Hari sudah menunjukkan jam tujuh malam. Bumi mengacak rambut legamnya yang pendek, merasa menjadi orang paling goblok sedunia.

Kenapa dia malah mengomel-ngomel pada Lovino, Bumi benar-benar tidak mengerti. Apa yang seharusnya dia lakukan sekarang? Apa dia akan mendapatkan surat pecat besok, ketika dia baru datang ke restoran? Dengan wajah pucat Bumi berjalan, udara yang semakin dingin tidak dia hiraukan. Bumi baru sadar kalau dia hampir menabrak seseorang—dan Bumi langsung mendongak untuk bertemu dengan mata berwarna biru turquois yang dibingkai kacamata segiempat yang menawan. "Oxenstierna...?" Bumi mencoba mengingat nama sulit milik pria yang katanya berdarah Swedia tersebut. Pria itu mengedip sebelum tersenyum kecil. Hidung Oxenstierna berwarna pink, pikir Bumi. Manis.

"Kau... si anak baru, ya?" Berwarld berkata, membuat Bumi sedikit bete. Lagi-lagi anak baru... "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Berwarld kemudian, rambut berwarna blonde semi-ash-nya tersibak menawan. Bumi terpana sedikit, tidak menyangka warna rambut seperti itu benar-benar ada sebelum menjawab dengan wajah linglung, "Aku—aku sendiri tidak sadar aku berjalan kesini." Itu benar—Bumi hampir seperti berjalan kesana kemari selama ini, karena ketakutan akan masa depannya di restoran. "Oooh. Kukira kamu ingin makan juga disini," ucap Berwarld kemudian.

I Like It Hot and Fast (And Yummy)

By : Maeshika

Disclaimer : Hetalia isn't mine, mind you. No financial benefit is being reaped from this act of fiction so...

Pairing : Het deh pokoknya.

Genre : Gourmet!AU. romance. (dry) Comedy. Drama.

Warning : Fem!Indonesia, crack-pair, OOC tingkat ASEAN, kesalahan dalam referensi gourmet, Typo, kata tidak baku dan lain-lain, beberapa kesalahan dalam referensi hetalia, mungkin adegan rate M di bagian-bagian selanjutnya jadi di tag sebagai rate M saja deh. No Mary Sue. Sorry to disappoint you, Mary-Sue Hunters. Hint!Het and hint!Harem, probably.

.

Sabina Ibrita (OC) : Kazakhstan/Joan Seraphim : Joan D'arc/Guliath : Seborga/Arthur Kirkland : England

.

Chapitre 6 : Tarte Tatin, Merah Jambu

.

Bumi menaikkan alis dan menyadari bahwa mereka berdua berada tepat didepan sebuah Restoran Perancis yang kelihatan cantik sekali. Iya, cantik. Interior maupun eksteriornya terkesan hangat karena memakai kayu dan tumbuhan merambat, papan kapur hitam dipapar didepan restoran untuk menulis 'Today's Special Menu', tak seperti restoran Perancis yang biasanya mengintimidasi dan terkesan dingin. Pokoknya cantik sekali, deh! "Waaah, manis banget, tempat ini!" celetuk Bumi. Berwarld mengangguk, menyetujui perkataan Bumi. "Benar kan? Aku sering datang kesini, lho. Awalnya sih karena aku ingin tahu seperti apa amuses yang dibuat di restoran ecek-ecek ini. Tapi ternyata merek membuat amuse yang luar biasa. Karena itu aku jadi langganan disini, bersama Tino." Jelas Berwarld.

"Tino... Ah, Väinämöinen?" kata Bumi, lagi-lagi terpatah-patah mengatakan nama keluarga pria manis itu. "Ya. Sekarang Tino didalam... ah, itu dia." Berwarld menunjuk seorang pria yang tengah menjinjing sebuah tas kertas. "Berwarld! Berwarld! Aku berhasil membungkus pastry-nya, lho! Nanti kita akan dinêr dengan pastry ini ya. Dan... lho? Bu-Bumi?!" entah kenapa Tino menunjukkan reaksi yang luar biasa berlebihan ketika melihat Bumi. Wajah manisnya memerah sedikit. "Hai, Väinämöinen!" mereka hanya berdua? Pikir Bumi, sedikit kepo. "H-Hai..." ucap Tino, bergetar. Berwarld menaikkan alis kemudian berbalik ke arah Bumi.

