I Think I Love You

Cast:

Oh Sehun

Luhan

-HunHan-

Rated:

T = Tentukan sendiri(?)

Genre:

Romance, Family, Boys Love –Shounen ai-

.

.

.

.

Kata orang, dunia ini sempit. Kalau kau bertanya itu benar atau tidak pada Luhan, pasti ia akan bilang "Itu hanya teori bodoh!" Tapi setelah ia bertemu dengan sosok Sehun, Luhan yakin ia bisa menjelaskan sesempit apa dunia ini.

.

.

.

.

.

.

Cukup sudah. Luhan tidak mau memikirkan Sehun. Entah Sehun dimana, sedang apapun Luhan tidak akan perduli. Toh Sehun pun tidak memperdulikan dia. Dan apa? Kemarin ia malah menemukan fakta baru kalau si Sehun sialan itu masih berhubungan dengan mantan kekasihnya yang sialnya cantik itu. Sudahlah Luhan muak.

Sehun selalu menyindir Luhan apakah Luhan benar-benar straight atau ia hanya berbohong agar tidak dipermalukan didepan umum oleh orang lain. Tapi apa? Sehun bahkan lebih idiot karena saat Luhan ingin percaya padanya, justru anak itu mencuranginya. Sialan juga anak itu.

"Masa bodoh. Aku tidak perduli dengan bocah itu." Dengan garang, Luhan menendang botol minuman yang entah siapa orang yang membuangnya disana.

Awalnya memang Luhan kesal namun kekesalan itu berubah menjadi perasaan panik saat ia melihat seorang pria mengusap kasar kepalanya yang sekarang jarak dari Luhan mungkin hanya tujuh atau delapan langkah. Luhan meneliti ulang, berharap bahwa botol minuman yang ia tendang tidak ia tendang kearah pria tinggi didepannya itu.

"Astaga! Siapa yang melempar botol minuman kearahku sialan!"

Dengan spontan Luhan menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Giginya bergemelutuk panik dan pikiran-pikiran seram tiba-tiba merayap keotak cerdasnya.

Bagaimana kalau ia meminta pertanggung jawabanku. Kenapa sih kau menggunakan kaki atlitmu disini Luhan!

Luhan dengan gemetar berjalan mendekat kearah sosok pria jangkung yang terdengar masih mengumpat dan memaki botol minuman yang kini tergeletak tidak berdaya disamping kaki kanan pria itu.

"Jogiyo, apa botol itu mengenai anda tuan?" Luhan menepuk dengan pelan bahu pria tinggi didepannya. Dan dalam sekejab, pria itu menoleh kearah Luhan dengan tatapan marah.

"Kau ini buta ya? Tidak lihat botol itu– Luhan?"

Oh ayolah kenapa Kris terus muncul!

"Mianhaeyo, Kris-ssi. Aku benar-benar tidak sengaja. Kupikir botol ini tertendang kemana. Ternyata mengenaimu. Mianhaeyo." Luhan membungkuk dalam, meminta maaf dengan tulus sambil mengumpat dalam hati. Kenapa pria Kanada itu selalu berada disekitarnya seperti hama?

Dengan menghela nafas pelan, Kris menepuk bahu Luhan dan membawanya berdiri. "Kau masih menggunakan kakimu dengan baik." Ia tersenyum tulus dan menatap Luhan. "Mau menemaniku minum kopi?"

.

.

.

Suasana hening seketika. Mungkin tidak akan hening andaikan yang dihadapannya ini Baekhyun ataupun Chanyeol. Tapi yang dihadapannya adalah Kris. Pria yang sampai sekarang Luhan bingung kenapa selalu ada disaat Luhan membuka mata. Mengesalkan sekali.

"Sedang apa malam-malam begini diluar?" Kris memulai percakapan dengan senyum manis kearah Luhan. Ia mengangkat gelas putih yang ada dihadapannya dan menyesap kopi hitamnya.

"Bosan. Aku sedang tidak dalam mood yang baik." Luhan menjawab singkat. Ia memalingkan muka kearah jendela kaca yang kebetulan berada disisi kiri mejanya. Mengarahkan pandangannya pada pesona kota Seoul malam hari.

"Apa aku tambah merusak mood mu?" Kris kembali bertanya. Ia tidak dapat memalingkan tatapannya dari pria manis ini. Baginya kini, Luhan adalah sebuah magnet dan selalu menariknya.

"Molla."

"Kau– apa kau kembali dengan Sena?"

Dengan pertanyaan tiba-tiba Kris yang menyangkut Sena, Luhan pun menoleh cepat dengan menaikkan sebelah alisnya. "Apa maksudmu? Sena ada di Jepang sekarang." Ia terkekeh pelan menutupi kebohongannya.

