I Think I Love You
Cast:
Oh Sehun
Luhan
-HunHan-
Rated:
T = Tentukan sendiri(?)
Genre:
Romance, Family, Boys Love –Shounen ai-
.
.
.
.
Kata orang, dunia ini sempit. Kalau kau bertanya itu benar atau tidak pada Luhan, pasti ia akan bilang "Itu hanya teori bodoh!" Tapi setelah ia bertemu dengan sosok Sehun, Luhan yakin ia bisa menjelaskan sesempit apa dunia ini.
.
.
.
.
.
.
Ini sudah pukul dua siang. Namun entah kenapa ia tidak ingin bangun dari tidurnya. Kepalanya benar-benar berat sekali untuk digerakkan. Seperti ia memikul sebuah beban saja disana.
Menggeliat pelan, Luhan menyibakkan poninya. "Sakit sekali. Kalau begini caranya aku tidak bisa masuk kuliah terus."
Ia langsung saja teringat dengan Kris saat itu juga. Dan itu malah membuat rasa sakit dikepalanya bertambah. Ia tertekan atas pertemuan yang selalu tidak terduga dengan Kris dan Luhan sampai sekarang belum bisa menjadikan Kris teman. Bahkan sampai kapanpun.
"Kenapa si brengsek itu selalu ada disekitarku sih?" Luhan menggerutu pelan sambil menggunakan sandal bulunya. Berjalan pelan kearah cermin besar dikamarnya dan menghela nafas. Wajahnya super pucat pagi ini.
"Sebenarnya aku kenapa? Apa jangan-jangan aku mengidap tumor otak atau sebagainya?" Luhan menutup mulutnya dramatis menggunakan tangan kanannya. Membayangkan dirinya sekarat diatas pembaringan rumah sakit sukses membuat ia menggeleng ribut. Tidak. Luhan anak sehat.
"Luna jiejie sekarang selalu sibuk. Baba juga begitu, tidak pernah pulang seminggu ini." Merenung didepan kaca, Luhan menarik sebuah bangku kecil dan mendudukkan dirinya disana.
Sudah seminggu ini setelah kepulangan babanya ke Korea, beliau malah jarang sekali berada dirumah. Untuk ibunya, Luhan tidak mau tahu dan tidak perduli. Ibunya tidak pulang pun tidak masalah untuknya. Dan kini ditambah kakaknya yang makin sibuk dengan skripsi dan lainnya. Dia benar-benar kesepian.
"Aku benar-benar kesepian." Gumam Luhan pelan.
"Aku kesepian ge."
"Argh–"
Luhan memejamkan matanya perlahan. Rasa sakit yang teramat sangat bisa ia rasakan dikepalanya. Seperti otaknya kini tengah dipotong-potong beberapa bagian. Dan beberapa bayangan terbesit di otak Luhan saat ini. Ia menarik nafas perlahan dan membuangnya. Meremas pelan kepalanya sambil menunduk.
"Apa yang terjadi!" Luhan berteriak. Ini sakit. Sangat sakit. Dan sakitnya lagi adalah Luhan tidak tahu menahu ada apa dengan kepalanya beberapa waktu belakangan ini.
"Lu– Ya! Kau kenapa Luhan-ah?" Sebuah suara membuatnya tersadar kembali. Ia hampir oleng tadi. Namun Luhan enggan untuk berbalik. Ia meletakkan kepalanya pada meja rias kamarnya.
"Luhan hyung, kau sakit? Kita ke rumah sakit sekarang oke?" Luhan akan segera menoleh kepada asal suara namun–
"Ya! Turunkan aku bodoh! Aku bisa jalan sendiri Oh Sehun sialan." Luhan berjerit terkejut saat Sehun dengan bodohnya menggendong Luhan seperti karung beras. Ia memukul dengan kekuatan laki-lakinya bahu Sehun dan berhasil, Sehun menurunkannya.
"Kau tidak menjawabku. Ku pikir kau pingsan." Sehun mengedikkan bahunya acuh dan berjalan kesisi ranjang Luhan. Duduk manis disana sambil memandangi Luhan.
"Dan kalaupun aku pingsan, kau sampai hati menggendongku seperti karung beras?" Luhan mengeratkan rahangnya. Memangnya ia ini barang apa di bopong seenaknya oleh manusia albino ini.
"Kalau kau ingin aku menggendongmu seperti pengantin baru, aku siap."
" Diam kau."
"Kenapa tidak masuk kuliah hari ini?" Sehun mengalihkan topik. Masih setia dengan menatap Luhan dari pantulan kaca cermin kamar Luhan.
"Tidak apa-apa. Bosan menjadi anak rajin." Luhan kembali meletakkan kepalanya dimeja rias sampai ia teringat sesuatu. " Kau, bagaimana kau bisa masuk kerumahku?"
"Maid mu yang mengijinkanku masuk. Memang calon istriku ini tidak mengijinkan aku masuk?"
Luhan berdecih pelan. Melempar dengan garang botol parfumnya pada Sehun dan berhasil ditangkap oleh Sehun. " Calon istri apanya? Aku pria bodoh."
