Disclaimer : Masashi Kishimoto

Title : Masked Bitch

Main cast : Sakura/Sasuke/Hinata

Rate : T ++

Genre : Drama/Romance/Psychology

.

.

Chapter 1

Apartemen Hyuuga

Siangnya apartemen itu kedatangan seorang wanita berambut pirang dengan umur kira-kira dua puluh tahunan ke atas, atau lebih tepatnya 23 tahun. Tanpa permisi dulu wanita itu merangsek masuk apartemen yang kebetulan pintunya tidak dikunci oleh sang pemilik.

"Uchiha brengsek! Ternyata kau di sini dengan wanita ini, hah!?" Begitu melihat wajah Sasuke, wanita itu langsung kalap. Ia memaki dan berteriak kasar.

"Ino! Apa yang kau lakukan di sini!?" Sasuke terperanjat begitu melihat wanita tersebut datang mencarinya.

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu!? Apa-apaan kau di sini enak-enakan bersama wanita lain sementara Sakura menderita, hah!?" Balas Ino dengan amarah yang meluap-luap.

"I-Ino-san…, Sasuke-kun…, kumohon jangan bertengkar…." Hinata yang berada di tengah-tengah pertengkaran itu berusaha untuk menengahi.

"Diam kau Hinata! Semua ini juga karena salahmu! Kau sendiri tahu 'kan kalau Sakura sangat mencintai Sasuke!" Kali ini Ino melampiaskan rasa kesalnya kepada wanita yang telah mengambil cinta dari sahabatnya.

"Tapi aku…, tapi aku juga mencintai Sasuke…," ucap Hinata dengan lirih.

Ino terdiam untuk sesaat. Ia menatap Hinata yang kini sedang menundukkan wajahnya. Entah kenapa, tiba-tiba ia dapat merasakan rasa sakit yang dirasakan Hinata. Tapi hatinya kembali mengeras saat ia mengingat bagaimana hancurnya Sakura saat datang kerumahnya sambil menangis.

"Dasar tidak tahu malu! Bukankah kau sendiri yang sudah mengikhlaskan Sasuke untuk bersama Sakura?! Lalu, kenapa sekarang kau sendiri yang mengikari janji, hah!?"

"Ino, hentikan!"

Sasuke secara reflek langsung mendorong Ino agar menjauh dari Hinata.

"Salahkah aku menginginkan bersama dengan orang yang aku cintai!?"

Hinata tiba-tiba berteriak kepada Ino. Gadis itu terlihat sangat emosional. Ia tak hanya memarahi Ino, tapi ia juga menangis.

"Tapi bukan seperti ini caranya! Bukan dengan merebut Sasuke dari Sakura!"

"DIAM!"

Kali ini Sasuke yang berteriak, melerai pertengkaran Hinata dan Ino. Kedua wanita itu langsung terdiam dan memasang wajah tegang.

"Ino lebih baik kau pulang," ucap Sasuke setelah menunggu beberapa saat. "Perlu kau tahu, Hinata tidak pernah merebutku dari Sakura dan sejak awal hanya Hinata yang menjadi wanita satu-satunya bagiku."

"Kalian…!"

Ino menatap geram ke arah Sasuke dan Hinata yang sekarang malah sedang berpelukan.

"Terserah kalian saja! Tapi aku tidak akan membiarkan Sakura disakiti!"

Ino yang sudah kesal melihat pemandangan di hadapannya memutuskan untuk segera pergi. Saat ini ia sedang memikirkan sakura yang sedang berada di kediamannya.

"Hinata, kau tidak apa-apa?" Tanya Sasuke dengan tatapan lembut, penuh kasih sayang pada wanita yang sedang dipeluknya.

"Sasuke…, apakah keputusan kita ini sudah benar…?" Hinata, bukannya menjawab tapi malah balik bertanya. Sirat keraguan terpancar dari kedua iris bulannya.

