Disclaimer : Masashi Kishimoto
Title : Masked Bitch
Main cast : Sakura/Sasuke/Hinata
Rate : T ++
Genre : Drama/Romance/Psychology
WARNING KERAS : SASUSAKU ONE SIDED
.
.
Chapter 5
Hinata nyaris saja tak mampu menahan berat tubuhnya saat mendengar pernyataan dokter tersebut. Hinata sama sekali tidak pernah menduga kalau ternyata ia sedang mengandung.
"Apa kau sudah puas sekarang, hah…? APA KAU SUDAH PUAS!?"
Hinata histeris tiba-tiba. Ia berteriak ke arah Sasori yang hanya bisa terdiam seolah menerima semua kesalahannya bulat-bulat. Ia bahkan tidak peduli disaat wanita itu mulai memukul dan menyertainya dengan kata-kata kasar.
"Kenapa kau sama sekali tidak bicara, hah!? Bukankah tadi kau menginginkan aku pergi?" Hinata menatap laki-laki itu dengan sengit. "Baik Sasori, aku akan pergi menjauhi Sasuke agar kalian PUAS!"
Hinata berbalik dan berjalan pergi meskipun langkahnya masih terhuyung akibat rasa nyeri yang terasa diperutnya. Sasori mencoba untuk mengejar. Jujur ia khawatir terjadi apa-apa pada wanita itu di jalan.
"Jangan sentuh aku!" Begitu Sasori mencoba untuk memapah wanita itu berjalan, secepat itu juga tangan Hinata menepisnya.
Sasori mundur, tak berani mendekati wanita yang sedang hancur itu. Berkali-kali dalam hati ia meminta maaf, namun belum berani ia katakan secara langsung.
.
.
Kediaman Haruno
Sementara itu Sakura dan sasuke yang baru saja tiba di rumah kembali bertengkar karena Sasuke bersikeras untuk pergi dan Sakura mencoba untuk mencegahnya.
"Apa tidak bisa sehari saja bagimu untuk diam di rumah, Sasuke!?" Sakura berteriak dengan napas yang menderu. Dadanya semakin terasa sakit saat tahu hendak pergi kemana sebenarnya Sasuke.
"Kau tidak bisa memaksaku untuk tetap tinggal di sini," balas Sasuke datar, "sekarang menyingkir dari pintu," ucapnya sambil menahan emosi. Sebisa mungkin laki-laki itu menahan diri agar tidak melakukan tindakan kasar pada Sakura.
"Tidak! Aku tidak akan bergerak sedikit pun dari sini! Kau mau pergi ke tempat wanita itu 'kan!?" Sakura menggelengkan kepalanya sambil merentangkan kedua tangannya. Mencegah agar Sasuke tidak bisa keluar dari rumah.
"Kalau iya, kenapa?" Sasuke menatap Sakura dengan sengit, dan pernyataannya itu seolah ingin menantang Sakura.
"Kau…, berani sekali kau bicara seperti itu!?" Sakura yang tersulut cemburu akhirnya terbawa emosi. Tanpa disadari ia membentak dan memarahi pria yang ia cintai.
"Katakan…, katakan padaku apa yang dimiliki wanita itu dan yang tidak kumiliki sehingga kau tega berbuat seperti ini padaku? Istrimu sendiri…?" Setelah puas memaki dan berteriak, kini wanita itu memohon dengan wajah memelas. Sakura sudah terlihat begitu putus asa.
"Kau mau tahu, Sakura?"
Sakura mengangguk penuh harap. Ia tidak peduli kalau saat ini Sasuke sedang merendahkannya. Apapun akan dia lakukan asal hal tersebut dapat mempertahankan keutuhan rumah-tangganya.
"Itu karena aku mencintainya," jawab Sasuke dengan tegas.
Tubuh Sakura seketika lunglai setelah mendengar pengakuan yang menyayat hatinya itu.
"Sekarang biarkan aku pergi." Sasuke mendorong tubuh Sakura ke samping.
Tak seperti biasanya. Kali ini Sakura hanya diam tanpa melakukan tindakan apapun untuk mencegah Sasuke, agar laki-laki itu tidak pergi dari rumah. Wanita itu membiarkan Sasuke berjalan melewatinya begitu saja.
