Disclaimer : Masashi Kishimoto

Title : Masked Bitch

Main cast : Sakura/Sasuke/Hinata

Rate : T ++

Genre : Drama/Romance/Psychology

WARNING : SASUSAKU ONE SIDED/DEATH CHARA

.

.

Chapter 7

Keadaan di dalam apartemen berubah menjadi mencekam saat tubuh Sasuke tebaring lemah di lantai.

"Sasuke!" Hinata segera menyambar tubuh suaminya yang terluka akibat terjangan pisau, memeluknya erat.

"Sasuke…." Sakura sendiri tampak terkejut dengan apa yang telah diperbuatnya. "Maafkan aku…, a-aku tidak bermaksud untuk melukaimu…," ucapnya sambil menundukkan kepala.

"Sasuke, kumohon…." Hinata menangis deras.

"SEMUA INI GARA-GARA ULAHMU!" Sakura tiba-tiba saja bergerak, hendak menyerang Hinata yang masih terduduk memeluk Sasuke.

"He-hentikan, Sakura…!" Dengan napas tersenggal-senggal laki-laki itu berusaha menghentikan Sakura. "Jangan kau co-coba melukai Hinata…!" Sambungnya dengan suara yang terputus-putus.

"Kenapa…, kenapa kau masih saja membelanya!"

Sakura mengeratkan pisau yang ia pegang kuat-kuat. Hatinya sakit saat meihat pria yang dicintainya malah membela wanita lain mati-matian. Dalam keadaan terluka seperti itu pun Sasuke masih melindungi Hinata. Hal itu membuat kedengkian di hati Sakura semakin bergejolak.

"Kau begitu mengkhawatirkannya. Baik, kalau begitu aku akan mengirimmu terlebih dahulu ke dunia sana!" Sakura yang merasa sakit hati akhirnya memutuskan untuk melukai Sasuke.

Hinata yang menyadari niat dari wanita itu dengan sigap berdiri dan menangkis serangan yang akan ditujukan kepada Sasuke.

"Tidak akan kubiarkan kau menyakiti Sasuke!" Ucapnya dengan sorot mata tajam.

"Kau…! Berani kau menantangku, Hinata!" Sakura terbakar amarah. Ia sama sekali tidak menduga kalau Hinata, si gadis lemah yang selalu diam dan menyendiri itu berani melawannya sekarang.

"Aku tidak mau kehilangan suamiku untuk yang kedua kalinya! Sudah cukup aku kehilangan bayiku!" Tutur Hinata tanpa sengaja mengungkapkan mengenai bayi yang sempat dikandungnya.

"Apa…!?" Bukan hanya Sakura, tapi Sasuke yang mendengar hal itu ikut terkejut.

"Ka-kau hamil, Hinata…?" Tanya Sasuke, mencoba untuk bergerak.

"Maafkan aku, Sasuke. Aku tidak cukup kuat untuk melindungi anak kita," balas Hinata sambil menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba untuk mengikhlaskan semua itu.

Dor Dor Dor Dor!

"SAKURA BUKA PINTUNYA! INI AKU, INO!"

Terdengar suara gedoran pintu dari arah luar, mengagetkan Sakura. Apalagi gedoran itu diriingi oleh teriakan Ino.

"SAKURA INI KAMI! TOLONG BUKA PINTUNYA!"

Tak lama Sai pun ikut memanggil Sakura.

"KALIAN BERDUA JANGAN IKUT CAMPUR!" Balas Sakura dari dalam.

"SAKURA JANGAN GEGABAH TOLONG DENGARKAN PENJELASAN KAMI DULU!" Ino berharap agar sahabatnya mau mendengarkannya terlebih dahulu. Ia takut dan cemas. Tak ingin nantinya Sakura masuk penjara, dan juga tak ingin Sasuke maupun Hinata terluka. Baginya mereka berdua sudah cukup menderita.

"AKU TAK MAU MENDENGAR PENJELASAN APAPUN! PERGI KALIAN!" Sakura mengusir keduanya.

"SAKURA, LEPASKAN SASUKE DAN HINATA! BIARKAN MEREKA BERDUA BERSATU!"

"ITU BENAR SAKURA! HINATA ADALAH ISTRI SASUKE YANG SESUNGGUHNYA. HARUSNYA KAU SADAR ITU!"

Ino dan Sai mencoba menenangkan Sakura dari luar. Berharap wanita itu segera menyadari semua kesalahan yang telah ia perbuat selama ini.

"TIDAK! AKU ADALAH ISTRI SASUKE! KALIAN BOHONG!" Sakura menutup telinga dengan kedua tangannya.

