I Think I Love You

Cast:

Oh Sehun

Luhan

-HunHan-

Rated:

T = Tentukan sendiri(?)

Genre:

Romance, Family, Boys Love –Shounen ai-

.

.

.

.

Kata orang, dunia ini sempit. Kalau kau bertanya itu benar atau tidak pada Luhan, pasti ia akan bilang "Itu hanya teori bodoh!" Tapi setelah ia bertemu dengan sosok Sehun, Luhan yakin ia bisa menjelaskan sesempit apa dunia ini.

.

.

.

.

.

.

Luhan menggendong tasnya dengan pundak kirinya dan tangan kanannya menenteng beberapa berkas juga netbook nya. Ia berjalan santai menuju gerbang utama kampus.

Hari ini memang Luhan tidak membawa mobilnya. Karena kalian pasti tahu ia diantar oleh si albino itu dan tadi pagi Luhan memaksa untuk menurunkannya diradius hampir satu kilometer sebelum kampus. Ia tidak mau gosip menyebar kembali seperti bakteri ganas dikampus.

Saat sedang asyik bersenandung tiba-tiba ia berhenti dan memundurkan langkahnya kebelakang beberapa langkah. Ia menoleh pelan dan menggeram tertahan.

Bagaimana tidak? Oh Sehun, pria itu bagaimana bisa ada disini astaga!

Sebenarnya tidak masalah kalau Sehun disini untuk menjemput Luhan, tapi tolong seharusnya si Sehun sialan itu menjemputnya diluar dijarak yang sudah mereka sepakati. Tapi kenapa dia berada diparkiran kampus seperti ini sih?

"Anak itu kenapa bisa ada disini sih! Kurang ajar sekali dia brengsek."

Luhan berusaha tidak perduli dengan itu. Ia berbalik dan pura-pura tidak melihat kehadiran Oh Sehun dikampusnya yang mana banyak menarik perhatian dari tujuh puluh delapan persen mahasiswi dikampus. Beberapa dari mereka malah ada yang mengabadikan foto Sehun yang sedang duduk tampan dikap mobil bagian depannya itu.

Tunggu! Apa? Aku mengatainya tampan? Astaga Luhan kau sudah gila apa?

Namun ini seperti dejavu saat Luhan sedang berada dikantin beberapa hari yang lalu dengan si bodoh Jongin. –ingatkan Luhan untuk membunuh Jongin-

"Luhan hyung!" Sehun dengan bodohnya berteriak dengan suara lantang dari jarak sejauh itu dan demi Tuhan kali ini Luhan akan berlagak tidak perduli.

Luhan? Siapa itu Luhan? Aku tidak kenal!

Dengan perlahan Luhan segera berjalan menuju tujuan utamanya kearah halte bus.

"Luhan-ah, chakkaman!" Lagi! Sehun meneriaki namanya lagi! Tenggelamkan Luhan dirawa-rawa sekarang juga!

Dan tanpa aba-aba Luhan segera berlari menjauh menuju halte. Luhan dengan bersungguh-sungguh memanjatkan doa semoga saat ia sampai dihalte, bus yang ia naiki sudah sampai di halte dengan itu Luhan dapat menghindar dari Sehun.

"Luhan! Demi Tuhan kalau kau tidak berhenti sekarang aku akan menciummu didepan umum. Aku tidak main-main!"

Anak bodoh! Kenapa dia bilang seperti itu!

"Brengsek!"

Setelahnya Luhan berhenti dan mengepalkan tangannya erat. Ia belum mau menoleh kearah Sehun yang sepertinya juga terdengar lelah karena mengejar Luhan tadi.

Luhan malu sekali. Ini masih dilingkungan kampus dan Sehun dengan bodohnya bilang ia akan mencium Luhan. Mana ada teman biasa yang berkata seperti itu? Mereka pasti akan bergosip setelah ini!

"Kenapa juga sih kau harus lari? Lebih bagus kau menyapaku kan?" Suara Sehun terdengar dari belakang Luhan dan Luhan mengeraskan rahangnya. Ia benar-benar ingin melepas mulut brengsek Sehun dari tempatnya.

Luhan berbalik dengan wajah merah padam menahan amarah yang sudah di ubun-ubun dan menatap datar kearah Sehun. "Mau apa kau kemari?"

"Hah?" Sehun menaikkan satu alisnya bingung dan setelahnya tersenyum manis. Ia meraih tangan Luhan perlahan. "Aku ingin berkencan denganmu." Katanya sambil berbisik kearah telinga Luhan.

Dan disaat seperti ini salahkan pipi sialan Luhan yang merona karena ucapan Sehun. Apa? Kencan? Anak ini habis dari pub atau apa?

"Shirreo!" Luhan mendorong cepat tubuh Sehun dan Sehun hampir terjengkang kebelakang karenanya. Sehun baru mengingat kembali kalau Luhan itu pria.

