I Think I Love You
Cast:
Oh Sehun
Luhan
-HunHan-
Rated:
T = Tentukan sendiri(?)
Genre:
Romance, Family, Relationship, Boys Love –Shounen ai-
.
.
.
.
Kata orang, dunia ini sempit. Kalau kau bertanya itu benar atau tidak pada Luhan, pasti ia akan bilang "Itu hanya teori bodoh!" Tapi setelah ia bertemu dengan sosok Sehun, Luhan yakin ia bisa menjelaskan sesempit apa dunia ini.
.
.
.
.
.
Sehun berjalan mondar-mandir didalam ruangannya. Hatinya gelisah entah karena apa. Jantungnya berpacu cepat sedari tadi dan ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Tapi apa? Bahkan selama sejam lebih ia tidak bisa mengetahui apa alasannya.
"Ada apa denganku astaga." Sehun bergumam pelan. Dan menghela nafas sudah menjadi kebiasaannya sejak sejam yang lalu.
"Apa terjadi sesuatu pada Luhan? Apa aku harus meneleponnya? Ah tapi tidak, dia bilang dia sedang kedatangan tamu dari luar negri. Pasti dia sangat sibuk sekarang."
Ia duduk dengan gelisah disofa didalam ruangan besarnya dan kembali berdiri setelahnya berjalan kesana kemari seperti orang gila kembali.
"Astaga ada apa sebenarnya! Bahkan aku seperti orang gila saja sedari tadi." Sehun memaki dirinya sendiri dan memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. "Masa bodoh, lebih baik aku meneleponnya daripada aku penasaran."
Ponsel pintarnya ia raih dan menekan nomor cepat 1 dan terpampang nama Luhan disana. Bahkan Sehun menomor duakan kakaknya untuk panggilan cepat hanya karena pria cantik itu.
"Angkat bodoh!"
Kali ini Sehun geram. Luhan sebenarnya kemana? Kalau dia sibuk lebih baik mereject panggilannya daripada tidak mengangkatnya sama sekali seperti ini.
"Yeoboseyo Luhan-ah?"
"Se– Sehun? Apa benar ini kau?"
Tunggu, suara Luhan terdengar berbeda. Seperti sedang flu? Padahal tadi pagi Sehun lihat dia baik-baik saja dan masih bisa tersenyum seperti biasanya. Tidak mungkin kan tiba-tiba flu?
Kalau memang bukan flu, suara Luhan ini Sehun asumsikan tengah menangis atau habis menangis beberapa waktu yang lalu. Tapi kenapa? Kenapa Luhan menangis? Sehun tidak melakukan sesuatu yang salah kan?
"Kau kenapa Luhan?"
"Aku baik-baik saja Sehun-ah."
Sehun bisa mendengar itu. Suara Luhan terlihat lemah disana.
"Kau benar baik-baik saja?"
"Hmm"
Sehun hanya diam, ia sebenarnya bingung kenapa dengan bodohnya menelepon Luhan. Tapi saat mendengar suara Luhan yang sepertinya berbeda itu, Sehun malah tambah bingung lagi dari sebelumnya.
"Sehun-ah? Apa rapatmu berjalan dengan lancar?"
Merasa tersentak dari lamunannya dan seketika Sehun kembali memfokuskan pikirannya kepada ponsel pintarnya lagi.
"Ne? Ah rapat itu ya. Tentu saja lancar. Kau lupa aku ini lulusan terbaik dari universitas ternama di Australia? Ha-ha." Sehun tertawa renyah. Ia tidak tahu apakah ini saat yang tepat untuk dirinya melawak atau tidak.
"Ha-ha. Kau benar. Otak cerdasmu itu pasti bisa menyelesaikan semua masalah dalam sekejab."
Hening kembali. Ada yang salah dari nada suara Luhan. Tapi Sehun belum berani untuk menyimpulkan apa-apa sekarang. Sampai akhirnya Sehun berjalan cepat menuju kursi kerjanya dan merampas mantelnya dengan ponsel masih tertahan ditelinga kanannya.
"Kau masih berurusan dengan dokter jiwa itu hm?" Pertanyaan yang meluncur begitu saja dari mulut Sehun tanpa Sehun sadari bahwa pertanyaan itu kelewat lembut untuk Luhan. Sehun tidak tahu bahwa diseberang sana Luhan malah tiba-tiba merona hanya karena mendengar suara Sehun yang seperti itu.
"Ya, sudah. Dia sedang diruang guru sekarang. Mungkin sedang berbincang dengan Oh seonsaengnim." Luhan mengedikkan bahunya acuh yang pasti tidak diketahui Sehun diseberang sini.
"Oh seonsaeng? Marganya sama denganku. Apa kami bersaudara? Ha-ha."
"Jangan bergurau Sehun. Di Korea bukan hanya kau dan Oh saem saja yang memiliki marga Oh. Ha-ha."
Tawa Luhan adalah favorit Sehun mulai sekarang. Tawanya begitu indah seperti nyanyian surga untuknya. Sehun merasa terbawa suasana sampai lupa untuk membawa kunci mobilnya bersamanya.
