Pagi itu memang pagi yang tidak biasa—hari itu shift Bumi sedang kosong dan Bumi berniat untuk menghabiskan waktunya bersantai-santai di rumah. Dan itulah yang Bumi lakukan. Dia tidak keluar selama hampir lima jam jam dari kamarnya (biasanya setelah jam tiga dia sudah keluar untuk bersih-bersih sebelum berangkat ke Le Roi.) semangat liburannya tidak akan bisa dirusak oleh siapapun! Lihatlah dia, hanya berbaring malas di atas tempat tidur memakai tanktop warna putih dan short pants. Rambut warna hitamnya acak-acakan jatuh di pipi, matanya tidak fokus karena masih mengantuk. Biasanya dia tidak memakai baju sependek ini jika tidur, hanya saja baju panjangnya semuanya sudah dicuci, dan selimut tebal yang mengelilingi tubuhnya tidak terlalu buruk untuk menjadi proteksi kedua.
Jam lima dan diluar masih segelap jam dua belas malam. Bumi mengambil handphone-nya untuk melihat apakah ada text nyasar, tapi ternyata tidak ada satupun text masuk ke HP-nya, membuat Bumi sedikit merasa kesepian. Berwarld dan Tino sialan! Teman macam apa itu, membiarkan Bumi sendiri, kesepian tanpa sentuhan hangat sahabat? Bumi berbaring telentang dan mencoba tidur sekali lagi.
Tapi ia tidak bisa menutup matanya.
"Aku tak bisa tiduuuur!" teriak Bumi pada diri sendiri. Mungkin tubuhnya sudah terlalu terbiasa untuk bangun pagi? Jadi dia tidak bisa lagi melanjutkan tidurnya walaupun dia mau. Tapi dia sudah sangat siap untuk tidur seharian hari ini!
…
"Siaaaal!" Bumi akhirnya berlari ke kamar mandi, cebar cebur cebar cebur, sikat gigi, berlari keluar dengan sehelai handuk, membuka kopernya dan memakai baju ternyaman untuk pergi keluar hari ini. Dengan cepat dia menaruh dompet berisi uang, kartu tanda pengenal, kartu metro, handphone, dan dia segera keluar mengunci pintu dan bagaikan peluru, berlari menuruni tangga melingkar.
"Ibu Elizabeth, saya pergi jalan-jalan!"
.
.
.
.
I Love it Hot and Fast (And Yummy)
Daruma san (Shi)
Pairing : HAREM LAH HAREM AING BINGUNG INI.
Genre : SLOW-MANCE, EVERYBODY. Humor, Gourmet!AU, drama (hopefully so)
Warning : OOC WARNING! Kesalahan referensi gourmet, kesalahan referensi Hetalia, kesalahan dalam bahasa Prancis (maklum lah aing udah ga pernah belajar françe lagi tehe) kebanyakan ngomong, narasi payah DSB DSB, racism tone. Author tidak punya masalah apapun soal rasis-merasis.
.
Ninth : Eiffel, Help!
.
.
.
.
Udara dingin familiar menjilat pipi telanjang Bumi. sekarang sudah mendekati pertengahan Februari, seharusnya udara dingin ini sudah menghilang, pikir Bumi tidak rela kedinginan di hari liburnya. Bumi tidak mengerti kenapa tiba-tiba dia memutuskan untuk berjalan-jalan, tapi ya sudahlah, selama dua bulan lebih disini dia tidak punya waktu untuk melihat-lihat keindahan Paris. Bumi kemudian menggaruk kepalanya. Dia sudah berada di depan stasiun, tapi…
Dia mau kemanaa?
Tahu jalan? Nggak. Punya duit? Punya, tapi takut habis. Kenal orang? Nggak sama sekaliii. Bisa mampus dia dicopet oleh bedebah kriminil di kota ini. Jadi, apa yang harus dia lakukan? Sambil melihat ke orang-orang Perancis dan campuran dari orang hispanik, Amerika, Asia, dan lain-lainnya, Bumi segera membuka handphone-nya dan menelepon seseorang yang akan membantunya.
"Ve~ kalau kamu bingung mau kemana, aku sarankan kamu pergi kemana, bagaimana kalau ke Kompleks Versailles? Maaf aku tidak bisa menemanimu, kantorku sedang sibuk~"
Suara mendayu-dayu Feli membuat Bumi tersenyum. Haaah. Cowok ini memang benar-benar membuat hati dan pikiran tenang. Setelah hampir setengah jam berbisik-bisik dengan Feli (orang perancis tidak suka berisik) Bumi segera tahu bagaimana caranya sampai ke Versailes ini. Karena kekurangan pengetahuan tentag Kompleks Versailes, sementara Bumi membayar tiket, Bumi membrowse tempat tersebut dengan hati gembira. Ternyata Kompleks Versailles adalah Kompleks istana yang dibangun pada zaman kerajan Louis XIV Versailles konon sangat tersohor dengan Formal French Garden yang luar biasa indah. Apa sih Formal French Garden itu? Dengan bantuan Mbah Google aku mengklik imej dan… OMG. Wow. Luas banget… tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Fix, Bumi bakalan ke kompleks Versailles! Rasanya Bumi deg-degan, karena jelas, ini pertama kalinya dia jalan-jalan seperti seorang turis benaran, dan bukannya opas di sebuah restoran Michelin bintang tiga yang ternama.
