Disclaimer : Masashi Kishimoto
Title : Masked Bitch
Main cast : Sakura/Sasuke/Hinata
Rate : T ++
Genre : Drama/Romance/Psychology
WARNING KERAS : SASUSAKU ONE SIDED/KEMUNGKINAN DEATH CHARA (Jangan lupa baca Genres, ok).
.
.
Chapter 6
Keesokan paginya Sasuke sudah mendapat telepon dari sang ayah, Fugaku Uchiha, yang merasa marah akibat perbuatan putranya.
"Sasuke, apa-apaan ini!? Kenapa kau bisa berhutang ratusan juta begini!?" Fugaku langsung mengomel saat teleponnya baru diangkat oleh Sasuke.
"Ayah, maafkan aku. Tapi aku terpaksa melakukan ini…," balas Sasuke dengan tidak enak hati karena telah melibatkan nama perusahaan keluarganya ke dalam masalah pribadinya.
"Sebenarnya ada apa denganmu? Apa kau tahu Ibumu sampai pingsan mendengar hal ini? Dia mengira kau terlibat hutang oleh pihak Bank!" Fugaku mencoba untuk bersikap lunak.
"Semua ini kulakukan untuk mempertahankan istriku…." Sasuke menjawab dengan jujur.
"Istrimu yang mana, Sasuke?" Balas Fugaku sedikit menyindir. Ya, beliau memang sudah mengetahui apa yang sebenarnya sedang Sasuke lakukan saat ini. Meski dia tidak menyetujui tapi ia memahami kenapa anaknya berbuat hal semacam ini.
"Apa maksud Ayah? Istriku tentu hanya satu, dan dia adalah Hinata." Sasuke sedikit emosi ketika disindir seperti itu.
"Jadi kau melakukan semua ini demi Hinata?"
"Iya. Aku tidak peduli kalau nantinya aku harus bekerja seumur hidup di perusahaanmu, tapi tolong kali ini bantu aku. Aku tak bisa membiarkan Hinata pergi dan aku harus menyusulnya sekarang…"
"Ayah mengerti. Cepatlah susul dia. Aku juga menginginkan menantuku yang asli."
"Terima kasih Ayah…."
Semburat senyum tipis terukir pada paras maskulin pria itu. Dia bersyukur kali ini ayahnya dapat memahami keinginannya. Dalam hati ia bersumpah akan menyenangkan sang ayah kalau semua urusannya bisa berjalan dengan lancar.
Sasuke memasukkan ponsel ke dalam saku jasnya dan bersiap untuk pergi menemui Hinata. Ketika pintu ruangan perpustakaan terbuka (Note : selama ini Sasuke tinggal sama Sakura tapi tidur diruangan perpustakaan keluarga), ia dapat melihat sosok Sakura sedang berdiri di hadapannya dengan wajah marah sambil berkacak-pinggang.
"Kau pasti mau pergi ke tempat perempuan itu 'kan!?"
"Kalau kau sudah tahu, untuk apa kau tanyakan lagi."
Sasuke dengan cuek berjalan melewati Sakura. Pikirannya saat ini hanya fokus kepada Hinata.
"Kau mau menemui Hinata 'kan."
Sasuke terkejut saat mendengar nama wanitanya disebut oleh Sakura. Sontak laki-laki itu memutar tubuhnya ke belakang dan mendapati Sakura sedang menyeringai.
"Kenapa? Kau kaget aku sudah tahu?" Sakura menatap angkuh.
"Bagus kalau kau sudah tahu. Itu memudahkanku untuk meninggalkanmu," balas Sasuke dengan dingin. Ia sudah tidak peduli lagi, Sakura mau tahu atau tidak, karena hal itu sekarang sudah tidak penting. Dia hanya heran darimana Sakura bisa mengetahuinya.
Sasuke tetap melangkahkan kakinya menuju keluar pintu. Anehnya Sakura sama sekali tidak mencegah kepergiannya. Tapi ia tidak peduli dan tidak mau tahu.
