"Jadi, bagaimana perkembangan Bumi, Frog?"

Pagi hari, Jakarta, Pondok Gede. Jam lima pagi, seorang pria paruh baya dengan wajah yang cukup tampan namun tegas dan berwibawa tengah sibuk menyirami halaman rumahnya dengan air selang. Tangan kirinya memegang handphone erat. Kaus kutang dan celana pendek yang menemani hari-harinya setia menempel ditubuhnya, tidak peduli warna kaus kutang itu sedikit berwarna kekuningan. Orang diseberang sana menjawab dengan jawaban pasti yang sudah diperkirakan oleh pria keturunan asli Indonesia itu. "Lalu apa dia marah?" Hatta Gibran, nama pria paruh baya itu, terkekeh sedikit membayangkan wajah manis sang murid yang biasanya dongkol bukan main namun tidak bisa protes karena takut kena damprat yang lebih dahsyat. Dasar pengecut.

"Hmm. Yah, yang pasti jangan sampai dia tahu kalau aku memasukkan dia kesana karena hal itu... lalu bagaimana dengan Kirkland? Dia mengamuk?"

Hening.

"Tentu saja. aku tahu kalau Kirkland orang yang cukup keras kepala. Lalu Vargas?"

Hening lagi, suara air bercipratan dengan daun terdengar menenangkan dada.

Pria itu tersenyum puas.

.

.

.

.

I Like It Hot and Fast (And Yummy)

Chapitre 3

By : Biskuit Coklat Hati

Disclaimer : Hetalia isn't mine, mind you. No financial benefit is being reaped from this act of fiction so...

Pairing : Het deh pokoknya. Nggak hanya RomanoXIndo doang, tenang aja!

Genre : Gourmet!AU. romance. (dry) Comedy. Drama.

Warning : Fem!Indonesia, crack-pair, OOC tingkat ASEAN, kesalahan dalam referensi gourmet, Typo, kata tidak baku dan lain-lain, beberapa kesalahan dalam referensi hetalia, mungkin adegan rate M di bagian-bagian selanjutnya jadi di tag sebagai rate M saja deh. No Mary Sue. Sorry to disappoint you, Mary-Sue Hunters. Dan mungkin HET pairing akan dihint disini.

MORE WARNING : Bahasa sehari-hari yang tidak diitalic.

MORE, MORE WARNING : NO FLAME PLS (alay)

Elizaveta=Hungary/Roderich=Austria/Feliciano=North Italy

.

.

.

.

Ini terjadi kurang lebih empat puluh delapan jam yang lalu. Seorang anak perempuan dengan nama yang amat jantan dan juga penampilan yang jantn pula, resmi berpijak di Kota Cinta pada jam delapan malam. Barang-barangnya yang terdiri atas baju, pakaian dalam, paspor, dompet, handphone zaman Majapahit yang ujungnya bak tombak trisula siap bertengger di pundak kencang bak atlet renang sekalipun. Mata bulat ping-pongnya melebar mengawasi airport Prancis yang terkenal seantero dunia tersebut."Gilaaa. Airport-nya gedeeee! Soetta aja kalah," ucap Bumi Adhiswara, sedikit kelimpungan. Memang, dahulu ketika dia mengikuti kejuaraan masak segala macam bersama dengan timnya pasti dia akan dibayar dan diperlakukan bak tuan puteri. Tapi bahkan hotel bintang lima di Indonesia tidak sepadan dengan Airport ini! Bumi sangat rela bermalam ditempat seperti ini. Minus perhatian dari para bule yang menatap pribumi macam Bumi seperti Bumi anak kampung (memang anak kampung sih) Bumi merasa kedatangannya di Paris, Prancis, di bulan mendekati Desember itu, benar-benar hangat.

(setelah keluar dari airport, opininya berubah seratus delapan puluh derajat.)

Sekarang yang harus Bumi temui adalah... oh iya. Seseorang bernama...? Feliciano Vargas. Bagaimana aku bisa tahu orangnya yang mana, Bumi berfikir sedikit sebal sambil berjalan tak tentu arah. Untunglah adalah papan besar bertuliskan exit. Dengan lega dia segera berjalan ke arah sana, matanya mencari-cari seseorang yang mungkin membawa papan nama bertuliskan namanya, dan benar saja—seorang pria dengan wajah imut banget anjir sialan tersenyum-senyum sendiri mengangkat sebuah papan nama. Bumi segera mendekati cowok dengan gaya rambut yang sedikit aneh—satu helai rambutnya mencuat ke arah kanan—dan segera menunjuk dirinya dalam bahasa Inggris, "I'm Bumi Adhiswara."

