Menma bukan tipe manusia dimana jatuh cinta adalah sebuah kewajiban, Menma juga tidak percaya tentang jatuh cinta pada pandangan pertama. Itu termasuk hal-hal konyol dalam hidupnya. Baginya pandangan pertama adalah sebuah rasa kagum tidak lebih, karena tidak mungkin seseorang jatuh cinta pada orang yang tidak di kenal. Akan ada proses untuk saling mengenal satu sama lain dan akan timbul rasa suka lalu menjadi cinta, tapi tidak untuk Menma. Perutnya akan bergemuruh ada kelenjar aneh merayap di setiap punggungnya dan setelahnya menjadi rasa mual. Cinta baginya adalah hal yang mustahil, sebuah omong kosong.

Tidak pernah terpikir dalam hidupnya untuk menggilai seseorang atau bertahan pada satu wanita. Menjalin sebuah hubungan dan mengabdikan hidup untuk satu orang wanita. Menma tidak berpikir untuk melakukannya. Sebuah hubungan yang mengikat akan menyakitinya secara perlahan. Selama dia hidup hanya ada satu wanita yang selalu dia ingat yang selalu ada di hatinya meski orang-orang mengatakan dia tidak punya hati. Yaitu ibunya. Satu-satunya wanita yang akan dia cintai hingga akhir hidupnya.

Mengubah tidurnya untuk terlentang menatap langit-langit kamar. Menma mencoba untuk menutup mata. Tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah mencapai batas hari ini. Ingin segera terlelap tertidur seperti biasanya dan terbangun tanpa bermimpi. Karena semenjak ibunya memilih pergi Menma tidak pernah bermimpi, tidak ada mimpi yang datang setiap malamnya.

Tapi kini semua terasa aneh. Ada warna kuning yang menyapa disetiap gelap menyapa ketika mata tertutup. Sebuah helaian yang berkibar lalu cahaya sebiru lautan akan memandangnya dengan teduh. Semenjak itu Menma akan terbangun bahkan sebelum tidur, menyingkirkan bayangan yang selalu hadir. Membuangnya jauh-jauh sebelum datang. Karena Menma tahu jika dia biarkan itu untuk datang maka akan ada waktu dimana dia akan merasakan sakit lagi.

"We all know how important love is, yet how often is it really emoted or exhibited? What so many sick people in this world suffer from—loneliness, boredom and fear—can't be cured with a pill." Albert Schweitzer

:: ::

:: ::

3rd BUTTERFLY

Uchiha Sasuke || Uzumaki Naruto || Namikaze Menma ||

Romance || Drama || Family || Angst

Naruto © M. Kishimoto

Butterfly©ChrysantimumBluesky

M

Warning :

AU, OOC, Gender Switch, FemNaru!

:: ::

:: ::

"Jadi berapa banyak?"

Naruto diam, bibirnya tak bergerak sedikitpun untuk menjawab. Matanya masih terpaku bagaimana pria yang menyerrtnya tadi hingga berakhir di cafeteria rumah sakit. Dia pria aneh jika Naruto berpendapat, memaksanya kemari bahkan belum menyebutkan nama satu sama lain. Yang Naruto tahu tentang pria ini adalah dia seperti orang yang dia lihat semalam. Meski samar dan penuh luka tapi dia mengerti setelah pria itu sedikit bicara dan meminta apa kompensasi yang dia inginkan karena telah mau menolongnya.

"Sebagai ungkapan terima kasih aku akan memberimu berapapun yang kau minta. Jadi katakan sekarang, aku orang yang sibuk nona"

Pria itu masih berbicara setelah menyeruput minuman hangat yang dia pesan. Tidak ada ekspresi yang berarti dari pria itu. Mata hitamnya memang membuatnya bergidik untuk beberapa waktu tapi bukan berarti Naruto merasa takut atau tertekan. Naruto mengerjapkan matanya masih belum menjawab.

"Berapa? Satu juta? Sepuluh juta? Kau bisa memakainya untuk pengobatan ibumu"

Naruto kembali mengerjapkan matanya sebelum memincing menatap pria itu penuh tanya bagaimana bisa dia tahu tentang ibunya. Ah mungkin saja dia menggeledah seluruh isi rumah sakit untuk mencarinya. Terdengar mustahil tapi mungkin saja. Naruto menghela nafas sebelum berdiri menatap pria itu untuk sejenak. "Permisi, lebih baik kau simpan saja uangmu, mungkin kau butuh siapa tahu kau kembali sekarat seperti waktu itu. Aku permisi" Naruto membungkuk hormat lalu pergi meninggalkan pria yang menatapnya tak percaya.

