Bumi datang ke Le Roi ketika udara dingin dan salju masih turun seperti gula-gula es. Euphoria tahun baru sepertinya masih terngiang-ngiang di Kota Cinta, bisa dilihat dari banyaknya film baru akhir tahun di TV lokal. Tapi euforia itu hanyalah fatamorgana di restoran tempat Bumi bekerja.

Pagi itu pagi yang sakral, sepertinya. Mengingat bahwa ini akhir bulan dan bahwa ini adalah hari ketujuh dari akhir bulan, tentu hampir semua orang menelan ludah setiap kali melihat anggota dapur keluar masuk kantor owner. Bisa dipastikan mereka keluar masuk untuk mendaftarkan nama mereka ke dalam fighting event. Aura di restoran jadi agak beda—yang awalnya cuma sedikit mencekam jadi naik tiga level 'mencekam layaknya hutan amazon'. Kita tidak akan tahu mana kawan mana lawan—karena sepanjang yang mereka tahu, siapapun bisa menantang siapapun. Soal apakah Bumi juga memberikan namanya atau tidak… yah, Bumi pengecut, jadi seharusnya kalian semua tahu apa jawabannya.

Sehari sebelum hari ketujuh, semua orang dikumpulkan di ruang tengah untuk pengarahan. Mereka sepertinya siap untuk mencakar, menebas, melindungi posisi dengan semua yang mereka punya. Bisa dibilang seperti pertandingan Hunger Game, lah. Tapi senjatanya adalah pisau dapur dan paprika yang belum dipotong. Francis berjalan kedepan mereka semua dengan wajah datar, ditangannya terdapat kaleng transparan yang didalamnya terdapat beberapa carik kertas yang sudah digulung. "Aku sudah mempertimbangkan siapa-siapa saja yang berhak untuk ikut fighting event ini. Didepan kalian aku akan memilih orangnya supaya tidak terjadi kecurigaan akan kecurangan. Siapapun yang terpilih harus siap besok. Kalau tidak, dinyatakan gugur dan tidak boleh ikut lagi sampai delapan kali pertandingan." Kasak-kusuk terdengar.

Dengan sedikit dramatik, tangan Francis masuk kedalam kaleng tersebut, berputar-putar didalamnya, bermain dengan carikan kertas sekaligus hati para submitter yang ingin segera dipilih dan menuntaskan segala penundaan ini. Setelah sepuluh detik yang lama, Francis mengeluarkan secarik kertas dan dia membukanya.

"Dan yang terpilih… adalah…"

.

.

.

.

.

.

I Like It Hot and Fast (And Yummy)

Maeshika

Genre : Gourmet!AU, Drama, slowmance, humor

Pairing : Mainly RomaxFem!Ina, Harem!Ina

Warning : OOC tingkat dewa, typo, kesalahan referensi gourmet, kesalahan referensi Hetalia, agak canggung karena udah lama nggak nulis.

Chapitre Huit : tujuh Lewat lima puluh empat

.

.

.

.

.

.

From : Udara_

To :

Sub : Kelaperan.

Salam sayang dan kelaperan dari adik tercinta.

Dikarenakan adanya kesulitan nyari warnet terdekat (warnet bang bokir ditutup BTW. Bentar lagi pada UN soalnya) Jadi Dara kelimpungan buat ngeprint tugas dan ngirim e-mail balesan. Jadi maapin kalo baru dua minggu kemudian dibalesnya. Selain karena faktor males, Dara digodain melulu sama Bang Bokir. Udah ngga ada kerjaan makanya dia nyari mati gitu.