"Bagaimana kalau kau ikut ke apartemen kami?"

Bumi membulatkan mata. "Eeh? Benaran nih? Tidak merepotkan?" m-mereka tinggal bersama? Lagi-lagi Bumi salah fokus.

"Tidak, tidak. Kebetulan kami ingin makan malam buatan rumah, jadi kami sedang beli bahan-bahan, dan tanpa sengaja kami membeli bahan lebih dari empat orang..." Dia menunjuk barang bawaannya yang bisa sampai tiga plastik. "Banyak sekali, apa ada perayaan?" tanya Bumi. "Yah, bisa dibilang begitu sih. Salah satu teman sekamar kami baru saja membuka confectionary(1), jadi dia senang sekali." Ucap Berwarld. "Begitu, ya... apa aku boleh ikut, Väinämöinen?" tanya Bumi. Tino yang ditanya sedikit gugup namun tersenyum kecil, "Tentu saja kau boleh ikut. Semakin ramai maka akan semakin baik..."

Hua. Imut bener.

"Baiklah, aku akan ikut!"

"Oh, dan jangan panggil kami dengan nama keluarga kami. Itu aneh."

Sedikit terkejut, ternyata apartemen Berwarld dan Tino hanya sepuluh menit jalan kaki dari boulevard dekat Eiffel, tempat mereka membeli barang-barang dan pastry. Mereka membicarakan soal asal muasal Bumi dari Indonesia dan rumah Bumi dimana, serta bagaimana Paris selama ini. Berwarld kelihatan pendiam dan keras di dapur, namun ternyata dia asyik diajak bicara. Berbeda dengan Tino, dia kelihatan sangat ceria namun ketika berbicara dengan Bumi dia begitu pemalu, Bumi jadi bingung mau membicarakan apa dengannya. "508," Ucap Bumi didepan pintu apartemen. Terus terang, Bumi baru kali ini masuk ke apartemen luar negeri. Kesannya beda aja gitu dengan yang ada di Jakarta. Ketika dia membuka apartemen, bau manis marshmallow dan bau asam artichoke(2)yang menggugah selera melingkari penciuman Bumi. "Maaf kalau rumah ini baunya aneh, kami senang bereksperimen." Ucap Tino. "Tak apa-apa." bau rumahku dulu kayak bau rendang campur brussel sprouts. Aneh.

"Berwarld, Tino, kau sudah balik?"

Suara kupu-kupu seorang wanita muda terdengar dan beberapa detik kemudian, seorang gadis muda dengan rambut blonde sunray muncul. Rambutnya tebal menghiasi wajah bulat namun manisnya, pendek seleher. Matanya bulat dan pipinya merah. Matryoshka, pikir Bumi sedikit linglung sebelum wajah wanita didepannya menjadi familiar. "Aaaaaah!" pekik Bumi membuat kaget orang-orang disekitarnya. "J-Joan Seraphim!? Yang bekerja di Planet Cakedi Australia di umur lima belas tahun itu?! H-Huwaaaaaa!" jerit Bumi yang notabene fans berat Joan Seraphim, prodigi muda yang berbakat dalam urusan mengolah boulanger(3)dan desért. "A-ah, iya. Terima kasih." Ucap Joan sedikit bingung namun kelihatan senang. Dengan segenap hati, Bumi masuk dan menyentuh tangan Joan dan menggoyangkannya dengan antusias. Tangannya terasa kasar. Tangan seorang pekerja. Wanita berusia dua puluh enam tahun itu cantik namun begitu kuat! "N-Nama saya Bumi Adhiswara! Senang berkenalan dengan anda!" Bumi sangat mengagumi Joan. Karena Bumi tidak pernah bisa menguasai jurus memasak roti dan kue dengan benar, Bumi jadi mengapresiasi orang-orang yang dapat melakukannya.