"Aishh bodoh sekali kau!" Bukan, ia bukan memaki Luhan. Serius! Makian itu bukan untuk Luhan! Tapi ia tengah memaki dirinya sendiri yang terburu-buru. Dan setelah ia menemukan kunci tersebut ia berjalan keluar dari ruangannya dengan cepat.
"Apa? Kau memakiku bocah!" Suara Luhan dibuat sekesal mungkin namun malah terdengar lucu ditelinga Sehun. Ia tersenyum seperti orang bodoh disepanjang koridor bahkan sampai beberapa karyawan pria mengernyit heran dengan tingkah bodoh Sehun saat ini. Bagaimana tidak? Oh Sehun anak dari Oh Seungjoon putra pemilik perusahaan yang dikenal tidak pernah tersenyum dan sekarang dengan gamblangnya dia tersenyum bahkan saat sampai masuk kedalam lift ia masih mempertahankan senyum bodoh itu.
"Aku bukan memakimu sayang. Tadi aku lupa membawa berkasku. Oleh karena itu aku memaki diriku sendiri. Kau ini sensitif sekali hm?" Sekali lagi Sehun berhasil membuat pipi Luhan yang merona diseberang sana. Sehun tahu itu akan terjadi jadi ia hanya tersenyum jahil saja.
"Jangan memanggilku sayang bodoh! Kau ini memalukan!"
"Memalukan tidak apa yang penting kau mengakui aku tampan hm?" Sehun kembali tersenyum. Ia bahkan sampai tidak menyadari kalau ia sedang berada didalam lift dengan 5 orang didalamnya selain dia.
"Maaf Tuan Oh, anda akan kelantai mana? Anda belum menekan tombol lantainya." Seorang staff akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada Sehun dengan nada suara takut-takut.
"Kau sedang ada didalam lift ya? Akan rapat lagi setelah ini?"
Mengabaikan sebentar pertanyaan Luhan dan menekan tombol lantai dasar sebagai tujuan. Sehun bodoh atau apa? Lebih baik ia turun dengan tangga darurat tadi. Bodoh sekali. Memalukan. "Ah ya, terimakasih Sojun-ssi."
"Kau sibuk sepertinya. Aku tutup teleponnya saja bagaimana?"
"Tidak! Jangan tutup teleponnya!" Sehun berbicara dengan cepat sebelum Luhan benar-benar akan memutuskan sambungan telepon mereka.
"Tidak perlu berlebihan bodoh. Aku kan hanya bertanya."
"Kau sedang ada dimana?"
"Kenapa bertanya?"
"Hanya ingin tahu saja." Sehun mengedikkan bahunya acuh.
"Dikampus. Didalam kelas tentu saja."
"Baiklah."
"Baiklah ap– "
Sehun memutus panggilan secara sepihak. Padahal tadi ia yang terang-terangan membentak Luhan saat ingin memutus sambungan telepon.
Sehun bodoh memang.
.
.
.
"Kau sedang ada dimana?" Luhan mengernyitkan dahinya bingung. Kenapa Sehun bertanya dimana dirinya? Apa Sehun ada disekitar sini?
Ya! Apa yang kau pikirkan Luhan! Kau tidak ingat Sehun orang sibuk tidak mungkin ada disini!
"Kenapa bertanya?"
"Hanya ingin tahu saja." Bola mata Luhan memutar malas. Benarkan? Sehun hanya ingin mengerjainya. Sebenarnya bukan Sehun yang mengerjainya tapi Luhan saja yang terlalu percaya diri.
"Dikampus. Didalam kelas tentu saja."
"Baiklah." Jawaban apa itu? Baiklah?
"Baiklah ap– "
Tutt.. Tutt
"Ya! Oh Sehun sialan! Ya!"
Dan setelah berakhirnya sambungan telepon itu, tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundaknya pelan. Tapi disambut dengan keterkejutan luar biasa dari Luhan. "Sunbae? Gwenchanaseyo?"
"Aishh kkamjagiya!"
Luhan bangkit dari kursinya dan menatap sebal ke arah teman sekelasnya –lebih tepatnya juniornya- Minho. "Awas kau Minho-ya!"
.
.
.
Kantin nampak cukup ramai hari ini. Terlihat dari sedikitnya kursi yang tersisa saat Luhan datang kesana.
"Luhan hyung!"
Seorang pria dengan kulit tannya memanggil Luhan dengan cukup keras dari ujung kantin dan itu mendadak membuat Luhan merasa malu. Bagaimana bisa hitam sialan itu membuat keributan dikantin yang ramai ini.
Luhan segera berjalan cepat kearah Kim Jongin sialan –pria berkulit tan- dan segera mendaratkan jitakan sayang beberapa kali dikepala pintarnya itu.
"Hyung! Kenapa juga kau harus menjitakku seperti ini! Kau mempermalukanku hyung!" Jongin merengek seperti bayi dan itu benar-benar membuat Luhan jijik setengah mati.
