Disclaimer : Masashi Kishimoto
Title : Masked Bitch
Main cast : Sakura/Sasuke/Hinata
Rate : T ++
Genre : Drama/Romance/Psychology
.
.
Chapter 2
Apartemen Hyuuga
Sakura menarik napas panjang. Mencoba meyakinkan dirinya untuk bertemu dengan si pemilik apartemen. Pelan, ia menekan bel di dekat pintu apartemen itu.
Hinata, sang pemilik apartemen terkejut. Ia bergegas berlari kecil menghampiri pintu. Namun, seketika hati Hinata menjadi ragu. Ia khawatir kalau yang datang adalah Ino. Pelan-pelan wanita bersurai indigo itu mengintip dari lubang pintu apartemen.
"A-astaga, Sa-Sakura…!Ba-bagaimana ini…." Sontak Hinata terkejut saat melihat orang yang sedang menunggu di luar apartemennya adalah Sakura.
"Gawat, aku harus memberitahkan ini pada Sasuke….!" Secepat kilat wanita itu berbalik. Ia berlari untuk memanggil Sasuke.
"Hinata, ada apa? Kau terlihat panik…." Sasuke yang baru saja selesai mandi menatap heran saat melihat Hinata berlari seperti kebingungan.
"Pelankan suaramu, Sasuke-kun. Di depan a-ada Sakura-san!"
Sama halnya dengan Hinata. Wajah Sasuke memucat saat mendengar nama wanita itu disebut. Disaat kedua orang itu sedang kebingungan. Suara bel dari arah luar kembali terdengar, membuat keduanya semakin kalap, tak bisa berpikir.
"Hinata, apa kau ada di dalam?" Sakura yang mulai tak sabar segera memanggil sahabatnya itu. Berharap adanya jawaban dari dalam.
"Se-sebentar, a-aku sedang berpakaian!" Balas Hinata berbohong. Tentu saja dia berbohong. Tidak mungkin 'kan dia mengatakan kalau di dalam sedang ada Sasuke.
"Aku harus segera pergi dari sini!"
Sasuke yang sudah tak bisa berpikir jernih lagi memutuskan untuk kabur melewati jendela apartemen. Laki-laki itu bergegas belari menuju jendela diikuti oleh Hinata yang berusaha mencegah tindakan nekad tersebut.
"Sasuke kau mau kemana?"
"Sudah jelas terlihat 'kan."
"Ta-tapi ini sangat berbahaya!"
Hinata melongok ke arah bawah, melihat kerumunan orang yang sedang berlalu-lalang juga kendaraan umum maupun pribadi yang melintas. Terlintas di bayangannya apa yang terjadi kalau sampai Sasuke terjatuh ke bawah sana. Pasalnya apartemen mereka berada di lantai dua puluh. Dengan cepat Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya, menepis pikiran buruknya.
"Sasuke-kun…." Wanita itu meremas tangan laki-laki itu dengan erat.
"Jangan khawatir Hinata, aku akan baik-baik saja," ucap pria itu menenangkan. Ia membalas remasan tangan Hinata dengan sebuah kecupan lembut di dahi.
Hinata akhirnya pasrah melihat Sasuke berjalan di pinggiran beranda luar untuk menyebrang ke beranda lain di sebelahnya sambil berdoa dalam hati.
Din Dong! Din Dong!
Suara bel pintu menyadarkan Hinata kalau Sakura masih berada di luar sana, menunggunya. Wanita itu bergegas menuju pintu dan membukakannya untuk Sakura.
.
.
Sepasang mata berwarna lavender menatap kasihan pada Sakura yang terlihat begitu rapuh. "La- lama tak berjumpa, Sakura-san...," ucapnya sedkit berbasa-basi, "maaf membuatmu menunggu lama. Ma-mari masuk." Ia mempersilahkan wanita itu untuk ke dalam.
Ia membawa Sakura ke ruang tamu. Keduanya duduk di sofa berwarna biru gelap tersebut. Hinata dengan perasaan gugup dan canggung mencoba menyamankan diri duduk di samping teman lamanya. Kepalanya tertunduk, tak berani melakukan tatapan pada iris sewarna zamrud milik Sakura. Sementara Sakura menatap sendu pada sofa yang sedang ia duduki. Bukannya apa-apa, hanya saja warna sofa tersebut membuatnya teringat pada Sasuke dan biru gelap adalah warna kesukaan suaminya.
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu ya, Hinata..." Sakuralah yang membuka percakapan, "bagaimana keadaanmu?" Tanyanya dengan senyum tipis yang bemain pada bibirnya yang pucat.
