I Think I Love You

Cast:

Oh Sehun

Luhan

-HunHan-

Rated:

T = Tentukan sendiri(?)

Genre:

Romance, Family, Relationship, Boys Love –Shounen ai-

.

.

.

.

Kata orang, dunia ini sempit. Kalau kau bertanya itu benar atau tidak pada Luhan, pasti ia akan bilang "Itu hanya teori bodoh!" Tapi setelah ia bertemu dengan sosok Sehun, Luhan yakin ia bisa menjelaskan sesempit apa dunia ini.

.

.

.

.

.

"Sehun-ah! My God. Apa yang kau lakukan disini! Astaga!Yak!" Luhan berlari keluar dari mobilnya. Ia tidak perduli dengan pakaiannya yang basah. Yang terpenting saat ini hanya Sehun. Sehun bisa mati kedinginan kalau ia masih banyak berpikir.

Wajah Sehun pucat. Nyaris seperti mayat. Matanya terpejam. Luhan yakin setelah ini Sehun pasti tidak sadarkan diri.

"Sehun-ah! Ya! Ireona!" Luhan menangkup pipi Sehun. Mengusapnya pelan. Luhan kasihan dengan Sehun. Kenapa dengan bodohnya Sehun menunggu ditempat seperti ini? Dan dimana mobilnya?

Dengan sekuat tenaga Luhan membopong Sehun untuk masuk kedalam mobilnya. Luhan membuka pintu belakang mobilnya dan menidurkan Sehun disana. Ia membuka jas Sehun dan menggantinya dengan jaket hangat Luhan yang memang sudah disediakan didalam mobil untuk berjaga-jaga.

Jantung Luhan benar-benar ingin meledak saat ini sangking takutnya ia terhadap kondisi Sehun. Sehun itu pewaris, Luhan harus ingat itu. Kalau sampai ada apa-apa dengan Sehun, Luhanlah orang yang pertama kali disalahkan.

Sepertinya saat ini dewi keberuntungan berpihak padanya. Jalanan Seoul yang baru beberapa menit yang lalu macetnya bukan main kini lenggang kembali. Itu membuat Luhan lega. Ia bisa membawa Sehun cepat-cepat kerumahnya.

"Jiejie, papa ada didalam?"

"..."

"Tolong katakan padanya untuk keluar dengan membawa payung."

"..."

"Ppali! Aku butuh bantuan papa!"

"..."

"Ne."

Seorang pria paruh baya keluar dari sebuah rumah besar. Ya, itu Tuan Xi ayah dari Luhan. Ia setengah berlari keluar dengan membawa payung. Anaknya memang kurang ajar sekali menyuruhnya yang sudah tua ini berlari di tengah hujan seperti ini. Ia harus mengajarkan anaknya ini nanti.

"Papa!" Luhan berteriak dari dalam mobil sambil melambaikan tangannya. Papanya segera berjalan cepat menuju mobil anaknya itu dengan gelisah. Apa yang terjadi dengan anaknya?

"Ada apa sayang? Kenapa menyuruhku keluar dihujan lebat seperti ini?" Papanya berbicara melewati kaca mobil yang sebelumnya sudah dibuka separuh oleh Luhan.

"Sehun! Sehun tidak sadarkan diri. Bantu aku untuk membawanya kedalam." Luhan segera keluar dari mobilnya dan membuka pintu belakang tempat Sehun berada. Papanya terperanjat. Sehun? Apakah dia Sehun yang kemarin keluarga mereka temui? Luhan menolaknya mentah-mentah tapi kenapa anaknya itu sekarang satu mobil dengan Sehun?

"Papa, ppaliwa!"

.

.

.

"Jadi ada apa dengan kau dan Sehun? Kenapa kalian bisa bertemu dalam keadaan seperti ini?" Itu ibunya. Ibunya sedari tadi bertanya hal yang sama pada Luhan. Luhan pusing. Kepalanya mendadak pening saat membopong Sehun kekamar tadi.