Oh iya, Kim Jongin. Si hitam. Si tidak tahu diri. Si pemaksa dan sialnya dia sahabat Luhan. Luhan tahu Tuhan memang baik tapi dari sekian banyaknya manusia dimuka bumi ini, kenapa juga Luhan harus dipertemukan dengan makhluk abstrak seperti Jongin? Tolong Luhan butuh penjelasan secara rinci.
Kim Jongin. Dia salah satu yang kata papa 'teman masa kecil Luhan' yang baru-baru ini –saat diperkuliahan- Luhan menyadarinya. Dan dengan embel-embel teman masa kecil itulah Jongin selalu tidak tahu diri. Padahal seharusnya dia sadar diri bahwa dia seorang anak dari jaksa terkenal, tapi kenapa kelakuannya kadang seperti tidak tahu malu!
"Kau yang lebih dulu mempermalukan dirimu sendiri kkamjong!"
"Aku tadi melihat pria tampan di lobby. Astaga kakinya jenjang sekali. Aku berani bertaruh kalau dia itu model."
"Atau seorang pengusaha kaya? Astaga aku menyukai stylenya."
Luhan mengernyit heran. Pria tampan? Heol! Dia pria paling tampan dan paling diminati di kampus ini, dan apa? Ada yang lebih tampan darinya? Mereka pasti habis berimajinasi. Luhan tidak mungkin kalah dari–
"Oh Sehun?" Luhan kelabakan. Ia mengambil beberapa buku dari tasnya dan menutup wajahnya dengan kilat dan itu berhasil mengganggu Jongin.
"Kau bilang apa hyung?" Jongin berbicara susah payah karena mulutnya yang kini penuh dengan nasi.
"Jongin sembunyikan aku tolong. Hilangkan aku menggunakan kekuatan teleportasimu. Kumohon Jongin." Luhan menampilkan muka memelas didepan Jongin dan itu benar-benar menggelikan menurut Jongin.
"Kau ini sekarang suka membaca cerita fiksi ya? Teleportasi apanya! Kau benar-benar gila hyung." Jongin acuh dan kembali menatap hitmat pada daging dipiringnya tanpa memperhatikan kegelisahan Luhan dihadapannya.
"Jongin demi Tuhan kalau kau bisa menyembunyikanku sekarang juga, aku akan membelikan mobil untukmu merek apapun."
"Hyung, kau bercanda? Aku punya dua mobil dirumah. Jadi untuk apa aku harus meminta darimu? Orang kaya didepanku ini ada-ada saja." Jongin kali ini menggelengkan kepalanya heran. Sebenarnya Luhan ini kenapa?
"JONGIN!" Habis sudah kesabaran Luhan dan tanpa sadar ia melepas suara emasnya dihadapan banyak mahasiswa dan dihadiahkan kekehan geli dari Jongin.
Astaga aku mempermalukan diriku sendiri. Luhan bodoh!
"Luhan?"
Mati kau Luhan!
Luhan memalingkan wajahnya kekanan dengan pose sok sibuknya berharap bahwa Sehun tidak melihatnya padahal jelas-jelas Sehun sudah melihatnya tadi.
"Demi Tuhan Jongin, aku akan membunuhmu sepulang jam pelajaran."
Ia merapikan beberapa buku yang sempat ia ambil dari tasnya dan bergegas pergi dari bangkunya, berjalan kearah belakang namun sebuah tangan menangkap tangannya dengan sangat dramatis sekali.
Setahun itu ada 365 hari kan? dan sebulan ada 30 hari, bukan begitu? Tapi dari sekian banyaknya hari dalam setahun kenapa hari ini yang dipilih untuk hari kesialan Luhan? Dan sialnya lagi ini didepan umum! Mau diletakkan dimana harga diri Luhan sebagai pria jantan? Apalagi si Sehun sialan ini memegang-megang lengannya. Astaga!
"Se-sehun? Kenapa k-kau disini?" Luhan sebenarnya tidak tahu kenapa tiba-tiba ia gugup dengan cara berlebihan seperti ini apalagi dihadapan Oh Sehun teman barunya itu. Ya itupun kalau Sehun mau menganggapnya teman.
Mereka masih saling berpegangan. Lebih tepatnya Sehun yang masih memegang lengan Luhan.
"Dan tolong–" Luhan menjeda kalimatnya. "Lepaskan tanganku idiot." Ia melepas pegangan tangan Sehun pada lengannya dan menatap jengkel kearah Sehun. Sehun hanya menampakkan wajah -ah benar juga.-
"Kenapa kau bisa terdampar disini bodoh?" Luhan bertanya dengan nada berbisik dan baru menyadari bahwa ia masih ditengah kantin dan sedang menjadi tontonan gratis dari mahasiswa lain.
"Aku– "
"Simpan jawabanmu. Ikut aku!"
.
.
.
