I Think I Love You
Cast:
Oh Sehun
Luhan
-HunHan-
Rated:
T ?
Genre:
Romance, Family, Relationship, Boys Love –Shounen ai-
.
.
.
.
Kata orang, dunia ini sempit. Kalau kau bertanya itu benar atau tidak pada Luhan, pasti ia akan bilang "Itu hanya teori bodoh!" Tapi setelah ia bertemu dengan sosok Sehun, Luhan yakin ia bisa menjelaskan sesempit apa dunia ini.
.
.
.
.
.
.
.
"Jangan mengikutiku terus brengsek." Luhan benar-benar selesai dengan kata-kata sopannya. Nyatanya Sehun benar-benar tidak menyerah. Ia menyukai Luhan atau apa sih sebenarnya? Sampai-sampai mengikuti Luhan terus-terusan seperti ini?
Sehun menghela nafas lelah. Percaya diri sekali dia. Sehun? Mengikutinya? Hell. Memang benar? Haha. "Aku tidak mengikutimu. Aku hanya ingin bilang bahwa ini kunci mobilmu dan mobilmu masih terparkir didepan caffe. Kau puas?"
"O–oh, ne kunci mobilku– Aish jinjja Oh Sehun! Kenapa kau tidak bilang dari tadi? Kita sudah cukup jauh dari caffe. Eottokhaeyo!" Luhan mengusap wajahnya kasar. Bagaimana bisa ia melupakan mobil mewah kesayangannya?
"Tsk, kau tidak mau mendengarku tadi saat aku memanggil namamu berkali-kali. Kau selalu bilang bahwa aku penguntit. Jadi ku biarkan saja." Sehun mengedikkan bahu merasa tidak bersalah sama sekali.
Luhan memberikan deathglare pada Sehun dan segera berbalik menuju caffe tadi untuk mengambil mobilnya. Setidaknya selama ia diluar, ia harus memiliki kendaraan agar tidak seperti anak kampus kehilangan uang. Ia bisa saja diganggu nanti.
"Tidak perlu. Mari naik angkutan umum saja. Aku yang membayar. Mobilmu sudah aman. Aku sudah memberi tahu petugas keamanan untuk menjaganya. Besok akan ku antar kau untuk mengambil mobilmu."
"Aigoo, arro arro. Aku mengalah sekarang."
.
.
.
"Kami pulang." Sehun masuk kedalam rumahnya. Tapi tunggu– kalian membaca kalimat janggal? Sehun menyebutkan kami? Berarti ia tidak pulang sendiri kan?
"Uri Sehunie sudah pu– aigoo Luhanie?" Ibu Sehun memekik heboh saat melihat Luhan juga tengah masuk kedalam rumah Sehun dan berjalan dibelakang Sehun saat ini.
"Annyeong ahjumma." Luhan tersenyum canggung. Ia mengelus tengkuknya. Ia bingung harus bagaimana sekarang. Memang Sehun sialan. Ia kan tidak bilang ingin datang kerumahnya. Ia hanya ingin di antar ke hotel terdekat. Jadi ini alasannya Sehun sudah menyuruh petugas keamanan mengamankan mobil Luhan? Benar-benar licik sekali.
"Jangan panggil ahjumma. Kau bisa memanggilku eomma sama dengan Sehun. Kalian kan sebentar lagi akan menikah, kkeutchi?" Ibu Sehun tersenyum jenaka ke arah Luhan dan hanya dibalas senyuman tipis dari Luhan.
"Apa bibi sudah membereskan kamar tamu eomma?"
"Kamar tamu? Untuk apa?" Ibunya menatap bingung pada Sehun. Memangnya mereka kedatangan tamu atau semacamnya?
Sehun melirik sekilas ke arah Luhan. Ibunya membuat gesture oh untuknya, sambil ikut melirik ke arah Luhan sekilas.
"Untuk apa kamar tamu? Kalian bisa tidur bersama kan? Eomma tidak khawatir, lagipula kalian sama-sama lelaki." Ibu Sehun berbicara dengan nada kelewat santai membuat Luhan hampir saja tergelincir dari tempatnya berdiri padahal tidak ada sesuatu yang licin disana.
"Luhan-ssi gwenchanayo?" Sehun memegang tangan Luhan yang hampir saja terjatuh. Mungkin karena shock? Sehun juga tidak mengerti kenapa Luhan sedramatis ini.
"Ne, gwenchanayo Sehun-ssi." Luhan hanya tersenyum paksa dan kembali berdiri dengan normal.
"Jja! Tunjukan kamarmu setelah itu bersihkan badan kalian. Eomma memasak sesuatu yang lezat. Uri Luhanie sangat ahli dalam kuliner kan? Eomma ingin kau mencicipi resep baru." Ibu Sehun lagi-lagi tersenyum ramah. Membuat Luhan kikuk saja.
"Ne eomma. Kajja Luhan-ssi."
.
.
.