"Kalau begitu calon suami." Sehun berbicara dengan santai.
Suasana hening sampai sebuah getaran ponsel terdengar dipendengaran Luhan. Itu bukan ponselnya dan pasti itu adalah ponsel milik Sehun yang sekarang pemiliknya telah mengambil benda pipih itu dari saku jaketnya.
"Yeoboseyo?"
"..."
"Nuguseyo?"
"..."
"Bae Joohyun?"
"..."
"Ah, sunbae. Ne."
"..."
"Besok pukul tujuh malam? Baiklah."
"..."
"Arrayo sunbae. Gomawoyo."
Luhan yang dari tadi memperhatikan Sehun yang sedang menelepon kembali fokus pada mejanya –meletakkan kembali kepalanya kemeja riasnya- dan bergumam sesuatu yang tidak jelas.
Siapa yang meneleponnya?
"Kau besok bisa keluar hyung?" Tanya Sehun dan sontak membuat Luhan mendelik tajam. Pasalnya si Sehun ini tadi berada diatas ranjangnya dan tiba-tiba wajahnya berada tepat didepan Luhan.
"Tidak, aku sakit." Luhan menjawab singkat. Memalingkan wajahnya kearah kiri.
"Kalau begitu kita ke rumah sakit." Sehun menarik pelan lengan Luhan namun Luhan buru-buru menepisnya dan menegakkan tubuhnya. Menatap tajam mata Sehun dan setelahnya mendesah malas.
"Aku tidak separah itu untuk bertemu dokter resmi. Hanya ingin beristirahat." Jawab Luhan sambil beranjak dari kursi kecil itu dan berjalan kearah ranjangnya. Merebahkan asal tubuhnya disana.
"Kalau begitu aku akan menemanimu."
"Itu acara penting kan? Bisa saja kau bertemu mantanmu disana." Luhan merespon dengan ketus tawaran Sehun dan Sehun mengernyit bingung.
Sehun saat ini ingin berbaik hati dan kenapa Luhan harus menjawab tawarannya dengan ketus? Ia kan juga ingin memberitahukan pada semua orang yang mengikuti reuni kalau ia memiliki calon istri –suami-
"Tidak ada mantan. Aku ingin memperkenalkanmu pada teman-temanku." Sehun ikut berbaring disamping Luhan. Melepas topi hitamnya dan melempar asal kearah sisi ranjang lainnya.
"Heol. Kau pasti punya mantan disana. Daripada aku mengganggu pertemuan kalian lebih baik aku dirumah dan tidur tampan disini."
"Kau takut cemburu, benarkan?" Sehun tersenyum miring. Ia menoleh kesamping kirinya dimana Luhan berbaring terlentang. Ia dapat melihat wajah Luhan berubah masam karena perkataannya tadi.
"Cemburu? Untuk apa? Aku takut teman-temanmu itu malah menyukaiku." Luhan terkekeh kecil dan menjulurkan lidahnya kearah Sehun, mengejek pria albino itu.
"Ya! Jangan menjulurkan lidahmu didepanku Luhan." Sehun bangun dari tidurnya dan merangkak kearah Luhan.
Oh astaga, seharusnya aku tidak berada berdua dengan Luhan dikamar ini.
"Biarkan saja. Kau itu kalah tampan dariku. Ingatkan baik-baik." Luhan baru akan bangun dari posisi tidurnya namun tangan Sehun telah mencekal kedua pergelangan tangannya.
DEG–
Heh! Jantung sialan! Bisa tidak sih berdetak normal? Berlebihan!
"Oh Sehun, menyingkir dariku." Luhan menatap galak pada Sehun, namun Sehun hanya tersenyum mengejek kearahnya.
"Lepaskan dirimu sendiri kalau kau bisa." Sehun tersenyum menang kali ini. Ia menggigit bibirnya, menahan tawa gelinya sedari tadi. Wajah Luhan yang panik seperti ini adalah hiburan untuknya. Apalagi ditambah rona-rona samar diwajahnya. Astaga. Bagaimana Sehun bisa berkedip?
"Ya! Oh Sehun! Menyingkir atau kau–" Ucapan Luhan terputus saat dengan tiba-tiba Sehun menciumnya. Mencium bibirnya.
Luhan dengan sigap memukul pelan dada Sehun, mendorongnya untuk menyingkir sekaligus melepas tautan bibir mereka. Tapi tentu saja Sehun bukan orang yang mudah sekali diperintah dan Luhan tahu bahwa berada dikamar berdua dengan Oh Sehun adalah sebuah kesalahan fatal. Karena si anak albino ini pasti berbuat yang macam-macam padanya!
"Se– mmphh." Suara teriakan Luhan teredam kembali saat dengan tiba-tiba Sehun menggunakan kesempatan itu untuk melumat bibirnya.
Luhan tidak paham apa kondisi seperti ini adalah sebuah kesalahan atau bukan. Tapi bagaimana mengatakannya ya? Luhan tiba-tiba menyukai ini. Menyukai Sehun yang seperti ini. Bukan Sehun yang mendiaminya seperti kemarin.