"Jadi kenapa kau disini Tuan Muda Oh?" Luhan bertanya sarkastik kepada Sehun dan mendelik tajam. Bisa-bisanya Sehun mendatanginya ke kampus. Apalagi kekantinnya juga! Astaga mau diletakkan dimana wajah tampannya ini? –ya Luhan sangat menjunjung harga diri sebagai pria manly-
"Aku hanya– " Sebenarnya Sehun ragu untuk berkata jujur. Takut-takut kalau Luhan mengamuk nanti. Sehun benar-benar akan mati hari ini juga sampai hal itu terjadi. "mengkhawatirkanmu?" Itu bahkan terdengar lucu ditelinga Luhan. Seperti pernyataan namun Sehun menyajikannya dalam sebuah pertanyaan.
"Khawatir katamu? Apa yang perlu kau khawatirkan bodoh! Aku baik-baik saja. Lihat sendiri kan?" Luhan memutar-mutar tubuhnya untuk menunjukkan pada Sehun bahwa dirinya benar-benar baik –setidaknya fisiknya memang baik-
"Sejak kapan kau bersedia menjadi ballerina dadakan didepanku?" Sehun terkekeh kecil melihat tingkah menggemaskan dari Luhan walau Sehun yakin Luhan sama sekali tidak mengetahui hal itu.
.
.
.
Another side
"Aku tidak menyangka laki-laki tinggi tadi ternyata mencari Luhan sunbae. Astaga kupikir dia ingin mendaftar atau apa." Kata seorang gadis bermata sipit bernama Minah.
"Aku pikir juga begitu. Atau mungkin dia utusan darimana. Tapi ternyata– " Seorang gadis bernama Hyeri menghela nafas. "orang tampan akan bergaul dengan orang tampan tentu saja."
"Tunggu! Apa jangan-jangan itu teman kencan Luhan sunbae yang baru?" Tiba-tiba saja kursi kantin itu bertambah personil yang bernama Yura.
"Kau gila apa! Kudengar Luhan sunbae sampai menangis seharian– tidak, lebih tepatnya hanya murung saat baru putus dari Chorong. Mana mungkin dia berubah haluan secepat ini?" Minah menggeleng dramatis.
"Bisa saja Luhan sunbae itu biseks kan? Luhan sunbae memang selama ini berkencan dengan wanita didepan kita. Tapi kita tidak tahu kan kalau Luhan sunbae mungkin saja punya simpanan pria? Pria jenjang tadi contohnya." Yura lagi-lagi berargumentasi dengan pemaparan yang panjang.
"Bagaimana kalau kita dengarkan permbicaraan mereka? Kulihat Luhan sunbae dan si pria tampan itu ke arah taman kampus." Kali ini Hyeri angkat bicara dan dibalas anggukan setuju dari kedua temannya.
Ketiga wanita itu akhirnya berdiri tak jauh dari tempat Luhan dan Sehun berdiri. Mereka bisa mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan Luhan dan Sehun dari sini.
"Jadi kenapa kau disini Tuan Muda Oh?" Dari sini terlihat sunbae mereka menatap sinis kearah pria tampan itu.
"Astaga Luhan sunbae kenapa sebegitu juteknya dengan pria setampan dia?" Minah berdecak kesal namun gemas disaat bersamaan melihat tingkah Luhan yang seperti tengah merajuk itu. Ya, Minah fans nomor 1 Luhan dikampus.
"Aku hanya– "
"Astaga pria itu bisa tidak menjawab yang cepat seperti dikuis-kuis? Menunggu dia menjawab saja rasanya aku sudah ingin melahirkan. Lama sekali." Itu suara Yura. Ia benar-benar kesal. Kakinya sudah pegal membungkuk begini.
"mengkhawatirkanmu?"
Serempak ketiga gadis itu membekap mulut masing-masing dan berteriak histeris. Jijik, gemas, dan kagum secara bersamaan.
"Khawatir katamu? Apa yang perlu kau khawatirkan bodoh! Aku baik-baik saja. Lihat sendiri kan?"
"Luhan sunbae sejak kapan mau melakukan hal seperti itu? Memang dia ballerina? Ha-ha." Hyeri sekali lagi menutup mulut saat kedua temannya memandang dia dengan tatapan –diam atau kami akan membunuhmu-
"Sejak kapan kau bersedia menjadi ballerina dadakan didepanku?"
"Tuh kan benar apa kataku! Pria itu saja mengira Luhan sunbae ballerina!"
"Demi Tuhan kau menyebalkan Oh Sehun!"
"Lihat Luhan sunbae benar-benar menggemaskan saat marah seperti itu. Aku makin jatuh cinta padanya." Sekali lagi hanya pujian yang selalu Minah lontarkan, membuat Yura mual saja.
"Sebenarnya aku ingin mengajakmu pulang hyung. Karena noona akan sampai di Korea hari ini. Dia tiba-tiba saja memberikanku pesan singkat tadi. Jadi aku ingin kita ada disana untuk menyambutnya karena Ayah dan ibu ternyata sedang tidak ada dirumah hari ini."
"Ternyata mereka kakak beradik? Hah, sudah jelaskan memang Luhan sunbae tidak biseks seperti katamu Yura-ya. Lebih baik kita kembali kekelas. Menguping tidak baik tahu."
Yura hanya menatap jijik pada Minah –yang sialnya adalah sahabat baiknya- dan mengikutinya untuk kembali kekelas. Apa katanya? Menguping tidak baik? Lalu acara mereka sejak lima belas menit tadi apa kalau bukan menguping?