"A-aku baik-baik saja. Ka-kau bagaimana Sa-Sakura…," balas Hinata sambil menahan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya. Dalam hati ia merutuki dirinya. Bisa-bisanya ia bertanya seperti itu pada Sakura, padahal ia jelas-jelas mengetahui apa yang sedang dialami sahabatnya itu.
"Kehidupan rumah-tanggaku sedang tdak baik. Sasuke berubah…," jawab Sakura tanpa menutupi apa yang terjadi pada rumah-tangganya. "Jujur, aku sangat merindukan masa-masa di mana kita bermain bersama." Sakura sempat tersenyum sesaat, mengingat kenangan semasa mereka kuliah dulu. Namun senyum itu tak berlangsung lama. Detik berikutnya ekspresi cerah pada wajah wanita cantik itu memudar, dan tergantikan dengan terbitnya kekosongan pada wajahnya.
"Sakura, kau kenapa…?" Tanya Hinata dengan hati-hati.
"Hi-Hinata…!" tiba-tiba saja wanita itu memeluk Hinata. "Sa-Sasuke selingkuh dariku!" ungkapnya sambil menangis.
'Bagaimana ini…? Apa yang harus aku katakan pada Sakura…?' Hinata malah kebingungan sendiri dengan situasinya sekarang.
"Te-tenanglah Sakura. Sasuke tidak mungkin selingkuh. Bu-bukankah dia sangat mencintamu?" Pada akhirnya hanya kalimat itu yang mampu keluar dari bibir Hinata. "Aku buatkan teh dulu ya. Tunggu sebentar," ucapnya sambil berdiri dari sofa.
Sakura menghela napas sesaat setelah Hinata pergi ke dapur. Wanita itu memerhatikan keadaan sekeliling apartemen Hinata yang penuh dengan nuansa biru. Bahkan gorden yang terpasang pun senada dengan biru langit. Heran juga Hinata yang lebih menyukai warna ungu dan putih tiba-tiba jadi penyuka warna biru seperti sekarang.
Sakura yang agak bosan, berdiri dan melakukan pengamatan kecil pada setiap sudut apartemen Hinata.
"Kau menghias semua gorden dengan warna biru ya?" Tanyanya dengan setengah berteriak agar Hinata yang di belakang dapat mendengar suaranya.
"Be-begitulah!" Balas Hinata yang juga menaikkan intonasi suaranya.
Sakura melihat ke kiri dan ke kanan, melihat beberapa furniture hias yang terpajang indah pada lemari kaca setinggi pinggangnya. Juga beberapa foto-foto semasa kuliah. Di sana ada foto dirinya, Ino, Sai, juga Sasuke. Saat itu mereka tersenyum bahagia bersama.
"Sasuke…," ucapnya lirih saat melihat foto-foto tersebut. "Di mana kau sekarang Sasuke…? Kau tahu, anak kita sedang membutuhkan Ayahnya…."
PRANGG!
Sakura dikejutkan oleh suara dari samping. Di sana ia mendapati Hinata berdiri diam membeku, menatap dirinya dengan sorot mata yang aneh. Sementara di bawahnya berserakan pecahan dari dua gelas yang tadi dijatuhkannya.
"Hinata? Kau tidak apa-apa?" Tanya Sakura keheranan melihat sikap Hinata yang berubah aneh.
"Ka-kau…, ha-hamil…?" Tanya Hinata balik terbata-bata, seolah tidak mendengar pertanyaan Sakura barusan.
"Hi-Hinata…." Sakura benar-benar dilanda kebingungan antara mau menjawab apa bertanya.
Sementara Hinata, ia malah berjalan mendekat ke arah Sakura yang sekarang diam mematung.
"Kau sungguh-sungguh ha-hamil, Sa-Sakura…?" Tanyanya sekali lagi sambil berjalan, dan tak mengindahkan pecahan-pecahan beling di bawah kakinya yang ia injak sampai akhirnya ia berdiri di hadapan wanita berambut permen kapas tersebut.
"I-itu benar. Saat ini aku sedang hamil…," jawab Sakura dengan gurat kesedihan yang jelas tergambar pada parasnya yang pucat.
"A-ah…!"
"Hinata, kau tidak apa-apa?"
Wanita indigo itu baru menyadari rasa nyeri yang menjalar dari telapak kakinya akibat pecahan dari gelas kaca yang tadi diinjaknya.
"Astaga! Kau ini kenapa Hinata? Ayo cepat duduk!" Sakura dengan sigap menuntun gadis itu ke arah sofa dan mendudukkannya ke sana.
"Maafkan aku…," ucap Hinata lirih. Sekarang bukan hanya telapak kakinya saja yang sakit, tapi hatinya pun terasa nyeri.