"Benarkah? Kudengar anaknya sekolah didaerah sini. Bagaimana bisa seorang ibu meninggalkan anaknya di Korea?" Kris tersenyum jahil. Ia dapat melihat raut panik diwajah Luhan.

Luhan berdehem. "Kau tahu apa tentang Sena? Dia masih berada disana bersama anaknya." Ia mengambil gelas putih dihadapannya dan menyesap sedikit kopi miliknya.

Bagaimana si bajingan ini tahu?

"Untuk apa kau berbohong seperti itu Luhan-ah. Aku dan Sena telah bertemu beberapa waktu lalu." Kris tertawa renyah. Ia menggeleng pelan. Bisa-bisanya Luhan berbohong padanya.

"Kau– apa? Sena menemuimu?" Luhan mengerutkan alisnya. Ia mencari letak kebohongan didalam mata Kris tapi tidak ada. Sepertinya Kris dan Sena benar-benar bertemu beberapa waktu yang lalu tanpa Luhan ketahui.

"Kami bertemu. Bukan Sena yang menemuiku ataupun sebaliknya. Aku juga tidak sengaja bertemu dengannya saat itu."

"Jangan sakiti dia."

"Aku sudah berjanji untuk melunasi hutang-hutangku terhadapnya. Namun ternyata kau bahkan maju satu langkah dariku Luhan." Kris kembali tersenyum kearah Luhan. Entah Luhan bingung kenapa Kris terus tersenyum.

Luhan menghela nafas dan menatap vas bunga dihadapannya dengan tatapan kosong. "Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya lagi saat ini. Kami murni berteman."

"Ku harap begitu." Luhan tidak menduga Kris akan mengeluarkan kalimat setenang ini. Luhan pikir Kris akan memakinya tidak tahu diri dan lain sebagainya. Tapi kenapa Luhan malah merasa aneh sekarang.

"Kau– kalian berdua berkencan kembali?" Sambil memegang gagang gelasnya, Luhan menatap Kris dengan serius. Meminta jawaban pasti.

"Tidak. Kupikir aku tengah menyukai seseorang." Dengan tersenyum kembali, Kris memalingkan wajahnya kearah jendela yang sebelumnya Luhan lah yang menatap kearah sana. "Tapi kupikir aku terlalu brengsek padanya. Aku takut ia membenciku karena masa laluku."

Apa si Kris ini sedang bercerita denganku? Oho! Aku tidak perduli ngomong-ngomong.

"Tidak semua orang selalu memikirkan masa lalu pasangannya, Kris-ssi."

"Berhentilah menyebutku dengan sebutan formal. Aku membencinya." Kris menghela nafas kasar. "Kau– apa yang bisa kulakukan padamu agar kau tidak takut padaku Luhan-ah?"

"Berhenti membicarakan masa lalu. Aku sudah melupakannya."

"Kau bilang seperti itu. Tapi bagiku tidak. Kau selalu menatapku seolah-olah aku monster. Kau selalu menghindariku. Aku sudah berdamai dengan Yixing dan tidak bisakah kau melakukan hal itu juga?" Tatapan Kris berubah memelas. Ia lelah melihat Luhan yang bahkan enggan untuk menatapnya.

"Aku tidak–"

"Kau tahu aku tersiksa? Aku ingin meminta maaf padamu walau nyatanya mungkin kau tidak mungkin memaafkanku. Aku ingin melakukan semua hal yang mungkin bisa membuatmu dapat menatapku seolah-olah kita telah berdamai. Aku selalu dihantui masa lalu setiap melihatmu Luhan."

Luhan terkekeh. Kekehan yang menurut Kris mengerikan. "Kau tahu? Aku lebih menderita saat melihatmu. Jadi berhentilah menjadi seorang pahlawan kesiangan didepanku. Berpura-puralah kau tidak mengenalku saat kau mungkin melihatku. Karena aku ingin melupakannya. Aku ingin melupakan kejadian itu Kris-ssi."

"Tapi aku tidak bisa untuk tidak menyebut namamu saat bahkan aku melihatmu didepanku dari jarak ratusan meterpun Luhan!" Kris berteriak emosi. Ia sungguh tidak tahan. Luhan yang seperti ini malah membuat Kris sesak. Ia merasa sangat brengsek sekali saat ini.

"Kalau begitu, aku yang akan menjadi satu-satunya orang yang pura-pura buta dan tuli didepanmu Kris."

.

.

.

Ini sudah hari yang kesepuluh atau kesebelas Luhan juga tidak tahu. Luhan kembali seperti sedia kala. Berangkat menggunakan mobilnya sendiri dan makan siang dengan Chanyeol dan Jongin juga terkadang Baekhyun berada disana.