Namun Sehun tidak menyerah. Ia mendekatkan tubuhnya kembali kearah Luhan. Ia mendekatkan bibirnya pada telinga Luhan dan menggigitnya pelan yang membuat Luhan menggigit bibirnya keras. Sehun tidak tahu apa Luhan sampai menggigil disini.

Anak ini benar-benar kurang ajar!

"Kalau kau menolak– " Sehun menjeda kalimatnya dan meniup telinga Luhan pelan. Ia merasakan tubuh Luhan menegang karena itu. Dan Sehun tersenyum menang karenanya.

"– aku benar-benar akan menciummu disini. Didepan anak-anak itu." Lanjut Sehun sambil menoleh kearah beberapa mahasiswa fakultas yang diam tak bernyawa menyaksikan adegan mereka yang terlalu berani itu.

Mata Luhan berkunang tiba-tiba dan kakinya melemas entah mengapa sampai ia sendiri tidak bisa menahan bobot tubuhnya sendiri saat ini. Dan–

BRUK–

"LUHAN!"

Luhan pingsan didekapan Sehun. Dan Sehun panik luar biasa saat ini. Seseorang tolong Sehun!

.

.

.

Baekhyun bersiul kecil saat melewati koridor kampusnya. Sesekali ia melirik kearah kanan, melihat foto alumninya dan terkadang tersenyum kecil. Ia berpikir kapan ia berada diantara figura itu?

"Baekhyun-ssi?"

Tubuh Baekhyun menegang. Ia seperti mengenal suara ini. Dan karena itu Baekhyun enggan untuk menoleh.

"Kau mendengarku kan Baek?" Suara itu makin mendekat dan sesaat kemudian Baekhyun merasakan sebuah tangan besar bertengger di pundaknya. Baekhyun membulatkan matanya panik karena itu.

"Ada perlu apa kau memanggilku Chanyeol-ssi?" Baekhyun bertanya tanpa membalikkan badannya kepada orang yang ia ajak bicara.

"Aku minta maaf soal beberapa minggu yang lalu. Aku hanya mencoba dan kalau kau– Ya! Byun Baekhyun!"

Baekhyun dengan tidak berperasaan meninggalkan pria tinggi itu dan melanjutkan langkahnya menyusuri koridor kampus. Tadinya Baekhyun berpikir ia ingin kesuatu tempat untuk melepas penat tapi sekarang ia berpikir rumahlah tempat yang paling aman untuknya setelah ia melihat makhluk tinggi itu.

Ya, Chanyeol itu Park Chanyeol. Park Chanyeol itu murid terpintar dikelasnya. Ia juga pangeran kampus –bisa dikatakan seperti itu- sama seperti Jongin dan juga Luhan. Jadi jangan heran saat kau melihat mereka makan bersama atau saling sapa dengan nada akrab. Bisa dikatakan mereka bertiga itu pangerannya kampus oleh karena itu mereka sering berkumpul bertiga.

Sebenarnya bukan itu yang ingin Baekhyun beritahu. Chanyeol itu beberapa minggu yang lalu berhasil membuat Baekhyun si kecil yang polos itu bimbang setengah mati.

"Baekhyun-ssi, aku ingin mengaku." Itu suara Chanyeol. Dan mereka berdua sedang berada diatap kampus sekarang.

Baekhyun menoleh dan mengangkat alisnya membuat gestur 'apa?' pada Chanyeol.

"Aku– aku menyukaimu. Maukah kau menjadi kekasihku? Aku tahu kau straight tapi aku hanya ingin tahu." Dan setelah itu Chanyeol memberanikan dirinya memeluk tubuh mungil Baekhyun erat.

Baekhyun mematung. Bukan karena ia suka pelukan Chanyeol atau apa. Tapi salahkan otaknya yang tiba-tiba bertransformasi menjadi lambat karena pelukan tiba-tiba Chanyeol juga kalimat yang dilontarkan Chanyeol beberapa detik yang lalu.

Mereka seperti itu sampai akhirnya Baekhyun menyadari bahwa situasi seperti ini tidak boleh terjadi. Ia mendorong tubuh Chanyeol dengan cepat dan dengan reflek tangannya menampar pipi kanan Chanyeol.

"Kau pikir aku ini gay apa! Permisi!"

Setelah itu Baekhyun pergi dari atap dan berlari menuju kearah toilet.

Setelah dipikir-pikir, Baekhyun kenapa sadis sekali ya. Padahal kan Baekhyun bisa menolaknya secara halus dan memberikan alasan yang tepat agar tidak menyakiti hati pria itu.

Bagus, jadi Baekhyun sekarang memikirkan perasaan pria tinggi itu begitu?

"Kau ini memikirkan apa sih Byun Baekhyun bodoh!" Baekhyun merutuki kebodohannya dan memukul kepalanya dengan pelan menyadarkan pikirannya untuk tidak memikirkan pria tinggi itu.

"Luhan hyung!"

Baekhyun seperti mendengar suara seseorang yang memanggil Luhan dan ia segera berlari keluar bangunan kampusnya dan mencari asal suara.