Pria itu terlihat sedikit kaget dan kemudian wajahnya mengerti. "Hello, Bumi! I'm Feliciano Vargas! You can call me Feli, ve~" ada adlib aneh di akhir kalimatnya, dan Bumi, yang memiliki kemampuan mendengar mumpuni, langsung merasa ditonjok akan keimutan sang pria yang entah berapa umurnya tersebut. Feliciano menunjukkan dokumen-dokumen kalau dia bukanlah orang mencurigakan dan kalau dia memang seorang profesional yang dibayar untuk mengeskort kedatangan Bumi di Paris, Perancis ini. Menahan diri untuk tak memeluk sang pria, Bumi mengangguk. Dia mungkin tak boleh merasa dekat dengan seseorang secepat ini, tapi Feliciano adalah orang yang menenangkan. Terbukti setelah beberapa menit mengobrol, Bumi langsung merasa nyes dengan cowok yang mengaku berasal dari Venezia ini. Cowok ini kemudian membeberkan kalau dia adalah agen yang disewa oleh Hatta Gibran untuk membantu Bumi menuju ke tempat Bumi akan menumpang. Bumi menghela nafas lega, karena sepertinya semuanya sudah dibereskan oleh Pak Hatta. Biasanya Pak Hatta selalu saja membiarkan segala macam hal setengah jadi dan melemparkan tanggung jawab ke Bumi, yang berhasil Bumi yang jadi kambing hitam dan repot sendiri. Bumi berjanji untuk tidak mempercayai Pak Hatta selama ini, namun sepertinya kali ini beliau cukup bisa untuk dipercayai.

Oh, betapa salahnya Bumi.

"Eeee, Bumi itu dari Indonesia?" tanya Feliciano, matanya menatap Bumi penasaran. Bumi mengangguk dan berkata, "Pasti kamu tak tahu dimana Indonesia, kan?"

Feliciano sedikit kaget dan malu ketika ditanya seperti itu. "Maafkan aku Bumi, a-aku benar-benar tidak tahu..." Bumi cuma tertawa kecil walau tak bisa dipungkiri hatinya seperti terasa dipites mendengar pengakuan Feliciano. Mau bagaimana lagi, pikir Bumi. Indonesia memang cukup lemah dari berbagai bidang... yah, itu adalah tujuanku datang kesini, kan? untuk mengharumkan nama Indonesia di ranah Internasional. Sekali lagi jiwa kompetisi Bumi terbakar berapi-api. "Jadi, kemana kita akan pergi sekarang?" tanya Bumi sedikit bingung. "Kita sedang menuju ke 37 Promenade des Japonaise,tempat keluarga Edelstein, ve!" ujarnya dengan semangat membara. "Aku sendiri mengenal Roderich, vee! Dia sangat keren dan bisa diandalkan, ve! Elizaveta juga sangat cantik dan jago memasak, veeeee!"

Rasanya Bumi ingin sekali, ingin sekali, memeluk cowok sialan ini.

"Ah, maaf, kalau aku kesannya memaksa," Feliciano tertawa malu. "Aku biasanya tidak seperti ini... atasanku selalu mengomeliku karena aku sangat tidak etis dan tidak profesional saat bekerja. Aku memang cerewet. Maafkan aku!" Feliciano tertawa lagi, kali ini tawanya dibantu oleh Bumi. "Tidak kok. Aku lebih suka begini daripada kaku gitu." Ucap Bumi sambil tertawa. "Omong-omong, Bumi datang kesini kuliah dimana? Sorbonne?" tanya Feliciano, rada kepo. "Heh? Anu, aku tidak kuliah—aku kerja." Bumi mengangguk kecil.

Feliciano kelihatan syok.

"Ah, masak!?" serunya sedikit lebay. "Tapi wajahmu kelihatan muda sekali, kok! Umurmu berapa?" ucap Feliciano.

