I Think I Love You
Cast:
Oh Sehun
Luhan
-HunHan-
Rated:
T = Tentukan sendiri(?)
Genre:
Romance, Family, Boys Love –Shounen ai-
.
.
.
.
Kata orang, dunia ini sempit. Kalau kau bertanya itu benar atau tidak pada Luhan, pasti ia akan bilang "Itu hanya teori bodoh!" Tapi setelah ia bertemu dengan sosok Sehun, Luhan yakin ia bisa menjelaskan sesempit apa dunia ini.
.
.
.
.
.
.
"Aku ingin bermain bola baba!" Luhan kecil menghentak-hentakkan kakinya. Tangannya masih memeluk erat bola kesayangannya dan kini ia benar-benar telah siap untuk datang ke klub sepak bola yang beberapa waktu lalu direkomendasikan oleh teman sekolahnya, Jung Hoseok.
"Baba tidak suka kalau Luhan bermain bola. Luhan harus menyelesaikan pekerjaan rumah dan Luhan harus datang ke kursus piano." Babanya terlihat marah. Pasalnya ini adalah jadwal Luhan untuk kursus piano dan anaknya itu malah sudah siap dengan seragam bolanya. Benar-benar.
Luhan mendengus lucu. "Luhan itu laki-laki baba. Teman Luhan yang laki-laki semuanya bermain bola. Luhan juga ingin bermain bola!" Dengan kesal Luhan melempar asal bolanya. Dan
PRANG–
Bola Luhan mengenai vas bunga kesukaan mama diatas meja. Dan bola mata Luhan benar-benar ingin keluar saat ini. Bagaimana kalau nanti mamanya marah? Bagaimana kalau mamanya tidak sayang lagi padanya?
"Xi Luhan!" Babanya memukul lengan Luhan dan Luhan hanya meringis disana. Ia memang salah.
"Kau tidak boleh keluar dari rumah dan–"
Ting Tong–
"Diam disini Luhan." Babanya berjalan menuju pintu utama guna melihat siapakah yang datang kerumah.
Luhan yang masih sebal dengan babanya, duduk disofa. Memungut bolanya dan memeluknya erat. Menunduk sedih. Ia hari ini pasti sudah ditunggu oleh Hoseok juga Woohyun dilapangan. Lalu bagaimana Luhan mengabarinya?
"Luhan, ada Shixun disini." Suara teriakan baba membuat lamunan Luhan buyar. Ia dengan semangat berjalan menuju ruang tamu.
Wu Shixun. Anak itu bisa Luhan ajak untuk keluar rumah dan Luhan bisa bermain bola dengan teman-temannya. Shixun datang disaat yang sangat tepat. Yeay!
"Halo Wu Shixun." Luhan memberikan tangan kanannya untuk berjabat dengan tangan Shixun. Dan Sehun meraih tangan itu dengan wajah senang.
"Hai gege." Senyuman bulan sabit dari Shixun benar-benar manis. Anak ini benar-benar polos –menurut Luhan-
"Kalian bisa bermain. Baba ingin mengurusi beberapa pekerjaan diruang kerja. Kalau kalian lapar, bilang para bibi untuk membuat makanan. Arrachi?"
"Ne." Shixun dan Luhan menjawab serempak dan setelah itu babanya pergi dari hadapan mereka berdua.
"Shixun, aku ingin–"
"Gege hari ini akan bermain sepak bola kan? Pasti babanya gege tadi marah-marah ya?" Shixun berbisik sambil melirik kearah ruang kerja ayah Luhan.
"Kau masih ingat kalau aku akan bermain bola hari ini? Baba marah-marah dan tidak memperbolehkan aku keluar." Luhan menampilkan wajah cemberut sambil masih memeluk bolanya dengan sayang.
"Tentu saja! Memang untuk apa aku datang kemari? Aku ingin menculik gege dan membawa gege ke lapangan sepak bola." Jawab Shixun dan merangkul pundak sempit Luhan.
Luhan tersenyum cerah dan ikut merangkul Shixun. "Kau benar-benar datang disaat yang sangat tepat Wu Shixun!"
"Kalau begitu tunggu apalagi? Ayo kita keluar sebelum babamu melihat." Shixun menyeret lengan kanan Luhan keluar menuju lapangan sepak bola.
.
.
.
Hari minggu adalah hari yang benar-benar dinanti semua orang. Tidak terkecuali seorang Oh Sehun yang bahkan sebelumnya ia tidak pernah menginginkan sebuah hari libur. Toh ia juga tidak seperti pengusaha lainnya yang hanya mendedikasikan hidupnya demi pekerjaan setiap hari.
"Sehun-ah, tidakkah ini sudah dekat?" Ibunya memulai percakapan dimeja makan. Disana ada ayahnya beserta kakaknya juga Daehan yang kini masih terlihat mengantuk dikursinya.
Daehan benar-benar mirip dengan Luhan.
"Eomma, bisakah untuk menunggu sebentar lagi? Aku dan Luhan–" Sehun menggela nafas pelan. Menatap dengan wajah memelas kearah ibunya. "Kami sedang menyesuaikan diri."
