Disclaimer : Masashi Kishimoto
Title : Masked Bitch
Main cast : Sakura/Sasuke/Hinata
Rate : T ++
Genre : Drama/Romance/Psychology
WARNING KERAS : SASUSAKU ONE SIDED/DEATH CHARA
.
.
Chapter 4
Sasori dan Hinata sedang berbicara saling berhadap-hadapan. Wajah keduanya terlihat begitu tegang. Terutama Hinata yang tak menyangka kalau Sasori berani memintanya untuk meninggalkan Sasuke demi Sakura.
Di sisi lain Sakura yang sedang menunggu makanan mendadak merasa mual. Sebenarnya ia sudah mencoba untuk menahan rasa mual tersebut. Tapi semakin ditahan malah semakin tidak enak dan membuat kepalanya menjadi pusing.
"Sasuke, aku mau ke belakang sebentar," ucap Sakura yang buru-buru meninggalkan meja makan sebelum mendapat jawaban dari Sasuke.
Sikap Sakura membuat Sasuke cemas, dan mulai berpikir jangan-jangan Sakura memang sedang hamil sungguhan. Namun, sedetik kemudian ia menepis pikirannya tersebut, mengingat fakta yang sebenarnya sedang terjadi membuat kehamilan Sakura sangatlah mustahil.
Sakura yang berjalan agak sempoyongan menuju toilet baru teringat kalau ia meninggalkan tasnya di bangku tadi. Dengan perasaan jengkel ia berniat untuk mengambilnya. Akan tetapi niatnya terhenti ketika tanpa sengaja ia mendengar sebuah suara yang terdengar seperti suara kakaknya.
"Tinggalkan Sasuke…."
'Itu seperti suara Sasori-nii…, dia sedang bicara dengan siapa…?'
Dituntun oleh rasa penasarannya, akhirnya Sakura memutuskan untuk melihat dengan siapa sebenarnya sang kakak berbicara.
"Apa maksudmu? Meninggalkan Sasuke? Kau menyuruhku untuk meninggalkannya?"
'Itu 'kan Hinata. Apa yang sedang mereka bicarakan? Kenapa mereka membawa-bawa nama Sasuke…?'
Sakura melihat Sasori sedang berbicara dengan Hinata. Dilihat dari raut muka kedunya, jelas ada suatu pembicaraan serius yang sedang mereka bahas. Terlebih lagi, Sakura mendengar keduanya menyebut-nyebut nama Sasuke. Membuatnya semakin penasaran saja.
"Salah satu dari kalian harus ada yang mengalah…."
"Jadi kau berharap aku menjadi pihak yang mengalah?!" Hinata meninggikan sedikit nada suaranya. "Tidak. Aku tidak akan mengalah!"
"Saat ini Sakura sedang hamil…."
"Tapi hal itu belum bisa dibuktikan sebelum ada keterangan medis. Selain itu, aku yakin itu bukan anak Sasuke."
"Aku mohon Hinata. Untuk saat ini pergilah dari Konoha. Biarkan Sasuke bersama Sakura…."
Tiba-tiba Hinata menangis. Hatinya sakit. Kenapa semua orang seperti itdak berpihak kepadanya. Mereka lebih membela wanita merah muda yang jelas-jelas sudah merebut Sasuke darinya secara paksa. Dan, kini Hinata merasa telah menjadi orang bodoh sedunia, karena ia rela membiarkan Sasuke bersama Sakura, dan berpikir itu bisa membantu Sakura. Tapi ternyata tidak. Kini Sakura benar-benar ingin mengklaim Sasuke sebagai miliknya dengan mengatasnamakan bayi yang sedang dikandungnya.
"Lalu, bagaimana denganku…? Apakah tidak cukup pengorbanan dan penantianku selama enam bulan?" Hinata menatap nanar ke arah Sasori. "Apa aku salah meinginkan cintaku kembali lagi padaku…?" Sambungnya sambil terisak.
'Jadi selama ini Hinata mencintai Sasuke? Apa itu berarti wanita yang selama ini menjalin hubungan dengan Sasuke di belakangku adalah…, Hinata…?'
