Happiness? : 2
Story telling by : Crypt14
Story idea by : Cuming
Mingyu kembali menghela nafas panjangnya untuk yang kesekian kalinya. Pemuda itu mengacak rambut berwarna caramel-nya frustasi mendapati bahwa bayi yang sejak beberapa hari ini ikut ambil bagian untuk memenuhi ruangan sempit itu pula, menjerit keras seakan seseorang tengah mengunyah kedua tangannya. Mingyu menoleh sekilas pada keranjang bayi yang berada tak jauh dari tempatnya kini setelahnya kembali membuang pandangannya. Meraih eraphone miliknya yang teronggok tepat disisi kaki kanannya, memasangkan benda tersebut pada kedua telinganya. Mingyu hanya berusaha untuk fokus pada tugas kampusnya saat ini.
Ia mencoba untuk mengabaikannya, namun tangisan bayi itu seakan lebih keras setiap detiknya hingga mampu menembus suara dari balik earphone Mingyu yang terpasang dengan volume max. Mingyu mendesah berat, terpaksa melepaskan earphone yang menyumpal kedua lubang telinganya. Sejenak menatap bayi berusia 7 bulan yang masih meraung didalam keranjang tidurnya setelahnya menghela nafas panjang. Beranjak menuju keranjang bayi itu hanya untuk meraihnya kedalam pelukkan hangatnya. Mingyu bersumpah ia akan sungguh-sungguh memperkosa Jeon Wonwoo saat ia kembali dari acara bersenang-senangnya nanti. Bagi Mingyu pemuda yang lebih tua darinya itu agaknya sedikit tidak memiliki rasa tanggung jawab. Nyaris satu minggu bayi yang disebut monster kecil oleh Mingyu itu berada di kamar kos-nya dengan Wonwoo. Namun hanya satu hari total yang Mingyu ketahui untuk seorang Jeon Wonwoo benar-benar mengurus bayi itu padahal malam dimana mereka menemukan bayi ini Wonwoo mengatakan banyak hal mengenai sisi kemanusiaan atau apapun itu yang nyaris membuat Mingyu seakan menjadi iblis secara nyata. Satu hari itu pun tidak secara keseluruhan ditangani oleh Wonwoo, karena Mingyu sangat mengetahui bagaimana karakteristik pemuda itu.
Mingyu menghela nafasnya kembali. Tangan kanannya masih sibuk memberikan tepukkan pelan pada punggung bayi itu. Perlahan namun pasti tangisan bayi itu memudar dan di gantikan oleh dengkuran halus. Mingyu sedikit bersyukur karena menyadari bahwa ia termasuk dari beberapa orang yang dapat dengan mudah menenangkan seorang bayi, setidaknya usahanya untuk mencari tahu di internet tentang segala hal yang berhubungan dengan perawatan bayi tidak sia-sia. Mingyu hendak kembali meletakkan bayi dalam pelukkannya itu kedalam ranjang tidurnya sebelum bantingan pada pintu kamar kos-nya membuat ia nyaris melemparkan bayi itu ke udara jika saja Mingyu tidak segera mengontrol dirinya sendiri. "Yo! Kim Mingew! Kau tau sesuatu, Mingew?!" Mingyu bersumpah akan benar-benar membunuh Wonwoo setelah ini. Bayi mungil yang sebelumnya sudah tertidur pulas situ kembali terbangun dan mulai merengek. "Jisoo, bersedia membuatkan aku skripsi tanpa dibayar! Dia benar-benar orang paling keren." Ujar Wonwoo tanpa sedikit pun menggubris tangisan bayi yang berada dalam pelukkan Mingyu kini. Mingyu sungguh-sungguh ingin melemparkan bayi itu dengan keras kearah wajah bahagia Wonwoo saat ini. Ia mendesah pelan, menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya perlahan. Pemuda itu kembali menimang bayi yang berada dalam pelukkannya kini, mencoba menenangkan tangisnya kembali. Pemuda itu tampaknya tidak terlalu ingin menggubris berita bahagia yang dibawa oleh Wonwoo. Wonwoo terdiam, masih melemparkan senyuman terbaiknya pada Mingyu yang tidak menatapnya sedikitpun. Menyadari bahwa ia tidak mendapatkan respon apapun membuat Wonwoo agaknya merasa kesal. Ia mendengus, menatap Mingyu dengan pandangan sedikit marah. "Kau tidak merasa senang ada seseorang yang berniat membantu ku, ya?" Seakan dilempar oleh bongkahan batu besar, Mingyu merasa kepalanya begitu berdenyut hebat mendengar penuturan Wonwoo. Ia bersumpah saat ini tengah menahan emosinya dengan sangat. Melemparkan lirikan tajam kearah Wonwoo sejenak setelahnya kembali menyibukkan dirinya untuk menenangkan bayi dalam pelukkannya yang kini kembali tertidur.
