I Think I Love You

Cast:

Oh Sehun

Luhan

-HunHan-

Rated:

T = Tentukan sendiri(?)

Genre:

Romance, Family, Boys Love –Shounen ai-

.

.

.

.

Kata orang, dunia ini sempit. Kalau kau bertanya itu benar atau tidak pada Luhan, pasti ia akan bilang "Itu hanya teori bodoh!" Tapi setelah ia bertemu dengan sosok Sehun, Luhan yakin ia bisa menjelaskan sesempit apa dunia ini.

.

.

.

.

.

.

Ini hanya sebuah makan malam keluarga. Tapi kenapa seperti ia tengah berada dilingkaran para pejabat berjas formal. Benar-benar mengerikan.

Ini kali kedua Luhan bertemu dengan ayah Sehun. Pertama saat perjodohan dan yang kedua saat ini, didepannya, memandang Luhan dengan tatapan menilai.

Apa semua keluarga Oh seperti ini?

"Baba, Daehan rindu baba." Tiba-tiba saja suara cempreng Daehan memecahkan suasana mencekam antara Luhan dan ayah Sehun itu. Ia menoleh kearah Daehan yang kini tengah tersenyum lucu kearahnya. Tak lupa seorang Oh Sena juga tengah mendampingi anak kecil itu.

Luhan gantian tersenyum manis kearah Daehan. Mengusap puncak kepala Daehan yang memang duduk tepat disebelah kanannya. "Aku juga merindukanmu sayang."

"Apa? Baba?" Suara pria paruh baya terdengar dipendengaran Luhan. Itu pasti suara ayah Sehun. Benar-benar membuat bulu kuduk Luhan berdiri. "Sejak kapan Daehan menjadi anakmu?"

Dengan susah payah, Luhan menelan ludahnya kasar. Jantungnya bertalu-talu lebih kencang dari sebelumnya. Dengan wajah yang ia buat sesantai mungkin, ia mendongak menatap tepat kearah ayah Sehun dan tersenyum tipis. "Aku hanya ingin membuat semua keluarga dekat denganku, abeonim."

"Tapi kau tahu kan apa arti ayah? Atau jangan-jangan kau ini–" Ayah Sehun menjeda perkataannya sesaat dan melanjutkan, "–kau terlalu lama tinggal satu apartemen dengan anak perempuanku." Ayah Sehun menatap tak suka kearah Luhan.

Aneh, bukankah ayah Sehun dan ayahnya yang sangat bersemangat waktu itu?

"Yeobo." Ibu Sehun terlihat menenangkan suaminya yang kini terlihat cukup kesal. Terlihat dari raut wajah pria paruh baya itu.

Luhan berdehem pelan. "Saya bukan. Kami hanya tinggal satu atap dan tidak pernah melakukan hal kotor seperti apa yang anda pikirkan tuan." Sepertinya akan sulit untuk mendekati ayah Sehun dan mungkin Luhan harus memiliki segudang sopan santun untuk tidak memanggil ayah Sehun sebagai ayah. Bahasa formal sepertinya benar-benar harus ia gunakan untuk ayah Sehun.

"Appa, jangan memojokkan Luhan." Sehun menggeram pelan. Ayahnya benar-benar tidak dapat diprediksi. Sehun ingat tadi sebelum ia menjemput Luhan, ayahnya itu tidak seperti ini. Terlihat telah berdamai dengan hal yang sempat menjadi pemicu diamnya Sehun pada sang ayah. Namun sekarang kenapa ayahnya mulai lagi?

Tuan Oh terkekeh remeh. "Aku memojokkannya? Aku tidak. Kenapa kau sangat sensitif Sehun-ah."

Menghela nafas pelan, Luhan meraih salah satu tangan Sehun yang berada dibawah meja. Menggenggamnya erat agar pria albino itu tidak terbawa emosi oleh perkataan ayahnya sendiri.

"Appa, aku mengajak Luhan kesini agar appa, eomma, noona juga Daehan dapat lebih dekat dengannya. Bukan malah membuatnya merasa tertekan." Sehun menatap kesal kearah ayahnya sambil mengeratkan tangannya pada tangan mungil Luhan.

Kembali, ayah Sehun terkekeh. "Demi Tuhan aku tidak berkata apapun tapi kenapa Luhan harus merasa tertekan, Sehun-ah?"

"Sudahlah appa." Sena akhirnya jengah juga dengan kekeras kepalaan ayahnya itu. Sudah bagus Luhan dan Sehun dapat mengikuti perintahnya. Sekarang malah ayahnya seperti menantang perang pada Luhan. Apa yang sebenarnya ada dipikiran ayahnya itu?

"Benar. Kau harus membelanya, Sena-ya."

"Appa–"

Drrt.. Drrt..

Luhan merasakan getaran ponselnya dari saku celana bagian belakangnya. Sepertinya ada sebuah panggilan masuk diketahui dari panjangnya getaran yang ponselnya itu keluarkan.

Yixing?

"Permisi, aku akan–"

"Angkatlah teleponmu itu disini." Ujar Tuan Oh memerintahnya. Luhan hanya bisa mengangguk pasrah dan menekan ikon berwarna hijau, mengangkat telepon dari kontak bernama Yixing.

"Yeoboseyo, Yixing-ah?"

"Gege, Kris sekarang berada dirumah sakit."

Deg–

Tangan Luhan terasa bergetar bahkan terasa dingin tiba-tiba saat ini. Mendengar nama Kris benar-benar sebuah kelemahannya. Dan sekarang ia mendengar nama Kris diikuti sebuah berita buruk dibelakangnya. Kenapa pria bule itu bisa berada dirumah sakit?

"Gege! Apa kau mendengarku?"

"Apa dia– mengalami depresi?"

"Gege, Kris mengalami kecelakaan beruntun dan dia tidak berada dirumah sakit tempatku bekerja. Dia ada dirumah sakit besar dipusat kota Seoul. Kau pasti tahu dimana tempatnya."

Rumah sakit itu. Tentu saja ia ingat. Kakak Kris juga berada disana.

"Lalu bagaimana keadaan Kris?"

Luhan dengan gerakan pelan menoleh kearah kanan, tepat kearah Sena dan begitu juga Sena, gadis itu menatap terkejut kearahnya saat ia mendengar Luhan menyebutkan nama Kris tadi dengan raut panik.

