I Think I Love You
Cast:
Oh Sehun
Luhan
-HunHan-
Rated:
T = Tentukan sendiri(?)
Genre:
Romance, Family, Boys Love –Shounen ai-
.
.
.
.
Kata orang, dunia ini sempit. Kalau kau bertanya itu benar atau tidak pada Luhan, pasti ia akan bilang "Itu hanya teori bodoh!" Tapi setelah ia bertemu dengan sosok Sehun, Luhan yakin ia bisa menjelaskan sesempit apa dunia ini.
.
.
.
.
.
.
"Mereka pikir, apa yang sedang mereka lakukan didepanku?"
Tanpa mereka ketahui, disudut lain Sehun mendengar dan melihat dengan jelas interaksi antara Luhannya dengan kakaknya. Sehun tidak mengerti kenapa Luhan bisa sedekat itu dengan kakaknya. Padahal mereka baru saja berkenalan tepatnya tiga hari yang lalu. Tapi apakah dalam waktu tiga hari bisa membuat orang saling dekat satu sama lain? Apalagi saling berpelukan seperti itu. Bahkan dimata Sehun, Luhan memeluk kakaknya dengan– terlalu intim?
Sehun ingin percaya pada Luhan tapi bisakah Sehun curiga kali ini?
"Aku pulang." Teriak Sehun dan mengetukkan sepatunya menimbulkan suara khas orang yang baru memasuki rumah. Sehun sengaja, ia tidak ingin Luhan tahu bahwa Sehun sudah mendengar semuanya.
"Oh kau sudah pulang Sehun-ah." Luhan berjalan mendekat kearahnya dan membawakan tas Sehun untuk diletakkan dilemari khusus yang biasa digunakan untuk meletakkan tas kerja maupun tas sekolah.
"Noona, hari ini memasak apa?" Sehun melonggarkan dasinya dan duduk dimeja makan. Ia memandang Daehan dan setelahnya ia menarik anak itu untuk duduk dipangkuannya.
"Nanti kau juga akan tahu Sehun." Sena tersenyum kecil dan mulai memasak karena sebelumnya Daehan memintanya untuk membuat susu.
"Hyung, kau datang lebih awal. Tidak ada kuliah? Atau tidak ada pengerjaan tugas kah?" Sehun mengalihkan pandangannya kearah Luhan yang tengah duduk diam memandang kakinya sendiri entah apa yang menarik disana.
Luhan mendongakkan kepalanya dan menoleh kearah Sehun, ia hanya menggeleng tanda ia tidak memiliki kuliah juga pengerjaan tugas hari ini.
"Kau sakit?" Sehun menggeser kursinya lebih dekat dengan Luhan dan meletakkan punggung tangannya kearah kening Luhan. Namun hasilnya ia tidak merasakan tanda-tanda Luhan tengah demam atau apa.
"Aku tidak sakit bodoh. Kau ini berlebihan Sehun-ah." Kikikan kecil terdengar dari bibir Luhan dan itu membuat Sehun tersenyum tipis. Ia suka saat Luhan terkikik seperti itu. Menggemaskan.
"Kau terlihat aneh. Bagaimana bisa aku tidak mengkhawatirkanmu sayang?" Sehun mengusak rambut Luhan pelan dan menurunkan Daehan dari pangkuannya, setelahnya meletakkan anak itu kembali kekursinya. "Aku ingin mandi dulu dan aku akan turun setelahnya."
"Kalau begitu mandilah. Aku akan keluar sebentar." Ucap Luhan dan beranjak dari duduknya untuk segera keluar dari kediaman Oh tersebut.
Baru saja Luhan hendak pergi, namun Sehun menarik tangan Luhan kebelakang. Alhasil Luhan tersentak kebelakang dan tanpa sengaja ia menubruk dada Sehun. Tentu saja Sehun tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, oleh karena itu ia meletakkan kedua tangannya dipinggang Luhan. Dan bisa dilihat muncul rona kemerahan samar dari pipi putih Luhan. Menurut Sehun itulah yang membuat ia jatuh cinta pada Luhan.
"Se– Sehun-ah, lepaskan bodoh!" Luhan meronta pelan. Demi Tuhan, disana ada Daehan –walaupun Daehan tengah memainkan botol susunya dan tidak memperhatikan mereka- juga ada Sena yang tiba-tiba saja diam membatu disana. Mungkin dia juga turut shock melihat kelakuan adiknya itu.
"Kenapa hm? Kau malu? Lihat kau merona. Aku semakin jatuh cinta padamu Luhan." Sehun berbisik tepat disamping telinga kanan Luhan dan itu sukses membuat bulu romanya meremang. Tiba-tiba saja pundak Luhan menegak karena ia merasa ada sebuah benda kenyal mengulum telinganya.
