I Think I Love You

Cast:

Oh Sehun

Luhan

-HunHan-

Rated:

T = Tentukan sendiri(?)

Genre:

Romance, Family, Boys Love –Shounen ai-

.

.

.

.

Kata orang, dunia ini sempit. Kalau kau bertanya itu benar atau tidak pada Luhan, pasti ia akan bilang "Itu hanya teori bodoh!" Tapi setelah ia bertemu dengan sosok Sehun, Luhan yakin ia bisa menjelaskan sesempit apa dunia ini.

.

.

.

.

.

.

"Ingin duduk dikursi nomor berapa hyung?" Sehun bertanya sambil menoleh kesana kemari melihat kursi berapa saja yang kini sedang kosong dan dapat mereka duduki.

"Tujuh. Disana Sehun-ah." Luhan tiba-tiba menarik lengan Sehun menuju kursi yang katanya bernomor tujuh itu.

Seharusnya Sehun cukup mengajak Luhan ke cafe sesuai saran Luhan saat berada didalam mobil tadi, tapi ia malah dengan bodohnya memasuki restoran besar dengan nuansa kelewat romantis begini. Bisa dikira orang aneh mereka berdua.

"Kau ingin pesan apa hyung?" Sehun dengan sibuk membolak-balik menu makanan ditangannya. Mencari apa kira-kira yang cocok untuknya dan Luhan dan dapat dimakan dengan cepat. Sehun hanya antisipasi saja. Mungkin tiba-tiba anak kampus Luhan menyerbu cafe ini dan mereka dijadikan objek gratis nanti.

"Apa saja. Aku ikut pesananmu Sehun-ah." Jawab Luhan dengan gelisah. Ia tiba-tiba berkeringat dingin begini sesaat setelah duduk dikursi. Apa yang tiba-tiba terjadi nanti?

"Baiklah, kita pesan pasta bagaimana? Sepertinya–"

"Luhan-ah, Oh Sehun?" Suara seorang gadis tiba-tiba saja terdengar oleh telinga mereka berdua. Sehun dan Luhan saling pandang dengan wajah terkejutnya dan Sehun adalah orang pertama yang membuat wajah sedatar mungkin saat ini.

"Bagaimana kalian bisa berada disini? Astaga aku pikir kita memang sangat berjodoh– Luhan-ah." Irene dengan sok akrabnya duduk disamping Luhan. Kebetulan meja mereka memiliki empat kursi dan Sehun sangat ingin mengumpat karena ia salah memilih restoran.

"Joohyun-ah, kita duduk disana saja. Jangan mengganggu mereka." Itu suara Kris. Dari yang Luhan dengar, pria bule itu merasa tidak nyaman berada disana. Mungkin saja diotak pintar Kris, kini ia tengah menyusun rencana untuk pulang.

"Tidak. Aku ingin disini bersama Oh Sehun dan juga Luhan. Apa aku boleh disini, Luhan-ah?" Irene sekali lagi bertanya dengan gaya sok akrabnya. Mungkin kalau Luhan tidak menjunjung tinggi harga diri dan sopan santun, gadis berambut coklat emas ini sudah ia lempar ke Afrika sana. Andai saja Luhan bisa.

"Silahkan." Itu suara Sehun. Luhan pikir si Oh Sehun ini akan menolak mentah-mentah keberadaan mantannya ditengah-tengah mereka. Namun nyatanya Sehun menerimanya.

Mau apa anak ini!

Seorang gadis berseragam menghampiri mereka dan mencatat pesanan mereka berempat dan setelahnya pergi dengan tatapan bingung. Pasalnya tamunya saat ini seperti tengah mengadakan rapat penting. Tatapan mereka satu sama lain terlihat saling mengintimidasi. Bahkan pelayan itu saja sampai merinding.

"Kenapa kalian berdua disini? Bukankah kau memiliki calon istri? Seharusnya yang diajak kemari calonmu bukan malah Luhanku." Ujar Irene bersungut. Ia mengeratkan pelukan –yang menurut Luhan menjijikan itu- di lengan kanan Luhan.

"Memang seharusnya begitu kan, noona." Jawab Sehun dengan tatapan membunuhnya. Ia benar-benar tidak tahan. Sudah menghianatinya dulu dan sekarang ia ingin mendekati Luhannya? Dan apa tadi? Dia bilang Luhanku? Hell.

"Lalu dimana gadis yang katanya calon istrimu itu?"

"Bisakah kalian diam?" Kris menyela. Ia melihat wajah Irene yang merasa tidak suka atau tatapan cemburu, Kris juga tidak paham. Dan juga ia merasa ingin pingsan saja melihat tatapan Sehun yang seperti ingin membunuh saudaranya itu. Wajahnya terlihat mengeras saat ini.

"Dia duluan, gege. Dia bilang dia sudah memiliki calon istri dan sekarang ia malah mengusik Luhan. Tidakkah restoran ini terlalu romantis untukmu dan Luhan?" Irene mendelik kearah Sehun. Menatap tidak suka padanya.

"Mau aku bawa kemanapun Luhan, itu adalah hakku. Dan jangan banyak bicara noona." Sehun terlihat selesai dengan acara mari menahan emosi didepan Irene noona dan menatap Luhan tajam.

