If We Love Again
Chapter 6
.
.
Jongdae berjalan seorang diri, tempat ini sangat luas hanya ada pepohonan di sisi jalan tanpa satu manusia pun disini yang menemaninya. Matanya menangkap sebuah cahaya terang dan kaki Jongdae perlahan melangkah kesana, cahaya itu semakin terang hingga Jongdae harus menutup matanya.
Splasshh
Mata Jongdae terbuka ketika dirasa sudah tak ada lagi cahaya menyilaukan.
"Hahahahahahaha eomma gelli" Kepala Jongdae bergerak cepat untuk mencari sumber suara dan senyumnya mereka seketika ketika melihat seorang anak kecil dalam gendongan seorang wanita.
"Daemin? Minseok? " panggil Jongdae.
"Appaaaaa " Daemin berlari kencang dan dalam hitungan detik ia sudah berada dalam gendongan Jongdae.
"Kau memanggilku apa sayang? "
"Appa ~ Jongdae appa "
Grep
Jongdae memeluk Daemin erat, rasanya sungguh damai di panggil 'appa' oleh anaknya sendiri. Ia menoleh untuk mencari Minseok, ia ingin memeluk Minseok.
"Minseok? " panggil Jongdae namun tak ada jawaban. Bukankah tadi Minseok ada di sampingnya kenapa sekarang menghilang.
"Minseok? Kau dimana? Minseok?! "
.
.
"Dokter detak jantung Minseok-ssi menurun. Ini berbahaya" Sehun melihat detak jantung Minseok dan benar saja detak jantung Minseok melemah.
"Tidak Minseok tidak! Kau kuat" ujar Sehun dalam hati.
Waktu seakan berjalan sangat lambat, ayolah ini hanya empat jam untuk operasi tapi kenapa rasanya seperti empat tahun. Suho,Yixing,Luhan,Kyungsoo sudah disini mereka menunggui Minseok sejak pagi.
Tap
Tap
Tap
"Aku langsung kemari saat tau Jongdae di operasi" Yixing mendongak saat ia mendengar suara Baekhyun. Di belakang Baekhyun ada Kai, Yixing bersyukur putranya memiliki teman yang sangat baik mereka selalu ada di saat Jongdae sedang dalam kondisi terburuknya.
"Loh Kyungsoo? " Kyungsoo hanya tersenyum lemah ketika mendengar suara Kai.
"Kau disini? "
"Kakak yang kemarin ku ceritakan padamu adalah Minseok eonnie" jawab Kyungsoo.
"Ya ampun ternyata dunia ini begitu sempit"
Ceklek
Sehun keluar dari ruang operasi, keringat terlihat jelas di keningnya. Belum lagi wajah lelah Sehun membuat semua orang tahu bagaimana perjuangan Sehun di dalam.
"Sehunnie bagaimana? " tanya Luhan.
"Jongdae merespon dengan baik ginjal dari Minseok. Hanya tinggal menunggu ia sadar untuk pemeriksaan lebih lanjut." Yixing, Suho,Baekhyun dan Kai kompak menghela nafas lega ketika mendengar jawaban Sehun.
"Minseok eonnie? " Sehun mengalihkan perhatiannya pada Kyungsoo, gadis mungil bermata bulat yang mengklaim Minseok adalah kakaknya memandang Sehun dengan penuh harap. Di tambah tatapan mata Luhan istrinya yang terlihat cemas membuat ia tak tega.
"Minseok baik, hanya saja detak jantungnya melemah saat operasi. Dan dia"
"Minseok kenapa? " kini Luhan kembali bersuara.
"Koma"
Bruk
"Kyungsoo! " Kai dengan cepat menopang tubuh Kyungsoo, wanita itu langsung jatuh tak sadarkan diri ketika mendengar Minseok mengalami koma.
Kai menggenggam erat tangan Kyungsoo, hatinya terasa perih kala melihat senyum di wajah Kyungsoo hilang. Diantara semua orang mungkin Kyungsoo yang terlihat sangat lemah kali ini ia tak mau makan sejak pagi dan kabar buruk tentang Minseok semakin membuatnya lemah.
"Euuggh" Kyungsoo mengerjap ketika matanya mulai terbuka.
"Jongin" panggil Kyungsoo lemah.