"Jadi, kau lebih baik mandi dulu. Aku akan membereskan kamar. Seokmin baru saja berkunjung. Ia agak sedikit tidak waras." Sehun berusaha terlihat santai dan seperti teman baik untuk Luhan agar Luhan tidak canggung.
"Oh arraseo. Tapi– aku kan tidak membawa pakaianku. Aku tidak mungkin menggunakan–" Luhan menggantungkan kalimatnya dan melihat tubuhnya dari atas sampai bawah. "–pakaian ini lagi kan?" Lanjutnya.
"Aku bisa meminjamkanmu kemeja dan celanaku. Chakkamanyo."
Sehun berjalan menuju lemari besarnya dan mengambil beberapa keperluan untuk Luhan seperti baju, handuk, dan– apakah Luhan harus menggunakannya juga? Sebuah pakaian dalam pria.
"Pakailah. Eomma pasti sudah menunggu dibawah. Buat dirimu senyaman mungkin." Sehun hendak melangkah keluar kalau saja seseorang tidak menarik tangannya pelan dan memasang tampang bingung.
"Waeyo?"
"Aku– apakah aku harus menggunakan pakaian dalammu juga? Itu– membuatku agak risih. Aku tidak biasa menggunakan pakaian dalam orang lain." Luhan menatap pakaian dalam itu dengan khawatir atau merasa malu? Entah lah. Wajahnya berkombinasi lucu.
"Lalu? Kau tidak ingin bagian itu tidak tertutupi kan?" Sehun melirik jahil ke arah bagian bawah Luhan. Sambil tersenyum mesum dan menaik turunkan alisnya.
"Yak!"
.
.
.
"Kau bisa tidur diatas kasurku. Aku akan tidur disini." Sehun tersenyum tulus dan mengambil bantal juga selimut simpanannya di lemari. Setelah itu ia mendudukkan tubuhnya di atas sofa besar disisi kamar.
"Jeogiyo." Luhan tiba-tiba bersuara saat Sehun hampir saja menempelkan kepalanya di bantal. Sehun menengok ke arah Luhan dengan wajah bertanya-tanya.
Apakah itu hobi rusa ini untuk mengganggu orang tidur?
"Kau bisa tidur disini. Biar aku yang tidur di sofa. Ini kan kamarmu. Aku tidak mungkin menjarah kasurmu juga Sehun-ssi." Luhan beranjak dari kasur Sehun dan berjalan mendekat ke arah sofa tempat Sehun duduk saat ini.
"Gwenchanayo. Kau lebih baik tidur dikasur. Kalau kau tidur di sofa nanti badanmu bisa sakit dan besok kan kau ada jadwal kuliah, kkeutchi? Jangan sampai kau sakit hanya karena aku membiarkanmu tidur di sofa ini."
"Aniyo! Aku tidak masalah tidur di sofa. Aku sering tidur di sofa kalau sedang bermalam dirumah teman. Itu tidak masalah. Tubuhku sudah kebal." Luhan tersenyum jenaka sambil pura-pura memamerkan otot kecilnya yang terbalut kemeja putih Sehun.
"Tidak bisa begitu. Eomma bisa membunuhku kalau tahu kau kubiarkan tidur di sofa. Sudahlah cepat tidur." Sehun berdiri dan mendorong Luhan mundur agar mau menempati kasurnya. Tapi ternyata–
BRUKK...
Luhan dan Sehun terjatuh dikasur bersama-sama. Lebih tepatnya karena Sehun mendorong Luhan tanpa perhitungan seperti tadi, Luhan jadi terjerembap kebelakang tepat mengenai kayu kasur Sehun. Alhasil Luhan menarik bahu Sehun dan seperti sekarang, mereka terjatuh dengan posisi Luhan dibawah dan Sehun diatas. Jangan salahkan Luhan yang ceroboh, salahkan Sehun yang tidak bertindak secara hati-hati.
Luhan terkejut bukan main. Matanya bahkan telah membelalak lebar saat Sehun terjatuh tepat diatasnya. Jantungnya benar-benar berdetak dengan cepat. Wajahnya terutama pipinya sekarang malah dengan tidak tahu malu merona merah. Luhan menahan nafasnya dan setelah itu ia menggigit bibirnya dengan cepat.
"Se–sehun-ssi, bisakah kau–" Luhan bahkan sampai tidak bisa berkata apa-apa sama sekali. Sehun yang akhirnya sadar dari lamunan singkatnya tadi segera mengangkat tubuhnya namun ia masih mengekang Luhan dengan kedua lengannya.
"Apa yang kau ingin aku lakukan– hyung?" Sehun berbisik pelan dengan suara berat. Deru nafas Sehun benar-benar mengganggu Luhan. Ia benar-benar sensitif ditelinganya. Luhan benar-benar merinding hanya karena sebuah kalimat dari Sehun tadi.
Tenangkan detak jantungmu Luhan! Memang kau tidak malu dengan Sehun! Astaga aku ini laki-laki, kenapa lemah seperti ini!