Tak berapa lama sepeninggalan Sasuke, Sasori tiba di rumah. Ia sangat terkejut ketika melihat adiknya duduk di ambang pintu dengan wajah pucat dan lemas. Tanpa berpikir dua kali ia segera berlari menghampiri.
"Sakura!? Ada apa denganmu? Kenapa kau duduk di sini? Mana Sasuke?" Sasori mengguncang-guncangkan tubuh Sakura yang terdiam dengan tatapan kosong sambil memberondongnya dengan pertanyaan.
"Sasori-nii…, katakan padaku…, kenapa cinta itu begitu sakit rasanya…."
"Sakura…."
Sasori benar-benar tidak tega melihat keadaan adiknya untuk sekarang ini. Tapi ia sendiri juga tidak mampu berbuat banyak. Rasanya ia tidak mungkin lagi meminta Hinata untuk mengalah dan pergi dari Sasuke.
"Kenapa? Padahal aku sudah sangat berusaha dan mencintai Sasuke melebih apapun di dunia ini…, kenapa dia mengkhianatiku...?" Air mata mengalir deras membahasi kedua pipi wanita itu.
"Sakura, kumohon jangan begini…." Sasori yang tak tahan melihat penderitaan adiknya segera meraih Sakura ke dalam dekapannya erat.
"Kenapa…? Kenapa…?"
Sakura terus mengulang kata-kata dan melontarkan pertanyaan yang sama tanpa bergeming sedikit pun.
.
.
Apartemen Hyuuga
Di apartemen wanita keturunan Hyuuga itu tampak sedang membereskan semua barang-barangnya sambil meratapi kepergian calon anak yang baru saja diketahuinya. Ia benar-benar menyesal berada di Konoha. Ia menyesal harus bertemu dengan Sakura dan menerima ajakannya. Seandainya waktu bisa diubah, ia ingin memilih untuk tetap berdiam diri kalau akibatnya bisa sefatal ini.
"Sasuke…," ucapnya dengan perasaan getir saat mengambil satu bingkai foto di mana dirinya dan Sasuke sedang berdiri berdua mengenakan baju pengantin. Di foto itu mereka tampak bahagia.
"Aku tidak menyesal pernah bertemu dan jatuh cinta padamu…." Segurat senyum tpis membingkai paras cantiknya. Ia menatap sendu pada wajah pria yang mendampinginya saat itu.
Tes… Tes… Tes…!
Tanpa terasa bulir-bulir air mata wanita itu berjatuhan membasahi foto pernikahan tersebut.
"Maafkan aku telah gagal melindungi calon anak kita..." Wanita itu kemudian terduduk di atas ranjangnya dengan rasa duka yang teramat dalam.
"Maafkan aku…, uwaaaaahhh…, anakku…, anakku…!"
Hinata tak bisa lagi memendam semua rasa sedih dan amarahnya yang sudah bercampur-aduk. Ia menangis sekeras yang ia bisa untuk meluapkan segala keluh-kesah yang selama ini tak bisa ia tampakkan ke permukaan.
.
.
Beberapa saat kemudian setelah Hinata mampu menenangkan dirinya, ia beranjak dari tempat tidur, hendak pergi keluar. Akan tetapi langkahnya terhenti ketika Sasuke tiba-tiba datang, merangsek masuk ke kamar dan segera memeluknya.
"Kumohon jangan pergi, Hinata!" Ucap laki-laki itu yang mendekap tubuh Hinata erat.
"Maaf, tapi aku sudah memutuskannya…." Hinata melepaskan pelukan Sasuke dengan perlahan.
"Tidak, kau tidak boleh pergi. Katakan padaku kalau kau akan tetap di sini, Hinata!" Sasuke mencengkram kedua bahu Hinata. Memaksa wanita itu untuk menatapnya.
"Aku sudah memesan tiket pesawat menuju Sunagakure. Malam nanti aku akan pergi ke bandara," balas Hinata tanpa berani melihat sepasang onyx yang sedang menatap dalam ke arah dirinya.
