I Think I Love You

Cast:

Oh Sehun

Luhan

-HunHan-

Rated:

T = Tentukan sendiri(?)

Genre:

Romance, Family, Boys Love –Shounen ai-

.

.

.

.

Kata orang, dunia ini sempit. Kalau kau bertanya itu benar atau tidak pada Luhan, pasti ia akan bilang "Itu hanya teori bodoh!" Tapi setelah ia bertemu dengan sosok Sehun, Luhan yakin ia bisa menjelaskan sesempit apa dunia ini.

.

.

.

.

.

.

5 years ago

Luhan tengah berdiri didepan pintu apartement Shannon. Gadis itu bilang ingin menemuinya sore tadi tapi apa? Luhan bahkan sudah berdiri setengah jam disini dan setengah jamnya lagi ia duduk. Total ia sudah menunggu satu jam lamanya tapi gadis itu belum juga sampai diapartementnya.

Drrt.. drrt..

Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Luhan. Luhan segera membuka kuncinya dan ternyata itu dari temannya Alex.

From: Alex

Luhan cepat kemari! Shannonmu terluka!

Alex teman sekelas Luhan. Si anak jahil yang memang suka sekali menjahili orang. Dan sekarang disaat Luhan tengah bosan kenapa si Alex ini bergurau dengan menyebut nama Shannon? Jelas-jelas Shannon bilang sendiri ia baru saja akan pulang dari sebuah butik tadi.

Untuk kedua kalinya ponsel Luhan bergetar tanda ada pesan masuk kembali. Dengan wajah malas, Luhan kembali mengambil ponsel itu disakunya dan membuka layar kunci. Sumpah Luhan sedang tidak ingin bercanda dengan Alex tapi kenapa– tunggu! Apa Alex saat ini tidak bercanda?

From: Alex

Aku sedang tidak bercanda Luhan.

(menyebutkan alamat)

Tanpa berpikir kembali, Luhan segera berlari ke arah tangga darurat dengan wajah yang benar-benar panik. Shannon. Shannon. Nama itulah yang terngiang di benak Luhan. Bagaimana ceritanya Shannon bisa terluka? Suaranya baik-baik saja tadi saat dia menelepon Luhan.

"Shannon, bertahanlah!"

Dengan situasi sekacau ini Luhan malah tiba-tiba sulit menemukan kunci mobilnya? Padahal jelas-jelas ia mengingat ia meletakkan kunci itu disaku jaketnya tadi.

"Sialan. Kemana sih kunci mobilku! Ah, ini dia."

Setelahnya ia masuk kedalam mobilnya dengan tergesa-gesa. Bahkan kepalanya telah menjadi korban antukan langit-langit mobil tadi dan juga tiba-tiba saja tangannya gemetaran sampai berdampak pada sulitnya Luhan menancapkan kunci mobil kedalam lubangnya.

"Astaga Luhan, tenang oke. Kalau memasukkan kunci mobil saja kau tidak bisa bagaimana mobil ini bisa berjalan bodoh! Tenang. Tenang."

Luhan menetralkan debaran jantungnya dengan menghirup dan mengeluarkan udara dari mulut dan hidung sebanyak tiga kali dan benar saja kunci itu bisa masuk dengan sempurna ketempatnya.

Setengah jam dan akhirnya dia sampai didepan alamat yang diberi tahu oleh Alex. Tapi tunggu, ini bahkan bukan sebuah gedung. Ya memang gedung, tapi ini gedung kosong yang sudah tua. Apa Alex salah memberi alamat atau dugaan Luhan benar kalau Alex bajingan itu menjahilinya?

Sialan kau Alex. Awas saja!

Masa bodoh. Lebih baik ia tahu benar atau tidaknya sendiri. Tanpa berpikir lebih lanjut Luhan memantapkan kakinya untuk masuk. Ia tidak perduli akan dipermainkan oleh Alex. Toh ia masih bertemu disekolah besok kalau sampai benar si bajingan itu menjahilinya. Dia akan memberi pelajaran kalau Alex menjebaknya.

Suasana gedung itu gelap, benar-benar tanpa penerangan sedikitpun. Luhan saja harus menyalakan senter diponselnya yang terbatas itu guna menelusuri gedung tua tersebut. Bau khas bangunan tua masuk ke indra penciuman Luhan. Sedikit banyak Luhan merasa ngeri. Bagaimana kalau tiba-tiba dia dirampok? Atau bagaimana kalau penunggu bangunan ini mengamuk karena Luhan masuk tanpa izin? Oke abaikan yang terakhir, itu benar-benar membuat Luhan tidak kelihatan manly oke?

Tepat saat ia menaiki sebuah tangga, ia mendengar sebuah rintihan kecil. Luhan dengan cepat segera menaiki tangga dengan tergesa dan benar, Shannon ada disana. Terbaring lemah dilantai dingin bangunan dengan lakban di mulutnya dan–

"Astaga, ada apa dengan Shannon?" Luhan terpaku sesaat. Matanya membola sempurna dan debaran jantung yang tidak terlalu cepat tadi kini memacu dengan kencang.

Demi Tuhan, ada apa dengan Shannonku?

Luhan tersadar kembali. Ia mempercepat langkahnya mendekati lokasi Shannon berada namun Luhan kembali terpaku dijarak yang cukup dekat dengan Shannon saat ini.

