I Think I Love You

Cast:

Oh Sehun

Luhan

-HunHan-

Rated:

T = Tentukan sendiri(?)

Genre:

Romance, Family, Boys Love –Shounen ai-

.

.

.

.

Kata orang, dunia ini sempit. Kalau kau bertanya itu benar atau tidak pada Luhan, pasti ia akan bilang "Itu hanya teori bodoh!" Tapi setelah ia bertemu dengan sosok Sehun, Luhan yakin ia bisa menjelaskan sesempit apa dunia ini.

.

.

.

.

.

.

Suasana hati Sehun benar-benar sedang tidak baik hari ini. Oleh karena itu ia dengan paksa menarik tangan Luhan kedalam mobil dan menancapkan gasnya kearah rumahnya tadi. Tanpa berbicara sepatah katapun didalam mobil bersama Luhan. Hening.

Sehun menghela nafas. Kenapa akhir-akhir ini dirinya tidak bisa menahan emosinya barang sesaat? Sesuatu yang berhubungan dengan Luhan seakan-akan membuatnya selalu bisa menguras emosinya sendiri dan tidak bisa menahan diri. Apalagi pria tadi –Mingyu- yang Sehun lihat selalu menjadi hama disekitar Luhan setiap Sehun berada jauh saat sedang menunggu Luhan sampai menuju gedung kampusnya. Anak itu benar-benar membuat Sehun muak.

Sehun selalu berpikir, setidaknya dia adalah orang yang sudah cukup dewasa untuk tidak berurusan dengan bocah kecil seperti Mingyu itu. Tapi entah saat ia melihat Mingyu berdekatan dengan Luhan, rasanya emosi itu memuncak ketitik dimana Sehun tidak bisa terkendali lagi.

Luhan selalu menolakku dan si anak ingusan itu terus saja mendekati Luhan, apa aku tidak boleh kesal?

Sudah hampir tiga atau empat jam Sehun berada didalam kamarnya. Tidak, ia sama sekali tidak tidur. Ia hanya ingin sendiri saja saat ini. Tidak ingin diganggu terutama dengan Luhan. Karena Sehun rasa ia sudah berada dimana kesabarannya habis menghadapi Luhan.

"Lebih baik pernikahan ini dibatalkan saja. Aku tidak mau menikah dengan orang yang kolot seperti Luhan." Sehun berbicara menghadap cermin. Memandangi wajahnya sendiri. Mengasihani nasibnya yang tak kunjung baik. Ia hanya ingin Luhan mengingatnya tapi kenapa sulit sekali?

"Luhan kenapa berubah secepat ini? Padahal kejadian itu baru saja terjadi beberapa waktu lalu tapi kenapa efeknya lama sekali? Apa orang amnesia seperti itu ya?"

Ya, Sehun dan Luhan sebenarnya telah mengenal satu sama lain saat berumur lima tahun. Mereka teman bermain sejak kecil. Sehun kecil saat itu sangat menyukai sosok Luhan karena Luhan yang saat itu adalah Luhan yang pemberani. Wajah Luhan kecil pun tidak seperti sekarang. Saat Sehun kembali melihat Luhan dirumahnya, saat itu juga ia benar-benar tercengang. Luhannya benar-benar cantik sekali.

Sampai saat memasuki umur lima belas tahun mereka harus berpisah. Awalnya karena Luhan mendapat kecelakaan serius bersama pamannya dan bisa dibilang ia mengalami amnesia yang Sehun ingat saat itu dokter bilang bahwa Luhan memiliki amnesia ringan yang mungkin akan cepat sembuh saat berkumpul dengan orang-orang terdekatnya. Tapi apa? Sampai saat ini pun Luhan tidak mengingatnya. Mereka berteman selama sepuluh tahun dan Luhan dengan mudahnya melupakan Sehun? Padahal Luhan itu kan ahli dibidang psikologi, tapi kenapa masalah seperti ini saja ia tidak bisa menanganinya?

Setelah kejadian Luhan yang kehilangan ingatannya itu, Luhan pindah ke Beijing. Ketanah kelahirannya untuk mendapat perawatan khusus. Dan Sehun bahkan tidak sekolah selama satu minggu saat itu karena kepergian Luhan pun ia tidak tahu. Ayah dan ibunya tidak memberitahu kapan Luhannya berangkat ke Beijing.

Sehun kesepian saat itu. Karena saat itu bagi Sehun, Luhan adalah seorang kakak merangkap seorang adik merangkap seorang sahabat untuk Sehun. Luhan seakan-akan menggantikan posisi kakakknya yang pergi ke Beijing untuk melanjutkan sekolahnya. Ayah bilang di Beijing terdapat sekolah yang bagus untuk kakaknya jadilah Sehun makin mengandalkan Luhan dalam hal apapun. Dan Luhan tidak mempermasalahkan hal itu.