"SAKURA, KAMI SEMUA SAYANG PADAMU. BAHKAN HINATA JUGA MENYAYANGIMU!" Ino hampir menangis saat ia harus mengingat dirinya telah berbuat jahat kepada Hinata. Dalam hati ia sangat menyesal.

"AKU TIDAK MAU DENGAR!" Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba untuk tidak mendengar apa yang dikatakan oleh kedua temannya itu.

Sakura menjadi lengah dan kesempatan ini digunakan Hinata untuk mengambil celah. Ia mendorong tubuh Sakura dengan cukup keras. Kemudian Hinata berlari, mencoba untuk meraih pintu.

"Tak akan kubiarkan kau lari!" Sakura menarik pergelangan kaki Hinata dengan kasar.

BRUKH!

Hinata terjatuh ke lantai. Namun, meski demikian ia masih berusaha untuk melepaskan diri dari Sakura yang semakin menguatkan cengkramannya.

"Jangan coba-coba lari dariku, Hinata!"

"Lepaskan aku, Sakura!"

Hinata mencoba menarik kakinya dari tangan Sakura sambil terus berupaya untuk sampai menggapai pintu. Keadaan jadi semakin menegangkan saat Sakura hendak menusuk kaki Hinata dengan pisau.

"Jangan kau lakukan itu, Sakura!"

Kedua iris bulan Hinata membulat saat menyadari dirinya berada dalam bahaya. Sasuke yang masih terbaring mencoba untuk berdiri saat mendengar suara teriakan Hinata.

"Uwaaah!"

Sakura menghujamkan pisau tersebut ke betis Hinata dua kali.

"Kali ini akan kutancapkan benda ini ke jantungmu!"

Sakura sudah kesetanan saat melihat Hinata menjerit ia malah merasa puas. Wanita itu merayap ke atas tubuh Hinata dan mendudukinya perutnya.

"Jangan lakukan itu Sakura…!" Sasuke yang akhirnya dapat berdiri melihat pemandangan mengerikan itu. Jantungnya seakan berhenti melihat Hinata dalam bahaya. Ia berteriak dengan suara lemah, berharap Sakura tidak melaksanakan niatnya.

"UCAPKAN SELAMAT TINGGAL!"

Sakura mengangkat pisau di tangannya itu tinggi-tinggi ke udara sambil menyeringai. Hinata yang berada di bawah hanya bisa memejamkan matanya pasrah. Sementara Sasuke berusaha untuk menolong, meskipun tahu kalau ia pasti tidak tepat waktu.

Tiba-tiba pintu apartemen Hinata didobrak dari luar.

BRAKHH!

Pintu yang terkunci itu akhirnya terbuka. Lima orang petugas kepolisian Konha merangseng masuk sambil menodongkan senjata ke arah Sakura.

"Jatuhkan senjatamu dan angkat tangan!" Teriak komandan tersebut dengan nada memerintah.

Sakura yang terkejut tanpa sadar menjatuhkan pisau yang ia pegang. Wanita itu kemudian berdiri dan menatap polisi-polisi itu dengan bingung. Hinata segera menjauhkan diri dari Sakura.

"Apa kalian berdua tidak apa-apa?" Tanya salah seorang petugas saat melihat keadaan Sasuke dan juga Hinata.

"Hinata! Sasuke!" Sai dan Ino segera masuk menerobos untuk melihat kondisi keduanya.

"Hey, cepat panggilkan ambulan. Sepertinya mereka membutukan perawatan medis," ucap sang komandan pada salah satu anak buahnya yang segera dilaksanakan.

"Kalian memanggil polis-polisi ini untuk menangkapku, hah!?" Sakura menyalak pada Ino dan Sai.

"Bukan mereka, tapi aku…," ucap seseorang yang baru saja tiba dan segera masuk ke apartemen.

"Sa-Sasori-nii…? Tidak mungkin…, kenapa? Kenapa kau melakukan ini padaku!? Apa kau tidak lihat wanita itu sudah merebut Sasuke!?" Sakura menatap Sasori dengan pandangan tak percaya. Karena kakak yang selama ini selalu memberinya dukungan malah berbalik menusuknya dari belakang.

"Aku mohon sadarlah Sakura…, Sasuke milik Hinata…." Sasori menatap Sakura dengan penuh kesedihan. Ia tak menyangka kalau adiknya akan berubah jadi seperti ini.

