Jam dua pagi.
Alunan music default Sams*ng yang menyebalkan terdengar seantero kamar Bumi yang sunyi. Bumi hampir melempar jatuh handphone majapahitnya yang berharga kalau saja dia tidak ingat itu handphone satu-satunya. Akhirnya dengan keki Bumi berangkat menuju bangun dari pulau kapuknya. "Halo," Bumi berbicara setengah-malas setengah-gusar.
"Apa kau baik-baik saja?"
Bumi menaikkan alis ketika suara berat namun bermartabat itu berbicara dari international-call.
"Ini…. Pak Hatta?!" Bumi berseru tidak percaya.
.
.
.
.
.
.
I Like it Hot and Fast (and Yummy)
Daruma Shi
Please enjoy and keep in mind that I do not reap any economical benefits from this act. What I solely reap are the satisfaction of growing into a better writer and people's reviews.
.
.
.
Chapitre dix : Badai
.
.
.
.
.
.
.
"Jawab saja pertanyaan saya."
Masih tidak belibet-libet dan straightforward, pikir Bumi sambil kepingin nangis, tapi kepingin tertawa juga. Sudah semenjak kedatangannya di Paris dia menghubungi pria yang dijuluki Tangan Dewa tersebut beribu kali dengan hasil nihil. Kenapa sekarang seenak perutnya si Pria ini meneleponnya? Antara mau menjawab retorik dan mendamprat sang Guru, Bumi lebih memilih yang pertama, karena jelas kalau dia mendamprat dia bakal didamprat balik. There's no winning over Hatta Gibran. "Kalau menurut bapak dikunyah oleh monster gila masakan selama dua bulan dan disuruh menyamar jadi laki-laki itu baik, oh ya, saya sangat baik, pak." Ucap Bumi dalam Bahasa Inggris, sarkastik bercampur gemas. "Baguslah kalau begitu. Dari suaramu, aku tahu kau sangat sehat." Ucap suara dari seberang, mungkin sedang menahan tawa, namun wajahnya mungkin sangat datar. Tipikal oom-oom sadis tanpa perasaan, pikir Bumi sebal.
"Ini nggak lucu, pak. Saya diperah habis-habisan dua bulan ini. Saya bisa maafin bapak soal kenyataan bahwa ternyata posisi yang saya incar nggak tersedia, atau kenyataan bahwa bapak dengan sengaja atau tidak sengaja nggak bisa dihubungi sama sekali, tapi yang nggak bisa saya percaya adalah bahwa bapak setuju dengan kontrak gila pak Francis!" Omel Bumi, lupa kalau dua menit yang lalu dia masih ngorok dengan keras.
Tentu saja Bumi tidak lupa kenyataan bahwa kontrak penyamaran-jadi-laki-laki yang Francis ingin dia setujui bahkan diajukan oleh Pak Hatta Gibran, seorang chef terkenal di era '80-an, yang juga seorang kritikus makanan terkenal, yang juga sahabat ayahnya sekaligus gurunya, yang sekaligus juga seseorang yang menyebabkan purgatori personal, spesial untuk Bumi.
"Tidak ada waktu bicarakan hal itu," ucap pak Hatta, seperti seorang dewasa yang tidak bertanggung jawab. "Dan yang benar bukan 'nggak', tapi 'tidak'. Orang-orang mengira setelah dua bulan di luar negeri kau akan merubah cara bicara vulgar itu, tapi ternyata batok kepala kamu begitu tebal sampai-sampai kevulgaran itu tidak bisa melenyap keluar."
"Nggak ada waktu?! Sekarang jam dua pagi, tentu aja nggak ada waktu!" rutuk Bumi.
"Oh ya? Baguslah, berarti sekarang sudah waktunya untuk kamu bangun dan bersiap-siap."
"Saya berangkat jam tiga nanti!" Bumi merasa mukanya merah. "Tolong jawab pertanyaan saya, pak! Saya jelas tidak yakin bisa membohongi orang-orang lebih jauh lagi dari ini! Saya berangkat kerja dengan perasaan berat, takut ketahuan. Dan asal bapak tahu, saya—" seru Bumi sedikit desperate. Dia tidak suka berbohong dengan orang terdekatnya—berbohong membuat hati Bumi berat, dan jelas dia tidak akan bisa memasak dengan hati berat.
Tiba-tiba pak Hatta memotongnya. "Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaanmu." Bumi berhenti mengomel, merasa tersentuh dengan omongan tidak biasa pak Hatta. "Dan berhati-hatilah… akan ada pencuri datang padamu."
"Tut. Tut. Tut. Tut."
"Halo!? Haloo—"
Bumi merasa matanya berkedut menahan amarah.
"Pak Hatttaaaa kalo ngomong yang jelasssss!"
.
.
.
.
.
.
.
.
Sudah sore, sekitar jam tiga, dan satu jam lagi restoran akan dibuka. Dapur sekarang adalah bola berisi orang-orang gila yang berlari kesana kemari dengan teriakan-teriakan memerintah. Hal yang biasa, sungguh. Hal yang biasa kecuali pemandangan seorang anak laki-laki yang manis—dilihat dari kacamata orang awam—tengah melakukan sesuatu yang kelihatan mencurigakan. Sementara yang lain sibuk berlari-lari, dia berdiri didepan wash bin, tanpa bergerak, punggungnya tegak, ketegangan tidak mengalir dari pundak kecil itu.