Benar saja, disana ada seorang pria tinggi dengan rambut coklat gelap dengan setelan jas. Wah Baekhyun iri dengan tubuh tinggi dan langsingnya itu sungguh!

Tapi tunggu, kenapa juga manusia itu memanggil Luhan sambil berteriak begitu? Kalau Baekhyun jadi pria itu sih Baekhyun memilih mengubur dirinya hidup-hidup ditanah. Karena apa? Teriakan pria itu membuat pusat perhatian mahasiswa dikampus tertuju padanya. Memalukan. Untung saja ia tampan. Kalau dia seperti Baekhyun yang konyol ini pasti mahasiswi itu sudah menertawainya.

"Luhan-ah, chakkaman!"

Makhluk bodoh itu kenapa juga sih memanggil Luhan sampai berteriak seperti itu terus?

Baekhyun mengedarkan pandangannya dan ya dia melihat seseorang berlari menjauh yang Baekhyun kenal dengan– Luhan hyung? Kenapa ia lari pontang-panting begitu?

Baekhyun masih setia menjadi penonton drama dadakan dikampusnya sama seperti mahasiswa yang lain dan melihat pria itu mengejar Luhan dan kalimat yang dilontarkan pria itu setelahnya membuat Baekhyun ingin buang air sekarang juga sungguh.

"Luhan! Demi Tuhan kalau kau tidak berhenti sekarang aku akan menciummu didepan umum. Aku tidak main-main!"

Ingin tertawa tapi Baekhyun juga penasaran jadi ia urungkan untung tertawa. Ia akan menyimpan tawa kerasnya itu didepan Luhan besok ha-ha.

Ia melihat Luhan berhenti tanpa menengok kearah pria itu dan pria itu pun mendekat. Setelahnya ia melihat Luhan seperti berbicara dengan pria itu. Dan, damn! Apa mereka berkencan atau apa hah? Dari sini Baekhyun bisa melihat mereka melakukan pose berpelukan! Astaga! Baekhyun ingin berteriak sekarang juga!

Adegan selanjutnya pun membuat Baekhyun merinding setengah mati. Bulu kuduknya serempak berdiri saat ia melihat sekilas pria itu– tunggu! Apa? Astaga itu adegan tujuh belas tahun keatas! Mereka berdua merencanakan drama murahan untuk membuat seisi kampus horny atau apa? Pria itu menggigit telinga Luhannya! Luhan hyungnya!

Tadinya Baekhyun ingin berpura-pura tidak melihat dan memilih untuk bertanya melewati telepon. Namun saat ia hendak mendial panggilan cepat nomor tiga diponselnya, tiba-tiba saja Luhan tumbang disana didekapan pria itu.

"LUHAN HYUNG!"

Ia langsung berlari cepat kearah Luhan. Bahkan ia tidak sadar seseorang sedang memperhatikan ia dari jarak dekat dibelakangnya tadi dan tersenyum manis.

.

.

.

Baekhyun mengompres kening Luhan dengan telaten. Saat ini Baekhyun dan Luhan tengah berada di apartement Baekhyun. Karena untuk sampai dirumah Luhan membutuhkan waktu lama, begitu pikir Baekhyun.

Setelah mengalami perdebatan sengit dengan lelaki tinggi itu di kampus akhirnya pria itu memberikan Luhan padanya untuk dirawat di apartement Baekhyun.

"Sebenarnya siapa sih orang yang tadi bersama Luhan hyung?" Kalau diteliti lagi, pria itu memiliki suara yang berbeda dari yang Baekhyun dengar di toilet. Ah sudahlah Baekhyun tidak ingin membahas masalah di toilet waktu itu.

"Mmhh– " Terdengar suara lenguhan pelan dari bibir Luhan. Rupanya kakak rusanya itu sudah sadar sekarang. Seketika Baekhyun melebarkan senyumnya. Ia begitu khawatir tadi. Luhan pingsan selama satu jam setengah. Bayangkan betapa bosannya Baekhyun disini?

"Hyung sudah sadar? Syukurlah. Aku panik tadi astaga." Ujar Baekhyun panjang lebar.

"Sehun-ah?" Luhan bergumam sambil memicingkan matanya kearah Baekhyun. Apa yang Luhan katakan tadi? Sehun? Memang Baekhyun pernah bilang ya kalau ia berganti nama?

" –ah, Baekhyun-ah? Apa yang terjadi denganku?" Rupanya Luhan baru benar-benar sadar sekarang.

"Kau tiba-tiba pingsan begitu saja didekapan seorang pria tinggi langsing itu." Baekhyun mengedikkan bahunya acuh dan beranjak dari duduknya untuk meletakkan baskom kompres Luhan tadi dinakas.

"Pria? Pria yang mana?" Luhan tiba-tiba saja memegang kepalanya. Kepalanya kenapa bisa-bisanya bereaksi berlebihan begini sih?

"Aku juga tidak tahu hyung. Dia menggunakan setelan jas. Kau memang tidak mengenalnya? Kalian membuat semua mahasiswa tercengang kau tahu. Termasuk aku yang terkejut tadi."

