I Think I Love You

Cast:

Oh Sehun

Luhan

-HunHan-

Rated:

T = Tentukan sendiri(?)

Genre:

Romance, Family, Boys Love –Shounen ai-

.

.

.

.

Kata orang, dunia ini sempit. Kalau kau bertanya itu benar atau tidak pada Luhan, pasti ia akan bilang "Itu hanya teori bodoh!" Tapi setelah ia bertemu dengan sosok Sehun, Luhan yakin ia bisa menjelaskan sesempit apa dunia ini.

.

.

.

.

.

.

Baekhyun dan Luhan tiba disebuah panti besar setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam lamanya. Dan beruntung jalanan tidak macet. Kalau macet, Luhan tidak tahu berapa lama ia harus mengorbankan bokongnya dijok mobil Baekhyun.

"Selamat datang tuan dan nona." Seorang wanita paruh baya membungkukkan badannya sekilas dan tersenyum cerah menyapa Luhan dan juga Baekhyun.

Nona? Sialan.

"Kami– bisakah kami bertemu dengan anak panti?" Luhan bertanya dengan nada gugup. Tapi wanita itu malah tersenyum ramah dan mengangguk.

Wanita itu menuntun mereka kepada sebuah taman yang disana banyak sekali anak panti tengah bermain. Kebanyakan dari mereka adalah anak perempuan dan beberapa anak laki-laki yang kini Luhan dapat melihat bahwa mereka bahagia disini.

"Aku benar-benar membutuhkan seorang adik." Gumam Luhan pelan. Ia lalu menoleh kearah wanita paruh baya disampingnya. "Ahjumma, aku dan temanku membawa beberapa makanan. Mungkin bisa dihangatkan untuk makan malam anak-anak itu."

Ahjumma itu kembali tersenyum dan mengambil beberapa bungkusan makanan yang tadi disodorkan Luhan. "Terimakasih nona. Anak-anak pasti senang ada yang memperhatikan mereka," Ahjumma itu kembali tersenyum menghadap beberapa anak yang kini tengah bermain sepak bola disana. "Apa ingin saya temani? Atau nona dan teman nona ingin berjalan-jalan disini?"

Luhan sebenarnya ingin sekali memaki. Sayangnya wanita disampingnya adalah wanita tua dan Luhan belum cukup gila untuk durhaka kepada wanita tua yang bahkan baru dikenalnya.

"Kami akan berjalan-jalan sebentar. Dan ahjumma, saya pria bukan wanita. Jadi– bisakah anda tidak memanggil saya nona. Itu– membuat saya tidak nyaman." Kata Luhan sambil tersenyum canggung. Terlihat wanita tua itu terkejut dan sempat meneliti penampilan Luhan dari atas sampai bawah. Setelahnya wanita itu mengangguk, meninggalkan mereka berdua disana.

"Baekhyun-ah, aku akan kesana sebentar. Kau tunggulah disini atau mungkin kau juga ingin melihat-lihat?" Tanya Luhan.

"Aku akan melihat-lihat nanti hyung. Kau, pergilah. Aku akan menunggu."

Luhan mulai menelusuri beberapa tempat didalam panti ini. Ternyata masih banyak anak-anak didalam gedung. Luhan pikir yang ada ditaman itu adalah keseluruhan anak-anak panti. Tapi ternyata masih banyak lagi.

Beberapa dari mereka terlihat berbakat. Ia melihat tiga orang gadis kecil kira-kira berumur tujuh atau delapan tahun tengah menari diruang tari. Dan gerakan mereka sungguh lincah sekali.

"Mereka bisa mengganti posisi snsd saat dewasa nanti." Kekeh Luhan samar.

Ia berjalan kembali menuju ruangan yang lainnya. Ada lima atau enam anak laki-laki dan dua orang anak perempuan yang tengah menyamakan nada dan setelahnya bernyanyi dengan suara yang begitu lembut dipendengaran Luhan.

"Jadi ini ruang musik ya." Luhan tersenyum. Mengingat bahwa rumahnya saat di Beijing juga memiliki ruangan musik seperti ini.

"Haowen, ayolah bermain. Kau mau sampai kapan disana?"

Mendengar sebuah suara kecil, Luhanpun menoleh dan melihat dua orang anak laki-laki. Laki-laki dengan baju hitam yang tengah duduk dikursi dan anak laki-laki berbaju merah tengah berdiri, sambil menarik-narik tangan anak berbaju hitam. Sepertinya anak berbaju merah tengah mengajak anak berbaju hitam untuk bermain dan kenyataannya anak berbaju hitam itu tidak bergerak barang se inchipun.

Anak yang menarik..

Luhan berjalan mendekat kearah dua orang anak laki-laki itu. Namun laki-laki berbaju merah itu lebih dulu pergi saat dirasa bahwa ajakannya tidak diindahkan oleh anak berbaju hitam.

"Sudahlah. Aku bosan mengajakmu bermain. Kau tidak pernah ingin bergabung Haowen-ah."

Kini Luhan tepat berada dibelakang anak berbaju hitam yang Luhan ketahui bernama Haowen itu. Ia memandang lurus kedepan sambil mengeratkan pegangan tangannya pada besi kursi taman.

"Masa kecil seperti ini adalah masa kecil yang aku inginkan." Luhan membuka suaranya. Dengan spontan anak berbaju hitam itu pun menoleh kearah belakang. Tepat kearah Luhan yang kini balik memandangnya sambil tersenyum.

Dengan cepat, Luhan duduk disamping kiri anak bernama Haowen itu. "Kau kenapa tidak mau bermain bersama mereka? Lihat mereka menginginkanmu masuk kedalam team."

"Hm." Anak kecil itu hanya menggumam dan membuat Luhan tersenyum maklum. Anak ini benar-benar pendiam.

"Kau tahu. Aku sangat ingin bermain bola dengan bebas sama seperti teman-temanmu disana. Tapi– aku tidak bisa. Dulu baba adalah orang yang pemaksa dan menuntutku ini itu. Sampai aku harus berhenti." Kata Luhan bercerita. Menerawang saat ia masih kecil. "Sampai pada akhirnya– ada seorang anak laki-laki kecil yang selalu mengajakku diam-diam bermain bola. Aku benar-benar lupa siapa dia. Tapi aku benar-benar berterimakasih padanya."

