I Think I Love You

Cast:

Oh Sehun

Luhan

-HunHan-

Rated:

T = Tentukan sendiri(?)

Genre:

Romance, Family, Boys Love –Shounen ai-

.

.

.

.

Kata orang, dunia ini sempit. Kalau kau bertanya itu benar atau tidak pada Luhan, pasti ia akan bilang "Itu hanya teori bodoh!" Tapi setelah ia bertemu dengan sosok Sehun, Luhan yakin ia bisa menjelaskan sesempit apa dunia ini.

.

.

.

.

.

.

"Astaga Kris."

"Oh, Luhan-ah?" Yixing yang lebih dulu menyadari keberadaan Luhan didepan rumahnya karena saat ini posisi Yixing tepat menatap lurus kearahnya dan Kris yang membelakanginya.

"Hei, Zhang. Senang melihatmu tersenyum." Ujar Luhan sambil ikut-ikutan tersenyum kearah Yixing.

Kalau diteliti ulang, sebenarnya yang memiliki masalah itu hanya dirinya dan Kris bukan Yixing dengan Kris jadi mungkin itu yang membuat Yixing merasa biasa saja dengan Kris.

Kapan aku bisa berdamai dengan masa laluku sendiri?

Seketika Luhan malah asyik mengulang kembali masa lalunya. Saat ia masih bersekolah disekolah favorit Beijing sampai sebuah masalah besar menimpanya sekaligus menimpa keluarganya. Menatap Kris sama saja membawa Luhan meratapi kembali masa lalunya yang begitu kelam menurut pandangannya.

"Luhan, masuklah. Sayang sekali kau datang terlambat. Padahal kita bertiga bisa membuat sebuah reuni besar dirumahku." Yixing memasang wajah cemberutnya yang menurut Luhan sangat lucu karena selama ini Yixing dikenal sebagai dokter jiwa yang dingin.

"Gwenchana, Zhang. Aku bisa memulai sesi reuniku berdua denganmu saja." Luhan menjawab diselingi dengan kekehan ringan. Ia tidak ingin mendadak canggung dengan Yixing hanya karena ada Kris disini.

"Kau bisa masuk Luhan." Kris membuka suaranya. Berbicara dengan nada lembut kearah Luhan dan Luhan hanya membalas kata-kata Kris dengan senyuman seadanya. Ia berjalan kearah rumah Yixing dan meninggalkan Kris beserta Yixing diteras rumah.

"Ada apa dengannya? Bukankah bagus kalau kita berbicara bertiga dengannya Yifan?" Yixing memandang Kris penuh tanya dan sesekali melirik kearah bagian dalam rumahnya guna mengawasi gerak-gerik aneh Luhan yang kini tengah mengganti channel acara televisi.

"Dia– dia mungkin masih canggung denganku Yixing. Bagaimanapun kita telah lama tidak bertemu. Bukankah begitu?" Kris berbicara dengan sesantai mungkin menutupi rasa bersalahnya terhadap Luhan dan setelahnya ia pamit pulang kepada Yixing.

.

.

.

Rumah Yixing lebih besar daripada apa yang Luhan bayangkan saat Luhan tengah berdiri didepan rumahnya yang terkesan minimalis itu. Namun saat menginjakkan kakinya lebih dalam ternyata rumahnya benar-benar mewah untuk orang yang tinggal sendirian seperti Yixing.

"Berapa harga rumah ini Zhang? Kau terlihat kecil didalam sini." Luhan mendongakkan kepalanya. Meneliti satu persatu interior didalam rumah Yixing berikut lampu gantung yang berada tepat diatasnya. Berkilau indah sekali.

"Jadi kau disini hanya ingin menjadi makelar tanah atau apa?" Yixing mendelik. Ia ingin berbicara santai didepan televisi dengan Luhan tadi. Namun ia bingung ketika tidak melihat Luhan di sofanya dan malah menemukan Luhan tengah mengelilingi rumahnya seperti ia tengah berada didalam museum antik saja.

Dengan tingkah Luhan yang seperti ini agaknya membuat Yixing gemas juga dan akhirnya menarik tangan Luhan untuk segera duduk disofa. "Luhan, kenapa tiba-tiba kau kemari?" Tanya Yixing dengan wajah seserius mungkin.

"Aigoo, memangnya tertulis didepan rumahmu kalau hanya Yifan yang boleh masuk kemari?"