"A–aku ingin kau untuk–" Lagi-lagi Luhan tidak bisa berbicara dengan benar.
Sehun benar-benar dibuat gemas dengan tingkah Luhan yang gugup seperti ini. Jadi Sehun berfikir, menggoda Luhan sebentar tidak masalah kan?
"Ingin aku untuk apa hyung?" Sehun berbicara tepat didepan bibir Luhan. Ia memiringkan posisi kepalanya seakan-akan Sehun ingin mencium Luhan tepat dibibirnya. Namun Sehun tidak mendapatkan sebuah penolakan dari Luhan rupanya.
Sehun dengan perlahan memajukan jarak bibirnya ke arah bibir Luhan. Sungguh, tadinya Sehun hanya ingin menggoda Luhan yang gugup saja agar semakin gugup dan setelah itu Sehun bisa mengejeknya. Tapi sekarang sepertinya Sehun harus masuk kedalam jebakannya sendiri.
"Sehun-ah, kalian sudah ma–" Suara seorang wanita tiba-tiba berhenti. Luhan dan Sehun buru-buru bangun dari posisi ambigu mereka dan segera merapikan pakaian mereka. Padahal kan mereka tidak melakukan apapun. Kenapa harus panik seperti tadi?
"A–ah, eomma kapan da–tang?" Sehun menggigit bibirnya gugup. Bagaimana kalau ibunya itu berpikir yang tidak-tidak terhadapnya tadi? Seperti berpikir bahwa Sehun akan memperkosa Luhan dan setelah itu Luhan malah dipulangkan kerumahnya. Atau sesuatu yang lain seperti, eomma dan appanya akan membatalkan perjodohan mereka? Itu tidak boleh terjadi!
"Baru saja." Ibu Sehun malah tersenyum jahil ke arah Luhan dan Sehun yang masih berada dalam fase panik sehabis melakukan sebuah posisi yang– ambigu?
Ibu Sehun tersenyum lebih lebar ke arah Luhan yang saat pertama kali terbangun dari posisi ambigu tadi Luhan dalam keadaan seperti– berantakan? Kemeja putihnya hampir saja tersingkap keatas. Benar-benar memalukan untuk Luhan.
"Ahjumm– maksudku eomma. Ini tidak seperti yang kau bayangkan. Kami tidak–"
"Arro arro. Eomma sangat senang kalau kalian sudah sedekat ini?" Ibu Sehun memotong perkataan Luhan tadi dengan sebuah pertanyaan lebih tepatnya. Membuat Luhan bernafas lega. Setidaknya ia tidak dijadikan tersangka sebuah tindakan mesum atau apa.
"Kalau begitu kalian bisa tidur. Sudah cukup malam untuk bermain. Besok Luhan ada kelas pagi kan?" Ibu Sehun lagi-lagi tersenyum jahil menggoda Luhan dan Sehun. Dan apa tadi? Sudah terlalu malam untuk bermain? Itu terdengar menjijikan ditelinga Luhan. Main apanya! Main petak umpet!
"Ne, algeuseumnida eomma." Luhan tersenyum canggung dan membungkuk hormat pada ibu Sehun.
"Jalja, Sehunie Luhanie." Dan dengan sebuah ucapan selamat malam itu, ibu Sehun menghilang dari balik pintu. Sehun segera mengunci pintu kamarnya. Bukan, bukan karena ia ingin melanjutkan aksinya untuk– apa yang ibunya tadi katakan? Bermain? Bukan seperti itu! Ini hanya sebuah pengamanan terhadap privasi mereka saja.
"Hahhh." Luhan bernafas lega sambil terduduk diatas kasur. Ia benar-benar tidak habis pikir. Sebenarnya apa yang Sehun rencanakan? Sudahlah, Luhan hanya butuh istirahat untuk malam ini.
"Jangan segugup itu. Aku tidak bermaksud untuk–"
"Tidurlah disebelahku. Jangan tidur disofa. Kau bisa mengidap sakit punggung saat kau tua nanti." Luhan memotong kata-kata Sehun tadi.
"– ne? Kau menyuruhku apa?"
"Tidurlah disebelahku. Aku akan membuat sebuah batas dengan guling ini, oke? Jangan melewati batas atau besok kau tidak akan melihat tangan kananmu!" Jawab Luhan berbahaya. Manusia sekecil dia memiliki ancaman yang menyeramkan sekali.
.
.
.
Suara burung berkicau telah terdengar ditelinga Luhan. Sepertinya ini sudah cukup pagi untuknya bangun dari tidur panjangnya semalam. Tapi kenapa ia susah sekali bangun?
Luhan menatap kesekelilingnya. Tidak ada yang salah dengannya, hanya saja ada sebuah tangan melingkar dipinggangnya dan terasa ada benda keras berada dibelakang tengkuknya, terasa seperti– hidung?
Anak ini benar-benar ingin mati rupanya!