"Sudah kuduga gadis sepertimu tidak akan boleh bermain bola." Gumam Haowen pelan namun salahkan telinga tajam Luhan yang dapat mendengar gumaman Haowen yang malah membuat ia emosi.

"Aku pria. Jaga bicaramu bocah." Luhan mendengus kasar. Bisa-bisanya anak kecil ini kurang ajar padanya. Astaga benar-benar.

Sabar Luhan. Kau harus sabar oke.

"Kau– apa kau tidak merindukan orang tuamu?" Kata Luhan membuka topik baru. Ia melihat wajah anak itu berubah lebih datar dari sebelumnya. Persis seperti–

Anak ini titisan Sehun atau bagaimana?

"Mereka tidak menginginkanku. Jadi apa alasanku untuk merindukan mereka." Jawab Haowen. Dan Luhan bersyukur bahwa anak ini dapat membuka suaranya juga.

"Mereka hanya belum siap. Bukan tidak menginginkanmu Haowen-ah." Ujar Luhan sambil mengusap puncak kepala anak kecil disampingnya itu. Anak itu bahkan memiliki jawaban yang kelewat dewasa. Sebenarnya apa yang orang tuanya lakukan pada anak ini?

"Apa kau ingin keluarga baru?"

Haowen segera menoleh, menatap Luhan bingung sambil menaikkan alis kirinya. Nampak mencerna pertanyaan Luhan tadi.

"Apa maksudmu?"

"Oho! Berbicaralah dengan benar pada orang yang lebih tua darimu Haowen-ah." Kata Luhan sambil mengusak rambut Haowen pelan. "Aku bisa memberikan itu. Aku bisa menggantikan posisi ayahmu."

Haowen terlihat memutar bola matanya malas dan setelahnya menatap lurus kearah pohon-pohon didepan mereka berdua. "Aku sudah senang tinggal disini."

Sepertinya Luhan memang harus mengendalikan emosinya. Anak disampingnya ini benar-benar mirip dengan Sehun. Sangat mirip malahan. Wajahnya, cara dia memandang, cara bicaranya, semuanya benar-benar mengingatkan Luhan akan Sehun. Oh Sehun.

Oke Luhan, sepertinya kau merindukan anak itu.

"Kami berdua bisa menggantikan posisi kedua orang tuamu, anak kecil berbaju hitam."

Luhan tersentak. Ia dapat merasakan pundaknya memberat. Sepasang tangan tengah menumpu dipundaknya. Meremasnya pelan. Ia dengan cepat menoleh kebelakang begitu juga dengan Haowen yang nampaknya juga terkejut.

"Se– Sehun? Kenapa kau bisa disini?" Luhan gugup. Astaga anak ini kenapa tiba-tiba bisa muncul disini?

Jantungku mau meledak Tuhan.

Sehun mencuri sebuah ciuman dibibir Luhan dan setelahnya tersenyum cerah. "Kau ingin memiliki anak seperti dia? Kau tidak cukup puas denganku?" Kekeh Sehun jahil. Sehun juga terkejut saat melihat lebih dekat wajah anak itu dan– astaga ia benar-benar seperti berada didepan cermin.

"Aku bisa jelaskan. Ini bukan–"

"Sstt– aku tahu kau ingin mengadopsi anak sayang. Kalau kau menyukainya, aku tidak apa-apa berbagi dengannya." Kata Sehun sambil pura-pura membuat wajah cemberut. Wajah cemburu lebih tepatnya.

"Adopsi anak apa? Aku tidak–" Lidah Luhan kelu. Pikiran yang sedari tadi bersarang diotaknya ternyata menjadi kenyataan. Ia bertemu Sehun disini dan astaga Luhan malu sekarang.

"Kau iya. Jadi siapa namamu, bocah kecil?" Tanya Sehun mencoba ramah kepada anak yang kini tengah memandangnya aneh dan setelahnya ia memandang Luhan bergantian.

"Haowen." Jawabnya singkat dan memalingkan wajahnya.

"Kau tampan. Suamiku menyukaimu."

Haowen kembali menoleh dan menatap tak suka kearah Sehun. "Kalian pria mana bisa menjadi sepasang suami istri."

Luhan menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. Ia lupa kalau Haowen itu adalah anak kecil yang dewasa sebelum waktunya. Pasti ia berpikir bahwa mereka berdua –Luhan dan Sehun- itu aneh saat ini.

"Kami– memang akan menikah Haowen-ah. Dan yeah kami sesama pria. Apa kau keberatan?" Luhan berusaha memecah masalah kali ini. Ia ingin tahu apa Haowen adalah anak yang tidak suka dengan pasangan sesama jenis seperti mereka atau tidak.

Kembali, Haowen memalingkan wajahnya. Menatap lurus kedepan. Luhan dapat melihat gurat kesedihan disana. Ada apa dengan anak ini?

"Ayah meninggalkan ibu demi seorang pria penggoda, oleh karena itu ibu meletakkanku disini. Dan aku benci dengan pasangan sesama jenis."

Satu jawaban itu membuat hati Luhan sesak seketika. Ia seperti ditampar dengan tangan tak kasat mata saat ini.

Luhan tersenyum kecut. Menatap Sehun sekilas dan setelahnya mengusap puncak kepala Haowen lembut. "Baiklah. Aku memang seharusnya tidak ada disini. Tapi– aku menyukaimu. Kuharap kau bisa merubah pikiran negatif itu dan aku bisa menjadikanmu anak setelah aku dan pria ini menikah."

"Luhan-ah." Sehun melihat wajah sedih Luhan. Pasti jawaban sekali sentak anak itu benar-benar melukai Luhannya. Dan Sehun benar-benar merasa bersalah sekarang.

"Gwenchana Sehun-ah. Kita bisa kemari lain waktu." Ujar Luhan sambil berdiri dari duduknya. Ia sempatkan untuk melihat sekilas kearah anak bernama Haowen itu dan tersenyum maklum. "Kalaupun aku tidak bisa mendapatkanmu, aku tidak apa tidak memiliki anak. Sehun-ah aku pulang sekarang. Permisi."