Apa ini akan berhasil?
Bumi menjilat bibirnya, keringat meleleh dari philtrum ke bagian atas bibirnya.
Kalau tidak dicoba, kita tidak akan tahu.
Tapi kau mengetahui ini dari Internet, suara rasional mendebat dari belakang kepalanya, Kau bahkan tidak tahu ini bisa berhasil atau tidak.
Kalau tidak dicoba, kita tak akan tahu!
Bumi menelan ludah.
Baiklah, Bumi berpikir. Sudah waktunya kita menghentikan monolog gila ini dan mulai benar-benar menaruh aksi sekarang.
Tangannya yang gemetar kemudian memencet pipet tetes—
"Sedang apa kamu?"
"Huwa!" Bumi kaget bukan kepalang ketika mendengar suara tidak menyenangkan berada di belakang Bumi. "So-Sous Chef, maaf. Saya sedang bereksperimen," ucap Bumi sedikit takut-takut. Tangannya gemetaran memegang pipet tetes dan juga sebuah Tupperware plastik kecil yang berisi cairan keemasan yang tidak terlalu sempurna namun berbau mengundang selera. "Bereksperimen? Kau pikir kau mempunyai banyak waktu luang sampai-sampai kau bisa bereksperimen?" desis Lovino tidak suka. "M-maafkan saya, Sous Chef," ucap Bumi pada akhirnya, gemetaran. Ini pertama kalinya dia berkomunikasi dengan Lovino semenjak konfrontasi full clash yang hampir membuat Bumi pipis di celana waktu itu.
"Cepat kau bantu Oxenstierna, atau kupatahkan lehermu, dasar bedebah sial," Lovino berbisik kasar sebelum menarik bagian belakang leher Bumi dan menaruhnya disamping Berwarld dengan kasar. "Tapi, Sous Chef, ini di luar kekuasaan saya untuk membantu salah satu chef de parties," protes Bumi yang jelas tidak suka diseret kemana-mana tanpa ada alasan apapun. Dia sudah selesai melakukan bagiannya, jadi biarkan dia istirahat! Kira-kira itu maksud dari pemberontakan Bumi, dalam hati tentu saja, karena tidak ada yang mau melihat tarian berdarah dengan Bumi dan Lovino yang menjadi atraksi utama. Lovino memandang Bumi dengan pandangan yang bisa kau artikan 'bacot-ikut-saja-apa-kataku-bedebah'.
"Kalian semua," gaung Lovino, menepuk tangan dengan otoriter, "Berhenti melakukan kerjaan kalian dan hadapkan wajah kalian padaku."
Orang-orang berhenti memotong, mematuk, menggoreng, men-suer, mengocok—segala macam aktivitas dihentikan. Mata tajam Lovino mendapati Bumi yang diam-diam menuju ke Tupperware -nya dan dia berkata tajam, "Bedebah yang disana, kemari atau kau benar-benar akan menemukan jari-jarimu diblender sebentar lagi." Bumi berhenti sebelum berbalik tegang. Lovino menatap ke massa di depannya dengan enggan dan memulai, "Arthur bilang padaku," Lovino berkata namun omongannya tersumbat sedikit, seakan-akan hal yang akan dia bicarakan membuatnya kesakitan, "Kalau anak ini, bukan lagi handkitchen. Dia naik pangkat."
Hening.
Detik selanjutnya orang-orang di dalam dapur langsung protes dengan suara keras.
"Ini tidak adil!"
"Haaaaaaah!?"
"Jelas-jelas dia hanya berada di dapur ini selama dua bulan—"
"Kami tidak terima—"
"Apa yang sudah dia perbuat sampai-sampai dia naik pangkat?!"
"Dia bahkan tidak mengikuti fighting event—"
"TIDAK ADIL!"
Bumi menatap Lovino dengan mata bulat. Apa maksudnya ini? Lovino menatap mereka semua dengan pandangan singa buas, dan seketika semuanya mengatup mulut, walau sangat terpaksa.
"Kejadian mashed potatoes yang melibatkan Gold Jr. kemarin, kalian seharusnya mengakui hal itu cukup cool." Ucap Lovino, dan Bumi merasa matanya ingin loncat saja, mengingat bahwa cowok paling arogan dan menyebalkan yang pernah dia temui memanggilnya cool. Sebentar lagi kiamat, atau apa? "Ini menunjukkan dia mempunyai semangat memasak yang tinggi tanpa keinginan menyerah walaupun keadaan tidak mendukung." Dia berdecak dengan suara rendah. "Mungkin kau harus diberikan penghargaan karena perilaku berbudi dan akhlak yang baik, huh, Bedebah? Arthur berpikir seharusnya kita sembunyi-sembunyi saja melakukan hal ini, namun aku pikir mengatakan hal ini secara publik adalah hal yang pantas, karena kukira kalian berbisik-bisik di balik rounde hanya untuk menggosipkan Bedebah Sialan ini adalah hal yang rendahan. Kau dengar aku? Rendahan. Jadi selipkan ekor kalian ke selangkangan dan berhenti menjadi pecundang yang kalah."
Suasana seperti kota mati. Tiino memandang Lovino dengan mata tak berkedip, Berwarld terlihat tidak dapat dibaca dengan wajah datarnya, Arthur kelihatan tidak senang, dan semua orang di dapur itu juga kelihatan lebih dari tidak senang (mereka terlihat ganas), tapi Bumi melihat tidak percaya.