Sehun bodoh! Demi Tuhan disini ada Sena!
"Sehun-ah, ka– kau ha–harus mandi seka– rang!" Luhan memerintah Sehun dengan suara terbata-bata sangking menegangnya ia karena perlakuan Sehun.
Sehun sialan ini memang harus diberi pelajaran. Kenapa ia bernyali mengulum telinga Luhan disini, ditempat ini, tepat didepan Sena? Bagaimana kalau Sena akan jijik padanya atau apa?
"Aku akan mandi kalau kau yang memandikanku sayang." Sehun tetaplah Sehun. Sekeras apapun Luhan memberi perintah tetap saja Sehun akan melakukan apa yang dia inginkan. Dan sekarang Sehun memintanya untuk memandikannya? Memang dia pikir dia masih seumur Daehan apa!
"Shirreo! Mandilah sendiri. Kau sudah dewasa Sehun. Menyingkirlah dari ngghh– " Dengan bodohnya Luhan melenguh tak tahu malu. Sehun tengah menggigit kecil lehernya dan sekarang Luhan mati-matian membekap mulutnya agar desahan nista itu tidak keluar dari bibirnya.
"Apa kau– " Sehun menjeda kalimatnya. Ia memperhatikan wajah memerah Luhan. Begitu seksi dan manis disaat yang bersamaan. Ia dengan sengaja menurunkan tangannya dan berhenti dipusat Luhan. Sehun hanya ingin bermain dengan Luhan –tadinya- tapi sialnya Sehun malah jadi ingin memakannya sekarang juga. "–sudah terangsang Luhan?" Bisik Sehun, tentu saja Sena tidak mendengar. Karena posisi Sehun membelakanginya sekarang.
"Kau gila. Disini ada Sena, kakakmu. Bagaimana kau bisa– ahhh." Desahan halus Luhan lolos kali ini. Bagaimana tidak? Sehun dengan sengaja meremas kejantanannya tadi!
Tapi tentu saja Sena tetap tidak bisa mendengar dan melihat apa yang mereka lakukan. Yang terlihat hanya Sehun yang memeluk Luhan disana.
"Astaga, bagaimana ini? Aku terangsang hanya karena– " Sehun menggigit bibir bawahnya. Menampilkan wajah seseksi mungkin untuk Luhan dan Luhan akui Sehun tampan kali ini. "–mendengar desahanmu hyung."
APA?
Apa Sehun benar-benar terangsang sekarang?
Hanya karena desahan kecil yang tidak disengaja dari Luhan? Astaga!
"Kau sialan Oh Sehun. Lepaskan aku dan jangan mempermainkanku." Luhan mendesis. Sehun keterlaluan. Apa Sehun benar-benar akan memperkosa Luhan didepan kakaknya sendiri? Ini gila.
"Kalau begitu– mari kita tuntaskan dikamar Luhan. Kau tidak ingin kakakku tahu kan?" Sehun main-main, ia bersumpah. Tapi kenapa wajah Luhan selalu seperti menantangnya untuk melakukan ini dan itu? Tatapannya itu seperti– mengajaknya berkelahi –diranjang- ?
"Bercintalah dengan guling kesayanganmu saja!" Luhan mendorong Sehun dengan kuat dan ternyata itu berhasil. Sehun menjauh beberapa senti dari posisi sebelumnya. Dan posisi itu tidak disia-siakan oleh Luhan untuk pergi dari dapur.
.
.
.
Seoul cukup cerah hari ini. Oleh karena itu Sena berpikir untuk berjalan-jalan sebentar. Lagipula ia juga sudah agak-agak lupa dengan bagaimana bentuk Seoul. Dia sudah sangat-sangat lama tidak berada di Korea ngomong-ngomong, jadi ia benar-benar rindu menghirup udara kota itu.
Hari ini para maid Sehun datang kembali setelah liburan panjang mereka kemarin. Oleh karena itu Sena tidak akan memikirkan pekerjaan rumah lagi. Juga Daehan sudah seminggu ini bersekolah di taman kanak-kanak ternama itu. Jadi Sena memanfaatkan waktu senggang itu untuk mengenal Seoul lebih jauh lagi. Untuk mengingat masa lalu mungkin.
"Sudah berapa abad aku tidak menginjakkan kakiku ditrotoar ini?" Sena terkekeh. Padahal hanya enam atau tujuh tahun kan dia meninggalkan Korea, tapi kenapa terasa lama sekali ya.
Sena berjalan pelan dan menemukan penyebrangan jalan. Dimonitor itu masih bertanda merah yang menandakan Sena harus menunggu untuk waktunya menyebrang.
Dan–
"Kajja!" Ia berjalan menuju seberang jalan bersama pejalan kaki yang lain. Ini sama seperti di Jepang. Hanya saja negaranya saja yang berbeda.