Jadi tahu kan bagaimana rasanya kehilangan Luhan? Ditinggalkan Luhan ke Beijing yang saat itu amnesia ringan dan otomatis telah melupakannya? Dan disaat yang bersamaan keluarga Xi pun tidak bicara apa-apa padanya. Sangat sakit. Dan pada saat itu Sehun bertekat untuk belajar dengan benar, menjadi orang sukses agar Luhan bangga padanya saat bertemu kembali dengannya.

Tapi mungkin kerinduannya pada Luhan telah terbayarkan. Sehun dapat melihat Luhan dari dekat. Sehun dapat melihat betapa indahnya Luhan dalam jarak lima senti saja sekarang. Juga sekarang Sehun bahkan telah memegang kendali perusahaan keluarganya. Ia hanya menyelesaikan kuliahnya dalam kurun waktu dua setengah tahun. Karena apa? Tentu saja karena Luhan. Hanya untuk membuat Luhan bangga.

Bagaimana bisa bangga padaku? Bahkan ini sudah bertahun-tahun, tapi ia belum sembuh juga. Apa aku harus menuntut dokter yang menangani Luhan saat itu?

Sehun mengedikkan bahunya acuh. Ia tidak ingin berpikir terlalu dalam saat ini. Ia lelah dengan takdirnya yang benar-benar memusingkan kepalanya. Tanpa ada akhir sama sekali.

"Mungkin minuman dingin dapat mendinginkan pikiranku." Sehun beranjak dari ranjangnya menuju dapur guna mengambil sebotol air dingin dikulkasnya.

Rumahnya sepi sekali. Padahal Sehun ingat sekali Luhan tadi sedang berada disofa ruang tengah. Tapi kemana rusa itu? Apa dia sudah pulang?

Pulang tanpa mengabariku lagi. Masih sama seperti dulu.

Sehun berbelok kearah kanan, kearah dapur. Namun sesaat langkahnya terhenti. Samar-samar ia melihat siluet kakaknya yang berjalan menuju taman belakang rumah. Kenapa kakaknya itu berjalan kesana?

Niat awal untuk mengambil air, Sehun urungkan. Entah perasaan apa ini. Padahal bisa saja kakaknya itu hanya ingin melihat taman bunga dibelakang rumah tapi kenapa Sehun penasaran sekali?

Ia mempercepat langkahnya menuju taman belakang rumahnya. Dan berhenti saat kakaknya membuka suara. Samar-samar namun Sehun cukup mendengar dengan jelas dalam jarak yang bisa dikatakan aman dari jangkauan penglihatan kakaknya. Dan disana ada– Luhan?

"Kau sedang apa Luhan-ah?" Sehun melihat kakaknya berjalan menuju kearah kursi yang berada disebelah Luhan, menghadap tepat kearah taman bunga.

"Sedang merenung." Ini berbeda dari apa yang Sehun lihat beberapa saat yang lalu. Dimana Sehun lihat Luhan sangat penuh dengan minat saat itu menyangkut tentang kakaknya, Oh Sena. Tapi sekarang Luhan terlihat ketus dan datar sekali terhadap kakaknya. Ada apa dengan Luhan?

"Kau berbeda sekarang."

"Kita jadi jarang berbicara. Kau lebih sering menghabiskan waktu diluar dan Sehun pun begitu. Aku terkadang– merasa dijauhi." Menjauhi? Sehun tidak merasa menjauhi kakaknya.

"Aku tidak menjauhimu Sena-ya, hanya saja–" Sehun yang mendengar Luhan menjeda kalimat itu segera memajukan langkahnya beberapa senti kedepan agar ia dapat mendengar lebih jelas suara Luhan. "–aku sedang lelah."

Aku juga lelah hyung. Karena kau.

"Apa kau mencintai Sehun, Luhan-ah?"

DEG–

Kenapa kakaknya bertanya hal yang seperti itu pada Luhan? Jadi benar ya mereka berdua sudah saling mengenal sebelumnya? Dan Sehun sama sekali tidak tahu tentang hal itu.

"Aku tidak." Sehun sudah dapat menduga Luhan akan selalu berkata seperti itu didepan orang-orang. Sehun tidak tahu memang itu perasaan Luhan sebenarnya terhadap Sehun atau hanya kebohongan untuk menutupi ke gay an Luhan?

"Apa kau tidak ingin membicarakan ini dengan Sehun?"

