I Think I Love You
Cast:
Oh Sehun
Luhan
-HunHan-
Rated:
T = Tentukan sendiri(?)
Genre:
Romance, Family, Boys Love –Shounen ai-
.
.
.
.
Kata orang, dunia ini sempit. Kalau kau bertanya itu benar atau tidak pada Luhan, pasti ia akan bilang "Itu hanya teori bodoh!" Tapi setelah ia bertemu dengan sosok Sehun, Luhan yakin ia bisa menjelaskan sesempit apa dunia ini.
.
.
.
.
.
.
"Sehun-ah, makanannya ada dimeja makan oke? Aku akan berangkat sekarang!" Teriak Luhan dari lantai bawah.
Ya, Sehun dan Luhan masih tinggal bersama. Beberapa hari yang lalu Sehun memantapkan dirinya untuk membawa koper besar kekediaman keluarga Xi itu. Karena orang tua Luhan bilang mereka akan cukup lama disana dan kakaknya sepertinya sebentar lagi –mungkin beberapa hari lagi- pulang.
"Kau mau kemana hyung?" Sehun segera berjalan cepat menuruni tangga mengejar Luhan yang sudah berada didekat pintu utama.
Luhan menoleh dan tersenyum. Ia mengedikkan bahunya santai. "Akan berkencan dengan adik kelas. Tenang hanya dua atau tiga jam saja setelah itu aku pulang."
"Tu– tunggu! Kau apa? Berkencan?" Tanya Sehun tidak percaya. Bisa-bisanya Luhan mengatakan kata kencan dengan wajah sesantai itu? Memang dia lupa ya kalau Luhan itu calon istri –suami- nya?
"Ne, dengan Son Naeun adik kelas perempuanku yang berbeda dua angkatan dariku. Dia teman Chorong sepertinya." Jawab Luhan sekenanya sambil mengikat tali sepatunya.
"Kau pikir kau itu siapa hah? Kenapa bisa-bisanya kau berkencan dengan gadis itu?" Sehun menarik lengan Luhan sehingga Luhan tertarik berdiri dengan paksa. Luhan memutar bola matanya malas, sifat Sehun yang over itu kadang membuat Luhan jengah.
"Aku hanya berbaik hati Sehun-ah. Tadi pagi Naeun itu memberi bento ke Mingyu tapi Mingyu malah diam saja jadinya aku ambil bentonya dan mengajaknya berkencan. Dia menelepon ke ponselku terus sampai aku hampir tuli. Jadi tidak ada salahnya menyelesaikan ini semua kan? Aku juga mengantuk jadi tidak akan lama-lama berada diluar. Ini semua memang karena si sialan Mingyu itu." Ujar Luhan panjang lebar sambil menggerutu saat mengingat nama Mingyu.
Bagaimanapun juga ada masanya beberapa waktu lalu Luhan kembali kepada sifat suka gonta-ganti pasangannya namun ia sempat mengenal perempuan yang menurutnya tepat yaitu si Park Chorong –yang sialnya malah membuat Luhan makin benci dengan wanita- Tapi saat melihat wajah Naeun yang memelas itu Luhan jadi tidak tega meninggalkannya tadi pagi begitu saja dengan Mingyu yang mematung bodoh disebelahnya. Jadi Luhan keluarkan saja jiwa baik hati bak ibu perinya itu.
"Janji jangan pulang lewat dari jam sepuluh oke? Diluar banyak kejahatan. GPS mu aktif kan hyung? Kau mau bawa motor atau mobil? Ah mobil saja hyung jadi anak itu tidak bisa memelukmu sembarangan sebagai modus." Perintah Sehun mutlak dan Luhan mengangguk dan menyambar kunci mobil Sehun yang tadi diberikan olehnya.
"Oke Sehun-ah, aku pergi dulu oke? Jangan tunggu aku kalau sudah ngantuk. Tidurlah, kau harus kerja besok, arra?" Luhan menepuk bahu Sehun pelan dan tersenyum sekilas. Ia membuat gestur 'bye' dan segera berbalik menuju pintu utama. Namun beberapa detik kemudian–
Grep–
Sehun memeluk pinggang Luhan membuat Luhan hampir saja memiliki serangan jantung mendadak tadi. Posisinya sekarang adalah Sehun yang memeluk pinggang Luhan dan Luhan memegang pundak Sehun dengan ragu-ragu dan mata rusanya masih membola sangking terkejutnya dia.
