I Think I Love You
Cast:
Oh Sehun
Luhan
-HunHan-
Rated:
T = Tentukan sendiri(?)
Genre:
Romance, Family, Boys Love –Shounen ai-
.
.
.
.
Kata orang, dunia ini sempit. Kalau kau bertanya itu benar atau tidak pada Luhan, pasti ia akan bilang "Itu hanya teori bodoh!" Tapi setelah ia bertemu dengan sosok Sehun, Luhan yakin ia bisa menjelaskan sesempit apa dunia ini.
.
.
.
.
.
.
"Wow, ada apa ini? Kenapa wajah pangeran kampus kita begitu segar? Kau habis olahraga malam ya dengan Oh Sehun itu?" Chanyeol menatap geli kearah wajah Luhan yang kini mendelik kearahnya. Nampak terganggu.
"Bisa tidak otakmu itu diisi dengan hal-hal yang berguna? Atau mungkin isi otakmu dengan Byun Baekhyun. Sepertinya lebih baik." Luhan menjawab dengan kalem. Ia membolak-balikkan buku paket di tangannya dan sesekali menandai sesuatu yang ia anggap penting.
Chanyeol nampak terkejut. Namun ia adalah orang yang dengan cepat mengatasi keterkejutan itu dengan tertawa hambar. Dan Luhan menganggap tawa itu adalah tawa gugup dari Chanyeol. "Kau bergurau? Kenapa harus Byun Baekhyun?"
"Karena kau menyukai Byun Baekhyun. Apa kurang jelas, Chanlie?" Sekali lagi Luhan menembak tepat sasaran. Bahkan Park Chanyeol si pemilik senyum idiot itu tak dapat berkata-kata lagi. Ia hanya diam dan berpikir, bagaimana bisa Luhan mengetahui hal itu?
Luhan mendengar Chanyeol mendecih pelan. Dan setelahnya anak itu ikut menyibukkan dirinya dengan beberapa buku paket. Buku yang sama dengan apa yang Luhan pegang. Lebih tepatnya buku itu milik Luhan.
Park Chanyeol kalau gugup lucu juga.
"Ya! Park bodoh Chanyeol. Kenapa kau membolak-balikkan bukuku dan sok menandai begitu? Kau saja menyuruhku untuk menandai bukumu. Dasar kau benar-benar bodoh." Luhan menggeleng jengah. "Kalau kau gugup dan ingin menyibukkan diri, kau harus lihat nama yang tertera dibuku itu Chanyeol."
"Aku tidak gugup hyung."
"Kau ya. Untuk apa kau menyembunyikan dariku? Karena nyatanya kau selalu saja terlihat jelas. Bahkan babaku saja pasti akan tahu kau menyukai adikku hanya melihat sekilas ekspresimu saat menatap kagum Byun Baekhyun diruang musik." Kekeh Luhan pelan.
Jadi ngomong-ngomong, Chanyeol dan Baekhyun sudah lebih dulu berbelok ya? Pantas saja Chanyeol selalu menawari jasa konsultasi dan Baekhyun memberi saran berlebihan kemarin. Ternyata mereka berdua bahkan lebih paham.
"Tidak hyung. Aku tidak–"
"Luhan hyung, Oh Sehun mengunjungimu. Dia didepan resepsionis sekarang." Baekhyun tiba-tiba menyela. Dan setelahnya terkejut saat mendapati Chanyeol disana.
"Baiklah. Baekhyun-ah, bisa bantu aku? Aku sedang menandai istilah penting dibukuku. Jadi bisakah kau melanjutkannya? Ini benar-benar penting. Kau bisa bertanya dengan Park Chanyeol. Dia ahli dibidang cari mencari seperti itu." Luhan tersenyum dan menepuk bahu Baekhyun beserta Chanyeol pelan. Mengerling kearah keduanya. Yang Chanyeol tahu kalau hyungnya itu tengah menjebaknya dengan seorang Baekhyun disampingnya.
.
.
.
Luhan berjalan cepat sambil sesekali membungkuk hormat kepada beberapa dosen yang kebetulan berpapasan dengannya. Dan menyapa beberapa senior berikut junior yang juga kebetulan ia lewati.
Baekhyun bilang, Sehun mengunjunginya. Tapi kenapa sampai sekarang ia tidak melihat batang hidung pria tersebut? Apa ia terlalu lama turun sehingga Sehun sudah lebih dulu pulang? Atau Sehun memiliki panggilan mendadak dari perusahaan?
"Dimana anak itu?" Luhan menoleh kesana kemari. Mencari tubuh tinggi langsing Sehun. Sehun pasti kemari menggunakan kemeja putih seperti biasa dan tubuhnya itu benar-benar berbeda. Jadi Luhan pasti dapat dengan jelas mengenalinya. Tapi Sehun benar-benar tidak ia temukan ngomong-ngomong.
Grep–
Sebuah tangan melingkar dipinggangnya dan ia dapat dengan cepat mengenali tangan itu. Itu milik Oh Sehun pastinya. Tidak salah lagi.
"Ada apa kemari?" Luhan bertanya dengan singkat. Ia benar-benar sibuk hari ini dan tidak bisa berlama-lama dengan Sehun. Tapi anak ini malah terus memeluknya seperti ini.