"Maaf sekali, Sasori. Tapi aku tidak akan pernah melepaskan Sasuke sekalipun Sakura juga sangat mencintainya," balas Hinata menegaskan. Selama ini dia sudah cukup mengalah. Hanya untuk kali ini saja dia ingin mempertahankan kebahagiaan yang sudah seharusnya menjadi miliknya.
Sakura segera membekap mulutnya sendiri agar tak menjerit histeris setelah mendengar pernyataan dari mulut sahabatnya sendiri. Hinata, orang yang selama ini ia percayai ternyata adalah wanita lain yang hadir dalam kehidupan rumah-tangganya dan Sasuke. Pantas saja waktu itu sikapnya aneh saat mendengar kehamilan Sakura.
'Hinata…, kenapa harus kau…, kenapa harus sahabatku sendiri…?' Sesak rasanya dada Sakura. Wanita itu bahkan harus menahan tangisnya agar tak pecah.
Sakura menyandarkan dirinya pada tembok untuk menyanggah tubuhnya yang tiba-tiba terasa lemas. Kenyataan ini benar-benar menamparnya sampai ke jantung. Tiba-tiba teringat kembali kilas balik masa lalunya.
Sakura teringat saat ia dan Hinata pulang dari kampus selalu berjalan berdua. Mereka ngobrol sambil bercanda sepanjang jalan. Mereka bahkan saling berbagi cerita dan barang. Sampai tiba-tiba Sasuke hadir di antara keduanya, persahabatan mereka tetaplah sama. Hinatalah yang selau memberikannya nasihat setiap kali Sakura curhat mengenai Sasuke. Bahkan disaat Hinata mulai akrab dengan Sasuke, ia sama sekali tidak mempermasalahkannya. Sakura justru merasa senang karena sahabat dan pria yang dia cintai bisa akur.
Tapi bukan seperti ini yang pada akhirnya terjadi. Ia sama sekali tidak membayangkan kalau Hinata dan Sasuke memiliki hubungan special lebih dari sekedar sahabat. Terlebih lagi ia tahu hinata akan tetap bertahan sekalipun saat ini Sakura sedang mengandung anak dari Sasuke.
"Aku rasa sudah tidak ada yang perlu dbicarakan karena semuanya sudah jelas," ucap Hinata, "aku permisi."
Hinata berjalan dengan langkah mantap meninggalkan Sasori yang kemunginan sedang kesal saat ini karena tawarannya telah ditolak mentah-mentah oleh sang indigo. Sakura yang melihat Hinata berjalan ke arahnya segera bersembunyi. Ia merapatkan tubuhnya ke tembok, berharap agar wanita itu tidak menoleh ke samping.
"Hinata…, aku tidak akan memaafkanmu…!" ucapnya dengan nada geram.
.
.
"Aku mau pulang duluan saja," ucap Hinata begitu ia tiba di meja makan. "Kemana Sakura?" Tanyanya saat menyadari wanita itu tidak ada di tempat.
"Dia ke toilet. Memangnya kalian tidak berpapasan?" Hinata menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan dari Sasuke.
"Kalau begitu sampaikan salamku padanya. Aku mau pulang duluan," ujar Hinata yang sudah malas untuk berlama-lama bersama Haruno bersaudara itu. Ia hanya tak ingin lepas kendali di depan Sakura nantinya.
Hinata memutar tubuhnya ke samping, hendak melangkah pegi. Namun, gerakannya terhenti ketika tangan Sasuke mencengkram pergelangan tangannya dengan begitu kuat. Hinata terkejut. Ia berbalik, menatap Sasuke yang juga kini tengah menatapnya dalam.
"Sasuke kendalikan dirimu. Aku tak ingin Sakura ataupun Sasori melihat ini…." Hinata memberikan tatapan memohon pada Sasuke agar laki-laki itu melepaskannya.
Sasuke dengan rasa terpaksa melepaskan Hinata dan membiarkan wanita itu untuk pergi. Sementara itu, tanpa sepengetahuan Sasuke, Sakura melihat adegan tadi. Diam-diam wanita bersurai merah-muda itu menyusul Hinata lewat pintu keluar yang satunya lagi. Kemudian, Sasori yang menangkap sosok Sakura keluar lewat pintu yang lain merasa curiga dan memutuskan untuk mengikuti kemana perginya sang adik.
