"Non, non! C n'est pas possible!(1)"
Rasanya ketika ibu-ibu gendut bermuka jutek dengan tahi lalat besar disamping hidungnya berkata begitu, tangan Bumi gatal ingin melayang kemana-mana. Bagaimana tidak? Rasa-rasanya Bumi sudah bercekcok mulut ala debat kusir dengan si ibu-ibu bureaucracy ini sampai mulutnya berbusa-busa, sampai tenggorokannya kering minta diberi istirahat, sampai kepalanya berdenyut-denyut saking sebalnya, tapi yang semenjak tadi ibu-ibu ini katakan sebagai counter-attack adalah : "Ce n'est pas possible." Gundulmu, rutuk Bumi dalam hati.
Ada yang bilang, ketika kita berada di meja birokrasi orang Perancis, sebagus-bagusnya yang bisa kita dapatkan adalah kata 'non' dan 'c n'est pas possible'. Bumi mendapatkan keduanya. Benar-benar bonus yang tidak menyenangkan.
"Tapi Madame, sudah jelas sekali saya berikan work authorization(2) yang sudah diberikan agen saya. Lalu kenapa pula saya tidak bisa membeli sebuah residence? Saya kan butuh tempat untuk berlindung, untuk hidup dan makan!" cecar Bumi sewot. "Dengar ya, anak muda. Kau boleh punya work authorization apalah itu sesuka kau, tapi bukan berarti kau bisa melakukan apa yang kamu mau! Ingat, disini Prancis, bukan negara milikmu sendiri! Kalau kau pikir kau bisa hidup disini dengan mudah, pikir lagi!" sumpah tak habis pikir Bumi dibuatnya. Mana nyiprat lagi. Tergoda Bumi untuk berteriak, "God, Woman, say it don't splatter it!" tapi sepertinya berbicara dalam bahasa Inggris, dalam konteks ini, bisa membuat sekuriti untuk menendang bokong Bumi secara personal(3). Bumi memang numpang tinggal di rumah Elizaveta, tapi serius, tidak mungkin dia terus menerus menumpang disitu sampai hidupnya di Prancis mapan! Rasanya tidak enak sekali, padahal Elizaveta sudah punya suami. Tidak tahu diri sekali dia kalau terus menerus menumpang disana.
"Pergi, pergi! Aku tidak mengurusi peranakan asing sepertimu!" tanpa sengaja salivanya menciprat diwajah Bumi. Entah karena saliva-nya, atau bau mulut yang tidak tertahankan, atau karena memang bahasanya yang sudah tidak dapat diterima oleh Bumi, Bumi serta merta meledak.
"Good gracious, woman, say it don't fucking splatter it!"
.
.
.
.
.
.
I Like It Hot and Fast (And Yummy)
By : Maeshika
Disclaimer : Hetalia isn't mine, mind you. No financial benefit is being reaped from this act of fiction so...
Pairing : Het deh pokoknya.
Genre : Gourmet!AU. romance. (dry) Comedy. Drama.
Warning : Fem!Indonesia, crack-pair, OOC tingkat ASEAN, kesalahan dalam referensi gourmet, Typo, kata tidak baku dan lain-lain, beberapa kesalahan dalam referensi hetalia, mungkin adegan rate M di bagian-bagian selanjutnya jadi di tag sebagai rate M saja deh. No Mary Sue. Sorry to disappoint you, Mary-Sue Hunters. Hint!Het and hint!Harem, probably.
.
Chapitre 5: Simfoni Kamar Temaram, parte deux
.
.
.
.
.
Sepertinya pilihan Bumi untuk merahasiakan hunting rumahnya dari Elizaveta dan Roderich membuahkan hasil yang busuk.
(Memang sih, rumah Roderich besar dan lega, apalagi dia menolak ketika Bumi sudah hendak membayar sewa kepadanya. Jadi secara tidak langsung, Bumi gratis tinggal dirumahnya! Kurang baik apa coba. Namun... tidak mungkin juga dia mengadu kepada kedua sejoli itu kalau dia mau pindah rumah. Karena siapa coba, Bumi ingin pindah rumah ditempat pertama? Itu karena mereka! Mau bilang apa dia kalau dia ditanya kenapa dia mau pindah? Masak Bumi mau bilang "Karena aku bosan mendengar Simponi Kamar Temaram yang sering kali kalian mainkan. Oh iya, Bung, bisa tidak kalian turunkan irama Simfoni Kamar Temaram itu jadi mezzo-piano aja? Jadi aku paling tidak bisa tidur dengan tenang. Thanks!")