"Merindukanmu."
"Jangan basa-basi. Dan lepaskan pelukanmu. Orang-orang akan bergosip." Luhan membuka kaitan tangan Sehun diperutnya. Berusaha lepas dari pelukan Sehun dan berhasil. Pria albino itu melepas pelukannya.
Sehun memandang Luhan dengan wajah cemberutnya dan itu sangat lucu menurut Luhan. "Kau sibuk hyung?"
Luhan menggoyang-goyangkan beberapa kertas ditangannya dan menunjukkan itu didepan wajah Sehun. Memberi kode kalau ia sibuk sekarang dan tidak memiliki banyak waktu untuk bermain-main.
"Temani aku makan siang." Sehun hendak menarik lengan Luhan namun Luhan lebih dulu menahannya. Menggeleng tanda tidak setuju dengan ajakan Sehun itu.
"Aku harus menyelesaikan ini." Ia menghela nafas pelan. "Aku sibuk sekarang. Tapi kita bisa makan malam bersama dirumahku. Kebetulan eomma dan Luna memasak banyak malam ini."
"Jinjja? Baiklah. Aku akan menjemputmu nanti sore dan aku akan menginap dirumahmu." Jawab Sehun final. Ia akan segera pulang kerumah dan merapikan beberapa pakaian dan akan menginap di kediaman Xi.
Alis Luhan beradu tanda ia bingung. "Menginap apanya? Aku hanya mengajakmu makan malam dan tidak untuk menginap."
"Tapi aku ingin menginap dirumah mertuaku."
"Tidak boleh. Memang kau tidak punya rumah ya?"
"Rumahku adalah dirimu hyung." Ucap Sehun dengan senyuman manisnya. Mengusak sayang surai coklat madu Luhan.
Jantung Luhan tiba-tiba saja berdetak dengan cepat. Kata-kata spontan yang dilontarkan oleh Sehun agaknya membuat darah ditubuhnya terpompa dan memenuhi sisi pipinya. Ia mulai merona sekarang. Benar-benar payah.
"Diam kau Oh Sehun." Luhan menutup kedua pipinya. Menyamarkan rona merah yang kini semakin memerah saja saat dengan tiba-tiba–
Cup–
Sehun mencium bibirnya. Tangannya menyingkirkan tangan Luhan yang pria cantik itu gunakan untuk menutupi warna merah samar dipipinya. Ia dengan cepat menyudutkan Luhan disebuah dinding tepat beberapa senti dibelakang Luhan dan mulai melumat bibir Luhan perlahan.
Sehun tidak perduli kalau sampai ada orang yang melihatnya. Ia benar-benar tidak tahan kalau Luhan sudah bersikap malu-malu seperti tadi kepada Sehun. Ia benar-benar ingin menggigit Luhannya saat ini.
Luhan dengan pasrah mengikuti Sehun. Memejamkan matanya perlahan dan mengalungkan tangannya dileher Sehun. Menarik pria albino itu lebih dekat kearahnya. Dan ia memiringkan kepalanya untuk memudahkan Sehun. Masa bodoh. Ia tidak perduli sedang berada dimana.
Sehun menggigit bibir bagian bawah Luhan, berharap pria rusa dikungkungannya ini mau untuk membuka mulutnya. Memperlebar akses untuk Sehun masuk lebih dalam. Tidak menunggu lama karena yeah Sehun mendapatkannya. Luhan dengan sukarela membuka mulutnya. Membelit lidah Sehun untuk bermain bersama lidahnya didalam mulut Luhan.
Astaga. Sehun baru tahu seperti ini rasanya benar-benar berciuman dengan Luhan. Dan wow, Luhan benar-benar diluar dugaan. Apa Luhan memiliki hobi berciuman? Ha-ha.
"Mmhh–" Tanpa sengaja Luhan melenguh tertahan. Sehun benar-benar berbahaya. Ia memberikan akses untuk pria albino itu menciumnya bukan berarti pria albino itu dapat menjamah tubuhnya juga, sial.
Dan itu juga benar-benar diluar kendali Sehun. Tangan kanannya malah dengan sialnya menggeliat masuk kedalam sweater baby pink milik Luhan dan mengusap perut rata Luhan dengan perlahan. Ia sempat mendengar Luhan melenguh tadi. Dan itu tidak cukup untuk membuat kesadarannya kembali. Ia malah merasa– tertantang?
"Se– mmhh." Luhan baru saja ingin memperingati pria albino didepannya untuk tidak bertindak lebih jauh. Tapi sialnya bibir Sehun ughh benar-benar melumat bibirnya habis. Ia jadi tidak sanggup untuk berbicara saat ini.
Mereka masih saling melumat satu sama lain. Bahkan kalau dilihat, Sehun sudah seperti ingin memakan seluruh wajah Luhan saat ini. Sehun masih dengan bodohnya menciumi Luhan, sesekali menjilat pelan dagu Luhan tanpa menyadari ada tiga pasang mata tengah menganga tak percaya.
