I Think I Love You

Cast:

Oh Sehun

Luhan

-HunHan-

Rated:

T = Tentukan sendiri(?)

Genre:

Romance, Family, Boys Love –Shounen ai-

.

.

.

.

Kata orang, dunia ini sempit. Kalau kau bertanya itu benar atau tidak pada Luhan, pasti ia akan bilang "Itu hanya teori bodoh!" Tapi setelah ia bertemu dengan sosok Sehun, Luhan yakin ia bisa menjelaskan sesempit apa dunia ini.

.

.

.

.

.

.

Setelah kejadian beberapa waktu lalu dimana Sehun akhirnya mengetahui secara keseluruhan masa lalu Luhan, Luhan dengan segala kelegaannya dapat tersenyum dengan cerah dikampusnya. Sesekali menyapa ramah beberapa juniornya dan mengerling ke beberapa teman wanitanya. Ia tidak genit, catat itu. Hanya ingin bersikap ramah saja. Tapi mungkin akan dikatakan berlebihan kalau Sehun melihat hal ini.

Seseorang merangkul pundaknya santai dan ikut berjalan disampingnya. "Wow, apa kau baru saja memenangkan judi hyung?" Tanya orang itu yang ternyata Byung Baekhyun, adiknya dikampus.

Luhan terkekeh pelan dan menggeleng. "Tidak. Aku memiliki banyak uang jadi kenapa harus ku gunakan untuk berjudi? Benar-benar tidak baik."

Baekhyun mengangguk paham. "Jadi apa sepulang kampus kau ada acara? Teman seangkatan ingin mengadakan pesta. Entah aku juga tidak tahu pesta untuk apa. Yang pasti untuk makan-makan bersama."

Luhan memberhentikan langkahnya dan menoleh kearah Baekhyun. "Sore ini dan mungkin sampai malam, aku benar-benar tidak bisa mengikuti acara luar. Aku ada acara dengan seseorang untuk tanding bola."

"Tanding bola? Kau masih bermain bola dengan timmu?"

"Bukan. Aku akan bertanding dengan seseorang," Jawab Luhan sambil tersenyum. Ia melepas rangkulan Baekhyun. "Aku akan kekelas sekarang. Aku tidak ingin terlambat sore ini." Dan Luhan berbelok, meninggalkan Baekhyun yang masih bingung dengan acara bertanding bola yang dimiliki Luhan itu.

Drrt.. Drrt..

Ponselnya bergetar. Ia dengan segera mengambil ponsel itu dari saku celananya dan menggeser ikon hijau disana. Sehun meneleponnya.

"Yeoboseyo?"

"Kau sudah sampai dikelasmu?"

"Belum. Sebentar lagi sampai. Ada apa?"

"Tidak ada apa-apa. Hanya merindukan suaramu."

"Kau benar-benar memalukan. Akan ku tutup teleponnya."

"Saranghae."

Klik–

Luhan menggeleng jengah. Sudah beberapa hari ini dan Sehun selalu dengan tidak tahu malunya menelepon hanya untuk berkata kalau ia rindu pada Luhan, atau berkata saranghae dan tidak ada bahasan penting lainnya. Sehun benar-benar membuat hubungannya seperti hubungan sepasang kekasih berumur tujuh belas tahun. Padahal nyatanya mereka akan menikah. Benar-benar memalukan.

Saat Luhan hendak memasukkan ponselnya kembali kedalam saku, ponsel itu bergetar pelan. Sepertinya ada sebuah pesan singkat masuk ke nomornya. Dan dengan penasaran Luhan melihat layar ponselnya. Itu dari Yixing.

From: Zhang!

Gege, Yifan sudah cukup baik. Ia sementara berada dirumahku. Mungkin kalau kau ada waktu, kau bisa menjenguknya bersama Sehun. Yifan ingin bertemu dengan calon suamimu itu.

Luhan menghela nafas perlahan. Memasukkan ponselnya kedalam saku dan mulai kembali berjalan ke kelasnya.

Yifan sudah sembuh adalah berita baik. Dan Yifan ingin bertemu dengan Sehun adalah sebuah bencana. Luhan tidak yakin kalau Sehun bisa meredam emosinya saat melihat Yifan walaupun pria itu sedang sekarat sekalipun. Lagipula hubungannya dengan Sehun sedang dalam kondisi baik dan Luhan berikut Sehun harus bertatapan lagi dengan Yifan? Benar-benar bencana sekali.