"Apa yang kau maksud adalah pria dengan rambut coklat gelap itu?" Luhan menggigit bibirnya pelan. Astaga bagaimana Luhan sampai lupa kalau Sehun datang ke kampusnya tadi.

"Nah itu kau ingat. Jadi siapa dia? Kalian memang sudah seintim itu ya?"

"Seintim itu bagaimana bodoh!" Luhan melempar bantal berbentuk stroberi milik Baekhyun kepada pemiliknya.

"Akh sakit hyung!" Sang pemilik bantal memungut bantal malangnya dan menarik kursi beroda mendekat kearah kasurnya dimana ada Luhan disana. "Kalian terlihat berpelukan dan astaga aku ingin muntah melihatnya. Kau ingat-ingat saja yang terakhir itu."

~Aye Oh- Too much neoya your love. Igeun overdose~

Tiba-tiba saja dering ponsel Luhan menggema di kamar Baekhyun.

"Tolong ponselku Baekhyun." Kata Luhan sambil menunjuk kearah nakas. Baekhyun mengangguk dan segera mengambil ponsel Luhan dan setelahnya terkejut. Luhan menamai kontak itu dengan–

"Siapa ini? Fucking Oh?" Baekhyun mengarahkan layar ponsel Luhan kearah pemiliknya dan tiba-tiba saja Luhan dengan cepat menyambar ponselnya dengan wajah terkejut dan panik, menurut Baekhyun sih begitu.

"Mwo?"

"..."

"Aku menginap dirumah teman. Tidak perlu menungguku pulang."

"..."

"Baekhyun. Byun Baekhyun. Dia adikku bukan kekasihku bodoh! Aku bergurau waktu itu."

"..."

"Tidak perlu. Kau ini kenapa sih! Sudah cepat kunci pintu dan jendela jangan lupa! Sampai ada satu barang yang tercuri aku akan menyalahkanmu."

"..."

"Diam kau!"

Dengan teriakkan Luhan itu berakhirlah sambungan telepon Luhan dengan orang yang dinamai Luhan Fucking Oh tadi.

Baekhyun masih setia memandangi Luhan dengan saksama. Ada beberapa kalimat Luhan yang agak janggal ditelinga Baekhyun tadi.

Pertama, Luhan hanyalah tinggal berempat dengan Luna noona juga orang tuanya. Kedua, Luhan adalah orang yang tidak mengijinkan siapapun masuk kerumah besarnya kecuali teman dekatnya saja dan baru saja Luhan bilang untuk mengunci pintu? Secara otomatis orang itu berada dirumah Luhan kan? Ketiga, Luhan tidak sedang memiliki kekasih manapun jadi apa yang orang itu tanyakan tadi? Overprotektive sekali sampai bertanya dimana dan siapa yang Luhan tumpangi. Itu benar-benar membuat Baekhyun penasaran.

"Siapa hyung?" Baekhyun tidak akan menyerah. Ia harus tahu hubungan Luhan dengan orang itu walaupun terkesan lancang ingin tahu privasi Luhan. Tapi masa bodoh, yang penting Baekhyun tidak mati penasaran karena percakapan mereka tadi.

"Orang gila." Luhan menjawab dengan singkat.

"Mana ada orang gila yang kau izinkan untuk masuk kerumahmu. Apalagi semua anggota keluarga sedang tidak ada dirumah. Kau aneh hyung."

"Molla."

~Aye Oh- Too much neoya your love. Igeun overdose~

"Anak ini ingin kukebiri apa!" Luhan mendengus sebal. Kenapa sih Sehun itu menelepon terus!

"Ada apa lagi sih!"

"Saranghae. Jalja."

"Hm– arra."

"Kau tidak ingin berkata seperti itu juga padaku?"

"Tidak. Sudah kututup dulu. Sekali lagi kau meneleponku, aku akan mengebirimu. Aku bersungguh-sungguh."

"Oh oke oke, aku menyerah ha-ha. Have a nice dream my prin– "

Klik–

Luhan memutus sambungan teleponnya secara sepihak dan itu mengundang tawa dari Baekhyun. Oh jadi yang menelepon Luhannya itu pria ya? Sepertinya hyungnya ini benar-benar sebal dengan orang itu. Atau mungkin itu penggemar Luhan dikampus ya?

Bodoh kau Baekhyun! Mana ada penggemar Luhan yang diperbolehkan tinggal dengan Luhan? Bisa saja itu sepupunya kan? Luhan hyung pernah bilang ia memiliki sepupu overprotektive. Yaya pasti itu dia.

.

.

.

"Kudengar kemarin Luhan hyung pingsan. Itu benar atau tidak hyung?" Itu si hitam Jongin yang berbicara.

"Iya, dia pingsan didekapan seorang pria mapan yang tinggi. Tingginya hampir sama denganmu Jongin-ah." Jawab Chanyeol sambil masih mengetikkan sesuatu di laptopnya.