Aku sama Ibu baik-baik aja, Cuma kemarin ada preman dateng buat nagihin utang. Untung aja uang yang kemarin mbak kirim udah aku ambil dari bank, jadi kita bisa sedikit demi sedikit bayar itu utang. Keadaan di Jakarta agak mendung terus dingin banget, bikin laper. Dara sampe makan terus. Trus gimana tempat mbak kerja? Asyik? Ganteng ga cowoknya? Kalo iya boleh kenalin ? itung-itung Dara dapet pengusir rasa sepi di hati…

Oh, kemarin Riffi Ahmad akhirnya nikah sama si Gigi Gigi itu. Kan mendingan nikah sama aku ya? Cakepan juga aku dibandingkan si Gusi itu. Hmph.

Aaaah, cewek cantiiiik! Fotoin, fotoin. Aku nggak kuat kalo udah dibilangin bakal ketemu cewek cantik!

Hati-hati ya mbak!

P.S kalo diliat liat Pak Hatta masih ganteng kok. He kicked ass with that eyes.

Ibu n' Dara

Bumi cekikikan ketika dia menutup laptop yang sengaja dia bawa ke tempat kerja tersebut. Dara memang cantik, tapi dia tomboy sekali. Bang Bokir, penjaga warnet depan rumah aja, sampe kesengsem. Makanya saban kali Dara datang Dara malah dikasih diskon full! Bumi aja nggak habis pikir sama kepilih kasihan Bang Bokir terhadap mereka berdua. Padahal Dara dan Bumi saudaraan tapi Bang Bokir tidak pernah memberikan diskon ke Bumi!

"Ngapain senyam-senyum, fighting event sudah mau dimulai." Ucap Mai pada Bumi. Akhir-akhir ini cewek ini memang jadi dekat dengan Bumi. Entah karena mereka berdua berkulit sama atau karena mereka berasal dari daratan Asia di bagian yang sama, tapi mereka berdua jadi sering mengobrol. Senyum di bibir Bumi menghilang ketika teringat siapa yang akan melawan siapa kali ini. "Tapi aku benar-benar tidak menyangka lho, kalau cowok itu berani datang ke Francis dan mau ikut fighting event. He looks like a sissy to me." Mai berbisik karena dapur kelihatan sangat tegang kali ini. Bumi tidak menjawab dan melihat Arthur berjalan ke samping Lovino. Jam kerja telah selesai dan fighting event dilaksanakan di akhir jam kerja, yang mana dipotong tiga jam dari yang biasa.

Bumi menatap Tiino yang terlihat sedikit pucat namun wajahnya menunjukkan determinasi. Sepertinya dia sudah siap dengan apapun yang terjadi. Baguslah, pikir Bumi. Walaupun mereka baru saja makan malam bersama satu kali, dan walaupun mereka tidak terlalu dekat, Bumi tetap ingin Tiino yang menang. Sabina menunjukkan wajah yang sebal kepada Tiino, dan itu membuat Bumi sedikit kesal.

"Tapi aneh kan? Kenapa Tiino yang notabene commis de chef dari Entreé tiba-tiba ingin menjadi pattissiere?" bisik Bumi pada akhirnya sambil berbisik pada Mai. Mai hanya menaikkan bahu. "Seberapa anehpun, kita tidak bisa mengatakan apapun karena ini sudah keputusan akhir dari owner. Dan kami percaya dengan pilihan owner." Ucap Mai sambil berjalan menuju ke luar dapur. Semua orang boleh melihat bagaimana para pattissiere memasak, dengan maksud member pressure kepada partisipan. Lovino berkata, "fighting event ini akan dimulai dari aku selesai berbicara. Aturan pertama, dilarang mengkopi masakan orang lain. Aturan kedua, dilarang melihat catatan. Aturan ketiga, akan ada perbatasan waktu, dan waktu kalian adalah empat puluh lima menit. Aturan keempat, kalian diharuskan untuk membuat satu macam dessert saja, tidak usah banyak-banyak."

Hening.

"Tema kali ini adalah…"

Hening. Sepertinya ada orang kawasan lima puluh meter dari tempat mereka yang sudah mendengar keheningan yang bisu ini.

"…Cinta."

Bumi menganga. Haaaaaaa?