Mingyu membuang nafasnya kasar setelah sebelumnya meletakkan bayi tadi kedalam ranjang tidurnya kembali. Melemparkan pandangan jengah pada Wonwoo yang masih setia pada posisinya. Kedua alisnya bertaut menandakan bahwa ia begitu berada dalam puncak emosinya. Wonwoo menyadari itu, bagaimana cara Mingyu menatapnya membuat Wonwoo merasa terintimidasi sesaat. Pemuda berkulit tan itu masih memandang tajam Wonwoo, membuat si pemuda yang memiliki warna kulit putih itu menelan air liur nya sulit. "Wonwoo." Ujarnya pelan namun terdengar begitu dalam. Wonwoo terdiam, hanya tetap pada posisinya seraya melemparkan tatapan datar. Bagi Wonwoo sekalipun ia merasa begitu takut dengan seseorang, ia tidak akan pernah menunjukkan rasa takutnya. Wonwoo hanya tidak ingin di anggap sepele. "Bisa 'kah kau bersikap untuk lebih sedikit bertanggung jawab?" Wonwoo kembali menelan air liurnya berat. Ia bersumpah nafasnya seakan tertahan dalam kerongkongannya setiap kali mendapatkan tatapan tajam seorang Kim Mingyu yang tidak pernah diterimanya selama keduanya berteman akrab. "Apa maksud mu?" Ujarnya berusaha menekan nada suaranya agar tak terdengar takut. Mingyu menghela nafasnya berat, memenjamkan kedua matanya sejenak membuat kontak mata yang seakan membunuh Wonwoo terputus sesaat. Setelahnya ia kembali membuka kedua matanya, melemparkan tatapan sendu pada Wonwoo. "Ini soal bayi itu. Kita sepakat untuk tidak melaporkannya pada polisi serta berbohong pada orang lain mengenai siapa bayi ini 'kan?" Wonwoo terdiam, mencoba mencerna maksud ucapan Mingyu. "Kau yang waktu itu meminta agar aku tidak perlu menyerahkan bayi ini pada kepolisian dengan alasan dimana sisi kemanusiaan ku. Kau juga yang membuat aku seakan tampak seperti orang jahat yang sesungguhnya karena sempat bertahan pada ego ku untuk membawa bayi itu pada kepolisian, mengenyahkan segala pemikiran mengenai apa yang akan terjadi pada bayi itu keesokkannya." Ujar Mingyu kembali. Tatapannya kembali menajam, membuat rasa takut yang awalnya sirna kembali mengaung dengan hebatnya dalam dada Wonwoo.
"Sejak keputusan awal kita untuk merawat bayi ini, aku bersumpah hanya melihat mu mengurusnya satu hari. Itupun kau masih membuat aku kesusahan." Wonwoo menelan air liurnya sulit, merasa ditampar secara tidak langsung oleh kata-kata yang Mingyu ucapkan. Ia menarik nafasnya panjang, mengumpulkan begitu banyak keberanian untuk membela dirinya sendiri. "Kau seharusnya bisa memaklumi, Mingyu. Aku tengah mengurus skripsi ku kini, harga mati untuk masa depan ku. Apakah kau tidak bisa memposisikan dirimu pada posisi ku sekarang?" Ujar Wonwoo, pemuda itu sedikit menaikkan nada suaranya berniat untuk mengintimidasi balik seorang Kim Mingyu. Mingyu terkekeh paksa, menatap Wonwoo dari balik tatapannya yang semakin menajam. "Memaklumi harga mati untuk masa depan mu? Jeon Wonwoo, aku ingat 'kan satu hal padamu." Ujarnya menggantung. Senyuman yang sebelumnya masih tertinggal pada garis bibir Mingyu kini menghilang. Pemuda itu menatap dengan ekspresi wajah dingin pada Wonwoo. "Bukan hanya kau yang memiliki masa depan. Disamping itu, jika kau meminta aku memposisi 'kan diriku berada dalam posisi mu saat ini, aku tidak akan pernah berniat menggunakan jasa orang lain untuk sesuatu yang aku anggap sebagai harga mati untuk masa depan ku." Setelahnya Mingyu beranjak dari duduknya, meraih varisty miliknya yang tergantung dibalik pintu kamar dan mengenyahkan dirinya dari balik pintu kamar tersebut meninggalkan Wonwoo yang mematung karena sindirannya.
