Bumi memandang ke depan restoran tempat dia akan bekerja setahun kedepan tersebut. Udara benar-benar (BENAR-BENAR) dingin, namun untunglah dia memakai muffler dan jaket setebal mungkin. Bumi bahkan bangun jam setengah tiga dan sempat membangunkan suami istri tempat Bumi homestay ("Maafkan aku! Aku benar-benar minta maaf karena sudah membangunkan kalian!") Dia sudah sangat yakin dia akan telat dan mungkin akan didamprat sedemikian mungkin oleh sous chef yang hiper galak tersebut… namun nyatanya bahkan belum ada seorang pun yang datang.
"…Kampret…."
I Like It Hot and Fast (And Yummy)
Chapitre 4
By : Biskuit Coklat Hati
Disclaimer : Hetalia isn't mine, mind you. No financial benefit is being reaped from this act of fiction so...
Pairing : Het deh pokoknya. Nggak hanya RomanoXIndo doang, tenang aja!
Genre : Gourmet!AU. romance. (dry) Comedy. Drama.
Warning : Fem!Indonesia, crack-pair, OOC tingkat ASEAN, kesalahan dalam referensi gourmet, Typo, kata tidak baku dan lain-lain, beberapa kesalahan dalam referensi hetalia, mungkin adegan rate M di bagian-bagian selanjutnya jadi di tag sebagai rate M saja deh. No Mary Sue. Sorry to disappoint you, Mary-Sue Hunters. Dan mungkin HET pairing akan dihint disini. (No Yaoi, tho. Only bau Yaoi doang.)
.
Mai Nguyên : Vietnam/Tino Väinämöinen : Finlandia/Berwald Oxenstierna : Swedia
.
Chapter 4 : Simfoni Kamar Temaram parte une
.
Udara dingin yang menyerang Bumi sepertinya masih ingin menyerangnya walau dia sudah memakai berbagai macam perlindungan. Dengan sumpah serapah, Bumi duduk didepan restoran seperti gelandangan kecil yang menunggu orang lewat untuk memberinya makanan atau uang. Matanya memandang kota Paris yang lengang—orang-orang yang lewat terkadang hanya orang yang berolahraga ("Orang gila," bisik Bumi dengan gidikan. Bumi benci lari pagi.) atau orang dengan pakaian mencurigakan. Bumi akhirnya menghela nafas, karbondioksida yang keluar dari mulutnya berubah berwarna putih di udara. Tidak disangka Bumi akhirnya bisa memijakkan kaki di ranah Paris, tempat asal Pot-au-feu(1) yang dahulu sempat membuat Bumi ingin jadi patissiêre saja daripada chef. Dulu Bumi merengek-rengek minta ayahnya untuk memperbolehkannya ke Perancis yang mana langsung ditangkis oleh ayahnya. Alasannya? Apalagi kalau bukan kekurangan uang. Saat itu memang bisnis ayahnya yang notabene seorang pemilik sekaligus executive chef restoran sedang morat-marit, dan jelas sekali pergi ke Perancis tidak masuk ke dalam agenda miliknya.
Mengesampingkan ingatan tentang ayahnya, Bumi menutup mata.
Semalam, terdengar suara-suara mencurigakan yang Bumi dengar dari ruang kerja Elizaveta.
Y-ya, Bumi mengerti kalau mereka adalah sepasang sejoli yang sudah lama tak bersua atau apa, dan mereka berdua pasangan baru lagi, dan sepertinya mereka saling mencintai, dan... yah, dan dengan dan-dan lainnya. Tapi APA MEREKA HARUS SEKERAS ITU? Karena sepertinya orang-orang yang tinggal lima puluh mil jauhnya masih belum denger, deh?! Bumi menenggelamkan wajahnya ditangannya. Sekarang, siapa yang dia harus salahkan atas lahirnya kantung mata tidak diundang di bawah mata Bumi? Siapaaa? Apa? salahkan pada rumput yang bergoyang? Gundulmu!
Bumi senang bermonolog sendiri, ya.