Pokoknya hari ini Sena akan pulang sampai jam sekolah Daehan selesai. Ia ingin berjalan kemanapun yang ia suka dan yang ia ingat saat ia masih di Seoul dulu.
Beberapa toko Sena lewati. Sudah cukup banyak perbedaan disana. Dimana saat ia masih di junior high school, toko-toko itu belum terlalu besar seperti apa yang Sena lihat saat ini.
"Apa Gong ahjumma masih memiliki kedai ramen disekitar sini ya?" Sena meneliti setiap tempat yang ia lewati dan ternyata Gong ahjumma tidak lagi memiliki kedai didaerah sini. Mungkin saja Gong ahjumma telah memiliki modal besar untuk membuat rumah makan besar.
Jalanan, gedung-gedung, juga beberapa sekolah telah Sena lewati. Dan beberapa dari mereka masih ada yang bertahan dengan bentuk lama dan ada juga yang telah terombak total sampai Sena harus memutar masa-masa beberapa tahun yang lalu untuk mengingat tempat apa itu.
"Walaupun udara Seoul sekarang tidak sesegar dulu, tapi disaat seperti ini aku lebih menyukai Seoul ketimbang Beijing." Sena tersenyum tipis terlihat miris apabila diteliti dengan cermat. Bagaimanapun Sena tidak mau berkunjung kesana. Karena setiap ia menginjakkan kakinya di Beijing, bayang-bayang tidak menyenangkan selalu berputar ulang bagai kaset rusak dikepalanya. Dan Sena tidak pernah menyukai sensasinya.
Melamun. Itu yang Sena lakukan setelah mengingat masa-masa kelamnya di Beijing setelah kejadian itu. Sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa ada seseorang berjalan cepat kearahnya. Sepertinya pria itu juga terburu-buru dengan ponsel bertengger ditelinganya.
BRAKK–
"Astaga– " Sena memekik keras saat ia tersungkur kebelakang. Tidak terlalu kencang sih karena ia juga berjalan lamban tadi. Tapi karena ia tengah melamum tadi ia jadi terkejut sampai memekik mendapat kejadian seperti itu.
"Bisakah nona tidak melamun saat berjalan?" Suara pria itu terdengar kesal. Wajahnya menunduk merapikan kertas-kertas yang berjatuhan dibawah akibat insiden tadi.
Sena agaknya merasa menyesal karena melamun saat berjalan tadi. Terlihat dari banyaknya berkas juga ponsel yang masih menyala menyambungkan panggilan dengan siapa itu Sena tidak terlalu perduli –yang tadi sempat terbanting- sepertinya orang ini benar tengah buru-buru. Dan Sena menghancurkan hari pria itu.
"Jeosonghamnida ahjussi. Aku akan lebih berhati-hati." Sena membungkuk hormat dan meminta maaf pada pria itu. Sena sama sekali belum melihat wajah pria itu –apakah ia pria muda atau pria paruh baya- karena ia sibuk membungkuk meminta maaf.
"Apa yang kau katakan hah? Ahjussi? Ya! Apakah aku terlihat setua itu?" Pria itu berteriak kesal. Apa-apaan wanita ini. Wajahnya ini tampan sekali dan tidak boros. Bagaimana bisa wanita ini memanggilnya ahjussi?
Sena tersentak takut. Suara pria itu benar-benar menakutkan untuknya.
Sena mendongakkan wajahnya. Ia akan memastikan bahwa pria dihadapannya adalah pria paruh baya dan ia tidak perlu disalahkan karena memanggil pria itu ahjussi seperti tadi.
"Jeosong– Yifan?"
"Shannon?"
Mereka berbicara bersamaan. Saling memandang terkejut satu sama lain. Terlebih lagi Kris yang paling terkejut saat melihat mantan kekasihnya itu berada tepat didepannya dan baru saja– ia membentaknya tadi.
"Bagaimana– bagaimana bisa kau ada disini Shannon?" Kris memandang Sena masih dengan pandangan terkejut dan terselip rasa khawatir disana.
.
.
.
Sepuluh menit berlalu dengan keheningan. Baik Sena maupun Kris, satupun tidak ada yang berbicara sepatah katapun.
"Aku– "
"Bagaimana– "
Lagi-lagi mereka bersamaan saat berbicara. Sena hanya mengerjap lucu dan setelahnya menunduk canggung. Tidak berbeda dengan Kris, ia meremas tangannya sendiri yang terletak dibawah meja. Mengapa pertemuan pertama mereka terasa begitu canggung sekali?
"Kau duluan saja." Sena akhirnya angkat bicara.