'Tidak akan semudah itu Sasuke. Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja!' Sakura bersumpah dalam hati.
Setelah beberapa saat Sasuke pergi, Sakura bergegas pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian. Wanita itu memakai pakaian seadanya yang ia temukan dan menyisir sedikit rambutnya yang berantakan. Setelah itu ia berjalan menuju dapur. Entah apa yang dicarinya di dapur karena suara berisiknya sampai terdengar ke kamar Sasori, membuat pemuda itu terbangun.
"Sakura, kau mau pergi kemana?" Tanya Sasori saat berpapasan dengan Sakura yang baru saja keluar dari dapur.
"Aku pergi demi keadilan anak yang kukandung…."
Sasori mengernyit. Ia tak mengerti apa yang dimaksud dari ucapan Sakura barusan. Mencari keadilan? Seketika itu bulu roma Sasori meremang saat terlintas wajah Hinata dipikirannya.
"Sasori-nii…, terima kasih," ucap Sakura tiba-tiba. "Setelah ini aku tidak tahu apakah aku masih dapat kembali atau tidak, maka dari itu aku ingin berterimakasih yang sebesar-besarnya padamu karena selalu mendukungku selama ini." Sakura membungkuk 90 derajat di hadapan Sasori, "selamat tinggal." Wanita itu kemudian bergegas pergi meninggalkan rumah.
'Apa yang sebenarnya mau kau lakukan Sakura….' Sasori menjadi resah melihat tingkah aneh sang adik. Hatinya seperti mendapat firasat buruk.
Ia bergegas berlari ke ruangan dapur untuk memastikan sesuatu yang sebenarnya tak ingin dibayangkannya.
Sasori mendapati keadaan dapur yang bisa dikatakan cukup berantakan, dengan segala macam sendok dan garpu yang berserakan di mana-mana. Pemuda itu mendekati peralatan dapur yang tak tertata tersebut dan mengamatinya dengan seksama sampai dia menyadari ada satu benda yang hilang dari sana.
'Ti…, tidak…'
Tubuh Sasori menjadi lemas saat mengetahui pisau dapur milik mereka dengan ukuran cukup besar menghilang dari tempat yang seharusnya.
"Tidak, ini tidak mungkin…."
Sasori berusaha menepis kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Ia mencari-cari benda tersebut ke seluruh penjuru dapur, berharap apa yang diduganya itu salah dan dia terlalu berburuk-sangka. Tapi sayangnya benda itu memang benar-benar hilang. Tampaknya Sakura tadi keluar membawa benda tersebut.
'Sakura, kumohon jangan bertindak bodoh…!'
Sasori berlari dari dapur menuju ruangan kamarnya. Di dalam ia segera menyambar ponsel merah miliknya dan segera menekan nomor Ino.
"Halo, Yamanaka Ino di sini?" Sasori beruntung karena yang mengangkat telepon Ino sendiri.
"Ino, ini aku Sasori."
"Eh? Sasori? Ada apa, ya. Tumben sekali…." Ino jadi membatin curiga karena tak biasa-biasanya Sasori menghubungi kalau bukan karena hal penting dan hal tersebut pasti berkaitan dengan Sakura.
"Aku butuh bantuanmu dan Sai. Tolong sekarang pergi ke tempat Hinata," jawab Sasori dengan suara yang bergetar.
"Ke tempat Hinata? Memangnya ada yang terjadi di sana?" tanya Ino dengan batin tak enak.
"Tolong cegah Sakura agar tidak berbuat nekad…."
"Memangnya Sakura mau melakukan apa? Dan, apa yang mau kau lakukan?"
"Pokoknya lakukan saja!" Sasori membentak Ino, membuat wanita itu terkesikap karena kaget dan takut. "Aku akan menyusul kalian nanti karena ada hal lain yang ingin kulakukan. Perglah sekarang In!"
"E-eh…."
Sasori sudah keburu memutuskan kontak sebelum Ino bertanya-tanya lagi.