Menaiki kereta, tentu saja Bumi kepingin duduk. Orang-orang dengan cepat masuk ke dalam bus, sama aja kayak orang Indonesia yang berebut tempat duduk dalam bus way! Dengan gerakan senggol-bacok dan tatapan mundur-atau-mati, Bumi akhirnya sampai di destinasinya—tempat duduk super megah (oke itu lebay) yang diincarnya sedari dia masuk ke dalam kereta. Tapi—
"Minggir!"
Bapak-bapak berperut gendut tiba-tiba mendorong Bumi menjauh dan duduk dengan penuh kenyamanan di tempat duduk tersebut. Bumi merasa bom nuklir jatuh di perutnya. Oom-oom sialan, pikir Bumi agak sedikit tidak rela, namun tidak berani beradu mulut dengan orang Perancis Murni. Bisa-bisa dia diludahi dan ditendang keluar dari kereta ini tanpa bisa membela diri sama sekali. Akhirnya dengan penuh keterpaksaan Bumi berdiri berdesak-desakan dengan orang-orang berwajah datar lainnya. Feliciano bilang sesampainya di stasiun Versailles, dia hanya tinggal mengikuti kerumunan turis, mencari tourist information, dan langsung nemu deh, gerbang kompleks Versailles.
Tidak sampai 45 menit dan Bumi sudah sampai di stasiun Versailles. Dada Bumi bergemuruh ketika melihat kerumunan menusia keluar seperti arak-arakan lebah, masing-masing mengeluarkan suara individual. Tiba-tiba perasaan bangga menelusup dalam dirinya, membuat Bumi tersenyum lebar dengan pipi merona. Dia ingin teriak, dia ingin teriak. Dia ingin mengungkapkan perasaannya pada seluruh dunia dalam bahasa ibunya. "Ibu, aku ada di Paris." Bisik Bumi, bibirnya sakit karena saking lebarnya dia tersenyum. Matanya kemudian menangkap kerumunan Asia yang jelas turis, dan meloncat menuju mereka untuk mencari tourist information. Selama perburuan mencari tourist information, Bumi melihat perbedaan antara turis Asia dan Perancis—orang-orang Perancis sama sekali tidak suka tersenyum. Wajah mereka cemberut sekali, sementara orang Asia terus menerus tersenyum pada siapapun. Seorang Pria dengan wajah manis khas Asia Timur bahkan tersenyum ke arah Bumi dengan sopan. Dia tengah berjalan bersama sekelompok mahasiswa Asia?
Karena hari ini Bumi ingin SKSD, dia sapalah si cowok manis itu.
"Hai." Dalam bahasa Perancis. Cowok itu tersenyum balik, tidak merasa jengah dengan ke-SKSD-an Bumi. "Boleh kenalan?" Bumi langsung merasa kalau dia seperti sedang menggoda pria disampingnya. "Maksudku, aku sendirian, dan aku pikir—"
"Rileks." Ucap pria itu terkekeh kecil. "Namaku Honda Kiku."
"Ah, aku Bumi. senang berkenalan denganmu." Ucap Bumi kikuk. Kikuk dan Kiku. Heh. "Kamu sepertinya punya keturunan Asia," ucap Honda dengan senyum yang tidak berubah. "Ah, aku memang keturunan Asia. Aku dari Indonesia." Bumi tersenyum kecil. Honda terlihat sedikit penasaran. "Benarkah? Aku tidak pernah melihatmu dalam PPIS sebelumnya," ucap Honda akhirnya. PPIS? Apa itu? Pikir Bumi. "Eh, PPIS itu apa?" Tanya Bumi akhirnya. "PPIS itu Persatuan Pelajar Indonesia di Sorbonne. Kau pelajar Sorbonne, kan?" Tanya Honda balik. Bumi syok dituduh mahasiswa. "Aku sudah bekerja," ucap Bumi, berharap salah paham ini segera terhapuskan. Honda terlihat kaget. "Benarkah? Kau kelihatan muda sekali."
"Orang-orang berkata seperti itu," ucap Bumi awkward.
"Apa ini pertama kalinya kau berjalan-jalan sendiri?" tebak Honda akurat.
"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Bumi, sedikit takut ternyata Honda adalah cenayang yang bisa baca pikiran.