"Apa kau punya kotak P3K?"
"Ada di dapur…."
"Baiklah, akan aku ambil. Kau duduk saja dulu di sini."
Sakura bergegas berjalan menuju dapur dengan perasaan heran yang luar biasa. Ia tak mengerti apa yang membuat Hinata bisa sampai bersikap seperti itu hanya karena mendengarnya telah hamil. Terutama pancaran mata dari sahabatnya itu jelas tidak menunjukkan suatu perasaan gembira.
Begitu tiba di dapur, Sakura segera mengacak-acak kabinet dapur untuk mencari kotak P3K. Di ruang tamu, Hinata termenung. Tanpa disadari rintik air matanya mulai berguguran.
"Hinata, P3K-nya tidak bisa aku temukan di dapur. Apa mungkin ada di dalam kamarmu? Biar aku cari di sana, ya," teriak Sakura dari arah dapur.
'Ti-tidak…, Sakura tidak boleh ke kamar…!'
Hinata kini berubah panik saat mendengar Sakura hendak ke kamarnya.
"Tu-tunggu dulu, Sakura!"
Ia berteriak, berusaha mencegah Sakura ke kamar sambil berusaha berdiri. Apapun yang terjadi dia tak bisa membiarkan wanita itu ke kamar, karena di sana terdapat barang dan baju-baju milik Sasuke dan Sakura tidak boleh sampai mengetahuinya. Setidaknya untuk saat ini.
Mati-matian Hinata berdiri dan berjalan, meski tertatih. Pelan, pelan, pelan dan akhirnya ia memaksakan dirinya untuk mempercepat langkah kakinya yang terluka dan berlari.
BRUKH!
Tepat ketika Sakura hendak membuka pintu kamar milik Hinata, sang pemilik sudah berada di samping Sakura dengan posisi terduduk akibat terjatuh.
"Ja-jangan dibuka Sakura!"
"Hinata!"
Reflek Sakura menghentikan niatnya dan menghampiri Hinata.
"Kau ini sebenarnya kenapa?" Tanyanya dengan resah dan hendak membantu Hinata berdiri.
"Ti-tidak perlu. A-aku bisa sendiri." Namun, sebelum Sakura membantunya, Hinata sudah mencegah agar Sakura tidak mendekat.
"Hinata…." Sakura terdiam, sama sekali tidak mengerti akan sikap Hinata dan mulai berpikir apakah ia telah berbuat kesalahan tadi sehingga Hinata seakan menjauhinya.
"Aku mohon pulanglah Sakura, biarkan aku sendiri…."
"Tapi bagaimana dengan lukamu…?"
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan lukaku. Aku bisa mengobatinya sendiri, jadi kumohon…, kumohon pergilah…."
Hinata tertunduk, menghindari kontak mata dengan Sakura. Ia tak ingin sahabatnya itu dapat membaca semua skenario yang telah ia mainkan selama enam bulan ini bersama dengan Sasuke.
"Baiklah aku akan pergi. Maaf, bila kedatanganku tidak diinginkan…," ucap Sakura berusaha untuk memahami sahabatnya itu.
"Terimakasih. Mungkin lain waktu kita bisa bicara lagi…," balas Hinata masih dalam keadaan menunduk.
Sakura dengan langkah pelan berjalan menuju ke arah pintu. Sesekali ia sempat melirik ke belakang dan mendapati Hinata masih tak bergerak dari tempatnya.
"Ini tidak mungkin…, ini tidak mungkin terjadi. Sakura…, hamil anak Sasuke…." Hinata mulai terisak ketika dirasanya Sakura telah pergi.
Berkali-kali ia mencoba untuk melupakan apa yang dikatakan Sakura barusan mengenai kehamilan itu. Hinata tak ingin mempercayainya. Tapi semakin ia berusaha menepis kebenaran itu, hatinya semakin ragu dan terasa sakit. Dalam benaknya mulai timbul pertanyaan, apakah Sakura sungguh-sungguh hamil? Bila itu terjadi, apa itu artinya dia harus benar-benar melepaskan Sasuke? Sama seperti yang telah dilakukannya enam bulan lalu. Membiarkan laki-laki yang ia cintai bersama dengan wanita lain.
.
.
Di kediaman Yamanaka, Ino benar-benar panik karena Sakura tidak bisa ditemukan di sekitar perumahan. Otaknya mulai menggila. Mungkin sesuatu telah terjadi pada sahabatnya itu. Sementara Sai mencoba menenangkan dan menyuruh sang istri untuk kembali menghubungi Sakura.