"Sudah ku duga mereka benar-benar dekat dimasa lalu." Gumam Sehun pelan nyaris berbisik. Ia berpegangan pada kusen pintu disebelahnya dan kembali mencuri dengar pembicaraan kakaknya dengan Luhan.

"Kejadianmu dimasa lalu, denganku. Juga hubungan apa yang kau dan Kris–"

Aku seperti pernah mendengar nama itu? Atau hanya perasaanku saja?

"Diam. Jangan bawa nama Kris." Sehun mengernyitkan dahinya. Ia bingung kenapa Luhan tampak emosi dengan satu nama itu?

"Aku tidak mau berbicara tentang Kris. Dan untuk hubunganmu denganku, aku akan membicarakan ini dengan Sehun nanti." Oh, jadi Luhan akan menjelaskan semuanya nanti padanya? Untuk apa? Bahkan Sehun sudah tahu kedekatan mereka berdua. Apa mereka sepasang kekasih dimasa lalu? Sehun benar-benar merasa dibohongi setengah mati saat ini.

"Apa yang ingin kau jelaskan padaku?" Mungkin ini yang dinamakan adegan slowmotion di film-film yang Sehun sering tonton. Lihat, bahkan wajah Luhan terlihat sangat panik. Kenapa? Apa dia merasa bersalah? Atau Luhan tengah memikirkan suatu kebohongan lain untuk menutupi kebohongan sebelumnya?

.

.

.

Bagi Luhan ini adalah neraka yang sesungguhnya saat ia melihat tatapan tajam Sehun untuknya. Tatapan kecewa yang ditujukan untuknya. Ia melihat dengan jelas adanya kesedihan dimata Sehun. Seharusnya ia dan Sena tahu tempat untuk membicarakan hal yang seperti tadi. Apalagi itu bersangkutan dengan Sehun juga.

"Apa yang ingin kau jelaskan padaku?" Luhan hanya diam mematung. Matanya dengan refleks membola sangking terkejutnya ia atas kehadiran Sehun yang Luhan juga tidak tahu sejak kapan Sehun berada disana. Saat percakapan dimulai kah? Atau ia baru sampai beberapa detik yang lalu? Luhan tidak bisa yakin akan hal itu.

"Se– Tunggu! Sehun-ah!" Luhan segera berlari kearah bagian dalam rumah keluarga Oh itu dan meninggalkan Sena yang saat itu juga tengah terkejut. Mengejar Sehun dengan seluruh tenaga dikakinya. Sehun terlihat berjalan cepat kearah luar tadi dengan pandangan yang sulit sekali Luhan artikan.

"Sehun-ah, tunggu! Ya!" Luhan berhasil menggenggam lengan kanan Sehun dan otomatis pria albino itu berhenti ditempatnya tanpa menoleh kearah Luhan sama sekali.

ARGH–

"Oh Sehun, tunggu! Ya! Aku sudah tidak bisa berlari lagi. Kakiku sakit karena bermain bola seharian tadi."

Luhan memejamkan matanya. Kepalanya tiba-tiba terasa berdenyut hebat tadi dalam waktu beberapa detik. Ia meremas rambutnya menetralkan rasa sakit dikepalanya dan saat sakitnya sudah mulai menghilang, ia membuka matanya dan mengerjap pelan. Apa yang terlintas dipikirannya tadi?

"Sehun, itu tidak seperti apa yang kau pikirkan. Aku dan Sena hanya–" Luhan baru ingin melanjutkan kalimatnya namun Sehun telah lebih dulu menyelanya.

"Jadi itu alasannya kau sulit sekali untuk mengingatku? Itu alasannya kau sulit sekali membuka hatimu untukku? Karena dipikiranmu hanya ada kakakku? Begitukah Luhan?" Sehun terlihat berbicara dengan setenang mungkin tanpa ada emosi didalamnya. Ia menatap Luhan datar dan menepis lengannya yang beberapa waktu lalu berhasil Luhan genggam.

"A–apa? Mengingat apa Sehun-ah?" Luhan kembali diam. Menatap mata Sehun bingung. Mengingat? Apa yang harus ia ingat?

"Mengingatku. Mengingat masa kecil kita. Lihat, bahkan kau tidak mengingat secuilpun kenangan kita kan? Itu karena dari awal kau tidak pernah mau berusaha!" Sehun berteriak didepan Luhan. Kesabarannya sudah habis dan ia ingin membicarakan ini semua, sekarang.

"Maksudmu? Aku tidak mengerti Sehun-ah."

"Kau–" Sehun menggantungkan kalimatnya. Ia menatap keseluruhan wajah Luhan. Hatinya sakit. Ia ingin membongkar semuanya tapi keluarga Xi telah membuatnya berjanji untuk tidak mengungkit masalah itu.