Luhan dengan pelan menendang kaki Sehun. Mencoba untuk menenangkan suasana. Ia menatap mata Sehun memohon, jangan sampai lelaki albino itu mengamuk di restoran sebesar ini.

"Aku dan Sehun tengah membicarakan pernikahan antara Sehun dan juga istrinya." Ujar Luhan santai. Sesekali Luhan memainkan bunga yang berada didalam vas bunga, tepat didepannya.

"Kenapa kau merepotkan Luhan? Kau kan seharusnya bicara dengan istrimu dan tidak–"

"Apa kau cemburu noona?" Sehun menaikkan alisnya angkuh. Menunggu wanita cantik itu merespon perkataannya.

"Cemburu? Ani. Untuk apa?" Irene terlihat gugup. Memang benar. Sebenarnya ia masih menyukai Sehun. Tapi sialnya pria albino itu malah sudah memiliki calon istri. Jadi menurutnya, mendekati Luhan adalah opsi yang bagus.

"Terlihat dimatamu."

"Mwoya?" Irene berbicara dengan setengah memekik. Ia ingin pergi saja dari sini tapi urung saat ia mengingat masih ada Luhan disini.

"Sehun-ah, jangan memancingnya." Luhan menghela nafas kasar. Sedari tadi, ia dan Kris hanya menjadi penonton tanpa dibayar untuk melihat pertengkaran tak kasat mata antara Sehun juga Irene disini. Dan Luhan benar-benar jengah mendengar pekikan menyebalkan dari Irene.

"Aku tidak memancingnya Luhan. Dia yang–"

"Diam." Ucap Luhan final. Ia menatap tajam kearah Sehun dan dengan begitu Sehun akhirnya diam. Mengalihkan pandangannya pada jalan raya dari jendela kaca yang jaraknya cukup jauh dari tempat duduk mereka. Hanya sebagai alasan saja sebenarnya.

"Kalian hanya berdua?" Tanya Luhan pada Kris. Kris seketika terkejut dan hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Luhan.

"Kau tidak mengajak Yixing kemari? Aku pikir dia telah menjadi teman dekatmu."

Kris menggigit bibirnya gugup. Ini pertama kalinya Luhan bertanya dengan nada biasa saja padanya. Suara Luhan terlalu lembut dan saat ini Kris benar-benar sesak nafas.

"Yixing sedang ada dirumah sakit. Aku tidak mengajaknya. Joohyun yang memaksaku kemari. Aku tidak tahu kalau kalian disini. Maaf karena mengganggu urusan kalian." Kris menatap Luhan dengan perasaan bersalah. Ia ingat pada janjinya sendiri bahwa ia tidak akan mengusik urusan pria cantik didepannya ini. Tapi sial memang, saudaranya ini tidak mau diajak bekerja sama.

"Tidak masalah. Kita bisa makan bersama. Meja ini cukup lebar." Kekeh Luhan. Ia ingin bersikap biasa saja saat ini kepada Kris agar Irene juga tidak curiga atau apa nantinya.

"Luhan-ah, seharusnya mereka tidak disini." Sehun membuka kembali suaranya. Menatap tidak suka pada pria disampingnya –Kris- dan wanita disamping Luhan –Irene-

Kedua saudara ini selalu saja mengacaukan hari Sehun juga Luhan. Apa mereka ditakdirkan untuk menjadi hama pengganggu? Kalau iya, Sehun akan mencari obat pembasmi hama besok agar mereka tidak selalu bertemu dengan salah satunya.

"Sehuna-ah." Luhan mendelik tajam pada Sehun, berharap Sehun mengerti kalau ia tidak ingin membuat masalah baru saat ini. "Mereka teman kita juga, oke?"

Teman apanya Luhan! Mereka bedebah menjijikan.

Irene yang bingung dengan situasi ini tiba-tiba menyandarkan kepalanya dibahu Luhan. Mengerucutkan bibirnya dan meraih tangan Luhan yang kini tengah berada diatas meja.

"Kau tidak mau mengajakku makan malam dilain hari Luhan-ah? Aku kecewa karena kau malah mengajak pria albino didepannmu itu."

Luhan menatap Irene jengah. Menegakkan tubuhnya. Mendorong kepala Irene agar terangkat dari bahunya dan menepis pelan tangan Irene yang kini terkulai disisinya. Irene benar-benar melelahkan. Benar kata Sehun.

"Aku sibuk." Melirik Sehun sebentar. Pria albino itu tampak jengah dan kini tengah menoleh kearah kanan, entah memperhatikan apa. "Aku tidak bisa berkencan dengan wanita lain. Karena aku– aku sudah memiliki kekasih."

Karena terkejut, Sehun segera menoleh. Menatap kembali Luhan dengan pandangan apa yang kau katakan Luhan? Dan Luhan hanya tersenyum tipis sambil mengedikkan bahunya tidak perduli.

"Mwo? Aigoo, Sehun akan menikah dan kau– kau memiliki kekasih?" Irene tertawa, tidak percaya. "Apa aku baru saja dicampakkan oleh dua orang sekaligus?"

"Aku sudah bilang untuk tidak duduk disini, Joohyun-ah." Kris akhirnya merasa jengah juga dengan tingkah menyebalkan saudaranya itu.