Meninggalkan Uchiha Sasuke yang tidak berkedip di tempatnya. Untuk pertama kali dia bicara begitu panjang dalam kamusnya untuk orang yang baru di kenal. Dan untuk pertama kalinya dia tak diacuhkan. Sasuke menaikkan sebelah alisnya sebelum terkekeh geli, berpikir ini akan menjadi menarik atau sebuah permainan besar baru saja datang dalam kehidupannya yang datar.

.

.

Butterfly

.

.

Beberapa waktu telah terlewati. Sekitar satu bulan penuh ibunya berada di ruang rawat dan kini sudah keluar sesuai apa yang dia inginkan. Dan Naruto kembali pada aktifitasnya semula, sekolah dan kerja part time yang sudah menjadi rutinitasnya sehari-hari. Berjalan sendirian menuju gerbang sekolah, disana sudah ada Kimimaro guru muda yang kini bertugas menjaga gerbang memeriksa kelengkapan murid dan melihat murid yang ketahuan membolos. Dia guru yang ramah dan tampan jadi tak mustahil dia memiliki banyak penggemar mengingat jika ini adalah sekolah khusus wanita.

"Selamat pagi Naru-chan"

Naruto mendongak setelah sekian lama berjalan menunduk menatap Kimimaro sebentar lalu menunduk kembali menjawab dengan lirih, suara yang begitu pelan untuk di dengar. "Selamat pagi Sensei"

"Ah bagaimana dengan keadaan ibumu? Ku dengar dia masuk rumah sakit" Kimimaro bertanya dengan lembut mengabaikan beberapa murid yang meminta perhatiannya.

Sebenarnya tidak ada niat bagi Naruto untuk berbicara atau sekedar basa-basi dengan guru muda ini. Naruto hanya ingin pagi ini cepat berlalu belajar, masuk kelas, lalu pulang untuk part time job nya. Naruto menatap Kimimaro sekilas lalu kembali menunduk. "Ibu sudah baik-baik saja sekarang. Kalau begitu saya permisi"

Kimimaro menganggukkan kepalanya singkat lalu kembali pada murid-murid yang datang setelah tersenyum kearah Naruto. Dan gadis itu selalu berjalan dengan kepala menunduk hingga wajah manisnya harus tertutup rambut pirangnya yang menjuntai panjang, hal yang Kimimaro tidak sukai.

Ada alasan kenapa Naruto selalu datang sendiri ke sekolah di bandingkan dengan bergerombol atau berlarian ke kelas bersama teman. Ada alasan kenapa dia selalu menunduk menyembunyikan wajah di balik rambut panjangnya. Bukan dia takut atau bukan dia bersembunyi, hanya saja ada beberapa hal yang membuatnya bersikap antipasi terhadap sekelilingnya. Atau mencoba untuk tidak mendengar bisik-bisik orang di sekitarnya seperti.

"Woah dia mencoba menggoda Kimimaro-sensei lagi"

"Wajahnya saja yang cantik tapi hatinya busuk"

"Bukankah dia mirip ibunya? Seperti seorang jalang"

"Bahkan dia tidak memiliki ayah. Dasar anak haram"

Berhenti melangkah Naruto berdiri di tempatnya, tak apa mereka melukainya, tak apa mereka menghinanya Naruto tidak akan marah. Namun saat bagaimana mereka mengolok-olok ibunya tanpa rasa bersalah membuat dirinya merasa begitu marah namun tidak berguna sama sekali. Dia tidak seperti mereka dimana ayah mereka begitu berpengaruh rela menghamburkan ratusan lembar uang untuk anaknya agar tidak terusik. Dia juga cukup tahu diri untuk tidak membuat masalah. Karena Naruto tahu kondisinya tidak memungkinkan untuk pindah sekolah setiap waktu. Sekolah ini sudah cukup murah untuk dirinya dengan ibu yang berpenghasilan rendah, bahkan jika digabung dengan uang part timenya mungkin cukup untuk hidup mereka. Ada banyak hutang yang harus dia bayar. Terutama untuk pria itu.

Berdiri dengan menahan emosi mengalir dan tertahan pada kedua tangannya yang mengepal erat di masing-masing tubuh. Naruto menghela nafasnya mencoba untuk mengusir semua emosi yang bergumul. Mencoba untuk terdiam dan menjauh dari masalah karena hari-harinya akan semakin berat. Karena tidak ada hari yang cerah untuk dilalui. Karena Naruto tahu dimana batasan untuk hidupnya.

.

.

Butterfly

.

.