"Ehemm." Chanyeol berdehem pelan. Ia mengalihkan pandangannya ketempat lain. Kemana saja asal tidak kearah dua orang yang tengah membelit dan melumat satu sama lain didepannya ini. Ia sempat menarik Baekhyun kebelakangnya agar manusia polos itu tidak melihat adegan nista kakaknya dengan pria albino itu.
"Astaga, apa kita hanya hama atau kuman atau malah bakteri merugikan?" Jongin menambahkan. Ia juga berdehem. Malah ia berdehem lebih keras daripada Chanyeol. Sepasang pria didepan mereka benar-benar tidak tahu apa kalau mereka bisa saja dilihat oleh seisi kampus tengah beradegan mesum.
Tidak sampai beradegan mesum juga Kim Jongin.
Luhan dan Sehun dengan spontan melepaskan dekapan dan tautan bibir satu sama lain. Luhan mengusap kasar bibirnya dan setelahnya ia gugup. Bahkan untuk menelan air liurnya saja sulit sekali. Seperti tersangkut.
Dengan panik ia menatap Sehun yang kini hanya memasang ekspresi tidak perdulinya dan berbalik. Menghadap ketiga teman Luhan yang ia kenal sebagai Chanyeol, Baekhyun dan entah pria tan didepannya ini Sehun belum tahu siapa dia dan Sehun tidak merencakan untuk mengetahuinya juga.
Sehun mengusak surai coklat madu itu gemas. Dan kemudian berbisik pelan. "Ku tunggu diparkiran nanti sore sayang." Ia juga masih sempat untuk mengecup pipi Luhan dan membungkuk pamit kepada ketiga teman Luhan.
"Kalian benar-benar. Tidakkah seharusnya kalian ini menyewa kamar?"
"Ya! Kim Jongin!"
.
.
.
Tiba-tiba saja ruangan musik berubah hening. Kini Baekhyun, Jongin juga tentu saja Chanyeol tengah memandang aneh kearah Luhan. Mereka masih tidak habis pikir, Luhan bisa menjadi pihak bottom padahal dulu ia sering berkencan dengan wanita-wanita seksi. Apa dunia sudah berbalik?
"Jangan memandangku seperti itu bodoh." Luhan mendelik tajam. Ia merasa dihakimi padahal ia sama sekali melakukan sesuatu yang –terlalu- salah didepan mereka tadi. Memang mereka bertiga tidak pernah berciuman atau apa? Kenapa reaksi mereka sama dengan kakaknya waktu itu.
"Aku tidak akan percaya kalau kau bilang kau dan si pria albino itu hanya sebatas rekan bisnis. Benar-benar omong kosong." Jongin mendecih sebal. Jelas-jelas ia melihat mereka berdua melumat. Dan bayangkan, mereka melakukan itu dikampus. Walaupun yeah digedung belakang yang jarang terjamah oleh mahasiswa, tapi tetap saja berbahaya.
"Memang aku bilang aku dan Sehun itu rekan bisnis?" Luhan tersenyum angkuh. Memandang Jongin dengan tatapan sinis andalannya.
"Lalu? Bisa jelaskan?"
"Aku dan Oh Sehun akan menikah beberapa minggu lagi. Dan ku harap kalian– bisa hadir disana." Luhan menelan ludahnya gugup. Melihat satu persatu wajah temannya –Jongin dan Chanyeol- yang memiliki dua reaksi berbeda.
Untuk Chanyeol, anak itu menahan tawanya. Sepertinya ia sudah memprediksi hal ini akan terjadi. Tapi– oh ayolah bagaimanapun, Korea bukan negara sebebas itu untuk menikah. Kau pikir kau ini orang yang lebih tinggi daripada presiden?
Dan Jongin. Kini anak hitam itu menatap Luhan terkejut, khawatir dan mungkin jijik pada Luhan. Luhan paham dengan reaksi Jongin yang luar biasa itu. Jadi Luhan hanya tersenyum maklum menanggapinya.
"Aku tidak akan menikah di Korea kalau kalian mau tahu. Keluargaku beserta keluarga Sehun akan pergi ke Amerika untuk melangsungkan pernikahan itu."
"Lalu?" Jongin bertanya masih dengan wajah tak percayanya.
"Lalu apa? Lalu kami menikah dan tamat." Luhan memutar bola matanya malas. Pertanyaan konyol Jongin benar-benar membuat Luhan kesal.
"Kau– kau tidak lagi menyukai wanita?" Jongin masih penasaran rupanya.
"Kenapa kau malah mempermasalahkan itu bodoh? Kalau aku menyukai wanita lagi, bisa-bisa baba membunuhku."
"Wow. Kalau begitu kau hanya menyukai Sehun saja hyung." Chanyeol menepuk pundak Luhan pelan dan tersenyum kearah Luhan. Pria pemilik senyum terlebar itu mengulurkan tangannya guna untuk berjabat tangan dengan Luhan.
"Selamat hyung. Aku percaya akan pilihanmu. Semoga kau berbahagia." Ungkap Chanyeol tulus dan ia sempat memeluk Luhan. Sebentar lagi kakak tertuanya itu akan melepas masa lajangnya dan memiliki pendamping hidup berjenis kelamin laki-laki. Chanyeol jadi penasaran bagaimana kehidupan rumah tangga Luhan.
