernah menjawab tidak " Minseok bertanya balik pada Jongdae.
Mereka kini sedang berada di atas bukit, disini masih asri dan yang paling luar biasa adalah pemandangan kota Seoul terlihat jelas disini.
"Aku akan debut bulan depan, dan itu memaksaku untuk kehilangan banyak waktu denganmu" keluh Jongdae, kepalanya kini ia sandarkan pada pundak Minseok. Sesekali Minseok mengusap kepala Jongdae sayang. Ia sangat tau perjuangan sebagai seorang trainee di sebuah agensi besar bukanlah hal mudah. Dan Jongdae benar-benar sudah bekerja keras.
"Agensi melarang ku untuk menjalin kasih dengan siapa pun" lanjut Jongdae, ia menjeda sedikit ucapannya untuk melihat ekspresi Minseok namun wanita itu tetap tenang bahkan tangan lembutnya tak henti mengusap kepala Jongdae.
"Aku mencintaimu, aku tak bisa jika harus berpisah. Aku lebih memilih tak jadi debut dari pada-"
"Ssstt kau ini bicara apa ?" Minseok menghentikan omongan Jongdae. Tak jadi debut Jongdae bilang? Setelah semua pengorbanan Jongdae?
"Aku akan selalu mendukungku, aku tau kau mencintaiku dan aku percaya kau akan menjaga cintamu"
"Tapi Min"
"Bilang saja pada agensi mu bahwa kita sudah putus. Hubungan ini biarlah menjadi rahasia antara kau dan aku. Aku tetap bisa merasakan cintamu Dae-ah, jangan sampai hubungan kita ini mengganggu impianmu. Aku sanggup menunggumu "
Jongdae tak dapat berkata-kata lagi, semua omongannya tersendat di tenggorokan. Minseok benar-benar wanita yang luar biasa dan ini membuat cintanya pada Minseok semakin dalam .
Tes
Tes
Tes
"Omo! Hujan " Minseok dan Jongdae segera berdiri. Jongdae melepaskan jaketnya untuk di jadikan payung dadakan, mata Jongdae bergerak cepat mencari tempat yang sekiranya bisa dipakai untuk berteduh.
"Minseok ayo kita kesana! " Jongdae meraih tangan Minseok, menggenggamnya erat dan membawanya ke sebuah rumah tua. Tempat ini sudah usang namun setidaknya ini lebih baik dari pada harus basah kehujanan.
Jongdae dan Minseok duduk di sudut ruangan dengan kepala Minseok bersandar ke bahu Jongdae. Hujan masih belum berhenti dan sungguh disini sangat dingin. Tanpa Minseok sadari ia mengeratkan pelukannya pada tubuh Jongdae mencoba mencari rasa hangat diantara dinginnya suasana sore.
"Kau kedinginan? " tanya Jongdae dan Minseok mengangguk. Jongdae menangkup kedua pipi Minseok melihat bagaimana pipi itu memerah. Lama memandangi Minseok membuat sesuatu dalam diri Jongdae bangkit perlahan ia mendekatkan wajahnya dan mulai berbagi rasa hangat. Awalnya hanya sekedar kecupan biasa hingga semakin lama semua itu berubah semakin dalam. Baik Minseok maupun Jongdae mereka sama-sama terbawa perasaan.
"Min apa kau percaya padaku? " tanya Jongdae. Ia kini sudah berada di atas Minseok. Wanita itu jelas mengerti apa yang dimaksudkan oleh kekasihnya. Perlahan kepala Minseok mengangguk di barengi sebuah senyum menenangkan dan Minseok tak lagi dapat mengingat yang lain. Yang ia tau Jongdae kini berada dalam dirinya, membawanya ke tempat yang dinamakan surga dunia.
Flasback off
Minseok memantapkan hatinya kini, ia tak ingin lagi kehilangan Jongdae untuk yang kedua kali. Dengan langkah tegas Minseok memasuki ruang kerja Sehun. Menunggu hingga sang kakak ipar menyelesaikan segala pekerjaannya.
"Ada apa Min? "
"Aku ingin mendonorkan ginjalku untuk Jongdae" Sehun terpaku mendengar ucapan Minseok.