Seperti sebuah gravitasi yang menarik poros bumi. Seperti sebuah medan magnet yang tidak teralihkan. Tidak bebas dan penuh sesak. Beberapa orang menganggap itu keren dan beberapa lagi menganggap itu memuakkan. Menjadi pusat perhatian mungkin bagi sebagian orang akan berkata 'wah keren' tapi untuk Menma dia akan mengatakan satu hal.

"Menyebalkan" disertai dengan dengusan keras seperti yang baru saja dia lakukan.

Shikamaru hanya menguap di sampingnya lalu kembali untuk memainkan ponsel di tangan kirinya mencoba untuk menemukan sesuatu yang menarik namun sayangnya hanya beberapa berita picisan di pagi hari dan hal yang demikian itu justru membuatnya semakin mengantuk.

"Ku dengar Uchiha itu masuk rumah sakit. Kau yang memukulinya? Kenapa tidak kau bunuh sekalian?" cerocos Neji sambil berjalan, pria dengan rambut panjang itu mendudukkan diri di samping Shikamaru setelah menyerobot minuman milik Shikamaru yang masih tersisa banyak.

Menma memandang Neji tanpa minat. "Dia memang masuk rumah sakit" kedua tangannya memainkan rubik yang selalu dia bawa seperti jimat, melanjutkan bicara tanpa memandang Neji. "Kenapa kau bisa menyimpulkan jika aku yang membuat si brengsek itu sekarat?"

Sama tidak menatap lawan bicara, Neji memilih menyandarkan tubuhnya lalu memejamkan mata mencoba untuk istirahat setidaknya tidur tidak lebih dari lima belas menit. "Memangnya siapa lagi yang bisa membuat Uchiha itu sekarat"

Tangannya berhenti memutar-mutar rubik, tersenyum kecut sebelum kembali bermain. "Tapi sayangnya aku tidak memiliki kesempatan untuk melakukannya"

Shikamaru memilih diam dan tidur di meja panjang setelah lelah menatap layar ponsel terus menerus, membiarkan kedua orang itu berargumen. Namun yang dia dapat hanya suasana hening. Shikamaru menghela nafas lalu menegakkan tubuhnya. Dilihatnya Neji sudah memejamkan mata dengan kepala menyandar penuh pada kursi dan Menma yang seperti biasa bermain dengan rubik miliknya meski sudah ratusan kali rubik itu terselesaikan. Shikamaru tidak pernah berpikir bagaimana bisa dia berteman dengan dua orang aneh ini.

Mata kuacinya menyipit begitu melihat objek familiar berjalan menuju ke area kantin universitas tempat mereka berada. Tempat mahasiswa melepas jenuh selepas mendengarkan berjam-jam teori penuh. Shikamaru menopang dagu berkata pelan namun cukup untuk di dengar kedua orang disekitarnya. "Kalian bilang Uchiha masuk rumah sakit. Tapi sepertinya dia baik-baik saja"

Neji membuka matanya, menatap Shikamaru sebentar lalu beralih ke tempat dimana mata Shikamaru terlihat. Disana Uchiha Sasuke berdiri tegak dengan langkah angkuhnya seperti biasa. Bersama gerombolan dan beberapa gadis di sekitarnya.

"Sepertinya dia sudah keluar" Menma menjawab kebingungan Neji dan Shikamaru. Bibirnya menyunggingkan senyum miring sebelum berdiri dari duduknya.

"Ku pikir kalian akan menjadi akrab nantinya" Shikamaru berkomentar. Menyibir tanpa maksud apa-apa. Menma terlihat lebih mengerti bagaimana keadaan Sasuke. Itu yang dia tangkap dari penglihatannya.

Masih dengan tersenyum miring Menma menjawab Shikamaru sebelum berjalan pergi. "Mungkin" dengan kedua tangan yang menggenggam erat rubik miliknya.

.

.

Butterfly

.

.

Mengelap meja, mengambil piring-piring kotor mencucinya lalu kembali menyapa pelanggan. Caffe masih ramai seperti biasa, namun tidak terlalu merepotkan jika Karin juga ikut bekerja. Naruto menghela nafasnya menuju kearea kasir disana Karin masih melihat majalah yang baru di belinya dengan wajah berbinar memandanginya lebih dari tiga puluh menit.

"Kau tidak bekerja?"

"Tentu saja bekerja" Menjawab tanpa mengalihkan pandangannya. Menjawab dengan setengah sadar. Menatap lembaran kertas seperti berlian.

Naruto menghela nafasnya kasar sebelum menggeleng pelan kembali melanjutkan pekerjaan mencuci piring. "Dasar gila" gumamnya pelan.

