Happiness? : 3
Story telling by : Crypt14
Story idea by : Cuming
Mingyu menatap lekat pada bayi berusia 7 bulan yang berada di pangkuannya kini. Menatap lamat wajah tertidur yang begitu damai itu. Ia menghela nafasnya panjang. Lalu lalang setiap orang yang berada dihadapannya menjadi satu-satunya pemecah keheningan. Sesaat menatap pada jam tangan yang bertengger di pergelangan tangannya.
Ia terdiam saat mendapati Wonwoo yang menjatuhkan tubuhnya pada kursi tunggu disisinya itu. Menunggu pemuda itu berujar mengenai kondisi sang bayi yang kini tengah berada dalam pelukkannya. "Bagaimana?" Ujarnya.
Wonwoo membuang nafasnya berat, mengusap wajahnya gusar seakan sebuah beban begitu berat menimpa kepala pemuda itu kini. Masih memutuskan bungkam atas pertanyaan Mingyu. "Hey, aku bertanya. Cepat jawab. Dia demam atau apa?"
"Leukimia." Mingyu terdiam, mencoba menegaskan kembali jawaban Wonwoo. "Dokter bilang virusnya sudah berada dalam tubunya sejak masih di kandungan dulu." Tukas Wonwoo lemas. Pemuda itu tidak menyangka jika bayi yang nyaris beberapa bulan ini tinggal bersamanya dengan Mingyu nyatanya terserang penyakit yang begitu mengerikan.
Pasalnya, anak yang kini tengah berada dalam pelukkan Mingyu itu tampak begitu sehat meski terkadang demam cukup tinggi selalu datang secara tiba-tiba. Namun baik ia dan Mingyu tidak memiliki prasangka sejauh itu. "Kau bercanda 'kan? Dia kelihatan baik-baik saja. Dokter mungkin salah." Mingyu berkata dengan nada tak percaya.
Mengalihkan tatapannya yang semula mengarah pada Wonwoo menuju sebuah amplop putih yang tengah di sodorkan pemuda disisinya itu. "Hasil pemeriksaan." Tukas Wonwoo lemas. Memutuskan untuk menyerahkan bayi itu pada Wonwoo guna mengetahui hasil dari pemeriksaan.
Ia tertegun, menatap dengan rasa begitu tidak percaya atas apa yang kini terpampang jelas dalam kedua iris matanya. Membuahkan desahan berat disana. "Bagaimana bisa." Ia berujar begitu pelan, berbisik pada diriya sendiri. Mengusap wajahnya kasar dengan dengusan yang menguar disana.
"Aku rasa lebih baik di rawat di rumah sakit. Itu akan lebih terkontrol 'kan?" Wonwoo mendekap bayi yang kini berada dalam pelukkannya. Terasa begitu hangat pada bahunya setiap kali hembusan nafas dari hidung mungil itu menerpa. Ia bersumpah jika saja tidak memikirkan mengenai gendernya mungkin Wonwoo akan menangis tersedu-sedu saat ini.
"Entah 'lah, menurut mu itu yang terbaik?" Mingyu melemparkan pertanyaan retoris padanya. Berakhir pada keheningan yang mengukung. Kedua pemuda itu sibuk pada pemikirannya masing-masing.
.
"Kau tampak suntuk akhir-akhir ini, Mingyu. Tugas mu banyak sekali 'kah?" Pemuda itu, Seokmin berujar. Menatap pada sahabat baiknya yang masih tampak mengerutkan kedua alisnya, berfikir. "Hey, kau melamun ya?" Ia mengetuk meja dihadapannya. Membuat Mingyu menatapnya bertanya. "Ya, ada apa?"
"Oh ya Tuhan kau sungguh-sungguh melamun, Mingyu." Menyesap cola miliknya setelahnya. Mingyu menghela nafas panjang. Memijat pelipisnya guna menghilangkan rasa berat yang bertengger pada kepalanya kini. "Cerita 'lah jika ada masalah. Mungkin saja aku bisa membantu mu."
Ia menatap balik Seokmin yang kini kembali menyesap cola miliknya. Setelahnya memutuskan untuk membuka suara. "Kau ingat bayi yang aku ceritakan pada mu?" Seokmin terhenti, menjauhkan minuman bersoda itu dari mulutnya. "Param maksud mu? Ah, ya kau masih berhutang pada ku untuk memperlihatkannya. Jadi, ada apa dengan bayi mu dan Wonwoo itu? Dia masih merengek di malam hari?" Ia terkekeh kecil. Bermaksud untuk bergurau pada pemuda dihadapannya yang masih memasang raut wajah berfikir.