"Kau menyayangi Luhan kan, Sehun-ah? Luhan sedang sakit Sehun. Jangan sampai kau membeberkan perihal kecelakaannya dimasa lalu. Paman mengandalkanmu Sehun."

GREP–

"Aku mencintaimu Luhan." Dengan aksi yang tiba-tiba, Sehun memeluk tubuh Luhan yang lebih kecil daripada dirinya. Ia melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Luhan dan menarik Luhan mendekat. Menghirup aroma buah-buahan yang menguar dari surai cokelat madu Luhan.

"Aku menyayangimu ge."

Kembali, Luhan terngiang dengan sebuah suara asing yang memenuhi otaknya saat ini. Ia memejamkan matanya sesaat sampai ia baru menyadari bahwa astaga jantungnya benar-benar berdetak kencang saat ini.

Bagaimana kalau Sehun mendengarnya bodoh!

"Sehun-ah, ka– kau bicara apa?" Baru setelah beberapa detik Luhan dapat mencerna aksi tiba-tiba Sehun. Ia begitu shock sampai ia pun bingung ingin merespon pelukan Sehun dengan seperti apa.

"Aku lelah." Sehun berbicara kembali. Menelusupkan kepalanya diperpotongan pundak Luhan. Menyenderkan pipi kanannya disana dan menghela nafas pelan. Saat ia bilang kalau dirinya lelah, ya memang Sehun benar-benar lelah sekali saat ini. Hatinya beserta fisiknya benar-benar butuh istirahat.

"Sehun-ah, mian. Aku tidak bermaksud menyembunyikan ini tapi–"

"Stt– aku belum butuh penjelasan." Sehun bergumam pelan dibelakangnya. Itu malah membuat Luhan makin merasa bersalah. Kenapa Luhan tidak berinisiatif sesuai saran Yixing untuk mengatakannya lebih dulu pada Sehun sebelum Sehun mendengar dari orang lain? Bahkan ini sudah sangat terlambat sekali.

.

.

.

Beberapa hari ini entah mengapa kepala Luhan sering sekali terserang pusing mendadak. Setiap ia menggerakkan tubuhnya, seolah-olah ia seperti pernah melakukannya dengan seseorang dulu. Dan setelah itu kepalanya akan berdenyut nyeri membuat Luhan sering sekali limbung dikelas.

"Berapa banyak obat penghilang rasa sakit ini kau minum hyung?" Baekhyun yang baru saja datang segera memposisikan tubuhnya kearah Luhan. Meneliti wajah Luhan dan mengecek kondisi kening Luhan.

Sudah terhitung tiga atau empat hari –Baekhyun tidak yakin- Luhan sering sekali mengeluh pusing disetiap kesempatan. Dan beberapa kali Baekhyun melihat Luhan meminum beberapa butir obat penghilang rasa sakit dikepala untuk mengatasinya. Memang obat itu dari apotek resmi, tapi tetap saja seharusnya Luhan meminta anjuran dokter agar lebih aman.

"Kau tahu, aku pusing. Disini– " Luhan menunjuk sisi kepalanya. "Itu benar-benar berdenyut nyeri dan itu membuatku tidak nyaman Baekhyun-ah."

"Tapi setidaknya pergilah ke dokter untuk mendapat anjuran beberapa obat hyung. Kau bisa membahayakan dirimu sendiri kalau-kalau nanti kau overdosis atau apa."

"Aku tahu seberapa banyak yang harus aku konsumsi Baekhyun-ah." Luhan tersenyum. Bibirnya terlihat lebih pucat dari hari sebelumnya dan mata Luhan terlihat lebih sayu. Apa mungkin ada penyakit yang diderita Luhan dan Baekhyun tidak tahu?

"Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba merasa pusing. Selama ini kau baik-baik saja." Dengan lembut Baekhyun mengelus puncak kepala Luhan. Ia benar-benar tidak bisa melihat Luhan sakit seperti ini.

"Aku juga tidak tahu Baekhyun-ah. Tapi beberapa hari ini aku sering mengalami dejavu dan seketika kepalaku mulai bereaksi. Bahkan aku pernah pingsan dirumah."

Luhan menatap lurus papan tulis kelasnya. Ia mendesah malas. Akhir-akhir ini ada yang salah dengan dirinya. Ia tidak memiliki penyakit akut atau sebagainya tapi kenapa tiba-tiba kepalanya ini selalu berlebihan?

"Kau harus mengeceknya ke dokter. Atau mungkin ada penyakit yang tidak kau ketahui disana. Kau bisa bertanya kakak atau orangtuamu hyung." Kata Baekhyun menyarankan.