"Oooi, kami disini juga, lho?" ucap Berwarld menyindir. Bumi cuma nyengir sedikit melepas tangan Joan sementara Tino tersenyum nervous. "Kenapa kau tidak bilang teman sekamarmu adalah..." tunggu, teman sekamarnya... wanita? Bumi langsung berhenti bicara dan merasa sedikit aneh. Tino terkekeh. "Tentu saja kami tidak akan memberi tahu siapapun karena reaksi mereka pasti akan sama denganmu! Tapi kami percaya denganmu—hitung-hitung ucapan terima kasih untuk yang kemarin..." lagi-lagi urat-urat di pipi bayi milik Tino dialiri darah lebih banyak dari biasanya, namun kali ini Bumi tidak begitu sadar karena pemikiran konservatifnya menghalanginya untuk berpikir bahwa aspek hidup bersama antara wanita dan lelaki di Eropa adalah hal yang tidak jarang dijumpai. Bumi menggelengkan kepalanya sebelum masuk, tidak membiarkan dirinya men-judge ketiga orang yang berada di sekelilingnya. "Duduk saja, kami akan memulai masak. Kau dan Joan bisa ngobrol-ngobrol dulu saja, ya~" Berwarld kebelakang diikuti dengan Tino. "Jangan dicoel ya, pastry dan ice cream yang sudah kubikin!" seru Joan yang disambut tawa jahil kedua lelaki berbeda tinggi tersebut. "Anu... kalian tinggal bersama sudah berapa lama?" tanya Bumi. "Sekitar tiga tahun." Jawab Joan. "Jadi nama kamu Bumi Adhiswara? Darimana kamu berasal?" Joan bertanya sambil duduk disampin Bumi, bau manis cokelat menguar dari kulitnya. "Indonesia." Kata Bumi singkat. Pastilah Joan tidak tahu dimana Indonesia itu, seperti Feliciano... "Ah, aku tahu. Jakarta, kan? aku pernah kesana sekali." Ucap Joan, matanya yang berwarna hijau olive terlihat bercahaya. "Macetnya parah, ya. Tapi orang-orangnya kreatif dan asyik-asyik, aku jadi tidak perlu takut didamprat kalau memakai style-ku sendiri."Cantik, beneran cantik.Yang dikatakan oleh Joan benar juga, chef maupun pattisiere di Jakarta lebih sering bereksperimen dan kreatif. Walaupun kitab pedoman mereka adalah Perancis, namun mereka lebih cenderung bebas dan tidak ortodoks dalam proses pembuatan makanan. Hal itu yang membuat Bumi sedikit tercekik ketika bekerja di Paris.

"Omong-omong, boleh aku tanya? Kamu juga kerja di restoran yang sama dengan Tino dan Berwarld?" tanya Joan kasual. "Iya. Aku memang masih handkitchen sih... oh, kata Berwarld, kau baru saja membangun sebuah confectionary. Benarkah itu? Selamat, ya! Apa nama toko mu?" tanya Bumi penuh semangat, dalam hati mencoba mengalihkan perhatian dari pembicaraan restorannya bekerja. Memikirkan hal itu mengingatkannya akan Lovino... dan jelas, pemikiran soal Lovino sekarang bukanlah sesuatu yang menyenangkan.

Walau Bumi tidak jago membuat kue, Bumi cinta memakannya. Jadi jika disuruh makan escargot lima piring atau éclair lima piring, sudah pasti éclair(4)yang akan dia sikat. Dia memang tidak suka escargot, semenjak dia tahu siput air adalah hospes cacing Fasciola hepatica dan cacing darah… "Namanya? Aku sempat berpikir nama yang bagus sudah pasti La Ciel, haha. Tapi mungkin terlalu biasa, jadi aku ganti dengan La Reine. Bagus, bukan?" Joan tersenyum lebar, seperti anak kecil membicarakan mainan kesayangannya. Bumi memandang wajah Joan dan ingat betapa Bumi mencintai masak, dan bagaimana perasaan Bumi suatu saat nanti Bumi bisa membangun sendiri restoran miliknya. Bumi tertawa lebar.