Why must i meet you,why did you hurt me
I gave you my everything,why did you make me cry
Suara ringtone ponsel Sakura berdering beberapa kali menyadarkan sang pemilik ada panggilan masuk.
"Ino…?" Gumamnya saat melihat nomor yang masuk. "Oh, iya ya. Aku tadi lupa pamitan padanya. Pasti dia cemas," ucapnya dan buru-buru menerima panggilan dari Ino.
"Halo, Ino. Maaf tadi aku pulang buru-buru." Sakura segera meminta maaf begitu menerima telepon dari Ino.
"Ya, ampun Sakura. Kau membuatku panik! Sebenarnya kau itu pergi kemana, sih?" Balas Ino yang tidak bisa menyembunyikan lagi perasaan cemasnya.
"Tadi, aku baru saja ke tempat Hinata…," jawab sakura yang kembali memasang wajah murung saat mengingat kejadian sebelumnya. Sampai sekarang ia masih tidak bisa mengerti apa yang terjadi pada Hinata.
"APA!? KAU KE TEMPAT HINATA? APA KAU BERTEMU SASUKE DI SANA?" Ino reflek mengungkit masalah Sasuke. Pasalnya ia tahu sekali kalau laki-laki itu sedang berduaan dengan Hinata dan celakanya Sakura malah pergi ke sana.
"Sakura ke tempat Hinata?" Bukan hanya Ino, tapi Sai juga sangat terkejut.
"Apa maksudmu aku bertemu dengan Sasuke di sana? Memangnya Sasuke ke tempat Hinata…?" Tanya Sakura curiga.
"E-eh…, bu-bukan itu maksudnya…!" Ino panik saat menyadari ia keceplosan bicara soal Sasuke. "Ma-maksudku, apa kau ke sana karena mencari Sasuke?" Dengan cepat Ino segera meralat perkataannya tadi.
"Tentu saja tidak, Ino! Sasuke mana mungkin ada di sana!"
"O-oh, baguslah…."
'Syukurlah mereka tidak bertemu….' Dalam hati Ino bernapas lega, 'tapi apa yang dilakukan Sakura di tempat Hinata, ya?' Ucapnya malah jadi penasaran.
"Tadi aku merasa telah berbuat salah pada Hinata. Tiba-tiba saja sikapnya jadi aneh…." Sakura mulai bercerita pada Ino.
"Aneh bagaimana maksudmu?" Tanya Ino penasaran.
"Aku sih tidak tahu pasti…, tapi Hinata terlihat terkejut sekali saat tahu aku hamil...," balas Sakura mengingat reaksi Hinata yang janggal.
'Hahaha…, tentu saja dia terkejut karena laki-laki yang dicintainya telah menghamili wanita lain….'
"Aku rasa dia hanya terkejut. Bukankah aku juga kaget saat mendengar kau hamil, Sakura?"
"Begitu ya…."
"Sudahlah Sakura, jangan terlalu banyak berpikir. Ingat, kau sedang hamil. Lebih baik kau sekarang pulang dan istirahatkanlah dirimu."
"Iya, terimakasih Ino."
'Tapi apa iya Hinata hanya terkejut? Aku merasa ada yang aneh….' Sakura masih merasa resah.
.
.
Apartemen Hyuuga
Sementara itu Hinata masih termenung dengan posisi yang sama seperti waktu Sakura pergi meninggalkannya, sampai ia tidak menyadari kehadiran Sasuke yang sudah masuk kembali ke apartemen mereka.
"Hinata!? Hinata kau kenapa? Apa ada yang terjadi?" Sasuke menghampiri wanita yang terlihat lemas itu.
"Pergi…," balas Hinata singkat.
"…Hinata…." Sasuke agak terkejut mendengar Hinata menyuruhnya pergi. Laki-laki itu berusaha untuk mendekati wanita itu lagi, tapi Hinata kembali memintanya pergi.
"Aku bilang pergi…!"
"Kau ini kenapa!? Bagaimana aku bisa mennggalkanmu dalam keadaan seperti ini, hah!?"
"Pergilah, Sasuke…, Sakura…, dia lebih membutuhkanmu…," ucapnya lirih.
"Apa maksudmu, aku tidak mengerti. Apa Sakura mengatakan sesuatu padamu?" Sasuke mengernyit.
Hinata dengan pelan sambil menahan rasa sakit pada kaki dan hatinya mencoba berdiri. Ia merapatkan tubuhnya pada tembok sebagai penyangga agar ia tak terjatuh. Ia berjalan mendekati Sasuke, menarik dan kemudian mendorongnya. Memaksa laki-laki itu itu berjalan sesuai dengan kehendaknya.