"Terlihat dari wajahmu." Kekeh Honda, membuat Bumi memerah. "Begini saja, bagaimana kalau kau ikut kami? Kami tidak akan membiarkan teman satu rumpun bingung sendirian, kan? Kami tahu jalan kok." Tawar Honda akhirnya. Bumi tersenyum senang. "Benarkah? Asyik! Terima kasih Honda!" Bumi menepuk bahu Honda saking senangnya. Honda hanya tersenyum dan berteriak pada segerombol Asia yang jadi temannya. "Semuanya, kemari! Aku ingin kalian berkenalan dengan dia," ucap Honda.
"Siapa ini, Kiku?" seorang cowok yang kelihatannya orang melayu seperti Bumi memandang Bumi songong. Bumi mengerutkan dahi. Dalam kerumunan itu, ada lima orang—satu diantaranya cewek cantik yang kelihatan lembut. "Dia Bumi, dari Indonesia. Kenalkan, cowok muka dekil ini Razak apalah, dari Malaysia," ucap Honda, menunjuk Razak yang tidak terima dipanggil dekil, "Yang ini Xiao Mei, dari Taiwan. Cowok jabrik berkacamata ini Akara Sumate, dari Thailand. Cowok culun ini Grey Wong dari Singapur, dan yang itu dari Filipina, namanya Jazz Sarabosa." Ucap Honda.
"Eeeh, jadi kamu dari Indonesia?" Tanya cowok manis lainnya yang diperkenalkan sebagai Grey tersenyum imut ke arah Bumi. "Kita tetanggaan ya! Halo!"
Bumi kepingin memeluk benda imut ini.
"Halo, Bumi! Aku lihat kamu berkenalan dengan Honda, ya? Namaku Xiao Mei!" cewek cantik yang terlihat lembut itu ternyata sangat enerjik, pemirsa. "Ayo, ayo… daripada kita berdiri disini, lebih baik kita segera berjalan ke gerbang Versailles, ana…" ucap Akara yang sedari tadi tersenyum lembut. Bumi hanya tersenyum ke arah Akara dan berjalan bersama Xiao Mei disamping kiri dan Razak di samping kanan. Selama perjalanan, semuanya bertanya pada Bumi siapa Bumi, umurnya berapa, kerja dimana (mereka kaget saat tahu Bumi ternyata bukan pelajar) ternyata diantara mereka bertujuh, Bumilah yang paling tua. Bumi merasa mengayomi. Hehe.
Berada di sekeliling orang-orang Asia benar-benar tidak buruk. Bumi ketagihan.
"Kita sudah sampai," ucap Honda. "Bayarnya berapa, ya?" Tanya Bumi akhirnya. "Entahlah, kami tidak tahu. Karena kami punya kartu pelajar, jadi kami tidak usah membayar, ana." Ucap Akara dengan senyum manis. Bumi terlihat terkejut. "Oh, jadi kalian bisa masuk ke sini tanpa membayar kalau punya kartu pelajar?" Tanya Bumi. "Iya, soalnya Paris kan kota ramah pelajar." Jawab Xiao Mei tersenyum lebar. "Tapi dengan wajahmu, mungkin kamu bisa lulus jadi mahasiswa, Bumi." celetuk Grey yang membuat yang lain terkikik. Kecuali Razak yang memutar bola mata.
Bumi menyipitkan mata ke arah Razak. Bocah satu ini, ada masalah apa dia denganku?
Setelah membayar lima euro pada penjual tiket berwajah masam, Bumi dan yang lainnya masuk lewat gerbang Versailles dan disambut oleh luasnya taman Formal French Garden yang kotak-kotak dan sangat rapi dan hijau. Sayang masih musim dingin, tidak ada bunga-bunga yang mekar. "Woaaaaaaah!" tiba-tiba Grey berseru kencang dan berlari ke arah French Garden tersebut. "O-Oii! Jangan berlari-lari, nanti jatuh!" seru Xiao Mei sisi keibuannya keluar. Seperti yang kita lihat, Grey adalah yang termuda diantara mereka, dan Jazz yang termuda kedua, namun sedari tadi Jazz terlihat datar dan stoik saja. Siapa sangka Jazz ternyata kekanakan juga, pikir Bumi melihat wajah datar Jazz berkilauan excited.
"Tempat ini luas sekali," ucap Honda, memfoto sekelilingnya. Sebuah air mancur yang airnya tidak dinyalakan berdiri gagah. "Kiku! Kiku! Foto aku, Kiku!" seru Xiao Mei pada Kiku. "Ah! Aku juga mau!" seru Grey pada Xiao Mei. "Iya, iya, ayo sini!" dengan berpose di depan air mancur, mereka berpelukan dengan erat. "Anu, apa mereka berdua pacaran?" Tanya Bumi pada seseorang di sampingnya. Ternyata Razak, yang hanya menaikkan bahu dan berkata, "Jangan tanya aku."