Maksudnya, ayolah. Bumi mengerti kok kalau setiap orang punya keinginan biologis, keinginan seksuil, yang mana pernah dijelaskan di reproduksi bab sebelas di SMA tanah air. (Bumi saja masih ingat kok.) bahkan gymnospermae dan ubur-ubur perlu bereproduksi untuk menghasilkan keturunan. Tapi? Bisa dikecilinaja nggak suaranya? Nggak usah jauh-jauh, diredam saja juga kan bisa. Kalau saja ini dunia Harry Potter dan Bumi memiliki tongkat berbulu phoenix lentur seperti Harry Potter, maka dia bakalan melemparkan mantra 'Muffliato'(2)ke kamar Elizaveta. Ya, ya Bumi tahu Muffliato bukan digunakan untuk menenggelamkan suara orang-orang—Muffliato digunakan supaya orang-orang tidak mendengar pembicaraan kita. Tapi karena itu satu-satunya sihir yang diingat Bumi, terpaksa Bumi hanya mengandaskan sihir tersebut.
Dengan muka sengsara kekurangan tidur, pulsa, dan uang, Heroin kita yang sekarang tengah bengong lagi-lagi ngebengongin hal tidak jelas.
Seperti misalnya, andil Pak Francis dalam penyamaran Bumi.
Sebenarnya Bumi tidak mengerti apa maksud dari Pak Francis—menyuruhnya untuk menyamar jadi laki-laki. Tidak ada faedah dan kaidahnya sama sekali, pikir Bumi. Bumi sudah ingin menuntut Pak Francis ketika ingat kenalan-kenalan Pak Francis yang 'berotot' secara finansial. Bukan hanya Bumi akan kalah sebelum berperang, bisa-bisa Bumi dilemparkan ke penjara. Bumi ingin protes, tapi tatapan Pak Francis membuatnya mengunci mulutnya dan melempar kunci itu jauh-jauh. Bisa dibilang, pria dewasa berwajah lembut dan berambut gondrong itu sedikit mengintimidasi. Akhirnya setelah berdebat kusir, Bumi bertanya pada Pak Francis kenapa dia diharuskan utnuk menyamar jadi lelaki.
"Karena aku inginnya begitu." Tidak bertanggung jawab dan pendek. Tamat kalimat.
"Oh, dan Hatta juga inginnya begitu." Orang tua kampreeet, pikir Bumi yang tiba-tiba ingin mencari pisau dan melemparkannya ke benua Asia Tenggara sana, lebih tepatnya ke pria berwajah lempeng dengan kacamata tebalnya. Bukan hal yang sulit untuk menyamarkan Bumi menjadi seorang lelaki, karena dari sananya saja dia sudah kelihatan cukup androgynous—setengah-cewek-setengah-lelaki. Mona, dengan wajah datarnya, menepuk bahu Bumi dan berbisik dalam bahasa Inggris patah-patah, 'patient.' Sepertinya wanita berkacamata dan berwajah manis ini sudah kerasan dengan perilaku hiperaktif tuannya, dan merasa memiliki kewajiban untuk membimbing satu lagi korban bully Francis. Perjanjiannya adalah : dia harus kompeten, profesional, kreatif dan jenius di dapur. dan yang kedua, jangan sampai ada yang boleh tahu identitas sebenarnya Bumi Adhiswara kecuali Francis mengizinkan orang yang bersangkutan tahu. Bumi bahkan punya kertas perjanjian berisi tanda tangannya untuk menyetujui kedua kondisi diatas. Bumi sempat ingin marah tapi tidak jadi. Memang gampang pura-pura jadi laki-laki? Tapi Francis inginnya seperti itu, dan Pak Hatta maunya begitu, jadi yang bisa Bumi lakukan hanyalah makan tanah, makan hati, dan makan nasi.
"Ngapain kau?"
Suara itu membuat Bumi mendongak, dan dia segera melihat Mai Nguyên—seorang cewek Vietnam manis yang merupakan salah seorang servant. Bumi mengerjapkan mata, dia kira dia bakalan sendiri sampai mati kedinginan. "Ka-kau Engel(3)..." ucap Bumi dengan bergemeletukan gigi. Tidak baik diam ditengah salju begini, ya. Dia harus bergerak jika lain kali dikerjai Lovino. Catat. Wajah Mai berubah sedikit merah, "Apa-apaan sih? Tidak usah kelihatan seperti orang mati begitu, dong! Lebih baik kita cepat masuk sebelum kita berdua terkena hipotermia." Mai menarik tangan Bumi. Biasanya, Mai sangat dingin terhadap Bumi, tapi bukan dingin yang nyinyir. Lebih ke arah dingin yang tidak mau ikut campur. Ternyata wanita ini baik juga, ucap Bumi terharu. Kepalanya sudah terkena frostbite jadi setiap orang yang berpotensi menyelamatkannya dari kejamnya salju akan dianggap sebagai seorang Malaikat oleh Bumi. "Kamu anak baru kan? yang buat orang-orang dapur ribut?" Ucap Mai kemudian. Bumi mengangguk, masih menikmati rasa hangat yang ditimbulkan oleh heater restoran. Suasana langsung hidup ketika ornamen lampu dinyalakan.