Lovino baru saja membelanya di depan orang banyak.
Lovino yang itu.
Bumi tidak percaya. Mulutnya terbuka sedikit dan pipet tetes hampir terjatuh dari sela-sela jemarinya.
"Sekarang, bubar, atau kucolok mata kalian satu-satu."
Dengan sangat terpaksa, orang disekeliling Bumi (sebelum paling tidak melemparkan pandangan membunuh sekali ke arah Bumi) kembali ke pos masing-masing. "Sous Chef Vargas," ucap Bumi. Lovino hanya berbalik enggan. "Apa benar Chef Kirkland bilang begitu?" Tanya Bumi. "Kau mau aku datang ke Arthur sekarang dan mengonfirmasikan kemenanganmu atas semua orang disini? Aku tak tahu kau begitu arogan, Adhiswara." Ucap Lovino Vargas dengan wajah datar. "Tidak, maksud saya bukan seperti itu—"
"Kalau kau mau protes soal promosimu, kau bisa datang ke Arthur." Ucap Lovino tidak peduli. "Dialah yang memutuskan hal ini."
Dengan itu Lovino kembali berdiri disamping Arthur Kirkland, dua orang paling kuat yang ada di dapur ini berdiri berdampingan. Perasaan Bumi sedikit campur aduk, namun dia tahu dia seharusnya merasa senang. Tentu saja dia senang, setelah dua bulan berada di tempat ini dengan pekerjaan kuli, dia akhirnya diakui dan naik jabatan (menjadi commis de chef-nya Berwarld, seperti Tiino) namun ada sesuatu yang menyundul hatinya, bilang padanya bahwa ini tidak benar… ini seperti meloncat dari satu batu hanya karena kau bisa, bukan karena kau benar-benar melakukan sesuatu untuk mendapatkannya.
Ini membuat Bumi merasa bahwa dia sudah melakukan hal yang jahat.
Bahwa dia sudah curang.
"Kau terlihat muak."
Berwarld berkata tanpa memandang Bumi, tangannya sangat lembut, menata gelas-gelas cocktail berisi sup avocado. "Aku…" Bumi bingung dengan perasaan yang dirasakannya. Bumi tidak menjawab, namun dia berbalik ke Tiino. Tiino hanya terdiam menentramkan, sementara tangannya menyodorkan selusin telur. "Pisahkan kuning telurnya," ucap Tiino. "Omong-omong, selamat datang di bagian entree."
Bumi hanya tersenyum, namun perasaan bersalah itu masih memakan organ perutnya.
Sementara itu, Lovino kembali ke posnya.
"Apa yang kau lakukan membicarakan hal ini saat kita sedang Mis en Place, you bloody git?" Arthur berkata tajam pada Lovino. "Hal ini hanya akan menghancurkan dinamika mereka saat pelanggan datang, harusnya kau tahu itu. Keadaan sebelum pelanggan datang adalah keadaan yang sensitif."
"Biar saja," Lovino berkata tidak peduli. "Aku sengaja melakukannya. Untuk membuat orang-orang syok, dan aku ingin tahu siapa saja yang cukup kuat menerima kenyataan bahwa anak baru bisa mendapat promosi lebih cepat daripada mereka hanya karena satu masakan saja."
"Kau sadis."
"Lebih sadis kau yang memberikan promosi kepada anak kencur begitu. Dia akan lebih dibenci jika dia tidak melakukan perubahan signifikan dengan performa kerjanya, tahu?"
"Dia punya bakat, akuilah, Lovino. Dia hanya… belum terbangun. Belum ada yang membangunkannya."
Lovino tidak menjawab. Sebagai gantinya dia menyerang dengan, "Kenapa aku merasa bahwa kau memiliki soft spot terhadap bocah ini, Iggy?"
Arthur mendelik, dipanggil nama panggilannya seperti itu jelas membuatnya tidak senang. "Sod off, git. No one requires your opinion here."
"I will when you stop calling me git, you wanker." Arthur menggeplak kepala Lovino, yang mana dibalas dengan tendangan di kaki oleh Lovino, dan sebelum semua ini berlanjut menjadi pertarungan berdarah, Lovino memanggil nama Arthur dengan suara berpikir.
"Hm?"
"Kau pikir si bedebah ini punya akar gastronomi?"
"Siapa? Bumi?"
"Siapa lagi kencur yang aku bicarakan selain dia?"
"Entahlah." Arthur menaikkan bahu. "Tapi dengan guru Hatta Gibran, kita tidak pernah tahu apa saja hal yang sudah dia pelajari." Lovino tidak menjawab, matanya menatap Bumi dan pipet tetes yang dia masih pegang dengan erat. "Kenapa kamu Tanya begitu?"
"Tadi dia membuat caviar artifisial."
"Heh," Arthur hanya mendengus terhibur."Sperifikasi?(4)"
"Benar. Dia memakai sup miso, dari baunya." Gumam Lovino. "Kemudian meneteskan asam alginat dan kalsium klorida. Darimana dia tahu hal seperti itu?" campuran asam alginat dan kalsium klorida akan mengeras saat diteteskan ke dalam sup miso (dan berlaku pada semua cairan panas), membuat bola kecil berisi sup miso. Sangat artifisial, namun juga sangat murah, mengingat bahan baku caviar, telur ikan salmon,tidak didapatkan dengan mudah. "Sudah jelas kan? Hatta Gibran." Ucap Arthur, secara berkelanjutan mengaduk saus teriyaki di dalam casserole didepannya. "Benarkah?" Lovino berpikir dan kemudian menggelengkan kepala. "Mungkin saja."