"Bukan begitu Luhan. Aku heran saja kenapa tiba-tiba kau kemari. Ku pikir kau ingin konsultasi atau semacamnya?" Yixing masih mencecar Luhan dengan beberapa pertanyaan mendesak dan Luhan dibuat jengah oleh Yixing.

"Kau pikir jiwaku sakit ya? Aku hanya ingin kemari. Kemarin aku bertanya-tanya seberapa besar rumahmu di Korea untuk beberapa tahun kedepan."

"Maldo andwae."

"Mwo?"

"Ada masalah dengan Oh Sehun itu? Dengar ya Luhan, aku ini sudah sangat paham alasan apa kau meneleponku walaupun sebelumnya kau berbasa-basi menanyakan hal lain tapi akhirnya kau menanyakan tentang si Oh Sehun itu. Sekarang katakan, basa-basi apa yang ingin kau ucapkan sebelum kita berbicara mengenai Oh Sehun itu?"

"Aku sedang tidak ingin berkonsultasi Yixing, demi Tuhan." Luhan mengusap wajahnya kasar. Dan setelahnya menatap malas kearah Yixing. "Aku benar-benar hanya ingin berkunjung. Tidak boleh ya? Baiklah aku pulang kalau begitu."

Sepertinya dugaan Luhan untuk mengunjungi Yixing adalah sesuatu yang salah. Perkataan Yixing tadi seakan-akan menyindirnya bahwa tiada hari bagi Luhan tanpa membicarakan Sehun. Padahal tidak. Ia tidak sesering itu menanyakan perihal Sehun kepada Yixing. Dan satu hal yang membuat Luhan makin kesal kenapa dimana-mana ia selalu saja bertemu dengan Kris? Ada yang bisa menjelaskan hal itu kepada Luhan?

Luhan baru saja akan bangkit dari posisi duduknya kalau saja Yixing tidak lebih dulu berdiri dengan cepat dan menarik tangan Luhan untuk duduk kembali ditempatnya. Yixing memposisikan dirinya disamping kanan Luhan dan menatap Luhan dengan saksama tanpa bersuara.

"Mwo?" Luhan bertanya dengan nada yang sangat ketus dengan wajah ditekuk. Luhan tidak mengerti kenapa malah sekarang Yixing menatapnya begitu. Luhan hanya takut Yixing menyukainya atau apa.

"Jangan sok tampan Luhan. Aku tidak mungkin menyukai pria sepertimu." Dengan wajah super jijik, Yixing menempeleng kepala Luhan dengan cukup sadis –menurut Luhan- dan berhasil membuat Luhan memekik.

"Ya! Kau tahu berapa banyak materi yang tersimpan disini?" Luhan bersungut sambil menunjuk-nunjuk kepalanya dengan kesal. Bisa-bisanya Tuan Zhang ini menempelengnya dengan tidak berperasaan seperti tadi.

"Oleh karena itu jangan menatapku seakan-akan aku bisa kapan saja berubah menjadi gay hanya karena melihat wajah cantikmu ge." Yixing terkekeh pelan dan menggeleng lucu.

"Kau ini cenayang atau apa? Aku hanya memikirkan hal itu dan kau bisa menebaknya." Luhan segera menggeser posisi duduknya menjauh dari Yixing. Jangan-jangan selama ini Yixing bisa membaca pikirannya? Bisa benar-benar gawat kalau memang seperti itu.

"Kau tahu kan aku dokter jiwa? Kau juga calon psikolog. Kenapa terkejut seperti itu? Kau akan lebih pandai membaca situasi daripada aku Luhan ge."

"Baiklah, terserah apa katamu."

"Jadi ada apa pangeran kampus kita datang kerumah dokter jiwa sepertiku? Kau bertengkar dengan Oh Sehun?" Sekali lagi Yixing benar-benar dapat dengan cepat menebak isi otak Luhan dengan tepat pula.

Setelah mendengar pernyataan Yixing, Luhan segera memejamkan kedua matanya. "Kau benar-benar bisa membaca pikiranku. Aku akan menutup mataku agar kau tidak bisa membacanya lagi."

"Kau pikir aku ini adalah Lee Jongsuk di drama I Can Hear ur Voice ya? Astaga ge, tolong jangan melawak disaat seperti ini." Dengan sadis Yixing kembali menyiksa Luhan dengan menendang lutut Luhan kencang dan empunya memekik kesakitan.

"Ya! Berhenti menjadi Luna jiejie yang kedua Yixing."