.
Mingyu menghembuskan kepulan asap nikotin dari balik bibirnya ke udara. Ia merasa penat begitu memenuhi isi kepalanya saat ini. Semilir angin malam terasa menggelitik kulit kecoklatannya. Pemuda itu kembali menghisap rokok yang terjepit diantara kedua belah bibirnya. Memenuhi rongga paru-parunya dengan asap nikotin yang dapat di pastikan akan membunuhnya beberapa tahun kedepan jika ia masih enggan meninggalkan kebiasaannya itu. Otaknya kembali memutar segala ucapan yang dilontarkannya pada Wonwoo siang tadi. Sejujurnya, Mingyu merasa begitu bersalah sudah menampar pemuda itu melalui kata-katanya. Ia mengerti dengan pasti maksud dari pemintaan Wonwoo, hanya saja Mingyu bersumpah dirinya begitu lelah untuk terus memaklumi. Ia memiliki harapan untuk masa depannya juga, seharusnya Wonwoo mengetahui itu. Kembali menghembuskan asap nikotin dalam mulutnya ke udara seraya mematikan bara api pada ujung rokoknya. Pemuda itu berniat untuk kembali pulang, mengenyahkan pikiran tentang sikap awkward yang pasti akan dirasakannya nanti.
.
Mingyu merebahkan dirinya pada lantai kamar sesaat setelah berada disana. Memejamkan kedua matanya sejenak. Hening, ia tidak mendapati akan keberadaan Wonwoo didalam kamar kos keduanya. "Kau sudah pulang?" Mingyu membuka kedua matanya cepat, memandang pada Wonwoo yang berdiri diambang pintu kamar kos-nya. Pemuda berkulit putih itu beranjak setelah menutup pintu kamarnya, menyampirkan handuk yang sebelumnya tergantung pada bahunya. Mengambil tempat tak jauh dari Mingyu yang kini merubah posisinya menjadi duduk. Kedua iris sipitnya melirik sejenak pada keranjang bayi yang berada tepat disisi tubuhnya hanya untuk memastikan bahwa bayi itu masih terlelap. "Hey Mingyu, aku mencerna dengan sangat mengenai ucapan mu siang tadi. Dan…" Ujarnya menggantung. Pemuda itu menatap pada ujung kakinya sejenak setelahnya kembali menatap Mingyu yang masih terdiam. "Aku minta maaf sudah bersikap seenaknya mengenai perjanjian kita untuk merawat bayi ini." Lanjutnya kemudian. Wonwoo melemparkan senyuman tipis pada Mingyu yang dibalas kembali. Mingyu bersyukur bahwa Wonwoo tidak memandang pertengkaran kecil mereka siang tadi dari sudut pandang anak-anak. Ia agaknya merasa lega mengetahui Wonwoo masih memiliki pemikiran dewasa dibalik segala cara berfikirnya yang bagi Mingyu masih terlalu kekanakkan selama ini. "Lupa 'kan saja soal itu. Aku juga minta maaf sudah bicara kasar padamu." Ujarnya santai.
Keheningan sejenak mengukung kedua pemuda itu. Baik Mingyu maupun Wonwoo sama-sama berkutat pada fikirannya masing-masing. "Wonwoo." Ujar Mingyu memecahkan segala macam bentuk keheningan yang seakan menelan keduanya. Wonwoo berdehem guna merespon panggilan pemuda itu. "Baiknya kita beri nama bayi itu siapa?" Wonwoo terdiam, setelahnya tampak bahwa pemuda itu tengah memikirkan mengenai ucapan Mingyu. "Aku rasa itu harus menggambarkan tentang dirinya, Mingyu. Maksud ku anak ini begitu tenang dan lembut kita harus menamai anak ini dengan karakter yang seperti itu juga. Tapi apa, ya?" Mingyu tampak memandang langit-langit kamar. Pemuda itu mencerna ucapan Wonwoo begitu keras mengenai nama yang mampu menggambarkan karakteristik bayi mereka. Keheningan kembali mengukung waktu, meninggalkan detik pada jarum jam yang terasa begitu lamban berputar diantara keduanya. "Param." Ujar keduanya pelan. Baik Mingyu maupun Wonwoo sama-sama melemparkan pandangan sejenak setelahnya tawa ringan menguar dari bibir Mingyu. "Bagaimana bisa kau memiliki pemikiran yang sama dengan ku?"