"Se– Sehun-ah, le– lepaskan. Aku buru-buru." Luhan berusaha melepaskan pelukan Sehun pada pinggangnya namun bukannya terlepas malahan wajah Sehun semakin mendekat kearahnya dan–
Cupp–
"Hati-hati dijalan sayang. Jangan nakal oke?" Kata Sehun dengan nada yang teramat lembut untuk Luhan –lagi-
Demi Tuhan Luhan ingin kedokter memeriksa jantungnya apa masih berfungsi dengan baik atau tidak. Astaga Sehun baru saja mencium bibirnya tadi. Bagaimana bisa anak itu membuat jantung Luhan menjadi ribut seperti ini?
Dia mencium bibirku? Astaga ada apa denganmu Luhan! Kalian sama-sama lelaki! Jangan merona bodoh seperti itu!
"Kau lucu kalau sedang malu. Jja! Pergilah. Nanti kalau terlalu malam kau malah bisa pulang larut." Kata-kata Sehun membuat kesadaran Luhan kembali dan segera saja ia berbalik menuju pintu utama untuk segera pergi dari rumah itu –rumahnya-
"Aku pergi."
.
.
.
"Oh oppa, apa diluar dingin? Wajahmu memerah begitu?" Naeun menyadarkan lamunan Luhan saat sedang menunggu Naeun bersiap-siap tadi.
"Ah, ani. Aku hanya agak kurang enak badan Naeun-ah. Tidak terlalu buruk. Jja! Kita berangkat sekarang oke?" Luhan tersenyum tipis pada Naeun dan dibalas anggukan mantap dari Naeun.
Luhan mengendarai mobilnya dengan hati-hati sekali. Padahal tadi saat ia berangkat kerumah Naeun ia tidak merasakan debaran aneh ini.
Kalau kalian berpikir debaran aneh itu ditujukan karena Luhan berdebar didekat Naeun, itu salah besar. Luhan berdebar karena khawatir entah karena apa dan pada siapa juga pun Luhan tidak tahu.
"Oppa, jinjja gwenchana? Kenapa wajahmu tegang begitu?" Ah, Luhan sampai lupa kalau ia tidak sendirian dimobilnya. Masih ada Naeun yang kapan saja dapat menebak ekspresi wajahnya.
"Aku hanya sedikit cemas. Tapi– aku juga tidak tahu karena apa Naeun-ah." Luhan menghela nafas gusar. Ia berkali-kali menetralkan detak jantungnya yang tidak karuan namun malah membuat pernapasan Luhan menyempit. Sial.
"Apa ada yang sakit dirumah? Mungkin kakakmu? Orangtuamu?" Naeun bertanya dengan khawatir. Bagaimanapun juga Luhan sedang menyetir. Kalau Luhan tidak tenang bisa saja mereka kecelakaan atau apa dan Naeun masih ingin hidup normal.
"Tidak, Luna noona sedang berada di Busan dan orangtuaku sedang ada di Beijing." Luhan menjawab tanpa menoleh. Mencoba fokus menyetir.
~Aye Oh- Too much neoya your love. Igeun overdose~
"Oh ponselmu berdering oppa." Naeun menyerahkan ponsel Luhan yang memang tadi Luhan lempar kearah kursi penumpang. Dan Luhan yakin Naeun tidak sempat melihat nama kontak yang tertera disana.
"Oke sebentar. Aku ingin mengangkatnya dulu ya."
"Yeoboseyo?"
"Luhan-ah, Daehan demam tinggi. Aku harus bagaimana sekarang?"
Ckitt–
Luhan mengeremkan mendadak mobilnya. Astaga nyawa Luhan serasa ingin lepas dari tempatnya tadi.
"Naeun mian, aku tidak sengaja" Kata Luhan sambil mengelus puncak kepala Naeun dan Naeun tersenyum manis kearah Luhan dan menjawab tidak apa-apa tanpa suara hanya bibirnya yang bergerak.
Luhanpun segera fokus pada ponselnya kembali mengingat ini adalah tentang kondisi anak Sena.
"Mwo? Kau serius? Bawa dia kerumah sakit Sena-ya. Aku akan menyusul. Dan jangan lupa telpon adikmu juga. Jangan panik oke?"