"Kau tidak seperti yang mereka bicarakan." Mai berkata tak acuh.
"Memang apa yang mereka bicarakan?" tanya Bumi gagu.
"Mereka membicarakanmu seperti mereka membicarakan titisan Beelzebub." Bukan indikasi yang bagus untuk Bumi jika diasosiasikan dengan Iblis Keserakahan, namun Bumi tetap diam saja. "Dari mana kau berasal?" tanya Mai sambil menuju ke staff room. "Indonesia." Ucap Bumi, yang hampir masuk ke staff room cewek. Bumi langsung melihat sisi positif datang paling pagi—tidak bakalan ada yang mengintip! Sepertinya, jika dia pindah dari rumah Roderich dia harus mencari kosan yang lebih dekat dengan restoran supaya bisa datang pagi setiap hari. "Kukira kau orang Thailand," ucap Mai dari staff room cewek. "Kenapa kau berpikir begitu?" tanya Bumi mengencang baju dalamnya supaya dadanya tidak terlalu menonjol. Torso, cek. Pinggul, cek. Baju panjang, cek. Tinggal rambut. "Karena wajahmu seperti wajah perempuan. Jadi kukira kau transgender."
Hampir saja jantung Bumi copot dan say goodbye ke trakeanya.
"A-aku memang sering dikatai mirip perempuan, tapi aku perempuan." Ucap Bumi Adhiswara dengan suara bergetar. Bodoooh, jerit Bumi dalam hati. Bumi bukanlah pembohong yang paling andal, tapi dia juga bukan pembohong yang imbisil. Tapi kalau tiba-tiba diserang seperti itu siapa juga yang tak akan kaget? Mai hanya mengangguk sedikit tidak percaya (mungkin dia masih berfikir kalau Bumi itu transgender) dan melengos pergi ke kasir. Beberapa menit kemudian, orang-orang berdatangan, ada yang mukanya luar biasa pucat, ada yang kemerahan, dan ada yang kelihatan senang. Mereka menyapa satu sama lain dan berganti baju. Bumi segera keluar dari staff room cowok ketika orang-orang mulai memenuhi tempat tersebut (siapa yang dengarn sukarela mau melihat cowok-cowok tanpa baju? Bukan Bumi, yang pasti.) Bumi dengan sigap menuju ke dapur dan menggosok konternya supaya bebas minyak, mengambil sarang laba-laba di sudut ruangan, menyapu dan mengepel hingga bersih. Ketika dia selesai, orang-orang sudah dipanggil untuk memulai briefing pagi. Yang memulai briefing tersebut adalah [si anjing herder dari Italia] sang sous chef berwajah lembut nan tampan, Lovino Vargas. Dia seperti biasa melayangkan ancaman yang keras kepada siapapun yang lalai dalam melaksanakan tugas. Rasanya seperti berada di akhirat, menunggu untuk dihitung amal, pikir Bumi sedikit horor. Orang-orang kelihatan seperti barisan tentara Jerman dan Lovino adalah Hitlernya. (Mr. Kitchen Nazi!)
"Oi, anak baru." Siapa lagi kalau bukan Bumi? Dengan muka kaget Bumi memandang Lovino yang melemparnya pandangan dingin. "Iya, kau, bastardo. Kenapa bengong? Kau suka sekali bengong, ya? Apa berikutnya aku biarkan saja kau bengong dalam ruangan pendingin?" kejam, pikir Bumi yang wajahnya langsung memerah malu dan marah. Para servant dan beberapa orang disekitar mereka berbisik-bisik, bahkan ada yang tertawa kecil. Dengan sedikit menunduk Bumi hanya menghela nafas dan berkata kecil, "Maaf." Yang mana diabaikan oleh Lovino. "Tidak ada gunanya aku cuap-cuap disini lagi. Pergilah kalian ke pos kalian. Aku tidak akan memaafkan kelalaian. Mengerti?" dengan itu orang-orang segera pergi ke dapur, staff room, kasir, dan beberapa tempat lainnya. Bumi, yang masih sedikit malu, berjalan cepat menuju dapur.