(Ce n'est pas possible!)
(Bumi benci kata itu.)
Orang-orang Perancis benar-benar menyebalkan, pikir Bumi sedikit subjektif sambil duduk dalam bus menuju ke Le Roi. Maklum saja, bangsa Perancis adalah bangsa chauvinist. Hal ini diperparah dengan fakta bahwa imigran-imigran dari Negara Francophone macam Afrika atau Arab karena memang mereka kurang produktif, sementara sistem social security di Perancis benar-benar membebani ekonomi Prancis harus menanggung mereka. Wajar jika mereka tertutup dan sedikit 'lokal' dengan orang-orang asing macam Bumi. Untunglah tidak semua orang Perancis berfikiran sempitseperti itu.Seharusnya aku minta bantuan Pak Francis saja nanti, pikir Bumi setengah-bercanda setengah-putus asa. Dan apa tadi itu? Le Garant? Emangnya gue garang apa? aksen betawi heroin kita pun keluar.
Elizaveta dan Roderich sedang bepergian, (Thanks God, no Dimly-Litted Chamber Activity tonight then!) dan memang hari ini adalah hari libur, namun Bumi ingin berlatih. Dapur Elizaveta memang besar namun tidak menunjang Bumi untuk menghasilkan cuisine yang ia inginkan. Lagipula, bukankah Francis sendiri yang memberikan kesempatan eksklusif untuk Bumi? Bumi masih penasaran dan iri dengan yang kemarin—kemampuan Lovino untuk mengubah menu amuse-bouche menjadi menu amuse-bouche yang lebih baik, walau dengan bahan yang sama. Bumi benar-benar iri dengan pria ini. Jika Bumi yang menjadi sous-chef, Bumi tidak akan pernah berani melakukan hal itu, dan itu merupakan kelemahan terbesar Bumi—ragu-ragu. Keraguan hanya akan mengawani langkah Bumi, ketakutan akan menarik kaki bumi dari berpijak, dan Bumi tahu itu—Pak Hatta juga tahu akan hal itu, dan Bumi sudah berada dalam cengkraman monster bernama keraguan semenjak ayahnya meninggal, semenjak kiblat hidupnya hancur berkeping-keping.
Jadi ketika awan panas dari heater Le Roi mengelus wajah Bumi, Bumi memasang wajah penuh determinasi—dia sudah tidak sabar menuangkan ide-idenya ke atas mangkuk-mangkuk kecil, membuatsautéed meat. Ide-idea fresh yang ia pikirkan dan ia tuangkan keatas kertas corat-coret siap untuk direalisasikan. Karena restoran hari ini adalah miliknya sendiri, dia tidak perlu takut untuk menahan kemampuannya, menahan seluruh dirinya. "Huwaaaaaahhh!" Bumi berteriak dengan penuh semangat ketika dihadapannya, dapur berwarna surga perak kosong tanpa orang sedikit pun. "Emang enak banget ya kalo semua orang nggak adaaaa!" Bumi melebarkan tangan dan menarik nafas dalam-dalam, menghirup udara disana.
"Bahkan bau keringatpun nggak ada! Konternya bebas dari minyak, nggak ada suara-suara nyebelin!" entah kenapa Bumi kelihatan bahagia sekali. "Nggak ada yang manggil, 'Woy anak baru!', nggak ada yang nyuruh 'kesini, anak baru!' anak baru, anak baru…. Aku kan punya nama! Namaku Bumi Adhiswara, anak dari Prasetyo Gitosuputro dan Irma Nurmaisyah!" seru Bumi sebal. Dia segera membuka bahan-bahan yang ada didalam kulkas dan betapa senangnya dia melihat bahan-bahan tambahan yang ditaruh di plastik berwarna hitam. Terima kasih, Pak Francis, ganteng bener deh! Dengan hati senang Bumi membuka isinya dan menaruhnya diatas konter dan memulai Mise en Place. Karena kemarin amuse-bouche Chef Lovino membuat Bumi kagum bercampur iri, jadi kali ini Bumi akan membuat amuse-bouche. Chef Lovino memang hebat, pikir Bumi.