Luhan menggeliat pelan berniat melepaskan pelukan Sehun bodoh itu, namun disalah artikan oleh Sehun. Pria itu malah makin memeluk pinggangnya erat dan apa tadi? Luhan merasa bahwa Sehun mencium tengkuknya. Tidak, ini benar-benar sungguh berbahaya. Sehun harus dibangunkan segera.
Baru saja Luhan akan memberikan sebuah jitakan keras dikepala Sehun, namun gagang pintu kamar Sehun terlihat bergerak seperti ada yang memutarnya dari luar. Tentu saja pintu itu tidak terbuka, Sehun sebelumnya sudah mengunci pintu kamarnya semalam.
"Sehunie, Luhanie. Kalian sudah bangun?" Terdengar sebuah panggilan pelan dari luar yang Luhan asumsikan sebagai suara ibu Sehun karena wanita dirumah ini hanya ibunya saja –beberapa maid kalau ingin dihitung juga-
Luhan dengan sigap langsung terbangun kalau saja dengan bodohnya Sehun malah makin mempererat pelukannya pada pinggang Luhan membuat Luhan mau tidak mau jatuh kembali ke atas kasur.
"Yak! Oh Sehun saekki! Ireonabwa!" Luhan berusaha melepas tangan Sehun didepan perutnya untuk segera menyadarkan Sehun.
Dan sehun hanya bergumam. "Hmm..."
"Sehun-ssi! Eommamu! Dia ada didepan pintu! Dia sekarang sedang memanggil kita! Yak! ireona! Kajja!" Luhan menggoyang-goyangkan tubuhnya bermaksud untuk membangunkannya kembali.
"Yak! Oh Sehun! Ireona! Yak!" Ini adalah cara terakhir Luhan. Ia benar-benar kesal sekali. Bisa-bisanya Sehun bangun sesiang ini. Lagipula hari ini Luhan ada kelas penting dan kelas itu akan dimulai empat puluh menit lagi. Oleh karena itu–
"ARGHHH!"
Jelas itu bukan suara teriakan Luhan. Luhan bukan orang bodoh yang akan teriak sekencang itu dirumah orang lain. Luhan masih menjunjung tinggi sopan santun.
"Kenapa kau menendang penisku Luhan!" Sehun dengan segera turun dari tempat tidur dan berjongkok dilantai. Benar-benar sakit bagi Sehun karena dikejutkan seperti tadi. Terlebih kepalanya benar-benar pening sekali.
"Yak! Bisakah kau berbicara dengan nada pelan? Eommamu sedang berada didepan pintu. Ia akan berpikiran yang macam-macam nanti. Kumohon diamlah." Luhan benar-benar panik. Ia tidak mau dicap sebagai pria tidak bermoral.
"Kau! Ini aset berhargaku! Astaga ini perih sekali." Sehun mengaduh. Kali ini Luhan yakin ini bukan tipuan. Wajah Sehun memerah sampai ketelinga. Apa benar-benar sesakit itu?
Luhan merangkak turun dari kasur dan berjongkok didepan Sehun dengan wajah khawatir. Apa yang harus ia lakukan?
"Mianhaeyo. Aku tidak bermaksud menyakitimu seperti ini Sehun-ssi." Luhan menunduk. Ia sebenarnya ingin membantu. Tapi bagaimana caranya?
Sehun menghela nafas. Tiba-tiba rasa sakitnya hilang entah kemana sejak ia melihat tingkah polos Luhan. Luhan benar-benar menggemaskan sekali. Apalagi sehabis bangun tidur seperti ini.
"Lu..."
"Hmm?"
Sehun menarik pelan dagu Luhan keatas agar Luhan dapat melihat tepat dimatanya. Ia menyukai mata berbinar rusa milik Luhan. Sangat-sangat manis dan pas sekali untuknya.
"Kau bisa membantuku untuk– orgasm." Sehun tersenyum miring dan menaikkan sebelah alisnya jahil bermaksud menggoda pria yang lebih tua. Sehun tidak menyangka kalau reaksi Luhan seperti ini. Wajahnya tiba-tiba merona seperti anak gadis dan itu menggemaskan sekali untuk Sehun.
"Yak! Aku pria tapi aku tidak pernah berpikiran mesum seperti dirimu brengsek!" Luhan menendang lutut Sehun sampai Sehun jatuh terjengkang kebelakang dengan wajah senang bukan main. Sepertinya menggoda Luhan dipagi hari akan masuk dalam daftar jadwal pagi Sehun.
Luhan segera berjalan menuju pintu berniat membuka pintu kamar Sehun namun–
BRUKK...
"Damn it!" Luhan mengumpat keras. Ia benar-benar tidak ingin mengumpat. Tapi Demi Tuhan Luhan terkejut dan bokongnya– astaga.
Luhan jatuh. Jatuh dengan tidak elitnya. Bokongnya mutlak mencium lantai kamar Sehun. Dan itu rasanya sakit sekali. Luhan tidak akan berjanji akan bisa duduk diatas kursi setelah ini.