"Ne, kau butuh sesuatu" tanya Jongin sigap namun Kyungsoo menggeleng. Matanya menerawang mengingat sosok Minseok dan perasaan takut kembali menghantui pikirannya.
"Jongin, bolehkan aku memanggilmu begitu"
"Tentu saja Kyung"
"Orang yang koma pasti akan bangun lagi kan? Mereka hanya lelah dan ingin tidur lebih lama, benar seperti itu kan? " ujar Kyungsoo parau bahkan air mata kini mulai keluar dari sudut matanya.
"Baiklah tidak apa-apa jika seperti itu, sekarang eonnie boleh beristirahat kali ini biar aku yang bekerja dan menjaga Daemin. Aku akan berjuang aku-"
Grep
"Gwenchana Kyung, kau tidak sendirian. Aku berjanji akan terus di sampingmu" ujar Kai sambil memeluk Kyungsoi erat. Ini bukan hanya sekedar ucapan untuk menenangkan tapi Kai mengucapkan semua itu tulus dari hatinya yang paling dalam.
.
.
Aroma obat-obatan khas rumah sakit langsung menyapa indra penciuman Jongdae, matanya mengerjap berkali-kali guna memfokuskan penglihatannya. Ia masih hidup, tubuhnya memang masih terasa sakit tapi ini sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
Memorinya berputar, ingatan terakhir membawanya ke kediaman Minseok. Mereka berbicara banyak hal bahkan ia ingat jika ia masih sempat tidur dan membawa Minseok juga Daemin dalam pelukannya. Tapi sekarang ia di rumah sakit, lalu bagaimana dengan Minseok dan Daemin?
"Jongdae kau sudah sadar? " Kepala Jongdae menoleh cepat ketika mendengar suara sang eomma.
"Eomma" panggil Jongdae lirih.
"Tunggu sebentar eomma akan panggilkan dokter"
"Tunggu eomma" Yixing berhenti kala Jongdae meraih lengannya.
"Dimana Minseok dan Daemin? " tanya Jongdae membuat Yixing bungkam.
"Eomma akan panggilkan " jawab Yixing kemudian.
Jongdae melihat Sehun dalam ketika laki-laki tersebut memeriksanya.
"Ada apa Jongdae-ya? "
"Minseok, Daemin eodiga? " tanya Jongdae lagi. Sejak ia sadar ia sudah melihat semua orang yang ia cintai kecuali Minseok dan Daemin.
"Appa! Jongdae appa! " Jongdae menoleh ketika suara bocah kecil berteriak memanggilnya. Daemin berlari kecil dari arah pintu. Senyumnya merekah melihat sosok Jongdae yang sudah membuka mata.
"Appa kenapa tidurnya lama sekali? Daemin kan rindu " keluh Daemin.
"Kau memanggilku appa? " ulang Jongdae seakan tak percaya.
"Ne! Haraboji bilang kalau ahjusi itu appa nya Daemin jadi Daemin harus memanggil Jongdae Appa " Jelas Daemin ceria. Jongdae menahan haru kala mendengar panggilan nama 'appa' untuknya.
"Dimana eomma? " tanya Jongdae pada Daemin.
"Eomma sedang tidur, kata noona eomma lelah. Jadi eomma butuh istirahat. Tapi appa kenapa eomma tidurnya lama sekali ya? " Jongdae memandang putranya bingung, sungguh ia tidak tau apapun tentang Minseok lalu sekarang Daemin berkata bahwa Minseok tertidur?
"Setelah kau sadar kau langsung bertanya tentang Minseok dan Daemin. Mereka sangat berarti untuk mu ya? "ujar Sehun membuat Jongdae menoleh.
"Apa kau tak ingin bertanya bagaimana kau masih bisa membuka mata hari ini? " lanjut Sehun lagi.
"Hyung " lirih Jongdae "Apa aku mendapatkan donor? " tanyanya. Sehun tersenyum untuk menjawab pertanyaan Jongdae.
"Siapa? " tanya Jongdae lagi, otaknya berpikir cepat dari semua orang terdekat hanya tinggal Minseok yang belum ia lihat, astaga jangan-jangan.
"Apakah Minseok? " tanya Jongdae lagi, demi apapun ia berharap Sehun menggeleng namun laki-laki itu kembali tersenyum.
"Kau pulihkan dulu tubuhmu dan aku akan membawamu ke ruangan Minseok"
...