"Mungkin dia akan mendatangimu nanti," ucap Lovino. "Dia kelihatan seperti tipe yang tidak tahan tidak mengetahui sesuatu."
"Tadi kau menjelek-jelekkan dia. Sekarang kau kedengaran seperti memujinya." Lovino menaikkan bahu. "Aku bisa mengerti perasaannya. Aku pun tidak bakal terima kalau tiba-tiba dinaikpangkatkan jadi executive chef kalau yang aku lakukan hanyalah membuat puree potato."
"Frog sudah menyetujuinya." Tangkis Arthur.
"Dan apakah kamu tahu maksud dari kelakuan si Bastardo satu itu?" Lovino berkata, dengan cekatan melakukan deglazing (1) dengan jus berwarna hijau. Arthur menyadari bahwa jus berwarna jelek itu adalah artichoke dan brussel sprouts. "Maksudnya adalah dia ingin secepat mungkin memanfaatkan kepopularitasan Hatta Gibran untuk membuat restoran ini terkenal, terlepas dari talenta si Bocah. Maksudnya adalah bahwa dia sedang memanfaatkan si Bocah tanpa sepengetahuan siapapun. Maksudnya adalah uang. Jelas hal ini tidak akan membuat Bocah Kencur senang jika dia tahu." Api berwarna biru menari di depan Arthur yang dalam diam sibuk memotong akar bordock(2). Arthur memandang akar bordock dengan sebal. Lovino menyeringai, tahu bahwa Arthur tidak suka dengan kelakuan Lovino yang 'diluar jalur' (5). Arthur tidak menjawab sebelum berucap, "Dan kau peduli dengan perasaan anak itu jika dia tahu?"
Lovino hanya nyengir.
"Tidak," ucapnya sadis, "Tapi aku bakalan ada disana memakan popcorn ketika dia tahu, dan aku bakal senang sekali melihat wajah terpuruknya."
Sepertinya hal yang diramalkan oleh Lovino langsung datang ketika malam hari datang dan sudah waktunya untuk menutup restoran. Dengan tergopoh-gopoh dan celemek yang belum dilipat, Bumi berjalan menuju Arthur yang sudah berganti baju. "Chef," ucap Bumi pada Arthur dengan respek. "Ada yang mau saya bicarakan dengan anda."
"Soal kenaikkan pangkatmu?"
"…dan hal-hal lainnya, tapi itu faktor utama."
"Apa yang mau kamu tahu?" Arthur berbalik sambil melipat tangan di depan dadanya. Bumi kelihatan sedikit gugup sebelum menatap dua permata hijau milik Arthur yang menawan. "Kenapa anda melakukan hal itu?" Bumi mengerutkan dahi, merasa salah mengambil diksi, "Maksud saya bukannya saya tidak berterima kasih atau bagaimana, tapi ini benar-benar… aneh. Saya merasa kalau ini terlalu…" Bumi kesulitan mencari kosakata. Jadi Arthur membantu. "Mudah?" sambung Arthur. Bumi hanya menelan ludah dan mengangguk takut-takut. Arthur menghela nafas dan menatap bumi. Rambutnya dipotong, pikir Arthur, dan wajahnya jadi lebih lonjong, tapi aksen mata dan bulu matanya yang sehitam malam, Arthur tak akan pernah lupa. Bibirnya masih tipis, warna merah delima yang berteriak 'sentuh aku' belum hilang sepenuhnya dari masa kecil sang setengah-wanita. Tubuhnya bertambah tinggi, pinggangnya ramping namun Arthur tidak bisa bohong dengan bilang tidak ada lekukan seksi disana. [bagaimana orang-orang bisa melihatnya sebagai seorang lelaki?] Dia sudah tumbuh menjadi wanita yang cantik (namun juga tampan). Memandang wajah itu, Arthur tiba-tiba kembali ke masa lalu, ketika dia masih berumur dua belas tahun, lima belas tahun yang lalu. Dirinya yang masih kecil dan bodoh, berdiri disamping seorang pria yang terkenal di Indonesia…
.
"Arthur."
Si kecil Arthur menatap orang tersebut—orang yang merupakan sosok ayah kedua baginya, orang yang lembut dan sudah memperkenalkan dunia gemerlap untuknya. Indonesia sudah seperti rumah kedua untuk Arthur. Dia sering datang kesana dengan keluarganya, namun khusus tahun ini Arthur berangkat sendiri. "Arthur."
"Berisik." Arthur menggumam.
"Masih galak banget, seperti biasa," ucap sang pria yang lebih tua daripadanya. "Aku kira kamu tidak akan datang kesini tahun ini, Arthur. Keluargamu sedang sibuk, bukan?"
