I Think I Love You

Cast:

Oh Sehun

Luhan

-HunHan-

Rated:

T = Tentukan sendiri(?)

Genre:

Romance, Family, Relationship, Boys Love –Shounen ai-

.

.

.

.

Kata orang, dunia ini sempit. Kalau kau bertanya itu benar atau tidak pada Luhan, pasti ia akan bilang "Itu hanya teori bodoh!" Tapi setelah ia bertemu dengan sosok Sehun, Luhan yakin ia bisa menjelaskan sesempit apa dunia ini.

.

.

.

.

.

Hari ini Luhan sengaja mengambil libur yang sebelumnya tentu saja sudah melapor pada adiknya Baekhyun untuk menitipkan absen. Luhan termasuk mahasiswa teladan, jadi untuk bolos satu hari saja mungkin tidak apa-apa sepertinya.

"Kau, sampai kapan kau dirumahku? Ingin menjadi bodyguard?" Luhan berbicara pada Sehun namun matanya tetap terfokus pada laptopnya. Walaupun libur tentu saja tugas adalah tugas yang memiliki deadline jadi Luhan tetap saja berada didepan laptop saat libur.

"Kalau memang boleh, tidak apa ha-ha." Terdengar Sehun tertawa hambar yang dibalas senyuman tipis dari Luhan.

Ternyata Sehun tidak seburuk yang Luhan kira. Luhan rasa Sehun bisa dijadikan teman baik untuknya.

"Kau harus tetap ke kantor, bukannya begitu? Kalau pagi sampai sore hari aku tidak apa sendirian." Luhan masih terpaku dengan layar laptopnya sambil sesekali mengerutkan kening karena ada kata-kata yang tidak sesuai didalam laporannya.

"Aku bisa sepertimu. Mengirim laporan dan tugas dari email dan mengetiknya dirumah. Lagipula sepertinya banyak karyawan pria yang tidak suka kalau aku terus masuk ke kantor. Mereka seperti ingin memakanku hidup-hidup. Menurutmu mengapa mereka seperti itu?"

"Karena mereka takut gadis yang mereka sukai malah berbalik menyukaimu." Luhan mengedikkan bahu acuh. Memang kenyataan. Luhan bahkan iri dengan wajah tampan Sehun, sedangkan dirinya hanya diberikan wajah yang mirip dengan perempuan.

"Kenapa seperti itu? Lagipula aku tidak tertarik dengan gadis manapun." Sehun hanya menggelengkan kepalanya tanda bahwa Luhan berpikir tidak masuk akal sama sekali untuknya.

"Apa kau sedang membual? Kau Oh Sehun anak presdir yang tampan seperti ini tidak menyukai gadis manapun? Mana mungkin." Kini Luhanlah yang menggelengkan kepalanya. Sehun bicara apa? Luhan tidak habis pikir.

Sehun berjalan perlahan menuju meja belajar yang tentu saja disanalah Luhan berada dari setengah jam yang lalu. Ia menyelinapkan kepalanya diantara bahu Luhan dan menoleh kekanan tepat kearah wajah Luhan.

"Mwo? Apa aku salah bicara?" Luhan mendorong kepala Sehun kebelakang menggunakan jari telunjuknya dengan kasar.

"Kau bilang apa tadi? Aku tampan? Kau mengakui kalau aku tampan hm?" Sekali lagi ia menyelinapkan kepalanya diantara bahu Luhan dan menggerakkan alisnya, menggoda Luhan.

"A– aniya. Ma– maksudku yeah kau memang tampan bahkan sampai aku iri. Aku ingin memiliki wajah sepertimu yang dikagumi semua wanita. Aku risih banyak pria dikampus yang sering mengirim hadiah kerlap-kerlip yang membuat sakit mata saat hari valentine." Luhan memberenggut. Ia benar-benar sedih. Memang sebegitu cantik kah ia sampai kebanyakan yang menyukainya adalah pria? Luhan bahkan masih sangat normal sekali.

"Jinjja? Pria-pria dikampusmu sering melakukan hal itu dihari valentine? Berani sekali mereka!" Sehun memutar kursi Luhan dan terlihat tidak terima dengan perkataan Luhan tadi. Apa-apaan? Pria itu memberikan hadiah berkilau untuk Luhannya? Andwae!

"Wae? Kenapa kau tampak marah seperti itu? Memangnya kenapa? Toh barang-barang itu selalu berakhir ditangan teman-temanku dikampus. Aku tidak membutuhkan barang-barang seperti perempuan."

"A–ah benarkah? Ya memang seperti itu. Seharusnya kau buang saja hadiah itu. Mereka menghinamu seperti perempuan kalau begitu." Sehun mengangguk membenarkan kata-katanya.