"Akhir-akhir ini mereka selalu sibuk." Jawab Luhan singkat dan itu berhasil membuat Baekhyun terdiam. Benar. Orangtua Luhan pasti selalu sibuk. Bahkan berada dirumah saja jarang sekali. Bagaimana Luhan hyungnya ingin bertanya?

"Aku akan menemanimu kerumah sakit kalau be–"

"Luhan hyung, gwenchana?" Sebuah suara berat berhasil membuat Baekhyun terdiam, tidak melanjutkan kalimatnya.

"Ne, na jinjja gwenchana Chanyeol-ah." Luhan tersenyum semanis mungkin guna menutupi kepucatan wajahnya. Ia tidak suka melihat teman-temannya khawatir seperti ini.

"Baik-baik saja bagaimana? Wajahmu pucat hyung. Ingin kerumah sakit sekarang? Kita bisa membolos satu mata pelajaran terakhir hyung." Chanyeol berusaha meyakinkan Luhan. Ia tidak tega melihat Luhan yang selalu terhuyung kesana-kemari saat berjalan.

"Apa tidak apa-apa? Tapi aku belum bilang pada Se–" Baru saja Luhan akan menyebut nama Sehun, namun urung. Gosip tentangnya dan Sehun masih belum reda dan Luhan tidak ingin membuat ini semakin jelas. Apalagi ia dan Sehun sekarang– bisa dikatakan mereka sedang dalam mode diamnya.

"Belum bilang pada siapa hyung?" Baekhyun dan Chanyeol bertanya bersamaan. Kedua anak itu saling pandang beberapa detik dan Baekhyun yang pertama kali memutus kontak mata antara dia dengan Chanyeol.

"Tidak, bukan siapa-siapa. Temani aku kerumah sakit saat jam pelajaran terakhir ya." Luhan tersenyum kembali. "Dan Byun Baekhyun, kau bisa ikut dengan ka–"

"Tidak hyung. Aku akan mencatat dikelas. Agar tugasmu tidak terbengkalai. Bukankah begitu?" Baekhyun tersenyum paksa dan setelahnya beranjak dari duduknya, berjalan cepat keluar dari kelas.

"Kau tahu ada apa dengan Baekhyunku?" Luhan bertanya dengan nada bingung pada Chanyeol namun ia tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Chanyeol. Chanyeol hanya mengedikkan bahunya tidak tahu dan setelahnya menarik kursi yang berada disebelahnya.

.

.

.

Sebuah rumah sakit besar di Seoul adalah pilihan awal Chanyeol untuk membawa Luhan bertemu seorang dokter kenalannya. Ia tidak ingin memeriksakan Luhan ke dokter sembarangan yang mungkin bisa saja terkena mal praktek. Itu tidak akan pernah terjadi.

"Selamat siang tuan, ada yang bisa kami bantu?" Seorang wanita dibalik meja resepsionis tersenyum manis kearah Luhan dan Chanyeol, dibalas senyuman tipis dan Luhan tentu saja.

"Aku ingin bertemu dengan Victoria Wu. Kami sudah membuat janji tadi."

"Perawat Wu baru saja naik kelantai tiga tuan. Anda bisa menemukannya disana."

Perawat Wu? Aku merasakan ada kejanggalan disini.

Setelahnya Chanyeol mengangguk dan menarik pelan tangan Luhan menuju lift yang akan membawa mereka kelantai tiga dimana orang yang bernama Victoria Wu itu berada.

Tadi setengah jam sebelum mereka pergi kemari, Chanyeol telah lebih dulu membuat janji dengan seorang wanita muda yang bekerja sebagai perawat senior disini. Saat di telepon, wanita bernama Victoria itu bilang bahwa ada seorang dokter yang mungkin tepat untuk Luhan. Jadilah Chanyeol membawa Luhan kepada Victoria terlebih dahulu.

"Kau mengenal Perawat Wu itu?" Luhan membuka percakapan. Ada sebuah pertanyaan yang mendesak dibenaknya. Namun Luhan tidak mungkin asal tembak pada Chanyeol. Lebih baik ia berbasa-basi terlebih dahulu.

"Dia adalah temannya kakakku hyung. Yura noona kan seorang dokter kandungan tentu saja Perawat Wu dan kakakku berada diruang lingkup yang hampir sama. Oleh karena itu mereka saling mengenal. Begitu juga denganku. Yura noona pernah mengenalkanku padanya." Jelas Chanyeol panjang lebar, dan Luhan hanya bisa mengangguk.

Saat melewati beberapa ruangan, mereka sampai disebuah ruangan bernomor pintu 156. Chanyeol memberhentikan langkahnya diikuti dengan Luhan disampingnya. Dan setelahnya mereka bisa melihat seorang perawat cantik keluar dari balik pintu bernomor 156 itu.