Bumi menyipitkan mata lebih keras. Bocah…
"Kiku, foto denganku yuk!" seru Xiao Mei. "Sudah, aku yang akan memfoto kalian." Ucap Akara akhirnya. Kiku tersenyum dan segera berjalan ke arah Xiao Mei. Setelah berkali-kali berfoto bersama, mereka sepakat untuk masuk (walau Jazz awalnya tidak mau. Wajah datarnya seperti merajuk ketika ditarik masuk ke dalam. Bumi terkekeh.) "Bumi, kau benar-benar bekerja di sebuah restoran?" Tanya Grey berjalan di samping Bumi. "Iya, namun aku bukan seseorang dengan jabatan tinggi, sih," ucap Bumi sedikit kewalahan. "Apa kamu bisa memasak?" Tanya Grey penasaran. Bumi mengangguk. "Masakan apa yang bisa kamu masak?" Tanya Grey lagi. "Eeeh, tergantung, tapi aku bisa memasak masakan Perancis hampir semuanya." Ucap Bumi akhirnya. "Wah, keren," ucap Grey, wajahnya terkesima. Pipinya gembil seperti buah peach, siap untuk digigit. "Kamu sangat manis," tiba-tiba Bumi langsung ngomong tanpa diayak. Pipi Grey semakin memerah. "A-apa?" ucap Grey, gelagapan. "T-tidak lucu, Bumi!" seru Grey langsung berlari dari Bumi dan bersembunyi di samping Xiao Mei. Bumi tertawa kecil.
"Sudah bagus kau tidak dipukul olehnya." Ucap seseorang bernada songong. Bumi melirik dikit ke samping dengan malas-malasan.
"Oh," ucap Bumi malas, tidak ingin berbicara dengan anak berdarah Malaysia disampingnya. "Razak benar, ana. Grey sangat tidak suka dipanggil manis. Dia merasa orang-orang mempermainkannya." Ucap Akara disamping Bumi. Akara dan Razak lebih tinggi dibandingkan Bumi. "Benarkah? Kenapa begitu?" Tanya Bumi pada Akara, bukan pada Razak. Catat itu. "Entahlah, mungkin ada hubungannya dengan umurnya yang baru lima belas tahun. Dia jenius, jadi selalu bisa loncat kelas, dan dia yang paling muda diangkatannya. Wajar orang-orang membully dia." Jelas Akara, "Karena itulah dia belajar Taekwondo. Siapapun orang yang memanggilnya manis… well, bisa dikatakan he's as dead as a log."
Bumi langsung merinding.
"Ingatkan aku untuk tidak memanggil dia manis lagi…"
.
.
.
.
.
.
Setelah mengantri lama, mereka akhirnya bisa masuk ke dalam Versailles Palace. The Palace of Versailles, adalah sebuah château royal. Di Perancis, Versailles dikenal dengan nama Château de Versailles. Louis XIII, yang melihat hutan yang mengelilingi Versailles dan merasa senang, memerintahkan untuk membangun sebuah tempat berburu di Versailles. Tempat berburu inilah yang akan berkembang menjadi pusat istana. Louis XIV kemudian mengembangkan tempat ini menjadi sebuah istana terbesar di dunia.
Begitulah sejarah (sangat) singkat dari Kompleks Versailles. Sekarang Bumi sedang berada di dalam kamar tidur ratu Antoinette yang terkenal akibat keserakahannya. Ruangan tersebut begitu megah, menggambarkan bangsawan arogan, dihiasi warna royal gold. Pengunjung bisa berfoto di bagian dalam ruangan yang dihiasi lukisan Antoinette. Cermin raksasa menggantung disebelah lukisan tersebut, memantulkan keseluruhan muka dari kamar megah tersebut. Beraneka ragam gantungan lampu berpayet emas dan kaca memperindah interior kamar tersebut. Bumi memandang potret diri sang Madame Déficit. Wajahnya bulat indah dengan mata yang hitam dan begitu memerangkap pesona. Kulitnya digambarkan putih, dadanya montok dan baju yang dia pakai juga terlihat regal, bibir seperti daging stroberi bersimbah darah. Posenya mengatakan bahwa 'aku adalah ratu di kerajaan ini, tiada yang bisa menjatuhkan aku'. Tidak heran Louis XIV jatuh cinta pada wanita ini, L'autrichienne.
"Kalau kau memandang lebih jauh, mungkin sebentar lagi Antoinette bakalan kabur dari piguranya karena ketakutan."
Bisikan Honda membuat Bumi berbalik. "Sori. Aku cuma… terperangkap, kukira. Dia sangat cantik." Renung Bumi. Honda menaikkan bahu. "Apa yang cantik dari seorang wanita tidak heroik, yang kabur dari Perang Revolusi, yang sudah menjatuhkan rakyatnya sendiri, dan yang sudah membuat begitu banyak kontroversi? Aku bahkan bukan orang paris, dan merasa bahwa wanita ini begitu menyebalkan."
