I wanna sleep next to you

But that's all I wanna do right now

And I wanna come home to you

But home is just a room full of my safest sounds

So come over now and talk me down

(TALK ME DOWN_Troye Sivan)

.

.

TALK ME DOWN

Disclaimer: cerita ini punya FlowHana, member NCT punya Tuhan,SM dan orang tua mereka

Warnings: Jaeyong, mature content, typo(s), BL, DLDR!

.

.

Taeyong jatuh bersimpuh, kedua kakinya sudah tak kuasa menahan bobot tubuhnya lagi. Semua terasa berat, menyiksa, dia merasa sebuah beban yang begitu besar tengah dipikulnya sekarang. Selayaknya Atlas yang memanggul langit. Taeyong mati rasa.

Di hadapanya kini terdapat gundukan tanah yang masih baru, dimana di bawah sana, jauh di dalam timbunan tanah terdapat jasad terbujur kaku milik orang yang sangat disayanginya. Sebagian dari semestanya ikut hancur begitu tau bahwa orang itu pergi meninggalkanya. Taeyong tak pernah membencinya, takan pernah bisa, sebejat apapun perlakuan orang itu kepadanya rasa sayang itu masih ada dan Taeyong tak bisa memungkirinya.

Atensinya sejenak teralihkan begitu remasan lembut di bahu kirinya menyadarkan Taeyong bahwa dia tidak sendirian, seorang yeoja cantik masih setia berdiri di sampingnya, mencoba untuk memberikan kekuatan kepada Taeyong lewat sentuhan-sentuhan halusnya.

"Taeyong, ayo kembali. Aku yakin dia juga tidak akan suka melihatmu seperi ini."

Suara itu mengalun memasuki indra pendengaran Taeyong seperti angin musim dingin, seolah mempertegas kenyataan bahwa orang itu benar-benar pergi. Ini bukan hanya sekedar mimpi buruknya, ini realita yang begitu kejam untuknya.

Taeyong menggeleng, kepalanya menoleh menghadap satu-satunya orang yang masih tersisa di situ. "Anio, noona pulang saja dulu. Aku masih ingin di sini."

"Baiklah,tapi jangan terlalu memaksakan diri, hm?" untuk beberapa detik, Irene merengkuh tubuh ringkih itu dalam pelukanya. Tak ada penolakan, tapi juga tak ada balasan, Taeyong hanya diam sembari menganggukan kepalanya lemah.

Sepeninggal Irene, Taeyong kembali menangis. Tetes demi tetes bening mulai berlomba-lomba keluar dari pelupuk matanya. Otaknya lagi-lagi ditarik paksa pada kenangannya bersama sosok itu, wajahnya, senyumnya, tekstur tanganya, suaranya dan bagaimana ucapan lirih sosok itu saat meminta maaf kepadanya, saat meminta Taeyong untuk bahagia bersama dengan yeoja cantik pilihanya. Taeyong tak pernah menduga, embel-embel permintaan terakhir yang sempat sosok itu ungkapkan benar-benar menjadi permintaan terakhir yang ditujukan untuknya. Mengapa waktu bergulir begitu cepat, belum usai rasa gundah Taeyong atas permintaan itu tapi sang peminta malah sudah pergi terlebih dulu.

Seakan menyadari sesuatu yang sepertinya terlewatkan, Taeyong tiba-tiba saja berdiri. Matanya menyisir ke seluruh penjuru area pemakaman, mencari keberdaan seseorang yang tadi sempat tertangkap oleh kedua netranya namun menghilang secepat kedipan mata.

Taeyong mengacak-acak rambutnya frustasi, apa sebegitu rindukah dirinya pada sosok itu hingga rindu itu mampu menghadirkan ilusi untuknya. Tapi mengapa ilusi itu terlihat begitu nyata? Sebagaimana namja itu menatapnya penuh luka.

Netra hitamnya masih mencari, sampai ke titik paling tersembunyi. Entah datang dari mana suara bisik yang menyuruhnya untuk bangkit, mencari sang pujaan hati. Maka Taeyong pun berdiri, tanganya menepuk kedua lututnya guna menghilangkan noda tanah yang menempel di celana hitamnya.