"Jadi berhenti menggelayuti Luhan. Karena kekasihnya bisa saja cemburu." Sehun memperingati. Menunjuk lengan Luhan dan lengan Irene dengan tatapan mengintimidasi.

"Jangan bergurau. Baba sudah tekankan padamu kalau jangan mengencani gadis manapun lagi."

Ia tiba-tiba teringat perkataan babanya beberapa waktu lalu. Benar. Ia tidak seharusnya mengijinkan wanita manapun masuk lagi kedalam hidupnya. Cukup Sena dan Chorong. Dan ia tidak ingin disusahkan oleh yang lain lagi.

"Aku sungguh tidak tahan." Luhan bergumam dan Irene bisa mendengar gumaman pelan Luhan itu. Ia mengangkat alisnya bingung. Ada apa dengan Luhan?

"Wae Luhan-ah?"

"Kau– jangan mendekatiku lagi. Maaf karena menolakmu atau apa. Tapi jujur aku tidak menyukaimu. Berhenti menjadi pengganggu dihubungan orang lain. Berkencanlah dengan satu pria dan jangan menusuk mereka. Jangan karena kau memiliki otak cerdas dan wajah sempurna, kau dapat mempermainkan mereka."

"Wow, siapa yang bicara sekarang? Mempermainkan hati pria?" Kembali, Irene tertawa remeh. Menatap Luhan sengit. "Kau– Sehun bilang kau adalah seorang playboy, lalu apa bedanya denganku?"

"Aku berbeda karena aku tidak pernah berselingkuh."

"Kau– Yak!" Irene tampak berteriak. Bahkan pengunjung restoranpun nampak tidak nyaman saat mendengar teriakan wanita itu.

"Jangan pernah berteriak didepanku, Bae Joohyun-ssi." Luhan berbicara dengan nada menusuk. Menatap wajah Irene dengan saksama dan tersenyum miring. "Kau memiliki tempramen buruk. Bagaimana bisa Sehun menyukaimu?"

"Ya! Jangan karena kau sekarang memiliki kekasih baru, jadi kau bisa menghinaku. Lelaki yang menghina perempuan adalah bukan lelaki yang sesungguhnya." Irene nampak telah emosi dan Luhan dapat melihat Kris yang diam saja. Mungkin saudaranya itu juga muak dengan kelakuan buruk Irene.

"Jinjjayo? Lalu siapa yang kau sebut dengan lelaki sesungguhnya?" Luhan memancing. Ia ingin tahu seperti apa sikap Irene sesungguhnya. Ingin menilai seberapa emosionalnya Irene didepan mantan kekasihnya –Oh Sehun-

"Luhan, aku tidak menyangka kau seperti ini. Aku berusaha untuk menyukaimu dan kau mencampakanku dengan sebegini keji?"

"Apa aku pernah menyuruhmu berusaha?" Luhan menatap kasihan kearah Irene. Dengan wajah semanis mungkin. "Yifan-ah, ajarkan adikmu ini sesuatu agar mulutnya tidak digunakan sembarangan."

Irene nampak diam. Terkejut. Cara bicara Luhan dengan Kris seperti sudah sangat mengenal satu sama lain. Apa mereka memang berteman? Dan pertemuan dikampus Luhan saat itu bukan hanya kebetulan?

"Kau dan Kris saling mengenal?" Irene memasang wajah bingung. Menatap tidak percaya pada sepupunya itu. Namun Kris terlihat tidak perduli dan mengedikkan bahunya singkat.

"Kami teman sekolah. Ada apa? Apa ada yang salah?"

"Mwo?"

"Luhan-ah." Sehun menggenggam tangan Luhan. Ia dapat melihat Luhan tampak emosi saat ini. Bisa-bisa Luhan lah yang akan mengamuk disini dan bukan dirinya.

"Biar Sehun-ah. Biar kekasih– Ani, mantan kekasihmu itu paham. Agar dia dan sepupunya itu tidak terus merusak pemandangan mataku."

"Tenanglah sayang." Sehun semakin mengeratkan genggaman pada tangan Luhan. Luhan itu kalau sudah marah, bisa saja restoran ini terbelah menjadi dua. Astaga menyeramkan.

"Mwo? Sayang? Kenapa kau memanggil Luhan sayang!" Tanya Irene tidak terima. Mereka berdua bukan sepasang kekasih jadi kenapa memanggil satu sama lain dengan sebutan sayang?

"Karena calon istri yang selalu kau pertanyakan adalah aku. Aku calon istri– Ani, aku calon suami Oh Sehun. Xi Luhan." Jawab Luhan dengan wajah mengeras. Giginya beradu. Ia menutup rapat mulutnya. Benar-benar hampir diluar kendali.

"Luhan, apa yang kau lakukan?" Kris menyela. Menatap tidak percaya kearah Luhan. Ia tidak percaya kalau Luhan dengan terang-terangan akan mengakui hal ini. Lebih lagi didepan Irene.

"Dan kami akan menikah beberapa minggu lagi. Jadi jangan usik kami." Ujar Sehun memperingati.

"Mwo?"

.

.

.