Karin masih ditempatnya dengan majalah yang masih terbuka menampilkan salah satu profil bintang remaja saat ini. Karin tahu dia sudah punya pacar, tapi mengagumi pria lain dan menyukai pria lain adalah dua hal yang berbeda, dan itu tidak masalah untuknya selama dia tidak berpaling hati. Mungkin akan lain ceritanya jika pria seperti model atau bintang Hollywood seperti di potret itu yang datang. Menaruh kedua telapak tangan pada dagu. Mata Karin masih berbinar menatap pria tampan yang sialnya hanya sebuah poto.

"Naru-chan… aku tidak mengerti kenapa ada pria sesempurna ini"

Mengelap tangannya dengan handuk putih yang menggantung di pinggir westafel Naruto menoleh kearah Karin, "Satu-satunya yang tidak ku mengerti kenapa kau menganggap poto itu seperti dewa. Haah benar-benar"

Berbalik menatap Naruto yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Mengerucutkan bibir mendelik kesal. "Tentu saja! kau tidak akan pernah menemukan pria tampan ini dimanapun"

Menghela nafas Naruto berbalik. Tak ada keinginan sebenarnya untuk berdebat dengan Karin. Menatap kearah Karin dengan badan bersandar pada wastafel di belakang. "Maka dari itu bangunlah dari mimpi." Tersenyum kecil saat melihat Karin menunduk lesu membenarkan perkatannya. "Memangnya siapa yang kau lihat sampai seperti itu?"

Lagi Naruto bisa melihat mata Karin berbinar dengan terang. Semangat yang tadinya luntur kini dalam sekejap kembali lagi. "Namikaze Menma"

Naruto mengernyit dengan alis yang menukik tajam disertai kerutan di dahinya. Dia tidak pernah ingat ada idol atau selebriti bernama itu. "Siapa? Nami siapa?"

"Kau tidak tahu?" Karin terperangah, dilihatnya Naruto menggeleng. Meraih kedua bahu Naruto lagu menggoyangnya. "Benar-benar tidak tahu? Namikaze Menma pewaris KN Group! Kau benar-benar tidak tahu"

"Woah hentikan kau membuatku pusing" Naruto menurunkan tangan Karin dari bahunya, merapikan rambut yang ikut berantakan karena bergoyang. "Bagaimana aku tahu. Kau pikir aku punya waktu untuk memandangi majalah seharian?" tanya Naruto skeptis

"Ah maaf" Karin lupa jika hidup Naruto hanya seputar sekolah dan kerja part time. Menyambar majalah yang sempat dia abaikan. Membentangkan luas di hadapdan Naruto, memperlihatkan laki-laki sempurna yang harus gadis itu ketahui. "Dia! Dia Namikaze Menma"

Mata birunya melebar. Ada gelenyar aneh yang menulusuri tubuh dari punggung perut hingga dada. Terkejut adalah rasa paling dominan dalam tubuhnya. Sekejap dia tidak bisa bicara. Wajah itu tidak akan dia lupa, wajah yang terpotret dengan jelas tanpa cela. Naruto bahkan berfikir jika penglihatannya yang salah. wajah mereka sama. Bahkan bagaimana mata hitam itu menyorot begitu sama. Membuatnya bergetar dan jantungnya bertalu-talu dengan cepat.

"Tidak mungkin"

.

.

Butterfly

.

.

Namanya Uchiha Sasuke, pria dengan umur 22 tahun. Menikmati hidup dan tidak perduli dengan hidup orang lain. Para gadis mengenalnya dengan The hottest man, beberapa mengenalnya dengan Playboy abad ini, dan sebagian mengenalnya dengan Si Brengsek. Tidak terdengar indah tapi itulah kenyataannya. Orang-orang akan menyebutnya Brengsek atau Bajingan dan Sasuke tidak akan perduli bagaimana orang menyebutnya. Ini hidupnya dan dia yang berhak menentukan bagaimana dia hidup.

Hidupnya sudah bahagia –bagi dirinya sendiri- sekolah jika ingin, menghabiskan malam di club dan beberapa pelacur yang siap membuka lebar kedua kakinya. Pulang jika ingat, tidak perlu repot-repot soal uang ibunya akan siap mentransfer beberapa uang yang dia minta sekali ucap. Dan terkadang hidupnya yang seperti itulah menempatkannya dalam masalah. Seperti kemarin, gadis yang terlibat one night stand dengannya adalah pacar beberapa gangster jalanan yang pernah dia permalukan. Sasuke bukan pria lemah, dia kuat dengan ilmu beladiri yang dulu dia tekuni Judo dan Taekwondo. Tapi sialnya Sasuke sendiri, tidak akan ada yang pernah menang jika hanya sendiri.