Luhan tidak mengerti kenapa kondisi Luhan seperti meratap akan kehadiran Sehun saat ini. Ini sudah cukup lama untuk Luhan tidak berkomunikasi dengan anak albino itu. Ditambah pertemuan terakhir yang tidak menyenangkan untuknya ditoko pakaian.

Sejauh ini Luhan telah mengikuti apa yang keluarganya dan keluarga Sehun inginkan. Menjadi dekat dan membukakan hati untuk Sehun walaupun nyatanya Sehun itu pria yang sialnya tampan. Luhan sungguh tidak perduli lagi kalaupun teman-temannya memusuhinya karena ia akan menikah dengan pria. Tapi sekarang apa? Sehun bahkan terlihat sombong. Mengiriminya pesan saja tidak, bagaimana bisa ia mengunjungi Luhan dikampus. Itu terasa tidak mungkin.

Apa Luhan terlalu banyak berharap? Terkadang Luhan selalu bertanya, kemana sifat Luhan yang dulu? Yang selalu saja menolak Sehun dan berkata 'kau pikir aku ini gay apa!' dengan lantang didepan wajah Sehun yang saat itu malah tertawa dan terlihat tidak tersinggung.

Kalau seperti ini, Luhan menjadi malu sendiri. Beberapa hari ini ia ketahuan diam dan menatap kosong papan tulis. Melihat kearah jendela walaupun tidak ada yang menarik disana. Dan Chanyeol akan bilang 'kau terlihat seperti anak gadis yang tidak dikabari kekasihnya hyung.' menyebalkan sekali.

Kadang Luhan berpikir bahwa hidupnya tidak adil. Kenapa dari ratusan bahkan ribuan wanita cantik didunia ini, harus Oh Sehun yang menjadi pendamping hidupnya? Kenapa harus Oh Sehun yang akan mengucap janji suci itu bersamanya di altar? Kenapa harus Oh Sehun yang akan menyematkan cincin pernikahan dijari manisnya? Kenapa harus Oh Sehun yang menjadi suaminya?

Apa aku demam? Kenapa aku terus memikirkan si Oh sialan Sehun itu.

"Berhenti melamun dan makan yang banyak hyung. Kau ini pesepak bola macam apa?"

"Astaga! Makanlah seperti pria ge. Kau ini pesepak bola macam apa?"

"Arghh– kepalaku." Luhan memejamkan matanya dengan erat. Mengerang pelan sambil memegang kepalanya yang tiba-tiba saja berdenyut nyeri.

"Astaga hyung. gwenchana? Chanyeol hyung, bawa Luhan ke ruang kesehatan sekarang. Ppali hyung!" Jongin dengan panik menarik-narik lengan Chanyeol yang kini masih membulatkan matanya.

"Hyung, kau ini idiot atau apa? Kau harus membawa Luhan hyung keruang kesehatan!" Sesaat kesadaran Chanyeol terkumpul dan ia buru-buru berjalan kearah meja Luhan. Berjongkok disamping Luhan dan menunggu Jongin memposisikan Luhan dibalik punggungnya untuk digendong keruang kesehatan.

Dengan perginya Chanyeol beserta Luhan, tiba-tiba saja kantin menjadi sangat ramai. Dari yang Jongin dengar, mereka membicarakan Luhan yang memang akhir-akhir ini selalu sensitif pada apapun. Jongin juga tidak mengerti kenapa Luhan selalu merasa sakit kepala. Apa karena dirinya dan Chanyeol banyak bicara?

"Itu tidak mungkin Jongin." Jongin menggeleng mantap. Luhan itu juga manusia rusa yang cerewet. Sayang saja ia sedang dalam kondisi tidak baik. Jadilah seperti ini.

"Aku tidak mengerti, kenapa pria tampan itu tidak datang kembali kemari? Apa dia dan Luhan oppa putus?"

"Pasti Luhan oppa seperti itu karena ia dan pria tampan itu putus. Gay tidak akan bertahan lama."

"Aku bingung kenapa Luhan sunbae benar-benar tidak tahu malu menjadi gay saat ia selalu mengencani banyak wanita disini."

"Aku kasihan dengan Luhan oppa. Akhir-akhir ini dia sering sekali masuk kedalam ruang kesehatan."

Ya seperti itu. Mahasiswi dikampus selalu membuat gosip saat sesuatu kecil terjadi dihadapan mereka. Jongin yang mendengarnya hanya menggeleng malas dan bangkit dari duduknya. Menggendong tasnya dibahu kanannya dan menenteng tas coklat Luhan ditangan kirinya. Ia kemudian berjalan menyusul Chanyeol juga Luhan diruang kesehatan.

.

.

.