.
.
Di area parkir Hinata berjalan tanpa menyadari kalau Sakura mengikuti dirinya. Hingga ketika ia hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba tangannya ditarik dari belakang secara kasar, memaksanya untuk memutar tubuhnya.
"Sakura? Kau ini kenapa?" Tanya Hinata saat melihat orang yang berlaku kasar adalah Sakura.
PLAK!
Sungguh Hinata tidak pernah membayangkan bahkan dalam mimpi sekalipun kalau sahabatnya tu akan menampar dirinya.
"Kenapa…, kau menamparku…?" Hinata terhenyak sambil memegangi pipi sebelah kanannya yang memerah.
"Jangan memasang wajah polos seperti itu! Kau pikir aku tidak tahu kalau selama ini diam-diam kau berhubungan dengan Sasuke!?" Akhirnya Sakura meluapkan segala amarahnya kepada Hinata yang sudah ditahannya sejak tadi.
"A-apa…." Hinata benar-benar tidak tahu lagi bagaimana harus bereaksi.
"Kenapa? Kau terkejut, huh?" Sakura menatap sinis Hinata. Jelas tersirat kebencian yang terpancar dari sepasang emerald miliknya. "Tuhan memang adil. Sekarang dia menunjukkan padaku, siapa yang selama ini menggangu Sasuke. Kau pasti tidak menyadarinya 'kan, kalau aku mendengar pembicaraanmu dengan Sasori di toilet."
Hinata sudah tidak dapat berkata-kata lagi saat ini. Ia benar-benar tak menyangka kalau Sakura sudah mendengar semua pembicaraannya dengan Sasori, dan hal ini malah membuat keadaan semakin jauh dari apa yang sebenarnya terjadi.
"Kau…! Kenapa kau berani sekali merusak rumah-tangga sahabatmu sendiri, hah!?" Sakura menghardik, menunjuk wajah Hinata dengan sengit. "Setelah semua yang telah dilakukan oleh orang-tuaku agar kau bisa kuliah…, begini caramu membalas kebaikan mereka, hah!?" Sakura mulai mendorong-dorong tubuh Hinata, sementara wanita yang didorong hanya mampu terdiam, menundukkan wajahnya, tak berani menatap balik sepasang mata yang telah ditutupi oleh kobaran amarah.
Pertengkaran keduanya sontak memicu atensi semua orang yang berada di area parkir dan menjadi tontonan gratis. Tak ada satu pun dari mereka yang berani memisahkan.
"Pantas saja…, pantas saja selama kuliah dulu kau selalu mau mengikutiku pergi kemana pun bersama dengan Sasuke…, ternyata kalian berdua memiliki hubungan…!"
Sakura benar-benar merasa sakit hati. Ia memarahi Hinata sekaligus menangis di depannya.
"Kau…, dasar wanita jalang!"
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Hinata yang sebelahnya lagi. "Mulai sekarang, kau bukan sahabatku lagi. Aku harap kau mati terkubur bersama dengan dosa-dosamu!" Terakhir Sakura mendorong keras tubuh Hinata hingga membentur pintu mobil. Setelah mengucapkan kata-kata yang menyakitkan itu Sakura bergegas pergi dengan linangan air mata.
Tubuh Hinata merosot ke bawah, seolah-olah semua kekuatannya telah habis dan membuatnya tak mampu berdiri. Ia menangis sejadinya di sana. Tak peduli kalau saat itu banyak orang yang melihatnya.
Sasori yang melihat kejadian tersebut dari kejauhan segera menghampiri Hinata yang terduduk lemas sambil menangis.
"Hinata…." Ia tak bisa berucap banyak apalagi setelah dilihat betapa hancurnya Hinata saat ini.
"Apakah tidak cukup bagi Sakura merebut semuanya dariku, Sasori…? Kenapa dia ingin mengambil semuanya…," ucap wanita itu dengan begtu lirih.