Kakaknya yang saat itu tengah membenarkan posisi duduk Daehan ikut menoleh dan mendengarkan perkataan Sehun dengan saksama. Ia menatap adiknya yang kini nampak sedikit– sedih? Apa mereka berdua tengah bertengkar?
"Ada apa dengan kalian? Kalian sedang bertengkar?" Sena akhirnya menanyakan pertanyaan yang sedari tadi ia pendam.
Sehun menoleh kearah kakaknya dengan tatapan tidak berminat. Kejadian Luhan dan kakaknya sudah sangat lama dan hubungan kakaknya dengan Luhan sudah kandas beberapa tahun lalu. Tapi kenapa saat ia melihat wajah kakaknya, ia merasa sesak sekali?
"Aniyo. Hanya sebuah permasalahan kecil. Dan Luhan terlihat sedang sakit noona."
"Luhan sedang sakit? Ia sedang sakit apa Sehun-ah? Apa serius? Kau sudah–" Perkataan Sena terputus saat seisi rumah, bahkan Daehan pun menengok heran kearahnya. Ia tersenyum canggung. "Aku hanya khawatir dengan adik ipar. Kalian akan segera menikah. Jadi setidaknya Luhan harus sehat."
Ibunya menghela nafas dan kembali menatap fokus pada Sehun. "Apakah Luhan sudah– berhasil mengingatmu?"
Apa Luhan mengingatnya? Sehun juga tidak yakin akan hal itu. Tapi Sehun yakin, pusingnya kepala Luhan dan dejavu yang dialami Luhan seperti yang Chanyeol bilang itu adalah fase dimana Luhan tengah mengingat beberapa potongan memorinya dimasa lalu dari perkataan yang Sehun atau orang lain katakan tanpa sengaja dihadapannya.
Dirinya tidak yakin apa yang Luhan ingat itu adalah dia atau masa kecilnya bersama sang kakak maupun keluarga lainnya. Tapi Sehun benar-benar yakin bahwa lambat laun Luhan pasti mengingatnya. Bagaimanapun sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk dilupakan begitu saja.
"Aku– tidak tahu eomma. Aku tidak ingin memaksa otak Luhan untuk kembali kemasa lalu, mengingatku. Aku hanya–" Sehun kembali menghela nafas. Ia meletakkan sumpitnya dimeja. "Aku hanya ingin dia tahu kalau aku mencintainya. Bukan hanya dulu. Tapi sekarangpun masih sama."
Ayah, ibu juga kakaknya tampak menatap terkejut kearah Sehun. Mereka memang memberikan ijin terhadap Sehun untuk menikah dengan Luhan karena itu juga sebagian dari janji yang telah keluarga mereka dan keluarga Luhan sepakati saat Sehun tengah berada didalam kandungan dulu. Tapi untuk perasaan Sehun sesungguhnya, orangtuanya benar-benar tidak tahu menau. Mereka hanya tahu, Sehun akan menikah dan mungkin saja tengah melakukan pendekatan dengan Luhan.
"Kau– apa?" Kini ayahnya berbicara. Menatap terkejut pada putranya. Ia benar-benar tidak percaya bahwa Oh Sehun memang telah menyimpang bahkan sebelum anaknya itu dijodohkan olehnya?
Merasa ditatap aneh oleh ayahnya, Sehun kembali menghela nafas. Menyatukan kedua tangannya dan meletakkannya diatas meja. Menatap lurus pada sepiring sup dihadapannya. Ia benar-benar belum berani menatap ibu apalagi ayahnya.
"Aku–" Sehun memejamkan matanya beberapa detik dan membukanya perlahan. "Aku menyukai Luhan bahkan sebelum kalian menjodohkanku dengannya."
"Ani. Bagaimana bisa? Aku tidak mengajarimu menyimpang Sehun. Kalaupun kami tidak memiliki kesepakatan dengan keluar Xi, aku bahkan tidak akan menjodohkanmu dengan pria itu." Ayahnya terdengar kecewa.
"Itu tidak akan ada gunanya appa. Ini sudah takdir. Menyimpang ataupun tidak, aku akan dijodohkan dengan Luhan. Jangan menjadi kecewa seperti itu." Sehun mendelik tidak suka.
Keluarganya benar-benar aneh. Mereka yang menjodohkan dirinya dengan Luhan. Mereka juga yang terkejut dengan kenyataan bahwa dirinya menyimpang seperti ini.
Ya, memang benar. Sehun dulu tidak tahu apa artinya jatuh cinta. Sampai saat usianya menginjak lima belas tahun. Dan saat itu Luhan berada diusia tujuh belas tahun. Tepat saat setelahnya Luhan meninggalkannya dan melupakannya, ia baru sadar bahwa selama ini perasaan yang membuatnya bahagia adalah jatuh cinta. Dan ia telah jatuh cinta kepada sahabat kecilnya. Seorang pria dengan wajah manis dan cantik itu. Luhan.