Sepertinya itu juga yang dipikirkan oleh orang-orang dibelakang Bumi, karena mereka memasang wajah tidak percaya yang berkata 'haaaaaaaaa?' dengan keras sekali. Apa-apaan nih? Memangnya valentine ya, sekarang? Kenapa temanya cheesy begini? Francis mikir apa saat membuat tema inii? Dan benar saja, sedetik setelah Bumi berfikir seperti itu, Arthur berkata dengan datar, "Kami tidak tahu apa yang Frog pikirkan ketika dia mendapat tema ini. Tapi itu lah yang harus kalian lakukan sekarang. Jadi berjuanglah, oke?"

"Temanya terlalu tidak jelas dan vague, aku tidak akan bisa membuat dessert kalau begitu!" Sabina berkata, wajah cantiknya begitu memesona karena kekesalan. Arthur memandang Sabina dengan datar, "Kalau begitu kau keluar saja. Anak yang satu ini saja tidak protes, kenapa kau yang pattissiere restoran kami malah kelihatan cemas?"

Gimana bisa kalau temanya aja nggak jelas gitu? Kenapa nggak ngasih tema 'gateaux' atau 'custard dessert' atau apa gitu yang lebih spesifik? Ini cinta? Cinta? Mamam tuh cinta.

"T-ternyata owner kita romantis sekali ya. Sepertinya banyak wanita yang suka padanya, hahahaa." Mai tertawa dengan agak aneh dan terpaksa dan Bumi berfikir betapa positifnya pemikiran Mai hari ini.

"Baiklah… sekarang… start!" seru Francis, dan kemudian kedua orang yang tengah bersaing itu berlari ke fridge untuk mengambil bahan-bahan yang diinginkan. Tiino sepertinya sudah mengetahui bahan-bahan yang ingin dia buat, begitu juga Sabina—walaupun tadi dia marah-marah, tapi ternyata pada akhirnya dia bisa mengetahui dessert apa yang harus dia buat. Bumi memandang kesamping dan bertemu dengan dada bidang Berwarld, yang mata berwarna turkua-nya tengah terpancang pada sosok mungil milik Tiino. Wajahnya terlihat datar dan keras, namun ada Sesuatu, sesuatu disana…

"Berwarld?" ucap Bumi dan membuat konsentrasi Berwarld buyar, matanya yang bercahaya menatap Bumi. "Oh, kau." Bumi sedikit sebal ketika Berwarld berkata seakan-akan Bumi tidak terlihat dimatanya walaupun sejak tadi dia ada didepan Berwarl. "Aku tidak melihat kau."

"Terserahlah." Bumi memutar bola mata dan kemudian dia ingat sesuatu. "Eeeh, Berwarld. Kau tahu kenapa Tiino pindah jadi pattissiere? Bukankah dia sudah cukup jago dalam memasak amuse-bouche dan entrée?"

Berwarld menghela nafas dan berbalik sebelum berkata, "Bukan urusanmu. Ini urusan privasi."

Mendengar perkataan tajam Berwarld, Bumi sedikit terkejut. Biasanya Berwarld memang datar, namun tidak pernah dia mengatakan hal seperti 'bukan urusanmu' dan segala macam yang agak dingin itu. Tapi mungkin Berwarld benar, mungkin ada alasan pribadi dibalik kelakuan Tiino yang aneh dan sedikit menyimpang tersebut. Alasan yang lebih dari sekedar kata promosi, dan lebih dari sekedar kenaikan pangkat, kepopuleran, dan gaji… Apapun itu, Tiino terlihat sangat kuat untuk mempertahankannya, terlihat dari kilauan matanya ketika dia mengocok meringue sampai berwarna foam, atau ketika dia membalik keju tidak bergaram. Terlihat dari gigitan bibirnya yang desperate dan begitu … begitu…