"Ne? Jinjja? Aish, mereka itu memang anak yang kurang ajar! Mama!Kenapa aku memiliki wajah seperti ini!" Luhan melempar bukunya asal. Tampak marah. Kalau memang seperti itu keadaannya, Luhan benar-benar merasa terhina.

"Gwenchana, itu adalah anugrah Tuhan. Aku menyukai wajahmu yang seperti ini. Aku tampan dan kau cantik. Terlihat serasi bukan?" Sehun terkikik geli melihat perubahan wajah Luhan yang mendadak merah menahan marah atau–menahan malu? Entahlah.

"Yak! Oh Sehun sialan!"

.

.

.

"Aku sibuk. Tidak ingin kemana-mana Baekhyun-ah."

"..."

"Minta Chanyeol baby menemanimu saja ha-ha."

"..."

"Sudah dulu ya, aku sibuk ingin onani."

"..."

Terdengar pekikan keras dari sambungan telepon diseberang. Pasti karena kalimat terkahir Luhan yang bilang kalau ia sibuk onani. Baekhyun itu cerewet, oleh karena itu Luhan harus mencari kalimat menjijikan untuk memutuskan sambungan telepon Baekhyun yang sedang rewel seperti tadi.

"Onani? Kau bicara dengan siapa hyung?" Tiba-tiba saja suara Sehun terdengar dari balik punggungnya. Luhan berbalik, benar sekali Sehun sudah duduk manis dimeja makan.

"Dengan pacarku, kenapa?" Luhan kembali membalikkan posisi tubuhnya dan berjalan agak jauh untuk meletakkan ponselnya di meja.

"Pacar? Bukannya kau baru saja putus? Ah tidak tidak. Kalian bahkan bukan sepasang kekasih." Sehun berbicara dengan nada polos yang dia buat-buat, namun ditelinga Luhan itu terdengar seperti ejekan dan kurang ajar sekali.

"Tutup mulut brengsekmu itu Sehun."

ARGHH–

Jelas itu bukan suara Luhan.

Luhan menjambak rambut hitam Sehun sampai empunya berteriak keras. Luhan hanya tertawa jahat mendengar raungan Sehun. Itu balasan bagi mulut kurang ajarnya.

"Ya! Neomu appa hyung!" Sehun memasang wajah ingin menangis yang diyakini Luhan tidak akan pernah terjadi. Luhan hanya mengedikkan bahunya acuh dan melenggang pergi keruang tengah.

Tas merahnya tergeletak tak berdosa disofa. Ah, pasti sepulang dari kampus kemarin ia melempar asal tasnya itu tanpa meliriknya kembali sampai hari ini. Luhan menggeleng tidak suka, seharusnya ia tidak boleh bersifat berantakan. Hei, sejak kapan kau berpikir seperti itu Luhan?

Saat melihat beberapa buku menyembul dari tasnya, Luhan baru ingat kalau ada beberapa berkas yang ia butuhkan untuk laporannya kali ini. Si dosen tua bangka itu memang mengesalkan. Padahal Luhan adalah mahasiswa yang terbaik, tapi kenapa juga dia harus mengais-ngais banyak buku dan membentuknya menjadi sebuah laporan sama seperti anak yang lainnya? Memang si tua bangka itu cari mati sepertinya.

"Tua bangka siala. Kenapa juga aku memiliki batas waktu untuk mengumpulkan tugas? Dia pikir dia siapa?" Luhan menggerutu tak jelas. Mengambil dan melempar asal buku-buku yang tadinya berada didalam tasnya. Tapi tunggu– benda apa ini?

Benda keras, bukan keras tapi padat. Bukankah padat dan keras hampir serupa Luhan?

Benda keras, berbentuk persegi, seperti bahan karton atau kertas atau kardus entahlah bahan apa itu terselip diantara tumpukan bukunya. Luhan tidak sabar, ia membalikkan sisi tasnya dan semua barang yang ada didalam tasnya tumpah ruah. Dan memperlihatkan beberapa– kondom? Sejak kapan Luhan menggunakannya!

"Kau– memiliki kondom hyung?" Sehun bertanya sambil melihat dengan tatapan horor kearah beberapa benda itu.

"Aih kamjagiya!" Luhan mengelus dadanya dramatis.

"Sialan Jongin, kenapa ia menitipkan didalam tasku! Tsk."

"Jongin? Siapa Jongin?" Sehun kali ini bertanya dengan nada selidik, Luhan mengernyit.