"Param sakit." Dan tawa ringan itu luntur mendengar penuturan sang sahabat. Seokmin melongo sesaat setelahnya berujar maaf atas ketidak sopanannya. "Kalian sudah memeriksakannya?" Mingyu mengangguk samar. Memutuskan untuk mengenggak air mineral miliknya yang sejak tadi hanya di tatapnya saja. "Lalu hasilnya? Mungkin hanya demam biasa 'kan?"
Pemuda kecoklatan itu tertawa paksa, menggeleng lemas. "Aku juga berharap seperti itu." Menyisakan kerutan pada puncak hidung mancung Seokmin. Merasa bahwa sesuatu yang tidak beres terjadi, ia kembali memastikan. "Memangnya hasil pemeriksaannya apa?"
"Leukimia." Dan rahang pemuda itu jatuh setelahnya. Ia menatap dengan pandangan seakan ucapan yang menguar dari bibir Mingyu hanyalah gurauan bodoh yang sering dibuatnya. "Kau hanya sedang bergurau 'kan? Ini terdengar tidak lucu." Ia tertawa dengan nada tak percaya. Mendapati tatapan sendu Mingyu membuatnya sadar bahwa pemuda itu tidak sedang bercanda.
"Ya Tuhan, bagaimana bisa?" Dan jawaban akhir yang di terimanya hanyalah bahu milik Mingyu yang terangkat sempurna.
.
.
Wonwoo masih terdiam dengan kedua iris matanya memandang pada bayi yang tengah terlelap dihadapannya. Menyentuh tangan kecil dimana sebuah selang berisikan cairan infus menggantung. Ia tersenyum tipis saat genggaman tidak begitu erat dari bayi itu terasa pada jari telunjuknya. "Kau akan baik-baik saja 'kan, Param." Ia berbisik pada dirinya sendiri. Wonwoo tidak menampik bahwa sesuatu menggenang di balik kelopak matanya kini.
Bagaimana pun Wonwoo merasa lelah atas bayi dihadapannya kini, ia tetap begitu mencintainya. Pemuda itu terbiasa, sangat terbiasa kini. Begitu mencintai peranan ibu yang di ambilnya atas Param membuat sebuah rasa sesak menggantung dalam rongga dadanya mendapati sang anak yang tengah berjuang.
"Apa begitu sakit, sayang?" Ia kembali berbisik. Meninggalkan kecupan ringan pada jarum yang tertanam dalam kulit bayi itu. Membuat tanda kebiruan samar disana. "Jika Tuhan mengabulkan, aku rela mengganti posisi mu." Dan sesuatu yang begitu ditahannya selama beberapa hari ini akhirnya terjatuh juga. Ia menghapusnya cepat, menyadari pintu dibelakang tubuhnya terbuka.
"Maaf aku terlambat." Ia menoleh, melemparkan senyumannya pada Mingyu dan Seokmin yang kini mematung pada posisinya. "Kau sungguh-sungguh tidak bercanda rupanya." Pemuda itu terdiam, setelahnya mendekat pada Wonwoo. Memandang penuh rasa sedih pada bayi yang terlelap disana. "Bagaimana keadaannya?"
Wonwoo tersenyum kecut. "Tidak ada peningkatan yang signifikan. Tolong berdoa untuknya ya." Terdengar seperti seorang ibu yag sebenarnya. Wonwoo merasa hatinya tertohok setiap kali orang yang menjenguk bayi-nya dan Mingyu bertanya soal keadaanya. Dokter yang menanggung jawabi mengatakan bahwa bayi mereka memiliki kemungkinan begitu kecil untuk bertahan.
Stadium akhir, dan kondisinya begitu lemah. Itu alasannya. Kata-kata itu selalu membuatnya enggan untuk terlelap di malam hari jika saja Mingyu tidak memaksanya. "Hey, Param. Ini aku Seokmin. Kau bisa memanggilku paman jika mau." Pemuda itu tersenyum tipis, memberikan sentuhan lembut pada pipi milik bayi itu. Halus dan menenangkan.
"Kau harus bertahan, demi mama Jeon dan papa Kim. Aku beritahu rahasia, kau itu satu-satunya anak mereka jadi jika kau pergi maka mereka tidak akan memiliki anak seumur hidup. Jadi tetap 'lah bersama mereka." Baik Mingyu maupun Wonwoo tertawa paksa. Mencoba menahan cairan yang terus mendorong keluar dari kelopak mata keduanya.
"Aku berjanji, jika kau bertahan aku akan mengajarkan cara menjadi playboy level tinggi." Dan senyuman paksa yang mengakhiri ucapan bodoh Seokmin. Pemuda itu menelan liurnya sulit, setelahnya mengadah. Berusaha agar airmatanya tidak mengalir. "Ah, bodoh. Kenapa harus menangis begini."