Jongin yang baru saja menyesap kopinya hampir saja menyemburkan kopinya kalau saja ia tidak menghalangi mulutnya dengan tangan kanannya. "A– apa? Kau bergurau hyung?"

Chanyeol memutar bola matanya malas. Sifat berlebihan Jongin akhirnya keluar juga dan itu membuat Chanyeol jijik. "Apanya yang bergurau? Memangnya salah kalau Luhan hyung pingsan? Ia juga manusia Jongin-ah, bukan boneka ken yang tidak memiliki rasa lelah."

"Bukan itu bodoh!" Jongin menyambar segulung kertas milik Chanyeol dan memukul Chanyeol tepat ditengkuknya. "Tapi pria itu. Siapa pria yang kau bicarakan tadi hyung!"

"Akhh– kau ini kenapa sih kasar sekali!" Chanyeol menutup laptopnya dengan kasar dan menatap Jongin sengit. "Mana ku tahu. Memangnya aku ini kekasih Luhan hyung apa yang tahu segalanya. Sudah aku mau pergi dulu. Kau benar-benar bedebah sialan Jongin!"

.

.

.

"Astaga, baru kali ini aku berpikir bahwa kampus adalah neraka dunia untukku." Luhan mengernyit ngeri saat melihat gerbang kampusnya yang menjulang tinggi itu.

Saat asyik merenung didepan gerbang kampus, tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk pundak Luhan pelan. Luhanpun segera menoleh kearah kanannya dan ia dapat melihat Kim Mingyu, hoobae nya yang sangat terkenal dikampus yang kini tengah tersenyum manis kearahnya.

"Ah, Mingyu-ya?" Luhan balik tersenyum samar kearahnya dan dibalas kekehan kecil dari Mingyu.

"Kenapa sunbae tidak masuk kekampus? Biasanya juga sunbae dan kedua teman sunbae itu sangat semangat saat masuk kedalam kampus." Selidik Mingyu sambil menerawang kedalam kampusnya.

"Ha-ha, molla. Aku hanya merasa tertekan tiba-tiba saat melihat gerbang kampus. Kau, masuklah terlebih dulu Mingyu-ya." Jawab Luhan mempersilahkan.

"Rumahmu kan cukup jauh dari sini. Kalau tidak masuk kedalam sia-sia saja kan sunbae? Kajja, kita masuk bersama." Dan Luhan tersentak saat Mingyu dengan tiba-tiba meraih tangannya dan mengajak Luhan masuk kedalam kampus.

Astaga apa yang anak ini lakukan!

"Min– Mingyu-ya, bisa kau lepaskan tanganmu? Ini diarea kampus." Perintah Luhan sambil berusaha melepas genggaman tangan Mingyu. Luhan benar-benar risih. Semua tatapan seperti menelanjanginya saat ini.

"Memang kenapa sih sunbae? Kan hanya bergandengan tangan. Bukankah kita teman? Lagian aku takut sunbae kabur setelah ini." Jawab Mingyu asal dan diselingi kekehan ringan setelahnya.

"Aku tidak akan kabur bodoh!"

Mereka berjalan seperti itu sampai akhirnya ada seorang gadis yang mendekat kearah mereka. Matanya tertuju pada Mingyu, pasti itu penggemar Mingyu.

"Mingyu-ssi, ini aku buatkan bento. Aku bangun pagi-pagi untuk ini, jadi aku harap kau memakannya untuk makan siang nanti. Kantin selalu ramai saat kau datang bukan?" Ujar gadis itu malu-malu.

Lain Mingyu, lain juga Luhan. Saat Mingyu masih diam mematung disebelahnya, ia malah menahan tawanya sambil sesekali berusaha melepas genggaman tangannya.

Gadis cantik itu benar-benar salah memilih pasangan. Matanya minus ya? Ha-ha.

"Ya! Kim Mingyu! Ambil bentonya. Bento itu pasti sangat enak karena dibuat dengan cinta. Kalau kau tidak mau, bagaimana kalau bento itu untukku saja?" Kata Luhan sambil melirik dan tersenyum manis kearah gadis itu yang Luhan ketahui bernama Son Naeun –Luhan melihat nama dibuku yang gadis itu bawa- "Dan sebagai gantinya, aku akan mengajakmu berkencan nanti malam. Bagaimana?" Lanjut Luhan lagi dan sekali lagi menebar senyum manisnya.

Terlihat gadis itu salah tingkah didepan Mingyu dan menunduk malu. Luhan mengedikkan bahunya kearah Mingyu. Membuat gestur 'kau ambil sekarang atau gadis itu akan jadi milikku.' Begitu kira-kira.

"Kau lamban." Luhan mengambil tempat makan yang berada ditangan gadis itu dan meraih pulpen yang berada disakunya. Ia meraih tangan kanan gadis itu dan menulis sesuatu disana. "Pukul tujuh nanti. Di restoran Italia itu."