"Le soufflé n'attend pas, on attend le soufflé." Suara disampingnya berkata, dan Bumi berbalik untuk bertabrakan dengan bahu Francis. "Ah, Pak Francis. Soufflé? " Bumi sedikit bingung dengan Francis yang terlihat excited. Bumi segera melihat yang dibuat Tiino—dan sadar kalau pria manis itu tengah membuat soufflé. Soufflé adalah sebuah kue yang terbuat dari kuning telar dan meringue, alias putih telur yang dikocok sampai berwarna putih bersih. Tiino sudah memberikan gula-gula di dalam cup dan sekarang sedang memasukkan cairan coklat—pure vanilla—kedalam campuran keju tanpa garam yang dan meringue. Jika sudah selesai, soufflé terlihat seperti kue pudding biasa, namun sebenarnya sangatlah hangat dan lembut dimulut seperti busa.

"Le soufflé n'attend pas, on attend le soufflé—soufflé tidak menunggu kita, tapi kita yang menunggu soufflé…" itu adalah perkataan Perancis tentang soufflé ya, pikir Bumi. Memang benar sih. Karena pada aslinya soufflé bertekstur seperti busa, ketika dimasukkan kedalam oven, adonannya akan mengembang seperti kue asli bahkan bisa sampai setinggi lima sentimeter dari batas tempat adonannya sendiri. Namun lima menit kemudian setelah keluar dari oven, soufflé itu akan mengempes dan biasanya bentuknya jadi jelek. Bukan pilihan yang buruk, tapi kenapa dia memilih dessert ini dan bukannya yang lain, tidak ada yang mengetahuinya.

Sabina sendiri tengah menaruh puff pastry diatas kertas minyak dan mengoleskan air serta gula keatasnya, dan menaruh semacam penahan diatasnya sebelum dimasukkan kedalam oven. "…Apa yang dia buat?" Tanya Bumi pada Francis. Francis menggaruk dagunya dan tersenyum lebar, "Sepertinya dia akan membuat mille feuille?"

Tapi lalu Sabina memotong apel dan menggorengnya di atas penggorengan. Wajah Francis yang easy going langsung berubah sedikit. "Mille feuille tidak butuh apel, kan?" ucap Bumi, sedikit penasaran. Francis tidak menjawab, matanya terpaku pada Sabina. "Pak?" ulang Bumi yang sedikit bingung akan kelakuan Francis yang seperti orang aneh tersebut. "Oh? Aaah, tidak bukan apa-apa kok. Hmm. Aku juga tidak tahu itu apa?" cengir Francis sambil menepuk kepala Bumi. "Sudahlah, waktunya untukmu pulang lho, mon petit gateau? Kalau tidak nanti orang rumahmu mencarimu kemana-mana." Ucap Francis, menunjuk jam yang berdentang tujuh kali. "Jangan perlakukan aku seperti anak kecil, Pak. Lepaskan tanganmu dari kepalaku." Dan dengan tawa geli Francis mengangkat tangannya dan berjalan ke sisi lain dari kerumunan.

Setelah tiga puluh menit, kedua pattissiere sudah selesai dengan dessert mereka masing-masing.

"Partisipan Ibrita." Panggil Arthur. Sabina segera membawa dessertnya ke konter para juri—yang mana merupakan Francis dan Lovino serta Arthur. Ketiga orang tertinggi di restoran tersebut terlihat mengintimidasi, bahkan Francis. Sabina terlihat sangat percaya diri sampai-sampai senyumnya terlihat begitu mengembang, namun Bumi bisa melihat sedikit kilatan jahil di mata almon yang cantik itu. Dia segera menghidangkan satu pie yang terlihat kecokelatan.