"Hiks– Ne, aku mencoba untuk tidak panik. Ayah dan ibu sedang berada diluar kota aku bingung."
"Oke sekarang kau hanya perlu menelepon adikmu dan suruh dia mengantar uri Daehan ke rumah sakit. Aku tutup teleponnya."
Klik–
"Naeun-ah, kau bisa menyetir mobil?" Luhan memandang kearah Naeun dengan perasaan bersalah. Naeun sudah berdandan secantik ini untuk kencan dengannya tapi Luhan mengacaukannya.
"Menyetir mobil? Maksudmu oppa? Kalau oppa memang ada urusan mendadak aku bisa turun disini dan menyetop taksi nanti." Jawab Naeun dengan wajah yang sangat meyakinkan untuk Luhan.
"Tidak, bawa mobilku saja oke? Kita akan pergi kerumah sakit dan setelah aku turun, kau bawalah mobilku sampai rumahmu. Kau bisa mengembalikannya besok dikampus. Arraseo?"
"Tapi oppa, tidak perlu begi– "
"Ayolah Naeun. Aku akan semakin khawatir dengan situasiku dirumah sakit dan memikirkan apakah kau pulang dengan selamat atau tidak. Kau tidak ingin membuatku semakin jantungan kan?"
"Baiklah oppa, aku pastikan mobil ini kembali padamu besok dan aku pastikan jarum yang ada dikotak itu tidak berkurang." Kata Naeun sambil menunjuk kearah indikator bensin mobil Luhan. Luhan hanya terkekeh dan mengangguk lucu.
.
.
.
"Hati-hati, jangan mengebut. Pastikan kau mengirimiku pesan saat kau sudah berada dikamarmu nanti." Perintah Luhan dengan wajah lembutnya dan sesekali mengusap puncak kepala Naeun. Karena saat melihat Naeun, Luhan seperti memiliki adik baru ha-ha.
Luhan dapat melihatnya. Melihat wajah Naeun memerah samar. Mungkin Naeun malu dengan perlakuan Luhan. Mereka tidak jadi kencan tapi malah Luhan memperlakukan dia seperti seorang kekasih sekarang.
"Ne, jangan khawatir. Aku bukan anak yang senang mengebut. Keselamatan lebih utama!" Jawab Naeun dengan tangan terkepal diatas seperti sebuah semangat dan janji untuk Luhan.
"Kalau begitu pulanglah. Pastikan kau makan malam saat sudah sampai dirumah. Maafkan aku karena kencan kita batal hari ini. Besok makan siang bersama, bagaimana?" Tawar Luhan sambil menggenggam tangan Naeun.
"N– ne oppa, makan siang. A– aku akan menjemput op– oppa besok dikelas." Naeun menjawab dengan nada super gugup dan kepala yang setia menunduk kebawah. Entah apa yang ia pandangi dibawah sana.
"Eyy, aku yang akan menemputmu sebagai permintaan maafku besok. Kalau begitu pulanglah sekarang. Aku akan masuk kedalam oke?" Sekali lagi Luhan mengusap sayang puncak kepala Naeun dan memeluknya sekilas. Beberapa perawat yang lewat memandang mereka dan kemudian tersenyum malu kearah Luhan dan Naeun.
Aku dan Naeun yang berpelukan tapi kenapa mereka yang tersenyum malu seperti itu? Aneh sekali.
"Baiklah oppa. Semoga kerabat oppa cepat sembuh. Aku menitip salam untuknya." Itu kalimat terakhir Naeun dan setelahnya ia masuk kedalam mobil dan melesat menjauh dari area rumah sakit.
.
.
.
Luhan berjalan cepat menyusuri setiap lorong yang ada. Tadi saat ia sampai dirumah sakit, Luhan langsung saja menanyakan keberadaan Daehan pada resepsionis dan sekarang Luhan tengah mencari ruangan tersebut.
Tepat diujung lorong Luhan melihat Sena duduk dibangku kedua dan menunduk, wajahnya tampak lelah terlihat dari sisi sampingnya. Dan Sehun berada tepat disebelah Sena tengah mengelus punggung kakaknya itu untuk menenangkannya.