Selama tujuh hari Jongdae benar-benar merasa tersiksa. Sehun tak mengizinkannya keluar barang semenit pun. Sungguh ia hanya ingin melihat kondisi Minseok tapi rasanya sangat sulit. Bukan tanpa alasan Sehun melarang namun kondisi Jongdae yang belum stabil menjadi hal utama. Sehun tidak mau mengambil resiko hal buruk terjadi pada pasiennya, biarlah ia di cap jahat asalkan Jongdae dapat cepat pulih.
"Tak perlu memakai kursi roda aku bisa jalan sendiri" ujar Jongdae penuh kepercayaan diri. Ia sengaja menolak kursi roda yang sudah Sehun bawa. Sebenarnya Jongdae ingin melihat Minseok dengan membawa Daemin. Minseok pasti akan sangat senang jika Daemin datang namun lagi-lagi Sehun melarang.
Entahlah tapi Jongdae merasa Sehun sangat over protectiv. Tapi Jongdae suka dengan segala sikapnya karena Jongdae tau Sehun sangat menyayangi orang di sekitarnya.
Kaki Jongdae berjalan pelan, padahal ingin sekali ia berlari namun sayang kakinya masih belum sanggup melakukan itu dan jika Jongdae memaksa untuk berlari maka dapat di pastikan Sehun akan langsung menguncinya dan tak mengizinkannya keluar ruangan.
"Minseok ada di dalam, aku hanya akan mengantarmu sampai sini" Sehun menepuk bahu Jongdae pelan sebelum meninggalkannya sendirian. Jongdae sendiri kini menarik nafas panjang ia harus menyiapkan hatinya. Memang selama seminggu terakhir Jongdae selalu merengek ingin di pertemukan dengan Minseok namun kini hatinya goyah, apakah ia akan tega melihat Minseok dalam kondisi sakit.
Ceklek
Pintu terbuka pelan, menimbulkan suara klik. Saat masuk bunyi detak jam dan beberapa alat rumah sakit langsung menyapa indra pendengaran Jongdae. Kakinya melangkah dramatis kala netranya menangkap objek yang selama ini ia rindukan. Minseok tengah tertidur dengan beberapa alat yang menempel pada tubuhnya, wajahnya terlihat damai namun pucat secara bersamaan.
"Min" lirih Jongdae.
"Terima kasih, terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Kau menjadi cahaya di saat gelap dan selalu menyinariku setiap saat. Kau sudah melahirkan Daemin memberikanku seorang malaikat kecil yang sangat lucu. Kau sudah mengorbankan kebahagiaanmu hanya demi aku bisa mencapai mimpiku. Dan kini kau mengorbankan hidupmu lagi." ujar Jongdae pelan tangannya kini ia gunakan untuk memegang erat tangan Minseok yang tak terdapat jarum infus.
"Bangunlah sayang, bangun ku mohon." air mata kini sudah jatuh membanjiri pipi Jongdae. Biarlah ia di anggap sebagai laki-laki cengeng asalkan Minseok kini bisa sadar.
...
Minseok berjalan tenang, tempat ini sungguh damai. Bunga-bunga bermekaran dan udaranya pun sangat sejuk.
"Minseok" Wanita itu berhenti kala seorang namja memanggil namanya, Minseok sangat ingat dengan suara ini. Suara yang sangat ia rindukan.
"Appa" lirih Minseok. Matanya menangkap lurus sosok laki-laki tinggi di hadapannya. Ia tersenyum menatap Minseok membuat air matanya tak dapat lagi di tahan.
Minseok berlari kencang menuju Yifan, di peluknya erat tubuh sang ayah. Namun sedetik kemudian seakan tersadar Minseok buru-buru melepaskan pelukannya dan berlutut di hadapan Yifan.
"Appa mian" lirih Minseok.
"Maafkan aku karena aku tak dapat menjaga diri, maafkan aku karena telah membuat appa malu, maafkan aku-"
Grep
"Sudah nak sudah" Yifan berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan sang putri yang kini menangis kencang. "Appa sudah memaafkanmu" lanjutnya.
"Aniya aku bersalah"
"Tidak apa-apa Xiumin-ah" ujar Yifan lagi, Minseok mendongak ketika ayahnya memanggil namanya Xiumin, itu adalah nama kesayangan dari ayahnya. Dan jika Yifan sudah memanggil begitu maka memang Yifan sudah memaafkannya.