"Tarte tatin, ya." Ucap Arthur pada akhirnya, dan Bumi langsung sadar kalau itu memang Tarte tatin. Bagaimana mungkin dia lupa? Arthur segera memotong pie tersebut menjadi satu gigitan dan dia segera menelannya. Orang-orang tegang melihat ekspresi Arthur yang tidak berubah. Lovino juga segera mengambil satu gigitan. Orang-orang sih curiganya dia bakalan mencolok pisau ke pie itu dan berteriak 'tidak enak', tapi ternyata dia malah memotongnya dengan sangat lembut dan mengunyahnya dengan penuh antisipasi. Francis, yang merupakan orang ketiga memandang Tarte tatin tersebut sebelum memotongnya menjadi bagian kecil dan memasukkannya kedalam mulutnya.

"Yah, tidak buruk. Karamelnya meresap di apelnya." Ucap Lovino menjilat garpunya (dan diam-diam para pekerja wanita menjerit sampai tenggorokan mereka lemas) dan berkata lagi, "Tapi aku tidak bisa bilang begitu pada apelnya."

"This Brat talks like a sous-chef should, finally." Arthur nyengir membuat Lovino memelototinya. "Anak ini benar. Apelnya gosong. Kau terlalu lama menaruhnya diatas panci. Tapi overall, semuanya baik-baik saja."

"Tapi tadi kompornya memang rusak!" ucap Sabina marah. "Apakah itu salahku jika kompor sialan itu rusak? Kan itu variabel bebas, tidak bisa kita apa-apakan!"

"Mungkin bisa dicegah kalau saja kamu berhati-hati dalam pemakaiannya, mademoiselle. Kamu tahu, hanya kamu orang yang memakai kompor ini selama tiga bulan terakhir." Ucapan Francis membuat mata Sabina melebar karena amarah, malu dan kesal. Arthur memandang Francis dengan tatapan tidak terbaca sebelum Francis akhirnya membuka mulutnya. "Apa yang mau kamu coba sampaikan dengan dessert ini?" Sabina menggigit bibirnya sendiri ketika Francis bertanya hal ini, seakan-akan mencoba untuk tidak tertawa. "Eeeh, tidak banyak yang ingin kukatakan." dehaman Sabina menggema dalam dapur. "Kukira ini akan baik untuk anda, owner. Kisah cinta antara Romeo dan Juliet versi Perancis kedengarannya sangat menarik, bukan?"

Seketika temperatur dapur langsung turun. Orang-orang terlihat bingung ketika Sabina membungkuk dan kembali ke tempatnya. Romeo dan Juliet? Apa sejarah Tarte Tatin menceritakan tentang mereka berdua? "Apa maksud si jalang itu?" bisik Mai yang memang agak sensitive dengan Sabina setelah cewek cantik pemegang jabatan pattissiere itu menyiram caramel ke baju barunya. "Entahlah…" bisik Bumi yang juga sedikit kebingungan dengan turn out of event. Lovino menghela nafas sementara dia membisikkan sesuatu pada Arthur. Arthur mengangguk namun tidak mengatakan apapun ketika Francis hanya tersenyum pada Sabina dan berkata, "Begitukah? Apa ini artinya aku harus berhati-hati dalam memilih tema di ronde selanjutnya ya?" tawa Francis. "Kerja bagus, mademoiselle. Partisipan Väinämöinen!" Panggil Francis, menyuruh Tiino membawa dessertnya.

Tiino, yang kebingungan, terkesiap ketika namanya dipanggil dan hampir saja menjatuhkan dessertnya. Dia membawa kue berwarna keemasan tersebut kedepan para juri. "Soufflé? Tingginya juga bagus sekali." Ucap Arthur, yang secara terkejut senang dengan perkembangan ini. "Tinggi banget tuh soufflé… nggak kempes?" ucap Bumi dalam bahasa Indonesia. Soufflé milik Tiino sangat tinggi, hal yang jarang ditemukan dimana-mana. Lovino memotong sesendok soufflé dan memasukkannya kedalam mulut. Dia mengangguk. "Representasinya jelek. Bentuknya begitu tidak rata dan moussenya terasa aneh. Menjijikkan." Ucap Lovino dan menggeser cup tersebut ke Arthur, kemudian ke Francis. Tiino terlihat syok dan hampir tidak sadarkan diri. Orang-orang disekitar terlihat tegang mencekam. Arthur berkomentar kalau "Untuk ukuran entrée, soufflé Tiino sudah enak dan beyond expectation." Arthur tidak berkata setinggi apa ekspektasinya.

