I am tired of this place, I hope people change
I need time to replace what I gave away
And my hopes, they are high, I must keep them small
Though I try to resist I still want it all
(FOOLS_Troye Sivan)
.
.
FOOLS
Disclaimer: cerita ini punya FlowHana, member NCT punya Tuhan,SM dan orang tua mereka
Warnings: Jaeyong, mature content, typo(s), BL, DLDR!
.
.
Entah apa yang telah terjadi, Taeyong tidak begitu mengingatnya, yang pasti begitu ia bertamu ke rumah Jaehyun dengan air mata yang mengalir deras namja itu langsung menyeretnya ke kamar dan berakhir dengan Taeyong yang mendesah di bawah tubuh Jaehyun.
Taeyong begitu terbuai dengan segala perlakuan yang Jaehyun berikan, dia begitu menyukai bagaimana bibir tipis itu yang membelai setiap jengkal tubuhnya lembut, bagaimana jari-jemari milik Jaehyun tak pernah berhenti menyentuh tiitik sensitive di tubuhnya. Demi apapun itu, Taeyong begitu mencintai bagaimana gesekan yang terjadi antara kulitnya dengan kulit milik Jaehyun, ketika mereka saling berbagi peluh, dan mengelukan nama masing-masing disetiap pelepasanya.
Jika Taeyong boleh menganalogikan, Jaehyun seperti heroin untuknya, dia tau itu sebuah kesalahan tapi tetap saja namja itu sudah terlanjur membuatnya merasakan candu yang sebegitu hebatnya.
Bunyi ranjang yang berdecit menandakan bahwa aktifitas keduanya berjalan semakin panas, rasanya belum puas jika hanya sekali mencapai puncak. Jaehyun menambahkan jari manisnya ke dalam lubang milik Taeyong, menyusul dua jari lainya yang telah lebih dulu mengaduknya brutal, membuat sang pemilik menggelinjang dan mendesah begitu indahnya.
"Jaehyun-ah~ ce-aahhh...pat-aahhh" rancau Taeyong tidak jelas, yang mendengar hanya menyeringai, menampilkan dimple andalanya yang begitu memikat. Jaehyun menekuk jarinya yang berada di dalam tubuh milik Taeyong, menyentuh titik terlemah Taeyong yang seketika bisa membuat Taeyong gila.
"Katakan apa yang kau inginkan hyung." Jaehyun menghentikan segala aktifitasnya, membuat Taeyong sedikit merasa kecewa dan tersiksa karena pelepasanya yang tertunda.
"Aku ingin dirimu, masuki aku...aku milikmu"
Taeyong memandang Jaehyun dengan tatapan sayu, sorotnya memohon meminta untuk segera dituntaskan. Jaehyun tersenyum, tanganya yang bebas bergerak menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajah Taeyong, dielusnya pipi Taeyong dengan punggung tanganya dengan gerakan seseduktif mungkin.
Daerah jajahanya terus berlanjut, turun menuju leher dan sekarang sudah berada di atas nipple milik Taeyong yang menegang. Jaehyun mencubitnya gemas lalu mengecup keduanya pelan. Dan Taeyong hanya bisa pasrah, mengikuti segala alur yang dicipitakan oleh pemuda bak perwujudan dewa tersebut.
Setelah puas bermain-main, Jaehyun mengeluarkan tiga jarinya dari dalam tubuh milik Taeyong. Dengan usilnya, dia menyentil milik Taeyong yang sudah begitu menegang di hadapanya.
"Ya!"
"Hahahahaha lihat hyung, hanya dengan jariku saja kau sudah seperti ini bagaimana jika—"
"Jangan menggodaku! Cepatlah Jung!"
Namja yang lebih muda terkekeh pelan, dengan perlahan dia mengarahkan miliknya ke depan lubang milik Taeyong, menggesek-gesekanya pelan tak ketinggalan dengan candaan yang membuat Taeyong makin tersiksa saking tidak tahan lagi menahan segala rangsangan yang Jaehyun berikan.
"Tok..tok..tok.. apa ada orang di dalam? Boleh aku masuk?" canda Jaehyun sembari mengetuk-ngetukan miliknya di depan lubang milik Taeyong.
Taeyong memberengut sebal, sampai kapan Jaehyun akan terus menggodanya, dia sudah tidak tahan lagi. "Kau bisa masuk—ahhhhhh kapanpun kau mau—aahhhhhh..."