.
.
.
"Noonamu pulang hari ini? Lalu apa hubungannya denganku bodoh!" Tanpa sadar tangan mungilnya memberikan jitakan sayang pada Sehun dan dibalas dengan kata aww dari Sehun setelahnya.
"Tentu saja kau juga harus berada disana menyambutnya! Karena dia juga ingin melihatmu. Melihat calon istriku, itupun kalau kau tidak keberatan daripada memanggilmu calon suami. Ha-ha."
Sekali lagi Luhan memberi jitakan dan kali ini kekuatannya lebih besar daripada yang tadi. Dan sekali lagi pula Sehun mengaduh.
"Sejak kapan juga aku mau menjadi calon suamimu? Aku akan menikah dengan wanita berdada besar asal tahu saja!"
"Terserah. Yang pasti dia mengirimiku pesan 'Sehun-ah, aku ingin melihat rusamu itu. Ajak dia kerumah. Aku akan meneleponmu saat aku sudah berada ditaksi nanti. Tidak perlu menjemputku. Jemput rusamu terlebih dahulu.' Begitu katanya."
"Rusamu? Tunggu, apa dia tidak tahu namaku atau memang dia bisa berbahasa mandarin?"
"Aku merahasiakan sampai dia melihatmu secara langsung nanti."
Luhan berdecih. Rahasia? Memang kenapa namanya harus dirahasiakan?
"Aku tidak mau Sehun. Aku masih ada kelas setelah ini." Luhan sudah hampir berbalik namun tangan Sehun mencegahnya untuk pergi.
Sehun meletakkan kedua tangannya dipundak Luhan dan menghela nafas pelan. Kenapa susah sekali mengatur Luhan? Padahal saat kecil dulu Luhan itu anak yang penurut.
"Dengarkan aku. Aku mohon sekali ini saja turuti permintaanku. Aku akan memberikan surat ijin keluar dijam pelajaran kepada dosen yang bersangkutan dan kau tidak perlu takut akan hal itu. Aku bisa mengurusnya demi Tuhan Luhan." Sekali lagi Sehun menghela nafas pasrah.
"Baiklah. Baiklah. Cukup untuk hari ini saja. Besok aku tidak mau kau atur semaumu!" Setelahnya Luhan benar-benar berbalik. Bukan berbalik kearah kelas namun kearah parkiran mobil. Dan dibelakangnya Sehun tersenyum kecil.
.
.
.
"Jadi sudah dimana kakakmu itu?" Luhan memecah keheningan didalam mobil.
"Entah, aku kan sudah bilang dia akan meneleponku saat sudah berada ditaksi." Sehun menjawab dengan wajah datarnya dan membuat Luhan kesal setengah mati dan setelahnya Luhan hanya merespon oh pada Sehun.
"Kenapa kau cemberut begitu hm?" Sehun dengan gemas mencubit pipi kiri Luhan dan empunya mengaduh sakit. Wajahnya memerah. Entah karena malu atau marah.
"Singkirkan tanganmu bodoh!"
"Bodoh begini juga aku tetaplah wakil direktur perusahaan kalau kau lupa." Sehun mencibir dan dibalas delikkan tajam dari Luhan.
"Baiklah. Kita sudah sampai. Ingin turun sendiri atau aku bukakan pintunya seperti tuan putri?"
PLAKK–
"Diam kau Oh Sehun!" Setelahnya Luhan keluar dengan kasar dari mobil Sehun. Menunggu Sehun disisi lainnya.
"Tenagamu tidak main-main. Disini aku baru tahu kalau kau ini pria. Astaga tangan kecilmu itu terbuat dari besi apa?"
"Cepat bawa aku masuk bodoh! Jangan menggerutu!" Luhan berjalan mendahului Sehun kearah pintu masuk rumah besar keluarga Oh.
Saat ia tiba dipekarangan, ia segera melihat kembali pelayan keluarga Oh yang belum lama ini Luhan lihat saat ia dan keluarganya memiliki kunjungan –yang berakhir tidak baik-
Seorang pria yang Luhan ketahui bernama Jinki itu tersenyum dari jauh dan berjalan cepat kearah tuannya –Oh Sehun- dan membungkuk hormat. Tidak lupa juga melakukan hal yang sama untuk Luhan.
"Tuan Oh pulang? Astaga aku terkejut kenapa tiba-tiba Tuan Oh pulang. Apa ada berkas yang tertinggal tuan?" Jinki bertanya dengan ramah dan terselip nada khawatir disana.
"Ah, tidak Jinki hyung. Sebenarnya noona akan kembali hari ini. Oleh karena itu aku pulang cepat. Apa hyung bisa mempersiapkan semuanya? Membereskan kamar noona juga jangan lupa." Sehun tersenyum ramah dan itu senyuman pertama yang Luhan lihat dari Sehun untuk orang lain.