Luhan memutuskan untuk berjalan mendekat kearah kedua manusia tersebut namun diluar dugaan tiba-tiba Sena berdiri dan berlari menghambur memeluk Luhan.
"Luhan-ah, uri Daehanie Luhan." Sena sesegukan dipelukan Luhan. Luhan yang merasakan pergerakan tiba-tiba Sena hanya diam dan tangannya dengan otomatis mengelus punggung gadis itu.
"Daehan kuat, lagipula hanya demam kan? Kau jangan takut, dia pasti akan cepat sembuh Sena-ya." Ujar Luhan pelan nyaris berbisik dan sepertinya hanya Sena yang bisa mendengarnya.
Sena masih setia menangis dipelukan Luhan tersebut mengangguk patuh dan melepaskan pelukannya dari Luhan setelah itu ia menyeka air matanya pelan dan duduk kembali disamping Sehun.
Lorong rumah sakit nampak sepi. Sepertinya hanya dua atau tiga ruangan dari sepuluh ruangan dilorong tersebut yang terisi oleh karena itu suasananya sangat hening dan Luhan tidak suka itu.
"Maaf kami mengganggu kencanmu hyung." Itu suara Sehun. Dan untuk Luhan suara itu seperti sindiran halus yang sangat menyiksa telinganya apalagi disana ada Sena.
"Aku tidak berkencan. Sama sekali belum menginjakkan kaki dimanapun." Jawab Luhan datar dan mendudukkan dirinya cukup jauh dari kaka beradik bermarga Oh itu.
"Oh kupikir kalian sudah saling berpelukan dan– " Kalimat Sehun terputus dan Luhan menyelanya dengan tajam. "Shut your fuckin' mouth up Oh Sehun."
Cukup lama Sehun, Luhan, juga Sena menunggu dokter yang menangani Daehan keluar. Dan Luhan setengah mati menahan rasa penasarannya juga ingin mendobrak ruangan Daehan sangking penasarannya dia.
"Dokter itu lama sekali. Memangnya apasih yang mereka bicarakan." Gumam Luhan pelan sambil terus memandangi ruangan Daehan.
Luhan hanya berdiam diri ditempat duduknya. Terang saja, Sehun bahkan menyindirnya telak didepan Sena. Kalau Sehun hanya menyindirnya sih tidak masalah karena memang itu fakta tapi kenapa juga fakta itu harus digembar-gemborkan dihadapan Sena? Luhan jadi merasa canggung sekarang.
Akhirnya karena Luhan berpikir atmosfir yang ada tidak akan membaik, ia memutuskan untuk kekantin entahlah apa yang ingin ia beli yang pasti tidak ingin disana terlalu lama dengan kecanggungan yang luar biasa.
Hampir saja Luhan berhasil keluar dari lingkaran kecanggungan itu, namun sebuah suara menghentikan langkah pertama Luhan dari tempat semula.
"Luhan?"
Luhan tidak habis pikir kenapa Kris bisa ada disini? Bukankah rumah sakit di Korea itu banyak sekali ya? Tapi kenapa harus rumah sakit ini yang ia pilih untuk dikunjungi?
Ia terpaku sesaat dan tangannya mengepal tanpa sengaja. Entah ada perasaan sedih, kecewa atau marah Luhan tidak bisa menjelaskannya. Yang pasti saat ini ia tidak ingin menambah lagi kecanggungan yang ada.
"Kenapa kau disini? Ada yang sakit?" Tanya Kris sekali lagi memastikan. Kris berjalan pelan mendekati Luhan yang tentu saja disana masih ada Sena dan juga Sehun.
Astaga, disini ada Sena.
Untung saja otak Luhan berjalan cepat. Oleh karena itu Luhan langsung melihat kearah belakang tepat kearah Sena dan ternyata Sena telah memalingkan wajahnya terlebih dahulu. Pasti ia sudah menyadari lebih dulu kedatangan Kris disini.
Syukurlah, hampir saja.
Setelah melihat Sena, pandangan Luhan jatuh pada Sehun yang memandangnya tajam namun Luhan dapat merasakan tatapan tanda tanya disana. Pasti setelah ini Sehun akan menanyakan perihal siapa pria yang tiba-tiba memanggilnya itu.
Luhan segera melangkah cepat kearah Kris dan menyambar tangan Kris meninggalkan tempat mereka berdiri kearah toilet terdekat.
"Kenapa kau bisa ada disini?" Tanya Luhan datar. Dan dibalas dengan senyuman manis dari Kris. Disini Luhan paham bahwa Kris benar-benar tersenyum bukan mengejek seperti hari-hari sebelumnya.
"Kakakku adalah perawat senior disini sejak setengah tahun yang lalu. Ada berkas yang harus digunakannya dan malah tertinggal dirumah dan aku bermaksud memberikannya sekarang."
"Kau benar-benar tidak menguntitku kan?" Luhan memandang Kris dengan tatapan penuh selidik. Tapi setelah dipikir-pikir untuk apa Kris menguntitnya?
"Memangnya kau siapa? Siwon Super Junior? Sampai aku memiliki waktu untuk menguntit ha-ha." Kris tertawa hambar dan bagi Luhan tidak ada yang lucu disini.
"Mungkin saja kan? Kalau begitu pergi ke kakakmu dan jangan mendekatiku dalam radius seratus meter selama kau berada dirumah sakit ini." Luhan memberi perintah final pada Kris dan bergegas pergi dari sana.
"Memangnya aku ini penyebar rabies apa, sialan."
.
.
.
Saat Luhan tengah sampai ditempat ia pertama kali melihat Sehun ia kembali bingung, kenapa Sehun dan Sena tidak ada ditempatnya? Apa mereka sudah pulang? Tapi tidak mungkin kan?
"Perawat, apakah anda tahu kondisi anak bernama Oh Daehan?" Tanyanya pada perawat yang kebetulan lewat dan Luhan melihat perawat itu keluar dari kamar inap Daehan tadi.
"Oh Daehan? Dia sudah selesai diperiksa dan sepertinya terkena demam tinggi. Keluarganya tengah menjenguk. Apakah anda saudara dari keluarga Oh?" Perawat itu bertanya dengan sopan dan sontak membuat Luhan terkejut dengan pertanyaannya itu.
"Ah, pasti anda suami dari gadis itu ya? Silahkan anda boleh masuk kedalam ruangan tuan." Dan tanpa mendengar penjelasan Luhan, perawat itu membungkuk pamit dan berjalan menjauh dari Luhan.
Suami? Apa aku pantas disebut suami? Ha-ha. Aku bahkan akan menjadi calon istri! Mengesalkan sekali.
Terdengar percakapan kecil dari dalam ruangan yang Luhan paham itu suara Sehun juga Sena. Luhan berpikir mungkin saja itu percakapan pribadi antara keluarga Oh, jadi ia akan bersabar menunggu didepan pintu sampai percakapan itu selesai.
"Kau kenal dengan pria yang memanggil nama Luhan tadi Sehun-ah?" Itu suara Sena dan Luhan paham betul siapa yang sedang mereka bicarakan. Luhan dan Kris. Begitulah yang Luhan tangkap.
"Tidak, aku baru saja melihatnya. Kira-kira dia siapa noona? Apa mungkin mantan pacar Luhan? Apa dia pernah menjadi gay juga dulu?" Dan itu suara Sehun. Luhan yakin mendengar nada keraguan dari suara Sehun. Karena ya memang mau bagaimanapun Sehun kan tahunya Luhan benci sekali dengan percintaan sesama jenis.
"Gay? Tidak, kurasa tidak."
"Bagaimana noona bisa tahu? Tidakkan noona mengira Luhan itu wanita saat pertama kali bertemu? Biasanya pria yang berparas seperti dia berpotensi pernah menjadi gay kan? Tapi itu sih pemikiranku saja."
Sialan juga Sehun ini. Memang dia kira pria berwajah manis dan berwajah cantik itu tidak berselera dengan wanita? Walaupun memang Luhan akui dirinya cantik karena hell setiap hari ibunya selalu bilang 'kau jangan sok berlaga menggunakan pakaian seperti berandalan karena mau dilihat darimanapun kau tetap cantik.' Begitulah kira-kira, tapi Luhan jelas-jelas masih menyukai wanita jadi Luhan agak tersinggung dengan kata-kata Sehun itu.
"Tidak semua pria cantik itu gay Sehun-ah. Bukankah kau bilang Luhan itu selalu bersikeras kalau dia hanya menyukai wanita?"
"Iyasih noona benar. Tapi aku masih penasaran dengan pria bule tadi noona."