.

.

.

Sehun dapat melihat punggung sempit itu menegang. Pasti Luhan sangat terpukul saat mendapat kalimat pedas dari bocah kecil yang sekarang duduk disampingnya. Masih diam sambil memandang pohon rindang diseberang. Entah apa yang menarik disana.

"Hei, bocah. Berapa usiamu?" Sehun bertanya dengan nada santainya sambil meletakkan punggungnya disandaran kursi taman itu. Matanya ikut memandang pohon rindang didepannya.

"Sepuluh."

"Demi Tuhan aku benar-benar harus sabar. Kau benar-benar mirip denganku saat kecil. Kau itu kembaranku atau bagaimana?" Tanya Sehun sambil menampilkan wajah kesalnya. Bisa-bisanya ada bocah yang keangkuhannya melebihi dirinya. Sialan.

"Aku tidak sudi menjadi kembaranmu pak tua."

Benar-benar. Haowen ini kalau menjawab memang singkat tapi menyakitkan. Rasanya ia ingin menggigiti besi kursi taman saat ini daripada ia harus meninju bocah sepuluh tahun disampingnya ini.

"Baiklah anak muda," Sehun menjeda kalimatnya. Menatap sengit kearah Haowen. "Kau telah melukai perasaan bidadariku tadi. Kau harus minta maaf padanya."

"Memang aku salah?"

Cukup. Sehun segera menjitak kepala Haowen pelan. Benar-benar gemas dengan mulut kurang ajarnya itu. Haowen terlihat seperti adiknya saat ia berbicara santai seperti itu.

"Ahjussi! Kenapa kau menjitak kepalaku!" Tanya Haowen bersungut-sungut. Ia mengelus kasar kepalanya yang baru saja menjadi korban kekejaman pria disampingnya ini yang ia ketahui bernama Sehun.

"Oleh karena itu bicaralah dengan benar dan sopan. Kau ini tetap saja berbeda dua belas tahun dariku bocah."

Anak itu hanya bergumam pelan. Dan Sehun tidak sejeli itu untuk tahu apa yang Haowen gumamkan tadi. Tapi Sehun yakin anak itu memakinya mengingat anak itu memiliki watak keras kepala dan tidak sopan. Memang anak kurang ajar. Bisa-bisanya Luhan menyukai anak ini. Bisa-bisa Sehun lah yang akan menarik urat setiap hari karena tidak tahan dengannya.

"Dengar ya. Aku tidak akan menyerah. Aku akan mengajakmu bergabung dengan keluargaku sekeras kepala apapun dirimu," Sehun memperingatkan. "Luhan menyukaimu dan ingat– Luhan maupun aku bukan gay penggoda menjijikan yang sama seperti apa yang kau pikirkan. Aku dan Luhan berbeda dari ayahmu dan pria itu."

Sehun dengan ganas menendang batuan kecil dengan kakinya. Demi Luhan, ia akan memperjuangkan anak ini agar ia mau menjadi anak adopsi mereka. Seperti apapun itu, Sehun akan berusaha.

"Kau tahu. Akulah yang mengubah pria cantik tadi menjadi gay. Dia adalah seorang straight dan memiliki banyak kekasih cantik dulu sebelum kami diharuskan menikah." Ujar Sehun menjelaskan. Mengerti tidak mengerti, anak ini harus mengerti. Kalau tidak mengerti, Sehun akan memaksa anak itu untuk mengerti. Masa bodoh. Ia muak.

"Dan aku juga seorang straight yang pernah berkencan dengan wanita cantik," Kata Sehun pelan. "Tapi dia– dengan memandang dan mengingatnya dipikiranku. Aku seketika menjadi berubah haluan. Aku menjadi gay hanya untuknya dan tidak akan menjadi orang payah yang tergoda oleh pria gay lainnya. Aku tidak sepayah ayahmu."

"Ayahku memang payah."

"Kau menyadarinya ternyata. Ayahmu memang payah. Seharusnya ia tidak perlu menghamili ibumu. Kenapa ia harus repot-repot membuat anak kalau akhirnya–"

Bodoh. Kenapa kau memberikan pernyataan vulgar seperti ini Sehun.

"Pokoknya ayahmu payah." Lanjut Sehun.

"Dia ayahku dan kenapa jadi kau yang terlihat sangat marah? Kau ini aneh ahjussi." Haowen menggeleng pelan. Nampak jengah dengan kelakuan absurd pria disampingnya itu.

"Aku baru tahu seperti ini ya lelahnya ayah dan ibuku menjagaku sewaktu kecil."

.

.

.

Baekhyun tidak mengerti dengan ekspresi Luhan saat ini. Luhan hanya diam memandang jalanan selagi ia menyetir. Sedari tadi Baekhyun telah mencari topik yang sekiranya bisa ia jadikan bahan candaan dengan Luhan dimobil seperti biasa. Tapi Luhan bahkan enggan menoleh kearahnya dan hanya menggumam pelan untuk menjawab. Benar-benar aneh.

"Hyung, kau sudah memilih anak yang kau sukai? Ada banyak anak yang–"

"Apa menjadi gay semenjijikan itu?" Luhan tiba-tiba bertanya dengan suara bergetar. Seperti menahan tangisnya keluar.

Baekhyun mengernyitkan dahinya bingung. Mencari apa masalah yang tengah Luhan hadapi saat ini. "Maksudmu hyung?"

"Anak itu. Aku menyukainya entah kenapa. Mungkin karena ia mirip dengan Sehun. Sangat mirip Baekhyun-ah. Tapi–" Luhan menghela nafas sedih. "Anak itu memiliki trauma dengan seorang gay."

Baekhyun mengangguk mengerti. Jadi Luhan tidak terlihat dimanapun itu ternyata tengah berbincang dengan anak itu. Pantas saja Baekhyun sulit untuk menemukan hyungnya ini tadi.

"Kau hanya belum siap hyung. Kau hanya cukup berusaha saja."

"Sehun– Sehun ada disana tadi. Dan seharusnya dia juga tersinggung dengan pernyataan anak kecil tadi. Aku– aku merasa tidak enak dengannya." Ujar Luhan pelan. Ia jadi memikirkan perasaan pria itu. Bagaimana kalau anak kecil itu habis babak belur oleh Sehun?