"Aaah," Arthur hanya mengeluarkan suara persetujuan. "Tapi ayah tidak membutuhkan aku, aku tidak merasa ingin membantunya dengan perusahaan," Arthur berkata, bersender ke pohon willow yang meneduhi mereka berdua. Suara tawa riang terdengar dari dalam rumah yang begitu hangat dan kekeluargaan di depan Arthur. Arthur tidak punya kesempatan untuk masuk. Bukan karena tidak diperbolehkan, tapi karena jika dia masuk, dia tidak akan ingin keluar, menghadapi rimbun dingin keluarganya sendiri, yang rela membeli meja kayu jati sepanjang enam meter yang bahkan tidak pernah dipakai bersama-sama dalam basis keseharian.
"Kau bisa datang kesini setiap saat, Arty." Sang pria dewasa berkata dengan lembut, tangan besarnya yang hangat dan kuat (dan penuh dengan guratan pisau karena berada di dapur bertahun-tahun) datang mengelus kepala Arthur. Arthur terdiam, terpana dengan kehangatan sang pria. Kehangatan kebapakkan yang hampir tidak pernah dia rasakan selama dua belas tahun dia hidup. Dia punya ayah, yang selalu membenamkan dirinya dengan makelar-makelar perusahaan dan investasi-investasi bodoh dengan para pemegang saham sialan. Dia punya ibu, yang selalu pergi sarapan di Milan, menonton show model Vctoria Secret di Oklahoma siangnya, dan makan malam di Shanghai.
Hidupnya seperti sekumpulan tarian gajah dan babi yang tenggelam, tenggelam dalam raupan payet uang.
Makanya, jangan salahkan Arthur ketika matanya langsung terpejam, menyembunyikan hangat air mata dari matanya. Kejam, pikir Arthur, jangan buat aku ingin tinggal disini lebih lama lagi.
"Fufu," kekeh sang pria. "Arthur, walau kau berlaku seperti orang dewasa, tidak ada salahnya menangis sekali-kali."
"Berisik," ulang Arthur, kali ini nadanya kurang berbisa.
Kemudian seorang anak kecil datang, berambut hitam, berwajah bulat gembul penuh dengan lemak bayi, berjalan menuju mereka. Tangannya menggandeng seorang anak yang lebih kecil berwajah sama, hanya saja matanya berwarna cokelat hangat, seperti fond du chocolat yang Arthur sering makan setiap kali dia ke Paris bersama beberapa sepupunya yang berisik. Mereka berteriak seru ke arah sang Pria, yang membuat Pria itu tersenyum lebar, dan menyuruh kedua anak datang kebawah pohon willow. Dia berbicara dalam Bahasa Indonesia dan menunjuk Arthur. Arthur kaget ketika dua pasang mata obsidian menusuknya, dan senyum merekah yang terpasang di wajah mawarnya yang hangat dan harum. "Arthur!" ucap sang anak perempuan, sepertinya dia baru tahu nama Arthur. Dia berbalik pada ayahnya, bertanya sesuatu sebelum berbalik pada Arthur lagi.
Arthur merasa dadanya teremas.
Kesan pertamanya terhadap sang anak adalah, bahwa dia terlihat seperti badai. Badai hitam yang akan menghancurkan… dunia.
Dunia Arthur.
"My name… is Bumi." Anak itu berseru, memegang tangan anak yang lebih kecil, dan berkata dengan patah-patah namun percaya diri. "N.. nice… to meet you!"
.
"Chef?"
.
Arthur merasa pandangannya sedikit bingung, dan kemudian menatap mata yang sama, yang lima belas tahun yang lalu terlihat bersinar seperti permata hitam. Arthur berdehem. "Well, to put it simply… Aku dan Frog, yang kau kenal dengan nama Francis, merasa kau sudah cukup memiliki kemampuan untuk duduk di singgasanamu yang sekarang." Ucap Arthur. "Chef, saya hanya membuat mashed potatoes." Ucap Bumi, berusaha menunjukkan pada Arthur bahwa semua ini terdengar konyol. Arthur menatap Bumi lebih lama, enggan untuk memberi tahu alasan dibalik promosi dari Bumi. Arthur mengenali bahwa orang didepannya adalah gadis yang sama yang pernah bertemu dengannya lima belas tahun yang lalu, dan Arthur sedikit kecewa ketika melihat pandangan tidak mengenal Bumi. Arthur sendiri tidak begitu berharap, karena pertemuan mereka hanyalah dua kali, dan yang kedua kali pun dari jauh. Meski begitu, rasa sakit tetap ada di dada sang Executive Chef.
"To be honest, Adhiswara, kami pikir kamu sangat pengecut." Ucap Arthur, kembali ke mode Chef-nya. Tidak ada waktu bernostalgia sekarang, gumam Arthur dalam hati.
"Saya tahu," Arthur menaikkan alis melihat persetujuan Bumi yang begitu… pasrah dan pahit.
"Kalau begitu kamu seharusnya tahu kenapa kami memberimu promosi."
"Karena pak Hatta."
Dia memang pintar. "Bisa dibilang seperti itu."
Sekilas pandangan sedih muncul di matanya, namun hanya sedetik. "Chef¸saya tahu saya sudah berlaku begitu pengecut selama saya berada disini. Pak Francis bahkan sudah merubah tradisi restoran ini untuk saya. Hanya saja, saya merasa masih ada banyak hal yang masih saya belum pelajari." Jelas Bumi. "Saya pengecut. Saya takut kalah, saya akui itu. Tapi saya… saya belum siap. Saya belum siap untuk kalah."