"Maaf…." Hanya itu yang bisa diucapkan Sasori.
untuk bebrapa menit Sasori masih berdiri di sana, menatap iba pada Hinata yang masih bersandar ke belakang sampai tiba-tba Sasori melihat ada suatu cairan merah mengalir dari rok wanita itu dan Hinata mulai meringis.
"Hi-Hinata, kau kenapa?" Sasori membungkuk untuk memastikan keadaan Hinata. Dia berubah panik saat menyadari cairan merah itu adalah darah.
'Ini tidak mungkin…, apa jangan-jangan Hinata….' Tiba-tiba saja Sasori mendapatkan firasat buruk. Ia takut apa yang dipikirkannya benar-benar terjadi.
"Hinata bersabarlah, aku akan membawamu ke klinik."
Tanpa berpikir dua kali Sasori segera mengambil kunci mobil yang masih dipegang oleh wanita itu. Kemudian ia menggendong Hinata, membawanya masuk ke dalam mobil, dan ia sendiri segera memposisikan diri di depan mobil. Tak berapa lama mobil berwarna putih itu melaju dari area parkir dengan kecepatan penuh menuju klinik terdekat.
.
.
Happy Hours Clinic
Untunglah di dekat sana ada sebuah klinik yang berjarak tak lebih dari 300 meter dari Konoha land Grand Mall. Sasori segera memarkirkan mobil tersebut di depan karena kebetulan tak banyak kendaraan di sana.
Sasori menggendong wanita itu ke dalam sambil memanggil dokter yang berjaga, meminta agar Hinata segera ditangani. Tak butuh waktu lama ketika dua orang perawat datang menghampiri dan membantu Sasori membawa Hinata ke ruangan periksa.
"Maaf, tolong anda keluar dulu." Seorang dokter yang baru saja tiba meminta Sasori menunggu di luar.
Dengan perasaan cemas Sasori berdiri di luar, berharap wanita di dalam tidak apa-apa. Karena kalau sampai terjadi apa-apa, lengkaplah sudah dosanya pada Hinata.
Drrrt… Drrtt…!
Disaat ia sedang panik, tiba-tiba ponselnya bergetar. Menyadari ada panggilan masuk, Sasori segera merogoh saku celananya dan melihat ada satu pesan masuk dari Sakura.
To : Sasori
Sasori-nii, kau di mana? Aku dan Sasuke sudah menunggumu.
'Astaga, aku sampai lupa….'
Sasori menepuk keningnya menyadari kalau Sakura dan Sasuke masih ada di restoran tadi.
To : Saku-chan
Kau dan Sasuke pulang saja duluan. Tiba-tiba aku ada urusan. Biarkan Sasuke yang menyetir.
Sasori tersenyum lega saat sang adik tidak mempertanyakan di mana dia sekarang, ada urusan apa dan kenapa pergi tiba-tiba tanpa berpamitan. Intinya Sakura hanya membalas 'oke' setelah mendapat penjelasan singkat tadi.
Sasori memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana dan tak berapa lama dokter yang memeriksa Hinata keluar ruangan dengan wajah murung.
"Dokter, bagaimana keadaan Hinata…? A-apakah dia baik-baik saja?"
"Maaf, tapi tampaknya kami terlambat untuk menyelamatkan nyawanya…."
"Ma-maksudmu apa?"
Jantung Sasori semakin berdegup tak karuan. Ia benar-benar takut sekali.
"Kami tak bisa menyelamatkan bayi dalam kandungannya…, maafkan kami…," ucap sang dokter penuh penyesalan.
"Jadi…, aku keguguran….?"
"Hinata…!"
Sasori terkejut saat melihat wanita itu sudah berdiri di ambang pintu. Ia terlihat amat terpukul saat mengetahui kalau baru saja ia telah kehilangan bayinya.
TBC
Untuk berjaga-jaga kami memberi warning keras di atas untuk kemungkinan adanya satu death chara (tapi hal ini bisa saja tidak terjadi. Kami sudah menulis dengan capslock plus bold mengenai onesided love, jadi jangan protes.