Hinata terdiam, tak mengindahkan kata-kata Sasuke yang sedang mencemaskan dirinya. Tiba-tiba ia teringat kembali semua kata-kata Ino mengenai kondisi Sakura yang sedang rapuh karena ditinggal Sasuke. Ia jadi berpikir, apa yang terjadi nanti kalau wanita yang sedang bersama dengan Sasuke adalah dirinya? Teman sekaligus sahabat dekatnya sendiri?

.

.

Di sisi lain Ino yang sedang mengendarai mobilnya langsung menelepon Sakura. Dia berniat untuk membeberkan semuanya. Ino sudah tidak tahan lagi melihat sahabatnya terus-terusan ditipu.

Ino mnekan-nekan tombol nomor Sakura dan menghubunginya. Akan tetapi tak ada seorang pun yang mengangkatnya. Hal ini membuat wanita yang baru menikah dua minggu lalu merasa semakin jengkel.

"Ck, kenapa kau tidak mengangkatnya, Sakura…," gumamnya dan mulai menekan numpad ponselnya secara kasar.

Lagi-lagi hasilnya nihil. Mendadak saja Ino merasa cemas. Ia takut kalau Sakura berbuat nekad.

"Aku harus menghubung, Sai…." Kali ini wanita itu mencoba menghubungi Sai, dan berharap pria yang resmi menjadi suaminya itu masih ada di dalam rumah.

"Halo…?" Dari sebang terdengar suara Sai yang kelihatannya baru bangun dari tidur.

"Sai, kau baru bangun tidur?" Ino menghela napas sambil geleng-geleng.

"Ino, mana sarapanku?" Balas Sai melantur. Pria itu mengucek kedua matanya dan bangun dari ranjang empuknya

"Sai, ini bukan saatnya bercanda!" Andai saja saat ini ia sedang tidak menyetir, mungkin ia sudah menepuk keningnya beberapa kali. Sebenarnya dia juga ingin tertawa dengan keabsurdan sikap sang suami yang kadang-kadang membuatnya tak habis pikir.

"Tapi aku lapar, Ino. Kau ini bagaimana, pergi begitu saja tanpa ijin Suami?" Sai berjalan keluar kamar sambil sesekali meguap.

"Iya, aku minta maaf, tapi ada masalah yang lebih penting daripada sarapanmu, Sai." Nada bicara Ino berubah menjadi sangat serius.

"Masalah? Masalah apa?" Tanya Sai menyadari kalau sang istri ada suatu urusan yang cukup penting.

"Sebelumnya, aku minta tolong padamu. Apa Sakura masih ada di rumah?"

Ino tersenyum kecil. Ia merasa bersyukur Sai tipe suami yang fleksibel. Dia tahu kapan harus bercanda, dan kapan harus bersikap serius.

"Sakura? Tadi dia kemari?"

"Ya, begitulah…."

Akhirnya Ino menceritakan soal Sakura yang datang pagi-pagi tadi sambil menangis karena ulah Sasuke, juga soal keputusan Sasuke untuk tinggal bersama Hinata. Ino juga memberitahu rencananya untuk mengatakan kebenaran soal Hinata kepada Sakura.

"Ino, sebaiknya kau tahan dulu soal Hinata kepada Sakura. Kau tahu sendiri 'kan bagaimana kondisi Sakura? Saat ini dia sedang lemah." Sai mencoba memberi masukan pada Ino agar tidak gegabah memutuskan sesuatu.

"Habis bagaimana. Aku benar-benar sudah tidak tahan melihat mereka mepermainkan Sakura," ucapnya dengan gemas. Tanpa sadar tangannya mencengkram kuat pada kemudi mobil.

"Tapi kau juga tidak bisa menyalahkan Hinata dalam hal ini…."

"Aku tahu! Semua ini murni kesalahan Sasuke!"

Ino mendengus. Yang dikatakan Sai memang tidak salah juga. Tidak adil bagi Hinata kalau dia yang harus menanggung semuanya sendiri. Hinata juga sama menderitanya seperti sakura (atau mungkin lebih).

"Ino, kurasa Sakura sudah pulang." Suara Sai menyadarkan Ino yang sempat melamun tadi.