"Tapi Min"
"Aku tau kemungkinan ginjalku cocok dengannya sangatlah kecil, tapi di coba dulu tak apa kan? " lirih Minseok.
"Kau yakin? " tanya Sehun.
"Aku rasa kau bisa merasakan keyakinan hatiku ini oppa" jawab Minseok penuh senyuman.
.
.
"Saya mohon kerja samanya " Ujar Kyungsoo sambil membungkuk sopan. Baru saja ia menjelaskan tentang novelnya di depan para aktris dan aktor. Orang- orang mengapresiasi Kyungsoo karena ia sungguh terlihat sangat berkharisma, ia bagai memiliki dua nyawa ketika menceritakan kembali tentang novelnya.
"Kau luar biasa" puji Jongin, ketika wanita bermata bulat itu sudah kembali duduk kesampingnya.
Kriinggg
Ponsel Kyungsoo berdering menampilkan nama Minseok disana, tumben sekali eonnie-nya ini menelepon.
"Aku akan mengangkat telepon sebentar" bisik nya lalu perlahan Kyungsoo keluar ruangan.
"Yeoboseiyoo eonnie "
"Nee yeoboseiyo Kyungsoo-ya, bagaimana kabarmu? "
"Aku baik, eonnie ada apa? "
"Apa aku mengganggumu? "
"Apa kau baik-baik saja? " tanya Kyungsoo balik membuat Minseok tersenyum di sebrang sana.
"Aku sekarang ada di Seoul, dan aku ingin meminta doa mu" ujar Minseok membuat Kyungsoo mengernyit.
"Maksudnya? "
"Aku akan menjalani operasi transplantasi ginjal besok"
"MWO? "
Kyungsoo langsung izin untuk pulang saat itu juga dengan alasan salah satu keluarganya masuk rumah sakit. Ia tak peduli lagi dengan filmnya, yang ia pikirkan kini adalah Minseok kakaknya. Tadi di telepon Minseok menjelaskan jika ia telah bertemu lagi dengan Jongdae, ia sudah bersama kembali dengan cintanya bahkan Minseok sudah berbaikan dengan Luhan. Namun belum lama mereka bersama Minseok sudah harus menerima kenyataan jika Jongdae sedang sakit ia membutuhkan donor ginjal untuk melanjutkan hidupnya, dan Tuhan seakan bermain dengan takdir. Karena dari sekian orang yang ingin mendonor hanya ginjal milik Minseok saja yang cocok.
Kemungkinan operasi ini 50:50, tentu saja ia ingin jika operasi berhasil. Tapi bagaimana jika gagal? Bagaimana jika Minseok tak selamat? Tidak! Membayangkannya saja Kyungsoo tak berani.
"Eonnie " Kyungsoo masuk ke ruangan Minseok, wanita itu kini sedang duduk di sebuah ranjang rumah sakit. Operasi memang akan dilaksanakan besok namun pihak rumah sakit meminta Minseok untuk bermalam disini.
"Kyungsoo "
"Kau serius akan melakukan ini? " tanya Kyungsoo dan Minseok mengangguk mantap.
"Bagaimana jika aku tak mengizinkan " ujar Kyungsoo tegas membuat Minseok tersentak.
"Aku tak mengizinkan mu untuk melakukan operasi "
"Wae? "
"Eonnie kemungkinan operasi itu 50:50, aku tak bisa membayangkan jika hal buruk terjadi padamu"
"Semuanya akan baik-baik saja Soo-ya "
"TIDAK! dulu semua orang pun mengatakan bahwa orang tua ku akan baik-baik saja tapi nyatanya? Aku sendirian sekarang! Aku hanya memiliki mu eonnie aku tak ingin kehilangan untuk yang kedua kali " Kyungsoo sudah tak mampu lagi menahan air matanya. Dulu orang tuanya meninggal karena kecelakaan ketika di rumah sakit sanak saudara yang ikut menemani Kyungsoo mengatakan bahwa orang tuanya akan selamat. Tapi nyatanya tidak, mereka meninggal dan membuat Kyungsoo seorang diri, tak ada saudara yang merangkulnya tak ada kerabat yang memeluk tubuhnya.