Arthur merasa amarah menggelegak di perutnya. "Jadi kamu pikir, kamu akan kalah?"
"Tidak!" seru Bumi dengan api membara. "Saya tidak bilang begitu. Saya hanya bilang saya belum siap untuk kalah. Seseorang yang akan kalah adalah seseorang yang maju ke medan perang tanpa persiapan. Persiapan saya sangat minim saya yakin saya akan kalah di detik pertama perang." Api di obsidian itu masih belum membara, suara Francis tiba-tiba membuatnya kembali ke pembicaraannya di telepon, malam itu…
.
"Apa maksudmu, menaikkan pangkat Bumi?"
"Ayolah, Arthur, kau tahu kita sudah tidak sabar untuk memanfaatkan anak ini." Suara Francis yang licin terdengar, sepertinya dia sedang mabuk. Adalah tugas Arthur untuk menampar Francis dan membuatnya siuman dari keadaan mabuknya, tapi sekarang mereka tidak sedang berhadapan, sesuatu yang Arthur sesali. "Dia bekerja dengan sangat efisien, tentu saja, pekerja keras, sangat cekatan, tapi dia masih muda, Arthur. Dia masih sangat muda." Suara Francis hampir terdengar kecewa.
"Kau pikir dengan mendorongnya seperti ini, dia akan tumbuh lebih cepat?"
"Mon cher, kau tahu anak ini punya talenta."
"Aku tahu." Ucap Arthur. "jangan panggil aku Mon Cher, you creep."
"Tapi dia harus didorong, Mon cher." Sambung Francis seakan tidak mendengar Arthur, "Dia harus dibangunkan, dia harus ditekan."
"Apa kamu pikir tekanan dari dapur masih belum cukup untuknya, Sadistis?" protes Arthur.
"Aku tahu kau teman masa kecilnya atau apalah, tapi kau terlalu melindunginya, kau tahu itu kan, Arthur?" dan Arthur tahu omongan Frog ada benarnya juga. "Sudah waktunya untuk Bumi untuk dewasa, untuk tumbuh. Kita harus membangunkannya dari masa dormansinya. Saat Monsieur Hatta meneleponku, dan apa yang harus aku katakan padanya, selain bahwa anak didiknya bekerja dengan baik sebagai handkitchen di restoranku? Aku jelas akan kehilang muka, Arthur, sungguh."
Arthur menghela nafas. "Dan maumu adalah menambahkan beban padanya."
"Jelas itu tujuan awal kita. Api di dalam obsidian itu masih belum membara, kau tahu." Francis terdengar sayup-sayup sekarang, "Dan apa yang kulakukan sekarang bahkan masih belum awalnya…"
.
"Analogi yang aneh," ucap Arthur, kembali ke realita saat kemarahan aneh menggelegak, dan Arthur berusaha untuk terdengar monoton. Beraninya! Beraninya anak ini merasa ragu-ragu dengan kemampuannya sendiri, dengan kemampuan yang diturunkan oleh Ayah sehebat miliknya, dibantu dibesarkan dan dipupuk oleh seorang Hatta Gibran. Beraninya dia merasa takut, padahal dia memiliki kemampuan yang, walaupun dengan enggan, bahkan sudah sedikit diakui oleh Lovino Vargas? Arthur tahu mendapat approval dari seorang Lovino Vargas sangatlah sulit, dan melihat dari pandangan Lovino ke arah Bumi akhir-akhir ini, Arthur tahu Bumi sudah melakukan sesuatu yang membuat Lovino tertarik. "Dan untuk berpikir kami bertiga mengakui kemampuanmu di dapur… kupikir kamu lebih bermartabat daripada menjadi pengecut seperti ini, Adhiswara."
Wajah Bumi terlihat marah, namun dia hanya menunduk, tahu bahwa apa yang dikatakan oleh Chef adalah absolut, tidak terbantahkan, dan itu membuat Arthur lebih marah lagi. "Jangan tunjukkan wajahmu di sekitarku lagi, kau membuatku muak." kata Arthur, membuat diafragma Bumi terasa dipukul. Kalau Lovino yang berkata seperti itu, oke, Bumi terima karena biasanya Lovino berkata hal-hal kejam seperti tadi. Tapi Chef Kirkland… Tiba-tiba Arthur mendorongnya ke belakang, memerangkapnya diantara dua tangan. Mungkin jika ini adalah drama Korea, semuanya akan terlihat romantis. Mungkin kalau Arthur memandangnya dengan tatapan lain, semuanya akan jauh lebih manis. Tapi tidak, tatapan itu seperti hendak menerkammu, seperti mau menarik jantungmu dan menaruhnya kembali tanpa peduli jantung itu rusak atau tidak. Arthur Kirkland terlihat murka. "Kalau kau marah, katakan padaku, karena aku muak melihat wajah pasrahmu." Bisik Arthur, tepat dua senti di depan wajah Bumi, napas mint menerpa penciuman Bumi, dan Bumi merasa sangat takut sekarang.
"Katakan kau marah."
"Sa-saya…" Bumi menelan ludah dan menunduk, namun tangan Arthur yang terlihat lembut menjenggut dagunya ke atas, tepat menatap mata Arthur yang lebih dingin dari antartika. "Katakan apa yang kau rasakan sekarang." Gencet Arthur. Bumi hanya merasakan aliran darah di telinganya, dan detak jantung yang menggila, bukan karena perasaan senang atau malu, tapi karena takut dan amarah.