"Dia mantan kekasihku, aku baru saja bercinta dengannya lima hari yang lalu. Kau puas?" Luhan mengumpulkan beberapa kondom itu dan membawanya kearah kamar, menyimpannya dilaci.

Sehun membuntuti Luhan dibelakang dan berdiri diambang pintu kamar Luhan. "Kekasih? Kau suka dengan sesama jenis? Kau bilang kau bukan gay dan masih memuja dada wanita. Bagaimanapun, Jongin itu nama pria hyung."

"DIAM BRENGSEK!"

.

.

.

"Hyung, kemarin kau benar-benar beronani ya?" Baekhyun yang baru saja sampai tiba-tiba bertanya demikian pada Luhan. Luhan mengernyitkan alis tanda tidak mengerti.

"Onani apanya? Kau tahu aku kemarin menyelesaikan tugas kita Baekhyun-ah."

"Kau bohong hyung, aku melihat mobil asing dipekaranganmu kemarin dan sepertinya mobil itu sama seperti mobil yang terakhir kulihat didepan kampus kemarin. Teman-teman bilang kau berkencan dengan pengusaha pria, benarkah?" Wajah Baekhyun benar-benar polos saat mempertanyakan hal itu lantas membuat Luhan menghela nafas pelan.

"Jadi sampai mana gosip ini menyebar? Mereka benar-benar seperti hama."

"Jadi benar hyung?Kau benar-benar– gay sekarang?" Baekhyun menutup mulutnya dengan wajah penuh keterkejutan. Luhan hanya memutar bola matanya malas.

"Baekhyun-ah, apakah aku pernah bilang kalau aku ingin meninju pria manapun yang menyatakan perasaannya padaku? Mana mungkin aku berkencan dengan pria? Kecuali kalau aku sudah gila."

"Aku benar-benar akan menjadi orang pertama yang menjabat tanganmu menyatakan rasa senang saat kau dan pengusaha kaya itu benar-benar berkencan hyung!Ha-ha."

"YAK! BYUN BAEKHYUN!"

.

.

.

Seorang pria dengan kaca mata hitam berjalan angkuh disebuah lorong universitas. Ia melirik kesana kemari. Namun nihil, orang yang ia cari nyatanya tidak berada dimanapun dijarak pandangnya.

"Apa aku bisa bertemu dengan mahasiswa bernama Xi Luhan?" Dia bertanya kepada tata usaha.

"Ah tentu saja. Kalau boleh tahu apa hubunganmu dengan Luhan-ssi?"

"Aku– saudara sepupunya dari Beijing." Laki-laki itu berbicara dengan datar kepada bagian tata usaha. Memangnya siapa Luhan? Sampai-sampai harus ditanya hubungan darah apa yang orang miliki saat ingin bertemu dengannya.

"Luhan-ssi sedang berada diruang staff. Sepertinya dia ada konsultasi dengan seorang seseorang dari Jerman. Terakhir aku lihat dia disana. Mungkin kau bisa mencari setelahnya."

"Ah, baiklah. Terimakasih." Sambil setengah membungkuk pria berkacamata hitam itupun melenggang pergi meninggalkan ruangan bagian tata usaha.

Pria jangkung itu menjadi pusat perhatian banyak mahasiswi bahkan beberapa mahasiswa dikampus itu. Mungkin karena gayanya yang terlalu berani hanya untuk datang kesebuah kampus membuat beberapa orang berdecak kagum dan sebagian lain mencibir mengatainya berlebihan.

"Aku tahu, aku sedang membaca beberapa gejala pada penderita DID tersebut. Sepertinya akan sangat fatal apabila tidak segera ditangani."

Kaki pria jangkung itu berhenti disebuah pintu berwarna putih yang bertuliskan staff only itu. Ia menajamkan pendengarannya dan benar, suara itu adalah suara orang yang dicarinya sedari tadi. Oleh karena itu dia memutuskan untuk duduk menunggu dikursi tunggu.

"Jujur saja aku belum pernah melihat secara langsung penderita DID tapi akan kupastikan aku mempelajarinya. Aku sudah membaca buku- buku yang kau kirimkan satu bulan lalu kerumahku dan itu benar-benar sangat menyeramkan."

Suaranya masih sama. Tidak ada yang berubah sedikitpun darinya. Wajahnya benar-benar lebih mengagumkan daripada terakhir ia bertemu dengan pria cantik itu. Ya, bertemu dengan tidak menyenangkan dirumah sakit beberapa waktu lalu.

"Baik aku akan memperlajari ini lebih lanjut. Kau bisa memanggilku kapanpun kau butuh Yixing-ah."

Tunggu, Yixing? Apa dia baru saja mendengar nama Yixing tadi? Pria cantik itu bertemu lagi dengan Yixing?