Lima belas menit berkeliling di dalam area pemakaman nyatanya membuat tubuh Taeyong yang memang tengah lemah itu menjadi semakin lemah. Dengan langkah gontai, Taeyong berjalan menuju pintu masuk pemakaman berniat untuk pulang setelah mendapat kenihilan seseorang di sini. Dirinya hampir menyerah, harapanya untuk bertemu orang itu hampir pupus, otaknya menjerit hampir gila karena mengira bahwa semua yang dilihatnya tadi hanya ilusi. Ya sekali lagi semuanya menjadi hampir karena nyatanya, seseorang sedang duduk di sana, pada undakan tangga di jalan pulang, memunggungi Taeyong sehingga menampilkan punggung tegapnya.

Sesaat Taeyong hanya bisa diam membatu sembari menutup mulutnya yang menganga tak percaya, sungguh dirinya ingin menjerit sekarang juga, memanggil sebuah nama yang sudah lama dirindukannya. Namun apa daya, sesuatu seperti menyumbat tenggorokanya. Sesak. Tak ada satu frasa pun yang keluar dari mulutnya.

Satu langkah

Dua langkah

Tiga langkah

Kakinya terus membawa Taeyong untuk mendekat hingga tersisa satu langkah lagi untuk sebuah kemungkinan keduanya bersentuhan. Taeyong masih berdiri kaku, tanganya terangkat hendak menyentuh bahu namja di depanya.

Tanganya terlihat bergetar begitu telapaknya menyentuh bahu seseorang di depanya. Bukan tepukan, bukan remasan, bukan juga usapan, hanya sebatas sentuhan kecil namun berefek begitu besar. Namja itu menoleh begitu menyadari kehadiran seseorang dibalik tubuhnya, dua pasang mata itu saling bertubrukan, beradu pandang, masing-masing saling menyelami satu sama lain, mencari sesuatu yang masih tersembunyi.

Keduanya sama-sama diam, membiarkan sunyi mulai mengambil alih suasana. Taeyong ingin menangis, dirinya ingin berteriak melepas segala getir yang ada. Maka pada saat tangan itu menangkup wajahnya, Taeyong tidak bisa untuk tidak menangis dan dalam hitungan detik tangisnya mulai menjadi-jadi bersamaan dengan namja itu yang merengkuhnya dalam pelukan yang begitu posesif, begitu hati-hati, takut jika nantinya Taeyong pergi lagi.

"Aku takut... aku pikir, aku pikir kau—"

"Ssssttttt aku di sini, hyung." Namja itu makin memperdalam pelukanya, sedikit menekan kepala bagian belakang milik Taeyong agar bersandar pada dadanya, sekaligus meredam isakan Taeyong yang terdengar menyakitkan untuknya.

"Appa hiks,, appa..." Taeyong terus mengulang kata-kata yang sama di sela tangisnya, membuat namja yang lebih muda menggeram tertahan antara kesal, marah, khawatir, risau dan segala rasa yang mengganggunya.

Di usapnya puncak kepala Taeyong dengan sayang, pelipis Taeyong pun tak luput dari kecupan-kecupan lembut kedua belah bibirnya. "Kembalilah kepadaku." Ucapnya lirih.

Taeyong mendongakkan wajahnya, lagi-lagi menatap sepasang onyx hitam itu yang balas menatapnya penuh kesungguhan. Taeyong pikir setelah kepergiannya, semua akan berjalan lebih mudah. Taeyong pikir setelah ketiadaan satu-satunya penghalang hubunganya, dia akan begitu saja kembali pada sosok tercintanya. Namun nyatanya, dilema memang tak pernah lepas dari sisi kehidupanya. Seharusnya sebuah anggukan yang ia berikan, seharusnya kata 'ya' akan begitu mudah terucap.

Ya seharusnya... karena realitanya, kepalanya menggeleng lemah. Kalimat itu terus menghantuinya, orang itu memang sudah pergi tapi rasanya dia masih ada di sini. Wujudnya memang telah terkubur tapi kata-katanya masih melekat dengan jelas dalam ingatan Taeyong.