"Dia memang serasi dengan Sehun, yeobo. Aku tidak perduli seperti apa. Tapi memang benar kata Sehun. Mereka sudah menjadi takdir. Dan bukankah bagus kalau ternyata anakmu telah mencintai Luhan?" Ibunya terdengar tengah beradu argumen dengan ayahnya. Dan itu membuat Sehun jengah. Seharusnya ia tidak lepas bicara tadi.
"Terserah." Ayahnya berbicara dengan nada tidak suka. Dan setelahnya Sehun melihat ayahnya meninggalkan ruang makan dan berjalan kearah kamar. Tanpa menghabiskan sarapannya.
Jadi si tua itu mau menyalahkanku yang menyimpang? Dia duluan yang mempertemukan aku kembali dengan Luhan!
.
.
.
Tidak berbeda dengan kegiatan yang dilakukan keluarga Xi. Saat ini Luhan juga keluarganya tengah menikmati sarapan paginya dan sesekali berbincang mengenai kampus Luhan dan Luna.
Ini adalah impian Luhan. Seperti hari ini. Keluarganya benar-benar utuh seperti keluarga harmonis yang sering Luhan lihat diluar sana. Ia mendambakan momen-momen dimana ia dan keluarganya dapat berkumpul, berbincang, bahkan makan disatu meja yang sama.
Akhirnya baba bisa berada disini.
Tadi malam Luhan bermimpi aneh. Sangat aneh. Ia bertemu dengan anak kecil yang tidak ia kenal. Anak itu dengan berani menculiknya dan membantunya untuk datang ke latihan sepak bola. Luhan masih ingat, disana tubuhnya sangat kecil. Berarti itu saat ia masih kecil. Tapi siapa anak laki-laki itu?
Hanya bunga tidur.
Luhan baru saja akan memotong dagingnya namun ia hentikan saat ia mendengar babanya berdehem pelan. Ia segera mendongakkan kepalanya dan menatap babanya, menunggu beliau berbicara.
"Luhan-ah, bukankah ini sudah dekat? Baba ingin tahu, seperti apa hubunganmu dengan Oh Sehun. Apakah kalian–"
"Bisakah baba menunggu sebentar lagi? Kami sedang dalam masa beradaptasi." Jawab Luhan menyela. Meletakkan pisau makannya dan berbicara serius dengan babanya.
"Beradaptasi? Ini hampir satu bulan lamanya dan kalian belum memiliki ketertarikan satu sama lain?" Ibunya ikut bertanya. Merasa terkejut. Seperti yang ia lihat, anaknya sudah membuka jalan lebar untuk pria bermarga Oh itu. Tapi kenapa butuh waktu lebih lama lagi?
"Eomma, bahkan anakmu yang tampan ini sudah jatuh cinta dengan Oh–"
"Jiejie!" Luhan merengek. Ia menatap kesal kearah kakaknya yang sepertinya senang sekali menggodanya dengan embel-embel nama Sehun itu. Kemarin Luna tampak tidak suka dengan Sehun. Tapi entah dapat ilham darimana kakaknya itu tiba-tiba berubah haluan.
"Kau bisa mengadopsi anak setelahnya." Babanya tersenyum tulus kearah Luhan. "Kau– benar-benar berubah dalam waktu hampir satu bulan ini."
Luhan mengerutkan keningnya bingung. "Berubah apanya? Ini masih Luhan baba yang tampan. Aku tidak berubah sama sekali."
Kini Luhan merasa ia tengah melawak saja. Baba, ibu dan juga kakaknya kini menertawakannya. Apa ada yang lucu? Luhan benar kan? Ia masih Luhan yang sama. Luhan yang tampan tentu saja.
"Bukan penampilanmu sayang. Tapi kepribadianmu. Kau menjadi lebih manis dan tidak urakan seperti dulu. Baba menyukai itu."
Sial, kenapa ia tiba-tiba teringat dengan Oh Sehun saat ini?
Benar-benar. Luhan benar-benar jengah menampik perasaan ini. Ia sudah ratusan kali menggumamkan bahwa ia tidak merindukan Sehun. Tapi disetiap tarikan nafasnya seolah-olah pikirannya melayang jauh. Menerawang sosok Oh Sehun diseberang sana.
Luhan pernah mendengar bahwa karma benar-benar berlaku didunia ini. Apakah perasaan perduli terhadap Sehun ini adalah bagian dari karma? Apa karena dulu Luhan selalu memaki Sehun, makanya ia malah menyukai Sehun seperti ini?
Sadarlah Luhan. Kalian menikah bahkan hanya tuntutan keluarga. Itu memalukan sekali saat kau seorang pria namun kau harus berada dialtar bersama pria lain dan parahnya menjadi satu atap setelahnya. Apa tidak terdengar menjijikan?
Dan apa tadi yang babanya pikirkan? Mengadopsi anak? Membayangkan hidup bersama Oh Sehun saja membuat Luhan pusing setengah mati dan sekarang ia akan memikirkan tentang anak? Mau dipanggil apa dia kelak oleh anaknya? Appa? Baba? Daddy? Lalu siapa yang menjadi ibunya? Sehun? Bahkan sialnya Oh Sehun si serigala licik itu lebih sempurna segala-galanya dari Luhan.