"Ya, kau benar. namanya sangat bagus."

.

.

.

.

.

.

Beberapa puluh menit kemudian makam malam yang bisa dibilang cukup mewah dan grand tersaji. Ada Savoury Carrot(5), Foie Grass dengan Pinapple Relish(6), Grilled Fique Mascarpone Foam dengan Prosciutto(7), Mini Lobster Sandwhich dengan Vanilla Aioli(8). "Penuh dengan amuse-bouche, ya." Ucap Bumi kagum. "Maklumlah, kami kan entreé." Ucap Berwarld malu-malu. "Tidak tidak. Ini kelihatan enak. Boleh kita mulai makan?" ucap Joan sedikit ngiler melihat warna-warna yang tersaji didepannya. "Nanti dulu! Mana pencuci mulut kita!?" seru Tino, menuntut ke Joan. Joan manyun namun berkata, "Aku membuat panna cotta (9) dan Tarte Tatin(10). Sudah tidak usah takut, aku menetapi janjiku untuk membuatkan kalian pencuci mulut, kok. Tapi karena aku tidak tahu kalau Bumi akan datang, jadi..." Joan memandang Bumi sedikit minta maaf. "Ah, tak apa-apa, kok. Aku yang lancang datang tanpa permisi." Ucap Bumi walau dalam hati kecewa juga tidak dapat merasakan hasil kerja sang prodigi. "Ah, kau bisa makan pencuci mulut milikku nanti! Aku toh bisa membuatnya lagi lain kali." Tawar Joan. "Daripada makan sendiri, kita makan berdua saja, bagaimana?" Joan menaikkan alis dan tersenyum dengan manis sebelum mengangguk. Sepertinya awal sebuah pertemanan sudah terjalin.

Akhirnya mereka mulai makan malam dengan suara berisik. Tino dan Berwarld sempat berdebat antara jerusalem artichoke dan celeriac.Yang manakah yang paling bagus untuk dipakai membuat fennel salad? Akhirnya diskusi mendadak tersebut diakhiri dengan biji custard cocok untuk membuat masakan hati ayam, yang melenceng jauh dari topik awal. Melahap mini lobster sandwich terakhir, Bumi menepuk perutnya. Ternyata amuse-bouche selain enak juga dapat mengenyangkan perut jika dimakan dalam jumlah banyak! Bumi tersenyum lebar menepuk perutnya sambil mengucapkan doa sehabis makan. "Bagaimana, enak?" tanya Berwarld. "Tentu saja enak! Kalian berdua jenius, ya?" tanya Bumi sambil tersenyum dengan wajah merah dan penuh kepuasan. "Kau belum memakan pastry-ku, lho," Joan menaikkan alis, cemburu karena tidak dipuji. Bumi menatap Joan dengan wajah 'asyik-menang-banyak-nih'.

Pastry yang pertama, adalah panna cotta with basil flower—alias krim bakar. Bumi tidak sering memakan panna cotta, tapi ini adalah panna cotta yang paling delicieux(11) yang paling enak yang pernah dia rasakan. Rasa cremé bruleé, madu dan hazelnut. Biasanya panna cotta dihidangkan dengan krim, gula dan mentega yang dikocok, dicampur dengan gelatin(12). Sepertinya Joan mengikuti jalan konservatif yang lebih menyukai rasa manis yang dihasilkan madu dan hazelnut. Mau bagaimanapun, Bumi tidak bisa bilang apa-apa lagi karena dia memang tidak bisa makan gelatin. Rasanya pun enak dan legit. Bagaimana pula Bumi mau protes. "Enak bangeet..." ucap Bumi sambil menutup mata, bibirnya dijilat dengan sensual. Tino, yang semenjak tadi memandangi Bumi mengalihkan matanya dengan wajah merah, Joan mengedip dengan wajah puas, dan Berwarld... mengalihkan pandang dengan wajah yang juga merah.