"Kenapa kau begitu penasaran? Apa kau– cemburu?"
Luhan ingin muntah saat ini juga mendengar pertanyaan bodoh dari Sena. Mana mungkin juga si Sehun ini cemburu dengannya? Jelas-jelas mereka sama-sama pria normal yang masih menyukai dada wanita dan–
"Bukan cemburu. Aku hanya–"
"Hanya apa Sehun-ah? Noona bisa melihat wajahmu berbeda saat menatap Luhan dan pria bule itu."
"Noona jangan begitu. Aku sedang tidak cemburu."
Pasti itu hanya akting Sehun saja. Luhan memang yakin sih wajah-wajah seperti Sehun bisa memanipulasi keadaan. Bisa saja Sehun pura-pura menyukai Luhan dan–
"Atau memang aku cemburu noona?"
DEG–
APA?
Ini tidak mungkin.
Mana mungkin Sehun si muka datar itu cemburu padanya dan Kris? Hell, itu bukan style nya sama sekali!
Tok... Tok... Tok...
Akhirnya dengan perdebatan batin dan pikiran, Luhan memberanikan diri untuk masuk. Daripada Sehun makin berbicara yang tidak-tidak kepada Sena lebih baik Luhan mengacaukan dengan kedatangannya saja.
Cklek–
Luhan membuka pintu kamar Daehan dan berjalan mendekat kearah kasur Daehan. Disana Daehan terbaring nyaman, sepertinya ia tengah tertidur. Nafasnya yang teratur memperlihatkan bahwa Daehan tidur dengan nyenyak dan Luhan bersyukur akan hal itu.
Tanpa Luhan sadari, Sehun menggigit bibirnya pelan. Ia baru saja membicarakan Luhan dengan kakaknya. Bagaimana kalau rusa itu mendengarnya? Bisa-bisa Luhan ini makin tidak suka dengan Sehun.
Lain Sehun lain lagi Luhan. Luhan bahkan seperti tidak menyadari keberadaan Sena dan Sehun disana. Lebih tepatnya berpura-pura tidak tahu agar mereka juga merasa bahwa Luhan tidak sedang menguping tadi.
"Luhan-ssi?" Suara Sena memanggil Luhan dengan lembut. Mau tidak mau Luhan segera menoleh kearah Sena dan tersenyum.
"Daehan baik-baik saja kan? Apa kubilang tadi." Kata Luhan dengan kekehan pelan.
"Iya, dia anak yang kuat." Tambah Sehun sambil memandang Daehan yang tengah tidur dengan nyaman dikasurnya.
Seketika hening. Suasanya menjadi canggung kembali dan jujur Luhan sangat membenci hal ini. Karena disana ada Sehun dan Sena juga. Rasanya Luhan ingin beranjak pulang dan menutup tubuhnya dengan selimut lalu tidur sampai pagi besok.
"Hyung." Sehun tiba-tiba memanggilnya. Luhan yang tengah melamun langsung terkejut bahkan ia hampir meloncat dari kursinya untung saja Luhan tidak melakukannya. Bisa-bisa Luhan dikira melawak oleh Sehun nanti.
Luhan menoleh kearah Sehun perlahan, yang sebelumnya ia mengatur ekspresinya agar terlihat datar. Karena, Demi Tuhan Luhan benar-benar gugup entah kenapa padahal ia tidak sedang dalam interview untuk masuk dalam kemiliteran. Bodoh.
"Ada apa Sehun-ah?"
"Laki-laki tadi siapa? Apa kau mengenalnya?" Benar kan dugaan Luhan. Pasti Luhan akan diinterogasi habis-habisan oleh Sehun dan lebih mengesalkannya lagi adalah Sehun bertanya didepan Sena dimana Sena tahu hubungan Luhan, Kris dan dirinya sendiri dimasa lalu.
"Pria itu adalah– " Luhan sempat menjeda kalimatnya, tampak berpikir keras. Kira-kira akan dijadikan apa Kris dalam skenario kebohongan Luhan kali ini? Saudarakah? " –dia adalah anak dari rekan bisnis baba di Shanghai enam tahun lalu dan kami sempat saling mengenal saat sekolah dulu."