"Apa yang diucapkan Sasori itu benar, Sakura," timpal Ino yang akhirnya berani untuk buka suara setelah semua ini selalu merahasiakannya dari sang sahabat. "Coba kau lihat ini" Ino mendekati Sakura dan memerlihatkan dua album foto kepada wanita itu.

"Perhatikan baik-baik. Kau pasti ingat sesuatu. Ini adalah foto saat kita semua masih di kampus dulu, dan ini album foto berisi foto pernikahan Sasuke dan Hinata."

Ino membuka lembar demi lembar album foto yang dibawanya kepada Sakura dengan harapan Sakura bisa menyadari semua kenyataan dan mengikhlaskan semuanya.

Sakura memerhatikan tiap-tiap foto pada halaman-halaman tersebut. Sekilas, satu-persatu bayangan-bayangannya itu muncul secara perlahan.

"Ini foto saat Hinata dan Sasuke menikah. Apa kau ingat?" Ino menunjuk pada selembar foto di mana Sasuke dan Hinata berdiri dengan senyum lebar diiringi semua teman-teman kampus. Semua ada, kecuali Sakura.

"Apa kau ingat? Sesaat setelah pesta berakhir kau mengamuk, berterak histeris lalu pingsan…." Ino menitikkan air mata saat harus mengenang kejadian itu. Sungguh ia tidak sanggup melihat keadaan Sakura yang frustasi. "Begitu sadar tiba-tba kau bercerita kalau hari itu kau sudah menikah dengan Sasuke. Kau terlihat bahagia dan tak ada yang berani mengusikmu…, kami takut…, kau kecewa…,"terang Ino merasa bersalah.

"Tapi semua yang kurasakan begitu nyata…." Meski sudah mendapat penjelasan sedemikian rupa, Sakura tetap tidak mempercayainya. Ia masih beranggapan kalau Sasuke adalah Suaminya dan dulu mereka berpacaran.

"Kau itu sakit Sakura…," ujar Sasori tiba-tiba. "Kau mengalami delusional. Kami sepakat untuk tidak mengatakannya padamu, karena penjelasan apapun akan percuma." Sasori menghirup napas dalam-dalam. "Aku yang meminta Sasuke untuk berperan menjadi suamimu, dengan harapan dia dapat memberi penjelasan secara bertahap, tapi hasilnya malah semakin parah…." Tampak jelas sekali kalau pemuda itu sangat menyesal dengan kesepakatan yang telah dia buat dengan Sasuke.

"Tidak…, tidak…." Sakura menyandarkan tubuh lemasnya ke tembok. Entah kenapa tiba-tiba saja kepalanya sangat sakit. Seperti ada sesuatu yang mau keluar dari dalam otaknya. "Jadi…, selama ini aku bukan…."

Sakura menatap ke arah Sasuke dan Hinata yang sedang berpelukan tak jauh dari tempatnya berdiri. Ada suatu kesadaran di mana ia mengamini kalau sebenarnya Sasuke dan Hinata memang saling mencintai. Tapi rasa iri dan cemburu yang bergejolak dalam dadanya tak bisa ia tahan.

Tanpa diduga Sakura berbuat nekad. Gadis itu berlari, mengambil pisau yang tadi dijatuhkannya ke lantai. Setelah mendapatkan benda tersebut, ia menerjang ke arah Hinata, mencoba untuk menusuknya.

"Hinata, awas!"

Sasuke yang menyadari kedatangan Sakura segera memeluk wanita itu erat sambil melindunginya.

Dor Dor Dor Dor!

Suara tembakan terdengar memekakkan telinga di ruangan tersebut.

Trang….!

Pisau yang dipegang Sakura terlepas.

"A…, a…, arrgh…."

Sakura menatap ke arah tubuhnya sendiri yang kini telah berlumuran darah akibat dihujani peluru oleh para polisi yang tadi secara spontan menembakinya.

BRUKH!

Tak lama setelah itu, tubuhnya pun terjatuh tepat di sebelah pisau miliknya sendiri.

"SAKURAA!"

Hari itu, adalah hari yang telah menjadi tragedi bagi semua orang. Mereka semua menyesalkan atas kepergian Sakura yang begitu meyakitkan.

Sakura terbunuh oleh cinta yang selama ini selalu dia dambakan.

.

.

.

OWARI

Beberapa bulan kemudian

"Selamat pagi, Hinata."

Sasuke tersenyum saat melihat paras cantik Hinatalah yang ia tangkap untuk pertama-kali saat bangun tidur.

"Selamat pagi, Sasuke-kun," balas wanita itu dengan lembut. "Ayo bangun. Aku sudah membuatkan sarapan untukmu." Hinata menarik pelan tangan Sasuke yang masih enggan membuka selimutnya.