"Cepat katakan apa maumu sebelum aku menarik kerah bajumu dan menyeretmu keluar dari kediamanku Luhan ge."

"Sehun sudah tahu tentang aku dan Sena."

"Kau sudah membicarakan itu kemarin di telepon. Lalu apa hal mengejutkannya?" Yixing melipat kedua tangannya didepan dada dan menatap Luhan serius.

"Ia tidak membicarakan hal itu beberapa hari dan hari ini kami bertemu kembali juga baru saja kami bertengkar karena membicarakan hal itu Yixing-ah." Luhan mengerucutkan bibirnya sedih. Ia bahkan tidak sedang memikirkan Sena atau siapapun tadi. Tapi kenapa Sehun bisa menanyakan hal itu padanya?

"Lalu?"

"Dia bilang dia sangat penasaran dengan ayah dari Daehan."

"Kenapa dia tiba-tiba memikirkan keponakannya?"

"Karena aku salah bicara didalam mobil tadi, Yixing-ah." Luhan menghela nafas lelah. Seharusnya ia tidak membawa-bawa bocah kecil itu dalam pembicaraannya dengan Sehun dimobil tadi. Dengan begitu Sehun tidak akan berpikir kalau ia mengetahui apa yang terjadi dengan Sena beberapa tahun yang lalu.

"Kau ini kan dulu tidak banyak bicara dan terkesan datar. Tapi kenapa sekarang tiba-tiba kau banyak omong sih?" Yixing mengusap pipinya kasar. Bingung juga seperti apa ia harus memberi saran.

"Dia bertemu dengan seorang wanita yang aku ingat namanya Bae Joohyun atau apalah itu aku lupa. Dan mereka berbicara beberapa kalimat tanpa memandangku sama sekali Yixing-ah."

Mereka sedang membicarakan masa lalu Luhan dan kenapa sekarang Luhan malah membahas hal baru?

"Lalu bagian terpentingnya apa ge?"

"Tiba-tiba saja ia terlihat emosi dan menarikku pulang. Kami tidak berbicara beberapa saat sampai anak itu tiba-tiba menanyakan tentang–"

"Chakkaman, ge. Kau bilang Bae Joohyun?"

"Ne, Bae Joohyun. Wanita cantik yang kira-kira setinggi leher atau telingaku dengan rambut coklat keemasan. Ada apa?" Luhan melirik Yixing, menunggu pria China itu melanjutkan pernyataannya.

"Dari ciri-ciri yang kau paparkan tadi, aku jadi yakin." Yixing mengangguk. Seperti menerawang sesaat dan setelahnya menatap lurus kearah Luhan. "Dia itu sepupu jauh Yifan yang tinggal di Korea ge."

"Mwo?"

.

.

.

Sudah memasuki hari ke tujuh dimana Sehun kini berubah mood kembali terhadap Luhan. Pria albino itu tidak lagi datang kekampusnya dan mengacaukan harinya. Atau pria itu tidak lagi bertengkar dengan Mingyu seperti beberapa waktu lalu.

Luhan sebenarnya tidak pernah ambil pusing tentang Sehun yang kini terkesan memusuhinya. Toh dari awal ia juga tidak menyukai perjodohan gila ini. Tapi ia sudah biasa direcoki oleh Sehun dan hari ini terasa hampa kembali untuknya. Ia hanya menjalani hari-harinya seperti sebelum ia mengenal Sehun. Tidak ada lagi yang menyerobot formasinya dengan Chanyeol dan juga Jongin.

"Hyung, gwenchana?" Tiba-tiba Jongin membuyarkan lamunannya. Ia menoleh tanpa minat kearah anak hitam itu dan menggeleng pelan. "Nan jinjja gwenchana Jongin-ah."

Seperti itu selama satu minggu ini. Baik Baekhyun, Chanyeol, Jongin bahkan beberapa hoobaemenanyakan keadaannya yang Luhan sendiri tidak tahu apa ekspresinya mencetak jelas kalau ia sedang gelisah? Bahkan Luhan beberapa kali ketoilet dan bercermin dan memastikan bahwa wajahnya tampan seperti biasa. Tapi kenapa mereka selalu bertanya 'Sunbae, gwenchana?' atau 'Kau terlihat aneh beberapa hari ini.'

Kejadian dimobil beberapa waktu lalu bahkan hanya sebuah pertengkaran kecil, tapi kenapa Sehun berubah menjadi sekekanakan ini? Memang sih Oh Sehun itu kan dua tahun lebih muda daripadanya, tapi ia juga sudah dalam tahap dewasa apalagi ia seorang wakil direktur. Direktur tidak bisa bersikap seperti itu terhadap karyawannya.