Tidak mungkin!

"Sehun? Oh Sehun ada disana? Jadi pria yang tadi sekilas aku lihat benar dia ya." Baekhyun terkekeh pelan. "Dia juga pasti akan berjuang. Kalian akan berjuang. Tidakkah kau tahu, ia sangat sulit mendapatkanmu dan setelahnya apa? Dia dapat menaklukan hatimu saat ini." Baekhyun mengelus lengan kiri Luhan. "Itu juga berlaku pada anak keras kepala yang kau temui tadi. Kau dan Sehun bisa mendapatkannya. Percayalah padaku."

"Apa kau dan Chanyeol memiliki hubungan Baekhyun-ah?"

Pertanyaan Luhan sukses membuat Baekhyun tersentak. Bahkan ia hampir saja mengeremkan mendadak mobilnya tadi. Tapi untungnya ia masih bisa tenang setelahnya.

"Kenapa kau– membicarakan Park Chanyeol? Aku tidak berkencan dengannya hyung." Jawab Baekhyun jujur. Ia memang tidak berkencan dengan si Park itu kan? "Dan kenapa kau mengganti topik?"

"Apakah aku bertanya seperti itu? Aku hanya ingin tahu apakah kau memiliki hubungan dengan Park Chanyeol. Hubungan bukan hanya hubungan seperti teman kencan dan semacamnya tapi bisa hubungan bisnis atau hubungan keluarga." Kata Luhan sambil terkekeh pelan. Baekhyun dan Chanyeol pasti memiliki sesuatu dibelakangnya.

"Ah, ne. Maksudku aku tidak memiliki hubungan apapun hyung. Kami teman sekelas kan." Baekhyun menjawab dengan nada gugupnya. Ia sesekali melirik kearah Luhan. Memastikan bahwa hyungnya itu tidak curiga.

Tapi kenapa harus takut? Baekhyun dan Chanyeol memang tidak memiliki hubungan apapun kan selain teman sekelas?

"Baiklah. Tapi aku bingung saat sering melihat Chanyeol memandangimu diruang musik. Ternyata kalian hanya berteman ya. Syukurlah."

Baekhyun hanya merespon dengan kekehan canggung setelahnya.

.

.

.

Dokter sialan. Kenapa dokter itu datang disaat Luhan ingin pulang cepat hari ini? Mungkin lain halnya saat Yixing yang datang sebagai dokter jiwa. Tapi ini– Kim Seokjin. Dokter jiwa senior dirumah sakit yang sama dengan Yixing. Dan kurang ajarnya lagi adalah dia direkomendasikan oleh Yixing sendiri. Teman macam apa Yixing itu? Kenapa dia tidak mengabari Luhan dulu?

Jadilah sekarang mereka berbincang yang menurut Luhan sangat tidak penting sekali. Dokter ini menghabiskan hampir empat puluh menit waktunya yang berarti sekarang seharusnya ia telah sampai dipanti dan berbicara dengan anak itu, Haowen si duplikat Oh Sehun.

"Jadi apa kau akan bekerja dirumah sakit yang sama dengan Yixing, Luhan-ssi?" Seokjin bertanya dengan nada yang ramah sambil sesekali memutar gelas kopinya asal.

"Aku tidak tahu Seokjin-ssi. Aku belum memikirkannya." Jawab Luhan. Ia melihat jam digital yang melingkar ditangannya, dan ini sudah pukul empat sore. Ia tidak boleh terlambat apalagi terlalu malam sampai kepanti.

"Sayang sekali psikolog berbakat sepertimu tidak bekerja dirumah sakit terbaik di Seoul. Kau seharusnya–"

"Sayang, aku menunggu diparkiran sedari tadi."

Demi Tuhan bisakah Luhan tertawa keras saat ini? Sehun datang disaat yang sangat-sangat tepat sekali. Dan lihat itu. Lihat wajah kesal Seokjin, astaga lucu sekali dia. Dia tidak tahu ya sedari tadi Luhan bosan dengan segala ocehannya?

"Maaf sayang, aku memiliki sedikit masalah yang harus dibicarakan dengan Dokter Kim. Oleh karena itu aku agak tertahan disini." Jawab Luhan dengan senyuman mengembang dibibirnya.

Luhan dengan segera berdiri dari kursinya dan menyambut pelukan Sehun untuknya.

"Aku hampir mati bosan menunggumu." Rajuk Sehun dengan wajah cemberut yang dibuat-buat.

Anak ini benar umur 22?

"Kalau begitu kita pergi sekarang." Luhan mengambil tas ranselnya dan membungkuk sekilas tanda pamit kepada Dokter Kim.

"Dokter Kim, aku sepertinya harus pergi sekarang."

"Baiklah. Hati-hati Luhan-ssi."

.

.

.

Sehun dan Luhan berjalan beriringan menuju parkiran mobil. Luhan dengan gerak-gerik canggung mengikuti langkah Sehun disamping kanannya. Tangan kirinya menenteng tas ransel miliknya dan tangan kanannya membawa beberapa berkas.

Beberapa pasang mata memandangi mereka. Bagaimanapun ini masih jam kuliah dan masih banyak sekali mahasiswa dikampusnya. Oleh karena itu dengan hati-hati Luhan menjaga jarak dari Sehun. Ia tidak mau mengambil resiko terburuk yaitu menjadi bahan gosip.

"Kenapa mereka menatap kearah kita?" Sehun bertanya sambil berbisik. Ia benar-benar risih dengan tatapan itu. Memangnya ada yang salah dengannya? Mereka tidak pernah melihat pria tampan datang kesini ya?

"Itu karena kita telah digosipkan. Berhenti berbicara dan jalan saja." Jawab Luhan dengan nada pelan.

Benar-benar kurang kerjaan sekali. Mereka berdua –Sehun dan Luhan- benar-benar diperhatikan bahkan sampai mereka telah keluar dari lingkungan kampuspun masih banyak yang melirik kearah mereka. Astaga.

"Mahasiswi kampusmu senang bergosip ya?"