Sudah cukup lama untuk Sehun berdiam diri seperti ini tanpa melakukan apapun. Ia dan Luhan terlalu lama berjaga jarak. Dan sialnya ia merindukan Luhan. Luhannya.

Setiap hari ia selalu bertanya dalam hati apakah Luhan makan dengan baik? Apa ia masih merasakan pusing dikepalanya? Apa ia masih bertemu dengan Kris itu? Semua pertanyaan itu selalu muncul diotaknya tiga kali sehari seperti anjuran minum obat. Dan Sehun cukup terganggu akan hal itu.

Sehun menutup laptopnya. Ia mendesah kesal. "Apa yang pria itu lakukan padaku?"

Mungkin Sehun yang dulu dingin telah berubah saat ia bertemu dengan Luhan. Luhan itu seperti pensil warna dan Sehun adalah kertas putih polos tanpa coretan disana. Luhan selalu membuat harinya berwarna dan selalu dapat membuatnya berubah kearah yang lebih baik. Dan sekarang? Bahkan ia bingung apa alasan ia harus tersenyum? Untuk apa ia tersenyum?

Tokk.. Tokk..

"Masuk." Sehun menatap pintu coklat itu datar. Menunggu orang yang mengetuk pintu untuk masuk kedalam ruangannya.

"Maaf Tuan Oh. Tuan Wu Yifan telah sampai dan ingin bertemu dengan anda." Itu suara sekertarisnya. Park Sooyoung.

"Baiklah. Bawa dia masuk."

Suasana hati Sehun sedang dalam kondisi minus dan kenapa juga ada tamu dari perusahaan lain saat ini. Ia sedang tidak dalam kondisi yang baik untuk bernegosiasi atau sebagainya dengan orang yang bernama Wu Yifan ini.

Tunggu, Wu Yifan?

"Permisi, Tuan Oh Sehun." Sebuah suara terdengar dipendengaran Sehun. Ia mendongak. Mengarahkan pandangannya pada pintu ruangannya yang kini terbuka, menampilkan sosok tinggi dengan rambut berwarna coklat gelap dihadapannya. Pria itu membungkuk sekilas dan tersenyum. Berjalan mendekat kearah meja Sehun.

"Kris Wu imnida. Saya perwakilan dari perusahaan yang anda tanda tangani kontraknya dua minggu yang lalu."

Sehun dapat melihat pria jangkung ini tersenyum kearahnya. Senyum ramah yang malah disambut tidak menyenangkan dari Sehun. Kris nampak bingung saat Sehun bahkan tidak menjawab apapun dan malah menelitinya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Memberikan pandangan menilai.

"Apa ada yang salah dengan saya, Tuan Oh?" Kris bertanya dengan tenang. Memperhatikan penampilannya yang menurutnya sudah cukup sopan untuk berhadapan dengan manusia seperti Oh Sehun ini.

"Tidak ada yang salah dengan anda. Itu hanya kebiasaan saya. Silahkan duduk." Jawab Sehun mempersilahkan Kris untuk duduk dihadapaannya.

Takdir apa ini? Selama ini Sehun selalu bertanya-tanya seperti apa tampang dari sosok Kris yang Luhan takuti –menurut Chanyeol- dan sekarang bahkan mereka memiliki hubungan kerjasama perusahaan? Hebat sekali.

"Jadi, apa yang membawa anda kemari– Tuan Wu?" Sehun dengan sebisa mungkin memberikan ekspresi datar yang tenang namun tangannya bahkan tidak bisa untuk tidak mengepal saat ini.

"Tentu saja membicarakan kerjasama perusahaan kita. Mendengar kau memiliki umur yang berada dibawahku, mungkin kita bisa melakukan ini dengan santai. Bukankah begitu Tuan Oh?"

"Sepertinya kau tidak tahu profesionalitas dalam bekerja, Tuan Wu? Saya lebih muda ataupun tua, anda harus tetap menghormati saya layaknya ketua yang posisinya jauh diatas anda." Ujar Sehun sambil menatap remeh kearah Kris.

Jadi bajingan seperti ini yang Luhan takuti?

"Apa perusahaan kita memiliki perselisihan sebelumnya? Anda tidak sepatutnya bersikap tidak sopan pada saya, Tuan Oh Sehun yang terhormat." Kris kali ini tidak bisa meredam emosinya. Kurang ajar sekali anak ini menghinanya. Dia pikir dia siapa?

"Sopan tidak sopan itu adalah wewenangku karena kau menginjakkan kakimu diperusahaanku saat ini. Dan kau tahu–" Sehun menjeda kalimatnya. Meremas dokumen yang sebelumnya Sehun baca. "Kau tidak seharusnya berada disekitar Luhanku seperti hama."

.

.

.