"Jadi dia tidak ada? Duh, aku takut terjadi sesuatu padanya…." Raut wajah wanita yang lumayan cantik itu kembali cemas. Dan, tampaknya keresahan hati Ino dapat juga dirasakan oleh Sai.

"Tenanglah Ino. Apa kau sudah mencoba menghubunginya?"

"Sudah dan sama sekali tidak diangkat. Apa yang harus kulakukan?"

Ino melajukan mobilnya dengan hati-hati. Berusaha keluar dari kemacetan yang sudah menjadi aktifitas semua warga Konoha setiap harinya, dan hari ini suasana lebih padat dari hari-hari biasanya.

"Begini saja. Aku akan coba mencarinya di sekitar kompleks. Mungkin saja dia baru keluar tadi. Kalau aku menemukanya, aku akan segera menghubungimu," ucap Sai yang kini berjalan kembali ke atas untuk mengambil jaketnya.

"Termakasih, Sai. Maaf aku merepotkanmu," balas Ino terharu akan sikap Sai yang bisa begitu pengertian.

"Apa sih? Kau tidak perlu sungkan begitu padaku. Aku ini 'kan suamimu!" terdengar dengusan kecil dari sebrang. Mungkin saat ini Sai sedang mengerucutkan bibirnya dengan wajah yang memerah. Ino terkekeh kalau harus mengingat wajah cemberut suaminya.

"Iya-iya. Terimakasih suamiku yang baik," goda Ino dengan tawa yang lepas.

"Ya sudah, kau fokus saja menyetir dan hati-hati. Aku mau pergi sekarang mencari Sakura."

Ino akhirnya bisa bernapas lega. Setidaknya Sai dapat dia andalkan dalam situasi seperti sekarang ini. 'Sakura, semoga kau baik-baik saja,' uapnya dalam hati mendoakan sahabatnya itu.

.

.

Sementara itu Sakura sedang berjalan sendirian di pinggir jalan dengan wajah pucat. Ia pergi pagi-pagi sekali dan belum makan apapun. Pikirannya hanya terfokus pada Sasuke.

"Kenapa…, Kenapa kau berubah secepat ini Sasuke…?" Gumamnya secara berulang-ulang. "Sebenarnya siapa wanita yang telah membuatmu berubah seperti ini….?" Sakura sudah tak bisa menahan isak tangisnya yang semakin lama semakin menyesakkan dada.

Wanita itu kini berdiri di depan sebuah bangunan mewah bergaya Eropa. Ia menengadahkan kepalanya ke atas, menatap secara samar.

"Hinata, sekarang apa kabar ya. Enam bulan aku tidak mendapatkan kabar darinya, kuharap dia baik-baik saja," ucapnya dengan segurat senyum tipis terukir di bibirnya yang pucat.

Wanita itu melangkahkan kakinya ke dalam bangunan tersebut sambil membayangkan wajah Hinata yang juga bisa dikategorikan sebagai sahabat terbaiknya sewaktu mereka masih kuliah bersama.

Masih jelas dalam ingatannya bagaimana akrabnya dulu dia dan Hinata. Mereka bahkan sering hang out bersama, dan Sasuke juga sering ikut bersama mereka. Hanya saja ia putus komunikasi dengan Hinata semenjak ia menikah dengan Sasuke. Dan, kali ini ia ingin menemui sahabatnya langsung dan melihat keadaannya. Sekalian ia juga ingin bercerita, menumpahkan segala keluh-kesahnya seperti dulu, di mana ia sering sekali curhat mengenai Sasuke pada Hinata.

TBC


Aku sudah memberi tanda kurung di bagian pair sesuai saran dari senpai-senpai di sini. Maaf, gak begitu paham, dan soal nama yang mana yang lebih dulu itu yang jadi pair, akub ener-bener gak tahu. Soalnya akumencet namanya dari huruf 'S' duluan (Sakura, lalu Sasuke karena lebih fleksibel) baru ke Hinata. Soalnya di FB gak ada peraturan kayak gitu.