"Aigoo. Benar-benar kasihan sekali." Luhan menggumam pelan. Ia kembali meraih pisau makannya dan memotong bagian demi bagian dagingnya. Ia baru saja akan menyuapkan potongan ketiga, namun suara bel mengintrupsi kegiatannya.
"Biar aku yang menemui tamu didepan."
Luhan dengan sigap beranjak dari tempat duduknya dan segera berjalan menuju ruang tamu. Pasti maid nya akan mengijinkan orang itu masuk saat mereka mengenal mereka sebagai tamu itu dekat Luhan maupun keluarganya.
"Luhan hyung!" Pekikan nyaring langsung saja melewati gendang telinga Luhan yang membuat Luhan merengut kesal. Sepagi ini ia harus dihadiahi teriakan cempreng dari adiknya. Byun Baekhyun sialan yang sayangnya amat imut ini.
Luhan tersenyum. Ia berjalan mendekati Baekhyun dan mengusak singkat rambut hitam Baekhyun. "Ada apa pagi-pagi kau datang kerumahku? Ingin minta sarapan?"
"Ya! Memang kau pikir aku kesini hanya ingin minta makan saja ya? Aku ingin berkunjung hyung." Baekhyun berkata sambil mengerucutkan bibirnya imut.
Dengan bercanda, Luhan mengecup bibir adiknya itu dan setelahnya tertawa menggoda melihat reaksi berlebihan dari Baekhyun yang saat ini tengah memerah malu.
"Ya! Kau mana bisa menciumku hyung!" Baekhyun bersungut. Menghapus jejak bibir Luhan dibibirnya dengan mengelapnya pada punggung tangan berkali-kali.
"Jangan berlebihan. Aku bukan penyebar rabies. Sudahlah ayo masuk." Luhan mengambil lengan kanan Baekhyun dan menuntunnya. Membawa pria mungil itu masuk menuju ruang makan keluarganya.
Saat mereka telah sampai diruang makan, Baekhyun tiba-tiba melepas pegangannya pada tangan Luhan dan berlari mendekat kearah babanya dan dengan riang memeluk babanya.
"Xi Boxian rupanya. Kau kemana saja nak? Aku tidak pernah melihatmu bermain kemari." Babanya menepuk Baekhyun saat pelukan mereka terlepas. Baekhyun memposisikan dirinya dikursi tepat disebelah Luhan.
"Sebenarnya aku ingin sekali kemari. Tapi kakakku yang tampan ini selalu tidak ada dirumah." Baekhyun menggeleng prihatin, gerakan yang benar-benar dibuat-buatnya. "Luhan ge jarang sekali berada dirumah dan berkencan dengan seorang gadis dikampus. Aku benar-benar–"
"Siapa wanita yang kau kencani Xi Luhan?" Babanya menyela marah. Walaupun mungkin saat kau mendengar baba Luhan bicara, beliau menempatkan suara setenang mungkin disana.
"Aku– aku tidak berkencan dengan siapapun baba." Luhan mengernyitkan dahinya. Gadis mana yang Baekhyun katakan? Memang ia pernah melihat Luhan berkencan kembali dengan wanita akhir-akhir ini?
Bae Joohyun.
"Lalu siapa yang Boxian sebut dengan gadis itu?" Babanya tampan menghela nafas. Meletakkan garpu dan sendok makannya disisi piring dan menatap tajam kearah Luhan.
"Itu– dia kenalan Sehun. Kebetulan karena pertemuan itu aku jadi mengenalnya. Dan aku sedang tidak berkencan dengannya baba, demi Tuhan." Luhan berbicara dengan wajah memelas dan nada gugup. Bagaimana bisa Baekhyun ini asal bicara didepan babanya? Sial.
"Jangan bergurau. Baba sudah tekankan padamu kalau jangan mengencani gadis manapun lagi. Kau akan segera menikah dengan Sehun dan kau–"
"Baba!" Luhan menyela tajam. Ia tahu ini tidak sopan. Tapi si Baekhyun mungil tidak tahu menahu tentang pernikahan rahasia ini. Jadi Luhan harap babanya tidak melanjutkan perdebatan paginya disini. Didepan Baekhyun.
"Kau– apa? Kau akan menikah?"
.
.
.
Suara gemericik air menyapa indra pendengaran Luhan maupun Baekhyun. Tadi saat diruang makan, mereka hampir saja bertengkar karena yeah Baekhyun tidak terima kalau Luhan hyungnya bahkan akan menikah dan dia tidak tahu akan hal ini? Apa Luhan telah melupakan Baekhyun?
"Aku tidak mengerti," Baekhyun bersuara. Menendang udara kosong dikakinya dan matanya menatap lurus air mancur didepannya. "Kau akan menikah dan tidak bilang apa-apa padaku? Keterlaluan."
Jujur, Luhan bahkan belum memiliki seribu satu alasan untuk menjelaskan perihal pernikahan dadakannya dengan Oh Sehun. Dan bagaimana Luhan dapat menghadapi Baekhyun?