"LUHAN-SSI! / LUHANIE!" Dua orang meneriaki namanya dengan panggilan berbeda. Yang pasti panggilan manis Luhanie itu dari orang yang tengah menyebabkan ini semua terjadi, ya ibunya Sehun.
Saat Luhan akan membuka pintu kamar, dari luar seseorang mendorong pintu –ibu Sehun- yang Luhan ingat bahwa pintu kamar Sehun sudah dikunci sejak semalam. Jangan bilang bahwa–
"Luhanie, eomma mian." Wajah ibu Sehun panik sekali dan segera membantu Luhan berdiri dari posisi terjatuh yang ingatkan pada Luhan bahwa posisi tadi benar-benar menyakitkan untuknya.
Luhan hanya tersenyum canggung. Tangan kanannya mengusap keningnya yang mencium pintu kayu Sehun dan tangan kirinya menetralisir nyeri di bokong cantiknya. Luhan benar-benar akan murka kalau saja yang melakukannya bukan ibu Sehun. Tanyakan saja pada Tao, sepupunya. Ia tidak segan-segan menendang kembali bokong pelakunya.
"Tadi eomma pikir kalian memang terlambat bangun atau apa. Eomma ingat kalau Luhan hari ini harus masuk pagi dan Sehun hari ini juga ada pertemuan dikantor. Oleh karena itu eomma menyewa tukang kunci untuk membobol kamar kalian tadi. Mian." Ibu Sehun terlihat begitu khawatir. Ia mengelus pundak Luhan berkali-kali meminta maaf.
"Eomma! Aku sudah bilang kan kalau harus menjaga privasi satu sama lain! Bagaimana kalau tadi aku atau Luhan tengah bertelanjang sehabis mandi? Apa eomma tidak berpikir demikian?" Sehun mengusap wajahnya kasar. Tidak habis pikir dengan ide gila ibunya itu. Membobol kamar? Apa tidak ada yang lebih mengerikan dari ini eomma?
"Eomma kan sudah minta maaf! Kenapa jadi kau yang marah-marah? Yang terjatuh itu kan Luhan bukan kau!"
"Arro arro, gwenchanayo eomma Sehun-ssi. Aku akan mandi sekarang. Kelas akan dimulai empat puluh menit lagi. Excuse me." Luhan segera berlalu. Daripada membuang waktu mendengarkan keluarga itu berdebat. Lebih baik ia merapikan diri sesegera mungkin.
.
.
.
"Gomawo Sehun-ssi– "
"Sehun saja. Aku tidak suka menggunakan bahasa formal dengan orang yang sudah ku kenal." Instruksi Sehun geram.
"Baiklah Sehun-ah, semoga pertemuan hari ini berjalan lancar. Fighting!"
Luhan melambaikan tangannya dari luar mobil Sehun. Ya, Luhan berangkat bersama Sehun pagi ini. Ibu Sehun bilang kalau kantor Sehun satu arah dengan kampus Luhan. Luhan tidak akan menolak kan? Tumpangan gratis ha-ha.
Baru saja Luhan membalikkan badannya menuju arah kampus, ia dikejutkan dengan tatapan penuh tanda tanya dari teman-teman satu kampus yang mana tidak semua Luhan kenal. Tapi Luhan pikir pasti mereka mengenal dirinya.
"KENAPA LIHAT-LIHAT!" Luhan menatap ketus kepada semua orang disana yang menatap Luhan dengan tatapan mengerikan.
Saat Luhan berjalan ia mendengar sebuah beberapa bisikan yang benar-benar mengganggu pendengaran Luhan.
"Bukankah itu Luhan sunbae dari fakultas psikologi? Hari ini kenapa dia naik mobil orang lain? Dia tampak pucat. Apa dia masih sakit?"
"Luhan sunbae datang dengan siapa? Kau melihatnya? Ia seperti datang dengan seorang pria. Apa Luhan sunbae berkencan dengan pria itu?"
"Aku bertaruh Luhan sunbae menjadi bottom dalam hubungan itu. Wajahnya terlalu imut untuk menjadi seme. Benarkan?"
"Aku pernah melihat mobil itu di kantor ayahku. Yang kutahu itu adalah mobil anak dari pemilik HH Coorperation. Dan tadi Luhan sunbae baru keluar dari mobil itu kan?"
Bagus. Bagus sekali. Sekarang bukan hanya Luhan yang terkenal. Tapi Sehun juga akan ikut terekspos. Bagus. Mereka sekarang malah salah paham dengannya.
Luhan berjalan malas masuk menyusuri lorong panjang untuk sampai ke kelasnya. Dengan tidak lupa ia menyematkan earphone ditelinganya.
Masih saja membahas aku dengan Sehun. Mereka tidak ada kerjaan lain apa?
"Luhan sunbae!" Seseorang meneriaki namanya dari belakang. Luhan enggan menengok. Jadi ia diam menunggu orang yang bersangkutan mendekat kearahnya.
"Luhan sunbae, kau mendengarku kan?" Ah, ternyata Lee Taemin hoobaenya yang berbeda satu angkatan dengannya. Luhan tersenyum menyiratkan kalimat ada apa? kepada Taemin.