Ia melihat tangan Shannon diikat kebelakang entah menggunakan apa dan mulutnya dilakban menggunakan lakban hitam dan– Luhan tidak mampu menjelaskan lebih lanjut kondisi Shannon saat ini. Luhan sakit hati. Benar-benar sakit hati sekali.

Buru-buru Luhan melepas dengan pelan lakban dimulut gadis itu beserta tali yang mengingat tangannya, dan setelah itu ia menyampirkan jaketnya ketubuh gadis itu untuk menutupi tubuh polos Shannon sementara dan menggendongnya ke arah mobil Luhan yang terparkir dibawah.

Dan tanpa Luhan sadari disana, ditempat tadi masih ada satu orang lagi. Dengan kamera ditangannya.

.

.

.

Luhan mempercepat langkahnya kearah mobil dan meletakkan Shannon dikursi penumpang bagian belakang. Ia mengambil jaket lainnya yang biasa Luhan simpan di mobil dan menutupi tubuh Shannon agar tidak kedinginan.

Disepanjang perjalanan Luhan hanya diam. Diamnya orang berpikir. Berpikir kenapa ada kejadian seperti ini? Dan kenapa Luhan adalah saksi kejadian ini dari ribuan orang di Beijing?

Kenapa. Kenapa. Dan kenapa. Pertanyaan itu yang sedari tadi Luhan pikirkan.

Memutar kembali kejadian beberapa menit yang lalu. Siapa gerangan bajingan yang berani melakukan hal tidak bermoral itu kepada Shannon? Siapa orang gila yang berani menyentuh Shannonnya?

Bahkan dulu, selama Luhan berkencan dengan Shannon ia selalu meminta ijin gadis itu untuk sekedar memegang tangannya dan memeluknya. Tapi ini, bahkan siapa orangnya pun Luhan tidak tahu. Orang itu benar-benar mau mati rupanya.

Lima menit setelahnya Luhan berhenti disebuah toko pakaian. Ia segera keluar dengan tergesa dan membuka pintu belakang, melihat dari atas sampai bawah tubuh Shannon yang kini tengah setengah sadar itu untuk memastikan ukuran baju Shannon agar ia dapat membeli baju yang pas untung Shannon.

"Selamat datang tuan, ada yang bisa saya bantu?"

Luhan tersenyum canggung dan setelahnya ia berbicara. "Aku ingin membeli pakaian untuk kekasihku. Kira-kira apa yang paling bagus?"

"Ah, mari saya tunjukkan tuan." Perempuan itu mengantar Luhan kebagian dress sederhana. Bagian dress? Tentu, karena semua baju disini adalah baju wanita. Ini toko pakaian wanita.

"Kira-kira seberapa tinggi kekasih tuan?"

Luhan diam, tampak berpikir dan akhirnya mendapat pencerahan saat seorang wanita lewat tepat disebelahnya. "Persis seperti dia. Carikan aku ukuran yang sama dengan wanita itu."

.

.

.

Luhan merutuki kebodohannya. Bagaimanapun ia tidak tahu password apartement Shannon. Dan lucunya lagi ia tidak mungkin dapat bertahan diluar pintu dengan Shannon digendongannya. Seramping apapun tubuh seorang gadis, tetap saja menggendong gadis dengan keadaan tidak sadar seperti ini dapat membuat Luhan bertambah pendek!

"Berapa kodenya ya Tuhan!" Ia memutar otak. Kira-kira apa kode apartement Shannon?

"11111– oke salah."

"00000– bodoh sekali! Mana ada orang yang menggunakan sandi seperti itu untuk apartement. Oke salah."

"12345– apa-apaan kenapa salah terus?"

Terbersit kalimat menggelikan diotaknya. Bagaimana kalau ternyata Shannon membuat sandi apartementnya dengan menggunakan tanggal hari jadi mereka beberapa waktu yang lalu? Mencoba saja tidak salah kan?

"20613"

Klik–

Luhan melongo. Tadi itu hanya hayalannya saja dan hanya perandaian yang Luhan pikirkan tapi kenapa– ah sudahlah.

"YES!"

Luhan segera berlari kedalam dengan Shannon masih berada didekapannya. Ia segera mencari letak kamar Shannon dan setelahnya meletakkan dengan hati-hati tubuh ringkihnya itu.

"Tunggu sebentar ya, aku ingin membuatkanmu sup dibawah." Monolog Luhan sambil tersenyum hangat kearah Shannon yang tengah tertidur.

Ia pun turun kelantai dasar dan mulai memasak sup, kalau-kalau Shannon bangun ia bisa langsung memakannya.

Sebenarnya kalau kalian ingin tahu, Luhan itu memang tipe-tipe murid berandalan yang yeah bisa dibilang tetap sayang mama dan papa. Ia biasa menyebut dirinya berandalan elit. Tidak tahu sih dimana letak elitnya menjadi seorang berandalan tapi ya seperti ini, bahkan walaupun ia berandalan sekalipun ia masih bisa memasak sendiri untuk gadisnya. Bisakah Luhan berbangga kali ini?

Menghabiskan waktu setengah jam untuk membuat makanan, Luhan pun meletakkan hasil masakannya disebuah mangkuk porselen. Ia mengambil nampan dan meletakkan mangkuk bubur itu diatasnya beserta gelas berisi air putih dan vitamin.

Ia berjalan perlahan kearah kamar Shannon. Pintu kamar terbuka pelan. Luhan meletakkan nampan berisi mangkuk sup, gelas, dan vitamin tersebut dinakas saat melihat mata Shannon terbuka perlahan.