.
.
Tangisan keras masih menguar dari balik bibir mungil bayi yang kini tampak tengah menjalani pemeriksaan kembali. Wonwoo berdiri resah disisi Mingyu yang hanya dapat memandang dengan kecamuk dalam dadanya. Keduanya bersumpah ingin sekali membawa bayi itu dalam pelukkan hangatnya masing-masing. Mengatakan bahwa mereka disana, jangan merasa takut.
Setelahnya Wonwoo beranjak cepat. Meraih tubuh sang bayi menuju dekapannya. Menepuk lembut punggung sempit itu selagi Mingyu dan sang dokter berbicara. Tangisan itu perlahan melembut berganti dengan isakkan kecil yang membuat hati Wonwoo kembali tertohok.
Kedua tangan mungilnya mencengkram penuh kekuatan pada kaus milik Wonwoo seakan meminta pemuda itu untuk tidak lagi meninggalkannya. "Aku tidak tahu akan bertahan berapa lama lagi. Pengobatan secara khemoterapi tidak bisa di terapkan. Aku harap kalian berdua akan memahami maksud ku."
Mingyu mencelos, mengerti betul bahwa dokter dihadapannya kini seakan putus asa atas keadaan sang putra. "Tidak ada 'kah cara lain?" Ia berucap sedikit menuntut. Dokter dihadapannya kini membuang nafas berat, melepas kacamata yang bertengger pada batang hidungnya. "Transpaltasi sumsum tulang belakang, mungkin hanya itu."
"Itu bisa menyelamat 'kannya? Jika ia abil saja milikku, kita adakan operasi sekarang juga tidak masalah." Pemuda itu berujar antusias. Setelahnya sebuah rematan cukup keras terasa pada bahunya. "Itu harus cocok dengan miliknya dan tidak bisa sembarang orang. Disamping itu, kemungkinan kegagalan dalam operasinya nyaris mencapai lima puluh persen." Ia menelan air liurnya berat. Memasang wajah begitu sendu yang tertangkap oleh iris mata dokter dihadapannya.
"Selain itu, mencari pendonor sumsum tulang belakang tidak semudah itu. Membutuhkan waktu lama untuk prosesnya, aku hanya mengkhawatirkan keadaannya yang semakin memburuk setiap harinya." Ia memutuskan bungkam. Hanya menatap pada ujung-ujung sepatunya kini. Mingyu tidak lagi menuntut, namun tidak juga menerima. Ia bersumpah lebih baik di tolak oleh seluruh wanita di muka bumi ini, rasa sakit yang di terimanya tidak akan seberapa dibandingkan mendapat kabar mengenai Param.
.
Keduanya terdiam, hanya tetap menatap pada Param yang kini terlelap pulas. Semilir angin malam berhembus, menerobos dari jendela ruangan yang tak tertutup rapat. "Apakah kita harus merelakannya, Mingyu?" Wonwoo berujar dengan nada begitu lemas. Menarik selimut guna menutupi tubuh bayi itu. Mingyu terdiam, tidak mengerti harus memberikan respon seperti apa untuk Wonwoo.
"Aku ingin menangis saja rasanya. Kenapa harus Param yang menerimanya." Ia terkekeh paksa. Membelai tangan bayi itu. "Kalau bisa aku bersedia bertukar tempat dengannya." Mingyu beralih, menatap Wonwoo yang masih memandang pada sang bayi. Menghelakan nafasnya panjang.
"Param akan sedih mendengar kau berbicara seperti itu. Dibadingkan itu lebih baik fokus pada kesembuhan Param 'kan?" Wonwoo balik menatap Mingyu. Melemparkan senyuman yang begitu kecut.
Hening, keduanya terlelap pada kekhawatirannya masing-masing. "Mingyu." Pemuda yang terpanggil berdehem. "Aku minta maaf." Tukasnya pelan. Membawa tatapan Mingyu padanya. "Untuk apa?"
Wonwoo terdiam sesaat setelahnya menghela nafas. "Tidak menjaga Param dengan baik dan membuat mu susah." Setelahnya sebuah tepukkan lembut terasa pada puncak kepalanya. Pemuda itu tersenyum pada Wonwoo. "Tidak, kau cukup baik dalam merawat Param. Kau bukan ibu yang buruk." Ia terkekeh, raut wajah Wonwoo tampak sedikit masam. "Aku ayahnya, bukan ibunya."