Jarum jam pada jam dindingnya telah bergeser ke angka satu pagi tapi Kris bahkan tidak bisa untuk memejamkan matanya barang sedetikpun. Banyak sekali pikiran-pikiran konyol yang bersarang diotaknya bahkan ia tidak bisa mengambil kesimpulan satupun disana.

Setelah pembicaraan yang cukup membuatnya tegang di perusahaan Oh tadi, mereka berdua berbicara santai layaknya klient dan entah itu adalah bakat seorang Oh Sehun untuk mempermainkan emosinya atau ada niat terselubung disana.

Pembicaraan mengenai Luhan di kantor Oh Sehun tadi agaknya benar-benar membuat Kris terganggu. Kenapa bos dari perusahaan besar itu mengenal Luhan? Oh ayolah, bahkan Luhan bukan seorang artis jadi bagaimana Sehun dapat mengenal Luhan? Bahkan ia mendengar jelas kalau Sehun itu menyematkan tanda kepemilikannya dinama Luhan.

"Kau tidak seharusnya berada disekitar Luhanku seperti hama."

Apakah itu tidak terdengar menjijikan? Katakanlah Kris berlebihan. Tapi itu terdengar aneh saat seorang pria memberikan tanda kepemilikan terhadap nama Luhan dihapannya. Kris bahkan merasa tercengang sesaat saat Oh Sehun itu mendadak serius saat menyebut nama Luhan. Apa mereka saling mengenal?

"Dunia bahkan sangat luas. Bagaimana aku bisa berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki sangkut paut seperti ini." Kris mendecih sebal. Dari sekian banyak klient bisnis, baru kali ini Kris menemukan yang unik. Yang menantang seperti Oh Sehun.

Jadi sekarang ia memiliki dua musuh? Sehun juga Luhan. Baiklah.

"Tunggu, Oh Sehun? Sepertinya aku pernah mendengar nama yang serupa." Kris menatap lurus kearah lukisan pemandangan didalam kamarnya. Menerawang jauh saat dimana ia pernah mendengar nama Oh Sehun itu di ucap.

"Ya dia Oh Sehun. Dia calon suami Lu– "

Benar. Kris baru ingat kalau Sena saat itu tidak melanjutkan kalimatnya dan dia benar menyebut nama Sehun.

Astaga, berarti Sehun itu adalah adik Sena?

"Ya ampun. Bisakah aku pergi ke planet lain saja? Kenapa mereka harus kakak beradik?" Gumam Kris lelah. Ia mengusap wajahnya kasar.

"Tapi tunggu–" Kris seperti mendapat ilham kembali. "Ia bilang, Oh Sehun itu calon suami Lu? Apa yang Sena maksud adalah Luhan?" Ia membelalakkan matanya, tersadar dari apa yang baru saja melintas diotaknya.

"Jadi Luhan– akan menikah dengan pria? Astaga."

.

.

.

Tidak ada yang lebih mengejutkan dari Kris yang tiba-tiba berada didepan kelasnya dan tersenyum manis. Luhan yang melihat itu malah bergidik ngeri. Apa yang ada didepannya ini seorang Kris Wu yang arogan itu? Kemana jiwa sombongnya dulu?

"Luhan, bisa kita makan siang bersama?" Kris bertanya dengan nada ramah.

"Aku bingung, padahal ini kampus bukan restoran. Tapi kenapa banyak orang luar yang tertarik untuk menjajah kantin kampus ini." Luhan menggeleng jengah dan berjalan melewati Kris. Ia menemukan wajah Sehun didalam pikirannya. Ini sama seperti Sehun yang selalu datang hanya untuk makan siang dengannya.

Ah sialan, kenapa jadi Oh Sehun lagi?

Luhan mengabaikan derap langkah Kris yang sepertinya tidak menyerah dan malah mengikuti Luhan yang saat ini tengah melangkah ke kantin kampus untuk makan siang.

Mungkin ia tidak akan sejengah ini kalau saja bukan Kris yang datang. Atau mungkin dia akan lebih lega kalau Sehun yang mengunjunginya.

Sialan, kenapa jadi Sehun terus yang aku pikirkan!

"Luhan hyung?" Seorang pria tinggi tiba-tiba berdiri disamping Luhan dan tersenyum ramah. Itu malah membuat Luhan menatap pria itu kesal.

Dia tidak ada kapoknya sudah dipermalukan oleh Sehun apa?

"Ada apa Mingyu-ya?" Dengan terpaksa, Luhan tersenyum samar. Mengangkat sebelah alisnya angkuh menunggu si bocah tinggi itu berbicara.

"Aku– bisakah kita bicara?" Luhan tersenyum sinis. Menatap Mingyu dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Ia membawa tangan kanannya kearah bahu Mingyu. "Kau– belum jera?"