"Kau sudah bangun hm?" Luhan duduk disisi ranjang dan memandang sedih kearah Shannon.

"Luhan? Bagaimana kau– " Luhan segera meletakkan jari telunjuknya dibibir Shannon dan tersenyum hangat. "Jangan bertanya banyak. Segera bersihkan dirimu oke."

.

.

.

"Halo?"

"Gege? Gege dimana? Gege bilang gege setuju dengan ajakan makan malam denganku hari ini!"

"Maaf. Tapi gege ada urusan mendadak tadi makanya gege tidak bisa datang. Maaf Qian. Besok kita akan– "

"Aku benci gege, gege mempermalukan aku didepan teman sekelas. Mereka meneriakiku pembual. Aku benci gege!"

"Aku tidak menyuruhmu untuk membawa bala tentara diacara kencan semalam kita bodoh."

"Tapi tetap saja gege itu–"

Klik–

Apa semua gadis seperti itu? Saat kencannya gagal, apakah semua gadis akan melubangi telinga prianya dengan suara marah-marah itu? Luhan benci mendengar teriakan seperti itu. Lagipula Luhan tidak pernah mengajak gadis itu untuk berkencan. Justru sebaliknya, gadis itu yang terus mengirimi surat berwarna pink –yang selalu berakhir ditempat sampah setelah Luhan membacanya- mengajaknya kencan terus-menerus.

Semua orang sudah tahu bahwa Luhan si playboy sejati –dulu- sudah berubah karena kehadiran seorang Shannon Oh. Tapi kenapa para fans beratnya tidak juga mengerti akan hal itu? Jadi kalau Luhan tidak datang jangan salahkan Luhan. Memangnya hidup Luhan hanya untuk mendatangi kencan saja? Hell.

"Apa kau memiliki ajakan kencan dari adik kelas?" Tiba-tiba saja suara Shannon sudah menyeruak dari belakangnya. Luhan segera meletakkan ponselnya disaku jaket kembali.

"Ah, begitulah. Tapi sudah telat dua jam. Dia pasti sangat marah. Ha-ha."

"Kau tidak seharusnya membantu makhluk menjijikan seperti aku Luhan. Lihat, aku kotor dan hina sekarang. Seharusnya kau pulang ke apartement mu dan mengunci semua pintu."

"Jangan berbicara lagi kumohon. Maafkan aku karena aku terlambat. Kalau saja aku datang sejam lebih awal kau pasti tidak– "

"Kau bilang padaku untuk jangan banyak bicara. Sudah terjadi semuanya dan ini bukan salahmu Luhan." Shannon menyela kalimat Luhan dengan nada sedih yang kentara.

"Lagipula kita sudah lama berakhir dan sekarang aku memiliki kekasih baru. Jadi seharusnya bukan kau yang datang tapi dia. Dan lihat sekarang bahkan menanyakan kabarku saja tidak."

"Kau apa? Kau sudah memiliki kekasih baru? Ah, kalau begitu aku harus pulang. Aku takut kalau kekasihmu datang dan menghajarku disini."

Luhan hendak berbalik dan pergi dari kamar gadis itu kalau saja Shannon tidak memegang lengannya. Luhan tidak menoleh tapi ia merasakan Shannon akan berbicara sesuatu.

"Maafkan aku sudah menyeretmu dalam sebuah masalah. Dan terimakasih karena sudah datang dan menemukanku. Aku harap kita bisa berteman Luhan."

.

.

.

Apartement Luhan terasa sepi dan dingin sekali. Luhan bahkan menggigil dibuatnya. Setelahnya ia menghela nafas pelan. Ia memejamkan matanya sebentar dan kembali menghela nafas.

"Jadi Shannon sudah punya kekasih baru ya?" Tawa Luhan terdengar kecewa sekali. Ia benar-benar bodoh atau apa? Tidak mungkin Shannon masih mencintainya. Luhan sudah menghianati Shannon dan Luhan masih mengharapkan Shannon mau kembali padanya? Itu benar-benar tidak mungkin.

Tokk.. Tokk..

Luhan menoleh ke arah pintu dibelakangnya. Seseorang menggedor pintu apartementnya dengan tidak sabaran malam-malam begini? Sopan sekali dia. Seingat Luhan, ia tidak punya teman yang tidak sopan seperti ini.

Saat pintu hampir terbuka sempurna, pintu itu menjeblak keluar seperti ditarik paksa dari luar dan Luhan terperangah. Seseorang bertubuh tinggi berambut pirang mencengkram kerah bajunya dan menariknya keluar dari apartement.

"Brengsek kau!"

BUGH–

"Arghh–"

"Kau! Berani-beraninya orang yang sama merendahkanku seperti ini lagi. Kau bajingan!"

.

.

.

Kepalanya pusing, perutnya nyeri dan bibirnya pecah disebelah kanan. Sekali lagi Luhan menghela nafas perlahan sebagai awal dari pagi hari ini.

Ya, semalam ternyata Kris yang datang dan menghajarnya habis-habisan. Karena apa? Tentu karena kekasihnya. Luhan tidak tahu duduk permasalahannya padahal. Tapi Kris terus saja menghajarnya tanpa memberinya alasan.

Luhan bisa berkelahi sungguh. Tapi kalau saja Luhan tidak tahu masalahnya apa kenapa juga Luhan harus menyakiti orang lain? Itu bukan style Luhan sama sekali dan sekarang Luhanlah yang malah berakhir mengenaskan di apartementnya sendiri. Begitu bodohnya Luhan.