Tadinya lagi-lagi Sehun hanya ingin mencoba dan main-main saat menempelkan bibirnya dengan Luhan. Namun penolakan Luhan yang tadi malah diasumsikan sebagai sebuah lampu hijau untuknya. Sehun tidak mengerti, Luhan selalu berlagak tidak mau atas apa yang Sehun lakukan tapi Sehun merasakan hal lain disana. Semua pergerakan Luhan mengatakan bahwa Luhan menginginkannya namun Sehun tahu Luhan masih bingung.
Sehun masih menautkan bibirnya pada bibir Luhan. Melumatnya pelan penuh dengan perasaan. Ini bukan sekedar sebuah ciuman yang dibagi antara satu orang dengan lainnya. Namun bagi Sehun, ciuman ini adalah indikator untuknya seberapa inginnya Luhan terhadap dirinya.
Saat Sehun akan melepaskan tautan mereka, ia membuka sedikit matanya dan melihat mata indah Luhan masih terpejam dan ia bisa merasakan kedua tangan Luhan bergerak melingkar menuju lehernya. Dan ia melihat wajah Luhan merona hebat bahkan menjalar sampai ketelinganya.
Apa Luhan ingin aku melanjutkannya? Haha. Dasar rusa nakal.
Sehun sudah kembali memejamkan matanya dan menelusuri tangan kanannya dipipi kiri Luhan. Membelainya penuh kasih dan sesekali tangan kirinya menekan tengkuk Luhan guna memperdalam ciuman mereka.
Sampai kapanpun kau akan tetap kembali padaku Luhan.
"Luhan-ah, apa baba ada di– astaga!" Sebuah suara menyadarkan dua kaum adam yang masih terlena diatas ranjang besar milik salah satunya. Dan Luhan adalah orang yang pertama kali tersadar dari ketidak berdayaannya tadi, diikuti dengan terbukanya mata elang Sehun.
Beberapa detik mereka masih berada diposisi awal. Menetralkan deru nafas mereka beberapa kali. Kembali mereka memandang satu sama lain sampai Luhan mendorong dengan cepat bahu Sehun bahkan sampai pria albino itu terjengkang kebelakang –dan untungnya bokong Sehun tidak membentur lantai- dan berdiri tegap layaknya seorang komando militer. Ia merapikan tatanan rambut beserta bajunya yang– Demi Tuhan apa tangan Sehun bergerak kemana mana?
Kenapa disaat ada Luna jiejie sih!
"Wae jiejie?" Luhan bertanya dengan nada manis yang dibuat-buat sambil tersenyum polos seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. Ia mendekat kearah kakaknya, menarik lengan kakaknya itu keluar kamar dan menutup dengan keras pintu kamarnya.
.
.
.
Luna masih terdiam duduk disofa ruang tengah rumahnya. Ia memandang heran pada adiknya yang kini tengah dengan sibuk memilih-milih cemilan yang biasa baba ibunya letakkan diatas meja guna melengkapi hiasan meja.
"Apa yang kalian lakukan?" Luna memulai percakapan lebih dulu. Ia masih dengan setia memperhatikan gerak-gerik adiknya yang terbilang– santai? Apa adiknya ini tidak sadar hampir membuatnnya melihat adegan panas?
"Itu tadi– pentas seni! Minggu depan aku ada pentas seni dan aku sedang berlatih drama dengan–"
"Kau pikir aku bodoh? Mana ada drama rated seperti itu untuk kampus favorit sepertimu. Dasar adik bodoh." Luna menempeleng kepala Luhan bahkan Luhan hampir saja terjengkang karenanya. Ia mendelik dan setelahnya beranjak pergi menuju dapur. Kakaknya itu kapan sih tidak sadis terhadapnya?
"Luhan, jawab pertanyaanku. Kalian sedang apa tadi?" Luna masih dengan setia mencecar Luhan dengan satu pertanyaan yang sama dan Luhan adalah orang nomor satu yang malas menjawabnya. Bagaimanapun mereka tertangkap basah bahkan oleh kakaknya sendiri? Mau diletakkan dimana harga dirinya?
"Luna jiejie tidak pernah berciuman ya? Lain kali berkencanlah. Kau akan tahu– aww jiejie!" Luhan tiba-tiba terkejut. Kakaknya memukul kepalanya dengan sekuat tenaga bahkan Luhan mendengar bunyinya. Astaga sakit sekali.
Luna jiejie itu hobinya menyiksa orang ya!
"Kau tidak gay dan kenapa kau bisa bertindihan dengan mayat hidup itu?" Dengan garang, Luna menarik kursi yang berada didapur dan duduk dengan segera. Masih menatap heran Luhan dan mengamati gerak-gerik adiknya kembali.