"Geumanhaeyo." Luhan memejamkan matanya. Ia lelah. "Kita bisa bicarakan besok pagi. Aku lelah. Aku tidak ingin berdebat saat ini." Ia mengibaskan tangannya tidak perduli.

"Yak! Luhanie!" Ibunya lagi-lagi berteriak tepat didepannya. Kalau saja ibunya itu adalah temannya mungkin Luhan sudah main tangan.

"Mama, sudahlah. Mama dengar kan apa yang Luhan bilang? Ia akan menceritakan pada kita besok. Sekarang kita pergi. Biarkan Luhan dan Sehun beristirahat, eoh?" Itu kakanya. Kakanya memang yang terbaik. Luhan harus berterimakasih padanya setelah ini.

"Jaga Sehun baik-baik. Kau harus bertanggung jawab Luhan-ah."

Setelah itu ibu dan kakaknya pergi meninggalkan kamar Luhan. Luhan segera menutupnya dengan rapat dan mengunci pintu kamarnya.

Ibunya terkadang –bahkan sering- sangat mengganggu. Luhan baru saja pulang. Ia kehujanan. Ia sakit. Tapi kenapa ibunya tidak pernah mengerti?

"Yeoboseyo?"

"..."

"Eomma, Sehuniega.."

"..."

"Sehun menginap dirumahku malam ini. Gwenchanchi?"

"..."

"Aniyo, Sehun sedang tidur sekarang. Ia agak tidak enak badan. Aku akan menceritakannya besok."

"..."

"Ne eomma. Jaljayo."

.

.

.

"Apa musim dingin datang lebih cepat? Bahkan ini belum waktunya tapi kenapa dingin sekali, aigoo.." Luhan bermonolog saat memilih baju tidurnya. Dingin udara benar-benar menusuk kulitnya. Itu membuat Luhan dengan segera mengacak-acak pakaiannya agar segera terlindungi dari udara dingin.

"Jangan terlalu banyak berpikir. Ambil pakaian yang ada atau kau akan terus seperti itu dan mati kedinginan."

Luhan terkejut hampir saja melompat dari tempatnya berdiri. Apa Sehun sudah bangun?

Ia menoleh kearah ranjangnya dan benar, Sehun sudah sadar. Ia terduduk diranjang dengan kepala menyandar pada kepala kasurnya. Wajahnya sangat pucat. Itu membuat rasa bersalah Luhan terasa kembali.

"Kau sudah sadar?" Luhan memakai asal pakaian yang berada ditangannya dan segera berjalan menuju ranjang. Ia segera mengecek suhu tubuh Sehun dengan menempelkan punggung tangannya ke kening Sehun.

"Kau mengganti pakaianku?" Sebenarnya bukan pertanyaan itu yang ingin Luhan dengar. Sehun tidak memiliki pertanyaan yang lain apa?

"Papa yang melakukannya. Aku terlalu shock sampai berlari kedapur untuk mengambil kotak p3k tadi. Padahal dikamarku sendiripun ada kotak itu. Bodoh sekali."

"Ah, padahal aku berharap kau yang me– aww." Sehun mengaduh. Kepalanya masih pening dan Luhan menambahnya dengan sebuah pukulan penuh cinta dari tangannya yang kurus itu. Tidak, sekurus apapaun badan Luhan ia tetaplah pemain sepak bola. Ia memiliki kekuatan. Sehun harus hati-hati.

"Mani appa!" Sehun mengelus kepalanya. Sehun tidak acting, ini murni sakit. Kepalanya makin pening sekarang.

"Kau berlebihan Sehun-ah. Itu hanya– reflek." Setelahnya Luhan meninggalkan Sehun kemeja belajarnya tanpa rasa bersalah. Besok ia harus mengumpulkan tugasnya. Tapi ia belum menyelesaikannya.