Amuse-bouche yang dibuat oleh Bumi kali ini adalahconsommé yang tidak pernah Bumi bisa berhasil membuatnya. Consommé adalah sup kaldu yang orang-orang jarang memikirkannya sebagi amuse-bouche, entah kenapa. Padahal jika dijadikan amuse-bouche, consommé adalah makanan yang sempurna. Awalnya memang disajikan untuk hours d'oeuvres(4)sih, tapi ya wong Bumi pengen bikin, kenapa tidak?
Apalagi bahan-bahannya benar-benar mendukung. Kerjaan Bumi di Indonesia memang bukan saucier, tapi bukan berarti dia tidak bisa membuat makanan lain yang tidak disauteéd. Setelah yakin dengan ketepatan rejangan dan cacahan, Bumi segera memulai kerjaannya membuat consomméyang selalu membuatnya kepayahan tersebut. Pertama-tama, campur pure tomat dengan peterseli, bawang, dan air lemon di dalam rounde. Rebus dengan air. Bumi dengan cekatan memasukkan ketiga bahan kedalamnya dan menunggu air rebus. Setelah bahan-bahan tersebut mengapung layu di atas permukaan air, dengan hati-hati Bumi menyingkirkan peterseli dan pure tomat ditengah-tengah rounde, sehingga membuat sebuah lubang tanpa apapun ditengah-tengah rounde. Ia memasukkan batang lauren, batang peterseli dan fique(5)ditengah-tengahnya.
Disinilah bagian yang sulit, yaitu adalah menjerang air rebusan dengan kertas minyak. Penjerangan ini dilakukan terus menerus secara berkelanjutan hingga warna consommé berwarna amber—atau warna kuning berlian yang cemerlang tanpa ada lemak ataupun sisa-sisa sayuran didalam sayuran. Basically, sup consommé hanyalah sup tanpa sayuran yang berwarna indah.
Tapi!
Seperti yang bisa diduga, Bumi berfikir kecewa. Kenapa?
Warna amber yang seharusnya didapat, malah menjadi warna cokelat yang tidak ketulungan. Kekecewaan yang familiar lagi-lagi meledek Bumi. Rasanya sih, enak, tapi Bumi yakin jika Lovino membuatnya maka tidak seenak buatan Lovino. Bahkan semenjak dia berada di Indonesia pun, dia memang tidak bisa membuat consommé yang sempurna seperti yang sudah dilakukan oleh Lovino. Bumi memandang kearah consommé yang ia buat. Apa yang salah, ya?
Bumi kemudian kembali mencoba mengulang consommé tersebut, walaupun proses penjaringannya kali ini lebih lama dan lebih teliti. Proses ecumér yang dia lakukan juga lebih cermat. Tapi setelah satu jam lain terbuang, bahkan hampir tidak ada perbedaannya antara consommé yang satu dengan yang lainnya. Bumi menghela nafas, sedikit merasa boros. Padahal menjadi chef Perancis tidak perlu takut untuk boros, tapi Bumi lain. Bumi dibesarkan di dunia yang berbeda dengan chef-chef Perancis yang senantiasa tidak ragu-ragu membuang consommé mereka jika sup tersebut tidak sama dengan taste mereka. Bumi memutuskan untuk membungkus hasil-hasil gagal ini dan membawanya kerumah untuk dimakan sampai habis. Walaupun begitu, rasa penasaran Bumi tidak juga terpuaskan. Lima jam kemudian, lima baskom (yang tentunya tidak penuh-penuh amat dibuat oleh Bumi) sudah tersajikan didepan Bumi. Semuanya melewati pembuatan yang berbeda—ada yang peterselinya dibanyakkan, disedikitkan, dicampur dengan air lemon, atau malah tidak memakai bawang sama sekali. Hasilnya pun beragam, tapi tidak ada yang warnanya mendekati warna sempurna amber di kepala Bumi. Memang ada yang rasanya enak, walau warnanya cokelat aneh.
Yah, Pikir Bumi sedikit enek, mungkin untuk beberapa bulan kedepan aku tak akan bisa makan consommé lagi.
Bumi menghela nafas sambil menggaruk kepala. Dengan berat hati dia mencuci piring sampai bersih dan mengembalikan barang-barang ke tempatnya. Mungkin sekarang bukanlah hari baiknya. Bumi sudah setengah jalan menuju pintu restoran ketika rambut coklat tanah dengan curl manis ke arah kiri muncul begitu saja.