Dengan sekali hentakan milik Jaehyun kini telah tenggelam dalam lubang Taeyong yang meremasnya kuat. Meninggalkan geraman tertahan dari sang pelaku dan lenguhan panjang dari yang lainya. Punggung Taeyong terangkat menjauhi kasur begitu sesuatu yang ada di dalam tubuhnya itu mulai bergerak keluar masuk dengan tempo yang tidak bisa dibilang lambat.
Taeyong menggigit bibirnya keras, sampai-sampai lidahnya mengecap rasa asin yang begitu kentara. Tanganya meremas sprei yang ada di bawah tubuhnya, ia tidak peduli jika nantinya akan kusut karena remasan tanganya yang terlampau kuat karena sungguh Taeyong membutuhkan sesuatu untuk menyokongnya dari gempuran kenikmatan ini.
Jaehyun tidak ingin melihat Taeyong terluka, maka dengan segera dia menyambar bibir cherry milik Taeyong dan mengulumnya lembut. Kedua tanganya meraih tangan milik Taeyong, menuntun Taeyong untuk bertumpu pada bahunya.
Setiap bergulirnya detik, Jaehyun memompa lebih cepat, gerakanya semakin liar mengabaikan bagaimana Taeyong yang sesekali meringis karena Jaehyun yang masuk terlalu dalam. Selain itu Jaehyun juga bisa merasakan perih pada punggungnya, tanpa perlu bertanyapun ia sudah paham betul dengan penyebabnya.
Masing-masing saling mendesahkan nama lawanya begitu keduanya bersamaan mencapai titik dimana bagai nirwana. Jaehyun ambruk di atas tubuh Taeyong sebelum memilih berbaring di sisinya karena tak ingin membebani Taeyong dengan bobot tubuhnya. Perlahan dia mengeluarkan miliknya, menghasilkan bunyi plop yang begitu khasnya.
"Hyung, ada apa? Kenapa kau datang kemari sambil menangis?" Jaehyun menelusupkan tanganya ke bawah leher Taeyong, berniat menjadikan tanganya sebagai bantalan untuk sang terkasih. Taeyong menyamankan posisinya, kepalanya menoleh menghadap Jaehyun yang kini tengah menatapnya dengan penuh puja.
Sebelum menjawab pertanyaan Jaehyun, Taeyong mengecup bibir itu sekilas "Kau paham betul aku datang ke sini karena apa Jaehyun."
"Kali ini apa yang ia lakukan kepadamu?" Jaehyun mengusap sayang pucuk kepala Taeyong, yang diperlakukan seperti itu hanya memejamkan matanya, menikmati segala momen indah ini yang mungkin takan bisa ia dapatkan lagi.
"Dia melarangku bertemu denganmu." Mereka berdua tau persis siapa 'dia' di sini, keduanya hanya enggan untuk menggunakan sebutan yang seharusnya.
"Begitukah? Jika dia melarangmu kenapa kau malah datang kepadaku, hm?" sindir Jaehyun yang dihadiahi cubitan keras di pinggangnya.
"Jadi kau tidak ingin bertemu denganku begitu?" Taeyong mempoutkan bibirnya sedangkan tanganya disilangkan di depan dada, tubuhnya di hadapkan ke atas, matanya enggan untuk memandang pemuda di sampingnya. Ngambek.
Jaehyun yang sudah hafal betul dengan tabiat Taeyong hanya terkekeh pelan, dicubitnya hidung Taeyong gemas, tanganya menarik dagu Taeyong sehingga menghadap dirinya.
"Chagiya, jika aku tidak ingin bertemu denganmu mana mungkin kau di sini sekarang. Berdua bersamaku dan melakukan itu." Mendengar penuturan Jaehyun barusan kontan saja membuat pipi Taeyong merona, tidak hanya karena ingatan mengenai pergulatan panas mereka tapi juga karena panggilan baru dari Jaehyun yang ditujukan untuknya.
"Hyung."
"Hm?"
"Besok kita pergi jalan-jalan ke pantai, mau?"
Taeyong diam sejenak, memikirkan ajakan Jaehyun barusan. Dia ingin, sangat ingin pergi tapi mengingat bagaimana appa-nya, memaksa Taeyong harus berpikir dua kali. Jaehyun yang merasakan kegundahan hati sang terkasih mengelus lengan Taeyong lembut. "Jika ini mengenai dia, tenang saja hyung, bilang saja kau akan pergi ke rumah teman. Asal dia tidak tau kau pergi denganku semuanya aman."