Luhan mengambil kesimpulan. Saat ia berada didalam gerbang emas besar ini –rumahnya keluarga Oh- ia akan tersenyum, tertawa dan bersikap baik terhadap siapapun. Namun saat sudah melewati gerbang emas itu, mukanya seperti iblis saja! Menjadi datar dan memiliki aura negatif yang menyeramkan.
"Tuan Luhan apa butuh sesuatu?" Kali ini Jinki bertanya padanya dan Luhan hanya menggeleng sambil ikutan tersenyum ramah pada Jinki.
"Kalau begitu ayo kita masuk Luhan. Hyung aku mengandalkanmu."
"Siap Tuan Muda."
.
.
.
"Jadi Sehun, berapa umur kakakmu itu?" Sehun yang sedang berkutat dengan laptopnya segera menoleh kearah kanan, tepat kearah Luhan yang tengah menonton televisi entah channel apa yang ia pilih.
"Umur? Hm, kira-kira sama denganmu. Hanya saja ia setengah tahun lebih muda darimu Luhan."
"Oh, dia lahir dibulan Oktober ya? Tunggu, Oktober?" Luhan yang tadinya asik dengan acara ditelevisi itu akhirnya membolakan matanya dan menoleh secara kilat kearah Sehun. Sehun yang tidak mengerti akan keterkejutan Luhan hanya diam saja menunggu respon selanjutnya dari Luhan.
Seperti Shannon. Persis setengah tahun lebih muda dariku.
Luhan mengerjap pelan. Merutuki kebodohannya yang terkejut tanpa alasan didepan Sehun. "Ah, mungkin hanya kebetulan. Orang yang lahir dibulan Oktober bukan hanya satu orang kan. ha-ha."
"Kau ini kenapa hyung? Tadi kau terkejut setelahnya kau tertawa. Aneh sekali."
Luhan hampir saja menjitak Sehun kalau saja tidak ada ketukan dari pintu utama.
"Aku akan membukanya. Mungkin saja noona sudah sampai."
Luhan menoleh sekilas dan mengangguk acuh. Ia memusatkan matanya pada acara yang sedari tadi ia tonton ditelevisi. Namun tidak. Ia tidak benar-benar fokus kesana. Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang dan merasakan sesak didada. Oleh karena itu ia memutuskan untuk kedapur dan mengambil minuman.
Perasaan Luhan tiba-tiba saja berubah tidak enak. Seperti ada suatu bencana besar yang akan ia hadapi sebentar lagi. Tapi apa? Bahkan otak pintar Luhan tidak bisa menebak apapun.
Terpikirkan kembali percakapan dengan Sehun diruang tengah tadi. Saat Sehun mengatakan bahwa kakaknya bahkan memiliki umur yang sama dengan wanita dimasa lalunya. Apakah semua ini terasa seperti kebetulan? Bahkan disaat yang bersamaan dada Luhan tiba-tiba sesak luar biasa.
"Apa memang benar dunia sesempit ini?" Luhan bermonolog.
Luhan tahu bahkan sangat paham seberapa besar dan luas bumi ini. Jadi apakah mungkin gadis yang sedari tadi menetap dipikiran Luhan adalah gadis yang sama yang akan Luhan sambut hari ini?
Kalaupun benar itu adalah dia, mau diletakkan dimana wajahnya? Bahkan Luhan ragu untuk menahan tangisannya saat ia bersitatap dengan gadis itu.
"Dunia tidak sesempit itu lagian. Itu hanya teori bodoh!" Luhan mengangguk mantap merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja dan akan berjalan sesuai rencana. Seperti itulah harapan Luhan.
Setelah dirasa cukup untuk mengatasi kegugupannya, Luhan meletakkan kembali gelasnya dan berbalik saat mendengar teriakan Sehun memanggilnya.
"Hyung, kau dimana?Noonaku sudah tiba!" Sehun berteriak secara antusias. Padahal Luhan belum melihatnya tapi keantusiasan Sehun terasa sampai kedapur.
Luhan berjalan perlahan kearah ruang tamu. Sebelumnya ia berpapasan dengan Jinki dan lagi-lagi pria lucu itu tersenyum ramah padanya. Luhan takut saja nanti mulutnya keram karena banyak tersenyum hari ini. Atau memang Jinki bahkan tidak bisa hidup tanpa tersenyum? Terserah! Luhan tidak akan merepotkan hal itu.
Saat hampir dekat dengan ruang tamu. Luhan menghentikan langkahnya sebentar karena ia mendengar suara tawa anak kecil dari sana.
Jadi kakaknya Sehun sudah menikah? Wah bahkan umurnya sama denganku tapi ia maju selangkah dariku!
Dan–
"Luhan-ah, ini noonaku. Namanya Oh Sena. Ia baru saja pulang dari Jepang."
Luhan diam ditempat. Mematung seketika. Ingin bergerak tapi entah seakan-akan ada sebuah beban yang menahannya. Begitu pula dengan Oh Sena. Senyuman yang tadinya merekah dibibirnya seketika luntur tanpa bekas disana. Mungkin kalau Luhan tidak setengah sadar, ia sudah menganga tidak tahu malu sekarang. Namun sepersekian detik, Luhan bisa menguasai dirinya dan berjalan perlahan ke arah kakaknya Sehun –Oh Sena- itu.