...maka turuti perintahku. Anggap saja ini permintaan terakhir dariku.

Anggap saja ini permintaan terakhir dariku...

permintaan terakhir dariku...

permintaan terakhir...

Hanya dengan kata 'permintaan terakhir' semuanya menjadi ragu, tidak hanya dengan Irene, dengan namja inipun Taeyong membuat hubunganya menjadi abu-abu.

"Wae? Apa kau tidak mencitaiku lagi?"

"Bukan begitu, sungguh rasa ini tak pernah berubah barang sedikitpun." Taeyong cepat-cepat menyangkal, tak ingin membuat kesalah pahaman diantara mereka.

"Lalu kenapa? Saat ini tidak ada lagi yang menentang kita. Kumohon jangan pergi lagi." Suara itu terdengar sedikit bergetar, Taeyong juga menemukan setetes bening yang lolos dari pelupuk namja yang ada di hadapannya.

Oh tidak, pemudanya menangis, dan ini karenanya. Dengan ragu kini giliran Taeyong yang menangkup wajah itu, menghapus air yang membasahi lesung pipinya.

Namanya.. kenapa rasanya sulit sekali hanya untuk menyebut nama pemuda itu, rasanya begitu berat.

Oleh sebab itu, tak ada yang bisa Taeyong lakukan selain mengecup lembut bibir itu, membisikan sederet kata yang meminta pemuda itu untuk menunggu, lagi.

"Beri aku waktu."

Ciumanya dibalas lumatan, lumatan yang begitu menuntut sarat akan emosi yang selama ini tersembunyi begitu rapi. Tak ada nafsu, yang ada hanya rindu. Sayangnya hal itu harus berakhir dengan cepat, begitu seseorang meneriakan salah satu nama diantara keduanya.

"Taeyong!"

Walaupun yang dipanggil hanya Taeyong, keduanya sama-sama menoleh, mendapati tak jauh dari tempat mereka berda telah berdiri seroang yeoja yang tengah menatap mereka dengan pandangan marah, kesal dan juga jijik. Reflek keduanya saling berjauhan, atau lebih tepatnya Taeyong yang lebih dulu mengambil langkah mundur dan mendorong tubuh pemuda di depanya untuk menjauh.

"Noona?"

Dengan langkah tergesa-gesa Irene mendekat ke arah keduanya, meraih sebelah tangan Taeyong dan buru-buru menyeretnya pergi. Taeyong bisa saja menolak, mengingat dia seorang namja yang notabene memiliki kekuatan lebih dibandingkan dengan Irene yang seorang yeoja. Tapi niat itu diurungkanya, dia tidak ingin memperburuk keadaan, jika dia berontak Irene pasti akan mengomel dan membawa orang itu ke dalam permasalahanya.

Setelah dikiranya mereka sudah berjalan cukup jauh dari tempat semula barulah Taeyong menyentak tanganya kasar. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya acuh. Irene yang mendengarnya malah tertawa sinis "Harusnya aku yang bertanya demikian, apa yang kau lakukan? Siapa dia?"

"Teman."

"Teman katamu? Teman tidak akan berpelukan seperti itu, teman tidak akan saling beradu pandang seperti itu dan teman juga tidak akan berciuman seperti apa yang kau lakukan. Bahkan aku yang kekasihmu saja hanya sebatas berpegangan tangan, dan dia yang kau sebut teman malah berciuman. Ah jangan-jangan kalian telah melakukan lebih dari itu." Irene berujar panjang lebar, nadanya tinggi penuh akan amarah, tatapan tajam nan menusuk yeoja itu layangkan pada sosok namja di depanya.

"Cukup noona, hentikan omong kosongmu itu." Balas Taeyong sembari membuang wajahnya asal, kemanapun asal tidak bertatapan dengan Irene.

"Omong kosong katamu? Jelas-jelas aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, jangan menyangkalnya."

"Lalu apa maumu?"