Jam menunjukkan pukul enam pagi dan Luhan baru sadar bahwa dari semalam ia tertidur dikarpet ruang tengah. Mungkin semalam ia tidak memiliki tenaga bahkan hanya untuk sekedar pindah kekamarnya sendiri. Semengenaskan apa Luhan kalau seperti itu?

Ia segera bersiap-siap dan sesaat sebelum keluar dari kamarnya, ia melewati cermin besar yang memang ia pasang disudut kamarnya untuk mengecek apakah pakaian yang ia kenakan sudah rapi atau belum.

Penampilannya pagi ini benar-benar sempurna. Bukan, bukan sempurna karena ia tampan atau apa. Tapi sempurna dalam menutupi luka-luka akibat Kris semalam. Lebam di pipi dan pecah dibibirnya telah Luhan sihir dengan beberapa cream sehingga terlihat seperti tidak terjadi apapun.

Dengan wajah santainya Luhan berjalan menuju parkiran dan menemukan mobil hitamnya terparkir cantik disana siap untuk digunakan kesekolah namun–

"Kenapa tiba-tiba kempes begini?" Ban bagian belakangnya terlihat lebih rendah dari bagian depan. Luhan sudah berpikir pasti manusia brengsek itu yang bermain-main dengan Luhan.

"Demi Tuhan, aku sudah terlambat dan– " Kalimatnya terputus saat seseorang dari belakang menepuk pundaknya pelan dan tersenyum cerah.

"Gege? Ada apa dengan mobilmu?" Pria itu terlihat kebingungan saat melihat keanehan dibagian mobil Luhan membuat Luhan untuk kesekian kali menghela nafas pasrah.

"Ada orang brengsek yang tidak menginginkanku untuk pergi kesekolah Zhang."

"Wah benar-benar kurang ajar sekali. Apa jangan-jangan dia– " Pria yang dipanggil Zhang tadi menutup mulutnya dengan cepat menampakkan keterkejutan diwajahnya.

"Dia siapa Zhang?" Luhan mengernyitkan alisnya bingung.

"Aku melihat Yifan turun dari lantai yang sama dengan letak apartementmu semalam. Apa kalian terlibat sesuatu?" Pria berdimple itu menatap Luhan dengan pandangan menuntut menunggu balasan dari pria yang lebih cantik.

"Tidak Zhang Yixing. Aku sama sekali tidak bertemu Kris semalam. Mungkin saja temannya satu lantai denganku. Bisa saja kan?" Luhan mengedikkan bahunya acuh dan berjalan mendahului Yixing.

"Hei Gege! Naik mobilku saja! Ayo kita sudah hampir terlambat." Luhan tersenyum dan mengangguk pelan saat tangannya ditarik kasar –sangking terburu-burunya- oleh Yixing. Mereka memang hampir terlambat.

.

.

.

Benar kata Yixing, mereka memang hampir terlambat bahkan sudah terlambat saat kaki mereka menginjak pintu utama sekolah. Luhan dan Yixing berlari sambil tertawa-tawa entah menertawakan apa dan malah mengundang tatapan kagum dari beberapa siswi disana.

Dasar penggemar aneh haha

"Oke kita berpisah disini Yixing, jangan rindukan aku oke? Bye!"

Luhan berjalan tenang menuju sebuah kelas. Bukan kelasnya sendiri, tapi kelas orang lain lebih tepatnya kelas Shannon.

Bola matanya berkeliling mencari sesuatu dikelas sebelah. Dan nihil, apa yang ia cari tidak ia dapatkan.

"Gege ada apa kemari?"

"Astaga Liu! Kau mengagetkanku!" Luhan mengusap dadanya kasar. Ia memang benar-benar shock tadi dan bukan dibuat-buat.

"He-he, maaf. Tapi apa yang kau cari? Apa mungkin– " Gadis yang ia panggil sebagai Liu tadi menaik turunkan alisnya jahil, menggoda Luhan. "Shannon Oh belum datang atau malah tidak masuk?"

"Tidak masuk? Kenapa?" Luhan menatap Liu penuh tanya.

"Katanya– " Liu mendekatkan diri ke arah Luhan dan hendak membisikkan sesuatu. " –Shannon dan Yifan gege habis bertengkar ge. Mungkin karena itu mereka tidak masuk."

"Tunggu, mereka? Maksudmu Kris juga tidak masuk?"

"Yap, aku baru saja melewati kelasnya dan dia juga tidak masuk katanya."

.

.

.

Klik–

"Oh, Luhan? Ada apa kemari? Bukankah harusnya kau sekolah?"

"Dimana bajingan itu? Apa dia menyakitimu?" Luhan melangkah masuk kedalam apartement Shannon dan dengan terburu-buru meneliti seluruh ruangan yang ada di apartement gadis itu. Nihil. Ternyata bajingan itu tidak datang kemari.

Tiba-tiba saja tubuh Luhan jatuh terduduk didalam kamar Shannon. Melihat hal itu Shannon dengan segera membantu Luhan untuk berdiri dan menuntun ia kekasurnya.

"Sebenarnya ada apa Luhan? Kenapa kau datang saat jam sekolah?"

"Persetan dengan pelajaran. Aku ingin memastikan kau baik-baik saja."

Luhan menatap Shannon dengan tatapan penuh kelegaan yang luar biasa. Yang Luhan butuhkan saat ini adalah keadaan Shannon yang baik-baik saja.