"Entah 'lah, aku hanya merasa karakter lembut dan menenangkan sangat cocok dengan kata Param." Balas Wonwoo. Sejujurnya, ia merasa agak merinding mengetahui bahwa dirinya dan Mingyu memiliki pemikiran yang sama mengenai nama untuk bayi tersebut. Seakan terhubung pada radar yang sama. "Baik 'lah, kita sepakat menamainya Param. Kim Param, tidak terlalu buruk." Ujar Mingyu. Pemuda itu kembali menatap pada langit-langit kamar keduanya. "Maaf, kau memanggilnya apa tadi?"
"Kim Param, apa yang salah?" Ujar Mingyu dengan ekspresi kebingungan yang kontras tercetak dalam raut wajahnya. Wonwoo berdehem, terkekeh sejenak. "Kim Param? Maaf tapi marganya harus mengikuti marga ku jadi kita akan memanggilnya dengan nama Jeon Param." Mingyu melongo sesaat, setelahnya tertawa keras. "Tidak bisa seperti itu, Wonwoo. Aku ini ayahnya." Ujar Mingyu dengan nada kebanggan yang terdengar jelas dari balik ucapannya. Wonwoo mengernyit, mencoba memahami maksud dari kata ayahnya. "Jadi maksud mu aku ini ibunya, begitu?"
"Jika kau ingin kau bisa menganggapnya seperti itu, sayang." Wonwoo dengan cepat melemparkan bantal yang berada dipunggungnya kearah wajah Mingyu yang kini tertawa puas. Ia merasa seperti di rendahkan saja dengan ucapan Mingyu barusan. Pemuda itu mendengus kesal. "Aku bersumpah akan membunuh mu, Mingyu." Desisnya masih memandang tajam pada Mingyu yang belum mau menghentikan tawanya. "Dan aku bersumpah akan memperkosa mu nanti malam, sayang." Wonwoo nyaris muntah mendengar ucapan menjijikan yang keluar dari mulut pemuda itu. Ia merasa seluruh bulu di tubuhnya meremang dengan ucapan Mingyu. Wonwoo masih normal, ia meng-klaim seperti itu. "Kau benar-benar membuat aku ingin menendang mu keluar saat ini juga, Mingyu. Ya Tuhan, kenapa aku setuju untuk berbagi kamar dengan si idiot ini!" Wonwoo meracau frustasi. Ia sungguh-sungguh menganggap Mingyu sebagai titik pusat dari segala sumber rasa frustasinya selama ini. "Itu yang di namakan dengan takdir, Wonwoo. Nikmati saja."