"Tidak. Tapi karena itu aku." Jawab Luhan singkat. Ia jengah sekali. Setiap ia membawa seseorang ke kampus pasti ada saja gosip yang berhembus keesokan harinya.

"Aigoo, uri Luhanie sangat terkenal ya dikampus? Aku benar-benar iri. Seandainya aku– aww Luhan!" Sehun mengelus kepalanya kasar. Tiba-tiba saja rusa itu menjitaknya dengan keji tadi.

"Berhenti berbicara bisa tidak? Kau benar-benar menjijikan."

"Baiklah. Mau kemana kita?" Pria albino itu akhirnya mengalihkan pembicaraan mereka.

"Panti. Aku ingin bertemu Haowen."

Luhan nampak tengah mengotak-atik ponsel pintarnya dan Sehun mendengar bahwa Luhan menelepon sebuah restoran untuk mengantar beberapa makanan kepanti. Benar-benar malaikat.

"Kita akan makan besar hari ini?" Sehun menoleh kearah Luhan sekilas dan setelahnya fokus kembali kejalanan.

"Kita? Hanya aku dan anak panti. Kau pulanglah setelah mengantarku." Luhan menjawab ketus. Lagipula ia tidak mengajak pria albino ini. Jadi kenapa dia juga ingin ikut makan bersama.

Sehun memutar bola matanya malas. Selalu seperti ini. Luhan selalu jual mahal didepannya padahal Luhan ini sudah mengakui bahwa dirinya itu calon suaminya kelak. Memangnya Luhan malu atau bagaimana? Seharusnya ia itu bersyukur dinikahkan oleh seorang yang mapan dan tampan seperti Sehun.

"Irene." Luhan tiba-tiba berbicara. Sehun dengan spontan menoleh namun kembali fokus saat ia sadar bahwa ia tengah menyetir.

"Mwo? Ada apa dengannya?"

"Dia– dia mengunjungiku. Beberapa kali. Bisakah kau katakan padanya bahwa aku tidak bisa lagi berhubungan dengan wanita? Baba sangat marah akan hal itu. Baekhyun kelepasan saat dirumahku dan baba benar-benar kecewa."

"Dia– apa? Dia mengunjungimu? Bagaimana bisa?" Sehun benar-benar terkejut. Pasalnya Sehun mengira kata-kata Irene saat itu adalah gurauan semata. Tapi astaga jadi Irene benar-benar mengincar Luhan?

Luhan dengan sadis menempeleng Sehun. "Kalau aku tahu bagaimana bisa ia berada disekitarku, aku sudah akan memblack list tempat-tempat yang kemungkinan besar bertemu dengan dia bodoh."

"Aww– hyung berhentilah merusak kepalaku!" Sehun mencebikkan bibirnya. Ia benar-benar akan menjadi korban keganasan tangan cantik Luhan kalau asal bicara terus.

"Dia menyukaimu."

"Mwo? Ani, bagaimana bisa? Astaga dia mantanmu dan– apa? Dengan terang-terangan menyukaiku? Apakah dia bodoh atau apa?" Luhan bersungut. Memang Irene itu cantik dan menarik tapi tidak harus juga Irene itu menyukainya. Astaga.

"Dia bilang seperti itu padaku saat ditoko pakaian. Dia bilang dia akan mengejarmu. Aku sudah melarang tapi–" Sehun mengedikkan bahunya santai, terlihat tidak perduli. "Dia bahkan ingin berjuang. Kau lihat saja seperti apa merepotkannya seorang Bae Joohyun."

Luhan menghela nafas. Ia mengantukkan kepalanya pada jendela mobil Sehun. Ini akan menjadi sulit. Kemungkinan ia bertemu dengan Sehun sekarang sangat besar, itu berlaku pada pertemuannya dengan Kris, dan sekarang dia harus bertemu dengan Irene? Bagaimana kalau ketiganya berada disatu tempat yang sama nantinya? Ya Tuhan.

"Aku sudah selesai dengan saudaranya dan kenapa anak itu harus mengerubungiku seperti lalat." Luhan menggumam namun terkesan cukup keras bahkan Sehun pun mendengarnya.

"Saudaranya? Nugu?"

"Kris. Dia–" Luhan tiba-tiba menggigit lidahnya. Kenapa ia bisa salah bicara disini. Disebelah Sehun dan didalam mobil Sehun? Kenapa nama Kris harus keluar dari mulutnya? Astaga hancur sudah.

"Kris. Aku penasaran siapa itu Kris." Sehun tiba-tiba mengeraskan rahangnya. Terlihat tidak suka dengan satu nama yang menurut Sehun hama paling menyedihkan yang pernah ia dengar.

"Dia–"

"Kau mantan kekasihnya? Kenapa kau sangat takut dengannya? Apa dia pernah melukaimu? Apa dia orang jahat yang pernah membuatmu sakit?" Tanya Sehun beruntun. Sehun selalu khawatir akan nama itu.

"Bukan. Dia bukan mantan kekasihku. Dia hanya–"

"Simpan jawabanmu. Kita bisa bicarakan saat kita telah sampai dipanti. Aku bisa membunuh orang dalam kecelakaan nanti saat aku sedang emosi."

.

.

.

Awal saat Luhan datang kepanti, suasana ceria dapat ia rasakan. Bahkan saat mood nya buruk dengan cepat suasana ceria ini menggantikannya. Benar-benar tempat yang damai untuk merenung.

Tapi fungsi itu tidak berarti lagi sekarang untuk Luhan. Sehun terlihat dingin. Sepertinya Sehun tahu perihal Kris. Luhan ingat Kris pernah menyebut nama Sehun saat dikantin kampusnya. Bisa Luhan simpulkan bahwa saat ini Kris tengah menjalin kerjasama dengan Sehun.

"Kris adalah– dia adalah mantan kekasih kakakmu, Oh Sena. Dia adalah orang yang menyukai dokter jiwa bernama Yixing yang mungkin pernah kau dengar saat aku tidak sengaja menyebutnya. Dan Kris adalah kenalan ayahku. Lebih tepatnya keluarga Wu." Jelas Luhan.

"Oh Sena. Berapa banyak pria yang pernah jadi kekasihnya?" Sehun bertanya dengan nada menghina. Bagaimanapun kakaknya itu terlalu banyak berhubungan dengan pria. Apa itu yang membuat kakaknya hamil diluar nikah?