"Bagaimana kabarmu Shannon?" Kris akhirnya bertanya dengan nada ragu. Ia tersenyum tipis pada Sena dan setelahnya ia menunggu jawaban Sena.
"Sena. Oh Sena." Jawab Sena. Kris tidak mengerti. Oh Sena? Kris menanyakan kabar, kenapa ia menjawab Oh Sena?
Kris mengangkat sebelah alisnya dengan tatapan bertanya. "Oh Sena? Maksudmu?"
"Aku Oh Sena, bukan lagi Shannon Oh. Jadi tolong, lupakan nama itu."
"Mian Sena-ya." Kris menunduk. Berkata maaf dengan bersungguh-sungguh.
Setelah Kris dan Sena berpisah, Kris bahkan hampir saja masuk rumah sakit jiwa. Ia merasa bersalah. Merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Sena, merasa bersalah karena disaat Sena tengah terpuruk ia malah melarikan diri dan menatap Sena jijik seperti sampah hina yang tidak berharga, dan merasa bersalah karena telinganya hanya mampu mendengar kebohongan saat itu.
"Itu sudah sangat lama. Aku bahkan telah melupakannya. Tidak perlu meminta maaf. Itu kesalahanku karena aku tidak berhati-hati."
"Tapi aku– " Sena menjeda kalimat kesedihan dari Kris. Ia tidak mau mendengar lebih banyak nada kesakitan dari Kris.
"Memang saat pertama kali aku melihatmu kembali waktu itu, aku merasa bahwa kaulah yang pantas disalahkan. Namun saat kupikirkan kembali, aku tidak bisa melemparkan semua kesalahan pada satu orang sedangkan bukan hanya kau yang memiliki andil disana. Aku juga. Aku tidak berhati-hati. Karenanya kejadian itu terjadi."
"Tunggu– kau pernah melihatku sebelumnya di Korea ini?" Kris terkejut. Ini kali pertama ia bisa kembali melihat wajah cantik gadisnya. Tapi Sena bilang, ia pernah melihat Kris sebelumnya. Masa iya Kris tidak melihat?
"Kau– kau berbicara dengan Luhan waktu di rumah sakit. Aku melihat Luhan menyeretmu menjauh saat itu."
"Berbicara dengan– tunggu! Jadi kau dan Luhan sudah saling bertemu sebelumnya?" Kris terperangah. Jadi Kris yang terakhir tahu kedatangan Sena ke Korea. Bagaimana bisa? Dia bahkan bertemu Luhan disetiap kesempatan, tapi kenapa Luhan tidak berbicara tentang Sena padanya?
"Ya, Luhan menyambutku saat pertama kali aku masuk kerumah. Ia juga sama terkejutnya denganmu ha-ha." Sena tertawa hambar. Tidak ada yang melawak sungguh. Tapi berpikir tentang wajah Luhan yang terkejut itu membuat lawakan tersendiri untuk Sena.
"Jadi– aku yang terakhir tau tentang– tentang kedatanganmu ke Korea?" Kris bertanya dengan terbata. Tidak dapat dipercaya. Harusnya Kris tahu lebih awal daripada rusa kecil itu.
"Hei, apa yang kau katakan dengan terakhir? Kalian hanya berdua, bukan ribuan orang. Tidak pantas kau menyebut dirimu terakhir Kris."
"Tapi tetap saja, rusa kecil itu menyambutmu lebih awal Sena-ya." Kris mendesah frustasi. Kesal juga rasanya.
.
.
.
"Jadi disini anakmu bersekolah?" Kris menoleh kesana kemari. Melihat betapa bagusnya sekolah anak Sena kini. Bahkan Kris merasa terhina, sekolah anak Sena sama seperti gedung perkantorannya. Bagaimana mungkin?
"Ya, Daehan bersekolah disini Kris."
"Memang kau sekarang– hm bekerja apa? Maksudku bahkan sekolah ini terlihat seperti mall ketimbang sarana pendidikan."
"Adikku. Dia yang membiayai sekolah anakku. Adikku penerus perusahaan ayah. Jadi yeah beginilah. Adikku kadang berlebihan. Dia hanya ingin melindungi Daehan, begitu katanya." Sena tersenyum mengingat adiknya –Oh Sehun- itu. Ia bersyukur Sehun sangat perhatian terhadap anaknya walaupun anak itu tidak dihasilkan dari pernikahan yang sah.
"Adikmu? Kau punya adik?" Kris menatap Sena terkejut. Demi Tuhan ia berkencan cukup lama dengan gadis itu tapi ia tidak tahu apa-apa tentang keluarganya. Benar-benar bodoh.
"Ya dia Oh Sehun. Dia calon suami Lu– " Sena membolakan matanya. Bodoh. Seharusnya Sena berhati-hati. Hampir saja ia keceplosan menyebut nama Luhan tadi.