"Um, Hai?" Luhan tersenyum paksa. Jantungnya berdebar dengan keras. Luhan khawatir kalau-kalau Sehun bisa mendengarnya.
"H-hai?" Shannon menjawab tak kalah gugup dari Luhan namun masih setia dengan wajah terkejutnya tadi.
"Luhan imnida." Luhan tersenyum tipis dan membungkuk perlahan. Ucapan formal untuk orang yang baru ia temui setelah sekian tahun ia menghilang.
"Oh Sena imnida. Sehun noona." Kali ini terlihat bahwa Shannon bisa menguasai dirinya kembali dan ikutan membungkuk formal dihadapan Luhan sambil tersenyum manis. Senyuman yang tidak mungkin Luhan lupakan.
"Nah noona, jadi ini orang yang diceritakan ayah dan ibu. Dia Luhan. Maaf membuat noona kecewa karena ia laki-laki." Sehun tersenyum paksa, berharap kakaknya mau menerima Luhan ditengah keluarga mereka.
"Aku sangat tahu kalau dia laki-laki Sehun."
.
.
.
"Bolehkah– aku mengenal anakmu? Siapa namanya?" Luhan ingin menangis rasanya. Ia akhirnya melihat tampang bayi yang sembilan bulan ia dan Shannon jaga dulu.
"Namanya– Oh Daehan." Luhan tersenyum. Senyuman paling hangat yang ia miliki. Ia benar-benar rindu dengan Shannon dan juga anak itu.
"Oh Daehan? Marga suamimu– " Pertanyaan Luhan terputus.
"Um, aku tidak punya suami Luhan-ssi." Luhan tahu. Dari senyuman manis itu, Shannon tengah bersedih. Rasanya Luhan ingin memeluk Shannon dan menenangkannya.
"A-ah, begitu ya." Luhan merasa bersalah menanyakan hal yang sensitif itu kepada Shannon.
Luhan mengalihkan pandangannya kearah jendela besar diruang tamu yang langsung menghubungkannya kepemandangan taman rumah keluarga Oh.
Kalau saja Luhan itu perempuan, mungkin saja Luhan sudah menangis dari tadi. Tapi tidak, ia tidak boleh selemah itu. Lagipula masih ada Sehun disini. Ia tidak mau gegabah dan akhirnya mengundang tanya besar dari Sehun.
Tiba-tiba Luhan tersentak. Ada sebuah tangan mungil yang melingkari kaki kanannya. Luhanpun membelalak dan dengancepat mencari pusat sentuhan kecil itu.
"Uncle!" Seorang anak kecil berumur empat tahun. Tampak manis dan menggemaskan sama dengan ibunya. Anak itu tersenyum senang ke arah Luhan. Sontak Luhan mengalihkan pandangannya ke arah Shannon.
Shannon nampak terkejut dengan aksi tiba-tiba Daehan, namun ia juga ragu untuk mengambil anaknya kembali.
Setelahnya Luhan memperhatikan ekspresi Sehun dan ternyata pria itu tersenyum senang. Luhan baru tahu kalau Sehun sangat menyayangi keponakannya itu.
"Sepertinya dia menyukaimu hyung." Sekali lagi Sehun tersenyum.
"Daehan-ah, jangan mengganggu paman Luhan nak. Kemarilah." Shannon berdiri dan melebarkan tangannya. Berharap anaknya mengerti bahwa ibunya ingin ia kembali kesana dan menjauhi Luhan yang dipandangan Shannon terlihat terganggu.
"Gwenchana Shan– maksudku Sena-ssi." Luhan menggaruk tengkuknya canggung.
Jangan sampai salah bicara. Jangan sampai salah bicara. Kau bedebah Luhan!
"Uri Daehanie mau main bersama paman Luhan?" Luhan tersenyum jenaka dan mengundang tawa dari Daehan. Daehan mencubit dengan gemas pipi Luhan. Mungkin Daehan pikir Luhan ini boneka berjalan. Mungkin.
"Ne, Daehan mau bermain bersama paman Lulu!" Seru Daehan antusias. Namun Luhan menghela nafas dan membuat Daehan mengerutkan keningnya lucu.
"Luhan, Daehan-ah. Bukan Lulu. Lulu itu seperti nama anak perempuan. Jadi jangan panggil aku Lulu. Arrachi?"
"Lulu, Lulu! Daehan ingin memanggil paman Lulu saja." Daehan kecil mempoutkan bibirnya lucu dan akhirnya membuat Luhan menghela nafas kembali. Mengalah dengan anak kecil sepertinya lebih bermoral.
"Baiklah sayang baiklah." Satu kecupan mendarat dibibir Daehan. "Kau boleh panggil aku paman Lulu. Tapi janji kalau didepan teman-teman paman Sehun atau teman-teman mamamu, jangan panggil aku Lulu oke? Nama itu benar-benar tidak keren." Luhan menggeleng tidak setuju dengan sebutan Lulu tadi.
"Oke!"