Grep–

Luhan dengan cepat menarik Shannon dalam pelukannya dan berkali-kali menghela nafas lega. Entah itu sepertinya sudah menjadi suatu kebiasaan Luhan akhir-akhir ini.

"Berjanjilah padaku untuk mengatakan segalanya. Berjanjilah untuk tetap baik-baik saja walaupun aku sedang tidak mengawasimu. Apa kau bisa?"

"Ada apa Luhan? Kenapa kau tiba-tiba menyuruhku berjanji?" Shannon bertanya lirih dengan sedikit isakan. Shannon menangis.

"Tolong berjanjilah sayang." Luhan menjawab dengan tak kalah lirih dari Shannon.

Hatinya sakit. Shannon yang selama ini dia jaga ternyata bisa kecolongan juga dengan pria lain dan brengseknya Shannonnya dinodai oleh orang yang tidak ia kenal. Itu yang membuat Luhan berkali-kali menyalahkan dirinya atas tindakan bodohnya karena menghianati Shannon dulu.

Luhan dapat merasakan Shannon mengangguk dalam pelukannya. Membuat ia tersenyum tenang sekarang.

.

.

.

"Halo Shannon? Apa sesuatu terjadi?" Ini baru pukul lima pagi sebenarnya tapi tiba-tiba saja kontak bernama Shannon meneleponnya.

"Luhan, aku– aku."Luhan dapat mendengar kalau Shannon terisak disana.

"Ada apa Shannon, katakan padaku. Apa si brengsek itu mengganggumu?" Kalau sampai benar. Luhan akan benar-benar menghajar Kris kali ini tanpa kasihan.

"Bukan Luhan, bukan tentang Yifan. Ini tentangku. Aku– "

"Shannon bicara yang jelas demi Tuhan. Apa terjadi sesuatu disana?" Shannon ini bagaimana. Ini masih pagi dan pasti ada yang tidak beres dengannya apalagi mendengar dari suara Shannon yang bergetar disana.

"Aku– aku ha– hamil Luhan. Bagaimana ini? Bagaimana kalau keluargaku sampai tahu?"

"APA?"

.

.

.

"Selamat atas kelulusanmu Shannon." Luhan mencium kening Shannon dan tersenyum hangat pada malaikat cantiknya.

Memang Luhan dan Shannon tidak memiliki hubungan apapun. Tapi yang dapat dipastikan saat ini adalah malaikatnya dan si brengsek Kris itu sudah tidak memiliki hubungan apapun sekarang. Lagipula bagaimana ceritanya Shannon menjadi kekasih pria bertempramen seperti Kris? Kalau saja Shannon berkencan dengan Mark atau pria populer lainnya tidak masalah, tapi ini Kris? Melihatnya saja membuat mual.

"Terimakasih. Kau juga. Selamat atas kelulusanmu Luhan. Terimakasih untuk semuanya." Shannon menampilkan senyum terbaiknya dihadapan Luhan dan itu cukup membuat hati Luhan menghangat.

"Jadi bagaimana dengan keadaan adik bayi kita? Apa dia baik-baik saja didalam sana hm?" Luhan mengelus pelan bagian perut Shannon dan dibalas kekehan kecil dari Shannon.

Usia kandungan Shannon baru memasuki umur tiga bulan dan beruntungnya bagi Shannon bahwa perutnya belum terlalu membesar diusianya yang ketiga bulan itu.

"Apakah adik bayi juga ikutan pusing sama seperti mamanya saat ujian kemarin? Terimakasih ya karena tidak membuat mamamu mual saat ujian kemarin. Kau memang yang terbaik." Luhan tanpa sadar tersenyum pada bayi yang belum terlihat seperti apa tampangnya nanti.

"Dia benar-benar mengerti aku. Saat aku sibuk belajar malam saja dia tidak membuatku mual." Shannon mengikuti gerakan Luhan mengelus bagian perutnya sendiri.

"Shannon?"

Shannon menoleh dan tersenyum kearah Luhan. "Ya, ada apa Luhan?"

"Anakmu adalah anakku juga. Jadi mari kita rawat bersama? Aku akan menjual apartementku dan kita akan pindah ke Shanghai setelahnya."

"Tapi Luhan– apa tidak apa seperti itu?" Shannon menatap sedih kearah Luhan. Pria ini bahkan bukan siapa-siapa lagi untuknya. Pria ini juga bukan ayah biologis dari anak yang dikandungannya. Akankah Shannon merepotkan pria manis ini sejauh itu?

"Ya, dan aku berharap kau juga menjual apartement ini. Kita bisa memulainya bersama sampai adik bayi lahir nanti. Aku janji akan menjaga anak kita." Luhan mengaitkan jari kelingking miliknya pada milik Shannon. Ia tersenyum ikhlas. Ia benar-benar akan menjaga anak ini sampai ia lahir nanti walaupun Luhan akui itu bukanlah benihnya tapi ibu dari anak inilah yang menurut Luhan harus didulukan dari apapun.

flashback end

.

.

.

"Baba, Daehan haus. Daehan ingin minum."

Luhan yang saat itu tengah menyusun lego yang sepertinya memang dibawa oleh Daehan dari Jepang kemari sebagai mainan sehari-hari anak itu menoleh dan tersenyum. "Daehan ingin minum apa hm?" Luhan mengelus surai lembut Daehan.