"Apa yang ingin kamu sampaikan di soufflé ini?" Tanya Francis pada Tiino.

Tiino memandang Francis, dan jawaban Tiino selanjutnya membuat Bumi mengerjap.

"Penantian." Ucap Tiino.

"Penantian?"

"Soufflé… harus dinikmati secepat mungkin, supaya rasanya yang hangat dan lumer di mulut tidak pergi. Aku… aku pikir cinta juga butuh penantian, tapi penantian itu tidak boleh terlalu lama. Atau ada kemungkinan… cinta akan menguap dan pergi." Bisik Tiino. "Saat seseorang jatuh cinta, cintanya bisa mengembangkan sebuah soufflé, benar?"

Warna merah muda. Periwinkle, dan warna laut, semua warna-warna yang merepresentasikan cinta, hadir di sekeliling Tiino dan dada Bumi berdegup kencang. Begitupula dengan seseorang disamping Bumi, yang merasa dunianya sudah terhempas ke arktik romantika, menuju ke batas-batas hati, dan terbang, melayang, hilang dibawa udara malam Perancis, jam tujuh lewat lima puluh empat menit.

.

.

.

.

.

.

.

.

Pada akhirnya, yang gelar pattissiere tetap berada di tangan Sabina. Sabina terlihat tidak begitu puas dan pulang setelah namanya disebut, tanpa ada perasaan kemenangan atau suatu apapun. Jarring-jaring dinaikkan, kursi dibersihkan. Orang-orang sudah akan pulang, kecuali Tiino, Bumi dan Berwarld. Tiino dan Berwarld karena mereka berdua tugas piket, Bumi karena dia ingin mengetahui keadaan Tiino.

Tiino tidak terlihat ingin menangis. Dia malah terlihat sangat lega dan bahagia. Walaupun ketika Bumi mendekatinya, Tiino masih memerah dengan anehnya.

"Aku sudah berpikir begitu!" serunya dengan penuh semangat. "Aku memang tidak cocok untuk menjadi pattissiere."

Bumi menatap Tiino dan tersenyum lebar. Tiino, Tiino. Bahkan setelah kau kalah pun kau masih bisa tersenyum seperti itu? Bumi harus belajar dari Tiino. "Mungkin kau memang tidak terpilih. Tapi aku yakin, kamu bisa jadi entree terbaik untuk semua orang. Ya kan, Berwarld?" senggolan di tangan Berwarld, Berwarld tidak menjawab. Dia hanya mengeluarkan suara tidak jelas—mungkin maksudnya iya? Bumi menatap pesan di handphone-nya dan tersenyum. "Halo, Feliciano?"

"Halo, Bumi! Bagaimana kabarmu hari ini? Ah, aku menemukan apartemen yang kamu pesan, kamu mau lihat-lihat besok?"

Yap, Bumi memang meminta pertolongan dari Feliciano untuk mencarikan dia apartemen. Pada awalnya sih Bumi tidak ingin merepotkan si cowok tampan sekaligus manis tersebut, namun sepertinya apapun yang Bumi ingin bicarakan tidak aka nada artinya didepan Feliciano. Dari yang awalnya ingin meminta brosur apartemen sampai dicarikan apartemen, Bumi tidak habis pikir.

(Dan ya, Bumi memang belum menyerah untuk mencari apartemen baru. Karena hal itu.)