Setelah perdebatan hebat antara Sehun, Luhan juga Irene. Restoran terasa damai sekali. Tentu saja damai, karena Sehun dan Luhan akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana dan menunda makan malam mereka.

"Dari ekspresi gege, gege pasti tahu kalau mereka berdua berhubungan." Irene membuka suara pertama kali setelah beberapa menit yang lalu hening melanda mereka berdua.

"Tentu. Aku sudah lama mengenal Luhan. Aku akan paham dengan segala situasi."

"Dan gege tidak menceritakan padaku?" Tanya Irene tidak percaya. Kris itu saudaranya atau bukan sih?

"Untuk apa aku memberitahu? Memang kita sedekat itu untuk berbagi cerita satu sama lain?" Kekeh Kris. Lagipula itu bukan info penting. Kenapa Kris harus susah-susah membuat mulutnya berbusa pada gadis dihadapannya tanpa gadis itu bertanya lebih dulu. Kris tidak sepengangguran itu ngomong-ngomong.

"Jadi siapa itu Sehun? Dan siapa itu Luhan?"

"Apa kau ingin mengakui kalau kau mempermainkan Sehun dimasa lalu?"

"Mwo? Kita sedang tidak membicarakanku dan–"

"Katakan ya dan aku akan menceritakan beberapa."

"Baiklah, kau benar."

Kris nampak tersenyum miring. Menatap Irene dengan pandangan kecewa. Ia tidak mau lagi berhubungan dengan Luhan dan Sehun, tapi kenapa mereka selalu terhubung dengan sesuatu yang tidak direncakan? Apa maksudnya ini?

"Sehun, Oh Sehun. Seorang wakil direktur dimana perusahaanku menjalin kerjasama dengannya saat ini. Dia adik dari Oh Sena, mantan kekasihku saat di Beijing." Kris menatap lurus pada gelas bening didepannya. Nampak mengingat beberapa info yang ia kira cukup membuat gadis didepannya ini diam dan tidak penasaran.

"Dari informasi yang aku ketahui baru-baru ini, keluarga Sehun dan Luhan adalah keluarga yang sangat dekat bahkan saat Luhan masih kecil dulu. Itu mungkin alasan kenapa mereka bisa mengadakan pernikahan konyol antara pria." Kris tersenyum miris. Ia tidak mungkin mengatai gay itu konyol kalau saja ia dan Luhan yang menikah.

Apa?

"Luhan, Xi Luhan. Anak dari Xi Zhoumi. Seorang pengusaha kaya raya di Beijing. Dia satu sekolah denganku saat di sekolah menengah atas. Terkenal tentu saja. Banyak yang menyukainya. Dan dia memiliki banyak kekasih dulu." Kris tersenyum tipis. Masih tidak percaya dengan wajah cantik Luhan yang dapat memikat hati wanita.

"Jadi benar ya Luhan itu dulunya seorang playboy?" Irene tertawa miris. Ia pikir itu hanya bualan Sehun saja, tapi ternyata itu benar adanya. Pantas sih dia dikelilingi banyak wanita dan sekarang pria –Oh Sehun-

"Tentu saja. Dan dia adalah kekasih pertama dari mantan kekasihku, Oh Sena. Singkatnya dia juga mantan kekasih dari kakak Oh Sehun dulu."

"Ne? Memang secantik apa sih Oh Sena? Sampai kalian memperebutkannya?"

"Cantik, sangat cantik. Kau bisa lihat adiknya. Bukankah menurutmu adiknya itu tampan? Begitu juga dengan kakaknya yang cantik dan juga–" Kris menunjuk kepalanya –otaknya- "Dia adalah gadis yang sangat pintar."

"Daebak. Aku masih tidak percaya kalian memiliki masa lalu yang rumit."

"Dulu– Luhan memiliki banyak sekali kebanggaan. Sampai akhirnya itu semua hilang saat beberapa bulan sebelum pesta kelulusan, sebuah bencana terjadi. Oh Sena, kakak Oh Sehun dihamili oleh orang lain. Pria brengsek yang aku juga tidak tahu siapa dia." Kris mengepalkan tangannya. Merasa emosi. "Dan Luhan adalah orang yang dituduhkan. Padahal dia tidak."

"Jeongmal? Ani, kenapa bisa Luhan? Bukankah gege bilang dia tidak melakukannya?" Irene tidak mengerti. Kurang ajar sekali yang menuduh Luhannya.

"Siapa yang tahu, Joohyun-ah. Sebuah kamera sudah menargetkannya. Dan dia adalah temanku– dia teman Luhan juga. Namanya Alex. Anak itu menjebak Luhan. Dan aku masih merasa menyesal kenapa aku bisa termakan oleh bualan busuknya."

Kris menghela nafas pelan. "Saat itu statusku adalah kekasih Sena dan Luhan sudah menjadi mantannya." Melirik, menatap Irene. "Dan aku tidak bisa menolongnya. Baik Sena maupun Luhan. Aku malah menghajarnya malam itu dan menghilang."

"Kau brengsek ge." Irene mendecih sebal. Saudaranya seperti monster. Kurang ajar dan tidak berperasaan sama sekali. Mungkin kalau ia jadi Sena, ia sudah mencari Kris dan setelahnya membunuhnya.