Pria jangkung itu buru-buru saja berdiri dan mengambil posisi dibelakang sebuah tembok agar tidak terlihat oleh orang yang bernama Yixing tadi.

"Baiklah, mungkin besok aku bisa berkunjung kerumahmu Yixing-ah." Lelaki itu tersenyum hangat pada orang bernama Yixing dan memeluknya singkat.

Pria cantik itu berjalan berlawanan dengan orang bernama Yixing tadi dan membuat kesempatan untuk pria jangkung itu untuk bertemu dengan pria cantik tersebut.

Pria jangkung menarik tiba-tiba tangan pria yang lebih mungil sampai badan si pria mungil berbalik secara paksa.

"K– Kris? Apa yang kau lakukan disini brengsek!"

"Kau– sejak kapan kau berhubungan kembali dengan Yixing?" Pria jangkung –Kris- menatap tajam kearah manik mata rusa milik si pria mungil. Si pria mungil tidak bergeming menunduk dan berusaha melepaskan cengkraman Kris.

"Katakan sejak kapan kau bertemu lagi dengan Yixing brengsek!" Kris makin mempererat genggamannya pada lengan kurus pria cantik itu membuat empunya meringis sakit.

"Luhan, kau sudah mengambil Shannon dan Chorong dan sekarang kau bertemu dengan Yixing lagi? Apa maumu jalang!"

"TUTUP MULUT BRENGSEKMU ITU KRIS!" Pria mungil itu –Luhan- sekuat tenaga mendorong tubuh Kris dan itu ada hasil. Tubuh Kris terhuyung sedikit kebelakang membuat genggaman ditangan Luhan terlepas.

Luhan dengan wajah paniknya segera berlari meninggalkan Kris yang masih shock tapi tak lama Kris tersadar dan mengejar Luhan yang entah Kris juga tidak tahu kemana Luhan berbelok tadi.

"Sialan!"

.

.

.

Luhan berlari dengan wajah panik disepanjang koridor kampus. Ia berlari dengan hati-hati agar suara ribut dari langkah kakinya tidak diketahui oleh Kris lelaki yang tiba-tiba saja datang kekampusnya dan Luhan belum tahu apa maksud kedatangan Kris kemari.

Beberapa orang nampak bertanya-tanya disepanjang jalan melihat tingkah aneh Luhan yang berlari panik sambil terkadang menengok kearah belakang seperti sedang dikejar sesuatu yang mengerikan.

BRUKK–

"Luhan sunbae, gwaenchanaseyo?" Luhan hanya meringis dan mengusap bokongnya dan dengan perlahan menengok kearah atas guna melihat siapa gerangan yang kurang ajar sekali membuat lari Luhan terhenti.

"Kau benar-benar bedebah!" Luhan segera bangkit dan menetralkan nafasnya yang memburu sedari tadi dan–

"Kurasa cukup bermainnya hari ini Luhan."

DEG–

Luhan hafal betul bagaimana suara Kris dan setelah itu Luhan ditarik paksa oleh Kris yang menyisakan keterkejutan dari wajah Jeonghan, hoobae yang baru saja menabrak Luhan tadi.

.

.

.

"Apa maumu?" Ujar Luhan berbahaya.

Kris hanya diam menatap Luhan. Sekarang mereka berada ditoilet kampus Luhan yang paling dekat dengan posisi terakhir mereka tadi.

"Apa maumu Kris-ssi!" Sekali lagi Luhan bertanya dengan nada datar dan menekan setiap kalimatnya guna mempercepat semua masalah ini.

"Sejak kapan kau bertemu dengan Yixing?" Itu lagi. Pertanyaan itu lagi yang dilontarkan oleh Kris.

"Beberapa bulan ini aku bekerjasama dengannya."

"Untuk apa?"

"Menurutmu untuk apa aku seorang mahasiswa psikologi dengan seorang dokter jiwa seperti Yixing?" Kalimat retoris Luhan lontarkan. Ia benar-benar sudah muak melihat wajah Kris. Dan lagi, sekarang mereka hanya berdua ditoilet membuat sedikit dari jiwa Luhan ragu untuk tidak takut terhadap situasi seperti ini. Tapi tentu saja Luhan hanya mampu memberikan wajah datarnya.

"Apa kau berbicara tentangku kepada Yixing?"

"Bahkan aku ragu Yixing masih mengingatmu brengsek!"

ARGHH–

Itu suara Luhan. Kris menjambak rambut blondenya dengan sekali tarikan dan membuat Luhan meringis kesakitan.

"Kau bilang apa! Kau yang membuat aku dan Yixing berpisah sialan!" Kris hilang kesabaran. Wajahnya menampakkan sebuah kemarahan mutlak.