"Mian," Luhan mendengus. Semua telah terbongkar sudah. "Aku ingin memberitahumu nanti saat aku siap. Tapi– sepertinya aku harus menjelaskan padamu hari ini."
Baekhyun dengan segera menoleh kearah kiri, kearah Luhan. "Mari jelaskan. Jangan membuatku menunggu." Ujarnya dengan tatapan kecewa disana.
"Aku– keluargaku memiliki sebuah perjanjian dengan keluarga Oh, mungkin kau pernah lihat pria yang beberapa waktu lalu terus menggangguku di kantin? Itu si anak bungsu Oh bernama Oh Sehun." Jelas Luhan. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum menjelaskan pada Baekhyun secara rinci nantinya. Ia juga menunggu respon Baekhyun saat ini.
"Aku bertanya tentang pernikahan dan kenapa kau memberitahuku tentang silsilah keluarga? Aku tidak perduli." Rajuk Baekhyun sambil memajukan bibirnya kesal. "Bicaralah yang jelas. Otakku tidak secerdas kau, asal kau tahu."
Luhan terkekeh sesaat dan menjelaskan kembali. "Oh Sehun. Pria itu adalah calon suamiku nanti. Kami akan menikah di Amerika dan yeah menjadi sepasang suami dan suami mungkin."
"Omo!" Baekhyun menutup mulut mungilnya dengan tangan. "Kau– apa? Kau tidak gay kan hyung? Kenapa–"
Luhan segera menjeda respon Baekhyun dan sebelumnya mendesah lelah. "Aku– aku tidak tahu Baekhyun-ah. Tapi aku terus berpikir, sepertinya aku mampu menjadi gay hanya untuknya. Dan fakta terbaru itu benar-benar menggangguku."
"Jangan bilang kau menyukainya? Oh ayolah, kemana Luhan hyungku yang selalu meninju pria manapun yang menyentuhnya?" Baekhyun menyindir. Ia ingat sekali, Luhan sering membuat babak belur beberapa orang yang hanya mencoba memeluk pundaknya atau mencoba menggandeng tangannya. Dan sekarang ia menemukan fakta baru bahwa Luhan akan menikah dengan seorang pria? Apa Baekhyun salah dengar?
Baekhyun benar-benar membuat Luhan menghela nafas berkali-kali.
"Aku tahu Baekhyun-ah. Aku paham. Tapi ini berbeda. Dia selalu menggangguku. Mengganggu kehidupanku bahkan mengganggu pikiranku. Selalu datang disaat yang tidak terduga. Memberikan sinar cinta dimatanya seakan-akan dia telah menyukai sosokku sejak lama. Dan apa yang harus kau lakukan saat kau mengetahui bahwa kau telah terjebak jauh disana? Terjebak dalam pesona seseorang yang lebih payahnya lagi seorang pria. Aku muak Baekhyun. Tapi aku tidak bisa berbohong kalau aku–" Luhan mengusap wajahnya kasar. Menerawang. Membayangkan senyuman manis Sehun dipikirannya. "Aku mulai menyukainya."
"Bravo. Bahkan sang pelindung kita menjadi sosok yang ingin dilindungi saat ini. Daebak." Baekhyun tersenyum paksa. Baekhyun masih sangat ingat ia pernah bilang kalau ia adalah orang pertama yang akan memberi ucapan selamat saat ia mengetahui kalau Luhan dan pria yang baru ia ketahui namanya sebagai Oh Sehun berkencan. Tapi itu hanya candaan seorang teman. Ia bahkan tidak sampai memikirkan kalau sampai ucapannya menjadi kenyataan.
"Kau boleh pulang Baekhyun-ah. Aku tahu kau jijik padaku. Aku selalu mempermainkan wanita dulu dan– astaga tidakkah aku terlihat memalukan sekarang? Aku jatuh pada seorang pria."
Baekhyun menggeleng pelan. Ia merapatkan duduknya pada Luhan. Merangkul bahu Luhan dan setengah memeluknya. Menghela nafas pelan. Ada kesan lega disana. Lega karena Luhannya bahkan telah berubah dari pribadi yang tidak menyenangkan menjadi pribadi yang rapuh dan butuh perlindungan. Baekhyun tahu seperti inilah sisi Luhan yang sebenarnya.
"Kau boleh memilih hyung. Kau memiliki kendali atas hidupmu, bukan orang lain. Apalagi aku. Aku akan mendukung semua keputusanmu. Apapun yang kau lakukan, aku tahu bahwa kau bahkan lebih tahu apakah hal itu baik untukmu atau tidak." Baekhyun terkekeh. Tampak senang juga miris. "Selamat hyung. Aku doakan semoga kau bahagia."
Dengan segera Luhan melepaskan pelukannya dan menatap Baekhyun dalam. Apa adiknya ini benar-benar tidak jijik padanya? Dia seorang gay yang dulunya adalah seorang playboy dan adiknya ini malah memberi selamat beserta doa? Apa adiknya ini tidak waras?
"Kau– kau tidak jijik padaku?" Luhan mengernyit heran.