Kini sepasang anak dan ayah itu duduk bersandar pada kursi yang ada di taman. Sesekali Yifan akan mengelus rambut putrinya sayang. Hal yang bahkan dulu sewaktu ia masih hidup saja sangat jarang ia lakukan.
"Appa sebenarnya ini dimana? Kenapa aku bisa ada disini? Apakah aku sudah meninggal? " tanya Minseok takut-takut.
"Bagaimana jika appa menjawab Ya" ujar Yifan membuat Minseok menegakan duduknya.
Jika ia meninggal bagaimana dengan Daemin ? Siapa yang akan merawatnya? Lalu Jongdae apakah operasinya berjalan lancar? Ya tuhan jika sampai Minseok tak selamat itu berarti ia sudah melanggan janjinya pada Kyungsoo.
"Appa bisa membaca semua pikiran mu nak " ujar Yifan.
"Kemari" Yifan kembali memeluk Minseok sayang, di kecupnya kening Minseok lama. Perlahan Yifan berdiri dan menuntun Minseok untuk berjalan menuju sebuah pintu berwarna putih.
"Appa sangat merindukanmu, tapi sesungguhnya ini belum saatnya untukmu kemari. Masuklah ke dalam pintu itu dan raih kebahagiaanmu" ujar Yifan, Minseok awalnya mengernyit namun kemudian ia hanya dapat tersenyum. Air mata kini kembali membasahi pipi Minseok.
"Appa aku mencintaimu" ujar Minseok untuk yang terakhir sebelum ia mulai masuk ke dalam pintu putih tersebut.
...
"Min, jangan buat aku semakin merasa bersalah padamu. Ku mohon bangunlah dan izinkan aku kali ini yang membahagiakanmu" ujar Jongdae, matanya menatap lekat pada Minseok namun wanita itu masih diam. Jongdae mengernyit saat ia merasakan Minseok menggenggam balik tangannya dan setetes air mata menetes dari sudut mata Minseok.
"Ya tuhan! Minseok! " Jongdae bangkit ia memandang wajah Minseok lebih dekat. Kaki nya melangkah cepat, ia harus memanggil dokter. Namun baru dua langkah ia berbalik suara lirih itu menghentikan segala pergerakan Jongdae.
"Jong-dae"
.
.
Sehun menatap Minseok takjub, adik iparnya itu kini sudah sadar. Matanya kini telah berbuka dan demi apapun Sehun ingin sekali memeluknya erat namun namja yang selalu duduk di sampingnya seakan tak mengizinkan namja lain mendekat walau ia adalah kakaknya sendiri.
"Apa kau akan terus menatapku seperti itu? Ayolah Kim! Minseok itu adik ku " Ujar Sehun jengah karena sedari tadi Jongdae menatapnya lekat.
Yixing dan Junmyeon hanya dapat menggelengkan kepala pelan melihat kelakuan putranya tersebut.
Brak
Pintu terbuka kasar menampilkan Baekhyun di depan pintu, di samping wanita tersebut ada seorang namja tinggi tak di kenal.
Namja itu dengan nafas terengah dan wajah panik yang kentara langsung berjalan cepat ia bahkan mendorong Sehun dan bagai secepat cahaya ia langsung membawa Minseok ke dalam pelukannya.
Beberapa orang dibuat melongo akan ulah namja tinggi ini namun berbeda dengan Jongdae, aura hitam begitu saja menguar dari tubuhnya.
"Aku langsung kemari ketika tau kau sakit " ujarnya sambil menatap lekat Minseok. Jongdae sudah akan menghajar orang itu jika saja ia tak melihat senyum bahagia di wajah Minseok. Apa dia tak salah lihat? Minseok cintanya? Ibu dari anaknya? Tersenyum pada laki-laki lain?
"Aku sudah tak apa-apa Yeol. Terima kasih sudah datang" jawab Minseok." Tapi bagaimana kau tau jika aku sakit? " lanjutnya.
"Aku tau dari Baekhyun, dan Baekhyun adalah asisten orang ini. Aku sudah tau semuanya" Jongdae kembali mengernyit ketika ia di panggil dengan sebutan 'orang ini'.