Ini adalah hal yang paling memalukan untuk Kim Mingyu. Dari dulu sampai sekarang, ia tidak pernah ditolak mentah-mentah oleh orang yang disukainya. Dan Luhan adalah yang pertama yang menolaknya dengan gamblang.

"Tapi hyung aku ingin menjelaskan soal–" Mingyu menjeda kalimatnya dengan terpaksa saat ada suara lain yang mengintrupsinya.

"Luhan sedang ada urusan denganku. Lain kali kau harus membuat janji diresepsionis." Ujar Kris sinis dan menarik pelan lengan Luhan menjauh dari hadapan bocah tinggi itu dan mencari kursi kosong.

Awalnya memang Luhan ingin memberontak. Tapi mengingat Kris telah membantunya keluar dari lingkarang emosi terhadap Mingyu, ia harus berterimakasih saat ini.

"Aku tidak pernah menyetujui makan siang bersamamu Kris. Aku harus makan bersama temanku disana." Luhan berujar sambil menunjuk kearah meja yang letaknya tidak jauh dari Luhan dan Kris duduk.

Kris mendesah malas. "Aku tidak memiliki banyak waktu. Aku harus kembali kekantor setelah ini. Apa benar kau dan Oh Sehun akan menikah?"

"Aku tidak menyuruhmu dat– APA?"

"Kau cukup menjawab ya atau tidak Luhan. Aku tidak punya banyak waktu atau Oh Sehun yang terhormat akan mengamuk padaku hari ini."

Luhan membelalakkan matanya. Tampak berpikir sejenak. Bagaimana pria bule ini tahu kalau dia dan Oh Sehun memiliki hubungan?

"Apa Sena memberitahumu?" Luhan berbisik dan sedikit mendekatkan diri kearah Kris. Kalau sampai ada mahasiswi yang tahu, bisa habis ia menjadi bahan gosip kembali disini.

"Jadi itu benar?" Kris ikut-ikutan berbisik. Mendekatkan tubuhnya pada Luhan agar suaranya tidak ada yang mendengar. "Kau akan menikah dengan pria?"

Tersadar dengan jarak yang makin dekat dengan Kris, Luhan memundurkan tubuhnya dan menempatkan bokongnya dikursi kantin. Ia mengalihkan pandangannya. "Aku punya alasan untuk itu Kris."

"Apa alasanmu?"

"Didunia ini, ada hal-hal yang sebaiknya kau tidak tahu apa alasannya Kris."

"Aku serius."

Luhan tidak paham apakah ini Sena atau malah Sehun yang membocorkan pernikahan rahasianya dengan anak keluarga Oh itu. Dan kenapa hal seperti ini bisa sampai ditelinga seorang Wu Yifan sialan yang sekarang tengah berubah menjadi seorang reporter dadakan dihadapannya? Seharusnya Kris tidak perlu tahu perihal pernikahannya dengan Sehun. Tapi bagaimana ini? Luhan tidak bisa mengelak.

"Wow, gege. Kenapa bisa kebetulan begini?" Suara seorang perempuan tiba-tiba ikut tergabung disebelah Luhan. Dan itu sukses membuatnya menoleh horror.

Kembali, Luhan dibuat terkejut yang sebelumnya ia melihat Kris didepan kelasnya dan sekarang–

"Irene-ssi– bagaimana kau bisa ada disini?"

.

.

.

Baik Kris maupun Luhan tidak mampu untuk berbicara saat ini. Ini pertemuan yang tidak terencana antara dirinya juga Kris. Dan sekarang apa lagi? Darimana Irene tahu kalau Luhan berkuliah disini? Apa si Sehun sialan itu menceritakan dirinya pada Irene?

Mana mungkin Sehun mengingatku. Berkhayal.

Menarik nafasnya dan membuangnya pelan, Luhan akhirnya berani untuk membuka suaranya. "Irene-ssi, ada apa kau datang kemari? Darimana kau tahu aku berkuliah disini?"

Kris nampak diam memperhatikan Luhan. Mungkin dia juga bingung kenapa saudara jauhnya itu dapat mengenal Luhan dan Luhan juga mengenal saudaranya itu. Kris sekarang paham bahwa pepatah yang mengatakan 'dunia ini tidak seluas yang kau kira' adalah benar adanya.

"Aku sudah pernah bilang kan kalau aku ingin makan siang bersamamu?" Irene nampak tersenyum cantik dihadapan Luhan. Mungkin dirinya yang dulu akan merasa tersanjung saat seorang wanita cantik tersenyum manis padanya, tapi kenapa Luhan malah merasa muak?