Terlihat gadis itu mengangguk senang dan berjalan menjauh dari tempat Luhan berdiri dan menghampiri teman gadisnya diujung sana. Luhan hanya menggeleng-geleng maklum karena itu.

"Apa-apaan kau ini hyung? Kau memberi nomor ponselmu dengan cuma-cuma begitu? Bagaimana kalau yang lain menerormu?"

"Aku akan menyalahkanmu karena kau lamban sekali. Sudah aku mau masuk kekelas. Aku ingin segera menyelesaikan materi dan berkencan dengan Son Naeun. Astaga dia lebih cantik dari Park Chorong kalau diperhatikan." Kata Luhan dengan mata yang masih melihat kearah gerombolan gadis diujung sana sambil berusaha melepas genggaman tangannya dari Mingyu.

"Kau playboy dan aku tidak menyangka akan hal itu sunbaenim." Mingyu mengernyit tidak suka kearah Luhan dan dibalas kekehan kecil dan Luhan.

Setelahnya Mingyu kembali menyeret Luhan memasuki bangunan kampus sambil tangan mereka masih bertautan dan membuat Luhan risih karenanya.

.

.

.

~Aye Oh- Too much neoya your love. Igeun overdose~

Saat hampir mendekati gedung kampus, tiba-tiba saja ponsel Luhan berdering dengan tidak tahu malu dan Luhan merogoh saku celananya dengan cepat dan mengangkat panggilan itu tanpa melihat nama yang tertera dilayar ponselnya. Dan karena itu Mingyu pun juga ikut berhenti dan melepas genggaman tangannya.

"Yeoboseyo."

"Jangan macam-macam denganku Oh Luhan."

"Maksudmu?" Luhan mengernyit dan sedikit menjauhkan ponselnya guna melihat siapa yang meneleponnya saat ini.

"Jangan berdekatan dengan anak tinggi itu! Aku tidak suka milikku disentuh oleh orang lain!"

Tutt..Tutt..

"Yeoboseyo! Ya!"

Luhan menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba saja ia merasa pusing mendengar suara Sehun tadi. Anak itu kenapa tiba-tiba bicara seperti itu sih? Memangnya Luhan kenapa sampai nada suaranya semarah itu padanya?

"Itu siapa sunbae?" Ah, Luhan baru sadar anak tinggi yang dimaksud Sehun pastilah Mingyu ini.

Luhan menoleh kearah Mingyu dan setelahnya menoleh kearah belakang, dimana mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat didepan gerbang dan tiba-tiba mobil itu melintas cepat dari pandangan Luhan.

Jadi dia cemburu ya? Mental apa itu? Dia pria atau bukan sih? Seperti anak gadis saja.

"Bukan siapa-siapa he-he." Jawab Luhan seadanya dan berjalan masuk kedalam gedung kampus meninggalkan Mingyu. Namun selang beberapa detik Mingyu kembali menyamakan langkahnya dengan Luhan.

"Kau! Ku peringatkan jangan sentuh-sentuh tanganku bodoh!" Kata Luhan memperingati. Ia menjauh dari Mingyu dan berjalan santai kearah kelasnya.

"Kenapa memangnya? Yang menelepon sunbae tadi kekasih sunbae ya?" Mingyu bertanya penasaran sambil memberhentikan langkah Luhan. "Apa sunbae telah memiliki kekasih?"

"Kalau iya kenapa? Dia tidak suka kalau aku bergandengan dengan orang lain. Kau puas?" Jawab Luhan datar dan segera memilih pergi dari hadapan Mingyu. Dan kali ini Mingyu masih mematung ditempatnya.

.

.

.

"Kau ini sudah jadi idol ya hyung?" Jongin bertanya dengan wajah menunduk –fokus dengan makan siangnya-

Luhan yang tengah menjepit sayuran dengan sumpitnya pun terdongak menatap Jongin dengan wajah bingungnya dan membuat gestur 'maksudmu?'

"Waktu beberapa minggu yang lalu para gadis menggosip tentangmu yang baru saja dihianati Chorong, selang beberapa hari tiba-tiba saja kau sampai di kampus dengan mobil mewah dengan pria tampan didalamnya." Jongin terkekeh sesaat.

"Ya Jongin kau benar. Dan setelah itu ada seorang pria turis yang katanya mencarimu dan– "

Uhuk–

Luhan meraih minumannya dan menenggaknya dengan cepat. Tiba-tiba saja kejadian beberapa minggu yang lalu teringat kembali dipikirannya.

Kenapa juga Luhan tidak pernah berpikir kalau-kalau ada orang yang mendengar percakapan mereka? Kalau sampai salah satu diantara temannya ini tahu bagaimana? Tapi dilihat dari wajah penasaran mereka sih sepertinya tidak ada yang tahu apapun tentang insiden waktu itu. Tapi Luhan boleh panik kan?

"Hyung gwenchana?" Chanyeol mengelus punggung Luhan pelan. Ia ngeri juga melihat kakaknya itu tiba-tiba saja terbatuk padahal tidak ada yang salah dengan ucapannya barusan kan?