Apa-apaan itu? Kenapa dia malah memarahi Bumi? Memang sih, Bumi yang salah karena sudah bengong tanpa ada alasan yang jelas. Namun apa perlu berkata sekeras itu kepada Bumi? Sumpah serapah keluar dari kepala Bumi, membuat Bumi semakin sebal dan marah kepada Lovino.
Dapur tengah melaksanakan Mise en Place. Pertama-tama, adalah persiapan daging-dagingan, unggas, telur dan ikan. Dalam kurun waktu beberapa menit saja, barang-barang perak sudah menumpuk di wastafel. Kalau sudah dipakai untuk memotong daging dan unggas, pisau dan teman-temannya memang harus segera dicuci bersih, begitupula dengan tempat pemotongan daging dari kayu. Ketika menyiapkan daging dan sayuran pun harus dipisah. Kebersihan sang pemasak juga harus dilihat secara teliti. Banyak aturan jika ingin ikut serta dalam Mise en place, yaitu adalah memakai celemek dan topi tinggi, mencuci tangan, menggunakan sarung tangan agar tangan tidak berbau dan selalu menggunakan sendok untuk mencicipi makanan. Ketika mengolah susu, yang merupakan bahan vital dalam pembuatan masakan Perancis, juga harus diperhatikan. Ada banyak cara untuk mengolah susu, yaitu pasteurisasi, homogenisasi dan fortifikasi. Harus memperhatikan suhu dalam proses pasteurisasi, harus memperhatikan globula lemak agar tidak terjadi emulsifikasi dalam proses homogenisasi, dan harus melihat banyak atau tidaknya protein yang terkandung dalam suatu susu jika hendak melakukan fortifikasi. Jika tidak, konsumer akan kelebihan protein dan mungkin bisa mimisan!
Bagaimana Bumi bisa tahu semua ini, jelas dia tahu dari membaca buku masak-memasak dalam bahasa Indonesia turunan Ayah maupun bahasa Perancis turunan kakeknya. Memang darah pemasak sudah ada semenjak kakek Buyut Bumi. Semenjak kecil, kakeknya suka memasakkan dia masakan Perancis, apalagi ayahnya merupakan chef executive restoran Perancis, makin kenallah Bumi dengan istilah-istilah Perancis macam ecumer(4) dan stock(5). Keinginan Bumi untuk menjadi saucier bulat ketika dia berumur empat belas tahun, saat melihat kompetisi memasak yang diikuti ayahnya dan Pak Hatta. Dadanya seperti berdebur keras melihat cahaya-cahaya yang dihasilkan oleh kerlipan perak, suara patukan pisau, bau manis daging yang digoreng, dan rasa meledak yang dihasilkan escargot di dalam mulut. Semenjak itu dia masuk ke sekolah tata boga di Indonesia, meminta bantuan Pak Hatta, magang, magang, magang dan magang.
Pokoknya, Bumi sangat suka masak. Titik.
Jam sebelas, seluruh kru beristirahat. Ada yang tidur sejenak, ada yang mengobrol, mengecek mail, makan. Kebanyakan sih, makan. Mungkin kalian berfikir orang restoran seperti mereka akan makan makanan yang fancy dan keren, namun tidak. Mereka malah memakan makanan yang bisa membuat Chef Executive mereka sendiri, Arthur Kirkland, membalikkan meja dengan tampang orang gila. Biasanya mereka memesan Fish and Chips atau malah Hamburger di Mcdonald sisa tadi malam! Luar biasa. Alasannya sih, karena lebih mudah dan cepat. Sejam beristirahat, mereka memulai kembali Mise-en-place. Dimulai dari memotong bahan-bahan yang rentan layu, seperti brussel sprout(6)atau celeria(7). Brussel sprout harus dimasak dengan susu segar supaya sulphurous odor yang dikeluarkannya tidak menyengat dan membuat orang pusing. Sementara celeria tidak cukup cantik untuk menjadi hiasan, jadi harus diberi trik agar celeria terlihat menawan. Ketika memotong pun harus hati-hati—jika tidak, lokus-lokus didalam sayuran akan ikutan rusak, menyebarkan asam, sehingga sayuran jika didiamkan akan seperti sayuran yang sering kalian lihat didalam kulkas setelah dipotong. Layu dan tidak memberikan selera.