"Calon siapa Sena-ya? Apa teman bisnis yang aku kenal?"
"Ah tidak penting. Lebih baik kita kesana. Anakku pasti sudah menunggu." Sena menarik lengan Kris menuju tempat menunggu didalam gedung sekolah.
.
.
.
Suasana kantin tidak terlalu ramai seperti beberapa hari yang lalu. Itu membuat Luhan juga seseorang yang sekarang duduk dihadapannya bisa memakan makanan mereka dengan tenang dan damai.
"Jadi mau menjelaskan sesuatu? Kenapa sih kau itu terus saja berkunjung kesini? Kau menyukai seorang mahasiswi disini ya? Akan ku titipkan salammu untuknya jadi jangan basa-basi. A-ku-mu-ak!"
"Wow, santai saja hyung. Aku hanya bosan makan direstoran dekat kantor. Lagipula aku hanya ingin mengenang masa-masa ku saat berada dikampus seperti ini."
"Dengar ya, aku hari ini akan berbaik hati padamu dan ini yang terakhir kalinya. Jadi jangan mengambil kesempatan untuk terus mengikutiku apalagi dekat-dekat denganku." Luhan menusuk dengan buas daging dipiringnya dan setelahnya memakan daging potongan itu dengan ganas.
Jadi sebenarnya tadi dia dan Chanyeol juga tentu saja Jongin sudah berjalan bertiga kekantin. Kalian tahulah mereka bertiga itukan icon nya kampus ini oleh karena itu mereka berjalan bersama.
Setelahnya ada seseorang yang menerobos formasi mereka bertiga dan menarik tangan Luhan. Siapa lagi orang kurang ajar itu kalau bukan Oh Sehun? Luhan bahkan berpikir seharian ini ia tidak ingin melihat Sehun, tapi apa? Sehun yang malah mendatanginya. Dasar hama.
"Astaga hyung, kau ini terlalu percaya diri atau apa? Aku disini karena ada suatu urusan juga bukan hanya untuk melihatmu. Ada apa sih denganmu?" Sehun menatap datar kearah Luhan. Luhan itu bisa tidak sih tidak jual mahal kepada Sehun? Hari pernikahan mereka bahkan sudah menghitung minggu tapi masih saja Luhan itu bersikap galak pada Sehun.
"Aku tidak peduli kau disini mau menggaet gadis manapun, guru wanita muda manapun atau pria manapun itu bukan urusanku. Setelah selesai makan cepatlah pergi. Aku tidak suka menjadi bahan gosip disini."
"Kalau aku tidak mau bagaimana hm?" Suara Sehun terdengar menantang ditelinga Luhan. Kurang ajar sekali bocah ini. Dia berani begitu dengan Luhan?
"Aku benar-benar akan membunuhmu apabila kau tidak lekas pergi setelah selesai makan nanti." Luhan menunjuk-nunjuk wajah Sehun dengan menggunakan garpu yang berada ditangannya yang ia gunakan untuk menusuk daging tadi.
"Kalau begitu aku akan menambah makananku agar aku tidak perlu beranjak dari sini sampai jam pelajaran barumu dimulai." Dengan wajah datar, Sehun beranjak dari duduknya dan akan mengambil beberapa makanan lagi sesuai dengan rencananya tadi. Sehun sih acuh saja. Memang Luhan pikir dirinya siapa? Berani sekali dengan Sehun.
Saat hendak melangkahkan kaki panjangnya, Luhan menahan tangan Sehun dan menghela nafas kasar. Luhan lelah dan kenapa Sehun selalu berada disekitarnya hah!
"Aku akan pergi ketempat Jongin kalau kau sampai menambah makananmu Sehun."
"Posesif sekali sih. Aku hanya ingin mengambil makanan bukan untuk meninggalkanmu hyung. Aku akan kembali disini– " Sehun menunjuk bangku yang ia duduki tadi. "–di tempat ini tepat dihadapanmu juga. Jadi tunggu aku ya cantik."
"Ya! Oh Sehun sialan!"
Luhan menggerutu tidak jelas sambil menusuk-nusuk makanannya dengan tidak ramah sekali. Dia masih berpikir kenapa sih si Oh Sehun sialan itu selalu saja datang kekampusnya? Mau pamer wajah tampan? Atau mobil mewah? Atau malah mau mempermalukan Luhan? Kalau memang begitu, Sehun berhasil melakukan ketiganya dan berhasil juga membuat Luhan marah tidak tertahankan hari ini.
Sehun selalu saja bilang bahwa ia memiliki suatu urusan dikampusnya. Urusan apanya! Luhan tahu memang Sehun itu eksekutif muda, tapi apa yang dilakukannya di kampus Luhan? Ia menginvestasikan sesuatu? Tidak mungkin kan? Rasa-rasanya Luhan itu ingin mengobrak-abrik isi otak Sehun dan menemukan banyak alasan kenapa Sehun selalu mengganggunya.