"Anak dari rekan bisnis ayahmu? Jadi dia bukan kekasihmu? Ani, mantan kekasihmu?" Tanya Sehun. Masih penasaran sekali rupanya anak ini.
"Kau pikir aku ini gay apa?"
"Mungkin saja kan. Aku kan tidak bisa membaca pikiranmu hyung."
Kalau saja kau bisa membaca pikiranku, kau tidak akan mau mendekatiku Sehun-ah. Kau akan jijik setengah mati.
Luhan hanya tertawa hambar dan kembali melamun menatap kearah luar jendela dimana tiba-tiba rintik hujan saling bersahutan menghasilkan bunyi gemelutuk kecil. Ia menggenggam tangan Daehan yang terasa lebih hangat saat ini.
.
.
.
"Sehun-ah, eomma menyuruhku untuk datang!" Luhan berteriak kencang kearah ruang tengah dirumah Sehun. Namun rumah itu nampak sepi. Apa Sehun belum pulang dari kantornya ya?
Luhan berjalan pelan menuju ruang keluarga dan masih sama, sepi sekali. Akhirnya Luhan membiarkan tubuhnya rileks disofa besar ruang keluaga Oh itu.
"Anak itu kemana sih? Sudah bagus aku mau datang kerumahnya." Gumam Luhan mendumal tidak jelas.
Saat Luhan tengah mengganti chanel televisi tiba-tiba saja ada suara teriakan anak kecil dari pintu utama. "Baba!" Dan Luhan segera menoleh, sedetik kemudian ia bangkit dan berlari kecil kearah anak kecil itu –Daehan-
"Daehan-ah, kemana saja putra baba yang lucu ini hm? Baba hampir mati bosan menunggu tuan rumah sampai." Luhan membuat mimik cemberut dan pekikan senang keluar dari mulut mungil Daehan.
"Kau habis dari mana Sena-ya?" Luhan bertanya dengan nada ingin tahu. Sena hanya tersenyum kecil dan berjalan masuk menuju dapur yang diikuti Daehan juga Luhan disana.
"Luhan-ah, hari ini biar aku yang memasak. Eomma pasti tadi menyuruhmu datang untuk memasakkan Sehun kan? Dia sama sekali tidak tahu kalau aku sudah kembali dari Hokaido."
"Jinjja? Orang tuamu sama sekali tidak ada yang mengetahuinya? Memang kenapa kau tidak bilang bahwa kau pulang?" Luhan memandang Sena yang tengah menata sayuran dengan tatapan bingung.
"Mereka– agak canggung denganku. Ani, bukan mereka. Maksudku appa yang masih canggung terhadapku." Luhan dapat melihat guratan sedih diwajah Sena, dan dengan cepat Luhan berjalan mendekat dan memeluk Sena dari belakang.
"Jangan seperti ini Sena-ya, lagipula masih ada aku, Sehun, Daehan, dan juga eomma yang mendukungmu. Jangan sedih."
"Terimakasih Luhan-ah, aku tenang sekarang." Sena tersenyum samar dan setelahnya berusaha melepas pelukan Luhan pada pinggangnya.
"Luhan-ah, lepas. Ada Daehan disini. Juga aku takut Sehun tiba-tiba datang." Sena memberontak kecil dari dekapan Luhan dan Luhan hanya tersenyum jahil. Sehun tidak mungkin pulang secepat ini kan? Jadi tidak apa kan kalau Luhan menggunakan kesempatan ini untuk memperbaiki hubungan mereka?
"Sebentar saja Sena-ya. Aku rindu padamu sungguh." Luhan makin mengeratkan pelukannya dipinggang Sena sampai akhirnya Daehan merengek meminta susu pada Sena.
"Eomma, Daehan ingin susu!" Kata Daehan dengan nada merajuk. Daehan cemburu dengan Luhan karena Luhan malah merebut perhatian ibunya sedangkan Daehan lebih membutuhkan ibunya untuk membuatkan susu.
"Baiklah Daehan-ah, duduk dikursi dan eomma akan membuatkanmu susu." Kata Sena dan melepas paksa pelukan Luhan.
"Daehan pengacau." Gumam Luhan pelan dan masih bisa didengar oleh Sena. Sena hanya terkekeh kecil dan menyikut perut Luhan main-main.
.
.
.
"Mereka pikir, apa yang sedang mereka lakukan didepanku?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