"Jadi…, kau sungguh-sungguh akan pergi…?" Hinata mengangguk kecil.
.
.
Malamnya, Kediaman Haruno
Sasuke termenung di ruang tamu dengan tatapan kosong. Dia sama sekali tak menyadari kalau sejak tadi Sakura mengamati.
"Memikirkan dia lagi?" Sakura berkata sinis dengan tatapan tidak suka. "Mau sampai kapan kau memikirkan perempuan jalang itu?" Melihat Sasuke tak meresponnya, Sakura mulai naik pitam. "Seharusnya yang kau pikirkan adalah aku dan calon anak kita! Bukan wanita murahan itu!"
"DIAM!"
Dahi laki-laki itu berkedut. Rahangnya mengeras. Tangannya pun terkepal. Dadanya bergemuruh saat mendengar cacian demi cacian dilontarkan Sakura untuk Hinata. Untuk sesaat Sakura menanti laki-laki di hadapannya ini untuk bicaa. Akan tetapi tak satu patah kata pun keluar dari bibir laki-laki itu. Satu-satunya hal yang dia lakukan adalah beranjak dari sofa dan berjalan keluar rumah. Sakura mengikutinya dengan perasaan kesal. Sesaat tadi Sasuke sempat melihat cemas ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 19.30.
"Halo, perusahaan Konoha Air land?"
"Ya, Konoha air land. Ada yang bisa kami bantu Tuan?"
"Tolong batalkan semua pesawat yang malam ini akan terbang ke Sunagakure."
"A-apa?!" Terdengar jelas kalau sang penerima telepon di sebrang sana sangat terkejut setelah mendengar permintaan gila Sasuke barusan.
Sakura yang mendengar hal tersebut juga ikut kaget.
"Apa perlu kuulangi? Batalkan pesawat yang akan terbang ke Sunagakure malam ini," balas Sasuke mengulangi kalimatnya lagi dengan bosan.
"Ma-maaf sekali, tapi kami tidak bisa melakukannya. Semua tiket yang dipesan sudah dibayar tunai dan kami tak ingin mengalami kerugian ataupun kehilangan keper—"
"Aku akan membayar semua kerugian tersebut sekaligus bonus," potong Sasuke dengan cepat.
"A-apa!?"
"Apa kau tuli? Aku akan mengganti semua kerugiannya. Tinggal kirim orang dari perusahaan kalian untuk datang ke perusahaan Uchiha."
"A-ah, jadi anda Tuan Uchiha? Ba-baiklah saya mengerti. Akan saya lakukan." Tampaknya orang di sebrang mulai mengerti dengan siapa ia bicara.
'Maaf kalau aku terpaksa melakukan semua ini.'
Sasuke menggenggam erat ponsel miliknya sambil mendesah pelan. Jujur, sebenarnya ia kuang menyukai cara picik dengan menggunakan kekuasaan serta kekayaan Uchiha yang sudah tersohor di Konoha. Tapi dia tak punya pilhan. Bagaimana mungkin dia bisa membiarkan wanitanya pergi.
"Apa-apaan kau ini!" Sakura berterak kesal. Ia menyambar ponsel yang masih dipegang Sasuke dengan gemas. "Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan, hah!?"
"Itu bukan urusanmu!" Balas Sasuke dengan ketus. Ia kembali mengambil paksa ponsel miliknya dan berjalan ke dalam rumah.
"Bukan urusanku katamu? Bukan urusanku!? Tapi aku adalah istrimu!" Sakura berjalan mendahului sasuke dan berdiri di hadapannya sambil menegaskan statusnya.
"Hahaha…, istriku?" Sasuke terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dengarkan aku baik-baik, Haruno Sakura. Kau itu bukan—"
"Hentikan Sasuke!"
Sasori tiba-tiba menengahi pertengkaran sengit di antara Sakura dan Sasuke, mencegah Sasuke agar tidak bicara banyak dan malah mengatakan sesuatu yang seharusnya belum diketahui.
"Bukan apa…?" Tanya Sakura. Sepasang manik emerald itu memicing. Menatap dengan rasa penasaran.