"Ge, aku tidak tahu ada apa antara kau dan Kris tapi ia benar-benar terus memanggil namamu. Ia tidak mau dioperasi sedangkan kondisinya benar-benar melemah. Aku mohon kau datang ge. Aku sangat takut kalau Kris–"

"Aku akan pergi sekarang. Katakan pada dokter untuk bersabar. Jangan menangis dan tenanglah."

"Baik ge. Aku harap kau cepat sampai."

Klik–

Luhan menghela nafas perlahan. Menoleh kearah Sehun meminta persetujuan Sehun. Namun pria itu malah sama diamnya dengan dirinya. Entah apa yang tengah Sehun pikirkan, Luhanpun tidak dapat mengetahuinya. Tapi intinya adalah ia harus segera menemui Kris dan membuat pria itu dioperasi. Kalau tidak–

Aku tidak akan membiarkan Kris mati.

"Aku harus pergi kerumah sakit. Kris sedang dalam masa operasi dan aku harus disana." Luhan mengusap tangan Sehun pelan dan beranjak dari kursinya. Menatap sekilas kearah ibu Sehun juga ayahnya. "Tuan dan Nyonya Oh. Maafkan aku karena tidak sopan pergi dalam keadaan seperti ini. Tapi aku harus pergi. Terimakasih makan malamnya." Dan ia membungkuk pamit kearah orangtua Sehun.

"Sehun-ah, kita bisa bertemu besok. Dan aku akan pergi sendiri. Kau tetaplah disini." Luhan baru saja akan melangkah keluar rumah, namun Sehun dengan cepat mencekal lengan Luhan membuat langkah pria mungil itu terhenti dan menoleh kearah Sehun.

"Apa kau dan Kris adalah–"

Luhan meletakkan jari telunjuknya didepan bibir Sehun agar pria tampan itu tidak berbicara yang tidak-tidak saat ini. "Aku tidak. Dia temanku dan aku bisa membuatnya mati jika aku terlambat. Aku mohon biarkan aku pergi."

Menghela nafas pelan, Sehun mengangguk pasrah membiarkan Luhan pergi dari rumahnya. "Baiklah. Hati-hati dan jangan menyuruh supir taksi untuk mengebut."

Luhan mengangguk dan memeluk Sehun erat. Hari ini benar-benar kacau untuknya. Dan pelukan Sehun adalah obat termanjur untuk menjernikah pikiran dan menenangkan dirinya.

"Baiklah aku pergi." Luhan tersenyum manis. Meyakinkan Sehun bahwa ia akan baik-baik saja. Setelahnya menoleh kearah Sena. "Kau bisa datang kalau kau mau. Aku akan menghubungimu Sena-ya."

Dan Luhan meninggalkan ruang makan. Meninggalkan Sehun disana dengan segala kebingungan yang ia miliki.

"Noona, apa Luhan dan Kris itu tidak memiliki hubungan apapun?"

.

.

.

Luhan begitu panik saat ia baru saja turun dari taksi. Dengan sigap ia menuju meja resepsionis untuk menanyakan lokasi pasien bernama Kris dan sang resepsionispun segera memberitahu dimana letak kamar Kris.

Begitu Luhan sampai dilorong ruangan, tiba-tiba dari samping Yixing memeluknya masih sambil menangis. Ternyata pria berlesung pipi itu tidak mendengarkan dia untuk tidak menangis dan bersabar menunggunya.

"Yixing, dimana Kris?" Luhan langsung pada pokok permasalahannya. Ia sudah dengan kurang ajar meninggalkan Sehun demi Kris dan Luhan akan menyelesaikan ini dengan cepat dan kembali pada Sehun sekilat mungkin.

Yixing terlihat menarik nafas untuk membuat dirinya sendiri tenang dan menunjuk sebuah ruangan. Pria China itu menuntun Luhan untuk masuk kedalam dimana Kris tengah terbaring lemah disana.

Pria China itu tersenyum kearah Luhan. "Aku akan meninggalkan kalian berdua." Dan setelahnya Yixing keluar memberikan ruang pribadi bagi kedua pria China lain didalam.

Luhan mengangguk dan mencari tempat duduk. Lebih tepatnya ia menarik kursi beroda disana dan mendekatkan kursi itu pada Kris. Sebelumnya ia menghela nafas pelan, meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang ia lakukan sekarang adalah benar.

Semoga Sehun bisa memahami ini.

Setelah terdengar deritan pelan dari pintu kamarnya yang menandakan Yixing telah meninggalkan mereka berdua, ia langsung saja membuka kedua matanya. Menatap kearah kirinya tepat kearah Luhan yang kini memandang dirinya dengan tatapan penuh kesabaran. Ia tahu sebenarnya Luhan juga enggan datang dan menemuinya seperti ini. Tapi bisakah ia egois? Bisakah ia memanfaatkan kelemahannya guna mendapat maaf yang tulus dari Luhan sebelum ia dioperasi? Tidak semua operasi berjalan dengan lancar, dan ia ingin saat memang Tuhan sudah ingin mengambil nyawanya diruang operasi nanti ia telah mendapatkan maaf dari pria bermata rusa disampingnya itu.

Suasana canggung menyelimuti mereka. Dan Luhan bukan orang yang menyukai suasana seperti ini sedari dulu. Jadi ia membuat inisiatif, memulai percakapan dengan Kris dan membiarkan pria bule itu menjalani operasinya sesegera mungkin.

"Kau tahu, obat penghilang rasa sakit tidak akan bertahan lama." Ia berbicara dengan mata yang lurus menatap jendela. "Dan saat pengaruh obat itu hilang, kau akan merasakan sakit yang amat sangat. Karena ini bukanlah sebuah kecelakaan kecil Kris. Kau harus segera–"

"Maafkan aku dengan tulus Luhan."

Luhan menoleh. Menghela nafas berat. Luhan tahu bahwa yang Kris inginkan hanyalah maafnya dan seharusnya Luhan telah memaafkan pria bule didepannya ini sebelum kejadian yang tidak diinginkan seperti ini terjadi.