"Gomawo Chanyeol-ah. Maaf kalau aku begitu munafik dulu. Tapi yeah ini mungkin sudah menjadi takdir antara aku dan Sehun. Jadi mau bagaimana lagi?"
"Tidak masalah. Aku mendukungmu."
"Apa kau tidak memikirkan malah pertama?" Jongin. Jadi anak itu dari tadi diam karena memikirkan hal itu?
"Kim Jongin. Jangan memulai."
.
.
.
Luhan tidak pernah berpikiran kalau ia bisa jatuh pada pesona seorang pria, terlebih lagi pria itu adalah Oh Sehun si eksekutif muda yang katanya adalah teman masa kecil Luhan juga.
Ngomong-ngomong soal masa kecil, Luhan sudah bertanya pada baba dan baba menceritakan semuanya. Semuanya secara terperinci. Dari mulai dirinya yang memang teman masa kecil Sehun, dirinya yang suka kabur dengan Sehun demi bermain bola dilapangan, sampai insiden kecelakaan yang membuat Luhan tidak mengingat apapun kecuali keluarganya.
Awalnya Luhan tidak percaya kalau babanya sampai hati menutupi itu semua. Ia juga merasa kesal kenapa tidak dari awal saat dirinya bertemu Sehun kembali saat dimana ia dijodohkan, babanya tidak menceritakan semuanya. Setidaknya ia tidak mungkin bersikap kasar terhadap teman masa kecilnya walaupun kali ini teman masa kecilnya akan naik jabatan menuju pendamping hidupnya.
Tapi itu semua telah terjadi. Dan baba juga bersumpah bahwa ia telah menceritakan semuanya secara detail. Dan Luhan adalah orang yang sangat percaya pada babanya. Jadi ia tahu bahwa babanya memang tidak berbohong saat ia menceritakan peristiwa beberapa tahun yang lalu itu.
Sekarang Luhan sudah mulai lega. Mungkin ada benarnya juga kata Luna. Sakit kepala yang sering dideritanya itu akibat ia tiba-tiba mengingat beberapa memori masa kecilnya yang sama sekali tidak ia ketahui. Semakin ia ingin mengingat, semakin sakit dan berdenyut pula kepalanya saat itu. Tapi berbeda dengan sekarang. Ia tidak terlalu sering terserang pusing karena setelah baba menceritakan semuanya, baba membawanya kerumah sakit guna mengecek kondisinya dan dokter memberikan terapi yang membuatnya lebih rileks saat memori-memori lain muncul dipikirannya. Dan itu berhasil. Sakit kepalanya tidak separah dulu.
"Luhan-ah!" Suara kakaknya membangunkan Luhan. Luhan yang saat itu masih antara sadar atau tidak hanya menggumam pelan dan bergelung kembali pada selimut hitamnya.
"Luhan-ah, Oh Sehun ada dibawah. Astaga ini sudah sangat sore dan jangan tidur terus." Luna dengan segala kesabarannya menggedor pintu kamar Luhan tapi Luhan tak kunjung keluar dari kamarnya. Jadilah ia membuka kamar Luhan dengan kunci cadangan yang ia miliki.
Luna dengan langkah angkuhnya masuk lebih dalam ke kamar Luhan dan benar, adiknya itu masih saja melanjutkan mimpi indahnya diatas kasur dan tidak tahu sudah setengah jam seorang pria menunggunya dibawah.
Dengan kasar, Luna menarik bantal yang Luhan gunakan. Dan kepala Luhan terangkat lalu terjatuh tepat diatas kasur. Itu cukup membuat Luhan terkejut dan hampir saja meninju sang pelaku kalau saja ia tadi tidak membuka matanya terlebih dahulu.
"Ada apa jiejie? Kau benar-benar merusak kualitas mimpiku siang ini." Luhan menggumam dan mengambil kembali bantal yang telah dijatuhkan Luna kelantai. Hampir kembali tertidur namun Luna lebih dulu menarik telinga adiknya itu.
"Kau. Bangun sekarang atau aku akan menyirammu dengan air panas." Luna dengan ganas menarik telinga Luhan bahkan sampai Luhan mengaduh disana. Dan untuk informasi, Luna tidak perduli akan hal itu.
"Ya! Akhh– Luna jiejie! Astaga lepaskan." Luhan dengan terpaksa membuka lebar matanya dan terbangun. Berusaha terlepas dari cengkraman buaya ganas disampingnya itu –Luna-
"Kau ini tidak punya pikiran ya?" Dengan kesal Luna menunjuk-nunjuk adiknya. "Oh Sehun dibawah sana menunggumu selama hampir setengah jam dan kau disini dengan santainya bermimpi? Astaga. Kau ini habis mimpi basah atau bagaimana? Tidurmu benar-benar lama sekali seperti kerbau, Luhan." Luna melemparkan bantal kearah wajah Luhan sangking gemasnya ia pada adiknya itu.
"Kenapa sih kau– tunggu. Kau bilang Oh Sehun menungguku? Oh Sehun ada dirumah ini?" Dengan sigap, Luhan berdiri tegap. Memandang horror kakaknya dan bergerak panik. "Astaga astaga. Bagaimana ini?"