Ini seperti sebuah karma. Beberapa waktu lalu tepatnya selama empat hari mereka juga seperti ini dan Sehun terus meneleponnya. Terus mengiriminya pesan dan tak satupun Luhan respon. Bukan karena Luhan marah atau apa, tapi ia hanya bingung bagaimana cara ia merespon perkataan Sehun didalam pesan singkat itu.

Saat itu, Sehun beberapa kali meminta maaf karena membuat Luhan tak nyaman. Padahal jelas-jelas disini ia yang salah dan bukan Sehun. Tapi kenapa Sehun yang meminta maaf padanya?

Dan sekarang, Luhan melakukan hal yang sama. Meminta maaf karena telah membuat Sehun tidak nyaman. Menurunkan mood Sehun yang seharusnya Luhan tahu, kemarin pasti Sehun sedang sangat emosi mengingat pertemuan dengan wanita cantik itu tidak berjalan lancar.

Luhan jadi ingat dengan Bae Joohyun, atau yang Sehun kenal dengan Irene itu. Ia beberapa waktu yang lalu berpapasan dengan gadis cantik itu dan sepertinya gadis itu masih mengingat jelas wajahnya. Terlihat saat ia selalu tersenyum dan membungkuk saat bertemu pandang dengan Luhan.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya seminggu yang lalu Yixing menceritakan sesuatu padanya. Bahkan ia benar-benar tidak tahu kalau Yixing malah mengetahui hal itu terlebih dahulu ketimbang Luhan yang bisa dikatakan cukup dekat dengan Sehun.

Yixing menceritakan bahwa Irene Bae itu adalah sepupu jauh Kris yang selama ini tinggal di Korea karena memang kebetulan yang berkebangsaan China itu adalah ibu Irene itu sendiri. Jadilah gadis itu menetap di Korea. Yixing juga bercerita kalau gadis bernama Irene itu adalah seorang wanita yang sering sekali berkencan dengan pria manapun. Dan itu sukses membuat Luhan merangkai kesimpulan sendiri.

Ia tidak menyangkal kalau bisa saja perkataan Yixing benar apabila Irene itu gadis yang sering mempermainkan pria, dilihat dari wajahnya yang cantik dan Yixing bilang gadis itu benar-benar cerdas dibidang akademik. Pria mana yang tidak ingin mendekatinya?

Tapi dari semua itu, ada sebuah kesimpulan yang membuat Luhan agak sedih, atau apa yang kalian sebut dengan– miris? Irene itu kan anak yang cantik dan pandai, juga gadis yang banyak sekali memiliki teman kencan. Seingat Luhan, Irene bilang gadis itu adalah mantan Sehun dan berkencan dengan Sehun selama satu tahun lamanya sedangkan Irene sendiri seorang yang tidak betah hanya dengan satu pria? Apa Irene sangat mencintainya? Atau Sehun lah yang bodoh karena diperdaya oleh gadis cantik itu? Bisa saja ia berkencan dengan Sehun didepan semua orang, namun dibelakangnya ia memiliki simpanan? Itu sih hanya pemikiran negatif Luhan saja, tidak tahu kenyataannya bagaimana.

Kalau memang kesimpulan Luhan benar adanya, ada masuk akalnya juga Sehun sangat membenci Irene saat mereka bertemu kemarin. Bisa saja saat itu yang Luhan tidak tahu kapan, Sehun mengetahui kalau Irene berselingkuh dan setelahnya ia benar-benar membenci wanita itu.

Apakah Sehun sebegitu cintanya terhadap Irene?

"Kenapa aku jadi memikirkan urusan asmara orang lain?" Luhan menggeleng, menyadarkan pemikiran-pemikiran yang bersarang diotaknya.

"Ku pikir kau seorang cenayang hyung." Chanyeol terkekeh. Melihat kearah Luhan yang sedang menggeleng ribut seperti menghilangkan pemikiran aneh dari otaknya.

"Diam kau Park Chanyeol."

"Oh iya, kemana si Sehun itu hyung? Selama tiga belas hari ini aku tidak melihatnya kemari. Mengacaukan makan siangmu." Kembali Chanyeol terkekeh sambil menulis sesuatu yang dosen terangkan dipapan tulis.