"Umurku dua puluh tiga," ucap Bumi sedikit malu. Feliciano langsung menutup mulutnya sendiri, hampir lupa kalau hidup mereka berdua didalam mobil ini dipegang olehnya. "A-aku dua puluh lima... kamu serius?" Feliciano berbisik. "Te-terakhir kali aku cek sih aku umurnya dua puluh tiga. Maaf sudah mengecewakan." Mau tak mau Bumi tengsin juga dibilang baby face sama cowok bermuka paling bayi yang pernah ia temui. Feliciano kemudian membombardir Bumi dengan pertanyaan-pertanyaan tidak perlu—seperti, apakah semua orang asia berwajah seperti dia, atau apakah di Indonesia wanitanya manis seperti dia (Bumi hampir kicepdisini), atau seperti apa birokrasi di Indonesia. Mereka berbincang-bincang dan tidak terasa mereka sampai di alamat yang sudah dimaksudkan. "Sudah sampai, ve!" ucap Feliciano, menyurukkan tangannya kedalam jaket untuk menghangatkan tangannya. Bumi merasa bodoh karena dengan tololnya memendam peralatan kecil macam muffler dan sarung tangan didasar koper.

"Kenapa? kedinginan, ya?" Tanya Feliciano khawatir melihat tangan Bumi yang gemetaran. "Sedikit, di negaraku udaranya tidak pernah sedingin ini." Bumi tersenyum, menggosokkan kedua tangan. Feliciano terdiam sebelum menyambar tangan Bumi. Bumi membulatkan mata kaget ketika mulut Feliciano mendekat ke tangannya dan dia meniup tangan Bumi supaya udara hangat menyebar ditangan Bumi. "Ragazza sepertimu tidak seharusnya kedinginan. Aku juga lupa bawa sarung tangan," Feliciano tersenyum dengan gaya childishnamun benar-benar membuat hati tentram itu, "Berdua lebih baik daripada sendirian, kan?"

Te-ternyata benar cowok-cowok asing itu punya jiwa cassanova yang kental banget... kenapa cowok Indonesia nggak ada yang kayak gini? Impian yang tidak mungkin diraih memang lebih mudah terimajinasikan.

"Permisi!" seruan Feliciano didepan kamera pengintai memberikan reaksi kepada orang didalam. Seorang wanita ayu nan cantik dengan rambut panjang berwarna blonde ash membuka pintu, matanya terlihat sedikit kaget dan bingung. "Feli! Sedang apa...? Oh, iya!" wanita cantik itu tersenyum. "Hai! Kamu pasti mau homestay disini, yaa? Ayo, masuk! Udara sekarang hampir mendekati nol derajat, lho! Aku bingung kenapa kalian bisa bertahan." Bumi, yang memang dasarnya agak katrok dan tidak pernah melihat sesuatu yang begitu besar sebelumnya, bengong sebentar sebelum dengan kikuk mengikuti Feliciano. Sepertinya Feliciano dan sang pemilik rumah sangat dekat, terbukti dengan obrolan singkat namun padat milik mereka. Mereka berbicara dalam bahasa Prancis yang luar biasa cepat. Bukan berarti Bumi tidak bisa berbahasa Perancis, namun dia masih belum terbiasa dengan kecepatan berbicaranya. "...Jadi, kamu Bumi Adhiswara?" wanita itu tersenyum dan dada Bumi langsung berdetak cepat. Apa nggak ada yang mukanya biasa saja disini, ya? Pikir Bumi. "Iy-iya. Maaf mengganggu." Bumi menundukkan kepala sedikit. "Tidak apa-apa. kebetulan rumah kami memang terlalu besar, jadi kenapa tidak tambah satu orang saja? untunglah aku mengenal Feli, jadi kau bisa dengan bebas memakai fasilitas rumah ini!" ucap wanita itu sebelum mengedip. "Feli, kau mau kemana?"

"Aku harus segera pergi, ada urusan!" Feliciano tersenyum dengan senyumannya yang membuat orang-orang merasa senang tersebut. "Kalau begitu, aku serahkan Bumi padamu, ya! Ini kartu namaku, Bumi. Terima kasih karena sudah memakai jasa agen kami! Au revoir!" Feliciano melambaikan tangan dan Bumi menyadari betapa merahnya tangan Feliciano. Bahkan setelah dihangatkan didalam rumah dengan penghangat, tangannya masih tetap dingin. "Feli memang begitu. Bagaimana jika dia jatuh sakit? Tidak mungkin Ludwig atau Gil bisa terus menerus menjaganya." Wanita itu terlihat khawatir. "Namaku Elizaveta Hérdevary. Senang bertemu denganmu, ya! Selain aku, masih ada suamiku, Roderich, yang tinggal disini. Dia sedang pergi sekarang, jadi aku pikir kau tidak akan bisa bertemu dengannya untuk sementara waktu. Ah, kau lapar? Kau bisa mengambil makanan di dapur. Aku dengar kau seorang chef? Waah, aku jadi ingin merasakan makananmu. Kalau kau mau istirahat, kamarmu yang ada di lantai dua, pintunya berwarna putih es. Disana ada kamar mandi dengan jacuzzi, toilet, dan lain-lainnya. Kalau ada yang kau butuhkan, kau bisa segera datang ke ruang kerjaku. Anggap saja rumahmu sendiri, oke? Maaf, aku harus segera menyelesaikan manuskripku. Permisi! Oh, dan selamat datang di Perancis, mon ami!"smooch, smooch. Dua kecupan mendarat di pipi Bumi.