"Lebih baik kau tanya pada Kakakmu sendiri." Sasuke dengan sengit menunjuk Sasori, "Dan kuharap dia mau bicara jujur kalau ingn menghentikan semua kegilaan ini!"
Sasuke berjalan melewati Haruno bersaudara dengan langkah kesal. Dadanya sudah bergemuruh, dan harus segera ia hentikan sebelum emosinya meletup keluar.
"Sebenarnya apa yang dimaksudkan Sasuke? Aku bukan apa?" Sakura menatap Sasori penuh tanya.
"Jangan kau ambil hati semua kata-katanya Sakura…," Sasori dengan senyum tipis menepuk kepala Sakura. "Pergilah tidur dan lupakan pertengkaran hari ini dengan Sasuke…."
.
.
.
Di tempat lain, Hinata yang sedang dalam perjalanan menuju bandara malah mendapatkan telepon dari pihak Konoha air land kalau layanan penerbangan menuju Sunagakure malam itu dibatalkan.
"Aneh…, kenapa mendadak sekali…," gumamnya pelan.
Akhirnya Hinata terpaksa memutar arah mobilnya kembali menuju ke apartemen dengan perasaan agak kecewa, karena niatnya untk meninggalkan Konoha harus batal.
TBC
Tersisa 1-2 chapter lagi akan tamat. Bagi yang masih belum punya clue mengenai 'apa yang terjadi' pada cerita ini silahkan PM. Kami sudah memberi warning keras di atas akan adanya one sided love.
Bukankah warning kami sudah jelas? yang egois di sini kami atau kalian? Kalian akan terus memaki sebelum TAG NAME itu dihapus... Menurut kami itu aneh. FFN ini bukan punya kalian. Baiklah, contoh saja Tangle heart, dan I'll be waiting for you milik Zoccshan. Mereka juga menggunakan tag name Sakura di pair SasuHina yang mereka buat.
Kami malas berdebat dengan sekelompok fans girl.
Kami menulis sebagai kapasitas kami sebagai fans, dan kami menyukai tokoh tersebut. Toh, kami juga tidak dibayar juga oleh kalian untuk membuat suatu cerita yang menyenangkan salah satu pihak, apalagi harus memaksa pair tersebut harus berakhir dengan siapa. Kami menulis cerita karena ya kami suka, kebetulan punya suatu alur cerita, dan kebetulan berpikir untuk membuat ceirta mengenai 3 tokoh ini. Ada yang salah dengan itu?
Lalu kalian yang mengaku sebagai fans SAKURA (apalagi yang sudah bertndak barbar seperti tak pernah sekolah), well, apa cara kalian menunjukkan identitas diri kalian sebagai fans itu hanya memaki-maki author yang menulis cerita dengan nama Sasuke, Sakura dan Hinata? Gak login pula.
Kalian tentu bukan sekumpulan masochist kan? Yang jelas sudah dikasih warning keras tapi nekad sengaja nge-flame hanya karena tag name (once again, kami tak bisa mencerna kelakuan kalian ini di otak kami. bagi kami, itu hanya tag name, gak lebih, gak berarti. Mash lebh berarti emak dan bapak gue kali). Skap kalian seperti MENUHANKAN si tokoh...
Membahas soal perasaan. Kalian sendiri toh ngebacod dari awal cerita ini muncul juga gak pake perasaan 'kan, gak peduli kami ini emang bener-bener gak tau soal kubu2an dan newcomers di sini. Asal bacod aja 'kan. (Kami masih beruntung ada yang memberitahu soal tag name, dan itu dari pihak Hnata-cent BUKAN dari kubu Sakura fans. Terlalu sibuk nge-flame?). Kalian membatasi hak kami seorang penulis. Kalian minta dipahami? kami sudah melakukannya dengan memberi warning keras dan memberi tanda kurung pada pair di cerita ini. Itu adalah bentuk pengertian kami, dan berharap kalian gak usah repot-repot baca ataupun jadi sampah anon di kotak.
Untuk saat ini kami memang menulis untuk SasuHina, tapi di lain waktu bisa saja kami menulis untuk yang lain, karena author di sini punya kesukaan yang beragam dan mau kami mix. Thx for supportnya.