"Sehun siapa?" Luhan menoleh dan memasang wajah pura-pura tidak tahunya kearah Chanyeol. Dan itu malah membuat Chanyeol tersenyum miring.

"Kekasihmu hyung. Siapa lagi? Satu kampus sudah tahu kalau kau berbelok sekarang. Tidak perlu menyangkal. Fansmu tetap banyak hyung. Jangan takut." Chanyeol menunjukkan kedua ibu jarinya didepan wajah Luhan dan setelahnya tertawa pelan sambil sesekali memperhatikan dosen didepan kelas mereka.

"Sialan kau Park. Aku dan dia bukan sepasang kekasih." Luhan berbicara nyaris berbisik ditelinga Chanyeol saat ia melihat pergerakan Mr. Shim yang mengamati mereka dari jauh.

"Lalu apa? Friends with benefit? Wah, kau terlalu liar hyung."

"Kau yang berpikiran terlalu liar Park." Luhan memukul kepalanya Chanyeol dengan dua tumpuk buku tebal dan itu sukses membuat beberapa mahasiswa dikelasnya menoleh risih kearah mereka berdua.

"Maafkan kami. Maafkan kami. Melihat Mr. Shim jauh lebih menarik. Bukankah begitu teman-teman?" Chanyeol tersenyum layaknya orang idiot kearah beberapa mahasiswa yang memandang aneh kearahnya juga Luhan. Dan sedetik berikutnya mahasiswa tersebut kembali fokus kedepan.

"Tenang hyung. Aku tidak malu kok memiliki teman yang berbelok. Kalau ada apa-apa kau bisa konsultasi denganku." Chanyeol nyengir lebar, mengejek Luhan dan setelahnya berlari keluar kelas saat pelajaran Mr. Shim telah usai.

.

.

.

Sehun tidak pernah memprediksi kenapa ia selalu bertemu dengan Irene. Setiap ia melirik kesuatu tempat, disanalah Irene berada. Ia sudah membatalkan keikut sertaannya pada reuni beberapa hari yang lalu juga untuk tidak bertemu dengan Irene. Tapi sekarang ia malah lebih sering bertemu dengan gadis yang lebih tua darinya itu.

"Dia itu makhluk astral atau semacam ya? Kenapa aku selalu melihatnya muncul dimana-mana." Gumam Sehun sambil memalingkan wajahnya. Ia baru saja bersitatap dengan Irene dan sepertinya gadis itu tengah berjalan kearahnya. Buru-buru Sehun melangkah, menjauh dari gadis itu. Berharap untuk kali ini saja ia tidak bertemu dengan Irene.

"Sehun-ah, astaga. Kita ini jodoh atau apa? Aku selalu melihatmu disetiap waktu." Tanya Irene riang. "Dimana calon istrimu itu?"

Sehun yang tadinya tersenyum tipis kearah Irene berubah dingin dan memasang ekspresi datar yang mungkin hanya Luhan dan kakaknya saja yang tahu kalau ekspresi seperti itu berarti Sehun sedang dalam mood tidak baik. "Ia sedang kuliah. Sibuk. Sampai aku tidak bisa bertemu dengannya seminggu ini."

"Ah, kalau begitu mau makan siang bersamaku? Ku dengar ada restoran baru disana." Irene kembali bertanya dengan riang. Senyum cantik masih tersemat dibibir pinknya. Namun Sehun bahkan tidak berminat menatapnya.

"Aku– tidak bisa noona. Mian."

"Apa kau sedang membeli pakaian? Aku akan membantumu mencarikan yang sesuai." Tanpa persetujuan Sehun, gadis itu menarik lengan kanan Sehun dan membawanya masuk lebih dalam ke arah toko pakaian itu.

Mereka berjalan berdampingan. Menelusuri setiap pakaian yang mereka temui. Irene menariknya menuju bagian dress dan itu sukses membuat Sehun jengah. Luhan bahkan bukan wanita dan kenapa juga ia harus membelikan Luhan dress? Bisa-bisa Luhan akan mengebirinya nanti.

"Ada apa Sehun-ah? Kau bilang kau ingin membelikan pakaian untuk kekasihmu. Kau tidak berminat dengan dress ini satupun?" Irene menatap bingung Sehun menunggu pria tinggi itu menjawabnya.

"Dia– dia tidak suka dress dan pakaian wanita yang biasa kau gunakan." Sehun tersenyum kikuk. Ia ingin bilang dengan lantang 'Dengarkan aku noona, Luhan itu pria dan mana mungkin ia menggunakan dress!' Ya kira-kira seperti itu. Tapi Sehun hanya diam dan berjalan menuju pakaian khusus laki-laki.