"Kau harus bertahan diruang operasi. Ini tidak memakan waktu lama jadi jangan takut dengan kegagalannya. Ini pasti berhasil." Luhan mencoba menyemangati Kris tanpa menggubris pernyataan pertama pria bule itu.

Kris cukup lelah. Luhanlah yang membuat pikirannya hilang entah kemana tadi saat ia mengendarai mobilnya. Sehingga ia tidak bisa mengelak dari kecelakaan yang menimpanya. Ia sudah hampir sekarat seperti ini pun Luhan tetap tidak ingin memaafkannya?

"Luhan tolong maafkan–"

"Aku sudah memaafkanmu. Sekarang aku akan memanggil dokter untuk segera mengoperasimu." Luhan hendak beranjak namun tangan lemah Kris menahannya. Menatap Luhan dengan pandangan memelasnya yang memang tidak ia buat-buat.

"Maafkan aku dengan tulus dan biarkan aku hidup dengan tenang Luhan."

Luhan kembali duduk. Menatap lekat-lekat pada pria Kanada didepannya yang kini benar-benar terlihat pucat. Pria itu pasti tengah menahan rasa sakit sekarang dan Luhan benar-benar merasa tidak tega. Apakah Kris semenderita itu?

Pria bermata rusa itupun mengarahkan tangan kanannya ke pipi pucat pria bule tinggi yang kini tengah berbaring lemah diatas ranjang rumah sakit itu. Mengusapnya pelan. Ia benar-benar merasa bersalah membuat pria bule itu menderita bahkan sampai membuat pria itu hampir kehilangan nyawanya sendiri.

"Sebenarnya aku sudah memaafkanmu dari dulu Yifan. Aku– aku hanya belum siap melihatmu beberapa waktu lalu. Tapi sekarang aku akan mencoba berdamai dengan itu semua. Tidak perlu membahas hal ini dan–" Luhan menggenggam tangan Kris. Menjabatnya. "Mari kita berteman, Yifan-ah."

Kris akhirnya bisa tersenyum lega kali ini. Hari ini adalah hari yang sangat melegakan untuk hidupnya. Untuk yang pertama kalinya ia merasa bisa bernafas dengan benar tanpa ada sebuah tali tak kasat mata yang mencekik erat lehernya. Itu terasa sakit. Tapi ungkapan maaf itu benar-benar menggunting habis tali menyakitkan dilehernya.

Pri Kanada itu tersenyum. Menggenggam kembali tangan mungil Luhan. Ia merasa bahwa Luhan itu tidak lain dari titisan bidadari surga. Kris benar-benar mendapatkan ketulusan itu dimata Luhan. Terlihat juga dari senyum manis Luhan kali ini.

Kris segera bangkit dari tidurnya dan menarik Luhan dalam sebuah pelukan. Awalnya Luhan benar-benar terkejut dengan pergerakan tiba-tiba Kris dan hendak menolak namun urung. Mungkin kalau Sehun melihat ini, pria itu akan benar-benar marah besar padanya juga Kris. Namun Luhan berpikir, mungkin saja Kris benar-benar bisa ia jadikan teman sama seperti Yixing yang sudah menerima Kris dikehidupannya.

"Terimakasih Luhan. Terimakasih. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana caranya aku mengekspresikan rasa terimakasihku padamu. Aku benar-benar bisa bernafas dengan lega hari ini dan mungkin seterusnya. Yeah walaupun aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan didalam ruang operasi nanti atau tidak."

Luhan yang mendengar gumaman ngelantur dari Kris pun melepas pelukan mereka dan menatap mata Kris tajam. Ia memaafkan Kris agar pria itu bisa hidup dengan baik dan tidak khawatir akan apapun disetiap hembusan nafas yang pria itu keluarkan. Tapi kenapa pria itu terdengar menyerah dengan hidupnya sendiri?

Pria yang lebih cantik mengepalkan tangannya. Menatap datar kearah pria bermarga Wu itu dengan tatapan menyeramkan. "Kau harus hidup. Kau tidak boleh menyerah diruang operasi."

"Aku tidak yakin–"

"Aku akan membongkar kuburmu kalau kau benar-benar mati karena kebodohanmu yang tidak mau mempertahankan hidupmu sendiri. Ingat itu." Ungkap Luhan dengan nada yang sedikit mengancam. Ia membuat gestur cepat berbaring pada Kris. "Aku akan memanggil dokter untuk segera mengoperasimu. Kalau mereka tidak sanggup, aku akan mengoperasi bahkan membedah tubuhmu dengan kedua tanganku ini." Ujarnya lagi dengan mengangkat kedua tangannya dan memberikan gerakan seperti tengah memotong sesuatu. Dan setelahnya pria berdarah Beijing itu berjalan mendekat kearah pintu dan keluar dari ruangan Kris.

Kris hanya memandang Luhan dengan tatapan heran. Namun senyuman lega masih tersemat dibibirnya. Ia benar-benar sangat lega sekali.

.

.

.

Awalnya memag Sehun akan membiarkan Luhan untuk pergi sendiri menemui bajingan bernama Kris itu. Tapi tiba-tiba saja hatinya kembali berkata lain. Ia memiliki perasaan yang tidak enak. Dan itulah yang membawa langkahnya menuju rumah sakit yang Luhan tuju sebelumnya.

Sehun masih mencari ruangan yang baru saja resepsionis beritahu padanya. Dan sepertinya ruangan itu tidaklah jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Pasti ruangan itu ada disekitar sini.

Ia masih sangat ingat kalau resepsionis tadi berbicara dengan teman disebelahnya bahwa Kris hampir saja dioperasi namun pria itu menolak sebelum pria itu bertemu dengan seseorang bernama Luhan. Dan Sehun sudah tahu itu saat Luhan mengangkat panggilan seseorang dirumahnya tadi.

"Dimana sebenarnya si brengsek Kris itu berada? Sampai ia menyakiti Luhan, aku benar-benar tidak akan tinggal diam dan membuatnya mati sebelum si brengsek itu sempat melakukan operasi."

Cukup lama ia menelusuri beberapa lorong yang Sehun bahkan baru sadar kalau lorong Seoul Hospital sepanjang dan serumit ini. Terakhir ia dan kakaknya kemari, lorong ini tidak sepanjang ini padahal. Benar-benar menguras emosi Sehun sekali rupanya.