"Ya kau benar."
Setelahnya tak ada perbincangan lagi di antara keduanya, deru nafas yang teratur menandakan bahwa mereka sama-sama terlelap karena rasa lelah yang menyerangnya. Biarkan Taeyong untuk tidur sejenak di sini, menikmati kenyamanan yang Jaehyun suguhkan, lagi pula waktu masih menunjukan sore hari, malamnya baru dia akan pulang dan kembali menghadapai ketakutan terbesarnya.
.
.
Langkahnya pelan, seperti mengendap-endap ketika memasuki sebuah ruangan yang gelap. Sejenak Taeyong menghela nafas lega, sepertinya appanya sedang tidak ada di rumah. Namun kelegaanya tidak bertahan lama, ketika lampu di ruang tamu rumahnya itu tiba-tiba menyala, ketenanganya berubah menjadi kecemasan begitu melihat sosok ayahnya yang berdiri tidak jauh darinya sedang memandangnya tajam.
"Darimana saja kau? Apa kau menemui pemuda Jung itu lagi?" tanya sang ayah penuh selidik. Taeyong menelan ludahnya gugup, sesuatu seperti mencekiknya membuatnya sulit hanya untuk menarik nafas. Dirinya benar-benar tegang sekarang, tegang dalam artian yang sesungguhnya pastinya,tatapan sang ayah seakan ingin menelanya bulat-bulat.
"Anio, aku dari rumah teman, besok pagi aku juga harus ke sana lagi."
"Siapa yang kau sebut teman itu hah? Jung Jaehyun?! Sudah berapa kali kukatakan jauhi dia!" Taeyong terlonjak, begitu mendengar sang ayah yang membentaknya. Hatinya menjerit menahan sakit, matanya perih menahan bening yang mulai mengumpul di kedua sudut matanya.
Taeyong enggan menjawab, ia memilih bungkam dan lari menuju kamarnya. Ia takut, jika dia masih berada di sana baik dirinya maupun ayahnya salah satunya akan ada yang lepas kendali. Dan sungguh, Taeyong tidak ingin hal itu terjadi.
Waktu masih menunjukan pukul enam pagi,masih terlalu pagi memang untuk memulai aktifitas di hari minggu seperti ini tapi inilah yang dibutuhkan Taeyong, situasi rumah yang sepi dimana ayahnya masih terlelap dan ia bersiap untuk melarikan diri.
Dengan berlari-lari kecil sambil menyenandungkan lagu kesukaanya, Taeyong pergi menuju rumah Jaehyun. Sesampainya di rumah pemuda Jung itu, Taeyong mendapati keabsenan Jaehyun, ibunya berkata jika Jaehyun sudah pergi pagi-pagi sekali jauh sebelum Taeyong sampai di sini. Tanpa perlu bertanyapun Taeyong sudah tau destinasi selanjutnya yang harus ia kunjungi, tempat dimana Jaehyun berada, tempat dimana mereka sering menghabiskan waktu bersama, tempat kenangan masa kecil mereka, dan tempat yang sudah mereka janjikan. Pantai.
Rumah mereka memang tak jauh dari pantai, oleh karena itu mereka berdua menjadikan pantai sebagai tempat faforit keduanya. Keduannya menganggap dari hamparan laut yang luas, birunya langit dan debur ombak yanng menghantam karang dari itulah didapatkan ketenangan.
Taeyong menanggalkan alas kakinya, membuat kulitnya bersentuhan langsung dengan pasir pantai yang basah. Dalam diam, langkahnya membawanya mendekati satu-satunya orang yang ada di pantai saat itu. Taeyong tersenyum penuh makna, begitu ia sudah berada tepat di balik punggung sang pemuda tanganya langsung memeluk pinggang itu dengan erat. Pemuda itu—Jaehyun langsung terlonjak begitu menyadari siapa yang memeluknya dari belakang, tanganya menggenggam tangan Taeyong yang melingkar di perutnya dengan lembut.
"Hyung sayang sekali kita tidak bisa melihat sunrise."
"Bukan masalah, yang terpenting aku bisa melihatmu." Jaehyun terkekeh, dibaliknya tubuhnya sehingga kini ia berdiri berhadapan dengan Taeyong.