Luhan kembali berpikir bagaimana caranya agar Daehan kecil ini tidak memanggilnya dengan panggilan menjijikan itu.
"Bagaimana kalau Daehan memanggil paman Lulu dengan sebutan baba?" Luhan menaik turunkan alisnya jahil kearah Daehan.
Daehan yang bingung akhirnya bertanya. "Apa itu baba?"
"Baba itu– adalah nama terkeren di China. Bagaimana?"
"Baba? Baba!"
"Kajja, kita mencari kupu-kupu ditaman belakang! Kita berangkat bos kecil!"
Setelahnya Luhan –dengan Daehan digendongannya- berlari menjauh kearah taman dibelakang mansion Sehun.
.
.
.
"Luhan itu lucu sekali. Aku baru tahu kalau ternyata dia suka anak kecil. Kupikir tadi dia akan menendang Daehan." Sehun tertawa. Menertawai kebodohannya dengan berpikiran sesempit itu terhadap Luhan.
"Luhan terlihat sangat senang dengan Daehan. Seperti aku melihat dia menggendong anaknya saja."
Uhuk–
Itu suara Sena. Tadi ia baru saja meminum jus buatan bibi Jung dan tersedak hanya karena kalimat –yang menurut Sena mengejutkan- dari Sehun tadi.
"Noona gwenchana? Kenapa tiba-tiba tersedak?" Sehun mengusap punggung kakaknya dengan khawatir.
"Gwenchana Sehun-ah." Sena tersenyum paksa kearah Sehun.
Sena sangat terkejut saat Luhan bilang kepada Daehan untuk membiasakannya memanggil baba. Sena tidak buta bahasa mandarin. Ia melakukan segalanya di Beijing dulu –sebelum ada sebuah insiden dan mengharuskan ia tinggal di Jepang- dan paham betul apa arti dari baba itu sendiri.
Apa Luhan masih mengingatnya? Apa Luhan masih mencintainya? Tapi tidak mungkin. Bahkan tanpa disangka-sangka, Luhan sekarang menjadi menantu dikeluarga Oh. Ia akan dinikahkan dengan adik semata wayangnya, Oh Sehun.
Bertahun-tahun hidup menetap di Jepang tanpa Luhan agaknya tidak membuat Sena terpikirkan bahwa ia akan bertemu dengan Luhan kembali. Kalaupun memang Tuhan memberikan sebuah takdir untuk mempertemukan mereka berdua, Sena selalu berpikir bahwa ia akan bertemu dengan Luhan dalam keadaan baik-baik saja. Malah ia berpikir bisa kembali pada Luhan dan berkata 'Bayi kecil kita sudah sebesar ini sekarang. Apa kau tidak merindukannya?'
Tapi tentu saja harapan tinggal harapan. Sena bukan orang yang memiliki mimpi setinggi langit. Sudah bisa hidup tanpa kebencian berlebih dari orang tuanya pun ia sudah sangat bersyukur. Jadi untuk memohon kembali pada Luhan hanya seperti khayalan bodoh baginya.
Semua memiliki jodohnya masing-masing. Sena tahu itu. Tapi bisakah Sena egois? Luhan boleh menjadi teman kencan siapapun, tunangan siapapun, bahkan berbagi seks dengan siapapun. Tapi sekarang– kenapa juga pria itu harus berdiri didepan Sena menyandang sebagai calon istri– ah tidak calon suami adiknya. Sena ulangi, adiknya– Oh Sehun. Memangnya dari jutaan orang dimuka bumi hanya Oh Sehun saja yang menarik?
Dan melihat bagaimana reaksi Luhan terhadap dirinya dan anaknya apakah Sena tidak boleh curiga kalau sebenarnya itu hanya alasan basi Luhan untuk menyenangkan Sehun? Agar Luhan terlihat pantas dihadapan Sehun?
Apa Luhan hanya kasihan padaku?
Sena termenung. Merutuki kebodohannya sendiri. Bahkan Luhan rela diusir dari rumahnya dan menetap diluar negeri saat membelanya dan sekarang ia malah berpikir yang tidak-tidak tentang Luhan? Apakah Sena tidak tahu diri?
Ia tertunduk dan setelahnya Ia menatap kearah Luhan juga anaknya –Daehan- ia tahu Luhan orang yang baik. Kalaupun memang takdir sejahat ini, biarlah Sena yang menuai pahitnya. Ia pantas mendapatkan ini karena telah membuat Luhan kesusahan dimasa lalu.
Setidaknya Luhan masih mengingat janjinya dulu.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
Hmm sebenernya gamau ngeluarin si Sena ini disini. Tidak masuk dalam konsep si Sena ini keluar secepet ini. Tapi yasudahlah karena dibelakang nanti bakalan banyak flashback juga ke waktu dimana si Sena dan Luhan ini tinggal bareng di China jadi ya aku sisipin aja si Sena disini, lebih cepat lebih baik hehe
Oh iya makasih juga buat para readers, reviewers, dan semuamuanya yg udh melirik ff ini /tebar lope/ 3 3 3 kkk~
Udah ah, sekian aja ngomongnya. Mind to review guys?:)