"Seseorang dari mobil hitam mahal itu memberikan ini. Katanya dompetmu tertinggal didalam mobil tadi." Taemin menyodorkan dompet kulit kepada Luhan dan memang itu milik Luhan.
"Dompet? Benarkah aku meninggalkannya dimobil?" Luhan meraba-raba jaketnya dan saku celana bagian belakangnya. Ah benar, dompetnya tertinggal dimobil Sehun tadi.
"Ne, gomawo Taemin-ah." Luhan tersenyum lagi pertanda terimakasih kepada hoobaenya itu, dan segera hendak pergi kekelasnya kalau saja Taemin tidak menarik lengannya pelan.
"Dan dia bilang kalau kau dan dia harus pulang bersama nanti–" Taemin gantian tersenyum pada Luhan namun semacam senyum menyebalkan untuk Luhan. Apa dia mengejek sunbaenya yang tampan ini?
"– dan jangan lupa meneleponnya saat kelasmu sudah selesai. Dia akan selesai meeting pukul dua siang ini."
Luhan membelalakkan matanya. Sehun benar-benar!
"Neo! Dibayar berapa kau olehnya sampai menjadi penitip pesan seperti itu? Dia sengaja ya menitipi pesan padamu agar seisi kampus mendengarnya dan membuat gosip tentangku!"
Luhan berang. Sehun benar-benar kurang ajar sekali. Kalau ia berniat untuk mengancam Luhan, Luhan harap tidak menggunakan cara menjijikan ini.
Luhan segera mencari ponselnya disaku jaketnya dan segera menelepon ke nomor Sehun –yang tentu saja Sehun menyimpannya secara diam-diam diponsel Luhan dan Luhan sudah menyadarinya tadi pagi- Ini benar-benar menjijikan sekali.
Ya! Oh Sehun eodiseo! Awas kau! Aku akan membunuhmu!
.
.
.
Seharian Luhan tidak memperhatikan pelajaran bahkan absen satu pelajaran tadi. Ia benar-benar tidak konsentrasi saat ini. Telinganya benar-benar sakit mendengar anak-anak kampus terus saja membahas dia dengan Sehun. Jadilah Luhan pergi dari kelas menuju atap kampusnya.
"Oppa!" Sebuah suara indah mengalun ditelinga Luhan. Ia segera menengok melihat siapa gerangan pemilik suara itu. Dan benar, itu Chorong. Ia menunggu kedatangan gadis itu dari tadi pagi tapi Luhan tak kunjung melihatnya.
"Chorongie~" Luhan mengusak rambut Chorong seperti biasa. Membuat rona-rona merah dipipi putih Chorong lebih terlihat. Luhan senang sensasi seperti ini.
Chorong duduk tepat disamping Luhan. Mereka berada disebuah bangku panjang diatap kampus. Entah siapa yang bilang pada gadis ini kalau Luhan berada diatap tapi Luhan senang karena Chorong peka sekali terhadapnya.
"Oppa sudah makan? Aku membawakan ini. Kau harus makan. Kudengar wajahmu pucat tadi pagi. Kau masih sakit hm?" Chorong menyentuh kening Luhan dengan punggung tangannya untuk memastikan bahwa Luhan tidak demam atau apa.
"Ne, gomawo. Aku akan memakannya nanti. Gwenchana, aku tidak sakit sama sekali. Hanya sedang banyak pikiran saja. Kkokjeongmal."
~Aye Oh- Too much neoya your love. Igeun overdose~
Ponsel Luhan berdering cukup nyaring pertanda ada sebuah telepon masuk. Luhan tersenyum sekilas ke arah Chorong dan segera beranjak dari duduknya. Ia sebelumnya izin pada Chorong untuk mengangkat telepon.
From: Sehun saekki
"Yeoboseyo?"
"..."
"Shirreo!"
"..."
"Katakan saja ditelepon. Tidak perlu bertemu."
"..."
"Arraseo arraseo yaksokhae. Eodiga?"
"..."
"Shikeuro!"
Luhan segera memutus sambungan telepon secara sepihak. Apa-apaan Sehun tadi memanggilnya sayang. Memang dia pikir Luhan itu kekasihnya dia apa! Hell no! Sampai kapanpun Luhan tidak akan menjadi gay!
"Chorong-ah, kau tidak ada jadwal lagi hari ini?" Luhan berbasa-basi sebenarnya.
"Ani. Aku sudah menyelesaikan mata kuliahku hari ini. Dan sebenarnya aku ingin mengajak oppa nonton, ada film bagus. Eotte?"
Bagus sekali. Sehun mengajaknya bertemu disaat yang tidak tepat. Jadi Luhan harus memilih siapa? Bertemu dengan Sehun yang katanya memiliki kabar penting atau memilih menonton dengan Chorong gadisnya?