"Mmmm begitukah? Kau tau hyung, tak apa jika aku tak memiliki kesempatan untuk melihat matahari lagi karena ada kau di sini yang akan menjadi matahariku kapanpun dan dimanapun itu."
Taeyong tersipu, Jaehyun dengan kata-kata manisnya, selalu saja membuatnya merasa begitu berharga, selalu membuat Taeyong merasa dibutuhkan.
Dihiasi sinar mentari yang mulai menyilaukan, Jaehyun mengecup dahi Taeyong lembut, kedua tanganya menangkup wajah Taeyong penuh kehati-hatian. Yang diperlakukan seperti itu hanya bisa memejamkan matanya, sesekali kelopaknya terbuka sepersekian mili untuk sekedar mencuri pandang dari balik bulu matanya yang lentik. Dan pada menit berikutnya yang terlihat hanya sepasang manusia yang terlihat begitu bahagia hanya dengan bermain-main di tepian pantai yang berisik karena deburan ombak.
.
Sepulang dari pantai Taeyong langsung kembali lagi ke rumah, awalnya Jaehyun sempat memaksa untuk mengantar pulang, tentu saja hal itu ditolak mentah-mentah oleh Taeyong, dia masih sadar akan resiko yang mungkin didapatinya.
Benar saja sesampainya di rumah Taeyong melihat sepasang sepatu wanita di depan pintu rumahnya. Alisnya mengernyit heran, pasalnya siapa perempuan yang bertamu ke rumahnya pagi-pagi seperti ini, seingatnya ia tidak punya teman wanita yang cukup dekat, kecuali satu orang—
"Noona?"
—Irene. Dia adalah kakak kelas yang cukup dekat dengan Taeyong, dulu sewaktu SMA mereka pernah tergabung dalam suatu organisasi yang sama sehingga intensitas keduanya untuk bertemu bisa dibilang cukup sering. Apa lagi rumah Irene yang tidak jauh dari rumahnya membuat keduanya dulu seringkali berangkat sekolah bersama.
"Nah itu dia Taeyong, kemarilah nak." Ucap sang ayah penuh dengan kelembutan palsu. Cukup lama terdiam di ambang pintu, begitu sadar Taeyong langsung melangkah menuju sofa di sebrang Irene dan duduk di sana.
"Hai Taeyongie, lama tak berjumpa." Sapa Irene, bukanya menjawab sapaan tersebut Taeyong malah melontarkan pertanyaan yang sedari tadi mengusik pikiranya. "Kapan kau kembali?"
Irene tersenyum, tatapanya tak pernah lepas dari namja yang baru saja pulang itu. "Baru saja, dari bandara aku langsung ke sini untuk menemuimu dan ayahmu." Jawabnya. Taeyong mengangguk mengerti, jujur dirinya begitu dikejutkan dengan kehadiran yeoja itu, pasalnya sudah tiga tahun lebih semenjak kepergian Irene ke Amerika tak lagi terdengar di telinganya kabar mengenai perempuan itu.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Taeyong basa-basi, yang tadinya duduk di seberang Taeyong kini Irene berpindah duduk di sebelahnya. "Seperti yang kau lihat, aku tak pernah lebih baik dari ini begitu aku bertemu denganmu." Taeyong tersenyum kaku, jujur dirinya merasa canggung, entahlah ada rasa asing yang begitu kentara diantara mereka atu lebih tepatnya bagi Taeyong. Mungkin karena keduanya yang sudah lama tak berjumpa atau mungkin karena sesuatu yang lain yang mereka sendiripun tidak mengetahuinya.
"Bagaimana dengan dirimu?" imbuh Irene. Taeyong menoleh, menatap sang lawan bicara dan mengabaikan sang ayah yang memandangi mereka dengan tatapan penuh arti dan senyum kemenangan.
"Aku baik-baik saja"—setidaknya untuk saat ini, imbuh Taeyong dalam hati. "Oh ya saat aku datang kau tidak ada di rumah, memangnya kau pergi kemana?" Taeyong lagi-lagi menegang, pertanyaan itu benar-benar seperti beban untuknya, mana mungkin dia bilang yang sejujurnya bahwa dia pergi ke pantai bersama Jaehyun, ayahnya bisa marah besar walaupun Irene pasti akan mengira Jaehyun hanyalah teman Taeyong. Diliriknya sang ayah yang sedang memandangnya dengan tatapan tajam penuh selidik, jika tatapan bisa membunuh orang mungkin Taeyong sudah mati saat ini juga. Dalam hati Taeyong menduga jika ayahnya pasti sependapat dengan pertanyaan yang baru saja Irene ajukan.