"Jika aku bertanya manakah yang paling kau cintai, ah tidak lebih tepatnya mana yang benar-benar kau cintai sepertinya aku sudah tau jawabanya. Jadi aku memintamu untuk memilih."

"Memilih?" yeoja itu berhasil mencuri atensinya, membuat Taeyong mau tidak mau kembali menoleh menghadap Irene.

"Pilihlah diantara aku atau dia—namja yang kau sebut-sebut sebagai teman."

"Kumohon berhenti bersikap menjengkelkan seperti ini, noona. Aku sedang tidak dalam kondisi yang baik untuk mempermasalahkan hal ini."

"Aku? Menjengkelkan? Jika aku menjengkelkan lalu kau apa? Taukah kau sekarang ini hatiku berdenyut nyeri, tak bisakah kau sedikit saja peduli?" Irene mulai terisak, tubuhnya goyah dan berakhir dengan jatuh terduduk dengan kedua tanganya yang menopang pada tangan milik Taeyong.

Taeyong melepaskan genggaman Irene pada pergelangan tanganya dengan perlahan, tak ingin menyakiti yeoja itu lebih jauh lagi. "Jangan cari aku, jangan tunggu aku. Aku butuh waktu untuk menyendiri."

Setelah berucap demikian, Taeyong melangkah pergi, meninggalkan Irene dengan tangisnya yang keras dan sesosok namja yang diam-diam memperhatikan mereka berdua sedari tadi.

.

.

Di sinilah Taeyong berada, tepian salah satu tebing dekat pantai yang sering ia kunjungi. Dirinya membiarkan langkahnya yang menunutunya dan siapa sangka kakinya membawanya menuju kesini, tempat dimana tersimpan begitu banyak kenangan manis antara dirinya dengan sang terkasih.

Taeyong berdiri di tepian tebing, dua langkah lagi maka tubuhnya akan terjun bebas ke laut lepas. Mengesampingkan rasa takutnya akan ketinggian, Taeyong tetap kokoh berdiri memandang jauh ke depan, menatap kosong perpaduan warna biru langit dan biru lautan.

Suara debur ombak kembali mengingatkanya tentang ciuman pertama mereka, ya di sinilah untuk pertama kalinya Taeyong dan sosok itu berciuman. Taeyong masih ingat dengan jelas bagaimana raut wajah malu-malu namja itu yang meminta izin untuk menciumnya. Tanpa dirinya sadari seulas senyum baru saja terukir di wajah manisnya, wajah milik Taeyong.

Tidak hanya ciuman pertama, satu lagi kenangan yang menurutnya benar-benar mengagumkan, begitulah Taeyong menyebutkan. Mengagumkan karena gila dan romantis terjadi pada saat yang bersamaan. Pengalaman indah di bawah terangnya sinar rembulan, pada tepian tebing di atas deburan ombak, mereka berdua melakukan penyatuan.

*FLASHBACK*

"Ya! mau apa kita ke sini? Apa kau sudah gila?"

"Sssssttttt berhenti mengoceh dan lihatlah, hyung."

Bagaimana bisa Taeyong tidak berhenti mengoceh jika secara tiba-tiba seorang pemuda datang ke rumahnya, menyeretnya dan membawanya ke tepian tebing, yang lebih parahnya lagi waktu menunjukan pukul sembilan malam, bukankah hanya orang sinting yang akan pergi ke sana. Tapi tentu saja Taeyong menjadi perkecualian karena nyatanya ia ke sini bukan karena kemaunya, namun karena ajakan paksa dari pemuda yang kini tengah berdiri di sampingnya. Jung Jaehyun.

"Malam ini sedang purnama, sayang jika dilewatkan hanya dengan berdiam diri di dalam rumah."

"Tapi tidak dengan di atas tebing seperti ini, kau sendiri tau aku takut ketinggian."

"Santai saja, ada aku di sini yang akan menjagamu, hm. Lagi pula paling indah jika di lihat dari sini." Ucap Jaehyun santai sembari melingkarkan lenganya pada bahu Taeyong. Dengan sedikit dorongan ke bawah, Jaehyun mendudukan dirinya dan juga Taeyong di atas rerumputan.