Anak ini makannya nggak bisa biasa saja, ya?

"Apa ada yang kurang?" tanya Joan, melahap panna cotta-nya. "Oh, tidak ada sama sekali! Rasanya pas, tidak kemanisan seperti panna cotta lainnya. Aku sangat senang bisa makan pastry buatan Seraphim." Desah Bumi sambil menatap Joan memuja. Mau tak mau Joan memerahlah wajahnya, merasa senang sekaligus malu karena dipuji sedemikan rupa. "Ternyata kau menyenangkan juga ya, orangnya." Ucap Berwarld. Bumi menoleh kearah Berwarld, menaikkan alis. Bingung. "Teman-temanku bilang kalau kau sombong segala macam hanya karena kau kesukaan Monsieur Francis." Ucap Berwarld. "Tapi kalau kutelaah lagi, memang benar omongan orang-orang itu biasanya omongan orang yang cemburu dan iri." Bumi hanya menyeringai masam. Ternyata perkiraannya tentang gosip-gosip miring tentang dirinya memang benar. Bumi sudah sering sih diterpa gosip berbau tidak enak, tapi tetap saja mengetahui kalau dia menjadi objek gosip tidak membantunya merasa lebih baik. "Memang ada apa dengan Bumi?" Tanya Joan, sedikit ingin tahu. "Entah, orang-orang sepertinya tidak suka dengan fakta bahwa kau orang yang paling cepat masuk ke restoran kami." Tino angkat bicara, mulutnya menelan panna cotta dengan penuh penghayatan. Bumi hanya diam saja, tapi mulai merasa tidak nyaman dengan arah pembicaraan.

"A-ah, bukankah ini Tarte Tatin yang terkenal?" ucap Bumi menunjuk sebuah kue dengan potongan apel yang diberi karamel. "Yap. Aku sendiri sangat suka Tarte Tatin, jadi aku kira aku akan menyuguhkannya sekarang." Ucap Joan sambil tersenyum kecil. Bumi mengangguk. Tarte Tatin adalah salah satu makanan hasil produk gagal, seperti brownies. Jadi ceritanya, ada Tatin bersaudara yang hidup sambil menjalankan usaha hotel. Sang kakak, Caroline Tatin, pada suatu hari merasa sangat capek sehingga dia salah memasukkan roti dan malah memasukkan apel yang sudah diberi gula dan karamel. Dan lagi sudah tinggal beberapa menit sampai hotel buka. Potongan apel-apel yang sudah mengeras karena karamel itupun dia balik dan dia tutupi dengan lembaran kulit pie. Entah kenapa, orang-orang banyak yang memesan pie tersebut. Usut punya usut, apel-apel tersebut tidak menghasilkan rasa pahit yang biasanya dihasilkan karamel yang lama dididihkan. Sampai sekarangpun, penganan ini masih popular di Prancis.

"Setiap kali aku merasa aku akan jatuh, aku membuat Tart ini dan mulai berfikir kalau kegagalan pun bisa melahirkan suatu keberhasilan." Ucap Joan. "Aku ingin semua orang merasakan perasaanku tersebut. Aku ini sangat sering gagal, tapi karena tarte tatin aku bisa mendongak ke atas dan berjalan lebih jauh." Joan tersenyum tulus. "Ayo kita makan tart-nya! Aku sudah tak sabar ingin mencoba tart itu~"

Bumi menatap Joan sambil tersenyum. Ternyata tak hanya seorang jenius, Joan juga adalah wanita yang bijak. "Ya, aku juga sudah tak sabar ingin mencobanya."

"Omong-omong, kau tahu tidak? Joan itu kan dulu pacarnya Monsieur Francis!"

Bruuushh. Semprotan air.

Bumi menatap Joan ganjil. Joan memelototi Tino, sementara sang oknum bermulut ember hanya mengalihkan pandangan ke tempat lain.