Lalu dia sekarat. Dan gadis itu datang. Gadis yang sama dengan gadis di depan toko bunga. Gadis aneh dengan kupu-kupunya. Ada yang aneh di pikirannya sejak saat itu. Dia tidak pernah suka gadis lugu karena baginya itu membosankan, dia lebih suka gadis seksi dan menggairahkan. Tapi ada satu hal yang tidak pernah bisa dia terka apa penyebabnya hingga dalam beberapa waktu selalu terbayang dalam mimpinya. Suara yang dia dengar ketika sekarat dan mata biru yang benar-benar dia lihat saat percakapan terakhir mereka.

"Uzumaki Naruto ya?" Sasuke bergumam pelan namun cukup untuk di dengar Sai disampingnya.

"Kau bicara apa tadi?"

Menoleh kearah Sai, menggelengkan kepalanya lalu meneguk satu gelas kecil whisky ditangan. Sai hanya menatapnya sekilas lalu beralih pada gadis-gadis disekitarnya. menuangkan minuman dan menggodanya. Tidak ada waktu untuk memikirkan keanehan Sasuke. Pria itu memang selalu aneh, dan semakin aneh setiap harinya.

.

.

Butterfly

.

.

"Namanya Namikaze Menma, anak tunggal dari Namikaze Minato. Umurnya 22 tahun, seperti yang ku katakan tadi dia adalah pewaris tunggal dari KN Grup. Dia memang bukan seorang idol atau selebriti tapi popularitasnya melebihi itu. Dalam sekali lihat semua orang pasti tahu itu adalah Namikaze Menma. Aku belum pernah bertemu dengannya tapi dari yang ku dengar dia bukan orang yang ramah. Ah dia juga masih bersekolah di Universitas Tokyo, kalau tidak salah fakultas Ekonomi, jurusan Manajemen Bisnis"

Mengubah tidurnya menghadap kearah kanan. Tidak banyak hal yang terpasang di dinding kamarnya. Hanya beberapa seperti jadwal pelajaran dan list hariannya. Tidak ada poster idol di sana karena memang tidak ada waktu baginya untuk mengagumi seorang idol. Tapi berbeda untuk kali ini, untuk pertama kali dalam hidupnya Naruto menempelkan poster di dinding kamarnya. Poster yang dia dapat dari Karin setelah berdebat begitu panjang dengan gadis itu.

Berkedip pelan, Naruto masih memandang bagaimana wajah itu terpotret jelas bahkan dalam lampu temaram, masih terlihat begitu jelas di netranya. Naruto tidak pernah mengerti kenapa dia begitu repot-repot membawa gambar itu pulang dan memasangnya di dinding kamarnya. Dia tidak pernah tertarik dengan laki-laki. Hidupnya hanya terisi berdua dengan ibunya semenjak dia lahir. Dia tidak pernah tahu dimana dan siapa ayahnya. Hanya bertanya satu kali dalam hidup dan setelahnya dia tidak bertanya lagi yang saat itu hanya dijawab senyuman sendu milik ibunya. Ayahnya tidak pernah datang dalam hidupnya dan Naruto mengartikan satu hal. Dia tidak butuh ayah yang meninggalkannya, meski terkadang rasa penasaran itu ada.

Hanya ada satu teman untuknya yaitu Karin. Semua orang selalu menjauhi keluarganya. Tingkat diskriminasi terhadap dia dan ibunya selalu bertambah setiap hari seiring gossip yang selalu tersebar setiap harinya pula. Ibunya sulit mendapatkan pekerjaan dan dia sulit untuk bersosialisasi. Setidaknya sekarang dia harus bekerja keras dengan begitu dia bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi dan masuk ke perusahaan besar agar bisa mengubah ekonomi keluarganya. Terutama membalas setiap penderitaan ibunya dengan hidup tenang di hari tua. Mungkin itu sebabnya tidak pernah ada yang menarik perhatiannya, termasuk seorang laki-laki.

Sekarang terasa berbeda dari kehidupannya. Dia tidak pernah memikirkan seorang laki-laki, dulu dia berfikir jika itu hanya untuk membayar hutang. Namun sekarang rasa ingin bertemu itu berbeda. Naruto menggeleng, tidak. Mereka begitu jauh. Ada tembok kokoh yang membentang, sekali lagi Naruto menggeleng masih teringat dengan jelas perkataan Karin.