"Kau tau hyung, sewaktu kecil aku pernah berpikir bahwa bulan selalu mengikuti kemanapun kita pergi dan bentuknya selalu berbeda-beda di beberapa tempat. Tapi nyatanya aku salah, bulan selalu sama dimanapun kita berada." Ujar Jaehyun sembari merebahkan dirinya, sedangkan Taeyong masih diam mendengarkan, matanya menatap lurus ke depan, menatap purnama yang bersinar indah di gelapnya malam.

"Cintaku kepadamu pun seperti itu—" Jaehyun sengaja memotong ucapanya, menarik bahu Taeyong dari belakang sehingga namja yang lebih tua terjungkal ke belakang dan jatuh berbaring di sampingnya, dengan segera lengan kirinya ia selusupkan di bawah leher milik Taeyong berniat dijadikan bantal untuk sang kekasih. Awalnya Taeyong memberontak, tubuhnya hendak bangkit kembali, namun sebuah lengan menahanya, memeluk pinggangnya posesif dan serangkaian kata yang keluar dari bibir Jaehyun selanjutnya membuat Taeyong bersemu merah dan mengikuti segala alur yang pemuda Jung itu ciptakan.

"—akan selalu sama, takan berkurang tapi akan terus bertambah, takan melemah namun justru terus menguat, akan terus menyertaimu, mengikutimu, kapanpun dimanapun aku akan selalu mencintaimu. Saranghae hyung."

Saat itu juga Taeyong merasa bagaikan orang paling beruntung di dunia, dicintai setulus itu oleh seorang Jung Jaehyun itu sama saja anugrah untuknya.

"Nado saranghae." Balas Taeyong yang pada detik berikutnya sudah melabuhkan bibirnya pada belah bibir milik Jaehyun. Saling mengecap rasa manis dari bibir masing-masing.

Malam itu angin berhembus membawa udara dingin apalagi ini di dekat laut, tentu saja udara aan bertambah lebih dingin. Namun untuk mereka berdua, dingin itu tak terasa begitu keduanya saling membagi kehangatan dengan memanjakan tubuh masing-masing lawanya.

"Hyung mau mencoba sesuatu?"

"Hm? Apa itu?"

"Itu di sini." Ujar Jaehyun malu-malu, berkebalikan dengan Taeyong yang malah mengerjapkan matanya lucu, memandang Jaehyun dengan tatapan bingung.

"Itu? Apa maksudmu?"

"Astaga hyung jangan pura-pura polos seperti itu." Jaehyun mendengus geli.

"Ya! siapa yang pura-pura polos di sini, memang apa yang kau maksud dengan itu? Bicara yang jelas dong." Gerutu Taeyong tak mau kalah, tidak ketingggalan pemuda Lee itu mempoutkan bibirnya sehingga membuatnya semakin manis saja di mata Jaehyun, membuat Jaehyun jadi semakin tidak sabar untung menyerangnya.

"Haruskah aku jelaskan bahwa aku ingin memakanmu di sini hyung? Memasukan miliku yang besar ke dalam hole yang sempit lalu kau yang berteriak keenakan dan mendesahkan namaku lalu—aw!" sebuah cubitan keras sukses didapat Jaehyun pada pinggangnya. Tak usah tanyakan siapa, sudah pasti Taeyong lah pelakunya.

"DASAR MESUM!" teriaknya tepat di depan wajah Jaehyun, dirty talk yang barusan Jaehyun lakukan benar-benar membuatnya menegang dan ia tidak mau tersiksa dengan menahanya maka dari itu Taeyong segera menyudahinya dengan mencubit keras pinggang Jaehyun.

"Dan pemuda yang kau sebut mesum ini adalah kekasihmu hyung." Kekeh Jaehyun "Jadi ayo coba hyun, aku tau kau sudah menegang sedari tadi." Imbuh Jaehyun sembari meremas kecil milik Taeyong dari balik celanya. Benar saja dapat Jaehyun rasakan jika milik kekasihnya itu sudah mulai bereaksi.