Sehun yakin ruangan yang ia tuju sudah hampir dekat, namun ia menghentikan langkahnya saat ia mendengar percakapan dua orang pria yang Sehun tidak mengenali wajahnya sama sekali. Tapi Sehun mendengar kedua pria itu tengah membicarakan dua buah nama, Kris dan Luhan.

Apa yang mereka ketahui tentang Luhanku dan Kris?

Sehun maju beberapa langkah dan bersembunyi dibalik dinding. Disini ia benar-benar mendengar kedua pria itu berbicara tanpa harus diketahui oleh pemilik suara.

"Dimana si brengsek itu!"

"Kyungsoo, tenanglah. Kau harus duduk dan tenangkan dirimu. Ada apa? Siapa yang kau panggil dengan brengsek itu?"

"Kau lebih tahu ge! Dimana si bajingan bernama Kris itu?"

"Kris? Kenapa kau memanggilnya bajingan?"

"Ia benar-benar harus mendapatkan maaf dari Luhan."

Sehun tercekat. Mendapatkan maaf dari Luhan? Apa Sehun salah dengar? Apa yang membuat Kris harus mendapatkan maaf dari Luhan? Kenapa sepertinya pria bermata bulat -yang ia ketahui bernama Kyungsoo– itu bersikeras untuk membuat Kris meminta maaf pada Luhan?

"Ada apa dengan Luhan dan Kris?"

.

.

.

Baru beberapa hari yang lalu Kyungsoo kembali ke Korea. Semua urusan sekolah yang ia tekuni di negeri tirai bambu itu telah selesai dan sudah ia kerjakan dengan baik. Jadilah ia kembali kekampung halamannya. Korea Selatan.

Sebenarnya bukan hanya itu. Ia mendengar dari Shannon kalau Luhan dan Yifan juga berada di Seoul. Entah kenapa kedua pria itu bisa berada dilingkungan yang sama. Bagaimana cara Luhan untuk menghadapi Yifan selama ini?

"Luhan seharusnya tidak tinggal satu negara dengan Yifan. Pasti akan sangat sulit kalau–"

Drrt.. Drrt..

"Yeoboseyo?"

"..."

"Ne? Dimana dia sekarang?"

"..."

"Baiklah Shannon. Aku akan segera kesana mengawasi Yifan."

Kyungsoo dengan cepat meraih mantelnya dan mengambil dompetnya. Ia harus bergerak cepat sekarang. Shannon baru saja meneleponnya dan mengabarkan kalau Yifan baru saja mengalami kecelakaan dan sekarang tengah berada di Seoul Hospital. Apa yang pria itu pikirkan sampai-sampai ia mengalami kecelakaan dan harus segera dioperasi begitu? Memang dia pikir dia akan pergi kemana sebelum mendapatkan maaf dari Luhan?

Jalanan cukup lenggang malam ini. Itu benar-benar membuat Kyungsoo lega karena ia tidak akan berlama-lama didalam bis dan akan segera sampai di rumah sakit yang menjadi tujuannya saat ini.

Sebuah rumah sakit besar sudah berada dihadapannya. Kyungsoopun segera melesat masuk kedalam sana dan tidak lupa sebelumnya ia menanyakan dimana pasien bernama Yifan berada. Ini kesempatannya berbicara dengan Yifan. Sudah beberapa hari ia mencari alamat Yifan tapi ia tak kunjung mendapatkannya. Jadi ini adalah sebuah kesempatan besar untuknya.

Ia menghentikan langkahnya dan mengernyit heran melihat Yixing tengah duduk sambil menunduk. Terlihat guratan khawatir diwajah pria China itu saat ini.

"Kenapa Yixing ge juga ada disini? Jadi mereka bertiga berada di Korea?"

Dengan langkah cepat, Kyungsoo mendekat kearah Yixing. Menarik Yixing untuk berdiri dan menatap pria berlesung pipi itu tajam.

"Dimana si brengsek itu!" Dengan nada marah, Kyungsoo menggenggam kasar lengan Yixing. Ia benar-benar harus bertemu dengan si Yifan itu hari ini juga.

Yixing yang dihadapi dengan masalah tiba-tiba seperti ini sempat diam untuk sesaat dan baru menyadari bahwa didepannya ini adalah Do Kyungsoo, pelajar pertukaran dari Korea. Ya benar, Do Kyungsoo.

"Kyungsoo, tenanglah. Kau harus duduk dan tenangkan dirimu. Ada apa? Siapa yang kau panggil dengan brengsek itu?" Yixing meringis sakit. Melihat lengannya mulai memerah karena genggaman kasar Kyungsoo. Kenapa pria bermata bulat ini nampak marah?

Kyungsoo mendelik kesal dan berdecih. Apa Yixing mempermainkannya? Apa ia akan membuang waktunya hari ini?

"Kau lebih tahu ge! Dimana si bajingan bernama Kris itu?"

Yixing seketika membelalak. Kyungsoo kenapa dengan lancangnya mengatai Kris dengan sebutan bajingan? Apa Kris memiliki kesalahan pada pria ini?

"Kris? Kenapa kau memanggilnya bajingan?"

"Ia benar-benar harus mendapatkan maaf dari Luhan!" Kyungsoo dengan kasar mendorong Yixing dan berjalan menuju ruangan yang sama dengan apa yang pegawai wanita dimeja resepsionis tadi katakan. Namun belum sempat Kyungsoo memutar kenop pintu, Yixing lebih dulu menarik lengannya dan menyuruh dirinya untuk tenang dan duduk disampingnya. Menceritakan apa yang terjadi padanya.

Mungkin selama ini yang Luhan tahu, kejadian beberapa tahun silam hanya Luhan dan Kris saja yang tahu. Tapi Kyungsoo tahu. Ia disana saat kejadian itu berlangsung dan dengan bodohnya Kyungsoo bahkan tidak sanggup berteriak untuk meminta tolong pada orang lain dan malah berlari pulang. Ada yang lebih bodoh dari dirinya kah?