Dan tawa keduanya menguar. Hanya senda gurau sesaat untuk mengurangi rasa sedih yang hinggap dalam dada masing-masing. "Tapi kau lebih cocok jadi ibu ketimbang ayah." Mingyu meringis setelah ucapannya menguar, mendapati pukulan keras menghantam kepalanya dari kepalan tangan Wonwoo. "Bicara lagi ku hajar kau." Ia terkekeh, mencibir pada pemuda yang lebih tua.
"Ini serius, kau tidak mau tahu alasannya?" Ujarnya. Kini menyentuh pipi bayi itu, merasakan permukaan selembut kapas miliknya. Wonwoo berdecih, menatap tajam Mingyu. "Itu karena kau terlihat lebih tulus dibandingkan aku." Ia terdiam, menatap pada senyuman Mingyu yang terpampang. "Kau jauh lebih sabar dalam menghadapi Param, sedangkan aku yah seperti yang kau tahu."
Sesaat rasa bangga seakan menenggelamkan Wonwoo membuat pemuda itu mengulum senyumnya diam-diam. "Akhir-akhir ini aku merasa begitu bersalah setelahnya." Mingyu merunduk, dadanya terasa sesak. Menghelakan nafasnya entah untuk yang keberapa kali. "Param, maafkan papa yang sering merasa jengah menghadapi mu. Kau harus sembuh, nak. Ingat janji kita untuk menjaga mama Jeon?"
Wonwoo terdiam, sejujurnya rasa menggelitik begitu kentara dalam dada dan perutnya. Perasaan bodoh yang kembali harus mati-matian ia singkirkan tentang Mingyu. Ia masih waras untuk jatuh cinta pada seseorang yang memiliki gender yang sama dengannya itu. "Kau jadi superbaby dan ayah jadi superman-nya 'kan. Kau tidak melupakannya bukan?" Ia terkekeh, sedikit merasa geli dengan ucapannya.
"Papa Kim benar, kau harus sembuh dan menjaga aku dari orang-orang seperti papa Kim. Kau tidak mau mama mati karena terserang hypertensi 'kan?" Wonwoo memutuskan untuk bergabung. Tertawa kecil setelahnya. "Eishh, lihat ada yang sudah bisa menerima dirinya sebagai seorang mama." Setelahnya Mingyu kembali meringis karena pukulan Wonwoo di kepalanya. "Jangan dengar 'kan ucapan bodoh papa Kim mu itu, dia tidak waras." Dan malam itu di habiskan oleh tawa ringan serta percakapan yang entah bersumber darimana. Mereka hanya ingin menghibur dirinya, berpura-pura seakan masalah tidak pernah terjadi. Bahwa baby KimJeon Param –seperti itu mereka menyebutnya- akan tetap sehat seperti saat pertama kali Tuhan mempertemukan ketiganya.
"Selamat malam baby Param. Selamat malam mama Jeon." - Mingyu
"Selamat malam, sayang. Selamat malam papa Kim." – Wonwoo.
Chit chat : akhirnyaa update ya ff ini setelah begitu lama teronggok gk aku update" xD maafin aku yaaa buat kalian yg nunggu banget ff ini, gk maksud gantungin cuma entah kenapa tiap nulis ff ini hawanya baper. Jadi sebenernya ff ini based on true story dari sisi babynya. Ide ff ini datang setelah aku ketemu lg sama temen lama yg udah nyaris 2 tahun lost contact, pas ketemu dia cerita banyak soal keluarganya (ky biasalah kalo aku sma dia ketemu gk jauh curhat"an xD) salah satunya dia cerita soal dedeknya yg kena leukimia, masih usia 7 bulan waktu itu. Dan kalian tauuu aku mencelos dengernya, sedih banget pas dia cerita detik" dedeknya di minta lg sama Allah :( gimana dia sama mamahnya kucar-kacir mlm" ngebut naik motor pas lg gerimis buat ngejar waktu ngebawa si dedek ke rs besar tp usahanya sia" krn udah takdirnya si dedek dipinta lg :(. Nah dr sana aku dpt ide cerita ini. Ky yg udah tertera di genrenya bakal hurt comfort ya, pasti udah nebak kan akhir ceritanya gimana xD. Jd untuk kalian yg masih penasaran pst udh gk penasaran lg xD. Udah ah gk banyak oceh aku sedih lg klo inget cerita mamah tmn ku soal si dedek. Keep review yaa dan makasih banyak utk partisipasi kalian atas ff ini. Dan utk esca callahan (semoga bener namanya xD) maaf baru updatenya hari ini gk sesuai janji, kemarin aku ngantuk berat xD. Akhir kata laff yuh all, ini belum ending ko xD
Salam,
Crypt14