"Saya… marah."
"Lebih keras."
"Saya marah."
"Lebih keras, atau kau akan rasakan akibatnya."
"Saya marah, dammit!" jerit Bumi. "Saya marah karena kelakuan Chef yang kasar! Marah karena kemarahan Chef yang saya rasa tidak pada tempatnya. Marah karena motif tersembunyi Pak Francis! Marah karena kemarahan rekan-rekan di dapur, marah karena semua hal! I can't cook to save my life and damn myself to hell and back, I really hate it!" Bumi ingin memasak, Bumi ingin bebas, tapi Bumi belum siap menghadapi monster-monster ini, dan jika Bumi bilang dia tidak bisa, MAKA DIA TIDAK BISA! Tapi tidak, Arthur harus menekannya, menuju ke tempat yang dia tidak ketahui, ke tempat yang bukan comfort zone Bumi.
Detik kemudian napasnya tercekat ketika dia sadar dia baru saja meneriaki salah seorang Executive Chef yang paling ditakuti di Dunia. Namun dia berhenti bernapas ketika dia melihat senyum Arthur—senyum pengertian yang sepertinya dia kenal…
"That wasn't so bad, right?" Arthur melanjutkan menyentuh dagu Bumi, dan Bumi secara sengaja atau tidak sengaja merinding ketika kuku Arthur menggurat sedikit di pipinya. "Letting the steam off."
"Yeah," Bumi berbisik, dan untuk pertama kalinya dia merasa jujur. Suaranya serak. "Yeah, it's actually feels good…"
Bumi tidak tahu hendak berkata apa lagi ketika posisi mereka tidak juga bergerak, dan kenyataan bahwa Arthur menatapnya dengan pandangan intens dan ketertarikan (yang tidak pada tempatnya, jelas) membuat Bumi menunduk sedikit. Kali ini Arthur tidak memaksanya memandang matanya lagi. "Kau tahu, pertama kali aku melihatmu," Arthur berbisik, intim di telinga Bumi, napasnya hangat, kental, menggoda seperti cairan cokelat yang baru direbus dengan biji almon, kastanya dan daun peppermint. "Aku tahu kamu adalah badai." Dengan itu Arthur melepaskan kerangkengannya dari Bumi dan berjalan menuju ke ruang makan. Bumi hanya mengerutkan dahi. Tiba-tiba tidak yakin Arthur baru saja bertemu dengannya sebulan yang lalu.
Bumi hanya menggelengkan wajahnya, secara aneh merasa dadanya ringan dan terasa senang. Mungkin ini adalah akibat dari curhatan mendadak dengan Arthur. Dan secara aneh juga memerah. Bukannya tadi dia berada dalam posisi yang cukup sugestif dengan Chef Kirkland?
Ayolah, rasionalitas dalam diri Bumi berbisik malas, Dia mengira kau cowok. A bloke. Hanya karena dia melakukan hal yang aneh seperti tadi, bukan berarti dia tertarik atau apa padamu, dasar kepedean. Berhenti fangirling, sekarang waktunya untuk pulang.
Saat dia tiba di ruang makan, Bumi mendapati sekumpulan orang-orang mengelilingi Francis, yang tengah berdiri dengan seseorang yang Bumi tidak kenal, karena dilihat dari belakang. "Monsieur et Madame!" seru Francis, ekstravagan seperti biasa, sementara tangannya bergerak riang. "Maafkan aku karena sudah memotong jam malam kalian, tapi ini sangat urgen! Kali ini, kita mendapatkan satu lagi tambahan di bagian dapur kita! Sangat menyenangkan bukan, Mon gâteau(3)?" Bumi yakin ketika Francis berkata seperti itu, matanya mengedip pada Bumi. Bumi merasa sebal pada Francis dan memutuskan untuk pulang tanpa pamitan sama sekali pada Berwarld atau Tiino.
"Perkenalkan," suara itu bariton, bukan suara yang eksotik atau apa, tapi Bumi langsung berhenti berjalan ketika mendengarnya. Bumi berbalik dengan mata lebar dan dia melihat seseorang yang paling tidak dia ingin lihat—wajah yang bagai pinang dibelah dua dengannya.
"Nama saya Razak, Razak Abdul Kahar." Pria bertubuh lean itu berkata, wajahnya keras dan dingin. "dua puluh tahun. Posisi yang saya inginkan adalah saucier."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Glossarium :
Deglazing : cara untuk mengambil fond dari dasar panci. Fond adalah gumpalan cokelat yang dihasilkan oleh rebusan makanan. Fond adalah bagian terpenting untuk makanan. Caranya adalah menuangkan cairan ke dalam panci dan mengaduknya.
Bordock : akar ketela, terkenal dengan nama 'Gobo' di Jepang. Sangat menyehatkan, namun tidak sering dipakai di Barat.
Mon gateau? : kue-ku?
Sperifikasi : salah satu proses pemasakan gastronomicalmolecular—cara pembuatan yang fascinating dan seru banget. Gastronomical molecular/gastronomi itu… well, cara penyiapan masakan dari sisi kimia dari bahan makanan.
Arthur itu konservatif. Period. Jadi dia tidak memakai bahan-bahan yang tidak biasa dipake di Barat.