"Untuk apa aku jijik? Aku tahu perasaanmu. Aku tahu saat ada seseorang yang selalu mengganggumu dan setelahnya kau merasa bahwa ia memang takdirmu. Aku tahu itu. Karena aku–"
Luhan kembali mengernyit. "Karena kau?"
"Gwenchana. Aku sudah selesai mendengar penjelasanmu. Bisakah kita pergi keluar? Ada beberapa keperluan yang ingin aku beli dan aku butuh saranmu hyung." Baekhyun tersenyum manis dan menarik lengan Luhan menuju garasi mobilnya.
Baekhyun aneh sekali. Kenapa dia seperti benar-benar mengerti bagaimana menjadi seorang gay. Aku saja belum paham.
.
.
.
Sebenarnya Sehun enggan untuk keluar rumah. Ia masih ingin dirumah bersama keponakanya, Daehan. Anak lucu itu benar-benar menghibur Sehun saat sedang suntuk. Terlebih lagi wajahnya benar-benar refleksi dari Luhan. Dia jadi tidak bosan berlama-lama bersama Daehan.
Tapi kondisi dan suasana rumah sedang tidak baik untuknya. Mungkin ia bisa mengajak Daehan keluar namun ia urungkan saat ia mengingat bahwa ia juga harus membawa serta ibunya –kakaknya- Oh Sena. Dan itu sukses membuat Sehun tidak berniat untuk ditemani siapapun hari ini.
Ini hari minggu dan kondisi jalanan membuat Sehun cukup lega. Setidaknya saat ia sedang suntuk, ia tidak harus menarik urat karena makian para pengendara baik mobil maupun motor yang bersahutan saat sedang macet. Dan Sehun bersyukur akan hal itu.
Mungkin hari ini Sehun akan rileks. Makan diluar misalnya. Atau berkaraoke?
Astaga aku benar-benar seperti orang kesepian pergi ketempat itu sendiri.
Karena pilihan kedua dirasa tidak mungkin, jadi ia akan memilih makan diluar. Tapi Sehun merasa belum terlalu lapar saat ini. Apa dia harus menepikan mobil dan turun dari sana. Selanjutnya ia akan berjalan kaki mencari restoran yang mungkin belum pernah didatanginya?
"Ide yang bagus Oh Sehun. Kau bahkan tidak pernah berjalan kaki. Dasar payah."
Sehun menepikan mobilnya. Ia mengunci ganda mobilnya dengan teliti tanpa satupun terlewat. Ia sih bisa saja membeli yang baru saat mobil ini hilang tapi kan tetap saja itu uang dan Sehun tidak memiliki nyali untuk itu.
Ini sudah cukup lama untuk Sehun tidak menjamah sepanjang kota Seoul. Ia memang cukup sibuk dengan pekerjaannya. Bisa dibilang ia hanya pergi kekantor, pulang lagi kerumah, ke apartement Seungcheol terkadang dan kekampus Luhan.
Astaga aku merindukan Luhan.
Sehun tiba-tiba merasa bahwa jantungnya berdetak lebih cepat kali ini. Ia tidak yakin akan hal itu tapi dia takut. Takut kalau sesuatu menimpa dirinya bahkan lebih parahnya menimpa Luhan.
Apa Luhan baik-baik saja?
Dengan cepat Sehun berjalan, meneliti satu persatu restoran dan pertokoan dipinggir jalan. Sesekali berhenti saat melihat sesuatu yang menarik. Terkadang berpikir apa ia harus memberli barang itu atau tidak. Tapi setelahnya ia akan memilih tidak karena ia memiliki yang lebih baik dirumah dan berjalan kembali sampai ia menemukan sebuah restoran khas China. Ia bisa mencium masakan China disana. Dan lagi-lagi ia mengingat Luhan.
Luhan pasti akan senang saat aku mengajaknya kemari.
"Kajja."
Sehun membuka dengan perlahan pintu kaca restoran tersebut dan disambut hangat oleh gadis bermata sipit bername tag Soohyun itu. Sehun membungkuk sekilas dan setelahnya gadis bermata sipit itu mengantarnya kesebuah meja berwarna merah yang letaknya agak disudut.
Buku menu telah tersedia disana. Ia menunjuk-nunjuk makanan yang kiranya bisa ia makan dan tidak ia sisakan nantinya. Sehun menyebutkan beberapa makanan beserta minuman yang akan ia pesan dan ia bungkus untuk Daehan dan juga– kakaknya.
Hampir tujuh belas menit Sehun menunggu pelayan bermata sipit itu mengantarkan pesanannya dan inilah dia, Sehun bisa menyantap makanannya sekarang juga.
"Baiklah. Selamat makan" Ujar Sehun bersemangat. Ia selalu bersemangat saat ia melakukan hal yang bisa mengingatkannya pada Luhan.
"Andai Luhan disini. Itu akan lebih membahagiakan untukku." Sehun tanpa sadar bergumam. Ia tersenyum kecut dan setelahnya ia fokus pada beberapa makanan dimejanya yang siap untuk mengisi perut Sehun hari ini.