"Aku malas," balas Sasuke yang malah menarik Hinata ke dalam pelukannya.

Untuk beberapa saat Hinata membiarkan dirinya tenggelam dalam dekapan sang suami. Rasanya sudah lama sekali ia tidak merasakan momen seperti ini dan dia sangat merindukannya.

"Kalau kau tidak bangun sekarang, berarti kau tidak bisa mengantarku ke dokter kandungan."

"Apa katamu? Dokter kandungan?"

Begitu mendengar kata 'dokter kandungan' laki-laki itu segera melompat dari tempat tidur. Hinata melirik sang suami dari ekor matanya dan tertawa kecil saat melihat kebahagiaan tampak jelas di wajah yang selalu memasang ekspresi datar dan angkuh itu.

"Aku sudah menguji hasilnya di test pack dan ingin memastikannya." Hinata berdiri dari atas tempat tidur. "Cepatlah bangun, dan mandi," ujarnya sambil berkacak-pinggang, pura-pura marah.

Greb…!

Sasuke kembali memeluk wanita itu secara tiba-tiba. "Terima kasih, Hinata…," bisiknya dengan lembut.

"Sasuke…, apa kau mau mengabulkan satu permintaanku…?"

"Tentu saja. Katakan apa yang mau kau inginkan?"

Sasuke melepaskan pelukannya dan menatap lekat-lekat ke dalam iris lavender sang istri.

"Seandainya anak yang kukandung perempuan. Apa aku boleh memberinya nama, Sakura…?"

"Hinata…."

Tampakya Sasuke agak terkejut dengan permintaan Hinata barusan. Ia hanya tak menyangka kalau Hinata masih begitu memikirkan Sakura.

"Tentu saja boleh, Hinata," balasnya sambil mengusap lembut pipi wanita itu.

"Hehehe, terima kasih, Sasuke-kun!" Hinata terkekeh. Kemudian ia mengecup pipi sang suami. "Cepat mandi, nanti sarapanmu keburu dingin, atau…, kau ingin aku menghabiskan semua sup tomatmu?" Hinata mengerling jahil. Wanita itu berlari kecil keluar kamar diiringi dengan suara teriakan Sasuke yang meminta agar supnya tidak dihabiskan.

Setelah sekian lama, akhirnya mereka berdua bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi pengantin baru yang bahagia. Mereka berjanji mulai dari detik ini akan terus bersama selamanya.

The End


Delusi atau Waham adalah suatu keyakinan yang dipegang secara kuat namun tidak akurat, yang terus ada walaupun bukti menunjukkan hal tersebut tidak memiliki dasar dalam realitas. Delusi diartikan sebagai kepercayaan yang bersifat patologis (hasil dari penyakit atau proses sakit) dan terjadi walaupun terdapat bukti yang berkebalikan.

.

.

Baklah, ini adalah sesi kesan kami mengenai FFN. Selama ini kami yang dicecar dan di judge. Sekarang gantian. Menurut kami di sini banyak DUKUN.

Kami tak menyangka di sini banyak readers merangkap dukun. Kenapa? Cerita baru dipublish, masih prolog, baru chapter 1 tapi udah ada komentar mengenai isi cerita seolah-olah lebih tau dari kami.

Dukun dua, dia baru berani menjadi dukun ketika cerita sudah mendekati akhir dan dengan sok-sokan bilang mainstream (udah bisa ditebak XD). Yah, terserah anda.

Dukun tiga berbunyi gini. "Kalian munafik, pasti ngarep reviews kan? Gila pujian 'kan? Ngaku aja deh. Cerita gak bermoral dan gak berpendidikan gini gak heran dapat flame.

Jawaban kami. Uh-huh Miss? Gak bermoral dan gak berpendidikan? Anda salah alamat.. Banyak cerita M sama MA kayanya disini setelah kami cek. Why bothering us? Oh iya ya ini kan bukan OTP kalian, oh iya iya iya ngerti. Kalau cerita rate MA sama M tapi itu otp kalian juga palingan kalian seneng. Gak peduli sekalipun itu PWP., Dan isinya enaenaena netnot gak apa-apa? Cakep bener, MBAK. (yes, this is u MBAK CHERLLY DEVILA). Butthurt karena alurnya melenceng dari persepsi awal jangan ngamuk.

Kami tidak ingin memihak kubu manapun tapi dari kenyataan yang kami terima saat cerita ini dipublish. Ada 4 ekor SakuSasu inbox kami yang isinya menghina dan mengusir kami, baik secara halus atau pun kasar. Bahkan ada yang menuding kami gak karuan dan ujung2nya ngeblok PM. Nona, apa anda lupa kalau PM darimu bisa dibaca lewat email? Ck ck ck. Pasti gak mikir sampe situ.