"Kalian tidak pernah bersama jadi jangan berpikir kalian berpisah breng– arghh!" Sekali lagi Kris menarik rambut Luhan kebelakang.

"Diam kau jalang! Yixing mencintaiku dan karena kau kita tidak bisa bersama!"

"Kalian memang tidak ditakdirkan bersama. Kasihan sekali."

"Tutup mulutmu jalang!"

BRUKK–

Kris mendorong tubuh Luhan kearah dinding dan mengukungnya disana dengan pergelangan tangan Luhan dipegang kuat disisi kanan dan kiri tubuhnya oleh Kris. Luhan hanya diam, ia merasa dirinya tengah dejavu saja saat ini.

.

.

.

"Kenapa kau bilang seperti itu kepada Yixing hah!"

"Itu karena kau gay menjijikan! Yixing sudah memiliki kekasih dan– arghh Kris!" Luhan berteriak sekencangnya karena saat ini Kris tengah menjambak dengan keras rambut hitamnya dengan pandangan nyalang.

"Kau pikir aku akan terpengaruh hah? Yixing mencintaiku! Dia akan bersedia berkencan denganku andai saja kau tidak datang hari itu sialan!"

BRUKK–

Tubuh Luhan terhempas kebelakang. Ia bertubrukkan dengan dinding gudang sekolah yang sepertinya jarang sekali dikunjungi siapapun. Mati kau Luhan!

"A– apa yang k– kau lakukan Kris?" Mata Luhan membola sangking terkejutnya. Kris mengikatnya disebuah tumpukan meja dan membuka ikat pinggangnya didepan Luhan. Apa yang akan Kris lakukan padanya? Astaga!

"Mulutmu itu memang berbisa ya Luhan. Sepertinya aku harus memberikan sebuah pelajaran untuk mulut brengsekmu itu." Kris mendekat dan memegang dengan kuat sisi pipi Luhan. "Apa penisku bisa menjadi pelajaran untuk mulut jalangmu itu hm?"

Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Apa yang akan Kris lakukan terhadapnya! Oh Tuhan bantu Luhan!

"Jangan bercanda brengsek! Aku tidak gay sepertimu biadab!" Luhan masih mempertahankan mode angkuhnya sambil sesekali menggerakkan tangannya untuk terbebas dari ikatan Kris tadi.

"Oh ya? Bagaimana caramu menolak? Kau bahkan terikat tak berdaya disini Lu deer." Lagi Kris mendekat kearahnya dan berusaha meraih bibirnya namun tentu saja Luhan menolak mentah-mentah. Luhan masih sangat normal untuk berciuman dengan gay menjijikan seperti Kris.

"Kau! Kau gay menjijikan Kris!"

"Katakan sekali lagi." Kris berujar dengan suara beratnya. Matanya terlihat lebih tajam dari sebelumnya menatap marah kearah Luhan.

"KAU GAY MENJIJI– mmphhh."

.

.

.

Tak sadar Luhan mulai menangis mengingat kejadian masa lalunya. Dia merasa kotor saat ini. Itu adalah kejadian yang seumur hidupnya tidak ingin Luhan ingat kembali. Namun dengan sikap Kris seperti ini membuat Luhan mengingat kejadian mengerikan tersebut.

"Oh, kenapa menangis Lu deer." Kris dengan tatapan sok simpatinya mengusap lelehan air mata dipipi Luhan. Itu membuat Luhan menolehkan wajahnya kesamping guna menghindari tangan kotor Kris diwajahnya.

"Kau brengsek. Kau menghancurkan hidupku." Dua kalimat Luhan lontarkan dengan nada datar dan wajah datar pula kearah Kris membuat Kris tersenyum menang.

"Benarkah sayang? Tapi kau menikmatinya waktu itu. " Untuk kedua kalinya Luhan dapat mengumpulkan tenaganya dan mendorong dengan telak tubuh Kris dan segera menamparnya dengan keras menghasilkan bunyi nyaring disana.

"Kau benar-benar brengsek. Kau orang yang tidak bermoral yang pernah kutemui."

"Kau bilang apa? Kau berbicara tentang moral? Gunakan otak cerdasmu untuk berpikir tentang moral yang kau miliki sayang." Kris kali ini memojokkan kembali Luhan namun tidak lagi dengan menggenggam tangan Luhan. Ia menyenderkan tangan kanannya disebelah kiri Luhan.