Krincing–
Sebelumnya Sehun bukan orang yang ingin tahu seperti apa wujud manusia –pelanggan- yang baru datang disetiap restoran. Tapi untuk kali ini entah kenapa Sehun penasaran. Bahkan ia hampir menjatuhkan sumpitnya karena ia benar-benar ingin melihat pelanggan yang datang.
"Lu– Luhan?" Sehun membelalakkan matanya. Ia terkejut. Ini benar-benar kejutan yang menyenangkan untuknya. Sudah beberapa hari ini Sehun tidak melihat wajah Luhan dan sekarang Tuhan mempertemukan mereka.
Tidak salah aku memilih restoran ini untuk tempat singgah.
Sehun dengan gugup melanjutkan makannya. Ia sibuk menoleh kesana kemari guna membuat Luhan tidak menyadari kehadirannya saat ini. Setidaknya Luhan harus memesan beberapa makanan dan saat itu baru Sehun akan muncul. Apabila ia muncul saat Luhan sedang memesan makanan, ada kemungkinan Luhan tidak jadi memesan dan akhirnya kabur dari sana.
"Luhan hyung, kau ingin memesan apa?"
"Apa saja. Aku ikut pesananmu Baek."
Kenapa ia pergi dengan manusia pendek itu? Siapa pria itu? Teman Luhan?
"Ah, Byun Baekhyun. Pria yang saat itu menjaga Luhan yang sedang pingsan. Aku mengingat dia rupanya." Monolog Sehun.
Ia tidak mengira bahwa ia bisa makan dengan secepat ini. Dan sebagian makanan ia gabungkan dengan pesanan yang akan ia bungkus dan ia bawa pulang. Akan memakan waktu lama apabila ia harus menghabiskan semuanya. Ia takut malah Luhan yang lebih dulu selesai nantinya.
"Ingin menemaniku ke panti asuhan, Baekhyun-ah?"
"Tentu. Aku bisa meneliti anak mana yang cocok dengan karaktermu."
Sehun sempat mengangkat alisnya bingung. Panti asuhan? Luhan ingin mengadopsi anak atau bagaimana? Tapi untuk apa mengadopsi–
"Apa Luhan sudah yakin ingin menikah denganku?" Tanya Sehun lebih kepada pertanyaan bodoh yang akan dijawab oleh dirinya sendiri.
"Aku tidak mengerti. Memang kalau menikah sesama pria harus memiliki anak juga ya? Aku dan Sehun kan sibuk. Bagaimana bisa anak itu terurus."
"Kalau Sehun yang menjadi suamimu, kau yakin dia masih akan mengijinkanmu bekerja setelah kau lulus kuliah? Sehun memiliki aura yang mengerikan dan sepertinya kau akan menjadi ibu rumah tangga dan– aww appo hyung."
"Jaga bicaramu Baekhyun. Aku masih pria dan sampai kapanpun tidak akan sudi dipanggil ibu."
Astaga apa ini? Jadi benar mereka berdua tengah membicarakan anak untuknya dan Luhan nanti? Apa ada yang lebih membahagiakan dari ini? Ia dan Luhan akan menikah dan mengadopsi seorang anak?
Luhan benar-benar menyembunyikan ini dariku? Dasar rusa kecil.
Sehun seketika tersenyum. Ia benar-benar senang mengetahui bahwa setidaknya Luhan benar-benar yakin akan menikah dengan Sehun walaupun yeah ia juga tidak tahu apakah Luhan sudah menyukainya atau belum. Yang terpenting sekarang adalah mereka akan memiliki hubungan yang lebih serius nanti.
Niat Sehun untuk muncul sepertinya tercancel. Ia akan muncul nanti setelah ia mengikuti kemana Luhan dan Baekhyun pergi.
.
.
.
Setelah menemani Baekhyun untu membeli perlengkapan melukis, Baekhyun mengajak Luhan untuk makan siang bersama. Dan Baekhyun mengajaknya ke sebuah restoran China yang dari jauh saja aroma masakannya sudah tercium di hidungnya. Benar-benar lezat.
"Kita akan makan banyak hari ini. Kau harus makan yang banyak agar badanmu lebih berisi dihari pernikahan nanti hyung." Baekhyun terkekeh. Ia jadi senang menggoda Luhan dengan embel-embel menikah. Karena ia dapat melihat secara cuma-cuma rona samar dipipi putih Luhan yang bisa Baekhyun hitung– tidak pernah. Ia tidak pernah melihat Luhan merona seperti sekarang ini.
"Luhan hyung, kau ingin memesan apa?" Tanya Baekhyun sambil membolak-balikkan buku menu ditangannya. Banyak sekali makanan yang ingin ia cicipi tapi kembali lagi kedalam perut Baekhyun. Apa ia sanggup menghabiskan makanan itu nantinya?
"Apa saja. Aku ikut pesananmu Baek." Luhan tersenyum sambil sesekali menoleh kekanan dan kekiri. Melihat dekorasi restoran China ini. Seperti kembali kemasa lalu saat ia masih berada di Beijing.
Beijing.