"Yak! Neo michosseo! Kau memukul kepalaku dan tidak meminta maaf? Aigoo."

"Mian."

"Ne? Kau bilang apa tadi?" Sehun membelalakkan matanya. Sehun tidak berpikir semudah ini untuk Luhan berkata maaf.

"Mian. Karena aku, kau jadi tidak sadarkan diri. Seharusnya kau tidak–"

CUP–

Sehun menciumnya. Sehun mencium pipinya. Ya Tuhan! Sejak kapan anak itu berada disebelah Luhan?

"Jangan katakan apapun. Ini bukan salahmu. Jangan membuat sebuah beban untukmu, arra?"

Apa ini? Kenapa jantungku berdetak dua kali lebih cepat? Astaga. Apa aku sudah gila?

.

.

.

"Aku akan datang siang ini. Jangan khawatir, semua sudah selesai."

"..."

"Aku mengerti. Bersenang-senanglah Baekhyun-ah."

Luhan mematikan sambungan ponselnya. Itu Baekhyun adiknya. Dia rewel sekali. Seperti Luhan anak yang paling bodoh difakultas saja sampai-sampai ia mengingatkan Luhan untuk mengumpulkan tugas dan bertanya tentang sumber apa saja yang Luhan pakai sebagai referensi tugasnya. Suaranya seperti tidak percaya kalau Luhan bisa melakukannya.

Ibu, papa, dan kakaknya sudah siap untuk makan dimeja makan. Begitu juga dengan Luhan. Ia segera duduk ditempatnya dan mengambil selembar roti juga segelas susu setelahnya.

"Jadi, ingin bercerita Luhan-ah?" Itu ibunya. Ibunya memang selalu memulai-mulai dan akan membuat hari Luhan tidak mengenakkan. Itu adalah perkerjaan wajib ibunya, menurut Luhan. Dan Luhan benci ibunya itu.

"Gwenchanayo eomma." Luhan menjawab sekenanya. Lagipula Sehun bilang untuk jangan menyalahkan diri sendiri. Luhan hanya ikut-ikutan menanamkan itu dalam hati.

"Mwo gwenchana! Kau membawa Sehun dalam keadaan tak sadarkan diri, dan kau masih bilang tidak apa-apa?" Teriakan ibunya adalah hal yang Luhan benci didunia ini.

"Nan–"

"Aku memiliki sebuah janji disuatu tempat dengan Luhan. Tapi Luhan ternyata memiliki materi tambahan karena kudengar ia sedang dalam masa sulit. Ponselnya mati dan ia tidak bisa mengabariku. Aku sangat tahu dia sibuk. Gwenchanayo eommonim."

Itu suara Sehun. Bagus sekali ia menyelamatkan Luhan. Sehun datang disaat yang sangat tepat.

Suara Sehun pertanda baik untuk Luhan saat ia menyelamatkan Luhan dari bahaya tadi. Tapi kalau bangunnya Sehun dari tidur menyebabkan mereka harus makan bersama dimeja makan, lebih baik Sehun tidak melakukannya. Luhan muak sekali melihat wajah Sehun.

"Jadi apa kalian sudah menentukan dimana kalian bulan madu? Kurasa hari pernikahan kalian sudah dekat."

Uhuk–

Itu suara Luhan tentu saja. Ia benar-benar terkejut sampai-sampai menyemburkan jus jeruknya. Benar-benar memalukan.

"Luhan-ah, neo gwenchana?" Sehun segera mengambil tissue makan dan memberikannya kepada Luhan. Kenapa Luhan harus terkejut sampai seperti ini? Memangnya ada apa dengan bulan madu?

"Tidak ada yang menikah. Jadi kenapa harus berbicara bulan madu!" Luhan berbicara dengan cukup keras didepan ibu, papa, dan kakaknya. Luhan tidak pernah seperti ini walaupun ia benar-benar membenci ibunya.

~Aye Oh- Too much neoya your love. Igeun overdose~

Luhan menghela nafas pelan. Siapa si brengsek yang pagi-pagi seperti ini meneleponnya? Benar-benar merusak suasana hati Luhan.

"Yeoboseyo? Nuguya saekki!"

"..."

"Mwo? Jinjja? Neo eodisseo?!"

"..."

"Ne, chakkaman."

"Aku pergi." Luhan berlari kencang menuju garasinya. Hanya ada satu pilihan, Luhan harus menggunakan motornya hari ini. Chorong sedang dirumah sakit, dan Luhan tidak mau menemukan macet di Seoul sepagi ini.

.

.

.

Ini benar-benar rekor untuk Luhan. Rumah sakit Aeri berada cukup jauh dari rumah tapi ia bisa menempuh perjalanan hanya dalam waktu lima belas menit. Secepat apa Luhan saat di perjalan? Apa Luhan bisa disebut Valentino Rossi? Ha-ha.

Luhan benar-benar melayang. Ia benar-benar tidak merasa berpijak ditanah. Jantungnya berpacu cepat. Ini benar-benar mengkhawatirkan untuk Luhan.

Sepagi ini Luhan mendapat kabar buruk. Chorongnya kecelakaan. Dan sekarang dilarikan kerumah sakit. Apa yang harus Luhan lakukan?

"Chorong eodisseo?" Luhan berlari seperti orang gila sekarang. Ia menanyai setiap orang yang lewat dengan pertanyaan yang sama. Mereka memandang Luhan dengan iba. Mungkinkah pria itu sangat mencintai orang yang bernama Chorong itu? Begitulah pikiran mereka semua.

Luhan menyusuri lorong rumah sakit dengan tergesa-gesa. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tak bertahan dan berdesakkan jatuh dipipinya. Jantungnya benar-benar ingin lepas dari tempatnya, Luhan bukan main panik saat ini.

Beberapa perawat yang berjaga ditempat resepsionis sampai terlonjak dari kursi putar. Luhan membentak mereka karena Luhan pikir mereka sangat lamban dalam mencari informasi. Biar orang bilang Luhan gila. Yang terpenting sekarang itu adalah Chorong, bukan yang lain.

"Saudari Chorong berada dikamar nomor 12 disebelah kiri lorong tuan."

Lorong benar-benar terasa panjang sekali bagi Luhan. Sebelumnya Luhan pernah kemari saat menemani Luna untuk cek dan lorong yang Luhan lewati tidak pernah sepanjang ini dulu.

"10..."

"11..."

"Jia-ya, Chorong eodisseo?" Luhan mengguncang bahu Jia –teman satu kelas Chorong- dengan kencang. Jia, gadis itu juga sama-sama menangis. Dari penglihatan Luhan, Jia juga seperti masih shock dengan kejadian ini.

"Luhan gege, kau tidak perlu masuk. Chorong jinjja gwenchana."

Tiba-tiba saja isak Luhan bak orang gila tadi berhenti dan wajahnya berubah sangat serius. Mata rusanya menatap penuh tanya ke arah Jia.

"Apa maksudmu aku tidak boleh masuk? Chorong kecelakaan dan kenapa juga aku tidak perlu masuk? Kau pikir kau ini siapa?"

"Mianhae gege, maksudku bukan begitu. Hanya saja kau tidak perlu–" Suara Jia berhenti. Tatapan yang Luhan tujukan benar-benar mengerikan sekali.
"– mengkhawatirkan dia."

Suara Jia bagai angin lalu untuk Luhan. Dia sudah sampai disini untuk Chorong dan dengan mudahnya Jia menyuruhnya untuk pulang tanpa tahu bagaimana keadaan Chorong. Memangnya dia pikir Luhan ini siapa? Tidak ada yang bisa melarang Luhan seperti ini.

SRETT–

Pintu kamar nomor 12 itu terbuka perlahan. Dari luar Luhan dapat melihat seseorang tengah duduk disebelah ranjang kamar itu. Tapi kenapa ada seorang pria disana?

"Cho– nuguya?" Luhan seketika terkejut. Setau Luhan, Chorong memang memiliki kakak laki-laki tapi Luhan paham betul bagaimana wajahnya. Kakaknya itu tinggi sekali dan memiliki wajah tampan yang unik –Park Chansung- tapi sosok pria ini benar-benar berbeda. Luhan seperti pernah melihatnya–

Astaga, kenapa dia ada disini?

"Ke– kenapa kau disini?"

"Luhan? Neo Luhan matchi?" Pria itu beranjak dari tempat duduknya dan menyipitkan matanya untuk melihat Luhan lebih jelas. Pria itu masih mengenal Luhan walaupun ya Luhan sudah banyak sekali berubah.

"Yak! Neo nuguya?"

"Kau sedang apa disini gege?" Pria itu berjalan pelan kearah pintu, lebih tepatnya kearah Luhan. Luhan melepas genggamannya dari gagang pintu kamar dan perlahan berjalan mundur.

"Kenapa kau disini! Siapa kau berani-beraninya masuk kekamar Chorong!" Dengan setengah berteriak Luhan menunjuk-nunjuk pria itu dengan telunjuknya dengan wajah memerah, ia menahan amarah.

"Memangnya kau siapa hah? Kau kekasih Chorong? Apakah terlalu banyak datang ke club malam membuatmu bodoh seperti ini ge?" Pria itu tersenyum miring kearah Luhan dan menggenggam dengan keras pergelangan tangan Luhan.

Luhan membelalakkan matanya. "Ya! Jangan sentuh aku brengsek!" Ia dengan segera melepas paksa lengannya dari pria itu dan makin berjalan mundur kebelakang.

"Kenapa? Kau takut padaku– Lu deer?"

Seketika Luhan benar-benar mual dengan panggilan itu. Luhan suka saat Luna memanggilnya Lu deer tapi tidak dengan Kris. Luhan benci mendengar suaranya yang menyebut nama Luhan.

"Kau merebut kekasihku! Kau menghamilinya! Dan sekarang? Kau sekali lagi merebut apa yang jadi hak ku? Dasar bajingan!"

BUGG–

Luhan tersungkur membentur tembok rumah sakit. Nyeri dipunggungnya belum sembuh benar dan sekarang ia harus terkena benturan dinding beton. Apa Luhan sudah siap tidak memiliki tulang setelah ini?

"A– aku tidak pernah merebut a–pa yang menjadi hak mu Kris-ssi! Dan aku tidak pernah menghamili Shannon!" Luhan meringis. Bibirnya terasa perih saat berbicara. Luhan yakin bibirnya sobek saat ini.

"Kau pembual!"

BUGG–

AKHH–

"Yifan gege! Geumanhae!" Itu suara Jia. Jia berteriak histeris memanggil perawat rumah sakit.

Kepala Luhan pening. Sekali lagi Luhan mendapat tinjuan mutlak dirahang kanannya. Luhan tidak yakin bisa berbicara setelah ini sebelum mendapat perawatan beberapa hari.

Seorang suster dan seorang dokter melerai baku hantam antara Luhan dan Kris. Meskipun mereka tidak terlibat perkelahian sama sekali. Hei! Disini Luhan yang menjadi korban dan Kris lah tersangkanya!

"Tuan, gwenchanayo?" Suster itu membantu Luhan untuk bangun dan memapah Luhan ke kursi terdekat.

"Kris, lihat saja nanti. Aku akan memberi perhitungan padamu."

"Aku akan membalas lebih kejam daripada apa yang sudah kau lakukan padaku."

Setelah itu Luhan berjalan tertatih-tatih menyusuri lorong rumah sakit. Pandangan ngeri ditujukan pada Luhan dan ada sebagian yang melihatnya dengan tatapan kasihan. Hell! Luhan tidak perlu dikasihani.