"Sebenarnya kau ini siapa? Tidak punya etika" ujar Jongdae ketus. Minseok yang menyadari perubahan aura Jongdae hanya dapat tersenyum maklum.
"Ini Chanyeol, ia adalah putra dari Bogum ahjusi. Kepala sekolah di Lucky One tempatku mengajar. Chanyeol salah satu teman terbaik ku disana" ujar Minseok memperkenalkan.
"Chanyeol oppa " Semua orang kini melirik kearah Kyungsoo yang baru saja datang dari kantin bersama dengan Kai dan Daemin.
"Chan ahjusiiii"
"Ya ampun kalian semua ada disini" Chanyeol berjalan untuk meraih Daemin dalam pelukannya dan tak lupa ia mencium kening Kyungsoo membuat Kai mengepalkan tangan tanpa ia sadari.
"Bukankah aku sudah mengatakan jika ada sesuatu maka hubungi aku. Kalian bertiga jahat sekali" Jongdae dan Kai bersumpah ingin membunuh Chanyeol saat ini juga setelah tadi dengan seenak hati memeluk Minseok dan mencium Kyungsoo kini ia justru mengerucutkan bibir seperti anak perempuan. Uugghh menjijikan.
"Bagaimana kami menghubungimu jika oppa menghilang begitu saja! " ujar Kyungsoo.
"Aahh maafkan aku, aku sengaja pergi untuk menyelamatkan sekolah. Aku pergi dengan sertifikat tanah dan membawanya pada Tuan Kang, aku bilang akan menjualnya dan siapa sangka Tuang Kang langsung setuju. Aku hanya ingin menyadarkan ayahku bahwa Tuan Kang bukan orang baik, seperti yang kalian tau. Ayah sangat percaya padanya, padahal tuang Kang sudah lama mengincar tanah tersebut. Dan pancinganku berhasil, " Jelas Chanyeol.
"Lalu sekolah? " tanya Minseok takut.
"Aku tak sebodoh itu. Semua sudah selesai kau tidak perlu banyak berpikir yang jelas sekolah baik-baik saja dan ayahku sudah sadar siapa Tuan Kang yang sebenarnya." jelas Chanyeol lagi.
"Bisakah kalian tidak membicarakan hal yang tidak ku pahami" ujar Jongdae ketus.
"Jongdae appa kenapa? " tanya Daemin bingung karena baru kali ini ia melihat Jongdae dengan wajah kesal.
"Jongdae appa? " tanya Chanyeol.
"Ne! Itu appa nya Daemin.. Hihihi Daemin sudah punya appa sekarang" jawab Daemin lagi membuat Chanyeol menoleh cepat.
"Lebih tampan juga ahjusi, dan ahjusi juga lebih tinggi, Daemin jadi anak ahjusi saja eothe? " tawar Chayeol membuat wajah Jongdae memerah.
"Yak! Kau! "
"Tidak bisakah kalian tenang! " semua kini bungkam ketika Luhan membentak. "Adik ku baru saja siuman dan kalian semua sangat berisik! Minseok butuh istirahat. Jika kalian masih tidak bisa diam maka pergilah " ujarnya galak. Chanyeol otomatis menutup mulut begitu pula dengan Jongdae. Astaga benarkah dia kakaknya Minseok? Kenapa sangat galak sekali.
Minseok hanya tersenyum menatap orang-orang yang ia sayangi. Semuanya berkumpul disini dan itu sudah jauh dari cukup.
Penderitaan yang selama ini Minseok alami seakan terbayar lunas hari ini. Setetes air mata mengalir di pipinya, ini adalah air mata kebahagiaan. Tak ada yang dapat menggambarkan bagaimana bahagianya Minseok sekarang. Karena bagi Minseok hartanya yang paling berharga keluarga.
.
.
End
End dengan tidak elitnya hehehehe
Maad yah karena lama banget update dan sekalinya update berakhir dengan tidak elit. Tapi ini udah mentok. Mohon di maklum yaaaa.
Big Thanks to :
Kim hyomi, coldthunderxx, park eun yeong, initial D 0326, Vampire Dps, Nadhefuji,gues,chenminkiddo, astarizerida
Dan Terima kasih juga buat Semua readernim yang namanya tak dapat di sebutkan satu2.
Ku sayang kalian...
See you in next story