Seketika Luhan merengut. Ia menghela nafas jengah. Kenapa disaat seperti ini ia harus mengingat tanah kelahirannya? Memang tanah kelahiran, tapi disana juga ia menemukan kejadian menyesakkan untuknya.
Luhan segera mengalihkan pikirannya pada sosok kecil yang baru saja masuk kedalam restoran bersama ayah dan ibunya. Nampak lucu dan sempurna saat tangan kecil itu bertautan dengan tangan besar sang ayah. Pasti anak itu sangat bahagia. Ia dapat melihat senyum manis terpatri dibibir anak kecil yang Luhan prediksi berumur empat atau lima tahun itu.
Dari dulu ia ingin sekali memiliki seorang adik laki-laki. Ia tidak perduli apakah adik laki-lakinya masih seumur bayi ataupun terpaut satu tahun darinya yang penting ia butuh teman pria. Tapi Tuhan malah mengirim malaikat sadis seperti Luna dirumahnya. Walaupun yeah Luna bisa dikatakan seperti pria saat sedang bersama Luhan. Tapi tetap saja ia bukan pria yang sesungguhnya.
Melihat sosok anak tadi, Luhan jadi teringat pembicaraannya dengan baba dirumah saat sarapan pagi tadi dan percakapannya dengan Baekhyun dimana tiba-tiba Baekhyub berseru 'aku tidak mau tahu. aku yang akan mencari anak adopsi untukmu dan Sehun.'
Apa memang perlu ia mencari anak adopsi sekarang? Pernikahan mereka tidak dilandasi oleh perasaan saling suka satu sama lain. Tapi Luhan memang sangat ingin bermain dengan seorang bocah laki-laki.
Ia mungkin bisa saja datang kerumah Sehun dan mencari Daehan untuk bahan hiburan. Tapi sungguh Luhan tidak ingin melihat muka masam Sehun lagi. Bisa-bisa Sehun tidak tersenyum nanti saat di altar.
Altar?
"Astaga. Apa yang aku pikirkan." Gumam Luhan seperti berbisik. Ia tahu bahwa Baekhyun tidak akan mendengarnya. Anak itu sudah sangat sibuk dengan makanannya yang baru saja tersaji didepan mereka.
"Ingin menemaniku ke panti asuhan, Baekhyun-ah?" Ujar Luhan tiba-tiba. Bahkan Baekhyun hampir tersedak karenanya.
Baekhyun memandang Luhan bingung. Ia bingung kenapa tiba-tiba Luhan ingin datang ke panti asuhan bersamanya. Ia membuat tatapan 'maksudmu?' namun Luhan tak membalasnya. Sampai ia baru paham bahwa saat dimobil tadi, mereka membicarakan anak adopsi.
Oh jadi itu maksud Luhan hyung. Baiklah ha-ha.
"Tentu. Aku bisa meneliti anak mana yang cocok dengan karaktermu." Jawab Baekhyun sambil tersenyum manis. Ia benar-benar tidak sabar bertemu dengan anak-anak itu dan mencari yang cocok untuk Luhan.
"Tidak perlu berlebihan dan hanya memilih satu." Sungut Luhan. Ini hanya sebuah formalitas untuknya dan Sehun. Jadi kenapa Baekhyun seakan-akan sangat ribut sekali seperti memilih jenis pakaian.
"Aku tidak mengerti. Memang kalau menikah sesama pria harus memiliki anak juga ya? Aku dan Sehun kan sibuk. Bagaimana bisa anak itu terurus."
Luhan baru ingat kalau ia bahkan belum menyelesaikan kuliahnya dan Sehun? Jangan tanyakan anak itu. Pria itu sangat sibuk dengan beberapa kertasnya bahkan saat dirumah. Jadi bagaimana ia bisa mengurus anaknya dan –ehemm- Sehun.
"Kalau Sehun yang menjadi suamimu, kau yakin dia masih akan mengijinkanmu bekerja setelah kau lulus kuliah? Sehun memiliki aura yang mengerikan dan sepertinya kau akan menjadi ibu rumah tangga dan– aww appo hyung."
"Jaga bicaramu Baekhyun. Aku masih pria dan sampai kapanpun tidak akan sudi dipanggil ibu." Luhan memukul dengan sadis kepala mungil Baekhyun dan mendelik tajam. Baekhyun itu kalau memiliki mulut tidak pernah dijaga. Benar-benar.
Kalau saja Sehun tahu ia dan Baekhyun tengah berbicara tentang anak adopsi seperti sekarang ini, pasti bocah albino itu akan tertawa terbahak didepannya. Dan benar-benar ia akan kehilangan harga dirinya.
"Bisa aku membungkus beberapa makanan lagi untuk anak panti?"
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Yuhuu miane miane hajima kalo momen hunhannya lamaaaaa banget terwujud hikss. Terlalu banyak konflik sepertinya. Semoga aja aku bisa menyelesaikan semua konfliknya dan hunhan bisa nikah dengan tenang dan damai(?)
Btw double updated nih hehe sengaja aku sekalian bikin dua chap biar ga gantung dan bikin kalian geregetan hahah
Yoweslahh review ya chingu : )