"Aku tidak pernah berpikir bahwa aku orang yang seratus persen penuh dengan moral baik tapi setidaknya aku tidak pernah menyetubuhi– "

"KAU IYA! KAU MEMPERKOSA SHANNONKU!" Kris menyela dengan tatapan marah dan menegakkan tubuhnya, namum masih bisa mengontrol tangannya untuk tidak meninju Luhan telak diwajah cantiknya lagi.

"AKU SUDAH BILANG KALAU AKU TIDAK MEMPERKOSA MANTAN KEKASIHMU KRIS! DIA HAMIL BUKAN KARENA AKU! ITU BUKAN BENIHKU!" Kali ini Luhan yang tampak marah. Cukup sudah, ia tidak ingin disalahkan. Cukup sudah Luhan diasingkan ke London karena masalah itu dan sekarang Kris mengungkit kembali luka lamanya.

"Kau tahu betapa menderitanya aku karena tuduhan palsu itu! mamaku meninggal karena itu! Aku diasingkan! Kau tahu betapa aku lebih sakit karena aku tidak melakukan kesalahan itu? Jawab aku!" Luhan lepas kendali. Ia menangis. Terdengar memilukan ditelinga Kris. Kris bukannya tidak tahu seperti apa Luhan yang sedang menangis tapi kali ini ada rasa tersakiti disetiap isakannya.

"Kenapa kau diam hah! Kau tidak bisa menjawab? Kau pikir karena Shannon adalah mantan kekasihku jadi aku tega melakukan hal yang tidak senonoh terhadap wanita? Apa wajahku berbicara seperti itu? Jawab aku Kris!"

Kris hanya diam. Orang yang menyesal dengan orang yang tersakiti berbeda dimata Kris. Dan kali ini Kris paham bahwa selama ini, tuduhan yang Alex –teman lama Kris di Beijing- tuduhkan pada pria cantik ini benar-benar salah.

Luhan ambruk dilantai dingin toilet. Ia terisak. Benar-benar terisak. Mengingat tuduhan itu membuat Luhan kembali mengingat mendiang mamanya. Ia tidak akan kuat untuk membicarakan mendiang ibunya. Mamanya meninggal karena Luhan. Dan sampai sekarang Luhan masih menyalahkan dirinya akan hal itu.

Aku memang anak yang tidak berguna ma, maafkan aku.

"Luhan.." Kris menyentuh pundak Luhan dan dibalas delikan tajam dari Luhan juga rontaan pelan dari tubuhnya. Luhan menolak disentuh Kris lagi. Itu menyakitkan untuknya.

"Jangan sentuh aku. Aku tidak punya masa depan karena kau brengsek."

"Aku hanya– "

"Jika kau sudah selesai, lebih baik kau gunakan waktumu untuk mengurus Chorong. Dia masih sakit. Aku tidak suka melihat dia sakit karena dia sangat rewel saat sedang sakit."

"Luhan.."

"Kau membuang waktumu bersama jalang ini. Lebih baik kau pergi dan gunakan dengan sebaik-baiknya waktu yang kau miliki. Permisi."

Luhan bangkit dari posisi bersimpuh tadi dan berjalan dengan perlahan keluar dari bagian dalam toilet. Hatinya hancur. Pikirannyapun sama. Ia tidak menyangka, kejadian yang selama ini ingin ia lupakan dan ingin ia kubur dalam terbuka kembali dan memaksa Luhan untuk tersenyum pahit akan hal itu.

"Maafkan aku Luhan. Aku salah paham." Kris memeluk Luhan dari belakang. Luhan menahan nafasnya. Terlalu lelah untuk menolak, jadi Luhan hanya diam dan mendengarkan secara saksama apa yang akan Kris katakan.

"Aku– Alex memberi tahu bahwa kau adalah pelakunya. Aku tidak terima akan hal itu. Karena aku berfikir kau memang pria jahat setelah kau berusaha memisahkan aku dengan Yixing. Oleh karena itu aku terbawa emosi saat tahu kekasihku hamil sedangkan aku sama sekali tidak pernah menyentuhnya. Shannon adalah anak baik-baik, aku hanya– "

Luhan menyela. "Jadi kau pikir aku bukan anak baik-baik sehingga kau sampai hati memperkosaku waktu itu? Jawab aku Kris."

"Bukan seperti itu. Kau– "

Luhan melepas paksa pelukan Kris dan membungkuk pada Kris. Berpamitan lebih tepatnya. "Semoga harimu menyenangkan Kris-ssi. Selamat tinggal."

Kris hanya diam melihat kepergian Luhan secara perlahan menuju pintu keluar toilet dan menghilang saat sudah melewati pintu putih tersebut.

.

.

.