Walaupun penat, capek, makan hati, bikin otot meletot, kepala pusing, lapar, dan haus, Bumi tidak main-main ketika dia bilang dia bahagia dikelilingi orang-orang berbaju putih yang sudah mendedikasikan diri mereka kepada makanan selama bertahun-tahun.
Jam empat, restoranpun dibuka. Pengunjung seperti bos-bos perusahaan besar, ibu-ibu gendut yang suka makan, turis-turis kaya, semuanya datang kesini. "Whaaah," bisik Bumi. "Oi, ngapain malah bengong melihati tamu? Cepat bantu memotong bawang sana, Sous chef memelototimu!" geram Khong dari belakang Bumi. Dengan sigap Bumi segera berbalik ke dapur, meninggalkan Khong yang menghela nafas. SEREM, jerit Bumi dalam hati melihat wajah Lovino yang seperti arwah penasaran tersebut. Tubuh Bumi sudah sangat pegal lari kesana kemari, orang-orang tidak membiarkan dia berhenti sejenak. Malah tadi Bumi hampir saja terpeleset.
"Bumi," seru Mai. "Kau dipanggil owner."
Serentak mata memandang Bumi seperti lesatan anak panah. Bumi mengangguk sedikit, merasa ngeri jika harus bersiborok tatapan dengan salah satu commis de chef atau handkitchen. Kecemburuan bisa mentransformasi seseorang jadi orang lain yang menakutkan. Dengan sedikit gemetaran Bumi berlari keluar dari dapur menuju ke ruangan pria eksentrik dengan janggut halus tersebut.
"Oooh, cepat sekali, Mon petit gateau(7)! Aku kira akan lebih lama, staminamu cukup kuat yaa... bagaimana dengan staminamu diatas ranjang?"
Suara sang owner yang rendah tersebut membuat Bumi menaikkan alis. "Bukankah anda tidak memerlukan stamina jika sedang tiduran diatas ranjang? Ah, sudahlah, tidak penting. Ada apa anda memanggil saya kesini, Pak Francis? Oh, dan jangan panggil aku petit. Tinggiku seratus seratus tujuh puluh lima senti jika anda ingin tahu."
Francis terdiam sejenak sebelum tertawa terbahak-bahak. "Marvelous! Sangat naif, seperti yang sering Hatta bilang. Aah. aku sangat senang." Francis berdeham. "Maaf aku memanggilmu disaat seperti ini, bebé(8). Tapi seperti yang kita ketahui, kau ingin mendapatkan posisi saucier, bukan?"
Bumi mengangguk sedikit kepo.
"Jadi semenjak tadi aku memikirkan bagaimana cara agar semuanya bisa merasakan keadilan!" Francis tersenyum dengan wajah tampannya. "Setelah berpikir berjam-jam, akhirnya aku mendapatkan penglihatan. Aku akan mengadakan sebuah even setiap sebulan sekali. Yaitu adalah fighting event."
Bumi mulai mengerutkan dahi.
"Fighting event?"
Francis tersenyum penuh kemenangan. "Yap. Dengan begitu, kamu pasti bisa mencapai posisi saucier dengan cukup cepat!"
"Maksud anda?" Bumi mengerutkan dahi tambah dalam, kebingungan. "Cara mainnya simpel—kau hanya perlu menantang orang yang kau ingin tantang dalam pertandingan adu memasak. Misalnya kau ingin menantang viande, maka kau akan bertanding dengan viande tersebut dan yang menang akan menjadi viande baru. Tentu saja, tidak setiap orang bisa ikut event ini. Hanya orang-orang yang masuk kualifikasilah yang dapat mengikutinya." Ucap Francis enteng. Bumi membelalakkan matanya. "Anda serius? Maksud saya... mengganti seseorang sebegitu mudahnya... apa anda benar-benar serius?" tanya Bumi ngeri dengan keputusan Francis yang begitu dangkal dan menakutkan. "Tentu saja lombanya tidak hanya sekali dilakukan! Supaya bisa menjadi seorang saucier, kau harus menantang seluruh commis de chef saucier, setelah itu baru kau tantang saucier restoran ini!" Francis mengangguk, puas dengan pemikirannya. "Haah? Yang benar saja, Pak?" Bumi mengerutkan dahi dan melebarkan mata, tidak percaya dengan Francis. Memang sih, hal itu akan mempermudah proses promosi Bumi, tapi... apa hal ini benar-benar tidak apa-apa?