"Kau iri? Aku bisa memberikan Sehun untukmu. Ambilah. Jangan menatapku seolah-olah kita ini saingan. Aku bukan wanita!" Luhan memekik tertahan. Kakaknya itu kenapa sih? Lagipulan kan Luhan –ehemm- calon suami Sehun, memang tidak boleh mereka melakukan pendekatan?
"Kau gila? Aku tidak mungkin menyukai makhluk datar sepertinya." Luna pun memekik lebih keras dari Luhan. Luhan memberikan Sehun untuknya? Ia saja tidak terima Sehun dinikahkan dengan Luhan, mana mungkin ia mau bersama dengan Sehun juga? Bodoh sekali adiknya itu.
"Maaf kalau aku mengganggu. Tapi dimana toiletnya?" Sehun tiba-tiba muncul diambang pintu dapur dan bertanya sebuah pertanyaan konyol –menurut Luhan- dan itu benar-benar membuat Luhan ingin tertawa berguling sekarang.
"Ne?" Luna menatap Sehun bingung. Toilet? Bukankah manusia ini sudah lama tinggal dirumahnya saat ia dan orang tuanya pergi? Lalu selama ini dia tidak buang air kecil atau mandi disini apa?
"Kita ketoilet rumahmu saja, arra?" Luhan berjalan dengan cepat kearah Sehun dan menarik lengan pria itu dengan segera menuju garasi rumah mereka. Tak lupa ia menyambar kunci mobil Sehun diatas nakas ruang tengah tadi.
.
.
.
Hening. Begitulah kondisi didalam mobil Sehun saat ini. Tadi Luhan memaksa Sehun untuk pergi dari rumahnya namun Sehun bilang ia ingin lebih lama bersama Luhan. Jadilah mereka keluar menggunakan mobil Sehun dengan Luhan yang berada dikursi kemudi. Rusa itu memaksanya untuk menyerahkan kendali mobil atau dia tidak akan ikut bersama Sehun, begitu katanya. Akhirnya karena Sehun seorang pria sejati, ia mengalah dan memberikan kesempatan untuk Luhan mengendarai mobilnya. Dan Sehun baru sadar kalau mereka bahkan tidak memiliki tujuan untuk dikunjungi.
"Kita akan kemana Luhan?" Sehun membuka suara. Ia menatap sekelilingnya dan heran dengan jalanan mana yang akan Luhan lalui. Saat ia menengok kesebelah kirinya, ia malah disuguhi wajah Luhan yang sama bingungnya dengan dia. Mereka akan mati bodoh karena tersesat nanti, dan Sehun akan menyalahkan Luna noona setelahnya.
"Tidak tahu. Ikuti kata hatiku saja dan duduk diam disana." Luhan memberi peringatan pada Sehun untuk tidak berkomentar. Ia juga paham jalanan Seoul dan kalau Sehun berpikir mereka akan mati bodoh, tolong cabut kata-kata itu. Karena yang akan mati bodoh adalah Sehun dan Luhan tidak akan ikut dalam project tersebut.
"Bagaimana bisa mengikuti kata hati? Kau ingin membawaku kepemakaman ya? Kau mendoakanku cepat mati?" Sehun bersungut. Ini jalan menuju pemakaman China dan aura yang Sehun rasakan tiba-tiba mencekam.
"Aku tidak ingin ke pemakaman bodoh. Hanya melewatinya saja karena ini lebih dekat. Tolong direktur, jangan banyak bertanya atau kau akan kutendang kesalah satu kuburan disana." Luhan menjawab malas kata-kata berlebihan Sehun tadi. Sehun bahkan tidak tahu jalanan ini tapi masih saja berkomentar. Dasar mental gadis.
Kira-kira mereka menghabiskan sekitar dua puluh menit dalam keheningan kembali didalam mobil Sehun dan akhirnya tempat yang Luhan tuju sudah berada dihadapan mereka. Sebuah– apa? Kedai ice cream? Astaga Luhan.
"Kau berjalan jauh-jauh hanya untuk kemari?" Sehun menoleh kearah Luhan yang saat ini tengah melepaskan sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil Sehun.
"Ya, aku tiba-tiba ingin ice cream." Luhan menjawab acuh dan keluar dari mobil Sehun. Ia berdisi disisi mobil menunggu Sehun untuk keluar. Tapi si manusia albino itu bahkan tidak bergerak barang se inchi pun.
"Ya! Keluarlah Oh Sehun." Dengan kekuatan penuh, Luhan menggedor kaca pintu mobil Sehun dan membuat empunya menoleh dengan malas. Sehun bukan pecinta ice cream, bahkan ia benci makanan manis. Lalu kenapa Luhan membawanya kemari?
"Belilah sendiri, aku tunggu dimobil. Makanlah dirumah." Sehun mengibas tangannya malas. Ia merebahkan kepalanya di jok mobil dan menutup matanya dengan segera sebelum si rusa itu meminta yang tidak-tidak dari Sehun.
SRET–
Sebuah pergerakan tiba-tiba dirasakan Sehun. Pintu mobil dibagiannya terbuka dan sebuah tangan menariknya paksa keluar. Mau tidak mau Sehun membelalakkan matanya bahkan hampir memekik seperti seorang gadis tadi. "Ya! Oh Luhan!"