"Ada apa, Ino?" Tanya Sai saat melihat wajah sang istri teramat kebingungan.
"Aku tidak tahu…, tapi kita harus segera pergi ke tempat Hinata sebelum terlambat…," balas Ino sambil mencoba untuk menerka sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Terdengar dari suaranya tadi Sasori sangat panik.
"Sebelum terlambat?"
"Ah, sudahlah! Pokoknya kita harus segera pergi sekarang. Ayo, Sai!" Ino menarik tangan Sai untuk bergegas.
.
.
.
Apartemen Hyuuga
Hinata dan Sasuke saat ini tengah terlibat dalam suatu perdebatan hebat. Sasuke berusaha mati-matian menahan wanita itu agar membatalkan niatnya untuk meninggalkan Konoha dan bercerai darinya.
"Kau tidak bisa pergi dan meninggalkanku sepeti ini, Hinata!" Laki-laki itu menarik paksa tali tas yang sedang dibawa Hinata.
"Lepas, Sasuke! Biarkan aku pergi!" Hinata mencoba menarik tasnya kembali, tapi tentu saja dia kalah kuat dibandingkan tenaga Sasuke. Hinata pasrah dan akhirnya membiarkan tas tersebut jatuh ke lantai.
Hinata tetap memutuskan untuk melangkah pergi, tapi lagi-lagi Sasuke menghentikannya.
"Bunuh aku dulu kalau kau mau pergi!" Ucap Sasuke dengan tegas mebuat Hinata terhenyak.
"Tidak 'kah kau mengerti bagaimana rasanya dihina dan dituduh oleh semua pihak, Sasuke…?" Hinata menoleh dan menatap sasuke dengan tatapan yang begitu hancur. Dapat terlihat jelas wanita itu sedang terguncang hebat.
"Hinata…." Sasuke nyaris tidak sanggup untuk melihat tatapan dari wanita yang dicintainya yang sarat akan kesedihan.
"Mereka semua menghakimiku…, menuduhku sebagai wanita jalang dan wanita perusak yang tak pantas hidup…, wanita tidak tahu malu, dan tidak ada satu pun dari mereka yang mau tahu!" Tanpa bisa ditahan, linangan air mata itu mengalir begitu saja dari manik-manik mata Hinata.
"Mereka hanya bisa men-judge apa yang mereka tahu dari permukaan saja tanpa mau mengetahui lebih dalam lagi, apa yang sebenarnya terjadi. Iya 'kan!?"
.
.
Sementara itu Sakura sudah tiba di area parkir. Wanita itu sedang mencengkram kuat-kuat sebuah benda berbahaya yang akan digunakannya nanti.
"Hinata Hyuuga…, aku tidak akan membiarkanmu merebut suamiku!" Ucapnya dengan geram.
Untuk sesaat wanita itu memejamkan kedua matanya. Mengingat kembali masa-masa yang ia alami bersama dengan dua orang yang dipercayainya itu.
"Oh ya, Sakura. Kenalkan, dia adalah Sasuke Uchiha. Anak dari perusahaan Uchiha yang terkenal itu loh!"
"Oh, ha-halo, Sasuke."
Itu adalah pertama kalinya ia merasakan jantungnya berdegup saat bertemu dengan seorang pria. Untuk kali pertamanya ia juga merasakan jatuh cinta.
"Hinata, apa kau tahu? Aku rasa, aku jatuh cinta pada Sasuke."
Itulah saat di mana ia cerita mengenai perasaannya soal Sasuke kepada sang sahabat. Saat itu Hinata tampak terkejut.
"Coba dengar. Aku dan Sasuke sudah jadian!"
Kebahagiaan Sakura yang meluap mengenai hari jadinya kepada Hinata. Ia tak menyangka kalau sebenarnya sang sahabat selama ini iri padanya.