"Tapi kita sedang ada di luar, jangan gila Jaehyun-ah, jika kau ingin melakukanya kita pulang sekarang."

"Aku ingin dan aku akan melakukanya di sini." titah Jaehyun absolute, dengan cepat ia menarik pinggang Taeyong dan menempatkan pemuda itu di atas pangkuanya.

Tanpa aba-aba Jaehyun langsung mempertemukan kembali bibirnya dengan bibir milik Taeyong, melumatnya secara bergantian, bibir atas lalu bibir bawahnya, lidahnya juga tidak tinggal diam dengan mengabsen gigi-gigi milik kekasihnya. Saat mulutnya tengan disibukan dengan lumatan yang begitu panas itu, tanganya tidak ia biarkan diam, dengan cekatan jari-jemari Jaehyun mulai melepas kancing kemeja yang Taeyong pakai satu per satu, begitu telah terbuka sepenuhnya mulutnya segera berpindah dari bibir menuju puting milik Taeyong. Menghisapnya dengan rakus seolah kehausan.

Taeyong sendiri membalas dengan menekan kepala Jaehyun di dadanya, seakan menyuruh Jaehyun agar semakin menikmati putingnya yang menegang. Melupakan bahwa tadi ia sempat menolak, apa mau di kata pesona seorang Jung Jaehyun terlalu kuat untuk ditolak olehnya. Taeyong yang pada dasarnya sudah tak tahan semakin menggesekan pantatnya pada kejantanan milik Jaehyun.

"Oh shit" Jaehyun menggeram tertahan, diremasnya pantat Taeyong dengan gemas.

"Aaaahhhhhh." Taeyong mengerang, matanya terpejam menikmati segala sentuhan yang Jaehyun berikan.

Dengan tergesa, Jaehyun melepaskan semua pakaian yang melekat pada tubuhnya maupun tubuh milik Taeyong. Persetan dengan hawa dingin yang nantinya akan begitu terasa karena kenyataanya sekarang tubuh keduanya sama-sama panas, haus akan sentuhan yang begitu memabukan.

"Tak apa jika kita langsung melakukanya, sayang?" tanya Jaehyun meminta izin, Taeyong menganggukan kepalanya dengan malu-malu, padahal ini bukan yang pertama kalinya untuk mereka tapi tetap saja Taeyong tetap gugup saat melakukanya. Ditambah lagi dengan tempat mereka melakukanya di alam terbuka membuat sisi adrenalin mereka terasa tertantang.

Setelah mendapat persetujuan dari sang kekasih, dengan perlahan Jaehyun mulai memasukan miliknya ke dalam lubang Taeyong yang memang sudah basah karena aktifitas mereka sebelumnya.

"Uuuggghhhhh" keduanya mendesah bersamaan begitu milik Jaehyun sudah masuk sepenuhnya, tanpa menunggu lebih lama Jaehyun langsung memaju mundurkan miliknya dan menaik turunkan pantat Taeyong yang ada di pangkuanya.

Taeyong menjambak rambut Jaehyun begitu dirasa dirinya akan mencapai puncak. "Ahh lebih cepat lagi J-Jaehyun-ah, aku hampir sam-pai ahhh" Sesuai dengan permintaan Taeyong, Jaehyun mempercepat gerakan in out nya.

"Hyuuunnggg!"

"Jaehyunnnn-ahhh..."

Keduanya berteriak bersamaan begitu klimaks datang secara bersamaan diantara keduanya. Cairan Taeyong menyembur mengotori perutnya dan juga Jaehyun sedangkan milik jaehyun sudah pasti memenuhi lubang milik Taeyong hingga merembes keluar.

Taeyong terkulai lemah dan menyandarkan kepalanya di bahu tegap milik Jaehyun, membiarkan pemuda itu mulai memakaikan pakainya kembali satu per satu sembari mengucapkan kata yang takan pernah bosan didengar oleh Taeyong walau sampai diputar seribu kali.

"Saranghae."