"Aku tahu. Aku memang brengsek. Dan– kau akan mengataiku lebih hina lagi kalau kau tahu sesuatu yang lebih menyesakkan dari itu." Kris tersenyum tulus. "Tapi biarlah kau tidak tahu. Ini masalahku dengan Luhan. Tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain."

"Aku tidak ingin mendengar lebih banyak."

"Keputusan yang tepat." Kris mengacungkan ibu jarinya. "Dan aku harap, jangan pernah kau berkeliaran dihadapan mereka berdua. Luhan telah membenciku dan aku tidak bisa membuatnya membencimu juga. Tolong kau pahami perasaan Sehun yang sudah kau lukai dulu."

"Tapi ge–"

"Jangan mempersulitku Joohyun-ah. Kau tahu? Aku seperti orang yang menyedihkan saat ini. Seakan-akan sisa hidupku hanya untuk meminta maaf dan meminta maaf pada orang yang sama. Aku lelah tapi–" Kris mengusap wajahnya kasar. "Tapi aku harus mendapatkan maafnya. Bagaimanapun caranya, Luhan harus memaafkanku."

"Kau tidak seharusnya mengemis ge. Kau tidak serendah itu." Irene terlihat marah. Bagaimanapun, sepupunya ini tidak pantas mengemis maaf dari Luhan. Seharusnya Luhan juga paham kondisi sepupunya itu.

"Aku ya. Aku pantas mengemis bahkan merangkak sekalipun aku sanggup. Untuk mendapat maaf darinya, dari Luhan." Kris lagi-lagi tersenyum. Kali ini Irene dapat melihat wajah lelah Kris dan ia jadi tidak tega menyusahkan saudaranya ini lagi.

"Baik. Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Dan aku akan menjauh dari mereka. Aku akan menuruti kemauanmu." Irene kini tersenyum. Senyum tulus untuk Kris. Ia ingin membantu Kris untuk keluar dari kehidupan menyedihkan itu. Dan Irene tidak cukup egois untuk menghancurkan hidup Kris demi mendapatkan Luhan.

"Gomawo, Joohyun-ah. Aku ingin hidup dengan tenang. Ani, setidaknya saat aku mati, aku tidak lagi diliputi rasa bersalah terhadap Luhan juga Sena. Aku ingin menebus segalanya."

Irene mengangguk paham dan tersenyum kembali. Menggenggam tangan Kris memberi sebuah kekuatan. Irene baru tahu kalau masa lalu Sehun, Luhan dan Kris bahkan sangat sulit.

"Aku akan membantumu semampuku, gege."

.

.

.

Entah kenapa beberapa hari ini Luhan sangat lega. Lega karena ia bisa dengan berani membuka rahasia besarnya bersama Sehun yaitu mereka akan menikah sesama pria. Baekhyun, Kris, dan Irene. Mereka semua telah mengetahuinya. Dan mungkin target selanjutnya Chanyeol dan Jongin. Dua anak itu juga harus tahu.

"Kenapa melamun sayang?" Sehun mengibaskan tangannya didepan wajah Luhan. Ia jadi khawatir, Luhan tiba-tiba saja diam disampingnya.

"Gwenchana Sehun-ah. Aku hanya kepikiran Chanyeol juga Jongin." Kekeh Luhan saat melihat wajah tidak suka Sehun.

"Kau sedang disini bersamaku dan kau malah memikirkan pria lain? Kau benar-benar Luhan." Sehun menggeleng singkat dan menatap Luhan dengan tatapan memusuhi.

Luhan dengan cepat secepat kilat mencium pipi Sehun. "Jangan cemburu. Mereka hanya anak kecil." Dan setelahnya berlari menjauh dari sana.

Sehun yang mendapat serangan tiba-tiba seperti itu hanya diam menganga ditempatnya. Merasa tidak percaya kalau baru saja Luhan menciumnya. Mencium pipinya. Astaga. Tadi benar Luhan kan yang menciumnya? Bukan khayalannya lagi kan?

Sehun menepuk pipinya. Menyadarkan dirinya sendiri. Otaknya bahkan tidak bisa bekerja dengan baik saat ini.

"Ya! Oh Luhan!" Sehun akhirnya bangkit dari duduknya dan mengejar Luhan yang kini berlari kearah dapur.

Sehun dapat melihat Luhan tengah membongkar isi kulkasnya. Sepertinya pria rusa itu akan memasak sesuatu sekarang.

"Kau akan memasakanku sesuatu?" Sehun bertanya dengan tatapan bingung. Ia berjalan kearah meja makan dan duduk dikursinya. Memperhatikan gerak-gerik Luhan.

"Hm." Gumam Luhan pelan sambil mencari beberapa peralatan masak didalam lemari.

"Dalam rangka?"

"Kita tidak jadi makan malam waktu itu. Jadi aku akan membuatkanmu pasta." Ujar Luhan senang. Sudah lama Luhan tidak memegang peralatan dapur.

Dulu saat ia masih tinggal di apartement, ia juga sempat memegang beberapa alat masak. Ia tidak selamanya bisa memesan makanan diluar karena ia malas untuk menunggu. Jadilah ia bisa memasak seperti sekarang ini.