Bruk–

Luhan tanpa sengaja menabrak seseorang dan membuat buku-buku bertumpuk yang orang itu bawa jatuh semua kelantai. Dengan sigap Luhan berjongkok berikut si pemilik dan memungut satu-persatu buku yang berserakan.

"Mian. Aku agak melamun tadi." Ujarnya tanpa melihat siapa yang ia tabrak. Setelah beberapa buku ia susun rapih ditangannya, barulah Luhan mendongak melihat orang yang kini menatapnya dengan pandangan entah marah atau– kecewa?

"Mingyu?" Sapa Luhan canggung. Ia menyerahkan beberapa tumpuk buku itu pada Mingyu dan setelahnya mengusap tengkuknya kasar. Merasa benar-benar bingung harus bicara apalagi.

Mingyu tersenyum lemah. "Terimakasih telah membantuku sunbae."

"Sama-sama. Lagipula aku yang salah jadi aku harus membereskan itu semua." Jawab Luhan dengan senyum ramah dibibirnya.

"Kau akan– menikah?"

"Ne?" Luhan membelalak terkejut. Bagaimana anak tinggi didepannya ini tahu kalau ia akan menikah? Luhan tidak ingat kalau keluarganya telah membuat undangan pernikahannya dengan Sehun.

Kembali, Mingyu tersenyum lemah. "Beberapa orang sudah tahu akan hal itu." Ujarnya menjelaskan petanyaannya tadi. "Dan apakah itu– si pria tinggi yang berada dikantin waktu itu?"

Jadi sudah ada yang tahu. Baiklah masa bodoh.

"Ya. Aku akan menikah dengannya sebentar lagi. Mungkin kau berminat datang?" Tanya Luhan dengan menepuk bahu pria itu santai. "Carilah wanita cantik yang menarik hatimu. Lalu bawa dia ke pernikahanku nanti bersama Sehun."

"Ne, aku ingin datang," Jawab Mingyu. "Tapi aku tidak janji. Karena–" Mingyu menggigit bibirnya dan setelahnya menghela nafas. "–sudahlah lupakan. Aku permisi sunbae."

Luhan mengedikkan bahunya tidak perduli dan kembali berjalan masuk kedalam kelasnya. Tapi ia cukup terkejut saat seisi kelas memandanganya kesal. Ia tidak sedang dalam masalah atau apapun kan?

"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Tanya Luhan dengan tatapan bingung. Ia berjalan menuju kursinya tepat disebelah Chanyeol. Pria itu juga menatap Luhan kesal.

"Kenapa mereka semua menatap kesal padaku?" Bisik Luhan pada Chanyeol. Tapi daripada menjawab pertanyaan Luhan, pria itu malah mendelik malas pada Luhan. Sebenarnya ada apa?

"Luhan-ah." Suara Taeyong memanggilnya. "Kau akan menikah dan tidak mengundang kami?" Tanyanya bersungut-sungut. Oh jadi itu yang membuat seisi kelas terlihat memusuhinya? Tapi–

Luhan menoleh kearah Chanyeol tajam. "Apa kau memberitahu mereka semua?" Tanya Luhan dengan pelan. Berbisik kembali.

"Mereka mendesakku. Jadi yeah ku beri tahu saja. Lagipula mereka mendukungmu."

"Park Chanyeol!"

.

.

.

.

Sehun dengan segala kesabarannya mematuhi perintah Luhan untuk pergi kerumahnya dan mengambil bola sepak kesayangannya dan menjemput pria rusa itu dikampus.

"Apa ada yang kurang, tuan putri?" Tanya Sehun kesal. Ia harus bolak-balik dari kantor menuju rumah Luhan dan kembali menjemput Luhan. Memang kurang ajar sekali. Untung saja Sehun jatuh cinta pada pria itu.

Luhan terkekeh. Memeluk pria tinggi itu sekilas dan mencubit pipi prianya gemas. "Tidak ada pangeran. Terimakasih. Maaf aku merepotkanmu."

"Kau memang sangat merepotkan. Untung saja aku mencintaimu. Kalau tidak–"

"Kalau tidak?" Luhan bersedekap dengan tatapan kesal yang dibuat-buat. Menunggu Sehun untuk melontarkan sumpah serapahnya pada Luhan.

Sehun memutar bola matanya malas dan membuka pintu mobilnya. "Tidak ada. Cepat masuk."

Luhan tertawa lucu. Ia ikut masuk kedalam mobil dan memasang sabuk pengamannya. Memeluk bola kesayangannya erat. Ia jadi membayangkan wajah Haowen saat ini.