Rumah sakit ini adalah rumah sakit yang sama dimana Daehan dirawat beberapa waktu yang lalu. Karena kejadian itulah yang membuat Luhan curiga pada perawat didepannya. Wajahnya benar-benar mengingatkan Luhan pada seseorang. Tapi siapa?

"Kris?" Luhan membelalak. Saat perawat wanita itu keluar, tiba-tiba dibelakangnya terdapat seorang pria tinggi dengan rambut pirangnya. Sepertinya pria itu hendak keluar, pulang lebih tepatnya. Tapi saat Luhan melihatnya dengan cermat, itu adalah Kris.

Kris Wu, Victoria Wu. Kenapa aku tidak terpikirkan dari tadi? Jadi ini kakak Kris?

Victoria nampak terkejut mendengar pekikan kecil Luhan dan segera menoleh kebelakang, kearah Kris –adiknya- dan menatap adiknya seakan-akan meminta penjelasan. Namun Kris malah mengalihkan pandangannya pada pria cantik itu. Ia berjalan mendekat kearah Luhan dan memegang lengan kirinya.

"Kau sakit? Apa yang sedang kau lakukan disini Luhan?" Kris menatap wajah Luhan. Meneliti apakah Luhan sakit atau hanya ingin melakukan konsultasi dengan dokter saja.

"Lepas Kris." Luhan menepis tajam tangan Kris yang berhasil menyentuhnya.

Chanyeol dan Victoria, dua orang yang masih diam mematung hanya bisa menatap adegan itu dengan pandangan bingung. Apalagi Chanyeol yang sedari tadi masih mengangkat alis kirinya. Pasti ia benar-benar ingin tahu apa hubungan mereka berdua sebelumnya.

"Jawab aku Luhan, kau sakit?" Kris kembali memegang lengan Luhan. Ia ingin jawaban pasti dari Luhan. Entah kenapa Kris mendapat perasaan khawatir tiba-tiba seperti ini pada Luhan.

Perasaan apa ini?

"Aku tidak apa-apa. Aku akan segera pulang." Luhan berbalik dengan cepat kearah lift dengan wajah menunduk dan tangan mengepal. Bisa-bisanya dia dan Kris bertemu lagi?

"Luhan hyung, tunggu aku! Astaga." Chanyeol segera membungkuk singkat kepada Victoria dan menatap tajam Kris dan setelahnya berlari menghampiri Luhan yang tengah berada didalam lift.

"Yifan, kau mengenalnya?" Vict menarik kasar lengan adiknya tersebut dan menatap mata adiknya penuh dengan tanda tanya besar disana.

"Tidak jiejie." Kris menjawab kakaknya namun pandangannya masih sepenuhnya terarah ke pintu lift yang mungkin sudah turun kelantai dasar saat ini.

"Luhan, kau mengenal anak itu kan? Jawab aku Yifan!" Vict berteriak. Meminta perhatian dari Kris dan hanya dibalas dengan tatapan lelah dari Kris.

"Dia– dia hanya korban."

"Maksudmu?"

.

.

.

Sehun tidak tahu apa yang salah dengan Luhan. Ia tidak lagi membahas soal dia dan kakaknya tapi kenapa Luhan tidak mengangkat panggilan darinya? Ini sudah terhitung empat hari dan semua panggilan berikut pesan yang Sehun kirimkan tidak pernah dibalas olehnya. Apa Luhan sakit? Atau Luhan marah padanya? Tapi bukankah seharusnya dia yang marah pada Luhan?

"Apa aku harus menemuinya dirumah?" Sehun kembali berpikir. Apa kerumah Luhan itu perlu? Luhan yang salah tapi kenapa Sehun yang harus meminta maaf?

"Tapi dia tidak menjawab teleponku." Sehun bermonolog kembali. Dan setelahnya ia mengangguk mantap. Ia mengambil mantelnya beserta kunci mobil dan berlari kearah garasi rumahnya.

"Seharusnya hari ini adalah jadwal Luhan kekampus. Apa anak itu masih dikampusnya?" Tanya Sehun pada dirinya sendiri.

Ia mengatur kembali perjalanannya kali ini. Sehun akan mengunjungi kampusnya terlebih dahulu. Mungkin saja Luhan belum selesai dan belum pulang kerumah. Dengan begitu ia bisa sekalian menjemput Luhan dan membicarakan beberapa hal dengan Luhan didalam mobil.