"Jadi sekarang– kau tengah memainkan peranmu sebagai istri yang sesungguhnya?" Tanya Sehun. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Luhan. Memeluk pria rusa itu dari belakang. Menumpu dagunya di pundak kiri pria yang lebih mungil.

Luhan memutar bola matanya malas. "Aku hanya ingin saja. Aku sudah lama tidak memegang alat-alat ini saat aku sudah berada di Seoul."

Sehun menganggukkan kepalanya. Ia menoleh dan memberikan satu kecupan ditengkuk Luhan. "Kau benar-benar cantik."

"Sehun-ah, duduklah. Aku tidak bisa memasak kalau seperti ini." Luhan menggerakkan pundaknya. Berharap Sehun akan menyingkir dan tidak mengganggu acara memasaknya. Dan yang paling penting, tidak mengganggu kerja jantungnya saat ini.

"Tidak mau. Aku ingin melihat keahlian memasak calon suamiku ini." Kekeh Sehun pelan. Ia mengeratkan pelukannya di pinggang ramping Luhan. Sudah berapa lama ia menantikan momen seperti ini?

"Kalau sampai baba atau kakakku datang bagaimana bodoh,"

Ia memang sudah bisa mengakui kalau ia memang nyaman berada disekitar Sehun, tapi ia belum bisa mengakui itu didepan orang tuanya juga kakaknya. Ia masih sangat malu. Astaga Sehun benar-benar.

"Biarkan mertua dan kakak iparku melihat. Mungkin dengan begini mereka akan menikahkan kita besok?" Sehun kembali terkekeh dan mecium singkat pipi Luhan. Ia dapat melihat Luhan merona. Dan itu benar-benar pemandangan yang sempurna untuknya.

Luhan mendesah pelan. "Jangan bergurau. Kau pikir pernikahan semudah itu?"

"Bagaimana acara antara dirimu dan Haowen? Kau benar-benar menantangnya bermain bola?"

"Ne. Anak itu harus memiliki teman." Ujar Luhan sambil memotong beberapa buah tomat.

"Kenapa kau menyukainya? Bukankah dia agak–" Sehun terdiam sesaat. Mencari kata yang tepat. "Tidak bersahabat."

Sehun dapat mendengar Luhan terkekeh geli. Dan ia bergeser saat Luhan juga menggeser tubuhnya menuju kulkas.

"Dia mirip denganmu, Sehun-ah. Itu benar-benar menarik."

"Mirip denganku? Jadi kau– menyukaiku?" Sehun mencolek dagu pria yang lebih mungil. Menggoda calon suaminya itu.

"Aku– aku tidak bilang begitu bodoh." Luhan dengan segera berbalik dan mendorong pundak Sehun. Menuntun pria albino itu untuk duduk diam diruang keluarga. Atau nanti ia tidak jadi memasak karena Sehun selalu mengganggunya.

"Ya! Oh Luhan! Kau mengusirku?" Sungut Sehun. Ia masih didorong menuju ruang keluarga dan dihempas oleh Luhan ke sofa.

"Diam. Dan duduk disini saja. Aku ingin membuat makanan dengan cepat." Luhan dengan segera pergi darisana menuju dapur kembali. Menyelesaikan pekerjaannya.

"Tapi–"

"Diam!"

.

.

.

Suara dentingan garpu dan sendok beradu. Luhan dan Sehun makan dalam diam. Entah baik Sehun maupun Luhan bingung untuk membuat topik pembicaraan. Jadilah mereka hanya terfokus pada piring dihadapan mereka.

Sehun berdehem. "Apa ada yang ingin kau ketahui, Luhan-ah?"

Luhan yang awalnya tengah diam akhirnya mendongak, menatap Sehun dengan pandangan bingung. "Apa yang harus aku ketahui?"

Sehun sebenarnya sudah berjanji untuk tidak mengusik masa lalu Luhan. Tapi mau bagaimanapun itu malah akan membuat Luhan terserang pusing bahkan pingsan dadakan terus menerus saat pria rusa itu mengingat satu persatu momen yang Luhan tidak ketahui sama sekali. Jadi apakah Sehun boleh egois saat ini? Apakah Sehun boleh melawan perintah Tuan Xi kali ini?

"Kita– kita sudah mengenal saat umurmu tujuh tahun hyung." Sehun akhirnya membukanya. Membuka rahasia yang selama ini ia dan keluarga Luhan simpan rapat-rapat.

Luhan menatap Sehun tidak setuju. Bagaimana bisa mereka saling mengenal sejak dulu dan ia sendiri bahkan tidak mengenal Sehun sama sekali? Itu sangat tidak mungkin.

"Kau pindah dengan keluargamu ke Korea saat itu dan kebetulan rumah kita berdekatan. Aku bermain bersamamu." Sehun tersenyum melihat wajah bingung Luhan. "Apa kau tidak mengingat itu?"

Luhan hanya diam. Bingung ingin merespon seperti apa pada Sehun. Lagipula ia juga tidak sepenuhnya percaya pada ucapan Sehun. Mungkin kali ini Sehun tengah bergurau?

"Ini bukan lelucon Sehun-ah. Bisakah kau mencari bahan yang lain untuk melawak didepanku?"