Sepertinya malam ini akan penuh dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kue manis, tarte tatin, dan juga selera pria milik Joan yang sepertinya agak melenceng dari garis besar kehidupan yang fana ini.

.

.

.

.

.

.

.

Jadi, pada pagi hari itu, chaos ensues.

"Apa maksud anda, Monsieur?"

"Saya tidak setuju! Tidak setuju sama sekali!"

"Jika hal ini diberlakukan..."

Dan begitu banyak protes muncul, sementara orang-orang banyak yang berbisik-bisik. Beberapa diam, tidak terlalu peduli, namun tetap saja yang protes adalah mayoritas. Saat itu adalah saat briefing dan Francis tengah menyampaikan visi dan misi tentang idenya—fighting event yang pernah dia beri tahu kepada Bumi. Bumi menumpukan berat tubuhnya dari satu kaki ke kaki yang lainnya, tidak berani memandang sekitar. Sepertinya orang-orang disekelilingnya menyalahkannya atas berubahnya sistem restoran ini. Bumi tidak tahu lagi harus bagaimana untuk menyelamatkan namanya. Imej-nya sudah rusak. "Ssssh! Kalian membuat restoran ini berisik!" ucap Francis sebal. "Apa sulitnya sih untuk kalian? Fighting event ini bukan untuk mengadu domba satu sama lain, tapi untuk menyulut jiwa kompetisi kalian! Dengan ini akan terlihat apakah kalian memang benar-benar layak atau tidak! Jangan kira aku tidak memonitor bagaimana kalian bekerja selama Arthur atau Lovino tidak melihat—beberapa dari kalian malas-malasan, dan aku paling tidak suka pemalas! Jika kalian punya waktu untuk protes, gunakan waktu itu untuk latihan memasak supaya kalian tidak tergeser dari posisi kalian yang sekarang." Ucapan Francis tajam, menohok, namun benar. Beberapa protes mulai teredam namun ada juga yang sangat berisik dalam menyuarakan pendapatnya. Salah satunya adalah Guliath, pria berdarah Seborga yang menduduki posisi poisson."Ini tidak adil, Monsieur. Bagaimanapun, anda tidak bisa mengadili seseorang untuk turun jabatan hanya karena dia tidak bisa melakukan tugasnya dengan baik atau karena dia kalah sekali dalam fighting event! Bisa saja misalnya seseorang memiliki kinerja yang baik, antusias dalam bekerja, serta kreatif namun karena beberapa faktor dia akhirnya kalah dalam fighting event yang anda idekan? Dan bagaimana jika orang yang menggantikan tidak seantusias dan sebaik yang pertama? Bagaimana kalau restoran ini kualitasnya turun? Anda tidak bisa melakukan segala sesuatunya dengan sewenang-wenang, Monsieur!" pria dengan wajah tampan tersebut protes.

"Sepertinya terjadi miscommunication disini, Guliath. Aku berkata nanti aka nada fighting event diantara kalian. Dan bukan berarti kalian cuma memasak tanpa aturan dan yang paling enak masakannya yang menang, tidak! Setiap fighting event hanya akan dilakukan setiap akhir bulan pada hari ketujuh, dan setiap saat itu pula aku dan beberapa orang lainnya akan memberi peserta fighting event itu tema untuk dilaksanakan. Jangan kira aku akan meluluskan seseorang hanya karena delikasi makanan. Aku punya ekspektasi yang tinggi untuk peserta fighting event itu!" jelas Francis panjang lebar. Guliath hendak membuka suara lagi ketika Francis berkata, "Dan tidak, aku tidak akan membawa restoran ini ke jurang kemiskinan dengan memilih orang-orang yang tidak pantas. Aku jujur, Guliath. Aku tak akan meluluskan orang buta masakan hanya karena dia mempunyai koneksi."