Dan Luhan segera berlari kelantai bawah. Ingatkan Luhan untuk mencuci muka terlebih dahulu agar ia tidak tersandung seperti tadi.
.
.
.
Beberapa hari yang lalu, Luhan telah mengiyakan ajakannya untuk berkunjung kerumahnya. Itu karena Luhan lebih dulu mengajaknya makan malam dirumahnya dan benar-benar ia mendapatkan suasana hangat dari keluarga Luhan. Jadilah ia juga ingin melakukan hal yang sama untuk Luhan. Tapi sayangnya mobil Luhan saat ini tengah berada dibengkel karena entah kenapa mobil bagian depan pria itu ringsek. Apa pria itu habis mengalami kecelakaan?
Jadilah Sehun dengan baik hati menjemput Luhan dirumahnya. Hitung-hitung ia bisa bertemu dengan ibu dan ayah mertuanya he-he.
Sehun kini telah berada diruang keluarga Xi dan duduk manis didepan televisi. Menunggu Luhan yang katanya sedang berdiam diri dikamarnya. Entah apa yang manusia rusa itu lakukan disana. Sehun juga tidak tahu.
"Sehun, maafkan Luhan. Sepertinya ia sedang tidur." Itu suara ibu Luhan. Ibu Luhan terlihat tidak enak padanya dan Sehun malah ingin tertawa saat ini.
"Tidak apa-apa emmonim. Biarkan Luhan tidur dulu. Aku akan menunggu disini." Sehun tersenyum manis dan membungkuk sekilas.
"Anak itu memang kalau sudah tidur seperti mayat." Itu suara ayah Luhan. Ayahnya terdengar acuh. Sepertinya ia sudah sangat paham dengan perilaku anak bungsunya itu.
Sehun terkekeh pelan dan mengangguk. "Aku belum pernah melihat Luhan tidur abeonim."
"Wajahnya kalau tidur memang seperti bayi, begitu juga dengan lamanya dia tidur. Aku nyaris mengiranya tengah mati suri. Benar-benar anak itu." Ujar Tuan Xi jengah sambil membolak-balikkan koran ditangannya. "Aku akan mengantar Luhan kerumahmu. Kau pulanglah daripada menunggu kerbau tidur."
"Tidak apa abeonim. Aku akan menunggu disini."
"Kau benar-benar sabar Sehun. Aku saja sudah dua puluh empat tahun menjadi ayahnya tidak tahan." Kekeh Tuan Xi. Luhan itu anak yang sulit diatur. Entah kenapa ia menjadi lebih manis akhir-akhir ini. Mungkin faktor anak itu akan menikah?
"Aku harus–"
"Astaga Sehun. Kenapa kau tidak meneleponku terlebih dahulu?" Luhan terlihat bersungut. Memandang kesal kearah Sehun. Dan Sehun hanya terkekeh karenanya.
"Aku sudah meneleponmu sayang. Kau tidak mengangkatnya." Jawab Sehun. Ia segera berdiri menghampiri Luhan yang kini tengah merengut sebal kearahnya dan memeluknya. Pelukan selamat datang yang seharusnya Luhan yang melakukan itu untuk Sehun. Yasudahlah biarkan.
Luhan hanya meringis dan membalas pelukan Sehun. "Maaf. Aku ketiduran."
"Cepat mandi dan ganti baju." Luna tiba-tiba datang dan menghancurkan momen Sehun dan Luhan. Luhan menoleh kearah kakaknya itu dan mendelik tidak suka.
"Yasudah. Aku akan mandi dan kau tunggu disini. Sepuluh– ani, dua puluh menit saja. Oke?"
"Baiklah. Mandilah dan aku akan menunggu disini."
.
.
.
Sehun memutuskan untuk membawa Luhan berkunjung kerumahnya. Namun sebelumnya Sehun mengajak Luhan ke pantai terlebih dahulu untuk sekedar melihat matahari tenggelam. Karena kebetulan pantai yang mereka kunjungi saat ini satu arah dengan rumah Sehun jadi Sehun tidak perlu memutar balik untuk sampai kerumahnya nanti.
Suasana pantai cukup sepi hari ini. Mungkin dari yang Sehun bisa lihat hanya dua keluarga dan sepasang kekasih yang kini tengah duduk menunggu matahari terbenam. Nampaknya mereka sudah lebih lama berada disana dibandingnya dengan dia dan Luhan.
"Sehun-ah, kita duduk disana saja." Luhan tiba-tiba menarik tangan Sehun menuju sebuah batu yang ukurannya cukup besar dan menyuruh Sehun untuk duduk bersamanya disana.
Keadaan tiba-tiba hening. Sehun dapat melihat Luhan yang kini tengah menikmati semilir angin. Pria disampingnya itu tengah memejamkan mata dan merentangkan tangan kanannya merasakan angin menerpa dirinya. Hal sekecil itu bahkan dapat membuat Sehun tidak berhenti tersenyum.
Dengan tiba-tiba, Sehun merangkul pinggang ramping Luhan untuk mendekat kearahnya. Mereka telah memiliki waktu berdua dan Sehun bukan orang yang suka berjauh-jauhan seperti ini.