Sakura ingat pada saat pesta kembang api di kampus, dia, Hinata dan Sasuke memutuskan untuk menghabiskan malam bersama dan tanpa sengaja memergoki keduanya saling beradu tatap dengan mesra. Sekarang ia mengerti. Seharusnya saat itu ia sudah bisa mencium bau pengkhianatan dari mereka berdua.
Juga saat mereka menyelesaikan tugas bersama dan meminta bantuan pada Sasuke. Sakura sempat memergoki Sasuke berbisik dengan mesra kepada Hinata disaat Sakura sedang mengambil minuman. Tapi, lagi-lagi ia menepis semua dan berpikir kalau semua akan baik-baik saja.
Ditambah ia pernah menangkap Sasori sedang berbicara diam-diam kepada Sasuke dan Hinata. Sampai sekarang Sakura tidak tahu apa yang sebenarnya saat itu mereka bahas. Karena mimik muka ketiganya sangat serius.
Setelah mengingat-ingat memori-memori lama tersebut, Sakura membuka kembali matanya pelan-pelan.
"Akan aku selesaikan saat ini juga," ucapnya mantap dan bergegas keluar dari mobil.
.
.
.
"Maafkan aku Hinata. Aku tahu penderitaanmu sangat berat. Karena itu aku ingin mengakhiri semua ini…." Sasuke mendekap wanita itu erat, membiarkannya menangis di dalam peluknya.
Disaat keduanya sedang berpelukan sakura tiba-tiba saja masuk dan langsung memaki kedua pasangan itu dengan penuh emosi.
"BAGUS SEKALI KALIAN! DASAR PASANGAN TIDAK TAHU MALU!" Umpatnya dengan amarah yang meledak-ledak.
"Sakura! Mau apa kau dengan pisau itu!?" Sasuke terfokus pada benda tajam yang sedang digenggam wanita itu. Ia khawatir Sakura akan melakukan tindakan nekad.
"Aku akan mengakhiri semua ini dengan caraku sendiri! Mundur!" Sakura mengacungkan pisau yang ia pegang kepada Sasuke dan Hinata. Spontan kedua orang itu mengambil langkah ke belakang, mejnaga jarak dari Sakura yang sedang kalap.
Sakura tiba-tiba menutup pintu apartemen, mengunci pintu tersebut dan mengambilnya.
"Sakura, apa yang mau kau lakukan!?" Melihat tindakan janggal dari wanita itu membuat Sasuke was-was.
"Apa yang mau kulakukan?' Wanita itu menyeringai aneh. "AKU AKAN MEMPERSATUKAN KALIAN DI ALAM BAKA!" Teriaknya sambil berlari menyerang ke arah Sasuke dan Hinata.
Sementara itu Ino dan Sai yang baru saja tiba bergegas turun dari mobil sambl membawa beberapa barang.
"Ino, sebenarnya untuk apa kau membawa barang-barang itu?" Tanya Sai tak mengerti kenapa sang istri tadi sempat ngotot untuk membawa beberapa album foto juga beberapa benda yang menurutnya tidak berguna.
"Entahlah…, aku hanya merasa kalau benda-benda ini pasti akan tepakai…," balas Ino sambil berlari menuju ke gedung apartemen. Ia sendiri juga tidak tahu untuk apa benda-benda tersebut karena ia hanya mengikuti instingnya saja.
.
.
Sementara itu di dalam apartemen milik Hinata sedang terjadi pergulatan antara Sasuke dan Sakura. Sasuke yang sedang berusaha merebut pisau dari Sakura, sementara Sakura mencoba untuk melukai Hinata.
"Lepaskan aku Sasuke! Biarkan aku memberi pelajaran pada wanita sialan ini karena telah berani merusak rumah-tangga sahabatnya sendiri! Dasar tidak tahu malu!"
Kedua manik emerald itu menatap tajam penuh kebencian pada Hinata. Sementara yang ditatap berusaha berlindung agar tak terkena serangan dari Sakura. Wanita itu benar-benar sudah lepas kendali.
BRUKH!