Ya, Do Kyungsoo. Dia pelajar berprestasi yang mendapat pertukaran di Beijing. Di sekolah yang sama dengan Kris, Yixing, Luhan dan juga Shannon. Dulu sekali saat sekolah, Kyungsoo adalah orang yang pendiam dan bisa dikatakan anti sosial. Pekerjaannya hanya membaca buku, belajar dikelas, dan setelahnya pulang. Benar-benar tidak mengenal banyak orang dikelasnya, apalagi satu angkatan. Jangan pernah bertanya siapa-siapa saja yang ia kenal. Jawabannya tidak ada yang benar-benar ia kenal saat itu.

Sampai suatu hari, ada hari dimana sekelompok orang –teman-teman yang tidak menyukainya- membully nya dibelakang sekolah. Tempat dimana jarang sekali ada siswa maupun siswi yang menjamahnya, siswa iseng sekalipun tidak ada yang berada disana.

Nasib Kyungsoo hampir saja tamat saat itu kalau saja pria bermata rusa itu tidak datang kesana. Menyelamatkannya. Yeah, pria itu bernama Luhan. Senior yang diam-diam Kyungsoo idolakan. Pria cantik itu hanya berbicara sesuatu pada beberapa orang didekatnya dengan tatapan datar mengancam andalannya dan boom! sekelompok orang yang memukulinya pun lari entah kemana dengan wajah yang ketakutan.

Sampai sekarang Kyungsoo juga tidak tahu ancaman apa yang Luhan keluarkan guna menyelamatkannya saat itu.

Setelah kejadian yang sebenarnya tidak ingin Kyungsoo ingat itu terjadi, Luhan dan Kyungsoo berteman. Banyak sekali yang tidak menyukai pertemanan mereka. Karena yeah Luhan anak populer sedangkan dirinya hanya pria culun yang memang tidak pantas berdekatan dengan pria sempurna seperti Luhan. Tapi Kyungsoo ingat bahwa Luhan adalah pria yang sangat keras kepala dan menyuruh Kyungsoo untuk pura-pura tuli saja. Dan Kyungsoo melakukannya. Sampai akhirnya Luhan membuat ia berkenalan dengan Shannon, kekasih Luhan saat itu.

Peristiwa yang begitu berharga bagi Kyungsoo dimana ia bisa merasakan bagaimana Luhan banyak sekali berkorban untuknya, melindunginya dari banyak pembully yang mengincar Kyungsoo. Oleh karena itu Kyungsoo benar-benar menyayangi Luhan sama seperti ia menyayangi kakaknya sendiri.

Seketika hati Kyungsoo sakit mengingat beberapa kejadian itu. Ia benar-benar belum membantu Luhan sama sekali bahkan belum bertemu Luhan lagi setelah sekian lama mereka berpisah karena insiden hamilnya Shannon saat itu.

Yixing menyentuh punggung Kyungsoo, mengembalikan kesadaran Kyungsoo yang ia lihat tengah melamun saat ini. "Kyungsoo-ya, apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?"

Kyungsoo menghela nafas gusar dan menatap Yixing dengan pandangan bingung. Haruskah Yixing tahu tentang hal ini? Ia sangat tahu pasti Luhan amat sangat rapat menjaga rahasia ini dari siapapun. Dan Luhan tidak tahu kalau Kyungsoo juga melihatnya. Jadi apakah Kyungsoo harus membongkarnya?

"Kyungsoo-ya, katakan apa yang membuat pikiranmu tidak tenang sehingga kau datang kemari?" Yixing sekali lagi menggunakan bakatnya sebagai dokter jiwa yang memang sering menghadapi pasien yang memiliki emosi labil.

Kyungsoo mendecih dan tersenyum kecut. "Dia pikir kemana ia akan digiring setelah kematiannya selain ke neraka?" Ujar Kyungsoo dengan tawa miris setelahnya. "Kenapa ia ceroboh sekali sampai membuatnya harus dioperasi?"

Yixing mengernyit. "Siapa yang kau bicarakan?"

"Tentu saja Wu Yifan. Seorang pria campuran Kanada yang kini tengah berada diruangan itu ge."

"Kenapa dia harus berada di neraka?"

Benar, ternyata pria disampingnya yang ia kenal sebagai teman baik Luhan saja tidak mengetahui hal itu.

Kau harus mengatakan kebenarannya Kyungsoo!

"Dia harus meminta maaf pada Luhan karena apa yang ia perbuat dulu. Ia harus mendapat maaf Luhan sebelum ia mati." Ujar Kyungsoo dengan wajah datar dan pandangan lurus menatap ruangan Yifan.

Kembali Yixing meletakkan tangannya dipundak Kyungsoo dan menarik pria itu agar mau menatapnya. "Meminta maaf untuk apa Kyungsoo. Bicaralah yang jelas agar aku paham."

"Yifan sudah menodai Luhan. Karena Yifan tidak terima dengan penolakanmu padanya saat itu."

Yixing baru saja akan protes namun urung saat ia mencerna kembali apa yang ia dengar barusan. Matanya membulat tak percaya. Apa Kyungsoo membual didepannya? Apa rumah sakit tempat yang bisa digunakan untuk melawak?

Pria berlesung pipi itu tertawa canggung, menutupi keterkejutannya. Menggeleng tidak percaya. "Kau bicara apa? Bahkan saat itu Luhan masih straight Kyungsoo-ya."

"Terserah. Tapi aku melihatnya. Digudang belakang sekolah tempat penyimpanan meja dan kursi rusak. Yifan memperkosa Luhan disana tanpa ampun. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri dan aku berani bersumpah padamu ge."

Yixing kembali ingin tertawa tapi tiba-tiba saja tidak bisa. Kalimat yang dilontarkan Kyungsoo dengan segala ekspresinya yang meyakinkan itu benar-benar membuat Yixing bingung. Kyungsoo tengah berbicara serius sekarang dan Yixing sadar kalau saat ini Kyungsoo tidak tengah melawak sama sekali.

"Kau benar-benar bercanda kan Kyungsoo? Mana mungkin Yifan melakukan–" Suara Yixing tiba-tiba melemah saat tengah menyelesaikan kalimatnya. "–hal itu."

"Aku sedang perjalanan mengambil sesuatu digedung belakang saat itu dan aku mendengar suara rintihan yang memang hanya samar-samar saja. Kupikir apa aku salah dengar saat itu. Tapi tidak saat aku mendengar suara pria yang memaki dengan menyebut nama Luhan. Dan pria itu adalah Yifan. Aku melihat jelas wajahnya." Terawang Kyungsoo. Ia tersenyum miris dan kembali melanjutkan. "Aku melihat Luhan ge diikat kuat disebuah meja besi dan Yifan saat itu–" Menjeda sebentar penjelasannya dan menghela nafas pelan. "Memasuki Luhan."

Dada Yixing tiba-tiba berubah menjadi sangat sesak. Ia ingin menangis tapi air matanya bahkan tidak setetespun keluar dari matanya. Apa yang dikatakan Kyungsoo benar-benar memukul telak dirinya. Kemana saja dia selama ini? Kenapa dia bahkan tidak tahu secuilpun tentang hal ini?

"Sahabat macam apa aku?" Yixing memukul dadanya. Merasa sakit sekali. Ia benar-benar tidak tahu masalah sebesar ini dan malah baru mengetahuinya saat ini dari orang lain. Dia sering membujuk Luhan untuk bertemu dengan Kris tanpa ia tahu bahwa Luhan tengah menahan rasa sakit didadanya saat itu. Apa ia bisa menyebut dirinya tidak berguna?

"Aku bahkan tidak tahu kalau Yifan–"

"Aku tidak percaya apa yang kau katakan."

.

.

.

"Dan Yifan saat itu– memasuki Luhan."

Sehun tersentak. Tangan kanan yang ia gunakan untuk memegang ponselnya kini sangat lemas sekali. Ia hampir saja menjatuhkan ponsel pipihnya itu karena tangannya tidak bisa diajak bekerja sama. Kakinya bahkan seperti sudah tidak sanggup menahan bobot tubuhnya. Sehun rasanya ingin pingsan saja saat ini.

Jadi itu alasan Luhan benar-benar membenci percintaan sesama jenis dulu? Itu alasan Luhan selalu memakinya dan tidak mau membuka hatinya untuk Sehun?

Dengan lemas, Sehun berjalan mendekat kearah kedua pria yang kini tengah diam satu sama lain. Pria berlesung pipi disana nampak bingung dan pria bermata bulat disampingnya sepertinya masih memiliki dendam terhadap Kris sama seperti Sehun. Sehun benar-benar ingin menghabisi Kris dengan tangannya sendiri detik ini juga.

"Aku tidak percaya dengan apa yang kau katakan." Kata Sehun dengan nada lemah. Ia mengeraskan rahangnya. Menatap datar kearah Kyungsoo yang bingung saat melihatnya dan Yixing yang kini nampak panik dimatanya.

Yixing secara refleks menutup mulutnya dengan tangan. "Kau– kau Oh Sehun?"

"Aku tidak percaya dengan apa yang kalian bicarakan." Ulang Sehun. Meminta respon berupa penjelasan lebih dari pria bermata bulat yang Sehun yakin pasti ia tahu segalanya tentang kejadian itu.

Kyungsoo nampak menaikan sebelah alisnya. Memandang Sehun datar, nampak menilainya. "Siapa dia ge?"

Sehun tersenyum kecut dan setelahnya duduk dikursi yang sama dengan kedua pria yang lain. "Aku Oh Sehun. Calon suami Xi Luhan."

"Suami?" Tanya Kyungsoo pada Yixing. Ia memandang tak mengerti kearah Yixing. Suami? Apa pria didepannya itu salah menyebut atau bagaimana?

"Luhan ge akan menikah dengannya Kyung."

Kini Kyungsoo tertawa hambar. Mulutnya bahkan tidak bisa tertutup dengan benar sangking terkejutnya ia dengan perubahan haluan kakaknya itu –Luhan- dan berakhir menikah dengan seorang– pria?

"Luhan menyimpang sekarang?" Dengan nada menyindir, Kyungsoo bangun dari duduknya memandangi Sehun yang kini tengah mengenakan kemeja berwarna biru langit itu. Merasa aneh. Apakah benar kakaknya akan menikah–

"Tunggu, menikah? Kau gila? Luhan gege akan menikah? Dia–"

"Tutup mulutmu burung hantu." Ujar Sehun berbahaya. Ia memandang Kyungsoo tajam. "Kalau yang kau katakan benar, aku benar-benar akan melubangi kepala Kris hari ini juga."

Sehun segera berdiri dan berjalan menuju kamar Kris. Pasti Luhan sekarang berada didalam dan tengah berbincang dengan pria brengsek yang Sehun baru tahu bahwa ia lebih brengsek daripada pria brengsek manapun. Ia sudah menodai miliknya. Luhannya.

Belum sempat Sehun membuka kenop pintu kamar karena kenop itu bergerak dari arah dalam. Sepertinya seseorang tengah membuka pintu itu dan hendak keluar. Yang Sehun asumsikan adalah Luhan.

"Apa yang kau lakukan dengan pria sebrengsek Kris didalam?"

.

.

.

Perasaan Luhan sudah lega. Ia sudah bisa memaafkan Kris hari ini. Mungkin kalau dipikir-pikir ini terlalu terlambat untuk benar-benar memberikan maafnya pada Kris. Kenapa Luhan harus menunggu Kris sekarat baru ia bisa memaafkan Kris?

"Terimakasih." Gumam Luhan pelan sambil memutar kenop pintu kamar Kris hendak memanggil dokter untuk segera mengoperasi pria yang kini tengah berbaring dengan wajah pucat diranjangnya.

Saat pintu kamar Kris berhasil terbuka, betapa terkejutnya Luhan saat menemukan Sehun yang kini tengah berdiri dengan tatapan marah kearah Luhan. Kenapa pria ini bisa ada disini?

"Apa yang kau lakukan dengan pria sebrengsek Kris didalam?"

Luhan segera berjalan maju dan menutup pintu dibelakangnya dengan perlahan. Ia berdiri didepan Sehun sedikit mendongakkan kepalanya kearah pria yang lebih tinggi. "Apa maksudmu? Kris hanya–"

Sehun terlihat marah dan menatap tajam Luhan. Pria cantik itu benar-benar bodoh atau apa?

"Apa yang kau lakukan dengan si bajingan yang pernah menodaimu Luhan!"

Deg–

"Ma– maksudmu Sehun?" Luhan terkejut. Sangat terkejut. Tubuhnya tiba-tiba menegang kaku. Bahkan ia tidak bisa bernafas dengan benar saat ini karena rasa takutnya benar-benar mempersempit sirkulasi udara diparu-parunya.