"Tuan! Tuan! Chakkamanyo! Lukamu harus diobati!"

.

.

.

"Mama, untuk beberapa hari ini aku akan ada penelitian disebuah desa di Busan. Jadi aku akan pergi sore ini. Gwenchanayo?" Suara Luna memecah keheningan dimeja makan.

"Kenapa kau harus pergi? Lalu bagaimana dengan Luhan? Kau tahu kan dia tidak suka rumah sepi. Ia pasti akan pergi ke sekolah malamnya lagi kalau kau tidak ada dirumah Luna-ya."

Sehun melongo tidak mengerti. Sekolah malam? Apa itu?

"Mama, ini menentukan kelulusan kuliahku. Mama mau aku tidak lulus dari universitas eoh?" Wajah Luna tiba-tiba berubah murung. Ia tahu Luhan itu adiknya. Tapi Luhan itu kan laki-laki dan sudah besar. Jadi kenapa juga harus dijaga setiap saat?

"Pergilah dan selesaikan dengan cepat sayang." Papa memang sangat istimewa untuknya. Papanya mengizinkan Luna untuk pergi, yeay!

"Lalu Luhan bagaimana yeobo?"

"Sehun-ah, kau tidak keberatan kan untuk tinggal beberapa hari disini sampai Luna pulang? Kebetulan sekali aku dan mama Luhan akan pergi ke Beijing untuk sebuah urusan, jadi Luhan pasti kesepian dirumah."

Ya, Sehun masih berada dikediaman keluarga Xi sedari tadi dan baru saja menyelesaikan sarapan paginya. Sebenarnya ia masih terkejut dengan kejadian tadi pagi dimana Luhan benar-benar menolak pernikahan itu ditambah lagi Luhan tiba-tiba pergi entah kemana dengan terburu-buru. Apakah Luhan tidak apa-apa kalau Sehun menginap disini?

"Tapi– Luhan membenciku. Ia pasti lebih memilih sendiri daripada harus satu rumah denganku walaupun hanya untuk beberapa hari. Luhan akan lebih muak dari sebelumnya eommonim." Sehun menunduk. Benar, bagaimana kalau nanti Luhan malah makin membencinya?

"Sehun-ah, kau hanya belum mengenal Luhan. Ia memang begitu kalau bertemu dengan orang baru. Kalau satu hari saja bersamanya, pasti ia akan lebih percaya diri berteman denganmu."

Jadi Sehun harus mengambil resiko dibenci Luhan setelah ini? Memang benar belum tahu bagaimana reaksi Luhan. Tapi Sehun tahu pasti Luhan tidak akan suka kalau saja Sehun masih berada dirumahnya saat Luhan pulang nanti.

"Jadi– apa kalian semua akan pergi diwaktu yang– bersamaan?" Sehun mendadak khawatir. Entah kenapa.

"Aku akan pergi sore ini. Tapi aku akan berangkat kerumah temanku untuk sebuah diskusi sebentar lagi." Luna tersenyum manis khas senyuman seorang kakak pada adiknya. Sehun jadi merindukan kakaknya.

"Kami berdua juga akan pergi sebentar lagi. Pesawatnya sebentar lagi akan berangkat. Jaga diri kalian baik-baik ya." Papa Luhan menepuk pundak Sehun pelan.

"Ah ne abeonim."

.

.

.

Suasana rumah Luhan benar-benar sepi setelah semua anggota keluarga pergi. Apa akan seperti ini saat Luhan kembali tanpa Sehun dirumahnya? Benar-benar sepi. Sehun saja tidak tahan berada dirumah sesepi ini.

TOKK.. TOKK..

Suara pintu? Apa Luna noona melupakan sesuatu?

Sehun berjalan cepat kearah pintu dan sesegera mungkin membuka pintu kayu itu dan–

BRUKK–

Tubuh Luhan jatuh dipelukan Sehun.

