Tanpa Judul
.
.
.
Meanie
.
Hurt
.
.
'Semua Tokoh adalah Tokoh pinjaman. Tidak milik saya.
Fiksi ini punya saya (kecuali tokohnya). Jika terdapat kesamaan cerita dengan cerita lain itu ketidaksengajaan.'
.
.
Ketika petang menghampiri ia tahu semua harus berakhir. Sampai disini.
Terlalu banyak mereka saling menyakiti satu sama lain. Dan ia tak ingin lebih lama. Maka dengan sekali hentakan nafas, ia berucap : 'Ayo kita akhiri'. Mengabaikan bunyi retak dari hatinya.
Seseorang disampingnya diam. Menatap matahari yang baru saja tenggelam.
Indah.
Namun begitu menyakitkan dalam satu waktu.
"Secepat ini?"
Benar, secepat ini memang.
"Karena semakin lama bersama... Bukan bahagia yang akan kita dapat." Nafas yang dihela seseorang yang lebih tinggi terdengar berat. Seberat jika ingin mengatakan : 'Baiklah. Mari akhiri.'
"Kenapa?" Yang lebih tinggi bertanya
"Kau harus bahagia. Begitupun aku. Kita... Kita harus bahagi,"
"--Sekalipun tanpa harus berasama"
Jeda panjang. Ketika kekosongan hanya menyelimuti mereka. Kemudian ia memilih menyentuh lengan seseorang yang lebih tinggi. Memegangnya erat. Lalu menatap tepat dipusat memerhatikan seseorang itu.
"Kebahagianmu bukan denganku. Kau maupun aku tidak benar-benar ditakdirkan menyatu. Jadi... Mari berakhir dengan baik. Dan tetap menjadi teman."
Senyum tipis terlihat dari yang lebih tinggi.
"Kau tahu, itu tak semudah kedengarannya."
"Aku tahu. Oleh karena itu.. Ayo kita coba." Saat yang lebih muda mengangguk kemudian, ia sipemuda berambut hitam tersenyum manis. Bahagia.
"Teman."
"Teman."
.
.
.
.
.
Kenyataannya... Mengatakan itu jauh lebih sulit bagi Wonwoo. Ia yang paling berkorban. Jika mengatakan bahwa Mingyulah pihak paling tersakiti, itu tak seberapa besar dibanding dengan Wonwoo. Yang lebih memilih harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri demi Mingyu. Demi kebahagiaan seseorang yang dikasihinya.
Karena bahagia tidak selamanya harus dengan bersama.