"Hanya aku dan Kris. Jangan berpikir seperti itu. Bukan karena itu dia hamil. Jangan menuduh kakakmu jalang selama di Beijing. Dia anak yang cantik dan pintar. Tidak sembarang orang bisa bertemu dengannya. Dia terlalu sibuk dengan urusan sekolah."

Sehun mengangguk pelan. Menoleh kearah Luhan. "Berapa lama kau berkencan dengan kakakku? Dan kenapa dia bisa–" Menghela nafas pelan. "Bisa hamil diluar nikah seperti itu?"

"Lebih lama dari Kris. Anak itu meninggalkan kakakmu saat tahu bahwa kakakmu hamil. Dan dia menuduhku menghamili Sena." Luhan memejamkan matanya perlahan.

Sebenarnya ia belum siap membicarakan kembali soal Sena dan sebagainya. Tapi Sehun harus tahu.

"Aku– dia menghajarku malam itu. Seseorang menghasutnya. Aku memaklumi kalau ia benar-benar emosional saat itu. Tapi aku tidak pernah berpikir kalau dia akan menghina kakakmu dan meninggalkannya. Itu kesalahan yang sampai sekarang tidak bisa ku tolelir."

"Kenapa kau harus susah-susah menjaga kakakku? Kau bukan siapa-siapanya lagi saat itu." Tanya Sehun penasaran.

"Aku– dulu aku adalah orang yang amat kagum dengannya. Aku sangat-sangat bersyukur pernah bisa memilikinya. Oleh karena itu aku memiliki dorongan untuk melindunginya walaupun saat itu–" Luhan menghela nafas pelan. "Aku bukan lagi siapa-siapanya."

Ini fakta yang baru Sehun tahu bahwa Luhan benar-benar malaikat tanpa sayap dipunggungnya. Mungkin saja kalau Sehun itu menjadi Luhan, ia tidak akan segan-segan memarahi gadisnya. Bagaimana bisa saat gadis itu sedang sulit ia masih bisa merepotkan mantan kekasihnya sedangkan kekasih sebenarnya saja mengabaikan dia. Benar- benar brengsek si Kris itu.

"Dan Daehan. Siapa ayahnya?"

"Aku tidak tahu Sehun-ah. Malam itu– malam itu Alex mengirimku pesan dan menyuruhku datang kesana, kesebuah gedung tua. Saat beberapa waktu setelahnya aku baru tahu bahwa dia menjebakku. Saat aku datang –malam itu, sebuah kamera tengah membidikku oleh karena itu aku menjadi tersangka. Padahal demi Tuhan Sehun-ah, aku tidak berani menyentuh kakakmu sungguh." Jelas Luhan. Ia benar-benar tidak suka mengingat malam itu. Rasa sesak itu masih membekas dihatinya.

Tiba-tiba saja Luhan mendapat serangan mendadak dari Sehun. Sehun berjalan mendekat kearahnya dan memeluk tubuh mungilnya dengan erat. Luhan tahu, pasti Sehun benar-benar tidak menyangka bahwa nasib sial menimpa kakak satu-satunya itu. Luhan ingat sekali Sena adalah anak baik, tapi kenapa nasib buruk bisa datang pada gadis cantik itu.

"Mianhae. Aku selalu meragukanmu. Aku– aku minta maaf Luhan-ah." Ucap Sehun tulus. Ia makin mengeratkan pelukannya. Hatinya benar-benar tidak salah memilih. Lihatlah, dia benar-benar mendapatkan seorang malaikat.

Luhan terkekeh pelan. Merasa Sehun bodoh karena meminta maaf padanya. "Minta maaf? Seharusnya aku yang meminta maaf padamu lebih awal paboya. Kalau saja aku menjelaskannya lebih awal, pasti kau tidak akan salah paham padaku." Jawab Luhan sambil menggerakkan kedua tangannya, membalas pelukan Sehun. Ia sesekali menepuk punggung pria yang lebih tinggi dan tersenyum maklum.

Sehun tidak seharusnya minta maaf. Mau diletakkan dimanapun masalah itu, dirinyalah yang salah. Salah karena tidak bisa menjaga Sena dulu, salah karena terlalu ikut campur, dan salah karena ia tidak terlalu berani untuk menjelaskan semuanya. Dan sekarang, sekarang semuanya sudah jelas. Luhan benar-benar berharap kalau Sehun dapat memaafkan dirinya juga kakaknya, Oh Sena.

"Sudahlah Sehun-ah." Luhan dengan perlahan melepas pelukannya dari Sehun. Menatap mata tajam Sehun, dan mengukir senyum indah dibibirnya. "Itu sudah lewat dan sangat lampau. Lihatlah, kau memiliki Daehan. Dia akan tumbuh menjadi anak laki-laki yang cerdas. Dia akan mengikuti ibunya. Bukan ayahnya yang bejat itu." Lanjut Luhan dengan anggukan yakin.

Ini sudah keberapa kalinya Sehun menghela nafas. Tapi kali ini ia menghela nafas lega. Lega karena ia tahu yang sebenarnya.

"Bagaimana aku bisa meninggalkan malaikat tak bersayap sepertimu? Tidakkah kau tahu? Aku makin jatuh dalam pesonamu, hyung." Ungkap Sehun.

Ia meletakkan kedua telapak tangannya pada pipi Luhan. Bibirnya mengecup pelan bibir Luhan. Mengungkapkan rasa terimakasihnya terhadap apa yang telah Luhan lakukan dan berikan kepada kakak dan keluarganya. Luhan adalah orang yang berjasa.

Luhan baru sadar saat Sehun dengan berani melumat bibirnya ditempat umum. Astaga tempat umum yang bisa siapa saja melihat mereka. Ia dengan tiba-tiba mendorong dada Sehun dan segera berbalik badan.

Astaga kenapa pipiku panas sekali.

Bodoh.

"Luhan-ah, mian. Aku tidak–"

"Ah, molla." Jawab Luhan. Ia dengan segera menggerakkan kaki kecilnya menuju gedung panti yang jaraknya cukup dekat dengan tempatnya sekarang. Dengan langkah gemetar, ia berjalan masuk kedalam panti dan meninggalkan Sehun yang sekarang tengah tersenyum geli.