"Diam Oh Sehun." Luhan hanya menatap malas Sehun dan menarik lengan pria albino itu masuk ke sebuah kedai ice cream yang Sehun bahkan tidak tahu ada kedai semacam ini.
Seorang pelayan wanita menyambut mereka dengan ramah dan menunjukkan beberapa kursi kosong yang bisa Sehun dan Luhan duduki.
Ada sebuah fakta yang tidak disukai Luhan saat ini. Semua pelayan wanita bahkan menatap Sehun dengan penuh kekaguman dan tidak menoleh pada Luhan sama sekali. Jelas-jelas dirinya itu lebih tampan daripada mayat hidup ini. Mata mereka salah atau apa?
Sehun yang melihat gelagat aneh Luhan hanya terkekeh dan menumpu dagunya dengan tangan kanannya diatas meja dan matanya lurus menatap Luhan. "Kenapa kau memandangku seperti itu? Kalau kau ingin bilang hari ini aku tampan, simpan saja pujianmu itu karena aku sudah sadar akan hal itu."
Luhan dengan segera memalingkan wajahnya dan mendecih kesal. "Sudah jelas-jelas aku yang lebih tampan daripada dia." Gerutu Luhan, namun telinga Sehun dapat mendengar gumaman Luhan dan setelahnya ia terkekeh lucu. Meletakkan tangan kirinya disurai coklat madu Luhan dan mengusaknya pelan.
"Jauhkan tanganmu albino." Luhan menepis tangan kiri Sehun yang sekarang malah membuat gestur 'mendekatlah, aku ingin memberitahu sesuatu' pada Luhan.
"Tidak mau."
Sehun tidak percaya bahwa ia akan jatuh cinta kepada Luhan. Seorang lelaki berwajah layaknya dewi dihadapannya ini. Ia tidak tahu bahwa selama ini dirinya bisa menjaga perasaan ini untuk Luhan. Padahal kalau dipikir-pikir, dia itu kan tampan dan mapan pasti banyak gadis yang jatuh hati padanya. Namun kenapa hatinya hanya bisa dimiliki Luhan seorang?
"Kau terlalu cantik untukku sia-siakan." Tanpa sadar Sehun menggumam pelan dan tanpa sadar pula ia menggerakan tangan kirinya menelusuri pipi kanan Luhan dengan gerakan pelan.
Awalnya Luhan biasa saja namun lama-lama tangan Sehun ini malah turun ke tengkuknya dan menarik Luhan mendekat kearah Sehun. Mau tidak mau ia mencondongkan tubuhnya kearah Sehun dan menunggu Sehun berbicara kembali. "Apa yang kau lakukan padaku?" Sehun kembali bergumam. Memandang Luhan penuh dengan tatapan memujanya.
"Sehun-ah, ini tempat umum." Baru saja Luhan ingin memundurkan tubuhnya, Sehun malah kembali menariknya mendekat dan mencium bibirnya kilat kemudian tersenyum manis padanya.
"Aku tidak bisa berhenti memujamu."
"Kalau begitu tolong sebentar saja berhenti melakukan hal kotor karena aku ingin memesan ice cream disini. Bukan memesan gombalan murahanmu itu. Sekarang pesankan aku se ember ice cream vanilla Oh Sehun."
"Baiklah tuan putri. Tunggu disini dan jangan selingkuh." Jawab Sehun dengan kekehan ringan dan mengusak rambut Luhan pelan. Sehun segera beranjak dari duduknya dan berjalan menuju meja pemesanan.
.
.
.
"Buka mulutmu." Perintah Luhan dengan wajah datarnya kepada Sehun. Tangan kanannya tengah memegang sesendok ice cream vanilla yang tadi ia pesan. "Aku paling tidak suka dengan orang yang hanya memandangiku makan."
"Aku tidak suka ice cream, Luhan. Terlalu manis. Melihatmu saja aku sudah hampir diambang kematian karena diabetes." Jawab Sehun santai, memegang tangan Luhan yang tadi menyodorkan sesendok ice cream untuknya dan mengarahkan tangan Luhan menuju mulut Luhan sendiri.
"Diam kau, Oh Sehun." Luhan dengan ganas memasukkan beberapa sendok penuh ice cream nya tanpa menatap Sehun. Luhan tahu sekali, sekali tatap Sehun akan mengeluarkan gombalannya dan Luhan bahkan merona seperti seorang gadis hanya karena kata-kata sederhana yang Sehun lontarkan.
Kenapa jadi begini sih?
"Oh Sehun?"
Luhan yang sedari tadi diam sambil menyantap ice cream nya pun menoleh keasal suara dimana dibelakang Sehun berdiri seorang wanita cantik yang mungkin tingginya sekitar sebahu Sehun dengan rambut coklat emas menawan. Wanita itu berjalan dengan gerakan riang kearah Sehun –namun Sehun bahkan tidak mengindahkan panggilan wanita itu- dan itu sukses membuat Luhan menatap wanita itu dengan– aneh? Oops!