"Kau harus meralatnya, itu bukan takdir akan tetapi musibah." Wonwoo berdecih, masih memandang jengah pada Mingyu yang masih tertawa pelan. Ia menarik nafasnya, mencoba mengabaikan kelakuan absurd Mingyu. "Mingyu, kenapa kau berfikir menamainya Param?" Ujar Wonwoo mengalihkan topik yang sebelumnya. Mingyu menoleh sejenak, setelahnya kembali memandang pada langit-langit kamar. "Sesuai dengan kata mu, dia memiliki karakter lembut dan menenangkan layaknya angin. Jujur saja, awalnya aku sangat tidak ingin untuk merawat bayi ini namun setelah beberapa hari mengurusnya aku bersumpah bahwa dia agak sedikit membawa ketenangan untuk ku, itu disamping dia juga sebagai sumber masalah." Jelasnya diselingi oleh kekehan pelan. Wonwoo tersenyum tipis, melirik pada bayi yang terlelap pulas disisinya. Ia begitu setuju dengan ucapan Mingyu mengenai bayi itu. Meskipun Wonwoo tidak terlalu banyak mengurusnya selama beberapa hari bayi itu bersama mereka namun Wonwoo juga dapat merasakan hal yang sama. Ia selalu merasa kepenatannya akan tugas akhir untuk kelulusannya menghilang setelah melihat bagaimana lelapnya bayi itu tertidur ataupun cara bayi itu tertawa dan tersenyum. "Disamping itu, Wonwoo. Anak ini sangat mirip seperti angin, ia datang tanpa kita prediksi ataupun bayangkan. Bukan 'kah itu yang angin lakukan, mereka berhembus tanpa kita prediksi, harapkan atau ingin 'kan. Hanya berhembus secara tiba-tiba, benar tidak?" Wonwoo mengangguk setuju. Helaan nafas ringan menguar begitu saja dari balik bibir kedua pemuda itu. Bagi Mingyu dan Wonwoo, kehadiran seorang bayi dalam kehidupan keduanya perlahan membawa mereka dalam perubahan yang cukup signifikan. Kesabaran, pengertian serta kerjasama dalam merawat Param seperti sebuah pelatihan khusus yang menyenangkan. Baik Mingyu maupun Wonwoo mengenyahkan rasa malu ataupun ego mereka demi bayi yang tidak pernah mereka ketahui siapa maupun dimana kedua orang tua biologisnya. Mereka meng-klaim bahwa mereka 'lah orang tua untuk Param saat ini. Baik Mingyu maupun Wonwoo, kedua pemuda itu mampu untuk memposisikan dirinya sebagai seorang ayah sekaligus ibu untuk bayi mungil tersebut. Mereka hanya ingin memberikan begitu banyak kasih sayang yang sebenarnya pada bayi itu, menunjukkan bahwa dunia yang sesungguhnya hanya dipenuhi oleh cinta. Namun yang tidak dapat di prediksi keduanya mengenai kehidupan hanya satu, bahwa tidak selamanya mereka akan berada dalam kebahagiaan yang selama ini terpantri jelas dalam ruang khayal mereka. Perjalanan keduanya masih begitu panjang, dan mereka tidak pernah tahu bahwa airmata akan mengambil peranan dalam perjalan itu.
"Menurut ku kita gabungkan saja marga kita berdua untuknya, jadi namanya itu Kim Jeon Param." – Wonwoo
"Itu terdengar aneh, bodoh." – Mingyu
Chit chat : haiiii~~~ aku balik utk update chapter berikut'a xD duh ndak sangka sih respon'a baik xD oiya utk ralat sedikit trnyata wonwoo ndak bsa mkn seafood y? sma dong sma aku yesss jodoh /? xD. ini chapter 2 udh agak kliatan y konflik batin'a xD. dsni knp aku buat seakan mingyu lbh bsa ngurus ank dibanding wonwoo krn mingyu itu all-can-do jd aku prcaya seandai'a mrk betul dsuruh rawat bayi mingyu pasti jago'a wkwkwk. trus jg alesan knp utk nama bayi'a ndak pake nama ank svt jg krn ada alesan deh d'balik nama itu nanti yg bakal kalian dapetin d'last chapter dr ff ini xD trus utk readers yg brharap ini akan jd romance alias mingyu sma wonwoo parteneran ky'a ndak bakal k'realisasi krn aku udh d'ksh tau sama yg punya ide sampe k'akhir cerita & mrk bener2 pure sahabatan ala2 ank alay yg klo ngomong frontalan gitu xD /minta d'tabok. pokok'a dsni aku bakal buat kalian yg emang meanie shipper tetep ngerasain feel meanie'a deh meski mrk ndak couple-an yesss xD. yg trakhir sih aku mau ucapin big thx buat kalian pembaca setia/baru yg mau sempetin wkt buat bca & review ff aku /bow. tetep tinggalin jejak kalian y dsni demi kelangsungan ff ini. anyway buat dream walker & the things series aku msh blm dpt feel'a nih dr kemarin abis ngetik trus hapus lg begitu trus maka'a blm mau posting tkt kecewa kan klo ndak sesuai ekspektasi xD. okeh cukup sampe dsni cuap2'a. oiya yg mau temenan d'IG boleh tinggalin jejak akun IG kalian biar nanti aku follow ndak d'folback jg ndak apa x'D crypt kuat ciyus dehhh xD atau bsa searching akun IG ku crypt14 supaya kita bsa temenan sampe real xD.
Salam,
Crypt14
