Hari-hari berlalu dengan begitu berat untuk Sakura. Pagi cerah yang biasanya ia awali dengan sebuah senyuman kini tak ada lagi. Cahaya mentari tak cukup untuk menerangi hidupnya saat ini. Gelap. Ia tidak tau harus kearah mana. Peta yang ia punya hilang terbawa angin. Angin kehidupan yang merenggut kebahagiaannya.
Berkali-kali Sakura terus memantapkan hati. Ia tidak tau apa yang dilakukannya ini benar atau salah. Namun jika ia masih berada didekatnya, hatinya terus berdenyut sakit. Moment manis yang selama ini dilaluinya terputar kembali bagai klise. Ini begitu sulit untuknya.
Didepannya saat ini, Karin bertolak pinggang menatapnya. Wanita itu mempertanyakan keputusannya. Sakura tahu bahwa Karin sangat menyayanginya. Wanita itu hanya tidak mau melihatnya luntang-lantung dijalan. Tapi, keputusannya sudah bulat kali ini.
"Apa kau serius ingin melakukannya, Sakura?" Sekali lagi Karin bertanya. Sakura tidak mengeluarkan suara, meski kepalanya mengangguk mantap. Hatinya ingin sekali berkata tidak, namun pikirannya menyuruh mengatakan sebaliknya. Entah mengapa hati dan pikirannya tidak sejalan untuk hal ini.
Wanita berambut merah itu memegang pundaknya. "Jangan lakukan jika kau tidak ingin melakukannya."
"Mau bagaimana lagi Karin. Hatiku tidak kuat jika terus bertatap muka dengannya." Sakura kembali menatap amplop putih ditangannya. Ia mendudukkan dirinya. Sekuat apapun ia berusaha tegar dihadapan pria itu, ia tetap tidak bisa menyangkal kalau hatinya begitu sakit kala menatapnya.
Sakura mendengar Karin menghela napas. Wanita itu lantas berjongkok dihadapannya. "Jika itu sudah keputusanmu. Aku bisa apa?"
Karin berdiri dan berjalan meninggalkan Sakura. Namun wanita itu berhenti saat mencapai daun pintu. "Aku ingin beres-beres dulu. Kau tunggu saja disini. Nanti jika bos sudah datang, akan ku beritahu." Karin menjeda. "Aku berharap semoga saja kau berubah pikiran."
Karin menghilang dibalik pintu, meninggalkan Sakura yang kini semakin tenggelam dalam lautan kebimbangan. Apa benar keputusannya kali ini? Namun jika ia tidak melakukannya. Bagaimana caranya agar perasaan itu tidak mengganggunya? Hari-harinya terbebani dengan rasa menyakitkan itu. Bagaimana ia bisa melanjutkan hidup jika harus terus seperti ini?
Bermenit-menit Sakura terus berkontroversi dengan hatinya. Mempertimbangkan keputusannya tersebut. Karin datang tak lama kemudian dengan membawa kain lap ditangannya. Wanita itu melipat kedua tangan didada. Menyender pada tembok didekat pintu. "Bos sudah datang."
"Kau benar-benar yakin?" Lagi-lagi Karin bertanya. Keputusan yang sudah mantap tiba-tiba saja menjadi ragu karena pertanyaan itu. Sakura langsung menepisnya. Ia berlalu melewati Karin yang menatapnya penuh harap.
Sekali lagi Sakura menghela napas saat tangannya melayang diudara untuk mengetuk pintu. Orang didalam menyahut, yang berarti Sakura sudah diperbolehkan untuk masuk. Ia terdiam beberapa saat didepan pintu. Orang didepannya kini tengah sibuk dengan gadget ditangannya. Sakura melangkah maju.
Ia merasa pria itu sedikit kaget dengan kedatangannya. Wajahnya yang berkharisma semakin membuat jantung Sakura berdebar kencang. Pria itu terlihat seperti salah tingkah saat tatapan mereka bertemu.