Sehun menjalankan mobilnya pelan. Sesekali ia menoleh kekanan melihat calon istrinya itu tersenyum senang. Mungkin ia senang mengingat akan bertemu kembali dengan Haowen. Padahal jujur saja Sehun cukup iri dengan hal itu. Senyuman Luhan selalu merekah saat mereka akan pergi ke panti dan bertemu dengan Haowen. Sekarang juga begitu. Tapi coba di ingat kembali saat Luhan bertemu dengannya, pria itu tetap tersenyum sih tapi tidak seceria itu. Benar-benar menyebalkan.

"Sehun-ah, kita berhenti disitu terlebih dahulu." Ujar Luhan sambil menunjuk sebuah toko peralatan olahraga. Sehun membelokkan mobilnya dan memberhentikannya tepat didepan toko besar itu.

"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Sehun bingung. Mereka hanya akan ke panti dan kenapa Luhan harus pergi ke toko itu terlebih dahulu? Memang ada peralatan yang kurang?

Luhan memutar bola matanya malas. "Aku ingin membeli mobil." Jawabnya asal dan membuka sabuk pengamannya. Membuka pintu mobil Sehun dan melesat masuk kedalam toko olahraga tersebut.

"Dia yang gila atau aku yang gila?"

.

.

.

.

Setelah melewati perjalanan panjang. Sampailah mereka disebuah panti yang sama dengan panti sebelumnya. Dimana Haowen diasuh disana. Luhanpun dengan segala tenaganya melesat keluar dan berjalan meninggalkan Sehun yang baru saja ingin membuka sabuk pengaman miliknya sendiri.

Sehun berdecih kesal. "Bertemu Haowen lebih menyenangkan ya daripada bertemu denganku?" Dan ia segera berlari menyamai langkah Luhan yang kini masih menggenggam bola sepak kesayangannya itu.

"Kau benar-benar akan bermain bola disini?" Tanya Sehun meyakinkan Luhan kembali. "Kau sudah sangat lama keluar dari tim dan–"

Luhan menoleh cepat kearah Sehun dan membuat wajah cemberut andalannya. "Aku masih bisa Sehun. Aku belum setua itu untuk sakit pinggang hanya karena bermain bola bersama anak kecil."

"Bukan. Hanya saja–" Sehun kembali terdiam saat ia melihat wajah Luhan sudah memerah menahan amarahnya. "–tidak jadi. Bermainlah dan aku akan menunggumu dikursi sana."

Luhan tersenyum manis dan memeluk Sehun singkat. "Terimakasih." Dan pria rusa itu dengan cepat melesat ketengah-tengah kerumunan anak kecil dilapangan bola milik panti. Benar-benar kekanakan. Sebenarnya berapa usia prianya itu sekarang?

Sehun berjalan menuju kursi besi yang biasa ia dan Luhan duduki saat bermain kemari. Dari kursi ini, Sehun dapat melihat dengan jelas wajah Luhan yang kini sedang entah membicarakan apa dengan beberapa anak disana.

Setelah perbincangan selesai, anak-anak lain menepi dari lapangan sepak bola. Tenyata Luhan menginginkan permainan satu lawan satu saja. Dengan begitu pria rusa itu bisa melihat seperti apa kemampuan Haowen selama dua minggu ini.

"Dia tidak mungkin mau mengalah dengan Haowen," Gumam Sehun pelan. Tentu saja Luhan tidak mungkin mau mengalah, apalagi dengan seorang anak ingusan menyebalkan seperti Haowen. "Luhan pasti akan menang. Dan Haowen akan menangis setelahnya." Sehun tiba-tiba tertawa kecil saat membayangkan wajah Haowen yang seperti itu menangis hanya karena dikalahkan dalam tanding bola.

Sehun tetap dengan tenang duduk dikursi besi itu dan mendokumentasi pergerakan prianya dengan Haowen yang kini tengah saling menggocek dan membobol gawang satu sama lain dengan ponselnya. Benar-benar berbeda saat ia melihat wajah Luhan yang manis saat dikampus dan sekarang Sehun baru sadar Luhan itu pria yang bisa bermain bola dengan sebegitu lincahnya.

"Baru pertama kali aku melihat Haowen bisa berteman dengan sebegitu mudahnya." Suara itu membuat Sehun menoleh kebelakangnya. Dan disana ada seorang wanita paruh baya yang kini berjalan ke sebelah Sehun dan duduk dikursi yang sama dengan Sehun saat ini.

Sehun tersenyum tipis. "Saat pertama kali aku melihat Haowen, anak itu benar-benar pendiam sekali ahjumma." Ujar Sehun, mengingat kejadian beberapa waktu lalu saat Haowen dengan segala kedataran wajahnya mengatai mereka bedua –walaupun tidak secara langsung- sepasang gay menjijikan.