"Tidak tahu baba." Daehan mengerucutkan bibirnya lucu mengundang tawa kecil dari Luhan dan setelahnya Luhan menggendong Daehan keluar dari kamarnya.

Luhan menghampiri Sehun yang tengah sibuk dengan laptopnya. "Hei direktur, aku dan Daehan akan pergi keluar membeli minuman. Kalau ada telepon dari mama katakan saja seperti itu."

"Oke, maaf aku tidak bisa menemanimu sayang. Bersenang-senanglah. Daehan-ah, jangan nakal dengan paman Luhan oke?" Dan dibalas anggukan setuju dari Daehan.

"Berhentilah memanggilku sayang oke? Ada Daehan disini."

"Jadi kalau kita sedang berdua aku bisa– aww sakit hyung. Baiklah-baiklah astaga." Itu diakibatkan karena Luhan menendang tulang kering Sehun. Sehun memasang wajah merajuk namun Luhan tidak perduli dan melewati laki-laki tinggi itu.

Setelahnya Luhan mencari Shannon untuk meminta ijinnya membawa Daehan. Dan benar saja saat ini Shannon tengah berdiri didepan taman bunga dibelakang rumah Keluarga Oh.

Luhan menepuk pundak Shannon pelan dan setelahnya wanita yang bernama Sena tadi menoleh anggun kearahnya dan tersenyum. "Ada apa Luhan-ssi?"

"Aku akan membawa Daehan jalan-jalan. Apa boleh?"

"Ya, tentu saja. Jangan lama-lama karena Daehan tidak kuat dengan udara dingin." Sekali lagi Sena tersenyum kearah Luhan. Luhan bahkan hampir menahan nafasnya karena itu.

"Dia sama sepertiku rupanya." Gumam Luhan pelan dan mencubit gemas pipi gembil Daehan. "Ah dan apa kau mau ikut? Aku tidak tahu apa minuman yang akan ku beli cocok untuk Daehan atau tidak."

"Ne?"

"Kau ikut denganku dan Daehan, Sena-ssi." Luhan terkekeh kecil. Terlihat sekali dari wajah Sena kalau ia tengah terkejut dengan ajakan tiba-tiba dari Luhan.

"Lalu Sehun?"

"Dia sedang sibuk dengan laptopnya dan tidak akan mempermasalahkan kalau kita jalan berdua oke. Jangan takut."

.

.

.

"Jadi apakah aku melewatkan banyak hal?" Luhan memulai pembicaraan dengan pertanyaan ringan kearah Shannon.

Shannon yang tengah memperhatikan anaknya didekat tempat ice cream tersentak dan menoleh cepat kearah Luhan dan sekali lagi Luhan dibuat terkekeh karena tingkah Shannon yang beberapa kali dalam hari ini mudah sekali terkejut hanya karena Luhan bertanya sesuatu padanya.

"Tidak terlalu banyak. Bagaimanapun kau menjaga dia sampai diumur sembilan bulan kan."

"Tapi aku tidak menepati janjiku untuk menjaganya sampai ia lahir. Maafkan aku Shannon." Luhan menunduk. Menyesal karena sebagai laki-laki harusnya ia bisa memegang omongannya sendiri.

"Bisakah kau memanggilku dengan Sena? Kalau kau terus memanggilku dengan nama Shannon, aku takut– " Sena menjeda kalimatnya dan sedetik kemudian menyambungnya kembali "– aku tidak bisa merelakanmu dengan adikku sendiri Luhan."

Sudah berapa kali Sena membuat Luhan ingin menangis. Kenapa takdirnya benar-benar tidak bagus? Kenapa juga Oh Sehun harus menjadi adik dari Oh Sena mantan kekasihnya yang ia kenal dengan Shannon saat di Beijing.

Dunia tidak adil untuk Luhan. Semuanya tidak adil. Luhan seperti dipermainkan. Pertama, ia dijodohkan oleh seorang pria hanya karena sebuah sumpah sialan orang tuanya. Kedua, Oh Sehun itu memiliki umur yang lebih muda darinya dan ia sudah menjadi wakil direktur. Luhan benar-benar iri akan hal itu. Ketiga, Chorong ternyata diam-diam menjalin hubungan dengan orang yang pernah melecehkannya dimasa lalu. Keempat, saat semuanya sudah cukup untuk Luhan bahwa ia akan mencoba menyukai Sehun walaupun itu akan terlihat tidak wajar –tapi Luhan tadinya sudah ingin mencoba- tiba-tiba saja Shannon yang sekarang ia kenal dengan Oh Sena datang lagi ke kehidupannya dengan anak manis berumur empat tahun yang Luhan juga tidak tahu kenapa wajahnya bisa mirip dengannya padahal jelas-jelas bukan Luhan yang menghamili Shannon waktu itu. Apakah ada yang lebih mengejutkan dari ini semua?

"Hyung?" Luhan seketika menoleh kearah sumber suara tanpa menyadari bahwa saat ini tangannya masih bertautan dengan tangan milik Sena.

"Oh hai Jongin. Kau sedang disini juga rupanya. Ha-ha." Luhan tertawa garing, melepas tautan tangannya dengan Sena dan dibalas anggukan singkat dari Jongin.

"Kau, untuk apa kemari? Berkencan?" Luhan kembali bertanya.

"Ah, aku dan– oh itu dia Chanyeol hyung, Chorong, Hyosung noona dan Jongdae hyung akan menyelesaikan sebuah projek. Kami memilih cafe ini sebagai tempat berlabuh." Luhan mengangguk paham dan tersenyum.