Dengan ragu Taeyong membuka mulutnya, "Ummm aku jogging di sekitar sini, noona."
Irene mengangguk mengerti, tanganya meraih tangan Taeyong yang sedari tadi saling menggenggam di atas pangkuan pemuda itu. Taeyong sedikit kaget, dirinya hampir saja menepis kasar tangan lembut yang menyentuh punggung tanganya itu, namun hal itu tak terjadi karena akalnya lebih dulu memerintahkanya untuk menjaga sikap di depan sang ayah dan juga Irene.
"Nanti sore mau temani aku berjalan-jalan?"
Belum sempat Taeyong menjawab, sang ayah lebih dulu bersuara "Taeyong pasti mau, datang saja kapanpun kau mau."
Irene tersenyum sumringah, badanya membungkuk hormat menghadap ayah Taeyong "Terima kasih, ahjussi." Dan Taeyong sendiri hanya bisa menunduk pasrah.
Sepulangnya Irene, Taeyong masih belum bisa bernafas lega pasalnya sang ayah masih menahanya untuk tetap duduk di tempatnya.
"Aku tau kau berbohong, sejak kapan kau jadi suka olahraga hah?! Kau! Kau pasti menemui Jaehyun kan?" hardik sang ayah.
Taeyong masih diam, giginya beregemlutuk keras menahan amarah, tangannya meremas kuat ujung bajunya hingga kusut.
"Sudah berkali-kali aku katakan, jauhi pemuda itu tapi kau sama sekali tak menggubrisku. APA MAUMU SEBENARNYA! "
Taeyong tersenyum miring, "Appa tanya apa mauku? Sederhana, jangan campuri urusanku lagi."
Ayahnya tertawa sejenak sebelum kembali menandang Taeyong dengan tatapan tajamnya "Kau pikir aku siapa? Aku ayahmu, sudah seharusnya aku mengaturmu."
"Kau sebut dirimu ayah? Mana ada ayah yang tega memperkosa anaknya sendiri! Aku hancur saat itu juga dan asal appa tau, hanya Jaehyun yang slalu ada di saat-saat terburukku."
Kali ini sang ayah yang diam, perkataan Taeyong barusan sedikit saja mengetuk hatinya, Taeyong yang membentaknya untuk pertama kalinya membuatnya sadar bahwa kali ini sepertinya dirinya sedikit kelewatan.
"Maaf" lirih sang ayah.
Taeyong terkekeh, "Untuk apa meminta maaf, toh semuanya sudah terjadi. Takan ada yang berubah hanya dengan permintaan maafmu itu appa." Pemuda itu membuang nafas kasar "Jika bukan karena aku yang masih menghormatimu sebagai orang tua, aku tidak akan mungkin bertahan di rumah selama ini."
"Jauhi Jaehyun dan hiduplah dengan Irene." Ucap sang ayah yang benar-benar melenceng jauh dari pembicaraan sebelumnya.
"Mwo?!"
"Dia gadis yang baik, jika memang benar katamu kau masih menghargaiku sebagai orang tuamu maka turuti perintahku. Anggap saja ini permintaan terakhir dariku." Setelah itu sang ayah pergi, melenggang meninggalkan Taeyong dengan segala bimbang dihatinya. Sejahat apapun sang ayah dirinya tak bisa menampik bahwa rasa sayang untuk sang ayah masih ada di hatinya, apa lagi mengingat bahwa sang ayah adalah keluarga satu-satunya yang ia miliki setelah kepergian sang ibunda.
Hatinya gundah, otaknya kembali berpikir keras, ini sebuah pilihan yang sulit untuknya, secara tidak langung bukankah ayahnya menyuruhnya untuk memutuskan mana yang akan ia pilih, sang ayah atau Jung Jaehyun?
.
.
Jaehyun meraih ponselnya, sepulangnya dari pantai pikiranya hanya dipenuhi dengan satu nama, Lee Taeyong. Jari-jemarinya dengan gesit mengutak-atik layar ponselnya, tak ketinggalan dengan senyum penuh arti. Sebuah pesan ia kirimkan kepada pemuda yang mendiami hatinya itu.