"Tak usah pasah wajah begitu, kau hanya tinggal menurutiku. Omong-omong, kau adalah orang pertama yang tahu akan hal ini, jadi jangan beri tahu yang lain! Naah, sekarang kau keluar dari sini dan jangan ganggu aku lagi, okee? Aku mau menulis makalah! Muach! Au revoir!" blam! Dengan itu pintu tertutup, meninggalkan Bumi yang bingung dan Mona yang menaikkan alis, bingung karena ikut diusir dari ruang pak Francis. "Apa yang dipikirkan bapak itu..." Bumi menggarukkan kepala. Apa dia bisa seenaknya begini? Bagaimana jika standar restoran turun dan bintang michelin restoran ini dicopot? "Jangan memikirkan hal yang aneh," kata Mona dalam bahasa Perancis. "Pak Francis lebih dari bisa menangangi masalah restoran ini. jika Dia menginginkan sesuatu seperti itu, maka dia akan mendapatkannya. Tenang saja, aku tahu ada sesuatu dibalik ini semua." Mona berkata lembut sebelum meninggalkan Bumi yang bingung dan penuh perasaan khawatir.
.
.
.
.
.
.
Jam ke empat belas mereka di restoran Le Roi, dapur saat itu padat merayap. Semarak suara orang-orang berteriak di dalam dapur saling sahut menyahut. Hal ini sudah seperti makan siang untuk Bumi yang sekarang sedang mencuci dalam kecepatan super duper tinggi. Tangannya sampai berdarah tergores pisau ketika dia mencuci blade. Sekarang, tangannya dibebat oleh perban berwarna putih yang sudah diberikan iodine. Keringat mengalir dari leher Bumi, membuat rambut pendeknya lepek. Bumi sebenarnya sudah capek disuruh mengupas kentang dan mencuci piring, namun apa mau dikata, hatinya masih belum siap jika dia diharuskan untuk menantang setiap orang yang ada disana. Jika mendengar instruksi dari Pak Francis, itu berarti dia harus mulai semuanya dari menantang commis de chef-nya saucier, dan kemudian menantang saucier-nya sendiri. Bukan berarti Bumi tidak bisa, hanya saja Bumi hanya merasa kecil hati. Orang-orang disini boleh berasal dari belahan dunia lainnya, namun mereka sudah memenuhi setengah hidup mereka di Perancis. Bukan hal mudah menggeser seorang Raja dari kerajaannya.
Untuk sementara, Bumi hanya akan menunggu.
[Bumi pengecut? Memang.]
Bumi tengah mengupas (lagi-lagi) kentang ketiga puluh tiga ketika terdengar suara tangisan yang menyayat dari tengah ruangan dapur yang luas tersebut. "Apa yang kau lakukan, bodoh?" seru seorang pria yang, Bumi kenali, bernama Berwald Oxenstierna. Pria tampan dengan mata biru tunik hangat, namun tetap dingin dan datar. Dia adalah entreé dari restoran Le Roi, yang memegang makanan pembuka atau appetizers atau hours d'oeuvre atau amuse bouche restoran ini. Sementara yang menangis adalah cewek yang selama ini Bumi kenal bernama Tino Väinämöinen, commis de chef berdarah finlandia bagian entreé. Dia kelihatan sangat ketakutan dan pucat. Orang-orang terlihat bingung dan ingin tahu.
"A-aku… benar-benar t-tidak sengaja…" omongan Tino terdengar tidak koheren ditengah-tengah isakan dan isapan ingusnya. "Jangan mengelap ingusmu dengan tangan!" Berwarld kelihatan bingung antara menenangkan pria manisdidepannya atau menyelamatkan amuse-bouche disampingnya. Suasana chaos. Bumi menggelengkan kepala, berusaha untuk fokus. Masih ada sisa sepuluh kentang yang harus dikupas bersih. Tapi tetap saja, kepalanya berputar kearah Tino, rasa keibuannya keluar. "Ada apa, sih?" Tanya Bumi dengan perasaan tersayat melihat tangisan Tino. "Tino salah memasukkan perbandingan mayonnaise dan minyak zaitun. Dasar freak, kayak begitu saja ditangisi. Yaah, memang sih, sous chef kelihatan seram sekali kalau dia marah, tapi tak usah kelihatan begitu ketakutan dong…" Ucap salah satu handkitchen, sepertinya cukup up-to-date dengan perkembangan dapur.