Wanita disampingnya mengangguk setuju. "Bukan hanya saat itu saja anak muda. Dari awal anak itu ditinggalkan disini oleh ibunya, anak itu sangat-sangat pendiam sekali dan jarang sekali bersuara."

"Terlihat sekali dari wajahnya."

Wanita itu menoleh kearah Sehun dan terkekeh pelan. "Kau juga seperti itu dulu nak?"

Sehun menoleh terkejut. "Aku?" Tunjuknya pada diri sendiri.

"Ne. Kalau dilihat-lihat Luhan ada benarnya," Kembali wanita itu terkekeh. "Kau dan Haowen sangat mirip. Pasti Luhan sangat mencintaimu."

Perkataan wanita paruh baya disampingnya sukses membuat wajah Sehun memerah. Senyuman lebar ia kembangkan. Entah kenapa tapi pernyataan sederhana itu membuat dirinya lebih baik, merasa kalau Luhan memang begitu. Sangat mencintai dirinya. Walaupun Sehun juga belum yakin, tapi wanita itu membuat Sehun cukup lega sekali.

"Aku sangat mencintainya," Kata Sehun, dan ia tersenyum kembali. "Sejak tujuh tahun yang lalu dan itu tidak pernah berubah sampai sekarang ahjumma."

"Tujuh tahun? Kalian sudah mengenal selama itu?"

Sehun memandang lurus lapangan bola didepannya. "Ne. Aku bahkan sudah mengenalnya sejak umurku lima tahun ahjumma."

Wanita itu mengangguk-angguk mengerti. "Sangat lama sekali. Kalian sudah saling mengenal selama setengah hidup kalian. Pantas kau ingin menikahinya." Wanita itu terkekeh kembali. Merasa sangat lucu mendapatkan pasangan seperti Luhan dan Sehun. Mereka bisa mempertahankan cinta mereka selama belasan tahun dan akhirnya menikah.

"Aku sangat ingin menikahinya sejak bulan lalu. Tapi yeah dia bukan orang yang menyimpang sebelumnya." Sehun tersenyum miris. Terkadang ia merasa jahat juga membuat keadaan normal Luhan menjadi berbelok tajam begini. Tapi tentu saja ia tidak pernah menyesal.

"Kau sangat bahagia?"

Sehun mengangguk. "Sangat-sangat. Semua perjuanganku terbayar sudah."

Wanita itu memandangi Haowen dan kemudian tersenyum, menoleh kearah pria muda disebelahnya. "Kau ingin mengadopsi Haowen?"

Sehun kembali mengangguk. "Itu permintaan Luhan. Ia akan mengadopsi Haowen. Tapi kalau sampai Haowen tidak mau, dia tidak ingin mengadopsi yang lain."

"Haowen cukup sulit ditaklukan." Ujar wanita itu. Ia kembali teringat dengan masa lalu Haowen. Anak kecil itu sempat bercerita banyak tentang ayah dan ibunya.

"Sangat."

"Tapi kurasa Haowen akan menerima ajakan kalian. Karena sebelumnya anak itu tidak mau berinteraksi dengan siapapun dari luar. Hanya denganku dan anak perempuanku saja sebelumnya." Wanita itu menghela nafas. "Dan Luhan dapat berbicara dengan Haowen walaupun tidak banyak. Pasti anak itu nyaman dengan kekasih cantikmu."

"Berinteraksi?" Sehun menoleh dan menatap wanita disampingnya dengan tatapan bingung. Apa Luhan memang sangat sering kemari tanpa dirinya?

"Luhan sering kemari sebelumnya tanpa dirimu nak. Dan ia sering mengajak Haowen mengobrol disini, dikursi ini. Dari jauh aku melihat Haowen sesekali tertawa dan tersenyum saat mungkin Luhan melontarkan sesuatu yang lucu. Mungkin anak itu tertawa dan tersenyum tanpa sadar."

Itu adalah kemajuan yang sangat besar sekali. Haowen bisa tertawa dan tersenyum dengan Luhan dan anak itu berubah sangat kurang ajar saat Sehun berada disamping Luhan. Apa anak itu menyukai Luhannya? Jadi Sehun memiliki saingan seorang bocah? Dasar licik.