To: Taeyong-hyung
Hyung, aku punya sesuatu untukmu.
Tak lama berselang, sebuah balasan datang dari Taeyong
To: Jung Jaehyun
Benarkah, apa itu?
Dengan semangat Jaehyun segera membalas pesan singkat dari hyungnya,
To: Taeyong-hyung
Telfon aku.
Untuk beberapa saat Taeyong hanya diam, hanya dengan berbalas pesan dengan Jaehyun bisa membuat hatinya menghangat. Seharusnya dirinya senang bukan tapi yang ada kebimbangan di hatinya semakin besar, jika seperti ini terus Taeyong semakin sulit untuk memutuskan. Dengan ragu dia menelfon Jaehyun, ponselnya ia dekatkan pada telinga kanannya.
Bukan suara pemuda Jung itu yang ia dengar di sebrang sana, melainkan sebuah lagu yang pemuda Jung itu pasang sebagai nada sambung pribadinya. Taeyong mengernyit heran, mulai kapan pemuda itu memasang lagu menjadi nada sambungnya. Indranya mendengar baik-baik intro dari lagu tersebut, entahlah Taeyong mulai tertarik dengan lagunya, setiap liriknya seolah menggambarkan ceritanya dengan Jaehyun. Mengesampingkan rasa heran karena Jaehyun yang tidak mengangkat telfonnya atau memang sengaja tidak mengangkatnya, Taeyong menikmati lagu itu sampai selesai.
We're not friends, we could be anything
If we try to keep those secrets safe
No one will find out if it all went wrong
They'll never know what we've been through
So I could take the back road
But your eyes will lead me straight back home
And if you know me like I know you
You should love me, you should know
Friends just sleep in another bed
And friends don't treat me like you do
Well I know that there's a limit to everything
But my friends won't love me like you
No, my friends won't love me like you
Lagu hampir mendekati akhir dan Jaehyun masih tidak mengangkat telfonnya, di lain sisi bening sudah mulai terkumpul di pelupuk mata Taeyong. Hatinya bertanya-tanya, apa ini sesuatu yang Jaehyun maksud?
Dan ketika lagu itu berakhir, putus sudah sambungan telfon Taeyong kepada Jaehyun. Punggung tanganya bergerak untuk menghapus air yang mengalir dari ujung matanya. Ya, Lee Taeyong menangis. Cepat-cepat ia mengatur nafasnya begitu melihat ponselnya bergetar dengan nama Jaehyun terpampang di sana.
"Yoboseyo?"
Hai hyung, bagaimana dengan lagunya? Kau menyukainya?
Taeyong membekap mulutnya sendiri, menahan isak yang lolos dari bibirnya. Taeyong merutuki dirinya sendiri yang begitu lemah, mengapa hanya mendengar suara Jaehyun bisa membuatnya sekacau ini. Menyadari Taeyong yang tak kunjung menjawab, Jaehyun kembali bersuara dari sebrang telfon.
Hyung? Kau masih di sana?
Taeyong mengangguk walaupun dirinya tau betul Jaehyun tidak mungkin melihatnya, "Iya aku masih di sini" jawabnya dnegan suara yang sedikit sengau.
Ya! hyung kau menangis? Ada apa? Tanya Jaehyun khawatir begitu mendengar suara Taeyong yang sedikit berbeda dari sebelumnya.
Jangan mencoba membohongiku hyung, ada apa? Ceritakan kepadaku. Desak Jaehyun dari sebrang sana
"Iya aku menangis dan itu karenamu bodoh."
Karenaku? Memang apa salahku?
"hah kenapa aku harus jatuh cinta kepada orang bodoh sepertimu ya" ejek Taeyong, suasana hatinya mulai membaik kali ini.
Hyung!
Taeyong terkekeh pelan "Aku menangis karena bahagia Jung Jaehyun, ngomong-ngomong dari mana kau dapatkan lagu itu hm?"
Ah itu rahasia hyung, bagaimana dengan lagunya bagus kan?
"Hm bagus, seperti kita."
Di sebrang sana Jaehyun mengangguk menyetujui, Ya seperti kita hyung
"Taeyong, Irene sudah datang. Keluarlah!" itu suara ayahnya, cepat-cepat Taeyong bangkit dari kasurnya.
"Jaehyun aku harus pergi" ucapnya sebelum mematikan sambungan itu secara sepihak, meninggalkan pemuda di sebrang sana dengan kebingungan besar.