Bumi memucat. "Dia.. sedang bikin apa?"
Handkitchen itu menaikkan alisnya. "Kenapa pengen tahu?"
"Jawab saja," ucap Bumi sebal kata-katanya diputar balik terus menerus. Sang lawan bicara menaikkan bahu dan kemudian dia berkata, "Cocktail Udang Kecil dan apaa gitu," dan dengan itu dia pergi begitu saja, meninggalkan Bumi yang semakin memucat. Bisa dibilang bahan-bahan yang dibicarakan oleh handkitchen itu adalah bahan untuk membuat saus mayonnaise. Bagaimanapun, Cocktail Udang Kecil dan Alpukat adalah entreé. Udang kecil yang sudah dibakar dengan cocktail akan ditaruh didalam setengah alpukat yang sudah diambil bijinya, dan disiram dengan saus. Perancis terkenal dengan 'Kultur Saus'. Saus mereka adalah saus terbaik sedunia. Jadi bisa dibilang makanan aslinya akan gagal jika saus gagal. Dalam kasus ini, perbandingan mayonnaise dan minyak zaitun di saus ini harus sama, jika tidak, akan terjadi emulsifikasi atau pengentalan, hal yang dihindari. Jika itu terjadi, tekstur saus akan berubah dari kental delicious jadi kentalnya sagu. Benar-benar tidak pleasant di mulut maupun di perut.
"Ada ribut-ribut apa ini?" suara bariton yang familiar dan disegani itu terdengar, dan semua kepala tertarik kearah sang sous chef berambut cokelat tanah tersebut. Wajahnya yang dingin berputar jadi amarah yang teredam ketika melihat saus hancur didalam wajan. "Apa ini? Aku tanya apa ini, Väinämöinen?" penekanan Lovino terdengar begitu menggelegar. Berwarld hendak angkat bicara ketika Lovino memandangnya, "Tidak usah iku campur, Bastardo. Aku Cuma punya urusan dengan si tengik ini. Jawab aku. Apa kau hendak membuat saus dengan ini, Väinämöinen? Kalau iya, lebih baik kau segera keluar dari restoran ini dan jangan jadi commis de chef selamanya. Kau gagal." Suasana hening seketika. Namun Lovino, secara mengejutkan, bukannya menusuk Tino dengan blade, malah beralih ke wajan penuh dengan saus sagu gagal didepannya. "Sekarang, apa yang bisa kita lakukan..."
"Air." Bisik Bumi. Prinsip emulsifikasi sama dengan tanah lumpur yang berat dilapangan. Jika diberikan air, akan terjadi pendispersian, dengan begitu saus dapat tertolong. Dimana dia mempelajarinya? Di restoran gastronomi tempat Pak Hatta bekerja dan dia magang dulu. Memang sulit magang disitu, namun banyak hal yang Bumi pelajari.
Lovino tidak mendengar Bumi. Dengan ragu-ragu, Bumi membuka mulutnya, hendak mengulang perkataannya, namun Lovino tiba-tiba berkata, "Oi, Oxenster atau apalah. Ambil air." Berwarld dengan sigap mengambil air yang berada dalam botol. "Kau, yang sedang bengong. Ambil udang-udang ini dan tusukkan dengan tusuk gigi." Ucap Lovino dengan wajah tenang, namun tangannya sibuk mengocok dan memasukkan air ke dalam wajan. Orang-orang memandang Lovino heran bercampur takjub. Tidak sampai semenit setelah dikocok, saus tersebut berubah menjadi kepekatan hijau muda yang indah lagi. Semua orang mengeluarkan suara 'oooooohhh' yang kuat, yang tidak diindahkan oleh Lovino. Dengan cepat, Lovino menuangkan beberapa tetes saus mayonnaise tersebut keatas udang tusuk, menambahkan potongan alpukat dan tiga piring amuse-bouche pun jadi. "Ngapain kalian, orang-orang sinting? BALIK KE POS KALIAN!" bentak Lovino, membuat orang-orang berlari kecil sambil bergidik ke arah pos mereka.
Tino yang masih berada di lantai, terlihat malu dan terhina. Dia terisak sedikit ketika tangan Bumi menyentuh bahunya. "Kau... tidak apa-apa?" tanya Bumi, wajahnya sarat akan kekhawatiran. Tino memandang Bumi sedikit hampa, namun mengelap matanya dan mengangguk kecil. Kelihatan sekali kalau dia berbohong. "Ayo, berdiri. Dua jam lagi toko akan tutup, kau akan menyesal jika tidak melakukan sekuat tenagamu." Bisik Bumi dengan lembut ditelinga Tino yang lebih pendek lima senti darinya. Tino tidak bersuara, namun wajahnya kelihatan kaget, dan kemudian penuh determinasi. Dengan langkah cepat menuju ke Berwarld. Bumi tersenyum kecil sebelum dia kembali ke posnya, menyelesaikan kentang-kentang yang harus dimashed.
Sementara itu, Lovino yang tengah memasak main course, kepalanya penuh dengan Bumi.
Dia bukannya tidak mendengar bisikan Bumi. Dia mendengarnya dengan sangat jelas. Dia hanya tidak habis pikir akan bagaimana Bumi melakukan hal itu—menemukan jawaban bahkan sebelum Lovino mendapatkannya. Lovino sudah biasa menjadi tempat bergantung—orang-orang bisa merasa takut pada Lovino, namun tidak pernah benar-benar benci karena Lovino adalah orang yang dapat diandalkan. Namun tadi... bagaimana bisa dia tahu penyelesaiannya? Bahkan Lovino harus berpikir untuk mendapatkan jawabannya. Kerutan di dahi Lovino bertambah dalam.
Strike two.
Dan sedikit rasa kagum.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Glossarium :
Pot-au-feu : tar Perancis
Muffliato : mantra HerPot EHEHEHEHE.
Engel : angel
Ecumer : pembuangan buih dan kotoran dari sup
Stock : susu?
Mon petit gateau : my little cake
Bebé : baby, tapi pemakaiannya bukan baby dalam bahasa Inggris. Lebih ke baby nya bayi, soalnya muka Bumi (menurut Francis) kayak Bayi.
Mulai sekarang, saya akan coba untuk balesin review lewat komen... abis pegel juga kalo harus nulis di sini hehe :9
OMONG-OMONG, ADA YANG NONTON GEKKAN SHOJO NOZAKI-KUN GAA? NOZAKI KAMPRET BANGEETTT! BUAT YANG BELOM NONTON TRUS SUKA HUMOR-ROMANCE GENRE, NONTON ITU DEH! SERUUU!
Pojok-balesin-comments :
Jong Aeolia : Loha juga! U-uh, sepertinya anda tipe-tipe aneue-san ya... makasih, makasih! Kepala saia sampe bingung gimana cara nyelipin semua tips tips masak yang tidak akan dipakai dalam perumah tanggaan ini. Daaan soal humor, saia ga ngerasa ini lucu, malah ngerasanya ini garing binti kriuk. Jadi, apa mau dikata... dan soal yang glosarium, uh-huh, sepertinya emang ada yang luput, tehepero. Duh jadi malu nich :9 HAHAHA IYA NIH SENGAJA ARTHUR DIBUANG KE LAUT WINA. [[ditabokin hantunya arthur]] omong-omong saya bisa dipanggil sha-cchi atau shi ajaaa hehe :D/D'aho : ja-jangan-jangan anda pemilik wajah androgini yang saya idam-idamkan ingin bertemu? HUAAAAAA YANG BENERRR JANGAN-JANGAN MUKA ANDA MIRIP SAMA MITA D'VIRGIN? MAU LIAT FOTO BOLEH GAA? OOM SENANG SAMA WAJAH ANDROGINI LHOOO [[menjijikkan]] iya ELI SAMA RODERICH LAGI MAIN SEME UKE :9 [[ambigu]]/AnonAnon : i-iya, sumimasen deshita... banyak banget typo ya, maaf banget. Emang ini bukan excuse sih, tapi laptop yang kemarin dipake beda sama laptop yang ini... yang disana 'a', spasi, sama 'c'nya ga bisa, jadii... [malah curhat] btw, aku suka banget seiyuu-ka lhoo! Aku suka karangan minami-sensei! xDDD/nfebby1 : i-iya, kenapa ya... diatas sudah dijelaskan kok... /digaplok]/ChocoDdy : TEHEPERO. :9 iya aku juga bergelinjang membaca ulang momen AusHun... sekarang malah ada momen SweFin... nggak rate M sih... tehe...