"Oh Sehun, kau tidak mendengarku?" Wanita itu dengan gaya sok kenalnya mendudukkan dirinya disamping Luhan yang Luhan asumsikan agar wanita itu dapat berhadapan dengan Sehun.
"Nuguse– yo?" Tanya Sehun dengan wajah bingung yang tidak dibuat-buat. Ia benar-benar bingung dengan siapakah gadis didepannya yang tadi memanggil namanya. Wajahnya nampak asing dipandangan Sehun.
"Aku Bae Joohyun, Sehun-ah." Wanita itu –Joohyun- mengerucutkan bibirnya imut dan malah membuat Luhan terkekeh ringan. Tatapannya tiba-tiba melunak dan ia kembali khitmat menikmati waktu-waktu berdua dengan se ember ice cream nya tadi.
"Bae– Joohyun? Apa kita pernah bertemu? Kau salah satu karyawanku?" Sehun bukan tidak peka, tapi sungguh ia bersumpah tidak mengenal wanita didepannya ini. Memang dari suaranya, Sehun seperti pernah mendengar tapi dimana kira-kira?
"Astaga, bukankah kita sepasang kekasih selama satu tahun dulu?"
Uhuk–
"Luhan, kau tidak apa-apa?" Sehun segera menyodorkan segelas air putih yang memang telah ia pesan bersama ice cream Luhan tadi dan mengelus pundaknya pelan.
"Sehun-ah, jangan acuhkan aku." Kembali Joohyun berbicara, mencoba menarik perhatian Sehun dan itu sukses ia lakukan. Sehun kembali fokus pada dirinya dan menerka-nerka, apa ia memiliki mantan seperti ini dulu?
"Aku Irene mu, Sehun. Kau lupa padaku? Aku meneleponmu tadi." Joohyun menggembungkan pipinya kesal dan mendelik tajam kearah Sehun. Mereka menjadi sepasang kekasih selama satu tahun dan Sehun melupakannya?
"Apakah benar kau– Irene noona?" Sehun kembali bertanya dengan wajah super bodohnya –menurut Luhan- sambil menatap tidak percaya pada wanita yang Sehun kenal dengan Irene itu. Oke, Luhan akan mengganti Joohyun dengan Irene. Sepertinya lebih mudah diingat.
"Apakah aku berubah sebanyak itu?"
"Bukan. Hanya saja kau sedikit– berbeda." Sehun menggumam. Matanya meneliti Irene dari ujung rambut sampai setengah badannya –karena kakinya tertutup meja- tanpa berkedip. Sepertinya Sehun sudah mengenali gadis itu.
"Jadi apa kau bisa datang ke acara reuni?" Irene membuka pembicaraan. Bahkan terlihat tidak perduli dengan pria disebelahnya yang memang sama-sama tidak perduli terhadap kehadiran gadis itu.
"Aku– menunggu jawaban kekasihku. Sepertinya ia tengah sakit saat ini. Aku ingin mengajaknya kesana, berkenalan dengan kalian. Karena kami– mungkin akan menikah dalam waktu dekat." Sehun menjelaskan dengan senyum terukir dibibirnya dan mata yang tidak berkedip menatap Luhan yang kala itu masih disibukkan dengan se ember ice cream tentu saja.
"Kau– kau punya kekasih Sehun-ah?" Suara terkejut Irene membuyarkan pikiran Sehun terhadap Luhan dan Sehun segera merubah ekspresi wajahnya menjadi datar seperti biasa dan Luhan benar-benar ingin melempar wajah Sehun itu dengan sepatu saat ini.
"Dia bohong Irene-ssi. Sehun belum memiliki kekasih. Dia membual. Belum ada wanita yang mau dengannya sampai sekarang." Luhan menimpali dengan senyuman licik.
"Jogiyo, apa kau dan Sehun saling mengenal?" Irene untuk pertama kalinya menoleh kearah Luhan dan sesaat terperangah. Ini perasaan Irene saja atau memang pria disampingnya cukup– manis untuk dilihat?
"Dia kenalan bisnisku. Dia itu orang licik. Tidak ada wanita yang mau mendekatinya. Kusarankan kau untuk– aww." Luhan mengaduh. Sehun menempeleng pelan kepala mungilnya dan memberi isyarat untuk diam.
"Jangan dengarkan dia. Dia yang membual. Aku sudah memiliki kekasih saat ini dan benar-benar akan menikah sebentar lagi noona, mianhae."
"Tapi kupikir aku masih– punya kesempatan? Aku sangat senang bisa bertemu denganmu sebelum acara reuni disini. Dan apakah harus sesakit ini menerima kenyataan kalau kau akan– menikah? Apa ada yang lebih buruk?"
"Bagian terburuknya kau akan tahu saat aku menikah namun bagian terburuk untukmu mungkin adalah bagian terbaik untukku noona. Kami harus pergi. Permisi." Sehun segera memundurkan kursinya dan menarik Luhan dari kedai ice cream itu.
.
.
.
Luhan tidak mengerti kenapa selalu saja ia berakhir hening dengan seseorang dimobil. Entah itu dengan Sehun atau dengan siapapun. Besok-besok Luhan tidak mau menggunakan mobil untuk berpergian. Cukup naik angkutan umum agar Luhan tidak melalui masa-masa mencekam seperti sekarang ini.
Ia masih ingat sekali wanita di kedai ice cream tadi dan juga ia masih sangat ingat sekali bahwa ia belum menghabiskan ice cream vanilla nya dan ember ice cream itu bahkan tidak terbawa oleh tangannya tadi. Harganya cukup mahal dan Luhan tidak sampai hati membuangnya, tapi– yasudahlah.
Ini semua kasus Sehun. Tapi kenapa Luhan yang mendapat imbas dari turunnya mood Sehun saat ini? Luhan itu anak yang talk active kepada orang yang telah ia kenal, tapi karena Sehun sedang seperti ini mau tidak mau ia ikutan membungkam mulutnya dengan lakban tak kasat mata. Oke abaikan hayalan Luhan.
"Sehun, aku ingin turun ditempat Yixing. Kau pulanglah." Luhan akhirnya memberanikan diri untuk berbicara. Bagaimanapun berbicara –tidak- bahkan berdekatan dengan Sehun yang seperti ini cukup membuat Luhan emosi. Jadi ia akan berinisiatif untuk turun dirumah Yixing dan akan menyuruh pria China itu untuk mengantarnya pulang nanti.
"Kau. Jangan membuatku tambah emosi Luhan."
Tuhkan, kenapa juga dia marah padaku? Aku menjadi sebuah pelampiasan begitu? Dasar bajingan licik.
"Baiklah Oh Sehun sialan. Maafkan aku. Aku tidak akan bicara lagi." Luhan dengan segera menarik sleting jaketnya dan menutup kepalanya dengan kupluk yang tersemat dijaketnya. Setelah itu ia merebahkan kepalanya di jok mobil dan menutup matanya dengan segera.
Daripada serigala ini mengamuk lebih baik aku diam. Oke aku akan diam sial.
"Sejak kapan kau mengenal kakakku?" Sehun entah mendapat ide darimana ia menanyakan sebuah pertanyaan sensitif itu –menurut Luhan-
"Ne?" Luhan menoleh dengan tatapan horror kearah Sehun. Ia menaikkan sebelah alisnya menunggu pertanyaan klarifikasi dari Sehun.
"Aku dan kakakku berdiam beberapa hari. Aku tidak tahu apakah aku harus marah padamu atau pada kakakku sendiri karena telah membohongiku."
"Kenapa kau harus mendiami kakakmu? Itu salahku. Kau lebih baik mendiamiku daripada kau mengucilkan kakakmu sendiri." Kini Sehun lah yang menaikkan sebelah alisnya menatap kearah Luhan sebentar setelahnya ia terfokus pada jalanan kembali.
"Kau masih mencintai kakakku ya?"
"Apa? Aku tidak." Luhan buru-buru menyangkal apa yang Sehun pikirkan dan setelahnya menghela nafas pelan. "Sehun, jangan seperti ini."
"Seperti apa?" Sehun bertanya dengan nada kelewat santai dan itu malah membuat Luhan berpikiran yang tidak-tidak terhadap respon pria albino itu.
"Kau tidak perlu berlagak baik padaku padahal kau sebenarnya marah padaku."
CKIT–
Sehun dengan cepat memberhentikan mobilnya. Luhan hampir jantungan karenanya. Ia baru saja ingin berkomentar namun urung saat melihat wajah tidak bersahabat dari Sehun saat ini.
"Apakah aku terlihat marah?"
"Ya."
"Aku memang marah. Tapi aku bisa apa Luhan? Aku bahkan tidak tahu masa lalu apa yang kau dan kakakku lalui bersama. Kau bahkan tidak–" Sehun dengan segera menjeda kalimatnya dan memilih untuk menjalankan mobilnya kembali tanpa menghiraukan tatapan bingung Luhan disampingnya.
"Tidak apa Sehun-ah?"
"Lupakan. Aku hanya asal bicara."
"Kau tidak terlihat begitu. Kalau kau berpikir yang macam-macam tentangku dan Sena, kubur dalam-dalam pikiran itu. Aku hanya berkencan dengan Sena dan anak itu bukan anakku."
Awalnya Sehun diam, mendengar dengan saksama pernyataan Luhan tadi dan berusaha mencernanya baik-baik dalam pikirannya. Namun ada pernyataan Luhan yang sebenarnya tidak Sehun tanyakan dan kenapa juga Luhan harus mengungkap identitas keponakannya?
"Aku tidak bertanya apakah Daehan itu anakmu atau bukan." Sehun terlihat meralat dengan wajah dingin dan Luhan muak akan hal itu.
"Aku hanya– mungkin saja kau berpikir bahwa hubunganku dengan kakakmu sudah sejauh itu. Aku hanya memperjelas itu semua." Luhan menjawab dengan gugup dan mengeratkan rahangnya. Bisa-bisanya ia salah bicara.
"Aku tidak ingin tahu sebenarnya. Tapi setelah meneliti lebih lanjut dengan otak pintarku aku jadi penasaran."
"Penasaran? W–wae?"
"Kau pasti tahu tentang siapa ayah dari Daehan sebenarnya. Mengingat kau dan kakakku adalah sepasang kekasih atau apapun itu aku malas menyebutkannya."
Sehun sudah menahan diri sejak kemarin untuk tidak bertanya perihal kedatangan kakaknya yang sepertinya telah Luhan prediksi. Lalu cepatnya Luhan dekat dengan Daehan dihari pertama mereka bertemu. Juga astaga Sehun baru sadar wajah Daehan sangat mirip dengan Luhan.
Apa Daehan adalah hasil dari mereka berdua?
"Aku tidak tahu."
"Bohong."
Luhan terlonjak dan segera menoleh tajam kearah Sehun. Mengerutkan keningnya dan berbicara dengan nada marah. "Kenapa aku harus berbohong? Kau pikir aku pria seperti apa?"
"Aku tidak tahu apa yang kau dan kakakku lakukan di China sana dan aku sebenarnya tidak ingin tahu pada awalnya namun saat mengetahui hubungan kalian sudah sedekat itu tanpa ku ketahui, aku jadi penasaran."
"Aku tidak pernah memancingmu untuk membicarakan ini Sehun." Luhan terlihat jengah dengan nada bicara Sehun dan ia tidak ingin membicarakan ini disini, didalam mobil. Ia tidak bisa memprediksi kapan emosi Sehun meledak dan tiba-tiba membanting setirnya ke trotoar, membuat mereka berdua kecelakaan.
"Aku tidak merasa terpancing Luhan."
"Aku tidak ingin kita membahas ini sekarang. Kalau kau ingin melampiaskan kemarahanmu terhadap wanita bernama Irene itu, lebih baik lampiaskan saja dengan makian kearahku. Tidak perlu menguak masa laluku. Aku muak."
Setelah Luhan selesai berbicara, dugaan Luhan benar yaitu dengan tiba-tiba Sehun membanting setirnya kepinggir jalan namun untungnya mereka tidak mengalami kecelakaan atau semacamnya. Syukurlah.
"Aku tidak sedang membicarakan Irene noona."
"Oh, apakah benar? Kau tiba-tiba menjadi sangat emosi setelah kita keluar dari kedai dan setelahnya kau malah membahas aku dan Sena. Apakah wanita itu juga masa lalumu? Apa dia berarti untukmu? Jangan membuatku–"
"Diam."
"Mwoya jigeum?" Luhan menatap nyalang kearah Sehun. Awalnya ia benar-benar telah mengkondisikan emosinya. Ia sudah berpikir jangan sampai sifatnya yang emosional keluar juga disaat Sehun malah tengah meledak seperti ini. Namun Sehun telah membuatnya kesal setengah mati sekarang.
"Baiklah. Gunakan otak cerdasmu itu. Aku akan keluar. Pulanglah." Luhan dengan segera melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil Sehun dengan kasar begitu juga saat menutupnya. Ia segera berjalan menjauh dari mobil Sehun menuju sebuah gang yang keberadaannya tidak terlalu jauh dari posisi awalnya berjalan tadi.
.
.
.
Suasana sore hari Luhan rasakan saat ia tengah menginjakkan kakinya didepan sebuah rumah bertipe minimalis. Rumah itu cukup membuat Luhan nyaman untuk menatapnya berlama-lama. Dengan pagar bercat hitam dan dinding bernuansa abu-abu beserta interior luar bernuansa kayu asli berhasil membuat Luhan sedikit rileks kembali.
"Apa Yixing ada dirumah?" Luhan menimang-nimang apakah Yixing ada dirumah atau malah belum pulang dari rumah sakit tempatnya bekerja untuk beberapa tahun ini.
Dengan keputusan mantapnya, Luhan memajukan langkahnya menuju bel rumah yang terletak di samping kirinya. Ia baru saja ingin menekan tombol berwarna hitam itu namun menarik tangannya kembali saat Yixing membuka pintu rumahnya diikuti seseorang dibelakangnya. Seorang pria tinggi dengan kemeja putih juga rambut pirangnya.
"Terimakasih sudah mengunjungi rumahku. Maaf sedikit berantakan Yifan."
"Tidak masalah. Senang melihatmu kembali setelah sekian lama. Semoga kita bisa berteman. Aku menyayangimu."
Luhan dapat melihat Kris memeluk Yixing begitu pula sebaliknya. Mereka tampak senang. Apa konflik mereka terselesaikan?
"Astaga Kris."
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
.
Apa chap ini membosankan? Tadinya mau bikin Sehun kesel pas si Luhan ketauan, tapi malah kebuat si Sehunnya kesel ama Luhan pas ditengah-tengah cerita hehe
Oke gitu ajaaa, mind to review?:)