Begitu membuka pintu kamarnya, Taeyong langsung dikejutkan dengan kehadiran sang ayah yang sudah menunggunya di depan kamarnya. Belum sempat dirinya keluar dari kamar, sang ayah sudah menerobos masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya dari dalam. Tubuh ringkih Taeyong di seret dan di dudukan dengan paksa di atas kasur milik pemuda itu.
"Ingat baik-baik apa yang appa katakan kepadamu tadi. Sekaranglah waktunya kamu untuk memutuskan."
Taeyong terdiam, bahkan ketika ayahnya beranjak pergi menuju pintu namja itu masih diam mematung.
"Lebih baik kau cepatlah, jangan membuat Irene menunggu terlalu lama." Ucap sang ayah sebelum pergi meninggalkan Taeyong dalam dilemanya.
.
.
Sore itu suasana cukup tenang, matahari juga tidak bersinar sebegitu terik, benar-benar cuaca yang mendukung untuk berjalan-jalan. Dan di sinilah Taeyong berada, di jalanan setapak dekat rumahnya dengan Irene yang terus menempel pada dirinya. Taeyong hanya diam saja begitu Irene melingkarakan tanganya pada lengan milik Taeyong, merapatkan tubuh keduanya hingga kulitnya slaing bersinggungan.
"Wah tiga tahun pergi, sepertinya tidak banyak yang berubah dari tempat ini. Bukan begitu Taeyongie?"
Kepalanya mengangguk menyetujui, dari tadi Taeyong memang lebih banyak diam, dia bersuara hanya jika Irene bertanya. Selebihnya namja itu lebih cenderung menjadi pendengar setia Irene yang menceritakan pengalamanya selama di Amerika.
"Apa kau sudah memiliki kekasih? Atau mungkin seseorang yang kau sukai?" tanya Irene tiba-tiba, dalam hatinya Irene hanya sekedar untuk berbasa-basi karena yeoja itu sudah tau sendiri dari ayah Taeyong jika anaknya itu masih sendiri. Jika tidak mana berani Irene mencuri kesempatan untuk berdekatan dengan pemuda ini yang sudah sejak dulu ia sukai diam-diam.
Taeyong mematung, langkahnya terhenti tiba-tiba yang membuat Irene juga terpaksa menghentikan langkahnya. Yeoja itu menatap Taeyong bingung, dirinya masih menunggu jawaban yang keluar dari bibir itu.
Sedangkan Taeyong, keringat dingin mengalir dari pelipisnya. Pandanganya lurus ke depan, sorot matanya menunjukan keterkejutan, bukan hanya karena pertanyaan dari Irene namun juga keberadaan seorang namja yang berdiri tak jauh di depanya. Bukan hanya Taeyong, namja itu juga terlihat sama terkejutnya, apa lagi melihat seorang gadis yang bergelayut manja di lengan Taeyong.
"Hyung" lirih Jaehyun yang tentu saja tidak bisa di dengar oleh Taeyong. Cepat-cepat Taeyong mengalihkan pandanganya dari Jaehyun dan beralih menatap Irene di sampingnya.
"Tidak noona, memang kenapa?" tanya Taeyong. Irene tersenyum malu-malu "Jika seperti itu, bagaimana jika kita berpacaran hm?" ucapnya.
Inilah saatnya, jika ia menyetujui ajakan Irene berarti Taeyong menurut pada appanya untuk bersama gadis ini, tapi jika Taeyong menolak brarti dirinya harus bersiap pergi dari rumahnya, menampung kebencian sang ayah dan pergi ke pelukan pemuda yang saat ini masih memandanginya dari sana.
Dengan ragu, tanganya menggenggam tangan Irene lembut "Um, ayo kita jalan noona." Mendengar itu Irene langsung terlonjak bahagia, yeoja itu sudah pasti mengartikan jawaban Taeyong sebagai jawaban iya, tanpa tau maksud dari Taeyong yang sebenarnya.
Keduanya kembali berjalan, Jaehyun yang masih berdiri mematungpun memutuskan untuk melanjutkan langkahnya. Dan ketika mereka berpapasan Jaehyun dan Taeyong hanya saling menatap, hanya sekilas karena Taeyong lebih dulu memtuskan kontak mata diantara keduanya. Tak dapat dipungkiri jika hati Taeyong menjerit kesakitan, meneriakan sumpah serapah untuknya karena mengacuhkan Jaehyun yang melintas di hadapanya. Memperlakukan Jaehyun selayaknya orang yang tidak saling kenal.