"Bodoh. Bahkan Luhan itu mengendarai mobilnya sendiri kekampus, Sehun." Kembali Sehun memarahi dirinya sendiri. Ia kan sudah tahu pasti setelah ia dan Luhan berpisah rumah kembali, tentu saja Luhan itu kembali mengendarai mobilnya guna mencapai kampus. Dan Sehun masih sempat-sempatnya berpikiran bodoh untuk pulang bersama Luhan. Ada-ada saja.

Setelah melewati tiga puluh lima menit perjalanannya ke gedung kampus Luhan. Disinilah Sehun. Diparkiran luas kampus Luhan. Ia memarkirkan mobil dengan cepat dan segera berjalan masuk menuju gedung utama kampus.

Sehun berjalan pelan. Meneliti setiap ruangan dengan pintu terbuka yang kiranya mungkin saja Luhan berada didalam sana. Juga meneliti setiap wajah mahasiswa yang berpapasan dengannya guna mencari beberapa teman Luhan yang mulai ia hafal.

"Ah, itu pasti Park Chanyeol." Sehun berhenti saat melihat seorang pria tinggi dengan sweater hitam dan rambut hitam sedang berjalan menyusuri lorong dengan laptop ditangan kanannya. Tapi kenapa Luhan tidak berjalan bersama dia?

Merasa diperhatikan, Chanyeol menyipitkan matanya. Dari jarak pandang yang cukup jauh ini Chanyeol agak kurang mengenali pria dengan setelan kemeja yang tengah berdiri disana. Pandangannya memang agak memburam karena ia berdiri cukup jauh dari lokasi pria berkemeja itu.

Sehun dengan aksi sok kenalnya melambaikan tangan guna memberitahu Chanyeol bahwa ia ingin bertemu dengannya. Dan perlahan berjalan mendekati Chanyeol.

"Kau, Park Chanyeol-ssi? Benarkan?"

"Ah, ne majayo. Ada apa tuan?" Chanyeol bingung. Ia bingung dengan ekspresi apa yang harus ia tampilkan didepan pria kantoran yang beberapa waktu lalu ia kenal dengan nama Oh Sehun itu.

"Aku Oh Sehun. Dan aku lebih muda darimu. Jangan panggil aku tuan, Chanyeol-ssi." Sehun terkekeh sesaat dan kemudian tersenyum ramah. Senyum yang akhir-akhir ini bisa ia tampilkan kepada siapapun. Karena siapa? Tentu karena Luhan.

"Ah, ne. Jadi ada apa Sehun-ssi?" Chanyeol bertanya dengan nada kelewat penasaran. Selama beberapa hari kebelakang ia tidak pernah bertatapan langsung dengan pria ini karena setiap datang kekampusnya, pria ini akan langsung menyambar tangan Luhan dan makan siang hanya berdua dengan Luhan. Tapi sekarang? Astaga, betapa ia beruntung bisa melihat wajah Sehun.

"Kau tahu dimana Luhan?" Sehun kembali kepada pertanyaan awalnya pada Chanyeol. Dan terlihat wajah Chanyeol yang tadinya tersenyum ramah berubah aneh. Bahkan pria tinggi didepannya itu menghela nafas tadi.

Apa sesuatu terjadi dengan Luhanku?

"Ia hari ini tidak masuk. Kemarin aku mengantarnya kerumah sakit tapi–"

"Luhan sakit?" Sehun menyela dengan tajam. Raut panik benar-benar kentara diwajahnya. "Dia sakit apa? Apa penyakit serius?"

"Aku tidak tahu. Saat kami akan bertemu dengan dokter, Luhan pergi. Jadi kami mengurungkan niat untuk memeriksa Luhan. Dan aku mengantarnya pulang. Wajahnya terlihat pucat pasi kemarin. Dan ia selalu mengeluh pusing disetiap kesempatan."

"Dia tidak mengalami tumor otak dan sebagainya kan?" Sehun bertanya dengan nada serius namun dibalas kekehan lucu dari Chanyeol.

"Ya! Kau ini menyeramkan sekali. Luhan tidak mungkin sampai memiliki tumor otak."

"Syukurlah."

Beberapa menit mereka gunakan untuk berbincang dan Chanyeol mengajak Sehun untuk berbicara beberapa hal dengan Sehun di kafe dekat kampusnya. Ia memaparkan beberapa keluhan Luhan dan apa-apa saja yang Luhan alami selama empat hari ini tanpa Sehun. Dan itu membuat Sehun agaknya khawatir. Ia bahkan tidak sempat mengecek kabar Luhan. Seharusnya ia tidak bodoh. Kalau Luhan memang tidak membalas pesannya, seharusnya ia mendatangi rumah Luhan dan melihat kondisinya secara langsung. Sekarang lihat kan? Sehun malah makin khawatir karena mendengar hal-hal tersebut dari orang lain.