Eizaveta, Bumi mengambil kesimpulan, adalah seorang tuan rumah yang baik, seorang multitasker yang handal, pembicara yang luar biasa cepat, dan seorang wanita Perancis sejati. Bumi tak habis pikir dengan kelakuannya. Apa dia seorang novelis? Keren, pikir Bumi. "Eee... katanya kamarku ada di lantai dua..." Bumi takut sekali untuk naik keatas, karena ini bukan rumahnya, namun kalau begini terus dia tidak akan bisa istirahat, dan badannya sudah teriak minta diistirahatkan. Akhirnya setelah sepuluh menit berputar-putar dibawah kaki tangga, Bumi memutuskan untuk naik keatas dengan tangga memutar yang suka ada di film barat macam Harry Potter. Rumah ini mewah sekali, pikir Bumi tidak nyaman. Dengan hati-hati dia mengetuk pintu kamar putih es yang dibicarakan Elizaveta dengan hati-hati, takutnya ada orang. Ketika dia yakin tidak ada seorangpun didalam kamar itu, dia segera masuk dan syok dengan apa yang sedang ia saksikan.

"Uwoooo! Ini kamar besar banget!? Beneran buat manusia?" seru Bumi agak hiperbolis. Dulu dia bahkan tidur bertiga dengan ibu dan Dara diatas kasur jerami yang belum pernah diganti semenjak dia kecil. Sekarang dia tidur diatas king-sized bed yang bahkan bagian bawahnya dikasih heater! Beneran beruntung banget Bumi dapet rumah yang tuan rumahnya super ramah dan kaya. Eh, nggak boleh. Bumi tidak boleh berfikir materialistis seperti ini. Bumi menghela nafas dan melihat jendela gaya eropa yang berada tepat disamping tempat tidur. Jendela itu menghadap tepat ke arah sebuah taman yang sangat cantik. Bumi mengedip sambil bersiul. Setelah selesai mengepak barang-barang, Bumi segera mengganti bajunya dengan baju lain. Dia tidak tahu apa baju yang sopan di rumah orang Perancis, jadi dia memilih celana katun dengan t-shirt biasa berwarna hitam saja. Dengan pandangan sedikit nakal, Bumi melihat ke atas tempat tidur dan berlari ke atas tempat tidur tersebut sebelum berteriak, "Geronimoooooo!" dan bruk! Dia memantul dari atas kasur tersebut! Bumi tertawa terbahak-bahak sambil berguling-guling diatas tempat tidur tersebut. Kegilaan masa kecil. Semenjak dia masih kecil, dia selalu bermimpi bisa berguling diatas tempat tidur besar. Pernah sih, dia melakukannya, menghasilkan Dara ikut-ikutan. Walhasil dia jadi diomeli oleh sang Ibu yang menemukan kasur yang keluar kapuknya.

Bumi menghela nafas, rambut cepak namun tebalnya menghampar diatas kasur putih. Ibu dan Dara. Lagi apa ya mereka sekarang?

Bumi tersenyum dan dengan cepat membuka laptop yang dia beli hasil tabungannya sendiri.

To: Udara_Adhiswara .id

From : Bumi-123 .id

Sub : Bonjour!

Ass. Wr. Wb

Buat Dara sama Ibu tercinta.

Apa kabar? Kayaknya baru kemarin aku pergi dari Indonesia tapi aku kangen banget sama Ibu dan Dara! Gimana, disana baik-baik aja kan? nggak ada yang dateng atau apa, kan? Semoga semuanya baik-baik aja.

Keadaan di Paris : dingin, tapi belum turun salju. Dara pengen banget liat salju kan? nanti mbak fotoin saljunya, tapi yang rajin bantuin ibu, oke? Kalau ibu sakit nanti resto ditutup lho, nggak ada yang jagain. Pokoknya rajin belajar sama rajin bantuin Ibu, tapi jangan terlalu dipaksa! Nanti kamu sakit lagi.