Bumi mengangkat alisnya. "Sepertinya kau sangat berapi-api, ya."
"Aku jurusan sejarah," ucap Honda. "Agak sulit untuk tidak terbawa oleh hal yang kau sukai."
"Kalau dilihat dari sisi makanan, mungkin wanita ini adalah Follicle Roe dari Jepang, ya." Goda Bumi. Honda menaikkan alis. "Beracun jika tidak diolah dengan baik. Terlihat menggiurkan diluar, namun ternyata beracun didalam."
"Kau lucu," Honda terkekeh. "Sudah selesai melihat-lihat? Aku sudah selesai dengan referensiku, kami akan segera ke Granc Canal." Kata Honda. Bumi mengangguk dan mereka segera berjalan menuju gerombolan Asia di depan. "Aaah, aku lapar," ucap Xiao Mei. "Tunggu, kita masih belum ke Grand Canal." Ucap Akara. Jazz yang sedari tadi diam hanya menatap Akara dengan wajah datar.
Grand Canal adalah Kreasi dari André Le Nôtre, sebuah kanal air bejauh 1670 meter. Dikenal karene ksimetrisannya, Kanal air ini begitu indah sampai-sampai disebut sebagai World Heritage. Bahkan pohon-pohon yang berjajar disebelah kanal dipotong begitu rapi sampai-sampai bagian atasnya memiliki tinggi yang sama. "Piknik disini enak kali," bisik Bumi dalam bahasa Indonesia. Yang lain sudah berlari-lari berfoto-foto. Bumi tersenyum dan memfoto Grand Canal yang hijau dan indah, serta jauh memandang. Angin dingin meniup dan Bumi merasa sangat bahagia. Mata Bumi kemudian menangkap sebuah kolam yang memiliki patung aneh disana. "Akara, aku kesitu boleh?" ucap Bumi ke Akara. "Boleh, kami juga akan kesitu nanti." Ucap Akara yang sibuk memfoto Honda dan Xiao Mei. Bumi segera ngacir ke kolam tersebut.
Ditengah kolam, ada sebuah patung kuda yang sepertinya naik dari dasar kolam? Mereka kelihatan sedang berjuang gigih. Seseorang menaiki kuda-kuda tersebut. Aku berpikir apa yang membuat mereka berada di tengah kolam? Kenapa mereka seperti tengah terperangkap ditengah kolam ini? "Ooh, Dewa Apollo." Ucap Xiao Mei tiba-tiba dari samping Bumi. "Dewa Apollo? Dia?" ucap Bumi menunjuk ke seorang pria yang berjuang membawa kereta kuda dari dasar kolam. "Dewa Apollo, benar." Ucap Xiao Mei sebelum akhirnya berkata, "Ayo, kita selfie!"
"Eh? Ta-tapi aku tidak bisa selfie," ucap Bumi malu.
"Sudahlah, aku akan memegang handphone-ku. Kau sangat tampan!" ucap Xiao Mei tiba-tiba tersenyum manis. "Aku tidak akan melewatkan berfoto dengan cowok tampan."
Agak jleb ya.
Setelah sesi foto selfi yang awkward, Bumi melihat dirinya berfoto bersama Xiao Mei—yah, tidak buruk. Paling tidak matanya terbuka dan tidak berkedip seperti orang tolol. "Kau sepertinya tidak suka berfoto ya, aku lihat kau hanya memfoto panorama saja, tidak pernah memfoto diri sendiri." Ucap Xiao Mei pada Bumi. "Aku hanya tidak terlalu suka berfoto," elak Bumi. "Begitukah? Kupikir dengan wajah begini, kau pasti adalah seorang yang narsis. Tapi ternyata tidak. Ayo, waktunya untuk makan siang. Aku dan Jazz sangat kelaparan!" Xiao Mei tertawa merdu dan menarik tangan Bumi. mereka bertujuh segera pergi dari Grand Canal setelah berfoto-foto beberapa kali lagi. Bumi merasa puas sekali berjalan-jalan.
"Sehabis ini, bagaimana kalau kita ke menara Eiffel?" usul Akara, dan Bumi langsung tersenyum lebar. "Serius?! Boleh aku ikut? Aku ingin sekali kesana!" seru Bumi semangat. "Tentu saja, lagipula sudah lama sekali kami tidak kesana." Ucap Honda tersenyum Karena kelakuan Bumi yang kekanakan namun manis itu. "Aaaah, Eiffel Tour, aku datang!" Bumi meregangkan tubuh dengan semangat. Namun tanpa sengaja tangannya membentur bahu Razak. "Ah, maaf—"
"Kenapa sih kau tidak lihat-lihat kalau sedang berjalan? Merepotkan." Desis Razak yang kelihatannya tidak bisa berhenti manyun seharian ini. Bumi langsung merasa matanya berkedut. "Razak, kau tidak sopan!" tegur Xiao Mei. "Berisik, neeneeeek," lidah Razak dikeluarkan dengan songongnya. "Apa—kemari kau, anak gila!" Xiao Mei berlari mengejar Razak yang berlari pula. "Maafkan dia ya, dia memang agak sensitif dengan orang Indonesia. Bukannya dia rasis atau apa…" ucap Grey, kelihatan sekali tidak enak. Bumi menghela napas dan tersenyum. "Tidak apa-apa, aku tidak terlalu peduli kok."