Sasuke berhasil mendorong Sakura hingga terjatuh dan merebut pisau itu dari genggaman tangannya.
"Jangan berani-beraninya kau menghina Hinata!" Hardiknya dengan keras. "Perlu kau ketahui kalau kau dan aku sebenarnya tidak pernah menikah dan Hinata itu adalah istriku yang sesungguhnya!" Ungkapnya dengan perasaan yang berkecamuk luar biasa. Baginya tindakan Sakura sudah kelewatan, dan cukup baginya melihat Hinata menderita selama ini.
"Sasuke!" Hinata tampaknya terkejut kalau akhirnya Sasuke berterus-terang.
"Apa kau bilang? Beraninya kau tidak mengakui istrimu sendiri, hah!?" Sakura malah semakin kalap. Ia berdiri dan mencoba untuk menyerang Hinata lagi. Akan tetapi, Sasuke sudah berdiri di depan menghalangi Sakura untuk menjangkau Hinata.
"Sudah kukatakan, tidak pernah ada pernikahan di antara kita," ujar Sasuke kembali menegaskan. "Dan, kau tidak pernah hamil. Karena selama ini kita tinggal di ruangan yang terpisah!"
"Tidak! Kau bohong! Ini tidak mungkin!" Sakura tampaknya shock dengan pernyataan Sasuke barusan. "Aku yakin kita sudah menikah enam bulan lalu! Kita bahkan merasakan kebahagiaan dimasa-masa pacaran kuliah dulu! Semua terasa begitu indah sebelum wanita ini muncul!" Sakura menunjuk Hinata dengan geram.
"Baik. Aku akan membuktikannya agar kau percaya!"
Sasuke sendiri sudah merasa begitu gemas. Sakura seperti ingin menutup semua inderanya demi mendapatkan status istri dari seorang Uchiha, meski pada kenyataannya, Hinatalah wanita yang telah ia nikahi.
Laki-laki itu menarik Hinata ke sisinya. Keduanya berjalan menuju ke arah kamar. Di dalam ruangan itu Sasuke mengambil bingkai foto dirinya dan Hinata yang sedang berpose bahagia karena baru saja menikah. Ia membawa foto tersebut keluar.
"Coba kau lihat ini!" Sasuke menyodorkan foto tersebut kepada Sakura agar wanita itu sadar dan melihat kebenarannya.
"Bohong…, ini bohong…! Kalian pasti telah merekayasanya" Sakura tanpa aba-aba melempar bingkai foto tersebut ke arah Hinata yang untungnya dengan sigap segera ditarkdirespon oleh Sasuke. Ia menarik tubuh Hinata ke sisinya dengan cepat.
PRANGGG!
Suara pecahan dari bingkai foto tersebut terdengar sampai ke depan membuat Ino dan Sai yang baru saja tiba langsung panik.
"BAGAIMANA MUNGKIN KAU BISA MENIKAH DENGAN WANITA PENGKHIANAT INI!?"
"Sai, kau dengar itu 'kan?" Sai mengangguk pelan. "Aku takut terjadi sesuatu di dalam," ucapnya sambil meremas album foto yang ia bawa.
"Aku akan menghancurkan siapapun yang berani merusak kebahagiaanku, sekalipun dia sahabatu sendiri!"
Sakura mengambil sesuatu dari dalam tas yang dibawanya. Benda tajam yang ukuranya tidak begitu besar itu digenggamnya kuat-kuat. Kemudian dia berlari menuju ke arah Hinata yang terlepas dari penjagaan Sasuke.
"Hinata! Menyingkir dari sana!"
"Sasuke!"
Jleb…!
Benda tajam itu tertancap dalam….
Tes… Tes… Tes…!
Cairan merah berguguran ke lantai….
TBC
Note : Tersisa satu chapter sebelum benar-benar tamat. Termakasih supportnya kepada kami . Baik ataupun buruknya kami berterimakasih, dan kami mempunyai kesan tersendiri mengenai FFN dan para penghuninya. Really nice experiences.