Sehun mendecih dan hendak menyingkirkan Luhan dari pintu kamar Kris. "Minggir. Aku akan membunuh pria itu sebelum ia melakukan operasi. Pria itu benar-benar pantas mati."

Luhan dengan panik menahan Sehun. Memeluk pria tinggi itu dan menyeretnya menjauh yang mana Sehun memiliki kekuatan yang lebih besar dari Luhan. Jadilah Luhan yang terseret kearah pintu dan ia tidak memiliki cara lain selain memanggil dokter untuk Kris saat ini.

"Dokter! Tolong operasikan Yifan sekarang!" Teriak Luhan saat ia melihat seorang dokter dan beberapa perawat melintas dan sepertinya itu adalah dokter yang sama seperti yang tadi Luhan lihat keluar dari kamar Kris. Dan terlihat dokter itu mendekat dan segera memasuki kamar Kris beserta beberapa asistennya.

Dengan kekuatan penuh, Luhan menyeret lengan Sehun yang kini masih meronta. Ia mendengar Sehun mengucapkan 'ia pantas mati' berkali-kali kearah kamar Kris. Dan disini Luhan baru paham kalau Sehun sudah mengetahui semuanya. Tapi dari siapa? Bahkan Yixing tidak mengetahui hal ini. Jadi tidak mungkin–

"Kyungsoo?"

.

.

.

Sehun masih saja berada diluar mobil saat Luhan sudah lebih dulu masuk kedalam dan memasang sabuk pengamannya. Ia ingin pulang dengan segera.

"Baiklah." Luhan membuka sabuk pengamannya kembali dan keluar dari mobil Sehun, menghampiri pria tinggi itu dan menjamah saku Sehun guna mendapatkan kunci mobil pria itu.

Sehun yang terkejut segera menghentikan kegiatan Luhan dan menatap heran. "Apa yang kau lakukan? Ini masih ditempat umum."

Dengan kekehan pelan Luhan kembali menjamah saku bagian belakang dan tarra! Luhan menemukan kunci mobil Sehun. Ia segera menarik lengan Sehun untuk masuk kedalam dan menyuruhnya duduk dikursi penumpang sedangkan dirinya yang akan mengemudi hari ini.

Sehun menggunakan sabuk pengamannya dalam diam. Ia menatap lurus kearah luar membiarkan Luhan untuk menjalankan mobilnya entah kemana itu Sehun tidak perduli saat ini.

"Kau tidak ingin memakiku?" Tanya Luhan dengan sebuah senyuman kecut disana. Seharusnya Sehun mengatakan sesuatu. Terserah apapun yang penting Luhan mendengar suara Sehun. Tidak seperti sekarang, Luhan bahkan tidak tahu apakah Sehun tengah marah atau tidak.

Baiklah mungkin Sehun tengah memikirkan sesuatu sekarang. Dan Luhan akan memberikan waktu untuk Sehun berbicara padanya.

Dengan berpura-pura sibuk, Luhan mengencangkan volume lagu yang kini tengah terputar dimobil Sehun. Ini cukup canggung untuk tidak berbicara satu sama lain dimobil jadi Luhan akan menyibukkan telinganya dengan lagu-lagu yang ada.

"Berisik."

Luhan menoleh dengan sumringah kearah Sehun yang baru saja mengeluarkan sebuah kalimat. Oke memang hanya satu kata tapi itu benar-benar berharga saat ini. Ia yakin Sehun akan mengatakan sesuatu. Dengan segera ia mengecilkan volume suara dan diam, menunggu Sehun untuk berbicara.

Sehun menghela nafas perlahan dan menoleh kearah Luhan. Ia ingin berbicara tapi ia juga bingung apa yang harus ia bicarakan dengan Luhan. Jauh dilubuk hatinya, Sehun merasakan sakit hati. Ia benar-benar merasakan sesak teramat sangat disana sampai ia tidak sanggup untuk mengatakan apapun saat ini. Tapi sepertinya Luhan kini tengah menungguya berbicara.

"Kau tidak apa Luhan?"

Dengan senyuman cerah, Luhan menggeleng tanda ia benar-benar tidak masalah dengan masalah yang dimaksud Sehun.

"Kau pernah mencintai Kris?"

Mungkin ia bisa menjawab semua pertanyaan Sehun dengan santai. Tapi pertanyaan macam ini? Apakah pantas Sehun menanyakan padanya? Cinta? Memang apa yang membuatnya harus merasakan jatuh cinta dengan Kris?

"Tidak. Untuk apa?" Jawab Luhan sambil memberhentikan mobil Sehun ditepi jalan. Sepertinya mereka harus membicarakan ini sekarang dan tidak dalam keadaan ia tengah menyetir.

Dan Sehun tidak berbicara lagi.

Oke sekarang Luhan yang akan berbicara. Masa bodoh Sehun mau mendengarnya atau tidak. Tapi yeah masalah ini sudah sampai ke telinga Sehun jadi ia harus menjelaskan semuanya agar Sehun juga tidak salah paham lagi padanya.

"Aku tahu kau emosi sekarang." Ujar Luhan sambil tersenyum tipis. Menatap lurus kedepan. "Dan aku tahu apa yang membuatmu emosi Sehun-ah." Lanjut Luhan lagi. Ia melepas sabuk pengamannya. Memiringkan tubuhnya menatap Sehun disampingnya yang kini nampak diam. Menatap kearah jendela mobilnya.

"Kau kesal karena kau mendapat pendamping hidup yang sudah pernah tersentuh oleh pria lain."

Seketika Sehun menoleh dengan tatapan tajamnya. Terlihat tidak terima. Ia mengeraskan rahangnya dan membuka sabuk pengamannya. Keluar dari mobil. Diikuti Luhan setelahnya.

"Aku tidak kesal akan hal itu." Ucap Sehun sambil memunggungi Luhan. Pasti pria itu tengah bingung dengan perasaannya saat ini.

"Lalu apa yang membuatmu diam?"