Luhan menarik nafas dan menghela nafas berkali-kali. Ia tengah berpikir. Apa bisa ya Luhan pergi menonton setelah itu pergi bertemu Sehun? Tidak apa kalau Sehun menunggu sebentar. Luhan tidak perduli.
"Aku ada waktu. Mari kita menonton."
.
.
.
Luhan dan Chorong tengah duduk dikursi tunggu. Filmnya diundur beberapa menit oleh karena itu mereka berdua menunggu disana. Luhan benar-benar tidak tenang entah kenapa. Beberapa menit sekali Luhan selalu melirik ke arah jam tangannya. Waktu benar-benar lama sekali berjalan. Lima belas menit saja terasa satu jam untuk Luhan.
"Oppa, filmnya akan mulai. Tarrawa." Chorong tersenyum manis dan menarik tangan Luhan pelan untuk mengikutinya masuk kedalam bioskop.
Tidak ada suara apapun antara Luhan dan Chorong. Entah Luhan jengah dengan film yang sekarang sedang diputar. Luhan menengok ke arah kanan tepat ke arah Chorong. Gadis itu nampak menikmatinya.
Film percintaan. Luhan membencinya. Ceritanya seperti itu saja dari dulu sampai sekarang. Pemeran utamanya membenci si wanita begitu pula dengan wanitanya. Tapi setelah itu mereka berdua saling mencintai dan berkencan. Klise. Itu menurut Luhan.
Dua jam berlalu. Nama dari pemeran film tersebut sudah berjalan dari bawah ke atas layar film. Luhan sekali lagi melirik jam tangannya. Ini sudah pukul lima sore dan diluar hujan.
Bagus. Hujan. Sehun pasti sudah pulang kerumahnya dan tidak jadi membicarakan hal yang katanya penting itu. Lagipula besok masih ada hari. Kenapa harus hari ini membicarakannya?
Luhan mengantar Chorong menuju rumahnya yang kebetulan tidak jauh dari bioskop yang Luhan datangi.
"Hati-hati oppa. Sedang hujan begini akan ada banyak kabut. Jangan mengebut, arra?" Kata Chorong memperingatkan.
"Ne. Aku pulang duluChorong-ah." Luhan melambaikan tangannya sambil tersenyum dari dalam mobilnya. Setelah memastikan Chorong sudah masuk kedalam rumahnya, Luhan segera menancapkan gasnya.
~Aye Oh- Too much neoya your love. Igeun overdose~
Apa ini? Nomor tidak dikenal? Ini pasti dari nomor yang tidak jelas itu. Yang suka menawari Luhan sebuah casting untuk menjadi model. Luhan trauma. Waktu itu ia masih bodoh dan ia percaya saja. Ternyata ia akan dijadikan model pakaian dalam. What the hell. Luhan kabur setelahnya.
~Aye Oh- Too much neoya your love. Igeun overdose~
Sepertinya dugaan Luhan salah. Nomor iseng itu tidak pernah meneleponnya lebih dari satu kali. Tapi kenapa Luhan memiliki perasaan yang tidak enak ya?
"Yeoboseyo?"
"..."
"Sehun? Aku baru saja pulang dari kampus eomma. Aku tidak bersama dia. Ada apa memangnya?"
"..."
"Belum pulang? Mungkin ada lembur?"
"..."
"Jeongmalyo?–"
Luhan menutup panggilan itu secara sepihak. Maafkan Luhan ya ibu Sehun. Ia tidak bermaksud tidak sopan. Tapi Luhan memiliki sebuah feeling kalau Sehun masih menunggunya? Kalau sampai benar, Sehun adalah orang terbodoh sedunia.
Seoul benar-benar tidak berbaik hati pada Luhan. Saat sedang benar-benar genting seperti ini kenapa jalanan macet sekali? Padahal biasanya tidak sampai seperti ini.
"FUCK! Kenapa tiba-tiba Seoul semacet ini!" Luhan mengumpat keras. Ini benar-benar akan memakan waktu lama kalau ia tetap bertahan melewati jalan ini.
Ia berinisiatif mengambil jalan memutar. Tak apa kalau jauh yang penting ia tidak mebuang waktu melewati jalan yang sama.
"C'mon dude! Kau bisa lebih dari ini Luhan. Tancap gasnya lebih cepat!"
.
.
.
Jam menunjukkan pukul tiga sore. Ini sudah jamnya Luhan pulang dari kampus kan? Sehun harus segera bersiap-siap pulang. Ia benar-benar tidak ingin membuat Luhan menunggu ditempat duduk itu.
Sehun merapikan berkas-berkas yang berserakan diatas mejanya dan segera menumpuknya dengan rapi. Ia memasukkan ponselnya ke saku jas bagian dalamnya. Meletakkan kacamata kedalam tempatnya.
"Aku akan pulang. Kirimkan aku email kalau berkasnya sudah selesai." Sehun segera berjalan cepat menuju resepsionis. Ia ingin diantar saja oleh Ahn ahjussi. Oleh karena itu ia ingin menitipkan mobilnya dikantor.