"Maafkan dia ya, sebenarnya dia baik."
Baik mananya. "Iya tak apa-apa kok."
Dengan begitu mereka meninggalkan Istana Versailles dan segera mencari makan siang di warung Asia terdekat, tapi karena tidak ada, mereka akhirnya datang ke sebuah warung kebab. 15 menit berjalan dari tourist information, mereka akhirnya bertemu dengan wrung kebab. Mereka bertujuh memesan tujuh paket kebab roti isi daging ayam dengan pommes. Harganya enam euro lho!
Ketika mereka duduk ditemapt yang strategis, Honda bercerita bahwa mereka berenam awalnya tidak saling kenal, namun mereka semua berada dalam ikatan Asia di Sorbonne. Bumi mengangguk mengerti. Sementara itu, Jazz menatap wajah Bumi dengan sangat lekat. "Ke-kenapa Jazz?" Tanya Grey yang jengah melihat pemandangan Jazz menatap Bumi seperti itu. "Hmm," tangan Jazz tiba-tiba melingkari pundak Bumi, wajahnya mendekati leher Bumi. Mengendusinya. "H-haaa?!" Bumi langsung kaget setengah hidup. Cowok ganteng berwajah stoik bermata biru itu me-me-me-memeluknya. Mengendusinya! A-ada- ada apa ini?! Apa ini?! Bumi yang memang tidak biasa disentuh cowok ganteng manapun Cuma bisa membeku dengan syok. "Jazz!" Xiao Mei kaget melihat kelakuan Jazz. "Baunya Bumi, enak. Stroberi." Jazz menjilat bibirnya, mata birunya tepat memandang Bumi, seduktif.
"Lapar." Bisiknya.
ASDAFASDAFASDAF. Bumi mau pingsyan.
"H-ha, hahaha, m-mungkin ini yang kamu ma-maksud." Bumi dengan gemetaran memberikan permen rasa stroberi yang tinggal sisa satu dari kantungnya. Mata Jazz berbinar-binar seperti mata puppy. "Stroberi." Dan kemudian Jazz langsung mengambil permen tersebut dari jari Bumi dan membuka bungkusnya sebelum menjilat jempolnya dengan seduktif pula. "Terima kasih." Jazz menunduk dengan wajah malas, namun semenjak itu dia tetap berada di dekat Bumi.
"J-Jazz!" Grey kelihatan ketakutan setengah mati dan begitu merah, sementara Akara hanya tertawa. "Hahaha, kau sudah meraih hati Jazz, Bumi." Tawa Akara renyah, kacamatanya hampir melorot, dan Bumi merasa bahwa Akara juga syok atas perlakuan Jazz terhadap Bumi tadi. "Begitukah?" Bumi tersenyum, wajahnya masih merah delima. Merasa senang karena ada tempat yang membuat dia merasa diterima, walau itu berarti harus diendusi sedemikian rupa. "Jazz seperti seorang seniman. Apa dia jurusan seni?"
"Dari baju acak-acakannya, ya? Kau benar sekali, dia jurusan seni di Sorbonne. Kiku jurusan Sejarah, Akara jurusan engineer, aku jurusan mesin, Razak Jurusan sastra, dan Xiao Mei jurusan warna."
"Eh? Jurusan warna?" Bumi terdengar tertarik.
"Kamu tidak pernah dengar?" Tanya Xiao Mei, tertarik mendengar namanya disebut.
"Di tempatku, tidak ada jurusan warna. Apa itu?" Tanya Bumi. "Sesuai namanya, kami mempelajari warna," ucap Xiao mei. "Kami menemukan warna-warna baru untuk mewarnai Paris dan kemudian bereksperimen dengan warna mana yang tidak akan pudar oleh waktu, atau bagaimana caranya agar warna bisa terlihat berkilau ditengah malam tanpa bantuan fluoroscense. Cukup terkenal di Paris, lho."
"Benarkah? Itu hebat," Bumi terkesima.
"Kalian terlihat mirip," tiba-tiba Jazz menceletuk ke arah Bumi.
"Benarkah?" Grey berkata dengan wajah bersemu senang.
"Bukan kau," ucap Jazz acuh, "Tapi Bumi dan Razak."
Tiba-tiba, temperatur disekitar mereka langsung turun.