Time to get into the conflict, right? Time to get a notch! Kalo ada yang ngerasa alur kecepatan, konflik nggak kerasa, konflik terlalu berlibet-libet, diksi bikin bingung, typo (yang ini paling sering….), OOC (yang ini juga, tapi saya akan memperbaikinya!), karakter terlalu Mary-Sue/Gary-Stu, karakter nyebelin, tolong tuangkan di kotak dibawah ini! Please, please tell me what you think. I need to grow, okay! :D
Pojok-balesin-review :
Sabila Foster : iyaa tadinya keapus tapi dah diupdate lagi hehe. HAHAHA JAZZ HAHAHA ITU ADA SI MALON AKU INGET BANGET KAMU YANG MINTA ADA SI BAJ*NGAN INI HAHA. OKEEEY XDDD/ .178 : iya saya ngga ada kerjaan di rumah : ( makanya ini cepet apdetnya xDD iya aku juga…/kuroi uso : yup! L? L itu siapa ._. OH LOVINO. Iya dia nggak ada abis males ngapain sih dia ada #ditabok# XDDD/AnonAnon : OMG PANJANG BANGET REVIEWNYA. HUHUHU OMG AKU DI PICK UP LINE AKU MALU GA BISA JAWAB ABIS BINGUNG DEGDEGAN XDDD huhuhuhu Alhamdulillah kemarin lancer U_U Sebenernya aku mau nulis 'ini chapter filler', tapi aku nggak nulis karena selama ini kesannya Bumi selalu kerja dalam dapur… kayak, dia nggak ada hidup gitu di luar, ngerti kan? Lagian chapter kemarin juga ada maksudnya kok, buat mengintroduksiin si Razak! Hmm kalo soal OOC… karena aku nggak terlalu suka sama karakter asli Kiku #ditabokbolabkbalik# jadi aku kira aku pengen dikit aja bikin karakternya OOC… Nggak bisa ya? ._. Iya nih, soal anggota ASEAN sebenernya masih bingung banget mau bikin kayak gimana.. soal Thailand juga. MAKASIH SENPAI TAU AJA KEMARIN SAYA MATI IDE :') MAHASISWA YA AMPUN KATA-KATA YANG INDAH. MAKASIH BANGET UDAH BACA DAN REVIEW :"""""")/Cendol Goreng : AKU MEMANG JAHAT AKU GAHAR KEJI HAHAHA #ditendang# aduh gimana ya Author senang dengan poliandri sih gimana dong : ( AISYAH, SAIA TIDAK AKAN BUANG AISYAH. xDDD soal yang orang asia itu, itu sebenernya cerita tante aku. Jadi waktu itu dia tersesat di Versailles, ketemu sama segerombolan mahasiswa Asia, dan kemudian diajak keliling-keliling gitu. xD baik banget emang! Hmmm nggak kok, bukan soal rasisnya atau gimana… /Misaki Younna : : ((( MAKASIH BERAT UDAH BACA BABY. Banyak yang mikir Bumi cowok, ya? xDD huahahaha, tenang aja, akhir-akhir ini mereka udah NGGAK lagi lagi kok xD ma-makasih… MAKASIH MAKASIH! SUMPAH BIKIN SENENG BANGET REVIEW KAMUUU. HAHAH SCONE XDD nggak tenang aja xDD Oh iya, bakalan saya habis tuntaskan typo itu!/ Nikita Yuana : jangan panggil senpai panggil Daruma aja! situasi yang haremnya mengada-ngada, itu pet peeves aku lho. Aku juga nggak suka cerita yang ucuk-ucuk pemeran utamanya langsung disukai gitu. Nggak relevan, nggak dewasa, dan nunjukkin banget bahwa authornya egois, mau menang sendiri dan nggak ngasih ruang buat OC-nya buat tumbuh berkembang. Btw… MAKASIH UDAH BACAAA/Hompimpah : HAHAHA : 'D jazz sepertinya melanglang buana. xD Lovino ada di chap ini tapinya~/Yumi Murakami : aku kobok-kobok episode yang ada Thailand nggak ada x_x jadi aku Cuma berpegangan sama karakter bible doang… aku nggak tahu Thailand itu serem : ' ) aah ga kepikiran ke Jean d'arc sih aku .-. Eh… anu, jadi maksud kamu… dialog tiga orang itu nggak seharusnya dalam satu paragraph… atau gimana? Jadi maksudnya ngga boleh ada lebih dari satu orang dalam dialog? Aku… nggak ngerti…. MAAP MAAPIN AKU YA. KRITIK SAJA AKU TERUS NGGA PAPA : '))) Iya aku akan berusaha beresin typo sialan itu : ( eh? Referensi fict yang mau ngirim otp ke paris?/Tomochi : ini… Tomo males on ya? xDDD WAKAKA RAZAK DIKECEWAIN. ADUH JANGAN GODAIN DONG MAAP KALO BANYAK TYPO IH : (( MALU NIH : (( O/O se-sengaja endingnya gantung abis menurut saya pembaca bakal penasaran sama Razak? PENASARAN NGGAK SIH? 0A0 NGGAK PAPA KOK, ini aja saya apdet cepat karna ga ada kerjaan di rumah HAHA #belajarwoi# ADUH : ( JEAN D'ARC PADA SUKA BGT YA : ( okeee ini udh dilanjut! xD/fiv : HAHA INI UDAH ADA FANSERVIS XD