"Hai hyung, boleh aku duduk disini?" Suara seorang pria membuyarkan pikiran negatif Luhan terhadap Sehun tadi dan mau tidak mau Luhan beralih menengok kearah kirinya tepat kearah suara itu berasal.
Kenapa juga si Mingyu bedebah ini ada didepanku saat ada Sehun?
"Cari tempat lain. Aku sedang tidak ingin diganggu." Luhan menjawab dengan nada ketus. Ia segera mengacuhkan Mingyu dan menatap dagingnya penuh minat. Ia benar-benar tidak ingin melihat wajah anak tinggi itu sekarang.
"Tapi tidak ada yang kosong hyung. Lihatlah, sekarang beberapa tempat telah terisi penuh." Mingyu membuka suaranya lagi membuat Luhan mengusap wajahnya kasar. Ia mengedarkan pandangannya dan benar saja tempat yang tadi Luhan lihat sepi sekarang telah terisi penuh oleh beberapa mahasiswa.
"Duduklah dan jangan banyak bicara atau kau akan mengetahui perang dunia sebenarnya." Luhan memberi beberapa wejangan yang sekiranya berguna dalam menghadapi Oh Sehun yang sedang berjalan mendekat kearah mejanya saat ini.
Suasana terasa mencekam untuk Luhan. Dimana Mingyu yang baru saja duduk menoleh datar kearah Sehun yang tiba-tiba meletakkan dengan kasar nampan makan siangnya dimeja dan Sehun yang menatap tajam kearah Mingyu, Sehun terlihat tidak suka dengan keberadaan anak tinggi itu.
"Sedang apa kau disini bocah?" Sehun berbicara dengan tegas menahan amarahnya. Ia masih dengan setia menatap tajam kearah Mingyu yang sekarang malah memandang Sehun bingung. Seperti mengejek juga untuk Sehun.
"Tentu saja ingin makan siang. Memang kau siapa? Pemilik kampus ini? Bertanya-tanya tidak tahu diri." Mingyu menjawab sesantai mungkin dan menatap Sehun acuh. Mingyu baru saja akan mengambil sumpitnya saat Sehun menepis lengannya kasar sehingga sumpit yang berada ditangannya terlepas kembali.
"Kau bilang apa?" Dengan langkah pelan, Sehun mendekat kearah Mingyu. Berdiri dengan angkuh disamping Mingyu. Dan Mingyu menoleh kearah kirinya, melihat dengan bingung kearah Sehun. Mau apa sih pria kantoran ini dengannya? Mau mengajak berkelahi?
"Kau tidak berhak bertanya macam-macam padaku."
Seketika beberapa pasang mata terkunci pada beberapa adegan yang Sehun dan Mingyu lakukan. Mereka menatap bingung kepada dua pria tampan yang berdiri didekat Luhan saat ini.
Luhan menutup wajahnya. Ia risih dengan tatapan beberapa anak disana yang penuh dengan tanda tanya untuk Luhan. Sepertinya mereka bertanya 'apa yang mereka lakukan disana?' atau 'kenapa mereka berkelahi?'
"Jaga ucapanmu bocah. Menyingkir dari Luhanku. Kupikir disana masih ada meja kosong untukmu menyelesaikan makan siang dengan tenang dan damai tanpa adanya peperangan denganku." Sehun sekali lagi berusaha menyingkirkan anak tinggi itu dari mejanya dan Luhan dengan ramah –menurut Sehun-
"Sehun-ah, sudahlah. Kita bisa pindah meja oke?" Luhan berdiri dengan cepat sambil membawa nampan makan siangnya dan berjalan mendekat kesisi kanan Sehun. Ia menahan lengan Sehun yang hendak menyentuh Mingyu dan menatap Sehun dengan tatapan memohon. Tolong, Luhan tidak ingin ada pertumpahan darah disini.
"Luhanmu? Memang kau siapa? Bodyguard nya Luhan hyung?" Kalimat yang Mingyu lontarkan agaknya membuat Luhan naik pitam apalagi Sehun? Rahangnya sudah mengeras sejak beberapa detik yang lalu dan Mingyu membuat dirinya lebih emosi saja.
"Lalu kau siapa? Kau menyukai Luhan ya? Kenapa kau selalu berada disekitar Luhan? Itu membuat mataku sakit." Kali ini Sehun berbicara dengan santai. Ia mulai bisa mengontrol emosinya. Lengan yang dipegang oleh Luhan pun telah rileks sepenuhnya sekarang. Menggunakan otot sepertinya tidak dibutuhkan untuk saat ini. Sepertinya anak tinggi ini lebih suka beradu mulut yang tidak penting.