Kyungsoo hancur.
Bahkan bibi yang dulu ia anggap malaikat karena mau menampung Kyungsoo selama dua bulan berubah menjadi iblis karena dengan teganya ia menjual Kyungsoo pada ahjusi tua.
Dan saat itu ia bertemu Minseok, Minseok membantunya melarikan diri bahkan Minseok mengizinkannya untuk menginap. Tanpa berpikir panjang Minseok memeluk tubuh Kyungsoo yang ketakutan memberikannya rasa aman. Ketika itu Minseok tengah mengandung Daemin, tentu untuk seorang yang tinggal sendirian biaya persalinan yang tak murah adalah beban tersendiri tapi Minseok tetap merangkulnya, menjadikan Kyungsoo adiknya, memberikan cinta yang semula Kyungsoo pikir hanya sebuah kenangan saja.
"Kyungsoo aku pun tak ingin kehilangan Jongdae untuk yang kedua kali" ujar Minseok lirih.
"AKU TETAP TAK MENGIZINKAN! " Kyungsoo berlari keluar Kamar Minseok, ia takut. Ia tak ingin Minseoknya pergi. Tidak!
"Kyungsoo noonaaa" Kyungsoo mengerjap ketika ia mendengar suara Daemin. Buru-buru Kyungsoo menghapus jejak air mata di wajahnya.
Daemin sedang di gendong oleh seorang ahjusi yang ia tak kenal.
"Noona gwenchana? " tanya Daemin ketika matanya melihat mata Kyungsoo merah.
"Noona baik-baik saja sayang"
"Oia noona kenalkan ini Suho haraboji dia itu appanya Jongdae ahjusi. Eh ani ani tapi Jongdae appa " ujar Daemin ceria.
"Jongdae appa? " beo Kyungsoo.
"Ne! Haraboji bilang kalau Jongdae ahjusi itu appa nya Daemin. Noona ~ Daemin senangggg sekali karena akhirnya Daemin punya seorang appa. Seperti teman-teman Daemin di sekolah" Kyungsoo menatap Daemin lama, sebegitu bahagianya ia memiliki seorang ayah.
"Oia noona, eomma juga ada disini. Haraboji bilang besok eomma akan membuat keajaiban, dan membuat appa bangun. Noona tau tidak appa dari kemarin tidur terus, padahal Daemin kan rindu. Besok jika appa sudah bangun Daemin akan mengenalkan noona pada appa! Appa pasti senang "
Grep
Kyungsoo memeluk Daemin lama. Astaga ia hanya memikirkan dirinya sendiri selama ini. Lalu bagaimana dengan Daemin anak ini sangat mengharapkan mendapat sebuah keluarga yang sesungguhnya dan hal itu hanya bisa di dapatkan jika Minseok melakukan operasi. Benar kata Daemin, Minseok pasti bisa ia akan membuat keajaiban besok.
"Eonnie aku percaya padamu " lirih Kyungsoo
.
.
T
B
C
...
Yuhuuuu chapter 5 update ~
Wahhhh emang deh cinta sejati ini.. Cuman ginjal minseok aja yang cocok buat Dae..
Dan chap depan operasi!
How how how?
Mungkin juga chap depan udah tamat.. Wkwkwkkwwk entahlah saya sendiri gatau ini akan berakhir seperti apa..
...
Kim hyomi : soal kata-kata yang hilang maapkeun karna ga ak cek ulang hehehe. Kopel lain jadi figuran.. Wkwkkwwk tbc nya di sempilin disitu biar gregeettt
Nadhefuji : tenang ak bukan author kejam ko wkwkwk
Initial D : sama2 cantikkkkk... Hihihihi maaf yaaa ak buat tbc disitu
Chenminkiddo : woaahhhh mpe maraton! Makasih banyaaakkk.. Ia aku pasti lanjut kooo. Hooh pngen buat Jongdae menderita tapi failed mlu ujung2nya malah minseok lagi.. Maapkaaaannnnnnn... Ff chenmin gantung? Ya saya salah satu yg sllu bikin ngegantung hehehehhee
Makasih buat semua yang masih setia sama ff saya yg abal ini.. Love youuu