Sehun hanya tertawa hambar mendengar penuturan Luhan yang mengira dirinya tengah berbagi lelucon dengannya. Padahal Sehun sendiri tidak menemukan dimana letak kelucuan pernyataannya tadi.

"Kau tidak percaya padaku? Aku sering bermain kerumahmu hyung."

"Tidak mungkin." Luhan kembali menggerakkan garpunya. Menyantap kembali makanan didepannya dalam diam. Diam karena ia berpikir apakah Sehun tengah bercanda atau tidak saat ini.

"Baiklah kalau kau tidak percaya. Aku tidak akan melanjutkannya." Kata Sehun sambil mengedikkan bahu tidak perduli. Ternyata Luhan juga tidak penasaran. Itu cukup bagus untuk Sehun karena ia tidak perlu menceritakan semuanya. Lihat saja dari respon Luhan, pria itu malah terus menggumamkan kata tidak mungkin tadi.

Sehun kembali terdiam. Sama seperti Luhan, ia kini meraih garpunya kembali. Menggulung mienya dengan garpu ditangannya. Dan melahapnya tanpa bersuara kembali. Sesekali ia menenggak air putih yang berada didekatnya. Dan hal seperti itu tidak luput dari perhatian Luhan dihadapannya.

Luhan meletakkan garpunya disisi piring miliknya. Sehun dapat melihat Luhan telah menghabiskan sebagian besar makanannya. Dan pria bermata rusa itu menatapnya dengan serius. Mungkin Luhan akan bertanya sesuatu mengenai penjelasannya tadi. Jadi Sehun akan menunggu.

"Kenapa aku harus percaya padamu?" Luhan mengeratkan pegangannya pada ujung meja makan. Ia ingin mendengar lebih banyak tentang masa lalunya dari Sehun. Tapi ia juga belum siap.

"Karena aku suamimu. Hanya itu saja."

Luhan menendang tulang kering Sehun dibawah meja. Ia merasa kesal juga. Dirinya sudah sangat serius dan kini malah Sehun bergurau. "Aku serius Sehun."

Sehun meneguk air putihnya. Dan membersihkan sudut bibirnya dengan tissu. Ia menggeser piring yang ia gunakan tadi dan meletakkan kedua tangannya diatas meja. Menatap lurus kearah Luhan yang kini menjadi cukup antusias.

"Kenapa kau ingin mendengarnya? Kupikir kau tidak perduli."

"Aku akan menilai apakah yang kau katakan benar atau tidaknya nanti. Jadi ceritakan apa yang kau ketahui."

Sehun nampak berpikir. Mencari pokok yang pas.

"Kita bersahabat selama sepuluh tahun. Apakah itu terdengar menarik?"

Deg–

Luhan terdiam. Tidak bergeming sama sekali. Ia mencari kebohongan dalam kata-kata itu dimata Sehun dan hasilnya, ia mengetahui bahwa kali ini Sehun tidak tengah berbohong atau kembali bercanda padanya. Apakah yang dikatakan Sehun benar adanya?

Kepalanya kini mulai berdenyut nyeri. Tapi Luhan akan menahannya. Ia ingin mendengar lebih banyak dari Sehun.

Tapi kenapa dadanya sesak sekali? Bahkan untuk berbicara saja ia cukup kesusahan saat ini. Ia cukup terkejut memang. Tapi ia juga belum tahu apakah cerita Sehun tadi adalah cerita sebenarnya atau bukan.

"Sepuluh tahun?" Luhan bertanya dengan suara bergetar. Sepuluh tahun dan Luhan tidak mengingat apapun diotaknya? Luhan tidak setua itu untuk terserang kepikunan. Tapi kenapa ia bahkan tidak mengenali Sehun?

Sehun terkekeh. Mengusap tangan kanan Luhan. "Kau sahabatku. Kita sering–"

Tunggu. Kalau memang Sehun adalah sahabat kecilnya. Berarti mimpi Luhan beberapa waktu lalu yang memang sering terputar setiap ia tidur adalah benar. Sehun adalah laki-laki kecil yang berada disana?

"Apa kau adalah anak kecil yang menyusup kerumahku dan membawaku pergi kelapangan sepak bola? Apakah itu kau Sehun?" Bahunya menegang. Memang di otaknya hanya teringat kalau ia pernah bermain dengan seorang anak kecil tapi wajahnya benar-benar tidak jelas saat itu.

Sehun tersenyum kembali. "Kau mengingat yang satu itu?" Ia menghela nafas pelan. "Ne, anak itu adalah aku. Wu Shixun. Ayahmu yang memberi nama itu untukku."

Benar. Baba sangat suka mengganti nama teman Luhan dengan nama China. Seperti Baekhyun, baba memanggilnya Boxian. Jadi Shixun itu adalah Sehun. Baiklah ini mulai masuk akal.

Tangan Luhan seketika melemas. Mengingat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Kenapa ia benar-benar tidak mengingat apapun kecuali mimpi yang satu itu?

"Kita bermain bersama. Sampai saat– kira-kira kau berumur lima belas atau empat belas tahun. Kau mengalami kecelakaan dan yeah kau mengalami sebuah amnesia ringan. Mungkin itulah alasan kau belum mengingatku. Dan kau pindah ke Beijing saat itu. Kau– kau meninggalkanku."