"Pergilah ke dokter mata. Aku juga tidak suka melihatmu disini."
"Wow, tahan kawan. Kau bilang apa? Kau tidak suka melihatku disini? Memang kau sudah tahu siapa aku bocah? Jangan berlagak sok dewasa didepanku. Kau tidak tahu dunia luar seperti apa anak manis." Senyuman miring ditujukan Sehun untuk Mingyu dan itu membuat Mingyu semakin panas saja.
PRANG–
"Jangan merendahkanku." Mingyu melempar nampan makan siang yang tadi dipegang oleh Sehun dengan sebelah tangan. Sehun yang baru bisa mencerna kejadian itu langsung mengarahkan tangan kanannya kearah kerah Mingyu menariknya dan membuat leher Mingyu tercekik.
"Jangan menguji kesabaranku bocah. Aku bukan malaikat yang akan selalu tersenyum melihat kesalahan orang lain. Apalagi kau mendekati Luhanku. Tak akan ku biarkan kau hidup."
"Sehun-ah!" Luhan berteriak kearah Sehun. Menarik dengan paksa lengan kanan Sehun yang berhasil mencengkram kerah baju milik Mingyu. Melirik sesaat kebelakang kearah para mahasiswa yang tercengang dengan bunyi ribut nampan jatuh tadi.
"Sayang, kita bisa bicarakan baik-baik oke. Kita pergi dari sini." Luhan masih berusaha memisahkan perdebatan alot antara Mingyu juga Sehun. Dan tanpa sengaja ia memanggil Sehun dengan sebutan– sayang?
"Anak ini benar-benar tidak tahu sopan santun sayang." Dengan tatapan tajam, Sehun menatap Luhan yang kini tengah memegang lengan kanannya berusaha melepas cengkramannya pada Mingyu.
"Sehun-ah geumanhae! Kita pergi sekarang oke?" Sehun akhirnya luluh juga dengan tatapan memelas Luhan itu. Ia melonggarkan cengkramannya pada Mingyu dan menghela nafas pelan menetralkan emosi yang tadinya sudah mencapai ubun-ubunnya.
"Kita pergi sekarang." Luhan meletakkan nampan makan siangnya sembarang dimeja dan merangkul lengan kiri Sehun. Menggandengnya keluar kantin menuju parkiran mobil.
"Jadi Luhan hyung– jadi itu kekasih Luhan hyung?" Mingyu menggumam pelan. Masih tidak percaya. Ia mendengar dengan jelas tadi Luhan dan orang yang bernama Sehun itu saling melontarkan kata sayang yang berarti mereka memiliki hubungan khusus sebagai sepasang kekasih.
"Wah daebak, Luhan oppa sudah beralih haluan menjadi seorang gay?"
"Jadi pria itu adalah kekasih Luhan oppa? Pantas saja dia selalu datang kemari."
"Padahal baru aku ingin meminta nomor pria tampan itu, tapi ternyata mereka gay. Menjijikan sekali."
"Jadi pria itu bukan adik dari Luhan sunbae? Kudengar beberapa waktu yang lalu mereka adalah kakak beradik."
Seperti itulah suasana kantin sepeninggalan Luhan beserta Sehun yang sudah menghilang dibalik dinding beberapa waktu yang lalu. Beberapa orang menatap tidak percaya, dan beberapa orang menggumam kagum pada kedekatan Sehun dan Luhan yang baru hari ini mereka ketahui. Tak terkecuali Jongin juga Chanyeol yang masih setia memandang satu sama lain dengan pandangan kosong.
"Kau– kau mendengar itu Jongin-ah?" Chanyeol menelan ludahnya kasar. Mau sesantai apapun Chanyeol berbicara tetap saja Jongin dapat menangkap gurat tidak percaya diwajah Chanyeol saat ini.
"Mereka berkencan. Tentu saja. Aku juga tidak akan percaya mereka hanya kakak beradik seperti yang dituduhkan." Jongin menimpali dengan acuh dan mulai melirik kembali makan siangnya.
PLAK–
"Aduh, kenapa kau memukulku hyung? Memang aku salah bicara ya?"
"Kau tidak percaya mereka kakak beradik karena kau tahu Luhan hyung hanya memiliki satu kakak yaitu Luna noona. Jangan bicara yang tidak perlu Jongin." Chanyeol menggeleng jengah. Disaat seperti ini Jongin masih pandai sekali melawak padanya.
"Ya memang begitu. Aku benar kan? Tapi siapa pria itu sebenarnya? Luhan hyung tidak mungkin secepat itu berbelok hanya karena– pria albino itu kan?" Tatapan Jongin terlihat penuh tanda tanya besar.