Sehun menghela nafas pelan. Membalikkan badannya dan matanya menatap lurus kedalam mata Luhan. "Aku tidak pernah mempermasalahkan siapa orang yang menjadi pertama untukmu." Ungkap Sehun dengan tatapan datar andalannya. Ia berjalan mendekat kearah Luhan yang kini hanya bisa mengerutkan keningnya. "Karena aku hanya ingin menjadi yang terakhir untukmu Luhan."

Tetes demi tetes air mataturun membasahi dengan perlahan pipi tirus Luhan. Ucapan Sehun benar-benar membuatnya tersentuh. Pria itu ingin menjadi yang terakhir untuk Luhan. Untuknya. Dan ia merasa kalau ia tidak berguna karena bahkan ia tidak bisa menjadi yang pertama bagi pria tinggi dihadapannya ini.

Luhan sudah terlalu lama menyembunyikan hal ini dari Sehun tapi kenapa Sehun bahkan tidak membentaknya?

Sehun berjalan makin dekat kearah Luhan. Meraih tangan kanan Luhan dan mengarahkan tangan mungil Luhan kedadanya. Tepat dimana detakan jantungnya dapat terasa oleh sentuhan telapak tangan Luhan.

"Kau tahu untuk siapa jantung ini berdetak begitu keras?" Tanya Sehun dan dibalas senyuman tipis dari Luhan. "Hanya untukmu. Hanya untuk Xi Luhan sahabat kecil yang aku cintai hingga saat ini."

Luhan telah menahan air matanya agar tidak kembali jatuh tapi ia tidak bisa. Ia benar-benar merasa bersalah pada Sehun saat ini. Ia bahkan sudah kotor dan Sehun masih bisa berkata sepeti ini?

"Hei jangan menangis sayang." Sehun segera mendekap tubuh pria yang lebih mungil. Mendekapnya erat agar pria mungil itu tahu bahwa jantung ini benar-benar selalu diluar batasnya saat ia berdekatan dengannya.

"Kau tidak seharusnya berada disini dan memeluk orang sepertiku Sehun-ah. Kau seharusnya–"

Cup–

Sehun menempelkan bibir miliknya pada milik Luhan. Sehun tidak tahan dengan umpatan Luhan pada dirinya sendiri. Luhannya bukan makhluk hina dan tidak seharusnya Luhan mengatakan hal seperti itu.

Tidak ada lumatan sama sekali. Sehun hanya ingin menyalurkan kehangatan pada Luhan. Menyampaikan bahwa pria mungil itu masih pantas untuk dicintai. Dicintai oleh pria sepertinya yang juga tidak lepas dari banyak kesalahan.

Bukan hanya Luhan yang tidak sempurna. Dirinya pun bukan orang yang sempurna.

Setelah beberapa detik, Sehun menarik diri kembali dan membiarkan mata rusa itu terbuka perlahan pasca ciuman tiba-tibanya tadi. Menatap dirinya tanpa berkedip. Benar-benar cantik.

"Apa harus selalu seperti ini untuk membuatmu diam?" Kekeh Sehun. Ia mengusak gemas surai coklat madu Luhan dan kembali memeluk pria itu.

Sebesar apapun dosa dan kesalahan Luhan., kenapa ia bahkan tidak bisa marah pada Luhan? Pada akhirnya ia akan tetap jatuh pada pesona Luhan. Ini memang tidak adil. Tapi Sehun benar-benar menyukai ketidak adilan itu.

Luhan menampilkan wajah cemberutnya dengan bibir yang dimajukan. Pipinya sudah merona saat ini dan itu benar-benar membuat Luhan berlipat kali lebih menggemaskan bahkan melebihi anak taman kanak-kanak sekalipun.

"Jangan menciumku sembarangan Sehun." Sungut Luhan. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Jantungnya berdebar tak karuan saat ini dan tentu saja pria tinggi didepannya itu penyebab utamanya.

"Memangnya kenapa?"

"Aku– aku malu."

"Luhan tidak perlu malu didepan Oh Sehun, oke?" Kekeh Sehun pelan. Mengusak surai coklat madu Luhan dengan gemas.

Luhan dengan manja memeluk kembali Sehun. Sehunnya. Menyembunyikan wajahnya didada pria tinggi itu. "Aku– aku mencintaimu Sehun." Ungkap Luhan dengan suara pelan nyaris seperti bisikan. Tapi tentu saja Oh Sehun dapat dengan jelas mendengar kalimat pernyataan cinta dari Sehun itu.

Sehun menggigit bibirnya. Menahan tawanya keluar saat mendengar suara halus Luhan menyatakan perasaan padanya setelah sekian lama ia menunggu. Dan hari ini Luhan akhirnya mengakui itu semua.

Dengan jahil Sehun berdehem. "Aku tidak mendengar kau berkata apa Luhan-ah." Dan melepaskan pelukannya pada Luhan. Membuang muka dan berperilaku seperti ia benar-benar tidak mendengar apa yang dikatakan Luhan tadi.

Luhan merengut. Menatap sebal kearah Sehun. Ia sudah cukup jelas berbicara tadi dan Sehun tidak mendengar? Apa Sehun itu tuli?

"Aku mencintai Oh Sehun." Ulang Luhan dengan nada kesalnya. Ia membalikkan tubuhnya. Benar-benar merasa malu kalau ia harus mengulang pernyataan itu didepan Sehun.

Sehun terkikik pelan. Menoleh kearah Luhan yang kini tengah memunggunginya. "Aku tidak mengerti apa yang kau katakan Luhan."

Pria yang lebih mungil membalikkan badannya. Dengan sabar Luhan mendekat kearah Sehun dan sedikit berjinjit. "Aku-mencintaimu-Oh Sehun-sialan." Kata Luhan dengan berbisik tepat ditelinga Sehun. "Kalau kau tidak mendengar juga aku akan benar-benar menggunting telingamu."

"Wow, kau benar-benar seram sekali. Baiklah aku mendengarmu istriku." Jawab Sehun dan menekankan pada kata istri sehingga itu membuat pipi Luhan sekali lagi merona. "Kau benar-benar cantik sayang."

"Aku tampan bukan cantik. Kau ini sudah tuli, buta juga. Kenapa aku menyukaimu?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

.

.

Wah ga kerasa udah chap 18 aja dan konflik baru terselesaikan haha kayaknya masih beberapa chap lagi menuju ending. Jadi yang merasa bosan, maafkan daku:')

Mind to review?