"Apa ini?" Shikamaru mengeluarkan suaranya saat Sakura menyodorkan amplop putih yang sedari tadi dipegangnya. Ini adalah pertama kalinya mereka berbicara semenjak kejadian sore itu. Pria itu menghentikan gerakkannya saat Sakura berbicara. "Aku ingin mengundurkan diri."
Tatapannya menajam. Sakura bisa merasakan rasa tidak suka dari tatapan tersebut. Ia sangat tau kalau Shikamaru sangat tidak menyukai keputusannya ini. Pria itu mengendus. "Apa kau bercanda?"
"Katakan kalau kau sedang bercanda Sakura!" Shikamaru berucap geram. Sakura tetap bungkam, masih dengan menatapnya. Ia sudah mempersiapkan diri untuk hal ini.
"Apa kau ingin membalasku dengan ini? Apa kau tidak bisa bersikap profesional?" Sakura melihat Shikamaru melempar kasar amplop putih itu keatas meja kerjanya. "Tolong jangan mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan."
"Kembalilah."
Sakura tidak percaya akan perkataan yang keluar dari mulut mantan kekasihnya itu. Mengapa Shikamaru menjadi seperti ini? Pria itu Bahkan tidak menatapnya saat berbicara. Apa sifatnya berubah secepat itu dalam kurun waktu beberapa hari?
"Kau berbicara profesional?" Gerakkan tangan Shikamaru yang ingin merobek kertas yang diberikannya terhenti. "Kalau aku tidak profesional, lalu kau apa?" Sakura semakin menatapnya tajam.
"Kau bilang aku tidak boleh mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan? Jadi selama ini kau bagaimana? Apakah kau melakukan hal itu?" Sakura mengendus, ia menatap kesegala arah. "Aku bukan seorang pendendam, aku yakin kau tau itu."
Mereka sama-sama terdiam. Sakura berusaha mengatur kembali emosinya yang sudah mencapai batas. Perkataan Shikamaru benar-benar mengundang kemarahannya. Ia mengambil napas dalam lalu mengeluarkannya dengan perlahan. "Aku cukup tau diri. Maka dari itu aku ingin berterima kasih atas jasamu selama ini, atas kebaikanmu selama ini."
Tangan Sakura terkepal erat disamping tubuh. Ia berusaha untuk tetap terlihat kuat dihadapan pria itu, meski air matanya meronta untuk meminta keluar. "Tapi maaf. Kali ini aku tidak bisa menuruti perintahmu, pak." Ucapnya sedikit bergetar, namun sepertinya Shikamaru tidak menyadari. Ia membungkuk, berlalu dari ruangan itu setelah mengucap permisi.
Tatapan heran lantas saja tertuju padanya ketika ia melewati ruangan yang kini tengah dibereskan. Sakura sempat mendengar Karin memanggilnya, namun ia abaikan. Tenten pun juga memegang pundaknya, tapi ia lepaskan. Ia sungguh tidak menyangka bahwa akhirnya akan jadi seperti ini. Hatinya yang sudah hancur semakin hancur karena perkataan pria itu. Apa yang sebenarnya di mau pria itu. Bagaimana bisa Shikamaru berkata seperti itu padanya.
Sakura mendudukkan dirinya dianak tangga salah satu gedung kosong yang tidak jauh dari restaurant tadi. Ia mengisak didalam tumpukkan tangan. Mengapa semua menjadi seperti ini. Pria yang dulu selalu berkata manis padanya telah berubah seratus delapan puluh derajat. Ia bahkan tidak mengenalinya saat pria itu berucap seperti tadi. Shikamaru sudah benar-benar membuat hati dan hidupnya hancur berkeping-keping.
.
..Like Crazy..
.
Kata orang kertas putih akan menjadi indah bila sudah ditangan seorang pelukis. Tapi nyatanya, tidak hanya pelukis saja yang bisa membuat kertas putih kosong itu menjadi indah, seorang designer pun pandai membuat kertas itu menjadi berwarna. Rancangan baju yang tergambar apik membuat kertas putih itu bagaikan sebuah pigura foto. Menampilkan sebuah goresan tipis dengan warna perpaduan sesuai ide si penggambar.
Temari, wanita itu dengan lincah menumpahkan seluruh ide yang ada diotaknya pada sebuah kertas putih tersebut. Dengan dimulai dari goresan tipis yang perlahan menjadi sebuah rancangan busana mewah dan berkelas. Suasana hati yang bagus juga sangat berpengaruh pada profesinya saat ini. Jika suasana hatinya buruk satu ide pun tidak akan muncul barang sedikit pun, juga begitu sebaliknya jika suasana hatinya baik. Seperti saat ini, suasana hatinya yang teramat baik membuatnya kebanjiran ide. Beberapa kertas kosong pun sudah terisi dengan berbagai rancangannya. Hal itu disebabkan oleh cincin yang melingkar manis dijari manisnya ditangan kanan. Ia tersenyum lagi, saat kembali mengingat malam yang sangat berarti bagi hidupnya kala itu.
Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan rancangannya. Kini Temari bersender pada punggung kursi putar yang sedari tadi didudukinya. Sebelah tangannya mengusap permukaan perut yang tertutup pakaian. Ia tersenyum lagi. "Kau membuatku kebanjiran ide."
Ketukan dipintu menyadarkannya dari lamunan manis. Temari menyuruh orang itu untuk masuk keruangannya. Benar saja, orang itu langsung masuk dan membungkuk hormat padanya. Sebelah tangan wanita berambut cokelat itu memegang papan dan terdapat kertas diatasnya. "Temari-san, maaf mengganggu. Nyonya Karui sudah datang."
Temari langsung teringat pada janjinya dengan pelangannya hari ini. Ah, bagaimana ia bisa lupa dengan itu. "Bilang padanya untuk menunggu sebentar. Aku akan segera menemuinya."
Matsuri mengangguk, lantas ia membungkuk dan beranjak dari depan meja Temari. Kembali menemui pelanggan tadi untuk menyampaikan perkataan atasannya.
.
..Like Crazy..
.
Bagi sebagian wanita. Mempercantik diri adalah hal mutlak yang harus dijalaninya setiap minggu. Entah itu merawat rambut atau sekedar memanjakan tubuh. Mereka yang memiliki uang lebih tidak tanggung-tanggung melakukan yang bahkan lebih dari itu. Yah, memang, untuk tampil cantik harus berani bermodal banyak. Seperti Mikoto yang saat ini tengah tengkurap disuatu ruangan. Beberapa wanita yang merupakan pegawai salon kecantikan tengah memijat-mijat tubuh putihnya. Mikoto sampai mengantuk karena saking nyamannya.
Sebagai istri dari pengusaha ternama, Uchiha Mikoto selalu datang diakhir pekan seperti ini. Merilekskan otot-otot yang sedikit tegang karena hari-hari yang sibuk. Sedikit berbeda dari minggu sebelumnya, kini Mikoto ditemani seorang wanita yang juga tengah menengkurapkan tubuhnya.
Mereka tidak sengaja bertemu ditempat ini. Awalnya, niat wanita berambut dongker itu hanya untuk membersihkan rambut. Tapi karena tidak ingin menolak ajakan teman ibunya itu, maka dari itu ia berakhir diruangan ini. Yah, tidak ada salahnya melakukan spa diakhir pekan.
Beberapa menit berlalu. Mikoto dan Hinata sudah selesai memanjakan tubuh mereka. Tubuh yang tadinya terasa berat kini sudah sedikit enteng. Hinata merasakan perbedaan tersebut.
"Apa bibi melakukan itu setiap pekan?" Kini mereka tengah berjalan menuruni eskalator mall. Mencari tempat makan untuk mengisi perut yang kosong.
Mikoto tersenyum menyambutnya. Wanita bermata hitam itu membenarkan letak tas maroon yang tersangkil dilengan putihnya. Ia bergumam. "Hanya untuk merilekskan tubuh." Mikoto menoleh. "Bagaimana denganmu?"
Hinata tertawa halus. "Tidak sering. Tapi aku menyempatkan diri melakukannya sebulan sekali."
"Tapi kulitmu sudah cantik, kok." Ucap Mikoto. Kakinya melangkah saat eskalator yang dinaikinya sudah sampai pada lantai. "Wanita diciptakan untuk lelaki. Saat wanita dan lelaki itu menikah, tubuh wanita sudah menjadi milik suami seutuhnya. Tinggal bagaimana caranya agar kita, sebagai wanita, menjaga tubuh kita untuk tetap tampil cantik dan segar." Mereka memasuki salah satu tempat makan yang terdapat di mall tersebut. Duduk disalah satu kursi yang tersedia. Pelayan datang membawa buku menu serta catatan setelahnya.
"Apa Sasuke sudah menghubungimu?" Tanya Mikoto sesaat setelah pelayan itu pergi membawa pesanan mereka. Hinata menggeleng, Mikoto menghela napasnya. "Dasar anak itu."
"Kau tenang saja. Nanti bibi suruh dia untuk menghubungimu." Mikoto tersenyum. "Sasuke itu sebenarnya anak yang baik. Hanya sifatnya saja yang suka keras. Tapi kau jangan khawatir. Jika kalian sudah saling mengenal, nanti kau akan tau kalau dia itu berbeda dari yang lain." Cicit Mikoto. Hinata hanya tersenyum menanggapinya.
.
..Like Crazy..
.
Sakura sedikit mencabuti rumput liar yang tumbuh disekitar makam sebelum menaburkan bunga yang dibelinya tadi dipinggir jalan ke atas gundukkan tanah dihadapannya. Sudah dua bulan lamanya ia tidak ke tempat ini. Terakhir ia berkunjung saat itu bersama Shikamaru. Yah, itu dua bulan yang lalu. Dimana Shikamaru berjanji akan menikahinya di depan makam sang ibu. Dan sekarang, semua tinggallah kenangan.
Tatapannya menatap nanar batu nisan disana. Rasa sesak menyeruak di dada. Ingin sekali ia hilang dari muka bumi ini. Karena dunia tak lagi adil padanya. "Apa yang harus aku lakukan, bu..."
Sekeras apapun ia menampik kenyataan ini, tetap saja, inilah kenyataan yang sebenarnya. "Tolong beritahu aku bagaimana bisa dia bersikap seperti itu padaku. Apa sebenarnya salahku. Mengapa dia jahat seperti itu."
"Ku pikir tidak semua lelaki itu seperti ayah. Tapi ternyata aku salah. Mereka semua sama saja." Ia meremas tanah dihadapannya. Kepalanya bertumpu pada lengan kirinya diatas tumit. "Aku ingin bersamamu. Aku ingin disana denganmu. Bawa aku pergi dari sini bu..."
"Dia sudah berjanji akan menikahiku. Dia berjanji akan hidup sampai tua denganku. Tapi kenapa dia melakukan ini kepadaku. Kenapa dia menghianatiku. Kenapa dia mengingkari janjinya selama ini." Raungnya dimakam sang ibu. Ia memeluk gundukkan tanah tersebut, terisak diatas batu nisan disana seakan tidak peduli dengan bajunya yang kini telah kotor. Ia terlalu lelah dengan hidup ini.
"Peluk aku untuk saat ini bu..."
.
.
.
To be continue
.
Alloha~~
Apa masih ada yang menunggu kelanjutannya? /nggaak!/
Sign,
Mywhitepigeon
10.10.16