"Gwenchana Chanyeol-ah." Luhan mengangguk dan tersenyum paksa. Pikirannya masih dikejadian beberapa minggu yang lalu dengan Kris itu. Apa benar tidak ada yang mendengar mereka?

"Kalau kau sakit, aku bisa membawamu keruangan kesehatan hyung. Kau serius tidak apa?"

"Aku tidak apa Jongin-ah. Kalian berlebihan. Aku hanya tersedak bukan ingin mati." Luhan bergurau dan ditanggapi dengan kekehan ringan dari Jongin juga Chanyeol.

"Oh iya hyung, aku beberapa kali melihatmu turun dari mobil yang sama setiap harinya. Ya walau hanya dua kali sih." Tanya Chanyeol sambil membuat cengiran idiotnya.

"Dia rekan kerjaku Chanyeol-ah."

"Rekan kerja? Kau kerja apa hyung?" Kini Jongin yang penasaran.

"Aku sedang bekerja sama dengan ayahku juga satu perusahaan di Seoul. Dan dia salah satu penanggung jawabnya." Ujar Luhan berbohong.

"Dia pria kan? Kenapa juga harus mengantarmu terus? Memang dia merangkap jadi supir atau– "

Tiba-tiba saja sebuah suara mengintrupsi kalimat Chanyeol. "Selamat siang sunbae. Boleh kami duduk disini? Tempat yang lain sudah terisi penuh."

Kenapa juga dia harus ada disini sih!

"Oi Kim Mingyu, Hansol, Soonyoung. Duduklah." Chanyeol mempersilahkan dengan wajah ramah yang sepertinya tidak dibuat-buat.

Luhan benci akan hal ini. Saat ketiga junior itu datang, Luhan malah diabaikan begitu saja. Apalagi yang paling Luhan benci adalah Mingyu yang memperhatikan setiap gerakannya. Ada apa sih dengannya itu? Dia salah satu fans Luhan atau apa?

Akhirnya dengan berat hati Luhan mengeluarkan ponselnya secara sembunyi-sembunyi dibawah meja dan mengetikkan sesuatu disana.

For: Fuckin' Oh

Tolong telepon aku sekarang. Kalau tidak kau akan mati.

Luhan pikir Sehun sedang sibuk atau apa jadi Luhan tidak terlalu berharap banyak sih pada Sehun. Namun selang lima atau enam detik, ponsel Luhan bergetar tanda pesan masuk.

From: Fuckin' Oh

Kenapa tiba-tiba ingin ku telepon? Biasanya kau selalu marah-marah saat aku telepon-_-

For: Fuckin' Oh

Bisa tidak kalau kau tidak banyak bertanya? Telepon aku atau tidak sama sekali.

Setelahnya Luhan meletakkan ponselnya kembali kedalam kantong. Kalau sampai si Oh ini tidak meneleponnya habislah Luhan. Ia ingin muntah melihat tatapan Mingyu yang seperti menelanjanginya saat ini.

Drrt.. Drrt..

"Hyung ponselmu bergetar. Ada panggilan masuk mungkin." Kata Chanyeol sambil melirik kearah kantong celana Luhan.

"Ah iya sepertinya."

Dan benar saja ternyata Sehun mau mendengarkannya. Ia segera mengangkat panggilan Sehun itu dengan serangkaian helaan nafas leganya.

"Ada apa?"

"Ada apa bagaimana? Kau yang menyuruhku menelepon sayang."

"Iya sayang aku tahu." Luhan merutuki kebodohannya. Ia tidak rela berkata seperti itu. Tapi Luhan harus pergi dari hadapan Mingyu sekarang juga.

"Kau bilang apa tadi? Tolong ulangi."

"Iya sebentar, suaramu tidak terlalu terdengar. Disini berisik. Sebentar, aku akan pindah tempat."

"..."

Luhan dengan segera bangkit dan menatap kedua temannya yang berada disamping kanan dan dihadapannya itu. Ia tersenyum paksa kearah mereka dan membungkuk sekilas pada hoobae nya termasuk si anak tinggi itu –Mingyu-

"Chanyeol-ah, Jongin-ah, aku permisi dulu ya. Kalian lanjutkan saja makan siang kalian. Bye."

.

.

.

"Hyung, sedang menunggu seseorang?"

Luhan yang tengah memandangi jalanan kosong tiba-tiba tersentak saat ada suara orang lain dibelakangnya yang belakangan ini Luhan hafal sekali.

"Iya, aku menunggu jemputanku datang. Kau, pulanglah." Kata Luhan dengan datar. Luhan bermaksud mengusir, tapi anak itu terlalu bodoh atau sengaja sih sebenarnya?

"Mau pulang bersama?" Tawarnya dengan nada kelewat lembut untuk Luhan. Dan hanya dibalas gelengan pelan dari Luhan.

"Kenapa? Aku heran, kau kan anak populer dikampus tapi kenapa rumahmu jarang ada yang tahu ya." Ujar Mingyu sambil menatap kearah aspal didepannya mengikuti arah pandang Luhan.