"Oh, Luhan hyung!" Chanyeol menghampiri kursi Luhan dan diikuti tiga orang lainnya dan salah satu dari mereka benar-benar tidak ingin dia lihat hari ini.

"Hai Chanyeol-ah, jadi kalian satu kelompok?" Dan dibalas anggukan kompak dari Jongdae dan Chanyeol.

"Dan– siapa gadis ini?" Chanyeol tersenyum manis menatap gadis –Sena- yang berada dihadapan Luhan.

"Ah, kenalkan ini Sena. Dia– "

Terdengar suara Daehan berteriak dari sudut cafe dan benar saja anak itu menunjuk lucu kearah ice cream cokelat didepannya. "Baba, aku ingin beli yang itu!"

"Maaf aku harus mengurus anakku dulu." Luhan membuka suara kembali. Ia membungkuk cepat dan setelahnya menghampiri Daehan yang masih bertahan disudut cafe bersama ahjussi yang menjaga tempat ice cream itu.

"Anak? Apa kau dengar Luhan hyung bilang kalau anak manis itu anaknya?" Jongdae tampak penasaran.

"Itu tidak mungkin. Luhan hyung orang yang bersih." Tawa mereka menggelegar –kecuali Chorong- itu membuat Sena merasa sedikit tersinggung. Apa ia sekotor itu untuk Luhan?

Dan terlihat kumpulan anak-anak tadi mencari tempat kosong yang letaknya tidak jauh dari tempat Luhan.

.

.

.

"Yeoboseyo hyung."

"Wae?"

"Hyung kau dimana? Apa hyung bersama noona?"

Luhan melirik sebentar kearah Sena dan menghela nafas pelan.

"Ne, aku bersama Sena dan juga Daehan. Ada apa Sehun-ah?"

"Ah, kupikir noona kemana tiba-tiba menghilang. Kalau begitu cepatlah pulang sebentar lagi akan hujan. Daehan tidak bisa berada didalam udara dingin Han."

Han? Panggilan baru lagi? Hah.

"Baiklah aku akan mengajak mereka pulang. Maaf aku tidak bilang padamu kalau noonamu ikut."

"Tidak masalah. Aku senang kalian dekat. Setidaknya kau harus dekat dengan kakak iparmu kan he-he."

"Tidak usah bercanda bodoh. Aku tutup teleponnya."

Klikk–

Tanpa basa-basi atau apapun Luhan mengakhiri sambungan teleponnya bersama Sehun. Sehun itu kenapa sih? Suka sekali melawak kalau bersamanya. Anak gila.

"Sena-ya, ayo kita pulang. Sehun menyuruhmu pulang juga Daehan."

Terlihat Sena menoleh pelan kearah Luhan dan setelahnya mengangguk kecil. Mereka segera berdiri dan Luhan menghampiri Daehan yang masih setia dengan maskot caffe. Luhan merasa gemas melihat tingkah Daehan kalau begini terus.

"Daehan-ah, ayo kita pulang sayang." Luhan segera menggendong Daehan dan setelahnya menghampiri beberapa kenalannya sebelum benar-benar pulang.

"Teman-teman, aku pulang duluan oke?"

Semua yang berada dimeja tersebut segera menoleh dan tersenyum setelah itu mengangguk dengan kompak namun Chorong tidak dan Luhan tidak perduli tentang itu.

"Ne, hyung. Hati-hati dijalan." Chanyeol membuka suaranya. Ia masih sempat-sempatnya mencubit gemas pipi Daehan dan dibalas kikikan lucu dari Daehan. Setelah itu Luhan segera berjalan menuju pintu keluar dimana Sena sudah menunggu.

Benar saja kata Sehun, awan mulai menggelap dan tiba-tiba gerimis turun dari langit. Luhan bernafas lega setidaknya mereka sudah berada didalam mobil sekarang.

Saat sudah sampai Luhan segera membuka pintu utama dan mempersilahkan Sena masuk terlebih dahulu.

"Luhan, kau tidak masuk?"

"Ah, ya aku akan masuk. Aku ingin menghubungi seseorang dulu."

Terlihat Sena mengangguk kecil dan setelahnya memeberikan gestur sampai nanti dengan menggunakan tangan kecil Daehan dan Daehan pun dengan semangat menggerak-gerakkan tangannya kearah Luhan.

"Yeoboseyo, Yixing-ah."

"Ne, hyung. Ada apa?"

"Kau masih ingat Shannon Oh?"

"Tentu saja. Kisah cinta kalian melegenda disekolah. Ada apa? Kau merindukannya?"

"Bukan itu, tapi– "

Luhan tiba-tiba tersentak oleh sebuah tangan dipundaknya. Saat ia menoleh ternyata itu Oh Sehun dan setelahnya otak Luhan buyar untuk berbicara dengan Yixing sangking paniknya.

"Sejak kapan kau disitu?" Luhan memicingkan matanya penuh selidik kearah Sehun.

"Baru saja setelah kau berkata tentang seseorang yang memiliki marga yang sama denganku."

Mati kau Luhan. Bagaimana kalau Sehun curiga kalau-kalau orang yang sedang Luhan bicarakan di telepon dengan Yixing adalah kakaknya sendiri?

Ngomong-ngomong telepon. Astaga Luhan belum mengakhiri sambungan teleponnya dengan Yixing. Bodoh.