"Kau yakin pria itu dia? tidak mungkin! Dia bukan pria yang mudah di temui begitu saja! kau yakin?"

Naruto juga tidak yakin dengan dirinya sendiri. tapi mereka begitu mirip. Mungkin orang lain atau memang memiliki wajah yang sama. Namun mata hitam itu, tatapan itu membuatnya goyah. Naruto menghela nafasnya masih menatap potret di dinding kamarnya.

"Benarkah itu kau?"

.

.

Butterfly

.

.

Bemodalkan nekat dan sedikit informasi yang dia dapat, disini dia berakhir. Berdiri di depan gerbang masuk yang menjulang tinggi Naruto berdiri di sana dengan perasaan bimbang. Memberanikan diri untuk masuk atau kembali pulang dan mencoba esok hari ini. dengan seragam sekolah yang masih melekat di tubuh menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian mahasiswa yang berlalu lalang disekitarnya.

Menghela nafas berjalan perlahan untuk masuk namun untuk detik setelahnya dia kembali berbalik untuk pulang. Melakukan hal yang sama berulang kali. Rasa penasaran yang terus menggerogotinya membuatnya berakhir disini setelah satu minggu berfikir ini dan itu. jika dia tidak melakukannya maka dia tidak akan memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya, namun jika dia melakukannya apakah pria itu akan mengingatnya. Uang tidak seberapa bagi mereka dan mungkin akan melupakan setelah beberapa jam berlalu. Tapi Naruto tidak bisa jika hanya diam, dan rasa ingin bertemu semakin membesar setiap harinya.

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Ya?!" Naruto berjengit karena kaget berbalik secara otomatis dimana baritone suara dia dengar. Detik berikutnya dia menyesali perbuatan karena telah menjadi bahan kekehan geli untuk dua orang lainnya. Naruto menggigit kecil bibir bawahnya lalu membungkuk hormat. "maaf sudah mengganggu"

Sasuke menaikkan sebelah alisnya tinggi-tinggi menahan senyum geli yang akan hadir di mulutnya. Gadis ini adalah gadis paling aneh yang pernah dia temui, Sasuke bahkan yakin jika gadis itu juga melupakannya dalam sekejap seperti pertemuan mereka yang hanya sebentar. "Apa yang kau lakukan disini Uzumaki Naruto?"

Naruto mengangkat wajahnya karena terunduk hingga tertutupi oleh rambut panjangnya. Menatap Sasuke dengan matanya yang membola tidak mengerti kenapa pria itu tahu namanya sementara tidak ada pria asing itu dalam ingatannya.

"Kau mengenalnya Sasuke?" Sai mewakili pertanyaan bingung dari Naruto dan juga Utakata disampingnya. Sedangkan Sasuke hanya menyeringai kecil begitu Naruto sedikit membuka mulutnya hingga membuat o kecil. sepertinya gadis itu mulai ingat tentangnya meski sedikit.

Lagi Naruto menggigit kecil ujung bibir bawahnya. Sepertinya dia sedikit ingat pria ini meski tidak tahu pasti siapa namanya. Sifat tidak sopannya waktu itu masih teringat jelas di kepala Naruto. Naruto menghela nafas pelan sebelum kembali membungkuk hormat. "Konnichiwa"

"Apa yang kau lakukan disini" kembali pertanyaan yang sama terulang untuk yang ketiga kali dalam bibir yang sama. Oleh orang yang sama. Sedikit bosan juga sebenarnya namun tidak mengurungkan niat Sasuke bertanya mengenai keberadaan gadis itu disini. Mungkinkah dia mencarinya.

"Ah tidak ada apa-apa" Naruto menggeleng pelan dengan kepala tertunduk hingga rambut panjangnya bergoyang. "Hanya mencari seseorang"lanjutnya lirih.

"Sikapmu berbeda saat di rumah sakit kemarin" Sasuke berkomentar sementara Naruto semakin menunduk disindir halus seperti itu, membuat Sasuke sedikit kesal tidak bisa memperhatikan wajah Naruto dengan jelas. Dan juga sedikit merasa percaya diri jika yang Naruto cari adalah dirinya.

"Dia wanita yang menolongmu kemarin?" Utakata mengambil kesimpulan berdasarkan deduksi yang ada di kepalanya. Bagaimana Sasuke mengenalnya dan saat dimana Sasuke mengucapkan kata rumah sakit. Bertanya pada Sasuke yang dijawab anggukan pelan pria itu. lalu beralih pada Naruto yang semakin menciut di hadapan mereka. Sebenarnya bukannya tidak sengaja kenapa mereka sampai disini bahkan mobil masih ada di pelataran parkir universitas. Hanya saja melihat Sasuke yang tidak jadi menaiki mobilnya dan malah berjalan –sedikit berlari- menuju gerbang universitas yang sebenarnya bisa di gapai lebih cepat dengan menggunakan mobil.