"Oh, jadi seleramu yang sekarang seperti itu ya?" Pertanyaan Irene mengejutkan Sehun. Apa Irene tahu kalau kekasih –ehemm- calon istrinya itu adalah seorang pria?

"Seperti apa noona?"

"Kau menyukai gadis tomboy ya? Baiklah." Irene mengedikkan bahunya acuh dan memilih-milih beberapa pakaian laki-laki yang ia rasa tidak terlalu maskulin menurutnya.

Selama beberapa menit Sehun hanya diam. Melihat beberapa pakaian yang kini berada ditangan Sehun. Tentu saja pakaian itu pilihan Irene. Dan Irene kini bingung bagaimana ia bisa tahu kalau pakaian itu cocok atau tidak dengan kekasih Sehun itu.

"Sehun-ah, berapa tinggi kekasihmu? Sebahumu? Sedadamu? Setelingamu?" Tanyanya sambil membuat gestur mengukur tingginya dengan Sehun.

"Kau tidak perlu repot-repot. Aku akan memilihkan sendiri baju untuknya. Ini terlalu girly." Sehun menatap horror kearah beberapa baju yang menurutnya adalah baju yang menyerupai milik wanita. Siapa yang membuat baju seperti ini sih?

"Girly? Astaga Sehun. Se tomboy apapun seorang gadis, ia juga tetap senang menggunakan yang seperti ini. Kecuali kau mengencani pria. Mungkin itu agak menjijikan."

Astaga noona! Aku memang mengencani pria! Luhan itu pria!

Kembali Sehun disibukkan dengan beberapa pilihan baju. Sebelumnya ia telah meletakkan kembali baju pilihan Irene ketempat semula dan sukses membuat Irene kesal sekali tadi. Kini gadis itu hanya ikut berjalan disamping Sehun sambil memperhatikan baju apa yang akan Sehun ambil.

"Astaga, menggemaskan." Sehun tanpa sadar menggumam. Ia benar-benar gemas dengan sweater berwarna baby blue dengan gambar rusa mungil disana. Mirip sekali dengan image Luhan.

"Jauh-jauh ke toko pakaian mahal seperti ini, kau hanya akan membelikannya sweater? Lagipula itu biasa digunakan boyband Korea kalau kau ingin tahu. Belilah baju yang agak–"

"Aku lebih tahu dengan apa yang akan aku lakukan noona."

"Baiklah." Irene memutar bolamatanya malas dan berjalan menuju sofa panjang menunggu Sehun membayar belanjaannya.

.

.

.

Hari ini Luhan menghabiskan sedikit waktu dikampusnya. Kebetulan dosen terakhir berhalangan hadir oleh karena itu ia akhirnya memutuskan untuk pulang kerumah. Namun bencana datang kembali saat Luna malah mengajaknya untuk makan berdua diluar.

"Kau bisa mengajak temanmu jie." Luhan menatap Luna dengan wajah cemberut. Niatnya pulang cepat adalah untuk bercumbu dengan kasur, namun Luna merusak segalanya.

"Ayolah Luhan. Kita sudah lama tidak jalan-jalan. Ada beberapa pakaian yang ingin aku beli." Dengan jengah, Luhan akhirnya mengangguk pasrah dan mengambil kembali kunci mobilnya yang baru beberapa detik yang lalu ia lempar kearah sofa ruang tengah.

Setelah tiga puluh menit melewati kemacetan dijalan utama Seoul, merekapun tiba dipusat perbelanjaan besar yang memang biasanya Luna membeli barang-barangnya disini. Terkesan berlebihan karena hanya tas kecil saja ia harus mengeluarkan uang seharga mobil. Luhan bahkan tidak habis pikir dengan kakaknya itu.

"Kita kesana terlebih dahulu. Aku ingin membeli beberapa kemeja." Luna menggenggam tangan Luhan dan mengajaknya mendekat kearah toko pakaian yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pintu masuk.

"Aku akan duduk disini dan carilah baju yang kau inginkan."

"Baiklah. Jangan kabur selagi aku memilih pakaian." Ujar Luna memperingatkan.

Luhan dengan segera mendudukkan bokongnya disebuah sofa merah yang berada tepat dibelakangnya tadi dan menyilangkan kakinya. Melihat gerak-gerik Luna yang sesekali memekik girang saat melihat baju yang menurut wanita itu menarik.