"Aku tahu. Aku masih mengingatnya. Tapi setidaknya buatlah janji denganku– maksudku kau tahu aku cukup sibuk." Luhan tersenyum tipis. Ia menoleh kearah Kris yang kini hanya diam, sepertinya tengah berpikir langkah apalagi yang akan pria itu lakukan untuk membuat saudara perempuannya itu tidak curiga dengan pertemuan ini.

"Ani, tapi kenapa kau bisa bertemu dengan Yifan gege? Kalian saling mengenal?" Kini Irene segera menoleh kearah kirinya. Melihat saudara jauhnya itu hanya memandang lurus kedepan dengan tatapan kosong. Ada apa dengan saudaranya itu?

Luhan menggigit bibirnya. Apa yang harus ia katakan? Bisnis? Jangan mengada-ada. Ia sedang tidak berbisnis dan apabila wanita ini bertanya perihal bisnis apa dan pertanyaannya yang lain, apa yang akan Luhan jawab?

"Aku sedang ingin bertemu dengan temanku, Joohyun-ah. Kebetulan aku tidak menemukannya dan malah bertemu Luhan di lorong kampus. Ia mengajakku kesini agar lebih mudah mencari anak itu. Karena seperti yang kau lihat, ini jam makan siang." Kris tersenyum meyakinkan kearah Irene dan ditanggapi dengan acuh oleh Irene. Luhan jadi ingin tertawa saat ini.

"Kalau begitu aku ingin bicara dengan Luhan. Apa gege sudah menemukan teman gege?"

"Ne, dia ada disebelah sana. Aku permisi–" Ia menoleh kearah Luhan sekilas dan tersenyum aneh. "Terimakasih Luhan-ssi."

Pria tinggi itupun beranjak dari kursinya dan berjalan menjauh, keluar dari area kantin dan sepertinya ia akan langsung pulang mengingat pria itu berbelok kearah kanan. Arah yang sama saat kau ingin menuju parkiran kampus.

"Luhan-ah, kau tidak sibuk kan hari ini?" Irene menatap penuh minat pada Luhan dan tidak sekalipun menyudahi senyumannya. "Oh iya, dia itu saudara jauhku yang tinggal di Beijing. Kami benar-benar tidak dekat. Tapi kau tahu? Dia sangat tampan bukan?" Irene terkekeh geli saat mengingat wajah bule Kris itu.

Luhan tersenyum sekilas. "Ne. Dia sangat tampan, Irene-ssi."

.

.

.

Kembali, Chanyeol dan Jongin terdiam. Mereka seharusnya makan siang bertiga dengan Luhan. Tapi lagi-lagi ada orang bodoh yang menyela mereka lagi hari ini. Sudah keberapa kalinya mereka hanya makan siang berdua saja seperti sepasang gay disini.

"Jadi siapa lagi pria itu?" Jongin membuka suaranya. Ia mengambil gelas berisi air mineral dan menenggaknya kasar. Ia bingung, kenapa Luhan selalu saja dikelilingi manusia yang sama sekali tidak ia kenal? Sepenting itukah Luhan hyungnya?

"Itu pria yang beberapa waktu lalu menemui Luhan dikampus. Aku mendengar dari Baekhyun." Chanyeol berbicara dengan tatapan yang sulit diartikan. Matanya sedang mengawasi gerak-gerik Luhan yang saat ini tengah duduk berdua dengan seorang gadis berambut coklat emas.

Merasa terkejut, Jongin kembali menoleh kearah Chanyeol dengan wajah seriusnya. "Ah, jadi itu pria bule yang kau bilang hyung?" Dan Chanyeol hanya mengangguk.

"Itukan pria yang mengejar Luhan sunbae! Aku benar-benar mengingat wajahnya demi Tuhan."

"Sekarang apalagi? Pria albino waktu itu tidak pernah datang lagi dan sekarang pria bule itu datang lagi. Benar-benar. Luhan sunbae dikelilingi pria tampan. Tidak heran dia bisa menjadi gay."

"Apa Luhan oppa telah berubah haluan lagi? Lihat dia duduk berdua dengan wanita cantik itu. Tunggu– sepertinya aku pernah melihat wanita itu."

Chanyeol memutar bola matanya malas. Selalu saja terjadi gosip saat Luhan kedatangan tamu dadakan dikampus. Memang salahkan saja ketenaran Luhan dikampus ini. Jadi mau bagaimana lagi? Apapun yang dilakukan Luhan pasti menjadi bahan perbincangan.

"Tunggu–" Tiba-tiba saja Jongin memekik terkejut. Itu berhasil membuat pandangan lurus Chanyeol teralihkan dan sekarang ia memandang heran kearah Jongin yang saat ini tengah memandangi objek yang sama dengannya. Luhan dan seorang wanita cantik dihadapannya.