"Aku titip mobil! Dan katakan pada Ahn ahjussi untuk menemuiku didepan kantor dengan mobilnya!" Sehun berbicara dengan setengah berteriak dan melempar kunci mobilnya kearah seorang wanita muda yang diketahui bernama Park Sooyoung.
Menunggu lift tidak pernah selama ini bagi Sehun. Ini benar-benar terasa ia membuang waktu lima belas menit didepan lift padahal belum sampai satu menit berlalu. Dan dengan bodohnya Sehun memilih tangga darurat untuk turun.
Apa Luhan akan datang ya?
Terdengar sebuah ring back tone dari seberang sana. Lagu dari seorang penyanyi China bernama Hangeng menyapa pendengaran Sehun saat sedang menghubungi Luhan.
Telepon pertama; Luhan tidak mengangkatnya.
Telepon kedua; Luhan mereject panggilannya.
Telepon ketiga; Luhan menon aktifkan ponselnya.
Apa ia sedang sibuk dan belum pulang dari kampus? Haruskah aku menjemputnya terlebih dahulu?
Pilihan terakhir, Sehun tidak berniat untuk menjemput Luhan. Biarkan saja, lagipula Luhan mendapatkan mobilnya hari ini. Untuk apa Sehun menjemputnya?
"Gamsahabnida ahjussi. Berkendara dengan hati-hati, arraseoyo?" Sehun untuk pertama kalinya tersenyum terhadap orang lain. Biasanya ia memiliki wajah datar. Office boy pun enggan menyapanya. Hanya mengagumi dalam diam saja.
"Tuan benar-benar tidak ingin ditemani? Maksud saya tidak ingin saya tunggui sampai orang yang tuan ingin temui sampai?" Sekali lagi Ahn ahjussi menawarkan. Tapi Sehun menggeleng sekali lagi. Bisa-bisa ini menjadi gosip. Sampai Luhan tahu, Sehun lah orang pertama yang disalahkan.
Ia berjalan pelan menuju tempat yang sudah dijanjikan antara ia dan Luhan.
Mendung.
Apa mungkin sore ini akan turun hujan? Kalau iya, habislah sudah Sehun. Ia tidak membawa mobilnya. Ia meninggalkan mantelnya dijok belakang mobil. Disini juga tidak ada tempat berteduh. Jalan satu-satunya adalah Luhan harus segera datang kemari.
–––
30 menit.
–––
"Luhan eodiseo?" Sehun bergumam sendiri. Ini sudah lewat dari setengah jam dan Luhan belum juga sampai. Apa selama ini materi kuliahnya? Setahu Sehun, Luhan itu anak pintar. Ia tidak mungkin memakan waktu lama untuk mengerjakan soal-soal sulit sekalipun.
"Apa aku harus menunggu atau pulang saja?" Lagi-lagi Sehun bergumam, bermonolog untuk mengusir sunyi disekitarnya. Ia mendongak ke atas. Awan sudah sangat hitam sekali. Ini benar-benar pertanda buruk untuk Sehun. Dan–
BRUSS...
Hujan benar-benar turun dengan sangat banyak sekali. Tidak tanggung-tanggung, Sehun basah kuyup seketika.
"Luhan, kau benar-benar keterlaluan. Kenapa kau tidak mengabariku?" Sehun tanpa sadar menangis tanpa suara. Luhan sudah berjanji akan datang. Kalaupun Luhan tidak ingin bertemu dengannya, cukup kirimi Sehun pesan setelah itu Sehun bisa pulang dengan tenang. Tapi sekarang? Sehunpun tidak tahu dimana Luhan. Apa dia benar-benar masih dikampus atau malah sedang bersenang-senang dengan orang lain.
Sehun memberi sebuah toleransi 30 menit untuk Luhan walaupun kondisi tubuhnya mulai melemah. Sehun benci hujan. Tidak pernah ia hujan-hujanan hanya untuk menunggu seseorang seperti ini. Dan Luhan adalah tersangkanya. Tersangka yang membuat Sehun basah kuyup dan kecewa.
Matanya sudah mengabur. Sehun terlalu lama berada dibawah hujan tanpa pelindung apapun untuk melindungi kepalanya. Fisiknya benar-benar melemah. Ia merasa ingin pingsan saja sekarang. Tapi tidak ada yang menjamin ada orang baik yang akan menyeretnya dari derasnya hujan kan?
Bertahanlah Sehun. Luhan pasti datang.
"Sehun-ah! My God. Apa yang kau lakukan disini? Astaga!Yak!"
Sehun mendengar sesuatu. Suara pria. Suara Luhannya. Luhannya benar-benar datang. Luhannya tidak mengingkari janji. Masih sama seperti dulu. Luhannya tidak akan mengabaikannya sebenci apapun ia dengan Sehun.
Saat Sehun merasakan sebuah tangan halus mengusap pipinya lembut, saat itu juga Sehun tidak sadarkan diri. Ia jatuh dipelukan Luhan.
.
.
.
.
TBC