Aku belum ngeliat bagaimana restoran tempat aku akan kerja. Besok aku akan pergi kesana.

Omong-omong host tempat aku homestay baik banget! Cantik pula. Namanya ribet, tapi aku manggil dia Elizabeta. Ibu Elizabeta! Tempatnya luas banget, lagi. Pak Hatta emang baik, ngasih aku tempat kayak gini. Omong-omong, salam buat Pak Hatta, ya! Jangan lupa lari pagi sama dia terus, Dara. Soalnya dia udah ndut, nanti nggak ada yang mau lagi sama dia.

Aku tunggu balesan dari Jakarta!

Wassalam,

Bumi

Bumi tersenyum lebar ketika memikirkan jawaban-jawaban gokil bin nyeletuk ala Dara yang akan ia terima dari Dara besok, atau tiga hari lagi. Memang belum ada koneksi internet atau laptop di rumah, tapi Dara rajin pergi ke warnet tiga hari sekali buat memprint tugas kuliahnya. Dulu, sempat terjadi perdebatan antara Bumi dan Ibu. Uang Ibu tidak cukup untuk membiayai Bumi dan Dara untuk sekolah sekaligus. Bumi sempat ingin drop out dari jurusan tata boga yang ia tekuni, namun Ibunya menolak. Untunglah adik semata wayangnya adalah anak yang jenius, dia lulus SNMPTN kedokteran Universitas terkenal di Indonesia dan sekarang dia ikut beasiswa. Sebenarnya, jika dia mau Dara bisa saja ikut Bumi untuk ikut beasiswa luar negeri. Namun dia menolak ketika ditawari. Alasannya tidak mau meninggalkan Ibu sendiri di Indonesia. Bumi jadi salting sendiri, kesannya dia tega banget gitu ninggalin keluarga kayak Bang Toyib.

Mau bagaimana lagi, yang namanya passion itu nggak bisa sembarangan diabaikan gitu aja, kilah Bumi saat Dara protes akan kepergian Bumi yang mungkin menahun ke negeri Eiffel tersebut.

Bumi menghela nafas dan ketika dia sadar kalau tubuhnya terasa nyeri dan sakit akibat lamanya perjalanan Jakarta-Paris, matanya kian memberat, dan tujuh menit kemudian dia jatuh ke dalam tidur tanpa impian.

.

.

.

.

.

Ketika Bumi bangun, sekelilingnya gelap—hampir menyeramkan, kalau saja tidak ada penerangan lembayung senja dari luar jendela yang tertutup. Bumi mengucek matanya, berusaha untuk melihat ke arah Laptop yang berdesing menyala. Sudah jam setengah enam, pikir Bumi meregangkan tubuhnya. Berarti sudah sekitar tiga jam dia tertidur. Supaya terlihat tahu diri, Bumi segera menyalakan lampu di kamar big ass tersebut, mencuci muka, mengecek apakah dia terlihat oke, dan segera keluar kamar. Bahkan rumah masih kelihatan gelap. Ada apa, ini? Mau tak mau Bumi merasa was-was sekali. Elizaveta bilang dia masih didalam ruang kerjanya... tapi apa mungkin dia tidak keluar sama sekali? Bumi kemudian melihat ke arah ruang berpintu kecil bertuliskan Elizaveta's Work Room. Oh, jadi bukan Elizabeta toh, pikir Bumi sedikit khilaf.

Bumi ingin sekali mengetuk pintu untuk melihat keadaan Elizaveta. Bumi takut sesuatu terjadi padanya. Jangan-jangan ada seseorang yang masuk? Seseorang yang asing dan membawa pisau panjang seperti parang? Yang suka menjagal orang-orang yang lewat dan suka dengan sadisnya memakan bagian tubuh orang tersebut?

(Iya, Bumi memang separno itu.)

Tapi, Bumi takut dikira orang yang tak tahu diri.

Akhirnya Bumi mengitari rumah grand tersebut dengan kilah ingin menyalakan lampu. Setelah rumahtersebut terang benderang, dengan sedikit tergoda Bumi mengintip ke dalam dapurnya yang benar-benar sesuatu sekali. Semuanya mirip penataan yang suka ada di reality show gourmet di Indonesia! Konternya berhadap-hadapan dengan wastafel, rak gantung, lemari es super besar... benar-benar tidak tanggung-tanggung. Bumi berdecak. Sebenarnya Bumi merasa sangat tidak kompeten dan merasa seperti pencuri melihat-lihat rumah orang seperti ini, tapi rasa penasaran yang kuat dan cinta akan masakan membuatnya tertarik ke arah dapur seperti magnet dengan besi. Setelah berperang dengan nuraninya sendiri, Bumi merasa kalau dia tak cukup bersih untuk menjadi seorang yang tahu diri, jadi dia segera membuka pintu lemari es dengan perasaan yang sama dengan perasaan anak yang tertangkap basah mencuri permen karet warung.

"Buset," rutuk Bumi melihat isi lemari es itu. Isinya komplet sekali. Ada buah-buahan, es krim, daging-dagingan, sayur mayur, aneka macam kue. "Ke-kenapa ada pisang ditaruh disini?" Bumi, yang memang tidak tahan melihat makanan 'disiksa', segera mengeluarkan pisang yang sudah layu tersebut dari kulkas. Puas menginspeksi kulkas, dia melihat-lihat wastafel yang digosok dengan sempurna, konter yang bebas lemak, peralatan dapur yang mengilat. Bumi berdecak kagum, jiwa chef nya meronta minta untuk menggunakkan dapur tersebut. "Tidak boleh." Bumi menggigit bibir sendiri, terlihat sekali konflik batin antara nurani dan keinginannya untuk memasak. "Ini adalah rumah orang, aku nggak boleh lancang..."

Tapi tangan Bumi mengelus konter bebas-lemak tersebut dengan sayang.

"Gaaaaah! Mendingan aku balik aja ke kamar," Bumi berbalik dengan perasaan teriris dan hampa ketika dia berjalan menjauhi dapur istimewa tersebut.

Bumi hendak naik keatas ketika dia mendengar suara aneh dari ruang kerja Elizaveta.

"...Hng..."

Bumi berhenti.

"...Ngh... ah..."

Mata Bumi berkedut.

"Uwah!... ffuh..."

Bumi mulai curiga sesuatu terjadi dari dalam ruang kerja tersebut.

"Ung... Ro-Rode... rich..."

Roderich? Siapa itu Roderich? Telinga Bumi ditempelkan ke ruang kerja Elizaveta dengan sebegitu lebaynya. Kenapa Bumi kepo sekali? Memang dari sananya dia begini.

Suara-suara tersebut terdengar begitu mencurigakan, apalagi dengan campuran suara yang terdengar berat dan nge-bass dari dalam ruang kerja tersebut. Apa Elizaveta sakit? Apa yang sedang terjadi? Apa ada lelaki didalam sana? Oh iya! Bumi baru ingat, Roderich itu suami Elizaveta yang tadi dia sebutkan. Kenapa dia berada didalam? Sedang apa mereka berdua?

Sedang apa mereka berdua?

Sedang apa sih mereka berdua...?

Sedangapa...

Sedang... –apa...

...?

….

Bumi melebarkan mata setelah proses otaknya berjalan dengan utuh kembali. Dengan wajah marun darah, dia berjalan kebelakang dan hampir tersandung kakinya sendiri. Kakinya lemas sekali, demi apapun! Dengan pandangan tidak percaya, Bumi segera naik keatas, merasa sehabis mendengarkan sesuatu yang sangat personal (benar sekali) dan sangat privasi (juga benar). Ap-ap-ap-apa mereka melakukan itu? Ke-kenapa?! kenapa mereka... ya Mau bagaimana lagi, mereka kan suami istri?! Ini benar-benar sesuatu yang.. yang... yang sesuatu sekali! Dia merasa seperti seorang anak yang tertangkap basah mengambil majalah di toko buku.

(masalahnya, itu majalah porno.)

Setelah beberapa wajah merah kemudian, mereka bertiga berkumpul di ruang makan (dengan Bumi yang masih memerah dan dua orang yang tidak tahu menahu kalau ada voyeur jadi-jadian di tempat mereka.)

"Selamat datang di rumah kami."

Suara ramah namun terdengar datar itu baru saja Bumi dengar dari Roderich Edelstein.

("Ngh... Ro-Roderich!")

Bumi menampar wajahnya sendiri. Keras. "I-iya, terima kasih," Ucap Bumi dengan wajah merah (akibat tamparan dan akibat darah yang memuncak di wajah) Roderich dan Elizaveta yang berpandang-pandangan mengangguk walau sedikit bingung. "Ini Roderich, suamiku." Elizaveta menunduk ke arah Roderich dengan senyum menawan. Wajah Roderich seperti seorang dewasa apalagi dengan rambutnya yang disibak belakang tersebut. Dia kelihatan seperti seorang darah biru yang aristokratis. Roderich menggenggam tangan Bumi. Mereka sekarang sedang makan malam buatan Elizaveta. Usut punya usut, ternyata Roderich adalah seorang pianis terkenal yang baru pulang dari world tour-nya. Seharusnya dia pulang lebih lambat, namun karena alasan tersendiri dia jadi mempercepat kepulangannya. Elizaveta adalah seorang novelis yang 'cukup terkenal', kata Eliza. Bumi membuat catatan agar mengecek nama beliau di google nanti.

"Aku mengenal Hatta dengan baik," ucap Roderich mengunyah irisan mentimun yang mereka makan (mereka memakan acar kari. Elizaveta sedang ingin membuat eksperimen makanan Asia karena mendengar Bumi berasal dari Asia. Sekali lagi, tuan rumah yang baik.) "Jadi aku senang dia mempercayakanmu kepada kami." Bumi tersenyum dengan senang. "Saya juga senang berada disini, Pak. Bagaimanapun, sebuah kehormatan berada satu rumah dengan seorang pianis dan novelis terkenal." Hal ini membuat Roderich dan Elizaveta tertawa hangat.

"Kami tidak menyangka lho, kalau kamu akan terlihat sebegini mudanya. Kami sempat berfikir kalau kamu adalah lelaki paruh baya mendengar deskripsi yang dikatakan Hatta," Elizaveta tersenyum. Bumi tersenyum agak dipaksakan. Dia bisa membayangkan Pak Hatta menggambarkannya sebagai, "Anak perempuan dengan kerutan di dahi dan pemikiran yang luar biasa berat. Oh, jangan lupakan omongannya yang seperti pria paruh baya berumur 40 tahun."

Memang kampret, bahkan didalam imajinasi Bumi sekalipun.

"Tapi kami tak menyangka, kalau ternyata yang datang adalah anak lelaki yang manis seperti kamu ini!" Elizaveta tersenyum.

Bumi membeku.

"Wajahmu terlihat seperti seseorang yang pasti memiliki banyak gadis." Elizaveta berkata lagi. "Pasti kamu punya banyak pacar yang cantik di Indonesia, ya?"

Crack. Jika ini komik, Bumi berubah jadi batu dan sebuah kerak besar terbuat di dahi Bumi.

"Aku dengar kamu seorang chef. Pastilah banyak gadis yang mau denganmu." Roderich, tidak mau kalah dengan istrinya, menyiramkan minyak ke dalam api.

Crack, crack.

Hati Bumi terbelah dua.

"Le-lelaki?" ucap Bumi terbata-bata.

Elizaveta menaikkan alis.

Roderich berhenti mengunyah, mendeteksi adanya katastropi.

Bumi menjatuhkan bom.

"Sa-saya wanita."

Krik.

"Hah?" ucap Elizaveta dan Roderich, bersama-sama.

.

.

.

.

.

"Ya ampuuuun! Maafkan kami, ya! Kami benar-benartidak tahu..."

Roderich menyikut pinggang istrinya. Serius, omongan Elizaveta yang tadi benar-benar tidak diayak, tidak manusiawi, dan jelas tidak berkepriwanitaan sekali. Bumi yang sudah biasa dinyana lelakipun agak jleb juga. Entah karena hormon estrogennya yang kurang, dadanya yang tidak menggugah selera, atau rambutnya yang pendek atau memang karena dia yang ketinggian atau apa, orang-orang sepertinya selalu menganggap dia sebagai seorang lelaki. Memang sih, tinggi Bumi seratus tujuh puluh lima senti, punya bahu yang lebar akibat olahraga di dapur, suara rendah (belum bisa menyaingi seksinya Orlando Bloom sih) yang lembut, dan gaya jalan serta fashion yang bikin Ibunya yang sempat dijuluki wanita keraton itu semaput, tapi sepertinya agak berlebihan kalau kedua orang didepannya ini mengira dia wanita.

Padahal, yang miriplelaki, coba?

("Semuanya," ucap Ibu suatu saat ketika Bumi bertanya pada wanita keratin tersebut. "Rambut kamu tergolong pendek buat perempuan, tubuh kamu tinggi, dan suara kamu ngebass. Apalagi kamu tidak pernah berdandan, jerawat kamu jadi banyak. Kalau kamu merawat diri, kamu pasti kelihatan cantik sekali. Tapi anak tertua Ibu nggak mau dengerin ibunya pas diteriakin buat bersihin badan, beginilah hasilnya. Untunglah Dara tidak terlahir seperti kamu." Jleb sejleb jlebnya.)