"Ya Tuhan! Luhan-ah! Ya! Ireona jebal! Ya!" Sehun mengguncang-guncangkan tubuh Luhan namun tidak ada pergerakan sama sekali dari Luhan. Malah Sehun merasa Luhan tengah tidak sadarkan diri sekarang.

"Tolong selamatkan– aku."

Dengan cepat kilat Sehun menggendong Luhan dan membawanya kekamar Luhan dilantai dua. Memang cukup berat, tapi keselamatan Luhan lebih penting.

Apa kau habis berkelahi hyung? Wae? Malhae!

Sehun membaringkan tubuh lemah Luhan diranjang bersprei putih itu. Luhan sangat suka putih. Kamarnya benar-benar seperti kamar malaikat. Semua interiornya berwarna putih, terlihat bercahaya ditambah Luhan didalamnya. Kamar itu terlihat sempurna untuk Sehun.

Untung saja keluarga Luhan cinta kesehatan. Disetiap sudut diletakkan kotak P3K tak terkecuali kamar Luhan. Sehingga Sehun tidak perlu mencari-cari dimana ia bisa menemukan obat penyembuh dalam keadaan tiba-tiba seperti ini.

"Kau kenapa hm? Berangkat tiba-tiba tanpa menghabiskan sarapan dan pulang dalam keadaan seperti ini? Kalau papa dan mama mu tahu, pasti mereka akan mengurungmu dikamar." Sehun mengoleskan salap disudut bibir Luhan yang pecah. Sehun benar, Luhan habis berkelahi tadi.

"Dan apa ini? Besok warna merah ini akan berubah menjadi biru. Kau tidak takut para fansmu mengetahui kalau kau baru saja berkelahi? Setelah ini kau harus hati-hati." Sekali lagi, Sehun bermonolog sambil mengompres luka lebam Luhan dirahangnya.

"Apa ada yang sakit lagi? Dimana bajingan itu memukulmu? Kenapa kau tidak melawan?" Diusapnya pipi pucat Luhan. Sehun merasa kasihan. Ia tidak pernah melihat wajah Luhan sepucat ini sebelumnya.

Sepertinya hari ini adalah hari rekor untuk Sehun karena ia sudah lebih dari sepuluh kali menghela nafas. Dan rekor ini takkan tercipta tanpa Luhan. Ya Luhan penyebabnya.

Saat hendak beranjak dari duduknya, tiba-tiba Sehun merasakan sesuatu menyentuh tangannya. Sesuatu yang dingin menyentuh pergelangan tangannya. Lantas Sehun menoleh dan mendapati Luhan sudah siuman.

"Mul." Itu kata pertama Luhan setelah sadar. Kenapa tiba-tiba saja haus?

Sehun segera bergerak menuju kulkas disudut kamar Luhan untuk mengambil botol air beserta sedotan. Luhan pasti sulit untuk menggerakkan bibir dan mulutnya saat ini.

"Minumlah yang banyak." Ia menyodorkan botol air itu pada Luhan dan disambut lemah oleh Luhan.

"Aku pikir pria cantik sepertimu tidak bisa berkelahi." Sehun tertawa hambar.

"Kau berpikir aku berkelahi?" Luhan menoleh ke arah Sehun dengan wajah pucatnya. "Maldo andwae."

Sehun mengedikkan bahu. Tidak ada jaminan, wajah cantik Luhan bisa saja memanipulasi keadaan. Saat mereka bertemu kembali, Sehun pikir Luhan itu pria yang lemah lembut, tapi malah diluar dugaan. Luhan berkepribadian kasar seperti anak yang kurang kasih sayang orang tuanya, dia pembangkang, dan beberapa sifat yang sampai sekarang belum bisa Sehun percaya.

"Lalu bisa jelaskan kenapa wa–" Sehun tidak lagi melanjutkan kalimatnya. Karena sepertinya Luhan tengah menerima telepon.