"Aku tidak sudi disamakan dengan dia," geram Razak. Bumi menatap Razak sebal, namun dia berusaha menahan amarahnya dengan diam saja. Dia sudah terbiasa dilempari berbagai macam makian, namun bukan berarti dia senang dengan rasanya. Memang, wajah Razak dan Bumi sekilas sama, hanya saja garis wajah Razak lebih tegas (ya iyalah, Bumi kan wanita) dan lebih keras. Makanan mereka sampai dan Bumi yang sudah bete hanya memakan kentangnya dengan penuh penekanan. Mereka diam selama makan, merasakan aura Bumi dan Razak yang tidak main-main.
Mereka makan dengan cepat. Karena destinasi selanjutnya adalah pergi ke Menara Eiffel, mereka berjalan-jalan ke Arc de Thriomphe. Mungkin artinya adalah The Statue of Thriump, pikir Bumi ketika dia berada dibawah naungan monument gapura yang merupakan titik sentral dari beberapa jalan utama di kota paris. Ketika curi dengar dari salah seorang guide Bumi mengerti bahwa Monumen ini dibuat untuk menghormati orang-orang yang berkorban untuk revolusi Perancis. Ukiran dari gapura tersebut sangat elaborate, indah dan begitu mencengangkan. Dadanya berdebar ketika ingat bahwa Arc de Triomphe merupakan bukti bahwa Napoleon Bonaparte, Jendral Perang Prancis ternama, mempunyai hubungan dengan agam Islam. Katanya, Arc de Thriomph menghadap ke arah Ka'bah di Mekkah!
Bumi tersenyum sebelum memfoto bagian dalam dari monument tersebut. Udaranya dingin dan menyenangkan. Dia akan mengirim semua foto ini ke Dara nanti.
"Kampungan."
Bisikan si bocah songong jelas membuat Bumi naik darah. Dia biasanya bisa menahan diri lebih kuat, namun Razak sepertinya memang mempunyai kekuatan ajaib untuk membuatnya marah berkali-kali lipat. Dengan pelototan maut Bumi menghadap ke Razak. "Oi, Bocah, sebenarnya kau ada masalah apa denganku?" Tanya Bumi dengan suara rendah, amarah menggelegak seperti sup kental di perutnya. Razak mendecih. "Aku hanya muak melihat orang Indonesia sepertimu berada di sekitarmu. Aku benci orang-orangmu."
"Kau pikir aku suka kau, hah, sialan? Aku tidak melakukan apapun dan kau tiba-tiba membenciku. Brilliant!" Ujar Bumi sarkas. Razak hanya menaikkan bahu walaupun wajahnya mengeras. "Akan lebih baik kalau kau pergi saja dari sini, kami tidak butuh kau." Gumam Razak, dan jarak antara mereka hanya tinggal sesenti, mereka berbagi napas, dan wajah kedua belah pihak terlihat muak akan satu sama lain. Di satu sisi, Bumi bingung kenapa Razak begitu membencinya walaupun mereka baru pertama kali bertemu. Akhirnya Bumi memilih satu teori bahwa Razak itu rasis.
"Hei, hei, ini tidak lucu, tahu?" Akara tiba-tiba muncul ditengah mereka, wajahnya berkeringat. Xiao Mei dan Jazz memandang mereka khawatir (Jazz sih datar saja). "Apa yang terjadi? Razak, bisakah kau sopan sedikit?"
"Akara, kau tahu aku tidak suka orang sepertinya." Ucap Razak dengan mata berapi-api, wajah tampannya begitu tampan dan berkilauan karena amarah. "Aku muak melihatnya. Aku pulang duluan." Razak pergi dari samping mereka tanpa berkata-kata. "Razak! Razak! Geez, this kid…" Akara menghela nafas sebelum memandang ke arah Bumi. "Maafkan dia. Dia hanya… dia dulu… ah, aku tidak bisa mengatakan hal ini. Pokoknya, dulu dia dikecewakan oleh orang Indonesia. Maafkan dia." Akara menepuk bahu Bumi.
"Ada apa?" seru Grey dari jauh, mendekati mereka dengan wajah cemas.
Bumi hanya tertegun, matanya menatap Razak yang punggungnya sudah tak pernah terlihat lagi, sementara orang-orang menelan siluetnya yang kokoh.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author's note : Banyak yang nanya dari mana saya dapet referensi ya. Saya banyak baca buku, nyari di Internet, sama blog Gourmet aja kok. Kalo bukunya ya kebanyakan manga. Selama Sembilan chapter ini referensi manga-nya; 'Gourmet!', 'Sokugeki no Soma', 'Kami no Shizuku', 'Yumeiro Pattissiere', Kdramanya 'Pasta' sama dorama 'Hungry!', dan masih banyak lagi saya lupa.