Mereka berdua sama-sama mengedikkan bahu tidak tahu. Selama ini yang mereka ketahui Luhan itu anti sekali dengan gay tidak tahu kenapa. Tapi sekarang jelas-jelas mereka melihat Luhan berinteraksi layaknya sepasang kekasih dengan pria bernama Oh Sehun itu. Tidakkah ini aneh? Pasti ada sesuatu yang tidak mereka ketahui.
.
.
.
Hari sudah mulai sore, namun Sehun belum juga beranjak dari kamarnya. Luhan menghela nafas kasar dan beranjak dari sofa. Ia berjalan pelan menuju taman belakang kediaman Oh.
Tadi setelah insiden yang tidak terduga dikampus, Sehun menarik paksa Luhan untuk pulang –pulang kerumah Sehun- jadilah dia sekarang berada di kediaman keluarga Oh itu.
Saat sudah memasuki rumahnya tadi, Luhan melihat wajah Sehun lelah sekali. Luhan tidak tahu karena apa tapi kenapa Luhan malah merasa khawatir? Apa Sehun sakit? Atau ada sesuatu yang tiba-tiba Sehun pikirkan?
"Anak itu cepat sekali berubah mood." Luhan bergumam sendiri. Ia mendudukkan dirinya disebuah kursi kayu yang menghadap taman bunga milik keluarga Oh itu. Ia tak henti-hentinya menghela nafas. Ini pertama kalinya Luhan tidak menyesal mengumbar hubungannya dengan Sehun. Lagipula itu sudah terjadi. Biarkan para mahasiswa kampus berspekulasi tentang hubungan apa yang Luhan dan Sehun miliki saat ini.
"Kau sedang apa Luhan-ah?" Sebuah suara wanita menerobos masuk pendengaran Luhan, dan Luhan membalikkan tubuhnya guna melihat sang pemilik suara tersebut.
"Sedang merenung." Jawab Luhan singkat. Entah kenapa hubungan Sena dan Luhan makin lama makin menjauh setelah seringnya Sehun mendatangi kampusnya dan berinteraksi yang tidak perlu dengan Luhan.
"Kau berbeda sekarang." Luhan diam. Ia menoleh kearah Sena menunggu wanita itu melanjutkan kalimatnya.
"Kita jadi jarang berbicara. Kau lebih sering menghabiskan waktu diluar dan Sehun pun begitu. Aku terkadang– merasa dijauhi." Sena berbicara pelan. Merasa tidak enak melontarkan isi hatinya kepada Luhan.
"Aku tidak menjauhimu Sena-ya, hanya saja–" Kembali Luhan mengingat hubungannya dengan Sehun yang sudah terbilang lebih dekat dari sebelumnya. Ia juga tidak lagi mendapatkan debaran aneh didadanya saat berdekatan seperti ini dengan Sena. "–aku sedang lelah."
"Apa kau mencintai Sehun, Luhan-ah?"
DEG–
Luhan menghela nafas. Ia menatap lurus taman bunga didepannya itu. "Aku tidak." Tidak salah lagi aku sangat ingin menuju kesana. Mencintai Sehun.
"Apa kau tidak ingin membicarakan ini dengan Sehun?" Sena menoleh kearah Luhan dan mau tidak mau Luhan kembali menoleh kearah gadis cantik itu. Kembali ia terdiam. Bingung dengan pernyataan yang Sena lontarkan.
"Kejadianmu dimasa lalu, denganku. Juga hubungan apa yang kau dan Kris–"
"Diam. Jangan bawa nama Kris." Luhan menatap tajam kearah Sena dan segera berdiri dari posisi duduknya. "Aku tidak mau berbicara tentang Kris. Dan untuk hubunganmu denganku, aku akan membicarakan ini dengan Sehun nanti." Setelahnya Luhan berbalik hendak pergi menuju ruang tengah namun ia segera membelalakan matanya terkejut.
"Apa yang ingin kau jelaskan padaku?"
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
.
.
Woohoo double updated nih hehe untuk seminggu atau dua minggu kedepan aku gatau bisa updated apa engga karena sibuk puasa(?) dan ff nya juga sedang dalam proses pengerjaan buat chap 10 ya makanya sekarang aku kasih dua chap sekaligus nihh. Gimana? Si Mingyunya sampe disini aja ya wkwk
Kemarin tiba-tiba kepikiran juga buat bikin ff baru hahahaha padahal ini aja belum kelar T.T jadilah aku bingung pengen ngetik yang mana dulu.
Maapin ya kalo alurnya kecepetan atau gimana, mungkin diusahain juga dichap berikutnya bakal aku ketik dengan detail dan lain sebagainya(?)
Okelah kalau begitu, sampai jumpa di chap berikutnya. Annyeong!
Mind to review?:)