Ketika dirinya dan Irene sudah mulai melangkah menjauh, Taeyong menolehkan kepalanya ke belakang. Dan yang tertangkap oleh lensa matanya lagi-lagi hanya membuat hati Taeyong dipenuhi dengan rasa bersalah.
Di sana, Jaehyun masih berdiri memandanginya yang mulai menjauh, tak lupa dengan mata yang menatapnya penuh luka.
"Noona, bisakah kita berhenti sebentar? Aku harus mengirimkan pesan kepada temanku." Setelah mendapat persetujuan dari Irene, mereka berdua berhenti sejenak. Taeyong merogoh saku jaketnya, meraih benda persegi panjang hitam miliknya.
To: Jung Jaehyun
Jaehyun, only fools do what i do. Setelah ini kau boleh membenciku, aku akan menerimanya karena memang sudah sepantasnya aku mendapatkanya. Maafkan aku. Aku mencintaimu. J
aehyun hanya bisa memandang nanar layar ponselnya yang menunjukan sebuah pesan dari Taeyong. Hatinya berdenyut nyeri membaca deretan huruf yang Taeyong kirimkan.
"Apa ini akhirnya hyung? Apa ini akhir yang kau pilihkan untuku, untukmu, untuk kita?" Lirih Jaehyun. Namja itu jatuh terduduk, punggungnya menyender pada tiang listrik yang ada di belakangnya. Wajahnya mengadah ke atas, menatap langit yang begitu jauh seperti Taeyong yang kini terasa semakin jauh dari sisinya.
"Kau mengatai dirimu bodoh, lalu aku apa hyung? Bukankah aku jauh lebih bodoh karena seperti inipun aku masih mencintaimu."
.
.
Dulu aku sempat bermimpi, memimpikan sebuah rumah mungil yang nantinya akan kita tinggali bersama
Memimpikan suara canda anak-anak diantara kita
Memimpikan sebuah kehidupan di masa depan yang begitu indah
Antara aku dan kau
Tapi kini aku harus menekanya agar mimpi itu tetaplah kecil, menahanya agar tidak menuntut untuk jadi nyata
Karena hidup kita tidak bertemu, dan aku sadari itu
Entah siapa yang salah, aku tidak ingin menyalahkan siapapun
Jadi jangan sekali-kali mengatakan dirimu bodoh
Karena ketahuilah, ada yang lebih bodoh dari dirimu
Dialah yang siap jatuh karenamu
Yang akan selalu mencintaimu
Yang masih mengharapakan kehadiranmu
Dan orang itu adalah aku
Pikirkan, bukankah hanya orang bodoh yang melakukan apa yang aku lakukan
.
.
END
.
.
Hai hai hai Flow here~
Flow tau ini sangat sangat lama, jadi maafkan Flow semuanyaaaaaa ToT /bungkukinbadan/
Buat yang udah sempetin pm cuma buat nagih ff ini update, makasih /kecup/ kalau bukan karena itu Flow mungkin bisa aja update ini nanti-nantian. Alasan kenapa lama banget updatenya tak lain karena banyaknya tugas dan ulangan, pulang sekolah badan cape pengenya langsung gabruk ke kasur gitu. Dan yang terjadi pada Hana tak jauh berbeda dengan Flow, pokoknya kalau Flow sibuk berarti Hana juga sibuk, kalau Hana slow update brarti Flow juga gitu karena beneran deh walapun kita dua orang tapi udah kaya satu orang aja /plak wkwkwk
Sekian curhatan dari Flow, kalau masih ada typo yang bertebaran dan ceritanya yang kurang memuaskan maafkan Flow ya. Selanjutnya akan diteruskan oleh TALK ME DOWN, dan ini lagi-lagi bakal slow update karena bentar lagi kita ada UTS. Jadi kemungkinan update bulan depan, sing sabar bae ya hihihihihi :v
Ps: oh ya lagu yang dijadiin nada sambungnya Jaehyun itu lagunya Ed Sheeran yang judulnya Friends, entah kenapa lagi kesemsem banget sama lagu itu, rasanya pas aja gitu buat jaeyong ^^
/kecupbasah/
FLOW :*