Mata Luhan tiba-tiba terbelalak kaget. Menatap Sehun yang kini tengah memandang lurus air laut. Menanti tenggelamnya matahari.
Luhan baru sadar, dilihat dari sisi manapun juga Sehun terlihat tampan. Oke ia akan mengakui ini hari ini walaupun dalam hati kalau Sehun lebih tampan darinya. Dan Luhan masuk kedalam urutan kedua setelah Sehun.
Bagaimana bisa ada manusia sesabar ini? Luhan sudah sangat kurang ajar pada Sehun, memakinya dengan sebegitu kejinya dan sekarang Sehun bahkan masih sudi untuk menemaninya. Menunggu hari pernikahan mereka datang.
Jujur saja. Kalau Luhan yang menjadi Sehun, mungkin ia akan tidak tahan dan memutuskan untuk membatalkan perjodohan ini. Mencari pria atau wanita lain yang tidak semenyebalkan dirinya. Tapi nyatanya apa? Sehun, pria itu sampai detik ini masih mau berada disampingnya. Sungguh luar biasa sekali kesabaran yang Sehun miliki itu.
Sehun yang merasa diperhatikan seintens itu oleh Luhan akhirnya menoleh membuat si mata rusa memalingkan wajahnya. Rona merah samar tercetak jelas dipipinya. Dan itu benar-benar membuat pria manis disampingnya ini nampak cantik bak dewi.
Mungkin dewi pun akan iri dengan kecantikan Luhan saat ini.
Menarik Luhan lebih dekat dan Sehun menyandarkan kepalanya pada kepala si pria disampingnya. "Apa kau senang?" Tanya Sehun dengan lembut. Dan Sehun dapat merasakan Luhan mengangguk pelan.
Ini benar-benar mimpinya sejak lama. Mimpi dari tujuh tahun yang lalu dan baru terjadi saat ini. Terjadi hari ini bahkan saat terjadi malah terasa seperti mimpi untuk Sehun.
"Apa kau ingin mengatakan sesuatu?" Tanya Sehun sambil mengusap punggung tangan Luhan. Menatap tenang kearah pantai.
"Maafkan aku Sehun."
Sehun dengan cepat menegakkan badannya dan menoleh kearah pria yang lebih mungil disampingnya itu. Bingung dengan permintaan maaf dari Luhan. Seingat Sehun, pria mungil itu tidak memiliki salah padanya.
"Minta maaf untuk apa? Kau tidak memiliki salah padaku, Luhan."
Luhan terdengar menghela nafas pelan. Ia menoleh kearah Sehun sekilas dan setelahnya menunduk dalam.
"Aku– aku berbuat tidak baik padamu beberapa waktu lalu. Aku selalu menganggapmu pengganggu. Dan aku juga melupakanmu Sehun. Jadi maafkan aku." Luhan meraih tangan Sehun, menggenggamnya erat. Merasa bersalah.
Sehun segera memeluk Luhan. Menenangkan si pria rusa disampingnya yang kini hampir saja menangis.
"Hei, tidak perlu meminta maaf. Memang seharusnya aku yang berusaha sayang. Mungkin kalau aku menjadi kau, aku akan melakukan hal yang sama pada orang yang tidak kukenal." Sehun mengusap pelan punggung Luhan. Terdengar kembali helaan nafas dari Luhan. Anak itu mendongak kearah Sehun dan tersenyum. Mengecup singkat bibir Sehun. "Terimakasih karena kau sudah mengerti Sehun-ah."
Hening beberapa saat. Sampai suara deburan ombak membuyarkan lamunan Luhan. Ia dengan tiba-tiba memisahkan diri dari Sehun. Merasa benar-benar bersalah saat sebuah bayangan muncul diotaknya. Sesuatu yang mungkin Sehun tidak ketahui.
Sesuatu yang Kris lakukan padanya.
"Ada apa Luhan?" Sehun menoleh kembali kearah Luhan. Menatap aneh. Tadi mereka benar-benar baik dan sekarang kenapa wajah Luhan terlihat seperti ketakutan begitu?
Tangan Luhan bergetar. Bagaimana kalau suatu hari nanti Sehun tahu tentang hal itu? Apa Sehun akan menjauhinya?
Kejadian itu benar-benar hanya dia dan Kris yang tahu. Baekhyun adiknya saja tidak ia beritahu secuilpun tentang kejadian itu. Ia ingin sekali berbagi dengan seseorang, mungkin saja Yixing. Tapi ia benar-benar terlalu malu mengakui hal menjijikan seperti itu.
Ia tidak bisa memprediksi bagaimana reaksi Yixing kalau mungkin saja suatu hari nanti ia memberitahukan itu semua, bagaimana dengan Sehun? Yixing bisa saja membunuh Yifan saat itu juga, lalu bagaimana dengan Sehun? Anak itu bahkan lebih keji dari siapapun. Bisa saja Sehun membunuhnya juga.
Astaga apa yang aku pikirkan.