Ya, jam kuliah baru saja selesai. Lebih tepatnya jam kuliah Luhan sudah selesai dari tadi dan jam kuliah Mingyu baru saja selesai. Kalau saja Sehun menjemputnya tepat waktu pasti dia juga tidak harus melihat anak tinggi ini.

Luhan hanya diam menanggapi kalimat demi kalimat yang Mingyu lontarkan. Bukan apa, fansnya Mingyu itu super banyak ya hampir sama dengan fansnya Jongin karena kalau diperhatikan mereka mirip dan lebih ekstrimnya adalah fans Mingyu di kampus itu fans yang akan membully siapa saja yang berani mendekati Mingyu, agak sadis kan kedengarannya?

"Hyung kau tidak mendengarku?" Pancing Mingyu sambil menggerak-gerakkan tangan kanan Luhan mencari perhatian Luhan tapi Luhan menoleh dengan wajah datarnya dan mengangguk tanda ia mendengar.

"Sejak kapan kau memanggilku hyung? Biasanya kau selalu memanggilku sunbaenim sampai aku bosan." Kali ini Luhan mengikuti alur pembicaraan Mingyu dan Mingyu senang bukan main karena Luhan meresponnya.

"Assa! Akhirnya kau berbicara juga hyung. Dari tadi aku seperti berbicara dengan aspal saja he-he." Kekehnya dan Luhan hanya tersenyum samar.

Tinn... Tinn... Tinn...

Sebuah suara klakson memekakan telinga Luhan dan Mingyu malahan sudah bergumam tidak jelas karena klakson berisik itu.

"Kenapa sih dia harus mengklakson sebegitu banyaknya. Memangnya orang yang dipanggil tuli apa." Gumam Mingyu yang masih bisa didengar oleh telinga Luhan.

Luhan yang mengetahui bahwa itu mobil kurang ajar Sehun hanya tertawa dalam hati dan mensyukuri karena Sehun datang disaat yang sangat tepat menurut Luhan.

"Mingyu-ya, aku pulang dulu oke. Kau hati-hati dijalan. Bye!" Pamit Luhan sambil tersenyum manis kearah Mingyu dan dibalas tatapan bingung dari Mingyu.

Jadi mobil kurang ajar itu jemputannya Luhan hyung? Bagaimana bisa aku tidak tahu? Astaga.

.

.

.

"Kenapa sih dia selalu berada disekitarmu seharian ini?" Itu suara Sehun yang pertama setelah beberapa menit hening didalam mobil bersama Luhan.

"Kau hanya melihatnya saat tadi pagi dan saat pulang dari kuliah, kenapa seakan-akan kau melihat semua aktifitasku di kampus sih?" Jawab Luhan ketus. Memangnya kenapa kalau Mingyu itu mendekatinya? Lagipula si Mingyu itu kan straight.

"Intinya aku tidak suka melihat anak itu. Dan apa-apaan kau ini meneleponku lalu kau menutupnya sembarang? Kau pikir aku orang pengangguran ya?" Tanya Sehun lagi dengan nada yang super menyebalkan untuk Luhan.

"Itu karena anak tinggi itu berada dimeja yang sama dikantin, oleh karena itu aku ingin menghindar. Aku tidak tahu dia kenapa, tapi aku juga risih dengannya." Wajah Luhan sudah cemberut saat mengingat tatapan Mingyu saat di kantin tadi.

"Good boy!" Puji Sehun dan mengelus rambut Luhan pelan. "Kalau alasannya karena itu aku tidak apa ditelepon olehmu saat rapat sekalipun. Pokoknya aku tidak akan memaafkanmu kalau sampai anak tinggi itu menggenggam tanganmu lagi besok." Wajah Sehun berubah menjadi kesal saat ini. "Katakan padanya, kalau dia berani menyentuhmu lagi jangan tanya kemana lengan kirinya keesokan harinya."

"Kau psycho? Ha-ha." Kekeh Luhan. Kenapa juga Sehun jadi sesadis ini sih? Mingyu itu manusia bukan boneka barbie yang tangannya bisa diputus sesuka hati.

"Aku akan jadi psycho kalau ada yang menyentuh dengan sembarang milikku. Milik Oh Sehun." Kata Sehun final. Kalimat itu berhasil membuat Luhan terdiam dan menunduk. Ia tersenyum kecil karena perkataan Sehun.

Miliknya? Maksudnya aku ini miliknya? Dasar anak ini sembarangan saja.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

Ini kira-kira mau si mingyunya jadi orang ketiga Sehun dan Luhan atau orang lain? Wkwk aku pengennya kok hubungan Luhan ama Sehun punya orang ketiga ya biar makin greget ga datar-datar aja kayak mukanya sehun:"

Okee maaf belum bisa bikin banyak interaksi hunhan. Si Luhannya masih jual mahal akunya jadi males(?) diusahakan hunhan moment secepatnya ya haha

Sipp segitu aja dulu. Mind to review?:)