Sehun tersenyum miris mengingat yang satu itu.

Luhan tidak mengerti tapi secara tiba-tiba saja airmatanya mendesak ingin keluar. Dan ya Luhan menangis dalam diam. Kepalanya memang berdenyut. Tapi bahkan hatinya lebih sakit daripada kepalanya saat ini. Apakah ia benar-benar melupakan kejadian selama sepuluh tahun dalam hidupnya?

Luhan tertawa. Lebih kepada menguatkan dirinya sendiri. "Kau– kau bergurau kan Sehun-ah?"

"Aku harap ya. Tapi aku tidak. Itu kenyataan. Kau meninggalkanku dan aku– " Sehun menjeda kalimatnya. Menatap kasihan pada Luhan. Ia tidak seharusnya menceritakan semuanya. "Sudahlah lupakan."

"Aku tidak bisa melupakannya." Luhan bergumam. Pandangannya kosong. Ia ingin mengingat tapi bahkan secuil pun tidak ia dapatkan sama sekali.

"Mian. Aku tidak seharusnya mengungkit masalah yang bahkan tidak kau ingat. Ayahmu menyuruhku untuk diam dan–"

"Baba yang menyuruhmu tidak menceritakan apapun?" Luhan berubah dingin. Suaranya terkesan tenang dan datar. Itu malah membuat Sehun takut ketimbang ia melihat Luhan yang meledak-ledak.

Kini gantian Sehun yang gemetaran. Bisa-bisa ia disalahkan oleh ayah mertuanya dan gagal. Semua akan berakhir gagal untuknya. Astaga.

Sehun mengepalkan tangannya yang dingin. "N-ne. Babamu ti-tidak memperbolehkanku mengatakan apapun pa-padamu."

Luhan menghela nafas. Ia ingin marah pada Sehun tapi bagaimana? Sehun juga mendapat amanat dari babanya untuk tidak menceritakan hal itu pada Luhan. Dan kalau ia ingin marah pada babanya. Pasti babanya yang narsis itu akan bilang 'Itu demi kau Luhan. Baba sayang pada Luhan.' Dan Luhan tidak cukup waras untuk mendengar kata-kata omong kosong seperti itu. Bisa-bisa ia mengamuk nanti.

"Sudahlah. Aku tidak mau mendengar lagi." Ujar Luhan dengan sebuah senyuman disana. Ia menghapus dengan cepat airmata yang tadi sempat menetes dipipinya. Pria yang menangis benar-benar memalukan.

"Kau tidak apa-apa kan?" Sehun akhirnya beranjak dari duduknya. Berjalan memutar menuju kursi disamping Luhan dan mengusap punggunggnya pelan. Ia ingin setidaknya Luhan lebih tenang dan tidak tertekan.

"Aku bukan anak kecil Sehun-ah. Aku tidak apa sungguh. Lagipula itu hanya masa lalu. Tidak masalah aku hanya mengenal masa sekarang ini, ha-ha." Luhan dengan cepat menyingkirkan tangan Sehun yang tengah mengusap punggungnya. Ia ingin menangis lagi rasanya kalau Sehun seperti ini.

Sehun menarik pelan dagu Luhan. Menatap tepat dimata rusa pria dihadapannya. Dengan pergerakan itu, Luhan memejamkan matanya perlahan. Merasakan kehangatan yang Sehun berikan.

"Mata ini," Sehun mengecup kedua kelopak mata Luhan. "Aku tidak suka mereka mengeluarkan airmata."

Luhan terlihat tersenyum dan mengangguk pelan.

"Dan bibir ini," Sehun mengecup belah bibir Luhan. "Aku tidak suka mereka melengkung sedih."

"Jadi aku tidak menyukai seorang Xi Luhan yang sedang sedih." Sehun dengan cepat memeluk Luhan. Dadanya bergemuruh hebat saat ini. Tapi masa bodoh. Ia juga ingin Luhan merasakan betapa ia benar-benar mencintai Luhan. Luhan harus tahu kalau jantung ini berdetak hebat hanya untuknya seorang.

"Sehun-ah." Luhan mengeratkan pelukannya pada Sehun. Ia hampir menangis tadi tapi ia akan menahannya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri tadi kalau ia tidak akan menangis untuk Sehun.

"Saranghae." Sehun bergumam tepat disamping telinga Luhan.

"Saat ini aku belum tahu. Tapi aku akan mencoba Wu Shixun." Luhan berbisik dengan senyuman lega terukir dibibirnya.

"Apa– kami mengganggu?"

Astaga!

Itu suara baba dan ibunya. Luhan hafal betul suara mereka berdua. Dan–

"Sepertinya memang kita mengganggu mereka eomma." Luna terdengar menggoda mereka berdua. Sampai akhirnya Luhan dan Sehun melepaskan pelukan satu sama lain dan dengan serempak beranjak dari kursi.

"Dimana aku meletakkan ponselku?" Luhan berjalan menuju ruang tamu dengan wajah super merahnya.

"Kunci mobilku. Dimana dia?" Diikuti oleh Sehun dibelakangnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

.

Lalalalala bagaimana ini bagaimana?wkwkwk

Maap apdetnya lama haha

Diriview dulu aja deh yaa : ))