Sehun menepuk bahu Luhan pelan. Menyadarkan pria cantik itu dari lamunannya. "Luhan, kau tidak apa-apa?" Luhan hanya tersenyum samar dan mengangguk. Ini belum saatnya untuk jujur. Dan mungkin ia tidak akan jujur pada Sehun.
"Gwenchana, Sehun-ah."
.
.
.
Entah sepertinya ada yang aneh dari raut wajah Luhan. Seperti ia tengah memikirkan sesuatu atau tengah menyembunyikan sesuatu dari Sehun. Tapi apa? Tentang masa lalu Luhan, bahkan Sehun sudah tahu secara mendetail. Jadi apa yang masih disembunyikan oleh Luhan?
"Luhan, kau tidak apa-apa?"
"Gwenchana, Sehun-ah."
Mungkin ini saatnya Sehun mencari tahu hal apa yang membuat Luhan jadi sepanik dan setakut itu. Kalau memang bukan masalah yang berat, Sehun yakin ia dapat mengatasinya. Lagipula ia sangat mencintai Luhan. Mana mungkin ia akan meninggalkan Luhan hanya karena masalah sepele.
"Sehun-ah, lihat. Matahari sudah akan tenggelam." Ujar Luhan sambil menunjuk-nunjuk matahari tersebut. Sehun hanya tersenyum geli dan mengikuti arah pandang Luhan.
Sehun sebelumnya hanya melihat adegan ini di film-film atau membacanya dinovel remaja yang entah ia lupa pernah membaca milik siapa. Tapi sekarang ia merasakannya sendiri. Memandang matahari tenggelam bersama dengan orang yang ia cintai, Luhan. Hanya satu nama itu yang dapat membuat detakan jantung Sehun menjadi tidak normal seperti sekarang ini.
Saat Sehun tengah menatap matahari yang kini menampakkan separuh bagiannya, Luhan tiba-tiba menoleh kearahnya. Menatapnya dengan mata yang sangat berbinar. Itu cukup membuat Sehun merasa tertarik dan menoleh kearah Luhan.
"Ada apa? Kenapa kau terus memandangku seperti itu?" Sehun terkekeh. Wajah Luhan benar-benar lucu saat ini. Memang apa yang rusa itu lihat dari dirinya sejak tadi sampai matanya berbinar?
"Tidak ada." Kekeh Luhan pelan. "Ini pertama kalinya aku ke tempat seperti ini. Terimakasih Oh Sehun."
.
.
.
Seorang pelayan yang sangat Luhan kenali, Lee Jinki. Pelayan itu selalu saja yang menyambut mereka berdua saat mereka datang bersamaan seperti ini. Dan jangan lupa, Jinki juga masih dengan setia mengembangkan senyum lima jarinya kearah Luhan juga Sehun.
"Jinki-ssi, sekali-kali aku ingin melihat wajah cemberutmu." Ujar Luhan bergurau sambil menepuk bahu pelayan pria itu pelan. Dan dibarengi dengan kekehan ringan dari Sehun disampingnya.
"Saya harus selalu tersenyum dihadapan anda tuan."
"Jangan panggil aku tuan. Panggil aku Luhan." Luhan sangat tidak suka kalau dirinya terus-terusan dipanggil tuan. Sama saja dengan dirumah. Dan sebenarnya Luhan muak. Ia ingin Jinki menganggapnya sebagai teman.
Jinki terlihat melirik kearah Sehun meminta persetujuan. Luhanpun mengedarkan pandangannya kearah Sehun dan melihat pria tinggi itu mengangguk dan tersenyum menyetujui.
Jinki menghela nafas pelan. "Ba– baiklah Luhan-ssi. Ini sebuah perintah." Ia membungkuk sesaat dan mempersilahkan Sehun juga Luhan untuk masuk kedalam rumah. "Tuan dan Nyonya Oh sudah menunggu kalian. Silahkan masuk."
Sehun dan Luhan berjalan berdampingan saat ini. Entah kenapa saat ini Luhan merasa benar-benar kacau sekali. Jantungnya berdetak tidak karuan. Persis seperti saat ia naik keatas panggung dan membacakan sebuah pidato saat ia sekolah dasar dulu. Tapi ini bahkan hanya untuk bertemu dengan orangtua Sehun, kenapa rasanya takut sekali?
"Sehun, aku takut." Luhan berbisik, sedikit berjinjit kearah pria yang lebih tinggi. Tangannya benar-benar bergetar saat ini. Ini benar-benar seperti sebuah ambang kematian untuknya.
Luhan dapat mendengar Sehun terkekeh pelan dan kemudian pria itu menggenggam tangan Luhan erat. "Jangan takut. Ayahku bukan monster dan ibuku– hei bukankah kau telah melihat ibuku? Dia agresif terhadapmu, kau tahu itu kan? Jadi tidak akan ada hal yang perlu kau takutkan sayang." Ujar Sehun menenangkan Luhan. Mengecup sekilas pipi kanannya.
Bisa-bisanya anak ini menciumku disaat aku sedang ingin merenggang nyawa. Sialan.
"Baba!" Suara anak kecil tiba-tiba membuat langkah Luhan terhenti. Luhan bukan tipe orang yang memiliki rasa paranoid berlebih. Tapi kenapa saat ini ia malah merasa takut bahkan sampai ia ingin muntah?