Dan yep, judul kali ini Parody dari novel 'Eiffel, Tolong!'-nya Clio Freya xDD dan disini, personifikasi yang beneran canon Cuma Taiwan (Xiao Mei) sama Thailand (Akara) dan Jepang (Honda) sisanya aku buat sendiri, kayak Razak (Malaysia), Jazz (Filipina) dan Grey (Singapura)
Pssst, imej Jazz buatku itu mirp Haru 'Free!' Lho! xDD
Pojok-balesin-comment-corner! Xddd (AING SUKA BAGIAN INI)
Sabila Foster : AHAHAH YAP BENAR SEKALI SUFIN 8DD MAKASIH DAH BACA BEB/Yumi Murakami : iya kemarin juga sudah selesai SBMPTN HAHAH DOAKAN SAYA. HMMM SOAL NAKSIR MENAKSIR MARI KITA LIHAT DI MASA DEPAN… HAHAHA YAOI DAN YURI BOLEH DIPERTIMBANGKAN ITU XDD mau gimana lagi aku juga mau bikin Tiino menang, sayang tidak ada yang mengizinkan L HAHAHA HOMO. A-air dan Api? Wkwk lagi dirumah ngangon sapi… SpelBelg dan AmeBel? Siap ditampung! Saya harus tahu dinamika mereka dulu tapi xDD Portugall… hmmm. TAPI MALAYSIA UDAH DIATAS HAHA dia kayak jerkass diatas huhu. AH TAPI INI KAN HAREM JADI TAK USAH TAKUT HAHA /apaansi/AnonAnon : IYA NIH DAH KELAR HAHAHA (sok) BUMI EMANG LEMOT IH L s'mthing l'ke th's? susah juga, mengingat g bak'l ad' yang ngr'ti k'lo dibuat kay'k gini xDD makasih atas masukannyaaa xDD ma-maaf Anonsenpai ini udah ga ngomongin biologi lagi kok ((ditabok)) AAMIIN DOAIN BUAT SBMPTN DUNG HAHA ((gatau diri))/Boo : Sabina itu OC Negara Kazakhstan, nggak beneran ada kok, saya yang buat sendiri xDD antara mereka berdua hanya hubungan pekerja-atasan, Cuma lebih pelik… nggak seromantis yang anda pikirkan, kok…/Tomo : INI UDAH APDET LAGI HUHU. HAHAHA nggak ah ya ampun ._. Maaf soal typo, habisnya tiap saya baca nggak kelihatan terus menerus =A= maafkan sekali lagi! Makasih sudah bacaaa~ xD/djo : Yap benar sekali, emang susah buat siapapun ngelawan seseorang yang pro dalam waktu singkat… bumi emang lucu XD Dara bakalan muncul nggak ya? Munculin deh! Tapi mungkin chapter jauuuuuh dari sini xDD/Veria-313 : makasih sudah bacaaa :DDD yap benar sekali, SUFIN FTW! Okeee, makasih udah nanya yaa xDD ini sudah lanjut! xD/ D. : GULL MAKASIH UDAH BACAAA XDD nggak papa kalau kapslok gede dianggap berisik di Internet GIMANA DENGAN YANG INI COBA? XDD MAKASIH MAKASIH L ma-maaf humornya kering *jleb momen* saya bingung masukin humornya…. HUWA NONTON NOZAKI-KUN UWUWUWUWUWU AKU SUKA HORI-CHAN-SENPAI SAMA PANGERAN SUPER TRAP KASHIMA./Balon Biru : L( emang bolot banget deh Bumi L Pala Hayati jangan bingung dong L ini sudah lanjut! Makasih udah review!/Megumi Yoora : makasih, makasih! Chapter kali ini nggak bikin mumet kan, demi kamu lho! HAHAH Le Roi emang keras hehe. Bumi cowok ya kedengarnnya awal-awal? xDD fanservis kurang karena emang slowmance, tapi ini slow banget ya? Oke ini ada fanservice di chapter ini! Nggak makasih udah review, sumpah aku seneng banget! Makasih yaaaa xD/ fiv : lho u-udah cukup nih ._. Tebakan anda mungkin benar… mungkin? xDD /ti : diatas sudah di jawaaab :DD PSS. INI ADA FANSERVIS HEHEH KALO DIBIKIN CEMBURU… rasanya aneh deh? .-./abilabil : HEHEHE MAKASIH ABIIIL INI SUDAH DILANJUT! Hubungan francis Sabrina Cuma atasan-bawahan biasa, tapi sangat rumit, nggak ada unsure romantikanya, di chapter depan bakal dijelasin kok! / kuroi uso : AWESOME! KAMU JUGA AWSOME BANGET KOK hahah makasih bangeeet xDD/Hompimpah : Ah, aku lupa lagi Arthur masakannya GA ENAK BANGET. (Arthur ngasih pisau) hehehe tapi demi Chef!AU SAYA AKN MELAKUKAN APAPUN HAHA. RomaNesia imut yaaa! Tapi di chap ini ga ada L maaf! Makasih udah mampir~