*FLASHBACK END*

Ya pemuda itu—Jung Jaehyun—pemuda yang sama yang ia temui di pemakaman, pemuda yang sama yang merengkuhnya dalam pelukan hangatnya, pemuda yang sama yang menangis karenanya, pemuda yang sama yang tersakiti olehnya, pemuda yang sama yang memintanya untuk kembali, dan pemuda yang sama yang ia cintai.

Taeyong melangkah maju, hingga sebatas satu langkah lagi menjemput maut. Perkataan Irene kembali terngiang dalam benaknya. Pilihan. Mengapa hidupnya dipenuhi dengan pilihan? Jika hatinya diminta untuk memilih sudah pasti Taeyong akan memilih Jaehyun selaku cintanya tapi di sisi lain ia juga tidak bisa begitu saja mengabaikan Irene yang seolah menjadi permintaan terakhir sang ayah.

Entahlah ini sudah keberapa kalinya Taeyong menangis di hari yang sama, karena pada dasarnya sungguh ia tidak bisa menahan rasa sesak ini lebih lama. Tubuhnya kembali bergetar, ia tidak bisa memilih di antara dua pilihan, oleh karena itu ia membuat pilihan ke tiga. Pilihan yang ia buat sendiri, dengan tidak memilih siapapun, dengan tidak mengorbankan siapapun, Taeyong akan mengorbankan dirinya sendiri.

Tubuhnya bergetar, keringat dingin mulai mengucur deras dari seluruh pori-pori tubuhnya. Ketakuanya akan ketinggian sudah tidak bisa ia tahan lagi. Di sisi lain, tanpa Taeyong sadari sesosok namja memandanginya dengan penuh getir. Bibirnya tak henti-hentinya berkomat-kamit memanjatkan doa.

Dan ketika kakinya mulai terangkat hendak menjatuhkan diri, sepasang lengan menahanya dari belakang. Memeluknya seakan akan kehilangan atau memang hampir kehilangan. Aroma ini, Taeyong terlampau hafal bau dari sang pemilik, seakan aroma ini sudah seperti udara yang ia hirup setiap hari.

"Jaehyun-ah~" lirih Taeyong.

"Bukankah sudah kubilang untuk tidak pergi, kenapa kau begitu keras kepala hyung? Setidaknya jika kau ingin pergi tunggu dan ajak aku bersamamu."

.

.

Aku hanya ingin terlelap di sampingmu

Kembali kepadamu

Aku mau berpegangan tangan denganmu

Mendekat ke arahmu

Karena hanya itu yang aku inginkan sekarang

Tak peduli dengan sebuah akhir yang bahagia

Asal aku bersamamu, ini baik-baik saja

Jadi datanglah dan tenangkan aku

.

.

END

.

.

.

BWAHAHAHAHAHAHAHAHAHA akhirnya bisa COMEBACK juga /ketawa setan/?/

Haaaaiiiii ada yang kangen sama Flow? /plak/ ada yang nunggu ff ini update? /krikkrikkrik.

Au ah...akhirnya Blue Neighbourhood bisa ditamatin juga /fiuuuuhhhhh~

Sebelumnya Flow mau minta maaf atas updatenya yang kaya siput ini, bulan kemarin bener-bener disibukin sama tugas, ulangan, dan acara sekolah ToT.

Makasih buat yang udah fav,follow,review dan yang terpenting adalah makasih buat yang udah nyempetin baca walaupun itu sider Flow bener-bener ngucapin makasih yang sebanyak-banyaknya /bow.

Bagi yang ngga puas sama endingnya, Flow juga minta maaf /sujud/ curahan hati kalian Flow tunggu di kotak review ya~

Oh ya satu lagi, fyi nih FlowHana couple bakalan balik lagi loh , yeeaahhh kita bakalan COMEBACK dengan bawain ff multichap jaeyong. Temanya? Masih dirahasiakan ya, takutnya spoiler nanti Flow malah digebuk sama Hana,/bugh/ jadi ditunggu aja ya, paling beberapa jam lagi /plak/

/wink cantik/

Flow ;)