Beberapa fakta yang Sehun tangkap dari pembicaraannya dengan teman Luhan itu –Chanyeol- Pertama, Luhan sering mengeluh pusing dan seperti mengalami dejavu disetiap kesempatan.

"Entahlah. Setelah dejavu nya itu dia akan mengerang. Sepertinya denyutan dikepalanya benar-benar menyakitkan."

Apa Luhan mendapatkan memorinya kembali?

Kedua, ia pernah pingsan karena denyutan dikepalanya dan bahkan Sehun tidak tahu akan hal itu.

"Aku mencuri dengar percakapannya dengan Baekhyun. Kau pasti tahu siapa dia kan? Pokoknya Luhan pernah bilang pada pria mungil itu kalau dia pernah pingsan dirumahnya."

Apa ada yang mengobatinya dirumah? Apa Luna noona ada dirumah saat itu?

Ketiga, Luhan membicarakan Sehun beberapa kali. Tunggu apa ini?

"Kembali aku mencuri dengar saat ia berbicara dengan seseorang ditelepon. Memang sih dia menggunakan bahasa mandarin. Tapi aku mengerti beberapa kata yang Luhan katakan pada orang ditelepon itu. Dan selalu ada namamu disana. Ia pernah bilang 'Sehun sedang mendiamiku. Memang ia mengirim pesan tapi aku bingung bagaimana cara menjawabnya' begitu."

Apa Luhan merindukanku? Dan siapa orang yang Luhan ajak bicara saat itu?

Keempat, Luhan baru saja akan diperiksa ke dokter tapi Luhan pergi bahkan sebelum Luhan dapat berjabat tangan dengan dokter yang akan menanganinya.

"Kemarin aku mengajak Luhan hyung kerumah sakit. Ia nampak biasa saja saat diperjalanan. Tapi ia terlihat menegang saat berada didepan pintu utama rumah sakit. Kami berjalan biasa kelantai tiga. Namun saat seorang pria keluar dari ruangan yang sama dengan dokter yang akan menangani Luhan, ia segera berbalik dan mengajak pulang."

Pria itu siapa? Kenapa Luhan tidak jadi mengecek kondisinya hanya karena pria itu? Apa dia itu–

"Kris." Sehun menggumam pelan. Tiba-tiba nama itu terlintas dibenaknya. Ia memutar kejadian empat hari yang lalu dimana ia tidak sengaja mendengar percakapan antara kakaknya dengan Luhan. Apa pria yang dilihat Luhan sama dengan pria yang dibicarakan Luhan kemarin?

"Kau juga mengenal orang itu, Sehun-ssi?" Chanyeol menatap Sehun sekilas dan setelahnya menatap cangkir kopinya. Menyesap sedikit cairan hitam kental itu.

"Luhan juga menggumamkan nama yang sama kemarin. Sepertinya kau tahu siapa orang yang membuat Luhan hyung ketakutan."

"Ketakutan katamu? Kenapa dia harus takut?" Sehun kembali dengan mode khawatirnya. Ia mengeratkan pegangannya pada gelas porselen berisi kopi hitam didalamnya. Bahkan hampir saja meremukkannya kalau saja Sehun itu termasuk golongan super hero dan semacamnya.

"Aku tidak tahu. Tapi saat pria itu memegang lengan Luhan hyung, ia buru-buru menepis tangan pria itu dan tiba-tiba bergerak mundur. Wajahnya menunduk, dan aku dapat melihat dia ketakutan saat itu."

"Apa kau mengenalnya Chanyeol-ssi?"

"Aniyo. Tapi aku mengenal kakaknya. Victoria Wu. Seorang perawat senior di Seoul Hospital."

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

Halo ketemu lagi di chap 10 setelah satu minggu tidak updated. Bagaimana bagaimana? Wkwk

Ceritanya klise ya? Luhan amnesia haha macem sinetron-sinetron gitu:'D yasudahlah kan biar rasa sayang Sehun yang ditunjukkan Sehun dari awal pertemuan dirumahnya pas bahas kawinan itu punya alasan yg tepat kenapa dia bisa langsung jatuh cinta sama si rusa hehe aku tipe orang yg ga terlalu suka kalo si Sehun atau Luhan tiba-tiba bisa jatuh cinta pada pandangan pertama. Jadi kudu ada liku-liku kehidupan dulu(?) baru mereka berubah haluan jadi gay. Jadi tolong dimaklumin chap awal awal si Luhan masih sering ama cewe. Banyak yg bilang bagus si Sehun yg dikelilingi cewe tapi hmm akan kupikirkan kembali hehe. Miane miane hajima :'^)

Baiklah baiklah. Mind to review?:)