"Geh!" Bumi menahan napas sambil menyembunyikan diri sendiri secara refleks. Ngapain sous chef Lovino disini? Terlambat, mata elang milik Lovino menangkap pergerakan Bumi dan dia dengan datarnya berkata, "Bastardo, bawa bokong baumu kemari sekarang juga." Mau tak mau, Bumi berjalan ala bocah habis disunat (a.k.a mati-segan-hidup-pun-tak-mau type of jalan) ke arah Lovino. "Sedang apa kamu disini? Kenapa kamu punya kunci pintu restoran ini?" interogasi Lovino seberat hisan-iwo Jepang, Tuan-Tuan! Untuk menampik tuduhan tidak beralasan secara tersirat Lovino, dengan muka tersinggung Bumi berseru, "Aku sudah mendapat izin dari Pak Francis. Kalau anda tak percaya, anda bisa menelpon pak Francis sekarang juga!" Lovino masih menyelidikinya dengan tampang curiga (tapi tetap ganteng sih, sialan.) namun kemudian melengos. "Daripada kau memegang barang-barang disini tanpa ada maksud tertentu, lebih baik kau pergi sana." Lovino menaruh jaketnya, "Aku tidak suka diganggu ketika akan memasak."
"Me-memasak?" mau tak mau Bumi sedikit kepo juga. Siapa juga yang mau melewatkan acara masak secara eksklusif bareng Sous Chef Lovino, yang kabarnya akan mengantungi satu lagi michelin di kantungnya? Tapi sayang disayang, kalau gengsi sudah ketinggian, susah turunnya. Walaupun ada tangga buat nurunin itu gengsi, sekali keukeuh nggak suka, maka jadilah Bumi tidak suka pada seseorang bernama Lovino Vargas. "Nggak usah dikasih tahu juga gue bakalan cabut," gerutu Bumi dalam bahasa Indonesia. Lovino memandang Bumi datar. "Baguslah kalau kau mau pergi." Ucap Lovino. Bumi membulatkan mata, dia esper ya!?
"Aku tidak mengerti bahasa yang kau bicarakan, namun aku yakin arti dibalik omonganmu. Dan satu lagi," intensitas mata Lovino bertambah berkali lipat ketika menatap wajah Bumi. "Bukan berarti karena kau adalah anak buah Hatta Gibran, kau bisa seenaknya. Ingat, dunia masak itu keras. Kalau kau mau tenar hanya dengan menumpang nama Hatta Gibran, pikir lagi, sialan. Kau bakalan hancur-hancuran jika kau berpikir mudah untuk menjadi kru masak Le Roi." Dengus Lovino. Bumi mengeratkan rahangnya. Rasanya magma kemarahan sudah menggelegak minta dimuntahkan akibat perkataan Lovino. Satu hal paling sensitif untuk Bumi adalah hubungannya dengan Hatta Gibran. Orang-orang menyangka dia menjadi salah satu saucier yang terkenal di Indonesia karena Hatta Gibran. Tiap kali ada kontes, dan ketika timnya menang, orang-orang langsung membisikkan namanya dan nama Hatta Gibran. Dan bahkan ketika orang-orang disini, di Perancis, tidak mengenalnya, mereka masih mengenal Hatta Gibran. Oh Tidak, Tuan. Bumi ain't gonna take your shit, ever.