"Hinata, apa-apaan ini?" Sasuke mengikuti pergerakan tangan Hinata yang mendorongnya ke arah luar apartemen.
Sebenarnya bisa saja dia menahan Hinata, atau sekedar menepisnya. Tapi Sasuke tak ingin melakukannya, karena ia tahu kalau sampai itu ia lakukan Hinata bisa terjatuh. Jadi ia pasrah saja ketika Hinata menuntutnnya ke luar dan mengunci pintu apartemen.
"Hinata! Kenapa kau memperlakukanku seperti ini!? Buka p[intunya Hinata, kita bisa bicara baik-baik!" Sasuke yang berada di luar pintu menggedor pintu apartemen beberapa kali sambil berteriak.
"Kembalilah, Sasuke…, kembalilah kepada Sakura," balas Hinata yang sudah tak bisa menahan tangisnya. Wanita itu menangis sejadinya.
"Hinata, jangan seperti ini. Berikan aku kesempatan untuk tahu apa salahku…, biarkan aku memperbaikinya…, aku mohon, Hinata…." Sasuke memelankan nada suaranya. Ia bersandar pada pintu, berbisik pelan, namun masih cukup terdengar oleh Hinata yang berada pada sisi pintu sebelahnya.
"Sakura…, dia hamil…." Dengan terputus-putus akhirnya Hinata menjelaskan keadaan Sakura yang sebenarnya pada Sasuke.
"Apa? Sa-Sakura hamil?"
"Pergilah, Sasuke. Aku tak ingin berdosa membuat anak itu lahir tanpa Ayahnya…."
Sasuke mengepalkan tangannya pada pintu dan menghantam tembok apartemen dengan kepalan tangannya. Laki-laki itu akhirnya mengikuti apa yang dikatakan Hinata. Dia pergi untuk menemui Sakura dan meminta penjelasan.
TBC
Aku tidak bisa menghilangkan tag nama Sakura di sini. Sakura itu punya MK dan gak ada larangan apapun dari pihak fanfic. Kita sama-sama fansnya di sini. Selain itu aku gak suka di fitnah, aku ngasih tanda kurung baru di chapter 1 karena di prolog aku gak ngasih tanda kurung apapun, aku baru dikasih tau sama salah seorang reviewers di sini soal tanda kurung tersebut, makanya aku benerin.
Aku jadi heran, sepenting itukah karakter yang kalian sukai sampai kalian rela menjatuhkan harga diri kalian dengan menggunakan kata-kata kotor? Sangat tidak cerdas.
Negara lain udah pada maju pola pikirnya, tapi anak muda Indonya masih berkutat ngurusin TAG NAME CHARA! Dan OTP.. Aku sebagai anak muda penerus ikut bersedih atas bencana ini.
Kami emang masih bocah, benar kata kalian, tapi setidaknya otak kami masih lebih sehat... Dan, hai Sesat timur, kita seperguruan ya? Author di sini ada dua yang suka wu xia film, our favorite is Return of condor heroes 2014, big fans of Michelle Chen. Hehehe tapi kami belum tua -_-
Selain itu salah satu author di akun ini ada yang ngefans sama Sakura, dan bagi kami, suatu tag nama bukan berarti itu adalah pairnya, tapi lebih ke arah dominasi suatu karakter pada isi cerita. Itu adalah cara berpikir kami, tolong hargai.
Ini bukan soal mana yang 'salah dan benar' dari pihak author atau dari pembaca (dan fans2nya). Gak ada yang salah ataupun yang benar di sini, tapi ini karena KITA SEMUA berpikir dan melihat sesuatu dari cara pandang yang berbeda saja. Itu sudah masalah prinsip yang kalau dibahas tidak akan mencapai titik-temu. Kalian punya pemikiran sendiri, begitu juga kami. Tanda kurung pair sudah kami kasih dan jelas, dan cukup gak usah dibaca atau dilihat 'kan kalau gak suka. Untuk apa repot-repot jadi sampah di kotak review? Semakin kalian memaki kami, semakin terlihat kualitas kalian sebagai fans itu seperti apa. Golden is silent, sometime that phrase shown the truth.
Untuk Hinata lovers, aku gak tau harus bilang apa di sini. Kami masih baru, meski awalnya lebih sering nulis di FB. Aku (Panda) cuma bisa bilang, we won't let you down. Kami newcomers, setidaknya berikan kami kepercayaan, jangan menjudge cerita yang bahkan belum berlangsung lebih dari 5 chapter, itu sok dukun. Kalau memang sudah 5 chapter masih mengecewakan silahkan di drop...
Selanjutnya yang ada uneg-uneg PM kami saja.