"Tidak perlu. Urus saja temanmu itu brengsek."

"..."

"Sudahlah. Katakan padanya untuk jangan menemuiku lagi. Aku muak melihat wajahnya dan wajahmu juga tentu saja."

Setelah itu Sehun melihat Luhan melempar ponselnya sampai membentur dinding. Sehun sekali lagi untuk yang keberapa kali entah, ia menghela nafas tidak habis pikir. Bukan hanya kepribadian saja yang kasar, terkadang Luhan juga memilih kalimat makian untuk temannya.

"Kau sedang ada masalah?" Sehun memberanikan diri untuk bertanya. Sehun tahu ini tidak tepat tapi Sehun tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya pada Luhan.

Sedetik kemudian Luhan meneteskan air mata dipipi kirinya. Ia menangis tanpa suara. Sehun melihat itu semua. Mata rusa milik Luhan telah tergenang air mata yang kapanpun bisa segera tumpah kembali dipipi kanannya.

"Kalau ada yang menyakitimu, katakan padaku agar aku bisa membereskan semuanya." Bak pahlawan, Sehun memberi sebuah penawaran pada Luhan. Hanya untuk hiburan saja sepertinya.

"Andai saja bisa, aku sudah memintamu membereskan semuanya dari awal." Senyum miris itu, Sehun tidak suka. Sehun tidak suka melihat Luhan sok kuat dengan menunjukkan wajah tersenyum begitu.

"Sehun-ah."

"Hmm?"

"Menurutmu apa itu cinta?"

Sehun terhenyak dan menoleh ke arah Luhan. Luhan masih saja meneteskan air matanya tanpa ada suara isakan disana.

"Cinta? Aku tidak tahu secara detail apa itu cinta." Sehun menggaruk tengkuknya pelan dan berdehem. "Tapi kurasa sebuah perasaan berbunga-bunga saat melihat orang yang dimaksud tersenyum bahagia. Merasa nyaman saat didekatnya. Dan selalu merasa ingin bersamanya juga merindukannya setiap saat. Kurasa sesederhana itu. Wae?"

"Aku telah dihianati oleh orang yang aku cintai selama ini." Luhan menghela nafas pelan dan menunduk. "Tapi– apa benar aku mencintai Chorong?"

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hfft gimana? Apa ada kalimat yang membingungkan kalian kawan? Hehe. Atau ada alur yang bikin kalian ga ngerti?

Gini nih, jadi buat yang masih bingung ama umur mereka. Aku kisarkan umur Luhan itu 24 dan umur Sehun 22 jadi perbedaan usia mereka ga aku bikin jauh, ga sama ama perbedaan usia real mereka

Kenapa si Sehun ini manggilnya Luhan aja jarang make hyung? Karena ya Sehun pengen aja biar akrab. Lagian juga si Luhannya ga marah(?)

Dan mungkin disini juga aku bakal ngasih Luhan marga. Karena kan yang kalian tau marga Luhan bukan Xi tapi disini aku bakal kasih marga Xi yaa jadi jangan ada yang salah paham oke?

Juga disitu ada Shannon. Ini bukan Shannon artis koriyaa yang mukanya bule itu ya. Bukan!-_- karena disini aku cuma ambil nama inggris yang kira-kira bakal rada nyambung buat chap kedepannya. Kalian boleh bayangin Shannon dengan wajah kalian gapapa hehe atau siapapun tapi yg pasti disini bukan Shannon yang itu. Kalau mau bayangin Shannon yg itu sih gamasalah(?)

Terus gimana? Ada masalah dengan ff ku? Jujur ini ff pertama aku yang yaoi. Gara-gara hunhan aku jadi terpikir buat bikin ff ini hmm-_-/oke ini ga penting/ jadi kalau ada yang aneh atau apapun maklumkan saja wkwk ga terlalu tau kehidupan gay gitu sih yaa

Sudah sampai disini bercuap-cuapnyaa. Mind to review?