"Maaf kalau sebelumnya saya lancang, Tuan Lovino," bisik Bumi dengan kemarahan yang amat sangat, tangannya terkepal kencang, dan perutnya panas. Rasanya magma itu sudah tak bisa dibendung lagi. Ah, sudahlah. Dengan bahasa Inggris yang cukup elokuen, Bumi menyemburkan amarah yang sudah dia timbun semenjak bekerja di Le Roi. "Saya ini berpendidikan. Saya tahu mana yang pantas dan tidak pantas. Menjadi seseorang yang terkenal akibat nama orang lain? Itu tidak pantas! Asal Tuan Lovino tahu, saya berada disini sekarang mungkin berkat bantuan Pak Hatta, tapi semua yang sudah saya lakukan ketika di dapur, semua kerja keras itu, saya peroleh sendiri! Sekarang sebagai dua mahluk hidup terhormat dan berakal sehat serta memiliki logika, tolong dipakai otaknya sedikit saja, Tuan. Kalau saya memang... apa kata Anda tadi? Menumpang nama Hatta Gibran? Oke, I'll take that as example. Kalau saya memang menumpang nama Pak Hatta, maka mungkin sekarang Tuan Lovino bukanlah sous chef dari restoran ini. Saya yang jadi sous chef-nya! Karena apa? karena saya menumpang nama Hatta Gibran! Siapa yang tidak kenal dia? Siapa yang mau melawan dia? Lebih-lebih statusnya untuk tidak mempunyai murid! Nama saya, Bumi Adhiswara, the one and only exclusive apperentice of Hatta Gibran, nama saya akan terkenal, buku biografi saya membumbung di perpustakaan, resep masakan saya yang rasanya seperti tahi sapi akan tetap dimuat di, paling banter, Spiegel. Tapi TIDAK! Saya malah jadi seorang handkitchen disebuah restoran Perancis. Dan bukannya saucier, seperti yang saya inginkan sedari dulu."
Hening. Lovino menatap Bumi yang jaraknya hanya tiga senti didepannya seakan kepala Bumi tumbuh jadi dua. Bumi sendiri, merasa puas dan enak, mundur selangkah dari Lovino. Bumi baru sadar kalau Lovino lebih tinggi daripada Bumi. "Berani juga kau, anak baru." Ucapan Lovino selanjutnya membuat Bumi merinding, karena sumpah demi apapun, tidak ada yang suaranya seberat dan seiblis apapun dibandingkan suara Lovino Vargas. "Jadi maksudmu adalah, kamu ingin jadi saucier?" Bumi mulai merasa keringat dingin di tengkuknya semakin deras. Perasaan bersalah dan ketakutan mulai melingkupi jantung Bumi. Kenapa dia malah lepas kendali, bodoh? Maka dengan memanfaatkan sedikit kemampuan berlari dan tungkai yang makin lama makin men-jelly, Bumi meraup muffler dan jaketnya sebelum berlari keluar restoran, mengambil kunci dan kabur sejauh mungkin. Apa? Dia akan bertemu Lovino hari Senin nanti? Itu mah urusan belakangan.
Lovino, yang tidak menyangkan kemampuan berlari anak buahnya bisa secepat itu, menaikkan alis walau amarah menggelegak dalam dada. Bisa-bisanya anak itu mengancam Lovino. Memang sih, dari segi manapun kesannya Lovino yang terlalu memojokkan. Maksud Lovino tadi cuma ingin mengintimidasi saja, dan bukannya membully apalah. Tapi Lovino merasa sedikit menikmati wajah Bumi yang ketakutan dan merasa bersalah, yang kemudian bermetamorfosis menjadi kesal, dan berubah jadi amarah. Dengan sedikit menghela nafas Lovino memandang ke arah dapur. Apa yang anak itu lakukan, ya? Semua barang-barang dapur kelihatan habis dicuci... hmmm... apa yang dia masak? Dengan sedikit kepo Lovino membuka kulkas dan menyadari barang-barang untuk membuat consommé hilang. Lovino terkikik. Ternyata dia ecek-ecek, pikir Lovino. Kalau dia ingin jadi saucier, untuk apa dia berusaha membuat consommé? Dengan perasaan kejam karena menertawakan seseorang yang ingin belajar, Lovino menaruh jaketnya dan mulai memasak. Lovino juga bukan se-setan yang orang-orang katakan—dia pun pernah belajar, dan dia pasti akan sebal ketika orang-orang bilang padanya kalau dia hanya chef ecek-ecek.
Memang dia rutin datang ke restoran untuk sekedar check up atau follow up bahan-bahan walau itu bukan tugasnya. Dia juga sering memakai dapur restoran untuk membuat cuisine baru. Lovino, diusianya ke dua puluh tujuh ini, adalah salah satu manusia paling ambisius yang pernah ada. Dia sedang mencoba untuk mengikuti kompetisi dengan timnya sendiri dan menjadi chef executive restoran terkenal. Sulit, tapi Lovino pasti bisa melakukannya. Menjadi chef executive tidaklah mudah—dia harus pandai mengorganisir bahan-bahan, anak buah, dan makanan sekaligus. Dia yang bertanggung jawab atas semua masakan di dapur. Dia juga yang menciptakan makanan (selain pastry) yang ada. Pokoknya chef executive itu benar-benar serba bisa, deh.