"Siapa yang kau cari?" Sasuke bertanya sekali lagi mengundang tatapan bingung dari Sai maupun Utakata. Sasuke bukanlah tipe orang yang banyak bicara dan banyak ingin tahu. Hanya mengatakan sepatah dua patah kata jika ingin. Tapi dengan gadis ini seakan sifat Sasuke menguap begitu saja.

Naruto melirik Sasuke dari ujung matanya, bisa dilihatnya laki-laki itu berdiri menjulang tinggi di hadapannya. Bibirnya terbuka kecil ingin bertanya namun di tutupnya kembali. Malu untuk bertanya apalagi mengingat tindakannya yang juga kasar tempo hari. Tapi dia hanya akan kembali berakhir menjadi orang bodoh jika hanya berdiri saja di depan pintu gerbang. Naruto menghembuskan nafasnya perlahan dengan kuat. Mendongak perlahan menatap Sasuke dengan mata birunya tanpa menyadari nafas pria itu yang tercekat pelan. Bertanya dengan nada lirih, dan secara perlahan.

"Mungkinkah kau mengenal Namikaze Menma?"

Tidak mengerti apa yang terjadi. Yang Naruto tahu adalah wajah dua orang di belakang pria itu yang tiba-tiba terkejut dengan kedua matanya yang seperti akan lepas menatapnya. Lalu orang itu yang matanya tiba-tiba berkilat marah dan dengan rahang mengeras. Naruto sedikit takut mungkin ada yang salah dengan pertanyaannya atau memang pria itu ada masalah. Tanpa sengaja Naruto bergerak mundur dengan sendirinya. Kembali menunduk menatap tanah.

"Aku. Tidak. Pernah. Mengenal. Nama. Itu!" setiap penekanan pada kata. Membuat Naruto berjengit takut tidak mengerti kenapa. Terasa begitu menakutkan.

Dan Sasuke pergi begitu saja meninggalkan Naruto yang masih membatu ditempatnya.

.

.

Butterfly

.

.

Naruto mengelap meja bundar dengan lemas. Menghela nafas sesekali. Mengingat betapa pengecutnya dia. Bahkan sudah menyerah di percobaan pertama. Naruto menghentikan gerakan tangannya lalu bersandar pada meja di sampingnya. Dia masih tidak mengerti sama sekali tentang pria yang baru dia tahu bernama Sasuke itu. perubahan emosi yang begitu tiba-tiba dan menakutkan. Begitu dingin Naruto bahkan tidak beranai hanya untuk sekedar melirik. Pria itu aneh dan terlihat kejam, tapi Naruto tidak mengerti kenapa dia begitu kasihan.

"Sampai kapan kau akan melamun terus. Mau bekerja atau tidak?"

Suara Karin menyadarkan lamunannnya. Naruto memincingkan mata kearah Karin sebelum kembali pada pekerjaannya. "Tanyakan sendiri pada orang yang lebih suka membaca majalah dari pada bekerja"

Menyebilkan mulutnya mengurucut pelan lalu kembali menggosok meja karena tumpahan jus atau bekas minuman dingin yang melekat. Karin berhenti mengingat percakapan mereka tempo hari. "Tapi Naruto kau yakin yang kau lihat itu Menma. Namikaze Menma?" Karin mengulang pertanyaannya. Sedikit tidak rela jika Naruto bertemu dengan idola kesayangannya.

"Hmm" Naruto menjawab dengan malas. Sudah berkali-kali Karin bertanya lama-lama membuatnya jengah juga.

"Benar-benar Namikaze Menma? Bukan orang yang mirip Namikaze Menma?"

"Kau meragukan penghlihatanku?" Naruto memandang Karin sekelias saat gadis itu kembali bertanya. Memandang dengan tatapan tak percaya melihat keraguan yang begitu jelas terlihat.

"Tidak sih.. hanya sedikit aneh saja. kenapa seorang Namikaze Menma berkeliaran di sekitar area rumahmu?"