"Sehun-ah, aku menyukai yang itu."

Sebuah suara samar-samar terdengar oleh Luhan. Suara gadis yang sepertinya ia kenal. Luhan menjulurkan lehernya, berusaha menggapai siluet pemilik suara tersebut. Dan tidak butuh waktu lama, seorang gadis berjalan dengan wajah cemberutnya dan duduk dengan anggun disampingnya. Tidak terlalu dekat dengannya namun Luhan dapat mengenali wajah cantik itu.

Apa gadis ini baru saja berbicara dengan Sehun?

Beberapa detik Luhan masih memandangi gadis yang duduk disebelahnya itu sampai gadis itu akhirnya menoleh karena merasa diperhatikan. Luhan dapat melihat gadis itu terkejut sampai-sampai menutup mulutnya menggunakan tangan dengan dramatis.

"Kau pria yang waktu itu kan?" Gadis itu menunjuk-nunjuk Luhan tidak percaya. Ia memandangi Luhan dari ujung rambut sampai kemata kakinya dan setelahnya tersenyum.

"Aku Irene. Kau masih ingatkan saat kita bertemu di kedai dan juga pertemuan beberapa waktu yang lalu. Kita sering berpapasan. Dan dari wajahmu sepertinya kau– lupa padaku ya?"

"Ah, Irene-ssi. Mana mungkin aku melupakanmu. Hanya saja setiap berpapasan denganmu, kau terlihat berbeda. Jadi mungkin itu yang membuatku tidak mengenalimu." Jawab Luhan sekenanya dengan wajah yang ia buat seramah mungkin.

"Tidak masalah. Kau sedang membeli pakaian? Dengan siapa? Apakah kau datang sendiri?" Irene memberikan Luhan pertanyaan beruntun dan Luhan hanya tersenyum.

Gadis ini cerewet sekali.

"Aku kemari hanya untuk menemani noonaku. Dia disana dengan baju berwarna pink itu. Kau sendiri sedang apa?"

"Aku menemani Sehun membeli pakaian." Jawab Irene dengan senyum manisnya dan menatap kearah Sehun yang kini tengah membayar belanjaannya.

"Ah, sepertinya Sehun sudah selesai. Aku pergi dulu–"

"Luhan. Kau bisa memanggilku Luhan." Ujar Luhan memperkenalkan diri. Beberapa kali mereka berpapasan bahkan Irene bingung ingin menyapa pria bermata rusa itu dengan sebutan apa.

"Baiklah, aku pergi dulu Luhan-ssi." Irene segera berdiri dari posisi duduknya dan berjalan menjauh kearah Sehun yang kini tengah memasukkan dompetnya ke saku celana bagian belakangnya.

Luhan hanya diam. Ia juga bingung harus berbicara apa. Sehun selama seminggu ini tidak menjawab teleponnya. Jadi ini yang Sehun kerjakan? Padahal Luhan telah berpikir positif kalau Sehun sedang sibuk bekerja atau selalu ada meeting dadakan. Tapi apa? Pria albino sialan itu malah bersenang-senang dengan mantan kekasihnya? Sialan sekali.

"Luhan-ssi! Kapan-kapan makan siang bersamaku ya." Luhan membuyarkan lamunannya saat mendengar teriakan Irene dan menatap lurus kearah Irene yang tengah melambaikan tangan kearahnya.

"Ne." Jawab Luhan singkat sambil ikut melambaikan tangannya kearah Irene.

Luhan dapat melihat wajah terkejut Sehun. Namun ia tidak ingin ambil pusing dan akhirnya ia bangkit dari duduknya, berjalan menyusul Luna yang tengah disibukkan dengan beberapa tumpuk pakaian ditangannya.

.

.

.

Pilihan Sehun yang terakhir adalah sweater bergambar rusa itu. Dan dia harus segera memberikan itu kepada Luhan. Berdiam seperti ini dengan Luhan benar-benar membuatnya gelisah. Ia tidak ingin kekanakan. Tapi bagaimana? Sehun juga bingung harus bersikap seperti apa.

Ia ingat kemarin, tepatnya seminggu yang lalu ia marah besar pada Luhan dan entah kenapa ia bisa semarah itu sedangkan ia belum mendengar cerita langsung dari Luhan maupun kakaknya. Ia hanya sedang emosi saja. Kedatangan Irene yang tiba-tiba seperti itu benar-benar membuat emosi Sehun memuncak ditambah masalahnya dengan kakak berikut dengan Luhan belum selesai. Jadilah ia malah menanyakan hal-hal yang diluar topik saat bersama Luhan dimobil.