"Luhan benar-benar. Dia bahkan tidak perlu menggunakan make up. Pipi merona alaminya saja sudah membuatnya nampak cantik." Kekehnya pelan. "Oh Tuhan, sepertinya aku sudah gila."

.

.

.

Suasana pekarangan panti cukup sepi hari ini. Memang sih ini sudah pukul setengah enam sore. Berarti ia dan Sehun berbincang cukup lama didepan tadi dan sambil berdiri. Pantas saja kaki Luhan terasa keram sekarang. Sehun sialan.

"Permisi. Apa ada orang?" Luhan memanggil dengan suara cukup keras. Diikuti dengan Sehun yang kini tengah menengok kebeberapa ruangan yang nampaknya juga sedang kosong.

"Kemana anak-anak? Tidak biasanya panti sesepi ini." Sehun menggaruk tengkuknya bingung. Apa mereka datang disaat yang kurang tepat? Apa panti tengah mengadakan karya wisata?

Tiba-tiba suara seorang wanita muda menjawab mereka. "Oh, Tuan Oh dan Tuan Xi? Mari masuk. Maaf anak-anak sedang berada dibelakang. Mereka sedang belajar bersama sambil menunggu waktunya makan malam."

Dengan titah itu, Luhan dan Sehunpun mengikuti gadis itu masuk kedalam gedung. Mereka menuju gedung bagian belakang dimana terdapat aula besar yang menampung para anak-anak. Terlihat didepan mereka ada sebuah meja lipat dan buku-buku. Benar kata gadis ini. Anak-anak sedang belajar.

"Anak-anak, kalian kedatangan tamu." Seru gadis muda tadi. Membuat semua anak menoleh dan tersenyum senang. Pasti mereka masih mengingat banyaknya makanan yang Luhan bawa kemarin.

"Aku– aku tidak akan lama. Mungkin hanya sekitar lima belas menit disini. Aku sudah memesan beberapa makanan untuk menambah lauk kalian saat makan malam. Mungkin akan datang dua atau tiga puluh menit lagi. Jadi kalian bisa menunggu sambil terus belajar disini, arrachi?" Seru Luhan dengan senyuman manis mengembang diwajahnya.

"Ne hyung." Jawab anak-anak serempak.

Luhan benar-benar senang dengan kondisi seperti ini. Dimana dia bisa melihat banyak anak. Dia benar-benar membutuhkan adik disampingnya.

"Kau tidak ingin bertemu dengan si keras kepala Haowen?" Sehun tiba-tiba bertanya. Matanya lurus menatap sebuah objek yang tidak lain adalah anak bernama Haowen itu.

"Tujuan utamaku adalah dia Sehun-ah." Luhan nampak senang-senang saja. Tidak tampak sakit hati lagi atas kata-kata menyakitkan dari mulut anak sekecil Haowen beberapa waktu lalu. Luhan memang orang yang kuat.

Dengan perlahan, Luhan mendekati seorang wanita paruh baya dan membisikkan sesuatu. Ia membisikkan wanita paruh baya itu untuk membawa Daehan ke taman belakang.

.

.

.

Ini sudah hampir pukul enam sore. Seharusnya ia dan Luhan masih bisa berlama-lama disini kalau saja dokter yang tidak Sehun ketahui namanya itu tidak datang dan mengacaukan semuanya.

Sehun tidak tahu sih kalau Luhan juga memiliki tujuan yang sama, yaitu panti. Tapi memang mereka ingin kemari demi membujuk Haowen keras kepala itu.

"Kenapa kau menyukai Haowen? Kau tahu, aku pasti tidak akan tahan dengan anak seperti dia dirumah. Sifatnya benar-benar–" Ucapan Sehun terputus saat telunjuk lentik Luhan menempel dibibirnya, menyuruhnya untuk diam.

"Sstt– tidak baik membicarakan anak kecil seperti itu Sehun-ah." Kekeh Luhan pelan. Ia juga tidak tahu kenapa ia sangat menyukai Haowen. Mungkin karena dia mirip Sehun. Atau mungkin ada faktor lain yang membuatnya betah berlama-lama memandangi wajah datar itu.

Tiba-tiba Luhan terdiam. Ia jadi ingat pertemuan kemarin dengan seorang pria tinggi bersama seorang pria yang lebih pendek digerbang panti. Sebenarnya ia datang kemarin kemari, namun urung untuk masuk karena ia terlibat sebuah perbincangan dengan kedua pria itu.

"Apa yang kau pikirkan?" Sehun tiba-tiba merasa khawatir dengan tidak adanya pergerakan yang Luhan lakukan. Apa anak itu tiba-tiba kehilangan keseimbangan otaknya atau bagaimana.

"Aku– aku bertemu dengan ayah Haowen kemarin. Dan yeah aku benar-benar tidak bisa untuk tidak memikirkannya Sehun-ah." Jawab Luhan dengan nada lemah. Ia masih bingung dengan konflik yang ada didepannya.

Sehun dengan segala inisiatifnya mendekat kearah Luhan. Meraih kepala namja mungil itu untuk ia sandarkan dibahunya. Membuat sebuah zona nyaman untuk Luhan.

"Kalau begitu ceritakan seperti apa paras ayah dari anak itu."

"Jadi–"

"Jogiyo." Langkah Luhan terhenti saat sebuah tangan memegang lengannya. Memberhentikan langkahnya. Dengan cepat ia menoleh dan ia melihat dua orang pria. Pria pertama berparas tampan dan pria kedua berparas lebih– feminim mungkin?

"Ne. Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya Luhan dengan nada bingung. Ia baru melihat sosok ini disini. Hari ini.

"Apa– apa kau adalah pegawai panti?" Pria tampan itu bertanya pada Luhan dengan tatapan penuh harap. Itu sukses membuat Luhan bingung dan hanya menggeleng saat merespon pertanyaan pria itu.

"Kalau begitu, apa kau ingin mengunjungi seseorang?" Itu suara pria manis disebelahnya.