"Ada apa Jongin-ah?" Tanya Chanyeol tidak mengerti. Ia sesekali melihat kearah Luhan dan setelahnya kearah Jongin. Mencoba mencari masalah disana.

"Bae– Joohyun?" Jongin menajamkan penglihatannya pada wanita yang kini duduk berhadapan dengan Luhan dan berposisi membelakangi mereka disini.

"Nama siapa itu?"

"Benar. Itu Bae Joohyun. Dia–" Jongin menolehkan kepalanya kearah Chanyeol dan setelahnya mendesah malas. "Mantan kekasih sepupuku. Bagaimana ia dapat mengenal Luhan hyung kita?"

"Ne?"

.

.

.

Dengan amat sangat terpaksa, Luhan menemani Irene berkeliling kampusnya. Beberapa pekikan kagum sesekali terdengar dari bibir Irene dan itu sukses membuat Luhan tersenyum bangga. Bangga ia bisa berada dikampus sebagus dan sebaik ini.

"Daebak! Kampusmu benar-benar yang terbaik. Kampus Sehun kan juga seperti ini di Australia."

Sehun lagi. Ia tidak ingin mendengar nama bajingan sialan itu.

Kali ini Luhan tidak banyak bicara. Ia hanya sesekali bergumam membenarkan dan menggeleng jika itu tidak benar. Tersenyum saat Irene memekik kagum kembali dan berjalan dalam diam.

Tiba-tiba saja Irene memberhentikan langkahnya, menoleh kearah Luhan. Itu sukses membuat Luhan berhenti ditempat dan ikut-ikutan menoleh kearah Irene. Memandang Irene dengan penuh tanda tanya dikepalanya. "Kau sakit Luhan-ah? Kau tidak banyak bicara hari ini." Ujar Irene sambil meletakkan punggung tangannya dikening Luhan.

Luhan menepis tangan Irene dengan halus dan tersenyum samar. Ia menggeleng pelan. "Aniyo, Irene-ssi. Aku tidak sedang sakit."

"Ayolah, jangan gunakan bahasa formal denganku Luhan-ah."

"Sehun akan tidak suka padaku saat aku memanggilmu sok akrab, Irene-ssi." Luhan kembali tersenyum dan berjalan kembali menuju taman kampus. Terlihat beberapa pasang mata melirik kearah mereka dan berbisik pelan.

Ini yang membuat Luhan jengah. Bahkan Luhan bukan artis. Tapi kenapa gerak-geriknya selalu menjadi bahan perbincangan?

"Sehun tidak ada disini. Lagipula kenapa kau harus merasa tidak enak padanya?"

Luhan menghela nafasnya perlahan. Berjalan kearah bangku taman dan memposisikan tubuhnya disana. Menatap lurus kearah kolam dihadapannya.

"Karena kau kekasihnya tentu saja. Ia akan mengira bahwa aku tidak–" Irene buru-buru menyela.

"Mwo? Kekasih apanya? Kami telah lama berpisah Luhan-ah. Dan tidak pernah memutuskan untuk bersama kembali."

Luhan dengan sigap menoleh kearah Irene dan mengerjap lucu. Itu malah membuat Irene tertawa disampingnya. Luhan itu benar-benar manis untuk ukuran seorang pria dan Irene belum pernah mendapatkan satupun yang seperti ini.

Tanpa Luhan sadari, ia tersenyum tipis. Dadanya tiba-tiba bergemuruh ribut disana. Apakah Luhan tersenyum senang karena ternyata Sehun dan Irene tidak memiliki hubungan apapun?

Jadi mereka berteman ya?

"Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba tersenyum seperti itu Luhan-ah?" Irene terlihat bingung saat tiba-tiba kedapatan Luhan tersenyum kelewat manis disampingnya.

Astaga Luhan.

Luhan segera berdehem. Dan menghapus senyuman bodohnya. Ia menggeleng pelan. "Tidak– hanya saja aku senang." Dengan wajah datar ia menoleh kearah Irene. "Berarti sekarang kau sedang– sendiri."

Luhan dapat melihat wajah Irene memerah. Entah Luhan juga bingung kenapa gadis itu harus tersipu malu. Memang Luhan salah bicara ya? Sepertinya Luhan sedang tidak menggombal atau apa pada gadis itu. Tapi kenapa gadis itu jadi salah tingkah?

"Aku akan menunggu." Irene tiba-tiba berbicara dengan mata berbinarnya. "Aku akan menunggumu."

Sebenarnya ini bukan waktunya untuk Luhan berpikir lambat. Tapi ia benar-benar tidak bisa mencerna kalimat Irene tadi. Sampai gadis itu mencuri sebuah kecupan dipipinya dan berjalan pergi dari taman kampus.

Apa-apaan gadis itu!

.

.

.

.

.

.

.

TBC