Semua orang langsung tertegun, dan beberapa melirik Bumi yang tidak nyaman. "Apa masih ada protes lain?" Tanya Francis, yang disambut keheningan. Sepertinya kalimat terakhirnya adalah bullseye. "Jika tidak ada, maka aku akan menyatakan bahwa fighting event akan dimulai pada bulan ini. Yang ingin ikut, silahkan daftar ke Mona. Ingat, hanya penantang harus memasukkan namanya dan nama orang yang ingin ditantang. Orang pertama yang datang ke Mona-lah yang akan dimasukkan ke fighting event, sisanya silahkan mengantri minggu depan."

"Bagaimana dengan orang itu?" Ucap Sabrina Ibrita, seorang servant berwajah jelita. "Orang itu tidak akan senang jika anda melakukan hal ini, Monsieur. Anda tahu betapa keras kepalanya beliau."

Bumi memandang Sabrina dengan sedikit bingung. Siapa orang yang dimaksud?

"Orang itu? Tidak usah dikhawatirkan. Dia tidak akan protes dengan keputusanku, lagipula dia sendiri yang langsung menyetujuinya ketika aku memberikan ide ini—"

"…Jangan memutar balikkan fakta, Frog."

Suara yang terdengar lembut namun menusuk itu terdengar dari bagian belakang, bergaung. Semua orang menoleh untuk melihat seorang pria bermata emerald berambut pirang matahari tengah berdiri, wajahnya dingin. Alisnya…. Buset, hampir saja Bumi terbuai alis tersebut. Pas kecil, Bumi senang sekali menyentuh-nyentuh alis orang sebelum tidur. Kadang kebiasaan itu terbawa sampai besar, dan benar saja… Bumi hampir mendatangi pria berwajah tampan itu dan menyentuh alis tebalnya.

Kemudian Bumi baru menyadari kalau figur ini—figur yang tengah menenteng tas koper serta jas kulit ini—adalah seorang master chef dari Inggris yang terkenal karena omelannya yang menusuk namun tetap anggun, seperti bunga mawar yang berduri. Dia pernah ditawari untuk menjadi salah satu guest chef 'Hell's Kitchen' bersama dengan Gordon Ramsay yang terkenal karena mulutnya yang potty.

"Arthur, akhirrnya kau datang juga." Ucap Lovino sambil melipat tangan didepan dada, terlihat secara aneh puas.

Bumi hanya menjilat bibir,sedikit nervous. Ditambah dengan Lovino Vargas, yang membuat restoran Le Roi meraih tiga bintang Michelin, aura menekan di restoran itu semakin menjadi.

Tempat ini kandangnya selebriti atau gimana, sih?

.

.

.

.

.

.

.

confectionary(1) : toko kue

artichoke(2): sebuah bunga berbentuk kubah berlapis lapis yang biasa dikonsumsi di Mideast. Keluarga cycadinae. Biasanya yang dikonsumsi adalah bagian bawah sampai tengahnya. Rasanya tawar seperti rasa talas.

Boulanger (3) : roti?

éclair(4) : kue puff yang diatasnya dikaish coklat.

Savoury Carrot(5) : Wortel yang dikasih spice.

Foie Grass dengan Pinapple Relish(6): hati angsa dengan potongan nanas

Grilled Fique Mascarpone Foam dengan Prosciutto(7): Fig bakar sama kacang prosciutto

Mini Lobster Sandwhich dengan Vanilla Aioli(8) " sandwhich lobster dengan hiasan bunga vanilla

panna cotta (9) : pudding bentuk variatif yang biasanya dimakan sama hazelnut

Tarte Tatin(10) : apel pie yang dibalik.

delicieux(11) : enak

gelatin(12) : ekstrak kolagen yang dipakai buat bikin es krim. Warnanya transparan. Biasanya diambil dari tulang ikan atau tulang babi.

Chapter ini asyik banget, men! Apalagi nulis si Joan, beh... 'mang paling asik nulis personaliti dia. ITU ADA FANSERVIS Finland x Indonesia sama Swedia x Indonesia YAAA! KELIATAN GA? KELIATAN GA? /ganyante

BETEWE, MIND TO REVIEW, MINNA-SAN? /pake japan/