"Eeeh, Besok? Boleh juga sih. Besok aku akan mengambil cuti." Ucap Bumi dengan senang. Feliciano akhirnya tetap menahan Bumi dari menutup telepon dengan menceritakan harinya dengan 'Ludwig yang baik hati' dan Bumi tertawa karena sepertinya 'Ludwig' sudah sangat kerepotan dengan tingkah Feliciano. Di akhir menit ketiga puluh, Bumi menutup handphone-nya dan Berwarld memandang Bumi penasaran. "Feliciano… itu Feliciano Vargas?"

"Iya, Feliciano Vargas." Ucap Bumi dengan sedikit bingung. "Ada apa? Kamu kenal dia?"

"Sangat." Ucap Berwarld. "Tiino tidak, sih. Feli itu saudara dari sous-chef kita."

Mata Bumi membesar. "EEEEEH? Beneran tuh? Nggak bohong?" seru Bumi, tidak percaya. Masak sih, si malaikat berhati kaca dengan senyum yang sehangat dan sehalus mousse itu berbagi kolam DNA yang sama dengan sang anjing herder kepala tiga yang dikirim langsung dari neraka Jahannam sana? "Memangnya kau tidak melihat persamaan mereka sama sekali? Walau kelakuan mereka begitu jauh, mereka kan mirip?" ucap Berwarld sedikit bingung dengan kelemotan Bumi. Bumi nyengir. "Aku rasa aku sadar kalau si anjing herder itu memang mirip dengan Feliciano, tapi alam bawah sadarku tidak menerima kenyataan itu. Jadi bisa dibilang aku tidak melihat persamaan sama sekali."

"Dasar bodoh… dan apa maksudnya tadi, mau pindah rumah?"

"Ah… ada masalah." Bumi tidak ingin membongkar aib orang jadi dia segera membelokkan pembicaraan. "O-oh, tapi tadi aku berdebar-debar sekali, lho. Habis, kau begitu keren saat ngomong alasanmu membuat kue." Ucap Bumi dengan senyuman, hidungnya merah muda karena dingin. Sementara Tiino terlihat lebih merah muda lagi, tapi Bumi tidak yakin itu karena dingin. Dia yang semenjak tadi menikmati mendengar pembicaraan Bumi dan Berwarld saja segera berseru, "Eeeeeeeeh?! A-ahaahaha, a-ahahaha, aku tidak ada m-maksud apa-apa lho, bukan karena aku ingin menyatakan sesuatu atau apapun!"

Bumi mengerutkan dahi sedikit bingung. Bumi terus menerus bertanya apa maksud dari perkataan Tiino yang sedikit ambigu tersebut, ayolah tidak semuanya bisa membaca pikiran siapapun yang dia inginkan. Bumi butuh data sebelum dia bisa melakukan deduksi. Tapi Tiino menolak memberikan dia lebih banyak informasi, lebih memilih berdiri disamping Berwarld dan menyembunyikan seluruh tubuhnya dibalik wall maria yaitu Berwarld. Malam itu dipenuhi gelak tawa antara Tiino dan Bumi, dengan sedikit kontribusi dari Berwarld. Di pertigaan yang memisahkan blok rumah mereka, Bumi terlalu cepat berbalik.

Terlalu cepat berbalik sehingga dia tidak melihat Berwarld menggenggam tangan Tiino lebih erat dari biasanya, dan tatapan mata Berwarld ke Tiino yang begitu intim, lebih dari biasanya.

Yah, walaupun Bumi melihatnya, Bumi itu terlalu lemot untuk mengasses maksud dari tatapan dan sentuhan itu, jadi tidak ada yang bisa dilakukan oleh kita, para pendukung SweFin, selain menghela nafas memandang ke samudera langit yang menjatuhkan gula-gula kecil yang tidak manis.

.

.

.

.

.

.

.

.

"A woman happy happy in love, she burns the soufflé. A woman unhappyinlove, she forgets to turn on the oven."

In Sabrina, 1954

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

True fact : buat newbie fandom hetalia… yap, Berwarld homo beneran. Udah di konfirmasiin sama si creatornya sendiri kok, mas Hidekazu.