Sementara dari kubu Hinata, ada 2 orang yang PM yang intinya meminta ketegasan pair, dan salah satunya memberi informasi mengenai kegunaan tag name. We appreciate it that.

Kesimpulannya? Pikir saja sendiri. Ingat. Suatu tokoh bisa saja dibenci karena kelakuan fansnya sendiri.

-PANDA-

.

.

Berikutnya, fic ini kami tulis bukan bertujuan untuk menghina chara yang ada di dalamnya. Masing-masing dari kami memiliki chara favorit dari anime yang satu ini. Saya, Kalong suka Sakura, si Panda memfavoritkan Sasuke dan Gaara, sedangkan si Kucing, chara favoritnya adalah Hinata. Jadi, bagaimana mungkin kami menghina/ bashing karakter-karakter tersebut jika pada kenyataannya kami bertiga memfavoritkan tiap karakter yang ada di fic kami. Beberapa di antara kalian menuduh kami sebagai pencari sensasi, munafik, pengen dapet review banyak, dsb. Saya klarifikasi satu per satu, jika kami cuma mencari sensasi, kami tidak memikirkan konsep cerita untuk fic ini ( yang walaupun idenya mainstream tapi pada salah nebak :v, tapi kami berusaha mengemasnya dalam gaya bahasa sendiri ), dan menulis sebaik-baiknya untuk memastikan tiap paragraf sedap dipandang mata pembaca.

Selama ini kami cukup konsisten soal idealisme kami dalam berkarya, berapapun jumlah review bagi kami gak masalah karena dari awal tujuan kami murni untuk menuangkan imajinasi ke dalam sebuah cerita. Kami sangat menghargai kritikan dan saran bahkan flame dari reader, asalkan jelas dan tertuju pada tulisan kami. Yang sangat kami sesalkan di sini adalah, kebanyakan dari flamer ngeflame fic ini bukan karena kualitas ceritanya, tapi karena mempermasalahkan pair dan tag. Sekali lagi kami tegaskan di sini, kami sudah mengkonsepkan cerita ini dari awal, membuang satu karakter sama dengan merombak keseluruhan cerita dan akan memakan waktu yang gak sebentar untuk melakukan perombakan jalan cerita serta peran dari tiap karakter. Oke, awalnya kami memang belum tahu kalau kedua kubu ini tidak pernah akur ( karena kami bertiga selama ini akur-akur saja meski beda kapal dan beda haluan ).

Karena dari awal kami sudah memutuskan untuk menulis sebuah fic, maka kami akan tetap konsisten menyelesaikannya sampai akhir karena kami berusaha bertanggungjawab terhadap tulisan kami dan orang-orang yang mengikuti fic kami dari sejak pertama kali dipublish.

-KALONG-

Kucing lagi absen, dia hanya ingin mengucapkan terima kasih.

TOLONG BACA INI BAIK-BAIK

"Ini situs gratis. Anda, kami, atau pun mereka tidak membayar apapun di sini. Anda atau mereka tak punya hak melarang kecuali dari pihak FFN (tolong jangan denial). Kami juga tidak melarang anda untuk tidak memberi flame. itu HAK ANDA. Baik atau buruknya terserah anda mau menilai seperti apa."

Anda adalah seorang readers, bukan? Anda ke FFN untuk menikmati tulisan yang ANDA SUKAI. So, why bother susah-susah baca cerita yang jelas BUKAN UNTUK KAUM ANDA? Anda tahu? Anda seperti seseorang yang melihat papan tulisan 'Jangan masuk ada ibu kost galak' tapi anda masih masuk dan ketika anda kena damprat ibu kost, anda marah2 sama orang yang pasang papan. Kelakuan?

Sakura, bukan manusia. Hanya karena tokoh imajinasi anda rela bertengkar dengan orang lain (manusia). Sudah waktunya pikiran anda dijernihkan. Saya tanya. Buat apa anda membela tokoh yang tidak nyata? Kalau anda dalam kesulitan, apa SasuSaku bisa nongol gitu tiba-tba bantu anda? Tetep aja yang membantu anda itu manusia juga. Tak ada yang menduga, siapa tau yang menolong anda suatu saat nanti malah SHL (dan sebaliknya).

Satu pesan dari kami. jangan banyak makan mecin.

.

.

Terima kasih atas semua kesan yang kami dapat dari tempat ini.