Sehun yang merasa heran menoleh untuk entah keberapa kalinya kearah Luhan, mengecek keadaan Luhan yang saat ini tengah menutup mulutnya. Sehun dapat melihat Luhan tengah menahan sesuatu. Tunggu– apa Luhan ingin muntah?
Sehun mengusap punggung Luhan pelan. "Kau baik?"
Luhan hanya mengangguk dan setelahnya ia permisi pada Sehun untuk pergi kekamar mandi. Ia benar-benar harus memuntahkan isi perutnya saat ini.
.
.
.
Cukup lama Luhan berada dikamar mandi dan Sehun dapat mendengar Luhan memang benar-benar tengah muntah didalam sana.
Kebetulan Luhan berlari kekamar mandi didalam kamar Sehun untuk membuang isi perutnya itu.
Sebelumnya Sehun tidak memberikan makanan apapun pada Luhan. Malah mereka tidak memakan apapun selama mereka dalam perjalanan menuju rumahnya. Tapi kenapa Luhan tiba-tiba mual seperti itu?
"Astaga– Luhan itu pria kan bukan wanita?"
Sehun dengan segera menggelengkan kepalanya. Tentu saja Luhan itu pria bukan wanita. Sudah sangat jelas kan Luhan tidak memiliki dada menonjol dan juga Luhan memiliki apa yang ada dibalik celananya juga, sama seperti dirinya. Jadi Luhan tidak mungkin hamil. Itu benar-benar mustahil.
"Tapi kenapa ia mual seperti itu? Ini sudah hampir– aww" Sehun mengaduh. Mengusap kepalanya. Luhan benar-benar. Sehabis mual seperti tadi masih bisa saja menyiksa kepalanya.
"Aku pria dan tidak akan hamil bodoh."
Luhan dengan segera menarik beberapa helai tisu dan membersihkan mulutnya yang sempat terkena bilasan air tadi.
Sehun masih menatap Luhan tidak percaya. Meneliti pria mungil itu dari atas sampai bawah. Benar-benar aneh.
"Kau lihat apa?" Luhan mengerutkan dahinya bingung saat melihat Sehun tengah menelitinya dari atas sampai bawah. Apa si albino itu benar-benar tidak percaya ya kalau dirinya itu pria? Astaga.
Sehun berjalan kearah Luhan. Menumpukan tangannya dipundak Luhan. Memutar Luhan kekanan dan kekiri untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau ia benar-benar menikahi pria bukannya wanita.
Sehun meraba-raba dada Luhan. Benar, dada Luhan rata tidak seperti wanita.
"Oh Tuhan, apa yang kau lakukan Se–"
"Diam."
Meraba makin kebawah kearah bagian bawah Luhan dan benar, Luhan juga memiliki sesuatu menonjol dibalik celana hitamnya. Sama sepertinya. Tunggu– astaga kenapa Sehun jadi meraba-raba area sensitif itu?
"Kau benar-benar merabaku ya? Kurang ajar." Luhan bersungut dan mendorong Sehun. Menatap kesal Sehun.
Wajahnya ini benar-benar pria sekali walaupun yeah lebih cantik daripada pria lain. Tapi demi Tuhan ia seratus bahkan seribu persen pria tanpa suntikan genetika dan rekayasa. Oh Sehun sialan!
"Ya! Apa yang kau lakukan hyung? Jangan angkat– Ya!" Sehun dengan segera menghampiri Luhan yang kini hampir saja membuka sweaternya. Apa yang sebenarnya ada dipikiran Luhan? Apa Luhan ingin memperkosanya?
Kalaupun ada yang akan memperkosa, tentu saja aku yang memperkosa Luhan bukan sebaliknya. Astaga.
Luhan memutar bola matanya jengah. "Kau melihatku dan merabaku seakan-akan tidak percaya kalau aku pria. Biar ku tunjukan bagian mana yang tidak dimiliki wanita." Luhan masih bersikeras untuk membuka bajunya sampai suara pintu terbuka terdengar oleh mereka berdua dan–
"Astaga– apa eomma mengganggu kalian?" Ibu Sehun nampak terkejut. Bahkan hampir tergelincir dari pijakannya. Menatap Sehun dan Luhan dengan tatapan horrornya.
"Aniyo eomma. Kami tidak–" Luhan baru saja akan menjelaskan namun ibu Sehun memberikan isyarat untuk diam.
"Tidak perlu dijelaskan. Tapi– ini waktunya makan malam sayang."
"Ah baiklah eomma. Kami akan turun nanti." Sehun tersenyum canggung kearah ibunya dan membungkuk sekilas. Menghela nafas saat ibunya telah meninggalkan kamarnya.
Sehun kembali menoleh kearah Luhan yang kini malah nyengir lebar kearahnya. Merasa tidak bersalah atas apa yang ia lakukan tadi.
"Kau benar-benar Luhan." Kau benar-benar memancingku.
"Kau yang kurang ajar Oh Sehun. Kau tidak memiliki pikiran untuk memperkosaku kan tadi?"
"Hei, mana mungkin!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
.
Wkwk beginilah jadinya chap 17. Bagaimana kira-kira?