Seorang laki-laki dengan perawakan mungil tengah menengok lucu kearah kanan dan kiri guna untuk mencari seseorang yang tidak kembali setelah sebuah perbincangan dengan orang utusan Jerman itu. Ya, dia adalah Baekhyun dan tentu saja dia mencari Luhan kakaknya yang paling cantik itu. Jangan beritahu Luhan kalau Baekhyun berpikir demikian!

Baekhyun naik kelantai tiga dimana Luhan dan utusan orang Jerman itu bertemu. Setidaknya itu yang Baekhyun ingat dari percakapan Luhan dengan seseorang diponselnya dengan menggunakan bahasa mandarin tadi.

Saat sedang menaiki tangga dengan hitmat tiba-tiba Baekhyun mendengar beberapa orang membicarakan sebuah nama, tunggu– sepertinya Baekhyun menangkap nama Luhan disetiap obrolan mereka.

"Kemarin baru saja aku melihat Luhan oppa keluar dari mobil pria kaya sekarang ia bertemu dengan pria tampan yang mirip dengan aktor tampan China itu. Luhan oppa benar-benar memiliki banyak teman kaya dan tampan."

"Apa kau yakin itu teman Luhan oppa? Ya walaupun aku tahu Luhan oppa itu seratus persen straight karena dia selalu mengejar anak fakultas ekonomi yang bernama Chorong itu. Tapi bisa jadikan Luhan oppa itu biseks?"

Luhan hyung biseksual? Apa benar?

"Entahlah. Tapi aku tadi melihat Luhan oppa benar-benar terkejut dengan kehadiran pria tampan itu dan setelahnya pria tampan itu menarik tangannya dan seperti memarahi Luhan oppa."

Siapa yang berani memarahi Luhan hyung?

"Atau itu mantan kekasihnya kah? Kita tidak tahukan bagaimana Luhan oppa saat di Beijing. Mungkin saja dia dulu punya kekasih pria."

"Aku tidak tahu. Yang pasti setelahnya Luhan oppa mendorong pria itu dan lari terbirit-birit kearah sana dan setelahnya menghilang entah kemana. Aku lihat wajahnya benar-benar panik."

Luhan hyung bersembunyi? Semengerikan apa orang itu sampai Luhan hyung takut bahkan sampai lari?

Baekhyun mempercepat langkahnya. Kalau yang dikatakan mereka benar pastinya Luhan sudah tidak berada diruang staff lagi. Jadi kemana Baekhyun harus mencarinya?

"Ah!" Baekhyun tiba-tiba berteriak, terkejut lebih mendominasi. Benda dingin merambat dibajunya. Sepertinya ia menabrak sesuatu.

"Baekhyun-ssi, maafkan aku. Aku tidak sengaja." Itu Jongdae. Ketua organisasi seni dikampusnya. Sialnya saat Baekhyun sedang buru-buru kenapa ia harus dipertemukan dengan Jongdae?

"Kau! Makanya kalau jalan lihat-lihat! Bajuku basah begini. Bagaimana ini!" Baekhyun menatap iba pada baju putihnya dan menatap tajam pada Jongdae yang sudah menampakkan wajah memelasnya. Sedikit banyak Baekhyun jadi ikutan kasihan melihat Jongdae. Lagipula memang bukan sepenuhnya salah ketua vocal ini sih. Salah Baekhyun juga yang tidak hati-hati dan malah melamun saat berjalan.

"Yasudah tidak apa-apa. Lain kali perhatikan jalanmu Jongdae-ssi." Dan tanpa jawaban dari Jongdae, Baekhyun berlalu begitu saja dengan langkah terburu-buru menuju toilet terdekat untuk membersihkan bajunya.

Langkah kaki mungilnya terhenti saat ia mendengar sebuah percakapan dari suara yang Baekhyun bahkan sangat mengenalnya.

"Kau brengsek. Kau menghancurkan hidupku."

Baekhyun berdiri mematung didepan pintu toilet. Tangannya masih menggantung di gagang pintu tanpa berniat untuk membukanya saat kata makian keluar dari suara itu. Suara yang Baekhyun ketahui adalah Luhan.

"Benarkah sayang? Tapi kau menikmatinya waktu itu."

Kernyitan di dahi tidak bisa Baekhyun hindari saat mendengar suara orang lain didalam sana dan terasa asing untuk Baekhyun. Jadi Luhan memaki siapa didalam? Dan lagi suara pria itu memanggil Luhan dengan sebutan– sayang? Apa Baekhyun tidak salah dengar?

"Kau benar-benar brengsek. Kau orang yang tidak bermoral yang pernah kutemui."

"Kau bilang apa? Kau berbicara tentang moral? Gunakan otak cerdasmu untuk berpikir tentang moral yang kau miliki sayang."