"Ne. Aku ingin menemui satu orang anak yang bernama Haowen disini. Apa ada yang bisa saya bantu tuan-tuan?" Tanya Luhan penasaran.

"Haowen? Haowen masih berada disini?" Pertanyaan muncul dari pria tampan didepannya dan Luhan hanya mengangguk membenarkan.

"Apa aku bisa menitipkan sesuatu padamu? Untuk Haowen. Kami– tidak bisa datang menemuinya secara langsung. Tapi kami harap Haowen bisa menerima ini." Pria yang lebih manis memberikan sebuah kotak kayu kecil. Luhan menerka-nerka apa isinya.

"Ini adalah sebuah kalung. Berikan padanya, aku mohon." Pria yang lebih manis nampak sedih. Luhan tidak tahu tapi– apakah salah satu dari mereka adalah ayahnya? Atau– apakah mereka adalah sepasang gay yang Haowen benci itu?

"Aku bisa memberikannya tapi setidaknya aku harus tahu status kalian terhadap Haowen. Aku takut aku tidak memiliki wewenang untuk memberi barang saat status kalian tidak jelas." Jelas Luhan nampak menyesal. Ia juga harus tahu siapa sebenarnya kedua pria ini. Mugkin saja dugaannya benar kan?

"Kita bisa bicara sebentar disana–"

"Luhan, namaku Luhan."

"Ya, kita bisa bicara sebentar disana Luhan-ssi? Sepertinya aku memiliki feeling untuk– mempercayakan sesuatu padamu."

"Jadi kau sudah bertemu dengan ayahku, ahjussi?" Luhan tersentak. Ia bangun dari sandarannya pada bahu Sehun dan segera menoleh kebelakang. Tepat dibelakang mereka berdua, Haowen berdiri dengan wajah mengeras. Sepertinya ia nampak marah.

Luhan menghela nafas. Berjalan memutari kursi untuk meraih tangan Haowen. "Lebih baik kau duduk dulu. Dan untuk kali ini saja dengarkan aku dulu, oke?" Ajaib. Ajaib sekali. Haowen kali ini menurut dan ikut duduk ditengah-tengah Luhan dan Sehun.

"Aku memang tidak sengaja bertemu dengan ayahmu dan– kekasihnya kemarin. Mereka tidak– belum berani untuk menemuimu. Jadi aku akan memberikan sesuatu untukmu. Jangan coba-coba untuk menghilangkan apalagi membuang benda ini ke tempat sampah. Karena kau tidak pernah tahu seperti apa aku marah, arrachi?" Ujar Luhan sambil membuka kotak kayu yang ada ditangannya. Ia bisa melihat Haowen mengangguk kecil.

Luhan dengan cekatan membuka kait kalung perak itu dan memakaikannya pada leher Haowen. Ia tersenyum lega. Haowen mau mendengarnya. Oh Tuhan, adakah yang lebih membahagiakan dari ini?

"Dengarkan Luhan hyung. Jangan membuang kalung ini atau kau akan tahu akibatnya anak kecil." Ancam Sehun dengan wajah yang ia buat seseram mungkin. Namun Haowen malah mencebikkan bibirnya kesal kearah Sehun.

"Tapi berjanjilah untuk tidak mempertemukan aku dengan ayahku. Aku tidak ingin–"

"Semua hal harus memiliki feed back, timbal balik. Apa yang bisa kau janjikan padaku agar aku tidak mempertemukanmu pada ayahmu, Haowen-ah?" Tanya Luhan dengan wajah seangkuh mungkin. Haowen hanya diam, sepertinya otak kecilnya tengah berpikir.

"Apapun yang kau minta. Aku akan melakukannya."

"Apapun?"

"Apapun." Jawab Haowen yakin diselingi anggukan kecil.

"Aku memiliki tiga permintaan." Luhan tersenyum melihat respon tidak percaya Haowen dan kembali menjelaskan.

"Pertama, kau harus memanggilku hyung dan bukan ahjussi. Aku tidak setua itu." Ucap Luhan sambil menunjukkan jari telunjuknya, menandakan permintaannya yang pertama.

"Arraseoyo, hyung."

Luhan kembali tersenyum. Mengusak gemas surai hitam Haowen. "Kedua, kau harus berlatih bola dengan temanmu. Karena aku akan datang dua minggu lagi untuk mengajakmu bertanding."

"Eottokhaeyo, hyung. Aku tidak–"

"Ketiga– aku akan menyimpan permintaan yang ketiga. Aku akan memberitahumu saat kau telah menyelesaikan kedua permintaan utamaku. Arrachi?"

"Tapi hyung–

"Oho! Aku sangat tidak menyukai penolakan." Jawab Luhan tegas. Ia dengan segera bangkit dari duduknya, mencari-cari sebuah bungkusan yang telah ia siapkan didalam tasnya.

Ia memberi sebuah kotak kardus untuk Haowen. "Ini adalah sepatu termahal didunia. Berkeliling keseluruh duniapun belum tentu kau mendapatkannya karena ini limited edition. Jadi gunakan sepatu ini untuk berlatih." Dan Haowen menerima kotak sepatu itu dengan tangan gemetar.

"Apa kau ingin pamer barang mahal didepanku hyung?"

"Oho! Jangan banyak berkomentar. Ini bukan facebook, oke." Luhan memasang wajah marah yang dibuat-buat. Dan setelahnya terkekeh. Kembali mengacak surai hitam Haowen. "Karena kau mungkin terganggu dengan kehadiranku terus menerus– aku benar-benar berjanji untuk tidak datang sebelum waktu dua minggu habis. Dan aku berjanji aku dan paman ini, Oh Sehun namanya. Akan mengirim makanan setiap makan malam untuk kalian. Apa kesepakatan diterima?"

"Call."

Sehun dan Luhan sama-sama tertawa. Semua anak kecil sama. Mereka benar-benar polos seangkuh apapun kondisi luarnya. Mereka benar-benar terhibur dengan mood berubahnya Haowen.

"Jadi– bisakah kita berkencan sekarang?"

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Oh iya miane miane hajima kalo ada yg reviewnya ga aku bales, itu mungkin karna internet lagi slow. Tapi percayalah aku udh baca semua review membangun kalian. Makasih loh semuanya: ))

Mind to review?: )