"Yixing-ah, aku akan bicara denganmu besok oke?"

"Arraseo hyung. Kapanpun itu aku pasti akan selalu ada."

Dan setelahnya Luhan memutus sambungan dan mengantongi ponselnya disaku celana.

"Jadi siapa itu Yixing?" Sehun mengernyit tak suka saat samar-samar terdengar suara pria dari ponsel Luhan tadi.

"Dia teman lamaku di China dan sekarang dia sudah menjadi dokter jiwa. Kau puas dengan jawabanku?"

Sehun sekali lagi mengernyit curiga namun setelahnya ia tersenyum dan mengangguk kecil. "Aku selalu percaya padamu hyung. Ayo masuk, kau akan terkena cipratan hujan kalau kau tetap disini."

Luhan mengangguk dan setelahnya mengikuti langkah Sehun untuk masuk kedalam rumah.

.

.

.

"Tunggu, apa? Maksudmu kau dan– "

"Oke Yixing simpan keterkejutanmu. Kita bahas masalah Shannon, dan ternyata Shannon itu adalah Oh Sena dan parahnya lagi dia adalah kakak dari Oh Sehun itu. Aku pusing sungguh."

Yixing masih diam seribu bahasa. Masih tidak dapat mencerna kejadian yang Luhan alami beberapa minggu kebelakang. Yang Yixing ketahui dulu Luhan itu straight walau memang sih wajahnya itu cantik bahkan melebihi wanita, tapi tetap saja Luhan tidak melenceng sama sekali –begitu menurutnya- Dan apa? Ia dijodohkan dengan pria? Hell, bahkan Yixing tidak pernah sampai terpikirkan kesana walau memang Luhan lebih pantas menjadi pihak yang dilindungi.

"Hyung, kau sadar dengan ucapanmu kan? Terakhir aku tahu dari anak-anak fakultas ini kau itu baru putus dari mahasiswi fakultas ekonomi dan sekarang apa-apaan kau akan dinikahkan dengan pria?"

Luhan mengusap wajahnya kasar. Ia tahu pasti Yixing tidak percaya. Karena saat di Beijing dulu Luhan itu terkenal –ehem- playboy walaupun memang dari segi wajah tidak mendukung sampai ia bertemu Shan– ah tidak maksudnya Sena itu. Ia tidak putus nyambung lagi seperti dulu bahkan setelah putus dari Sena ia tidak memiliki kekasih lagi sampai ia melihat Chorong. Lagipula Chorong bukan pacarnya.

"Jangan menambah masalahku dengan memutar ke dua minggu yang lalu Yixing. Aku sudah melupakan kejadian menyesakkan itu." –kejadian saat ia baru tahu bahwa ia dijual ke keluarga Oh demi sumpah sialan ayahnya-

"Oke oke maaf. Jadi singkat saja. Kau akan menikah beberapa minggu lagi dengan Oh Sehun dan baru-baru ini kau mengetahui fakta mengejutkan bahwa kakak iparmu adalah mantan kekasihmu yang membuatmu menderita selama ini, begitu hyung?"

Luhan memejamkan matanya sesaat dan menghela nafas. "Bukan dia yang membuatku menderita Yixing. Aku hanya ingin melindunginya."

"Terserah. Tapi kusarankan untuk jujur pada calon suamimu. Aku tahu kau pasti belum mencintai Sehun itu tapi setidaknya kau akan berumah tangga dan rumah tangga tidak akan awet tanpa kejujuran satu sama lain. Walaupun aku tidak yakin kalau kau akan mempertahankan rumah tanggamu mengingat kau seratus persen penggemar dada wanita tapi setidaknya jangan membuat ini rumit. Jangan sampai Sehunmu itu tahu lebih dulu dari orang lain atau bahkan bisa saja kejadian lebih mengerikan dari itu."

Sekali lagi dalam hari ini Luhan menghela nafas pelan. Ia menangkup pipinya dan merenungi sesuatu.

Kalau ia bilang sekarang tanpa rencana itu akan fatal. Luhan tahu sekali Sehun terkadang seperti orang stress. Moodnya tidak bisa ditebak sama sekali.

Tapi kalau nanti-nanti Yixing ada benarnya juga, ia takut kalau nanti malah Sehun tahu lebih dulu dari orang lain dan bisa dipastikan hubungan kakak beradik Oh itu canggung.

Masa bodoh aku tidak bisa berpikir sekarang!

"Rencana apa yang sudah kau pikirkan diotak cerdasmu itu, orang kaya?" Yixing memperhatikan wajah Luhan yang terlihat stress itu. Yixing tidak tahu saja kalau sebentar lagi Luhan akan beruban karena memiliki banyak masalah yang terus dipikirkannya.

"Menurutmu aku harus apa?"

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Buat kalian yang kecewa disini Luhan malah lebih deket ama Sena, tahan ya haha ini cuma buat 1 atau 2 chapter lagi kok dan selebihnya aku bakalan bikin banyak interaksi antara Sehun dan Luhan karena kan secara itu anak mau dinikahin kan wkwk

Dan ini ff seratus persen, engga ini seribu persen yaoi kok:" haha cuma maapin konfliknya menyeret kelurusan Luhan disini. Inget itu cuma masa lalu wkwk Luhan mah cuma ama Sehun, oke!

Akhir kata mohon maap apabila membuat anda-anda semua kecewa :'D

Mind to review? –review seikhlasnya boleh, ga review juga gapapa- (?) hehe