Aku benar-benar kekananakan. Bodoh sekali.

Setelah membayar belanjaannya, Sehun segera memasukkan dompet kulitnya ke saku celana belakangnya dan matanya mencari-cari keberadaan Irene. Kalau saja Irene tidak ia temukan itu adalah hal baik karena Sehun akan segera makan siang atau kembali kekantor dengan damai.

Namun harapan memang hanya tinggal harapan. Gadis berambut coklat emas itu tiba-tiba sudah berada disisi kanannya dan tersenyum. Irene merangkul tangan kanan Sehun dan terlihat gadis itu tengah menoleh kesuatu tempat.

"Luhan-ssi! Kapan-kapan makan siang bersamaku ya." Sehun berjengit. Luhan? Apa Luhan yang Irene maksud adalah Luhan yang sebenarnya? Karena setahu Sehun, ia baru mengetahui satu orang bernama Luhan.

Sehun menelan ludahnya gugup. Bagaimana sampai yang dimaksud Irene ini adalah Luhannya? Bagaimana kalau Luhan salah paham dan berasumsi bahwa dirinya dan Irene telah berdamai?

Mati kau Oh Sehun.

"Ne." Sebuah suara terdengar oleh Sehun. Suara itu terdengar cukup jauh. Itulah alasannya Irene sempat berteriak tadi. Sehun menoleh sedikit mengikuti arah pandang Irene dan benar. Seorang pria rusa tengah melambai dan tersenyum manis kearah Irene tanpa memandang Sehun sedikitpun. Ia bisa melihat Luhan berdiri dari sofa dan berjalan entah kemana.

"Kau– bertemu dengan Luhan?" Sehun memulai sesi tanya jawabnya dengan Irene. Irene menoleh sekilas kearah Sehun dan mengangguk senang. Terlihat Irene menyukai keberadaan Luhan.

Tunggu, jangan-jangan Irene noona menyukai Luhan?

"Sejak kapan?"

"Tadi aku tidak sengaja bertemu disofa itu. Ia sedang menemani–" Jawaban Irene dijeda Sehun dengan tiba-tiba.

"Menemani siapa?"

"Kau ini kenapa sih? Posesif sekali. Ia menemani kakaknya." Ujar Irene sambil menarik Sehun untuk keluar dari toko pakaian itu.

"Kau– tidak sedang menyukainya kan noona?" Sehun bertanya hati-hati. Ia ingin tahu saja apakah Irene itu hanya menyukai Luhan untuk diajaknya berteman atau–

"Dia menarik. Sepertinya aku harus mendekatinya." Irene tersenyum kalem. Berjalan beriringan dengan Sehun. Menuntun langkah mereka menuju sebuah restoran seafood yang jaraknya tidak terlalu jauh dari toko pakaian tadi.

"Apa? Tidak!" Sehun tahu ia bodoh saat tiba-tiba menyanggah pernyataan Irene tadi. Niat awal Sehun kan untuk tidak terlalu jelas kalau ia mengencani pria. Tapi kenapa mulutnya tidak bisa diajak bekerja sama?

Irene menghentikan langkahnya dan menoleh bingung kearah Sehun. Ia mengerutkan keningnya. "Wae? Kau tahu, dia sangat manis. Aku belum pernah berkencan dengan pria manis sebelumnya." Terdengar kekehan ringan Irene dan ia kembali berjalan, menarik lengan Sehun.

"Dia sulit didekati noona." Sehun menjawab seadanya dengan ekspresi seminim mungkin. Ia tidak boleh terlihat terlalu jelas.

"Kalau begitu aku akan berusaha. Aku sudah sangat terpuruk mendengarmu akan menikah. Dan biarkan aku mencari yang lain Sehun-ah."

"Dia– dia itu playboy noona. Kau tidak mungkin dapat membuatnya menyerah padamu."

"Begitu ya? Aku jadi merasa tertantang."

"Mwoya?"

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

.

Lah kok pea bet yaaa:'D kenapa itu si Irene jadi demen Luhan ih! Hahaha

Jangan bash aku kawan. Ini gabakal ada moment Irene x Luhan kok. Ga bakal ada tenang aja wkwk cuma selingan aja ini serius(?)

Udah ahh, sekian. Wassalam xD