"Bukankah sudah ku bilang jika waktu itu hujan mungkin dia hanya sekedar berteduh"

"Lalu kenapa dia harus menolongmu? Dia bahkan tidak mengenalmu"

Berhenti, Naruto menegakkan tubuhnya menatap Karin. Melewatkan satu pertanyaan, pertanyaan yang tidak pernah dia sadari sebelumnya. Dia yang begitu bodoh atau dia yang terlalu terlena membuat Naruto melupakan pertanyaan Karin yang harusnya dia sadari dari awal. Untuk apa pria seperti Menma harus rela kehujanan untuk menolongnya. Dia punya kehidupan sendiri dimana tidak ada orang lain yang berani menyentuhnya. Karin pernah berkata jika Menma bukanlah orang baik yang akan rela menghamburkan uang untuk pengemis di jalanan lalu kenapa dia menolongnya. Dia yang terlihat menyedihkan atau memang Menma benar-benar berniat baik.

Naruto mengeratkan genggaman pada kain di tangan. Matanya menyendu secara perlahan. Rasanya memang benar dia begitu menyedihkan hingga tidak ada satu orang pun yang menolongnya waktu itu, dan Menma melihatnya bagaimana dia mengemis pertolongan pada orang lain. Karin masih berdiri di sampingnya berbicara panjang lebar mengenai keraguannya dan Naruto tidak dapat menerimanya dengan baik. Rasanya semakin menyakitkan mendengarkan Karin. Tentang Menma yang kasihan padanya.

Suara gemerincing lonceng mengembalikan Naruto di dunia nyata. lonceng yang memang terpasang di pintu masuk untuk memberitahu jika ada pelanggan yang masuk ataupun keluar. Naruto membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada pelanggan. "Selamat datang" lalu kembali lagi pada pekerjaannya.

Sedikitnya bisa Naruto rasakan jika Karin hanya diam di tempatnya. Melihat bagaimana dia terdiam dengan mulutnya yang terbuka lebar. Sedikit penasaran Naruto berbalik melihat kearah mana Karin melihat. Naruto tidak pernah mengerti bagaimana takdir berjalan, tidak pernah tahu bagaimana scenario hidup manusia berlangsung. Kain yang berada di genggamannya terlepas jatuh tanpa suara mewakili dirinya yang terdiam seperti patung.

Tidak tahu harus bagaimana memandang, dia memikirkan pria itu berkali-kali tidak pernah berhenti bahkan selalu hadir dalam mimpinya. Setiap saat setiap waktu dimanapun dia berada. Menjadi orang bodoh dari yang terbodoh, pergi ke tempat asing untuk pertama kalinya. Dan berdebar begitu kuat untuk pertama kalinya. Mata birunya terpaku tidak beralih untuk sedetik. Bagaimana mungkin disaat dia mencarinya orang itu datang dengan sendirinya. Berdiri di depannya dengan wajah yang sama, memandangnya begitu misterius. Ada yang ingin Naruto katakan namun semuanya tercekat di tenggorokan.

Pria itu Namikaze Menma berdiri di depannya. Tepat di hadapannya.

..

..

"There are only two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle. The other is as though everything is a miracle" - Albert Einstein -

..

..

To Be Continued

Akhirnya saya bisa post fic ini juga huuh. maaf yang untuk selalu nagih fic ini minta update baru bisa di lanjut sekarang, maaf, authornya lagi sibuk nyari ilmah semedi di gunung dulu. hahaha yang jelas saya bener-bener minta maaf.

Untuk chapter ini yaah mungkin mulai tentang triangle love nya yang emang dari awal aku buatnya begitu. Saya paling suka buat Naru jadi rebutan hahaha biar kerasa spesial aja sih. konflik akan semakin berat setiap chapternya jadi aku mohon maaf terlebih dulu kalau misalkan cerita ini nanti akan semakin membosankan.

mumpung disini sekalian aku bales beberapa review dari kalian, maaf yang belum sempat di bales. sekali lagi aku selalu baca kok jadi terima kasih banyak untuk dukungan kalian disini.

pertama yang paling sering di tanyakan.

Q: kapan lanjut? update kilat ya?

A: Hahaha maaf baru lanjut. ini udah di lanjut. buat yang minta update kilat maaf aku nggak bisa janji. tapi aku usahain pasti update kok samper tamat.

Q: Menma saudara an sama Naru? soalnya udah kebiasaan Minato jadi bapaknya Naru

A: Hmmmm.../dilindes/

Q: Kayak mirip drama korea?

A: aku malah nggak tahu drama korea mana yang mirip sama ini. hahaha kalo terinspirasi sih emang dari drama. banyak banget malah dari I Miss You, Innocent Man, Angry Mom, banyak sih insipirasi buat FF ini.

oke sekian dulu sekali lagi makasih semuanya yang udah support dan terus menunggu FF ini terima kasih banyak /bow/

See you next fic

Chrysanthemum Bluesky