"Aku tidak pernah berpikir bahwa aku orang yang seratus persen penuh dengan moral tapi setidaknya aku tidak pernah menyetubuhi– "

"KAU IYA! KAU MEMPERKOSA SHANNON!"

Pegangan pada gagang pintu itu terlepas dan Baekhyun membulatkan matanya dengan sempurna saat mendengar suara pria itu berteriak kepada Luhan. Luhan hyung memperkosa siapa? Apa itu benar? Pikir Baekhyun.

"AKU SUDAH BILANG KALAU AKU TIDAK MEMPERKOSA MANTAN KEKASIHMU KRIS! DIA HAMIL BUKAN KARENA AKU! ITU BUKAN BENIHKU!"

Baekhyun kembali mengernyit saat tidak mendengar apapun dari dalam. Suasana tiba-tiba hening sampai suara datar Luhan terdengar lagi dipendengaran Baekhyun.

"Kau tahu betapa menderitanya aku karena tuduhan palsu itu! Mamaku meninggal karena itu! Aku diasingkan! Kau tahu betapa aku lebih sakit karena aku tidak melakukan kesalahan itu? Jawab aku!"

"Kenapa kau diam hah! Kau tidak bisa menjawab? Kau pikir karena Shannon adalah mantan kekasihku jadi aku tega melakukan hal yang tidak senonoh terhadap wanita?! Apa wajahku berbicara seperti itu? Jawab aku Kris!"

Jadi wanita yang dibicarakan mereka adalah mantan kekasih Luhan dan kekasih pria asing ini? Baekhyun benar-benar pusing. Bertahun-tahun berteman dengan Luhan bahkan Baekhyun melewati banyak hal yang sangat penting ini.

Setelahnya Baekhyun benar-benar tidak dapat mendengar percakapan apapun dari dalam toilet itu. Otaknya terlalu bekerja keras untuk memikirkan masalah Luhan, kakaknya itu. Baekhyun tidak tahu kalau Luhan hidup semenyedihkan ini.

Baekhyun akan berbalik untuk meninggalkan toilet namun urung saat ia sekali lagi menangkap percakapan yang luar biasa lebih mengejutkan daripada percakapan diawal tadi.

"Maafkan aku Luhan. Aku salah paham."

"Aku– Alex memberi tahu bahwa kau adalah pelakunya. Aku tidak terima akan hal itu. Karena aku berfikir kau memang pria jahat setelah kau berusaha memisahkan aku dengan Yixing. Oleh karena itu aku terbawa emosi saat tahu kekasihku hamil sedangkan aku sama sekali tidak pernah menyentuhnya. Shannon adalah anak baik-baik, aku hanya– "

Kepalan tangan Baekhyun benar-benar mantap saat ini. Ia benar-benar benci dengan suara asing ini. Ia tidak tahu hal yang sebenarnya tapi berani-beraninya ia menuduh Luhan yang tidak-tidak, sampai–

"Jadi kau pikir aku bukan anak baik-baik sehingga kau sampai hati memperkosaku waktu itu? Jawab aku Kris."

Baekhyun menganga, kepalan tangannya seakan mengendur tak bertenaga dan setelahnya ia menutup mulutnya sangking terkejutnya dengan apa yang barusan dia dengar.

Satu tetes air mata jatuh dipipi Baekhyun dan ia benar-benar tidak ingin mendengar lebih jauh daripada ini. Oleh karena itu Baekhyun memutuskan untuk kembali kekelas.

Apa yang sebenarnya Luhan hyung sembunyikan selama ini dariku?

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Haha ada Junghan si cheonsanya sebentin disitu. Dan bakal banyak member sebentin yang nongol di chap berikutnya.

Aku ga terlalu tau kehidupan perkuliahan gimana karena aku belum kuliah(?) jadi ikutin aja apa yg aku tulis ya? /maksa/ Soalnya kalau mau aku jadiin anak SMA keknya kurang logis kalo si hunhan ini udah mau dikawinin– eh maksudnya dinikahin jadilah aku kasih Luhan kuliah dan si Sehun udah jadi orang penting diperusahaan keluarga. Sehun ceritanya lebih pinter nih dari Luhan makanya dia udah mimpin perusahaan. Hebat ga tuh Sehunnya? Wkwk

Oke kalau ada yg masih bingung-bingung boleh tanya aku kok!

Maapin juga ada beberapa review yg gabisa aku jawab koneksi internet lagi slow sekali. Tapi semua review yang masuk udh aku baca, makasih buat kalian semua hehe

Oke akhir kata sekian terimakasih buat para reviewers. Kritikan kalian sangat membantu! Dan mind to review?