Balon biru : HUHU makasih udah memfavoritin fanfik unko satu ini. Wkwkwk aku udah seneng kamu review kok T_T HAHAHA ARTHUR MEMANG KESAYANGAN SEMUA ORANG KAYAKNYA./Sabila Foster : HAHAHAHA IYA NGGAK PAPA. MUAH JUGA./ Guest : makassiiih xD/djo : aku juga kalo nggak nonton drama drama korea yang gourmet ngga tau kalo ternyata dapur itu tekanannya gila xDD makasih makasiiih dimasa depan akan lebih banyak yang bikin doki-doki lho TEHE./katmini718 : SILAHKAN NGGA ADA YANG LARANG YA AMPUN /Tomo males on : ja-jangan panggil saya senpai : ( hahaha dilanjutin kok tapi kan kemarin UN xDD Ini udah ada lanjutannya~/Yumi Murakami : review paling panjaaang! xD wahahaha makasih makasih WAH KAMU JUGA ABIS UN YA. IYA KITA SEMANGAT SBMPTN SAMA UM YA.

Omong-omong ini pertanyaan dari Yumi Murakami-senpai, yang mungkin sempet di pemikiran para pembaca tapi ngga ditanya. Saya pisahin aja yaa~

Bukannya Lovino itu galak ke cowok tapi gentle ke cewe? Iya Lovino emang gentle sih, tapi aku pikir dia nggak bakalan pilih kasih di bidang masak memasak yang dia sukain banget! Berwarldnya ooc. Soal berwarld.. sumpah aku emang pengennya bikin dia dingin dingin gaje gitu tapi ADUH NGGAK BISA BAYANGIN KENAPA YA. Akan saya perbaiki di chapter depan. M(_ _)M ada banyak kesalahan dipenulisan gender dan nggak sekali dua kali, tuh. kalau soal yang salah kalimat, iya saya khilaf sekali… akan saya perbaiki lagi*sujud lagi* setau ku 'roti' bukannya Boulanger, tapi lebih pendek.. gateau, pattissiere, Boulanger, semuanya ngarah ke sweets, jadi aku random pake aajaa… makasih banget T_T kenapa Bumi nggak nyadar kalo feli sama Lovi sama? Kan udah ketemu Feli duluan? Haha, di chapter ini si Bumi baru nyadar kalo Feli mirip sama Lovi xDD Bumi kan lemot wkwk. Feli tinggal sama Ludwig sama Gil? Kan ada Lovi? Jadi ceritanya Feli sama Ludwig plus Gil tinggal bareng sementara Lovino terpisah karena alasan tertentu yang akan dikasih tahu dimasa depan~ Austrianya agak OOC soalnya dia itu kan menjaga etika banget… jadi simfoni itu… ah lupakan. soal kenapa Roderich sama Elizaveta ngelakuin itu sering-sering juga krusial buat perkembangan cerita lho… dan Roderich disini kan udah ada status halal sama Elizaveta plus mereka berdua kan nggak tahu Bumi mendengarkan mereka berdua, jadiiiiii… xD sebenernya elizaveta sama roderich orang perancis atau Hungaria/Austria sih? oooh, soal Elizaveta itu orang Hungary kok, tapi sekali lagi fanfik ini kita liat dari sudut pandang Bumi yang nggak bisa bedain antara orang Perancis dan Hungaria, makanya di chapter tiga(atau empat?) Bumi monolog "…dan wanita Perancis sejati." Karena 1) Prejudice wanita perancis yang senggol cipok, 2) Elizaveta udah tinggal di Perancis terlalu lama, jadi bisa dibilang dia udah jadi wanita perancis not-by-blood. 3) Authornya nggak terlalu tau kayak gimana seorang wanita Hungaria berlaku, makanya… *ditabok*

Dan yak, hari ini sepertinya saya ingin romantic-romantisan… bagaimana dengan fighting event first arc ini? Seru?

Review? :3