"Anak kurang ajar. Ternyata dia tahu mana manusia cantik dan yang tidak." Ujar Sehun sambil menggeleng, merasa lucu juga. Pasti anak itu sudah sangat nyaman dengan Luhan. Tentu saja, Luhan ternyata benar-benar sering kemari dengan sangat gigih. Manusia mana yang tidak luluh akan hal itu? Sehun saja langsung luluh hanya karena melihat wajah cemberut Luhan.

Sehun merasakan wanita paruh baya disampingnya meraih tangan kanan Sehun dan terlihat senyuman hangat dibibirnya. "Jaga Luhan. Dia sangat cantik dan benar-benar baik sekali," Ujar wanita itu. "Kalian sangat manis ketika bersama." Sehun ikut-ikutan tersenyum dan mengiyakan dalam hati. Luhan memang cantik dan baik hati. Itulah kenapa Sehun selalu bilang kalau Luhan itu sosok malaikat tanpa sayap dipunggungnya.

"AKU MENANG!" Seketika Sehun langsung menoleh, menatap lurus kembali kearah lapangan bola panti dan menajamkan penglihatannya. Disana Haowen bersorak gembira diikuti sorakan teman laki-lakinya. Mereka saling berpelukan dan tampak senang sekali. Ini pertama kalinya Sehun mendengar suara Haowen dengan sebegitu kencang. Pasti anak itu benar-benar senang sekali bisa mengalahkan seorang atlit ha-ha.

Sehun menghela nafas lega dan matanya menangkap sosok Luhan yang kini tengah tersenyum bangga melihat Haowen bersama teman laki-lakinya saling berpelukan dipinggir lapangan.

Sehun mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan melambai kearah Luhan, menyuruh pria itu mendekat kearahnya. Ia sudah menyiapkan handuk kecil beserta air mineral disampingnya saat ini.

"Kalau begitu aku permisi," Wanita disampingnya beranjak dari duduknya dan membungkuk kearah Sehun. Dan Sehun tentu saja ikut berdiri dan membalas bungkukan wanita itu. "Aku akan menyiapkan makan malam." Dan wanita itu berjalan menjauh menuju gedung panti.

Sehun melihat Luhan dan Haowen saling merangkul satu sama lain dan berjalan kearahnya. Wajah Haowen benar-benar sangat bahagia sekali, dan anak itu tidak berhenti tersenyum saat ini.

Sehun menyodorkan air mineral pada Luhan. "Berbagilah dengan anakmu."

"Baiklah." Luhan meneguk beberapa kali air mineralnya dan Haowen melakukan hal yang sama setelahnya.

"Ini," Sehun memberikan handuk kecil pada Luhan. "Jangan berbagi dengan anakmu."

Luhan terkekeh. "Baiklah."

"Duduklah Haowen-ah," Luhan mendorong Haowen pelan untuk duduk disamping Sehun. "Aku sudah menjanjikan padamu kan kalau yang menang bisa mendapatkan tiga permintaan dan yang kalah bisa memberikan satu syarat. Jadi pikirkan apa yang kau inginkan. Aku akan memberikan semuanya."

"Jinjjayo?" Tanya Haowen dibarengi oleh mata berbinarnya dalam hitungan detik saja, karena setelahnya mata anak itu meredup kembali dan terdengar anak itu menghela nafas kecewa.

"Ada apa? Kau tidak senang?" Sehun memperhatikan raut wajah Haowen. Anak itu menggeleng pelan dan menoleh kearah Sehun.

Kenapa anak itu melihat kearahku?

"Luhan hyungmengalah padaku kan? Itu curang." Sungut Haowen kesal. Ia tidak benar-benar menang dari Luhan. Dan dia juga tidak pantas memiliki hadiah itu.

Luhan menatap Haowen tidak mengerti. "Mengalah bagaimana?" Dan pria itu sempat menoleh kearah Sehun dengan tatapan apa maksud anak ini, pada Sehun. "Kau memang sangat berbakat Haowen-ah."

"Sehun hyung sudah memberitahu semuanya," Wajah Haowen terlihat kembali kecewa dan anak itu cemberut sekarang. "Kau ini tidak pernah terkalahkan oleh siapapun. Mana mungkin hyung bisa kukalahkan dengan bakatku yang baru muncul selama dua minggu ini. Hyung pasti mengalah padaku."

"Se– Mwo?" Luhan kembali menatap Sehun dengan tatapan sama seperti tadi. Seingat Luhan, Sehun tidak pernah datang kemari tanpa dirinya. Lagipula Sehun dan Haowen sangat tidak akur. Jadi mana mungkin anak kecil itu bisa berdiskusi dengan Sehun sebelumnya.

"Sehun hyung datang kemari tiga hari yang lalu dan memperlihatkanku beberapa video saat kau tengah bertanding sepak bola dulu. Dan kau selalu mencetak gol disana."

"Sehun-ah," Sehun hanya tersenyum tanpa dosa disana. "Kau kemari tanpa ijin dariku?"

Sehun mengedikkan bahunya tidak perduli. "Memang kau pernah meminta ijinku untuk kemari? Tidak kan?"

"Jangan bertengkar karena bola," Ujar Haowen polos. "Jadi Luhan hyung yang memiliki tiga permintaan sekarang karena Luhan hyung yang sebenarnya menang."

"Ani. Kau tetap memiliki kesempatan itu," Luhan mengusak rambut Haowen gemas. "Dan berikan aku satu permintaan karena yeah aku memang sangat hebat dalam bermain bola."

"Jinjjayo? Aku masih memiliki tiga permintaan itu?" Haowen memegang lengan Luhan dan menggoyang-goyangkannya lucu. Haowen terlihat seperti bocah kalau sudah begini.

"Ne. Jadi sebutkan permintaan pertama sekarang." Sehun menyela. Kesal juga dicampakkan begitu saja oleh Luhan demi anak datar disampingnya itu.

"Aku ingin–" Haowen menggigit bibirnya, merasa ragu juga. "–Luhan hyung mengajariku bermain bola sampai aku sepandai hyung."

"Permintaan pertama dikabulkan," Luhan mengangguk dan tersenyum. "Permintaan kedua?"

"Aku ingin Luhan hyung–" Kembali ia jeda kalimatnya. "–tetap mengirimkan makan malam ke panti. Teman-temanku selalu mengeluh karena makanannya selalu sama sebelum Luhan hyung mengirimkan makanan setiap makan malam." Kata Haowen dengan tatapan memohonnya.

"Permintaan kedua sangat dikabulkan," Luhan mengacungkan ibu jarinya setuju. Lagipula kalau Haowen tidak memintapun, Luhan akan selalu dengan setia mengirimkan makan malam ke panti ini. "Dan biarkan aku menyuarakan dua permintaanku. Kau masih ingat sebelumnya aku masih memiliki satu permintaan tersisa? Dan aku akan menggabungkannya dengan hadiah hari ini."

"Ne, aku akan mendengarkannya."

"Permintaan pertama, aku ingin kau–" Luhan menghela nafas, benar-benar ragu meminta anak itu sesuatu yang mungkin mustahil untuk anak itu lakukan sekarang ini. "–menjadi anak adopsiku dan Sehun? Apa kau mau?"

Haowen tersenyum. Sepertinya anak itu sudah tahu hal yang akan Luhan inginkan saat pria itu menang dalam pertandingan.

"Ne. Aku sudah memikirkan itu beribu kali dan aku tidak memiliki alasan untuk menolak." Haowen berdiri dari kursi dan memeluk Luhan hangat. Ini pertama kalinya Haowen merasa memiliki seseorang yang bisa ia percayai untuk berbagi cerita. Dan Haowen menyukai Luhan. Luhan hyungnya.

"Benarkah?" Sehun menganga terkejut. Anak itu selalu menolak sebelumnya atau tidak menjawab permintaan Luhan, dan sekarang anak itu menyetujui untuk bergabung dengan keluarganya. Demi Tuhan, apakah ini mimpi?

Haowen melonggarkan pelukannya pada Luhan dan menoleh kearah Sehun. "Tapi aku akan menggunakan permintaan terakhirku sekarang, bolehkah?" Tanyanya pada Sehun.

Sehun mengangguk yakin. "Baiklah. Apa yang terakhir?"

"Aku ingin kalian membawa Ziyu bersama juga. Jadikan dia adikku."

Luhan mengernyitkan dahinya bingung. Ia baru mendengar nama anak itu. "Siapa Ziyu?"

Haowen menunjuk seorang anak manis diujung lapangan yang kini tengah tertawa bersama beberapa temannya disana. "Itu Ziyu. Dia yang sangat dekat denganku. Lagipula Luhan hyung masih kuliah dan Sehun hyung juga bekerja. Saat kalian tidak dirumah aku sangat kesepian nanti."

Sehun dan Luhan meledak dalam tawanya. Jadi Haowen sudah memiliki teman dekat selama dua minggu mereka tinggal? Cepat sekali ia memiliki teman dekat. Itu benar-benar mencengangkan, karena sebelumnya Haowen adalah orang yang sangat datar dan pendiam. Jadi bagaimana anak manis itu bisa dekat dengan Haowen? Sehun akan menelitinya secara berkala nanti.

"Baiklah. Bawa dia bersama kita Oh Haowen." Ujar Luhan dengan tersenyum lebar. Pria itu mengeratkan pelukannya pada Haowen dan itu sukses membuat Sehun mendelik sebal.

"Sampai kapan kalian berpelukan seperti itu?" Haowen memang anak kecil, tapi Sehun tetap saja cemburu melihat kedekatan itu. Luhan tidak pernah sebaik itu pada Sehun. Me-nye-bal-kan.

"Baiklah maaf. Pria tua itu cemburu." Haowen melepas pelukannya dan berlari menghampiri teman-temannya diujung lapangan. Menghampiri anak bernama Ziyu itu lebih tepatnya.

Luhan meninju dada Sehun pelan. "Kau tidak seharusnya cemburu dengan anak kecil Sehun. Dia akan menjadi anak kita." Ujar Sehun dengan wajah memerah. Darahnya berdesir saat ia berkata anak kita tadi. Benar-benar mendebarkan.

"Anak kita ya?" Sehun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju Luhan, memeluknya erat. "Katakan pada anak kita untuk tidak memanggilku pak tua. Memang dia sudi memiliki ayah seorang pak tua?" Haowen tetap saja anak terkurang ajar yang pernah ia temui.

"Kau memang pak tua," Kekeh Luhan pelan. Pria itu melingkarkan tangannya pada pinggang Sehun. "Dan aku akan memiliki dua Sehun sebentar lagi." Lanjutnya sambil menjulurkan lidah.

"Baiklah aku adalah pak tua yang mendapatkan gadis belia." Kata Sehun mencibir. Ia memekik saat dirasakan Luhan mencubit kecil pinggangnya. Benar-benar gadis ha-ha.

"Mendongaklah keatas, Luhan." Perintah Sehun. Luhan melakukannya dan–

Cup–

Sehun mengecup kening pria mungilnya beberapa saat. Luhan memejamkan matanya dan tersenyum manis disana. "Terimakasih Luhan." Gumam Sehun sesaat setelah ia melepaskan ciumannya pada kening pria yang lebih pendek.

"Aku yang harusnya berterimakasih sayang." Luhan tersenyum malu-malu. Ia kembali menunduk dan memeluk kembali Sehun dengan erat. Menyembunyikan wajahnya yang memerah saat ini didada pria albino didekapannya.

"Luhan hyung dan– Sehun hyung?" Itu suara anak bernama Ziyu yang Haowen katakan tadi. Dengan mendengar suara lembut dari anak manis itu, Sehun melepaskan pelukannya dari Luhan tapi tangannya masih bertengger dipinggang prianya itu.

"Ziyu? Aku benar?" Sehun bertanya ramah. Ini hanya sebuah kebetulan atau– isi panti ini memang anak-anak yang mirip dengan mereka berdua? Ziyu, anak itu mirip sekali dengan Luhan. Berparas manis dan suaranya sangat lembut sekali ditelinga Sehun.

"Ne. Haowen gege bilang aku akan menjadi adiknya dan kalian akan menjadi orangtuaku. Memangnya benar ya?" Tanya Ziyu polos. Mata anak itu bening dan sangat polos sekali. Sehun menyukainya.

Sehun tersenyum dan mengusak kepala anak itu gemas. "Ne. Apa kau mau?"

"Karena ada Haowen gege disana, aku mau."

.

.

.

.

Hari ini orang tua Luhan berikut kakaknya tidak berada dirumah mungkin untuk satu atau dua hari. Dan Luhan segera menelepon Sehun untuk berkunjung. Tentu saja. Karena Luhan tidak menyukai rumah dalam keadaan sepi.

"Tidakkah lebih baik kita tinggal di apartement yang sudah ku siapkan?"

Luhan menggeleng. Ia menyandarkan kepalanya pada pundak Sehun. Matanya menatap lurus ke televisi didepannya. "Kita akan disana saat sudah menikah nanti."

Sehun menoleh kearah prianya. "Kau tahu aku benar-benar tersiksa?"

"Tersiksa bagaimana?"

"Aku merindukanmu setiap detik. Jadi lebih baik kita tinggal ditempat yang sama."

Luhan kembali menggeleng. Ia tersenyum manis. Dadanya berdebar hanya karena kata-kata sederhana Sehun tadi. "Tidak. Aku ingin kita menikah dulu baru tinggal satu atap Sehun."

"Apa yang kau takutkan? Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu saat kita tinggal satu atap sebelum kita menikah."

"Ya! Aku tidak takut. Lagipula kita sama-sama pria." Sungut Luhan. Ia memisahkan diri dan menggeser posisi duduknya, menjauh dari Sehun.

Sehun menggeser dirinya mendekat kearah Luhan. "Benarkah?" Ia mencekal lengan Luhan dan pria itu menoleh dengan tatapan terkejutnya. "Kau tidak takut kalau aku melakukan sesuatu?" Sehun memajukan wajahnya kearah Luhan. "Seperti– aku akan menciummu setiap malam."

Luhan meletakkan satu tangannya yang lain di dada Sehun. Menahan pria itu untuk tidak lebih maju lagi. "Aku– aku tidak akan membiarkan itu terjadi sebelum kita– Sehun! Mundurlah!"

"Kau bilang kau tidak takut. Jadi jangan berteriak seperti itu didepanku," Sehun kembali memajukan wajahnya dan menyeringai. Ia memiringkan wajahnya, berpose seperti ia hendak mencium Luhan. "Luhan? Bolehkah?" Tanyanya tepat didepan bibir Luhan.

Tangan Luhan bergetar. Ia hanya diam dan matanya menatap lurus kearah mata tajam milik Sehun. Bahkan ia tidak bisa bernafas sekarang. Sehun terlalu dekat dan itu membuat dadanya sesak.

Sial, mau apa anak ini?

"Aku benar-benar ingin menciummu sekarang."

"Se– mmhh."

Sehun menempelkan bibirnya pada bibir merah merekah milik Luhan. Melumatnya perlahan. Ia meletakkan tangannya ditengkuk Luhan dan menarik Luhan untuk lebih dekat padanya. Selalu saja ia tidak bisa menahan diri.

Dengan berani, Sehun menggigit bibir Luhan membuat pria itu memekik tertahan dan itu adalah kesempatan untuk dirinya menelusupkan lidahnya kedalam mulut Luhan.

Seketika suasana menjadi amat sangat panas. Padahal Luhan ingat tadi ia sudah menyalakan pendingin untuk ruang keluarganya. Tapi kenapa gerakan Sehun saat ini bisa membuat dirinya gerah sekali?

"Ah, aku melupakan ponsel– oh maaf aku mengganggu kalian lagi."

Kedua mata pria yang kini sedang saling melumat itu tiba-tiba terbuka bersamaan. Menatap satu sama lain dengan tatapan astaga siapa itu? Dan Luhan mendorong dada Sehun, menyuruh pria itu menyingkir dengan segera.

Luna. Kakaknya itu berdiri seperti manekin dijarak satu meter dari mereka berdua. Sepertinya cukup terkejut –lagi- mendapati adiknya itu kembali saling melumat didepan matanya. Sebelumnya ia sudah menangkap basah kedua pria itu dikamar, dan sekarang apa mereka lebih berani melakukan hal itu diruang keluarga?

"Ponsel? Ah, ponselmu ada di– dikamar. Aku melihatnya tadi." Ujar Luhan gugup. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan kelantai atas, ke kamar Luna dan setelahnya kembali dengan ponsel pipih milik kakaknya.

"Ini," Luhan memberikan ponsel kakaknya. "Kau kenapa bisa meninggalkan barang penting seperti itu jie?"

Luna terkekeh. "Kalau aku tidak meninggalkan ponselku, mungkin kalian sudah berbuat mesum diruang keluarga kan?" Perempuan itu mengerling kearah Sehun. "Aku tidak suka kalau ruang keluarga kotor. Jadi kalau ingin melakukan hal yang seperti itu, tolong lakukan dikamarmu saja." Luna memasukkan ponselnya kesaku dan berbalik. "Aku pergi, ingat jangan melakukannya diluar."

"Ya! Apa maksudmu jie?" Teriak Luhan kesal. Melakukan apa? Kakaknya itu selalu saja berbicara hal yang ambigu dan Luhan tidak mengerti apa yang dimaksud kakaknya itu.

"Luna noona menyuruh kita melakukan hal itu dikamarmu?" Sehun terkekeh. "Berarti dia dengan sengaja menjadikanmu tumbal untukku ya?"

"Diam kau Oh Sehun."

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Luhan jadi tumbal disini(?) wkwk ciee haowen diadopsi bonus ziyu disana. Akhirnya haowen luluh juga kan sama kegigihan Luhan hehe

Sebenernya chap ini sudah lama sekali aku ketik, cuma aku baru punya kesempatan buat apdet. Jadi maapkan kalo apdetnya makin kesini makin lama.

Sudah begitu saja, mind to review?:)