"Soalnya, Hatta bilang kalau kamu bukan perempuan."

Bukan.

Perempuan.

Kakek tua sumpret, kutuk Bumi dalam hati. Jadi ingat perkataan pertama yang dilontarkan pak Hatta.

"Lelaki lotoy macam kamu? Mau jadi chef?"

Sialan...

"Bu-bukan berarti kamu jelek, sayang!" Elizaveta buru-buru meralat omongannya. "Kamu—kamu kelihatan beda saja!Wajah kamu seperti model androgini…"

"Tidak apa-apa, sungguh." Bumi berusaha menyembunyikan wajah kesakitannya dengan senyum yang dia anggap senyum dagang. "Aku sudah sering dibully oleh Pak Hatta, jadi yang begini sudah seperti sarapan, makan siang, makan malam plus snack sehari-hari." Roderich dan Elizaveta berpandang-pandangan dengan wajah tidak enak. "Ba-bagaimana acar kari-nya? Enak?" tanya Elizaveta dalam rangka merubah arah pembicaraan yang menyakitkan. "Ah, enak sekali kok. Terima kasih akan makan malamnya." Ucap Bumi, lega dengan penggantian topik. "Dimana kamu akan bekerja nanti?" tanya Roderich pada akhirnya setelah beliau selesai menyelesaikan makanannya. "Di Restoran Le Roi. Pak Hatta bilang disitu tempat yang kondusif untuk orang asing. Jadi aku setuju saja." Jawab Bumi. "Aku kaget lho, saat aku dengar Hatta punya seorang murid," ucap Elizaveta. "Kami kira dia orang pelit yang tidak mau bagi-bagi rahasia."

Memang dia pelit. ucap Bumi, dalam hati sih.

"Sebenarnya dia teman ayahku," Bumi tersenyum agak malu-malu. "Jadi dia mengenal dekat aku semenjak aku berumur empat belas."

"Hoooo," Roderich mengangguk. "Jadi kalian jadi guru-murid karena hubungan ayah kalian?"

Bumi menatap Roderich agak defensif. "Apa ada yang salah dari itu?"

Roderich bingung, buru-buru meralat ucapannya, "Maksudku bukan ingin menyinggungmu..."

Bumi sedikit tidak enak menatap Roderich dan Elizaveta. "Maaf," ucap Bumi. "Selama ini orang-orang mengira kalau aku menjadi murid dari Hatta hanya karena dia adalah teman ayahku. Padahal dia bahkan sama sadisnya padaku—malah mungkin lebih sadis dalam hal pengajaran."

Roderich tertawa bersama Elizaveta. Bumi hanya mesem-mesem kecut.

Sambil menikmati makan malam, mereka melanjutkan obrolan mereka yang sempat terpotong.

Bumi mengedip ketika mengingat sesuatu.

Kalau aku terlihat seperti lelaki…. Kenapa Vargas bisa mengenali identitasku yang sebenarnya?

.

.

.

.

.

Yak. Yak yakyak yak!

Buat yng bingung... read ulng summary story ini yaaa! Soalnya disitu kunci dari seluruh cerita ini!

Kalau ada yang salah, tolong beritahu saya, akan saya coba edit¬ Dan yak, tanda-tandanya sudah dijatuhkan, saudara-saudara! Tinggal anda peka atau tidaknya sajaa...

BUON GIORNO! (padahal gatau artinya apa)

Pojok Balesin-komen :

AnonAnon : edited! Oh, maaf kalau bikin bingung, di summary juga udah dijelasin kok! Hehe, menurut aku sih ini bukan genderbender, lebih ke 'disguise-in-boy'. Kalo genderbender itu seluruh tubuhnya juga ikut berubah kan? Itu disturbing aja sih menurutku. Atau salah? Mohon koreksinyaaaa :D/chooDdy : HEHEH. Tuhkan kebayangnya semeXuke :9. Oke, saya akan nyoba but ngeditnya! SIP! Ehehehehe/D'aho : lho reviewnya ada lagi. Oh iya tenang aja! Disini main shipnya romanoXindonesia, tapi bakaln ada armada-armada lainnya. Masalah siapa armada-armadanya, masih rahasia perusahaan! Hehe, sebenernya lebih ke 'diguise-in-boy', ada di summary kok! Awalnya krn tertarik sama komik gourmet, terus keterusan, jadi pengen nulis deh XD