Lagipula, dia sudah membuat janji dengan seseorang.
Kalau dia akan menjadi chef nomor satu dan menjadi orang yang terkenal.
(ada satu lagi janji yang Lovino buat dengan orang itu, tapi… ah, simpan saja yang satu itu untuk chapter depan.)
.
.
.
.
.
.
.
(1)C n'est pas possible! : Itu tidak mungkin!
(2) work authorization : biasanya orang yang pindah ke Paris karena alas an pekerjaan bakalan dikasih surat pernyataan dari kantornya. Dalam kasus ini, Bumi dapet work authorization dari restoran tempat dia kerja dulu.
(3) Orang Perancis secara partikuler kayak punya dendam gitu sama orang-orang Inggris, entah kenapa.
(4) hours d'oeuvres : appetizers
(5) fique : buah kering
Pojok-ngeramein-suasana :
AnonAnon : Iya nggak apa-apa, anda mau review ke saya aja udah bikin saya seneng lho, hehehe :DDD AAAAAA CIUM AKU QAQAAA. Wah ada banyak saia. Kalo mau baca shojo, baca Akatsuki no Yona (HAREM FTW!), Nisekoi, Ao no Haru Ride (SAYA KEPINCUT SAMA YUKI KAJI YANG JADI SEIYUU KOU-NYAAAHHH), faster than a kiss, Last Game, HepiMeri, Secretive Ai, Buanyaaak! Saya kan penggemar shojo tehe./ChocoDdy : Francis-niisan emang keliatan ped.o tapi dia tetap tampan (teuteup) iya emang kasian banget…. [apaandah] IYAP BENAR SEKALI TAMPANGNYA JELAS BABY FACE TAPI KAYAK COWOK… YAH SILAHKAN BAYANGKAN SENDIRI SESUAI IMAJINASI HEHE. Aduh Lovino x Buminya masih lama mbak… tapi seiring jalannya waktu bakalan ada fanservice kok antara si anu x Bumi, tergantung keinginan pembaca~~/ningen : HUAH. TE-TERNYATA ADA SILENT READER YANG KOMEN…. /tepuk tangan/ /lebay/. I-iya mohon maaf… [ditabok] iya nih Nozaki kampret memang. Mungkin kalau ada kejuaraan cowok Tidak Terpeka dia yang bakalan jadi juara satunya./D'aho :Androgini itu…. Semacam makanan yang di fermentasiin gitu… ah bohong deh. Androgini itu mukanya keliatan kayak cowok-cewek gitu hehee. AH AKU JUGA PENASARAN LOMBANYA GIMANA YAAA? XDDD/Madoka : makasih udah komen! xDD ah, kalo Bumi ketahuan, ya pasti ga dipecat/dihukum karena malah atasannya (Francis) sendiri yang memaksa dia buat nyamar! Kalo dicuekin habis-habisan sih ngga tau ya~ hehehehe. Kalo nangis… hmm…. /memandangi daun melambai/ btw, menurut aku Bumi itu nama yang cukup genderless lho, bisa buat cewek atau lelaki! Karena tujuan ku disini juga bukan me-laki-laki-kan Bumi (bahasa apa itu) tapi membuat dia berada di pertengahan antara wanita tampan dan pria cantik/imut. Hehe. Hehehehehe. Okeee nggak apa-apa, makasih sarannyaaa :DD/Mitsuru Kaoki : HAAAHAHAHAHAHA INI AKU UPDATE MAAF LAMA DDD: hehehe akyu juga suka pairing ini tapi dikit bgt ffnya DDD: RPS: nggak, aku bukan anak tabog aku anak IPA disebuah SMA di Jakarta! xDDD
.
BTW MINNA, maaf banget karena menunda-nunda posting… saya punya kehidupan sebagai siswi SMA m(_ _)m saya sedang try out UN XDD HAHAHA SAYA EMANG NISTA.
Dukung saya ya ;-;
Jadi… mind to review?
Bisa ya?
Bisa dong?
Saya mau kenalan nih…
Abis kayaknya banyak yang baca tapi jadi silent reader DDD: (makasih ningen-cchi!)
Gak enak lho karyanya dibaca doang tapi nggak dikomen DDD:
