"Duuuh, ini nggak jalan-jalan apa…"

Bisikan gadis yang sedang keringatan bak banjir bah tersebut mencerminkan perasaan penumpang lain yang juga kekurangan oksigen di dalam angkot tersebut. Di depan mereka, dua bussusul menyusul, keluar dari jalur dan berhenti di depan halte. Dari ujung jalan, kita bisa lihat kenek angkot 28 sedang merayu para penumpang masuk, keringat mengalir dari pelipis hitamnya. "Kalimalang, kalimalang, kalimalang!" Tanpa sengaja tangannya menyentuh bokong mbak-mbak berpakaian seksong yang segera menampar si Abang tanpa banyak bacot dan turun dari angkot tersebut. Kasihan bener si Abang. Niatnya mencari sebongkah berlian sesuap nasi malah dapet sebogem mentah yang maknyus. Ganti topik, Seorang ibu-ibu tengah menyapu bagian depat kios kecil yang biasa jualan rokok—dan bapak-bapak yang sibuk ngobrol dan tertawa hebat yang santai-santai sambil minum kopi di bawah pohon ceri. Dari jauh, lagu 'Goyang Dumang' sayup-sayup. Mobil dan motor asal ngebut, melemparkan kosakata kebun binatang satu demi satu karena tidak dibiarkan lewat. Pas ada orang yang pakai vest dan warna hijau terang saja, baru pada tobat seradak-seruduk kayak pelanduk. Gadis yang bernama ofisial Udara Kertasasmita ini sedikit sebal pada ibu-ibu yang sedari tadi menabok tangan kirinya saking semangatnya mengipasi dirinya sendiri.

Sekarang sudah jam dua belas siang, Dara selesai kuliah lebih cepat. Dengan berat hati dia memandang muka-muka bete di sekelilingnya. Mau banget dia teriak, "Bang, ini udah penuh perasaan, ngapain masih ngetem!?" tapi tidak berani, karena muka pengemudinya sangar banget. Ya akhirnya Dara tabah saja tenggelam diantara lautan manusia berwajah bete berkeringat dan bau ketek semerbak. Sambil menunggu aliran udara (cieee udara) masuk lewat jendela, Dara akhirnya mengikuti kelakuan beberapa manusia yang sibuk dengan handphone mereka. Oke, mungkin Dara kelihatan butut dan buluk, tapi jelas handphonenya tidak berkat giatnya dia menabung dari kerja sampingannya menutor di sebuah Bimbel kawasan Jakarta yang cukup bonafit. HP-nya itu sudah bisa menerima e-mail dan mempunyai fitur twitter (bukan berarti Dara ada waktu main twitter, sih.)

Dara menaikkan alis ketika mendapati ada notification tentang e-mail-nya. Alisnya naik ke stratosfer saat dia membaca isi e-mail tersebut.

.

From : Bumi123 gyah. Com

Udara : DaraCat gyah. Com

CC : Kangen

Bilang sama Ibu aku kangen. Aku juga kangen sama kamu, btw.

.

I Like it Hot and Fast (and Yummy)

Daruma Shi

Please enjoy and keep in mind that I do not reap any economical benefits from this act. What I solely reap are the satisfaction of growing into a better writer and people's reviews.

.

.

.

.

.

Chapitre douze : That Man, Lamented

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Malam menghiasi Sungai Seineyang kelam bagaikan tinta siap pakai. Sungai ini begitu indah, Bumi bisa melihat banyak pasangan berjalan di sekeliling sungai yang tersohor tersebut. La Reine ternyata sudah menjadi confectionary yang tersohor, karena dia mengambil tempat paling strategis, tepat di depan Sungai Seine. Apalagi pas tahu yang menjenderali confectionary itu sendiri adalah Joan Seraphim, si Jenius Manisan. Malam ini La Reine sudah hampir tutup, namun masih ada sekitar lima-enam pasangan tersebar di berbagai pojok ruangan. Lagu 'Ziggy' mengalun tenang dan mendayu-dayu, suara Celine Dion yang enak mengalir membuai pasangan-pasangan untuk mengeratkan pegangan mereka, mendeklarasikan cinta mereka tanpa suara. Bumi sendiri tengah berdecak kagum dengan interior dari La Reine yang didominasi kayu jati berwarna cokelat hangat dan hijau yang environment-friendly. Tanaman Getaran Cinta hadir di setiap pojok ruangan bersama-sama dengan pohon kayu cedar mungil yang dihiasi dengan kerlap-kerlip lampu seri berwarna senada dengan lampu La Reine. Biasanya, sebuah toko confectionery akan berwarna pastel ceria, seperti warna pink atau warna kuning krim, tapi sepertinya Joan ingin merusak tradisi itu dengan warna hangat yang menentramkan. Cahaya kuning terang yang melingkupi La Reine juga sangat ekstravagan, membuat orang-orang tertarik untuk masuk seperti ngengat ke dalam api.

Kalau La Reine adalah api, well, itu adalah api yang sangat manis.

"Hai!" Joan terlihat sehat dengan pipinya yang gembul manis dan merona. "Apa ada yang bisa saya bantu, tuan-tuan yang tampan?" goda Joan dengan semangat. Tiino tertawa kecil dan Bumi nyengir. "Kami cuma kepingin menemuimu saja, soalnya kamu tidak pulang ke rumah minggu ini." Tiino menggetok kepala Joan main-main, mengomelinya seperti seorang Ibu. Joan hanya tersenyum nakal.

"Aku kan tidak mau jadi obat nyamuk…"

Mendengar itu Tiino tiba-tiba memerah dan Berwarld hanya memutar bola matanya. Namun jelas ada pancaran geli dari mata Berwarld, yang membuat Bumi menaikkan alisnya perlahan. "Mau bagaimana lagi, tokoku penuh dengan orang dan otak ini tidak mau berhenti mencoret kertas resep," Joan terlihat bahagia melihat pelanggannya. "Aku selalu ingin melihat pasangan yang memakan kueku!"

"Seraphim," suara lembut terdengar dari belakang Joan. Dia berbicara terpatah-patah. "Krim kocoknya sudah kutaruh dalam freezer. Apa ada yang harus kulakukan lagi?"

Ternyata yang berbicara adalah seorang pria keturunan Asia. Wajahnya tampan, matanya seperti bulan sabit melengkung. Rambutnya hitam pendek berkilap dibawah lampu La Reine. Dia tampan sekali, pikir Bumi. "Nonsense, Nanase! Dan panggil aku Joan." Ujar Joan melambaikan tangan. "Ah, cowok ini namanya Nanase, Nanase Haruka. Dia orang Jepang. Jago sekali membuat penganan Jepang, kuberi tahu kau! Aku senang aku bertemu dengannya." Aku memandang Nanase dengan tertarik. Orang Jepang kedua yang aku temui di Paris. Apa semua orang Jepang begini?

"Halo." Nanase membungkuk sedikit, yang mana membuat mereka bertiga sedikit kaget dan membungkuk balik. "Namaku Nanase Haruka."

"Ah, saya Bumi. Bumi Adhiswara."

Mata Nanase berkilat sedikit mendengar nama Bumi. "Adhiswara?"

"Kamu boleh pulang, Nana!" Joan menepuk pundak Nanase, dan untuk sekilas Bumi melihat ekspresi kaget di wajah si pria stoik. "Sudah seharian kamu disini, pasti kamu capek!"

"Kalau begitu, permisi." Nanase membungkuk sopan lagi dan berbalik

"Sayang dia tidak mau jadi waiter. Dengan wajah begitu bakalan banyak yang mau datang kesini hanya karena dia... Jadi? Kalian mau duduk disini atau mau mulai makan kue?" Tawar Joan. Kami bertiga menatapnya seakan dia penyelamat. Dia tahu saja kami kesini punya maksud makan gratis, hehe.

"Kalian boleh duduk disini," ucap Joan. "Untuk kalian, aku akan membuat gateaux spesial buatanku sendiri!"

"Suata kehormatan, kalau begitu." Tawa Tiino, duduk di sebuah meja bundar yang dipernis mengilap. Baunya wangi, seperti bau kayu cinnamon. Bumi memandang kayu di depannya tanpa benar-benar memandang, memikirkan Razak. Apa maksudnya, ingin menghancurkan Bumi? Apa yang sudah Bumi lakukan, sehingga dia dibenci sebegitunya oleh Lelaki Malaysia ini? Kepala Bumi pusing dan Bumi memutuskan untuk tidak memedulikan kelakuan Razak. Dia sudah terlalu sering dibenci orang, jadi hal ini bukanlah apa-apa dibandingkan—

Bumi mengerjap ketika memandang meja kayu bundar di depannya. Ada tulisan kursif yang indah sekali, ditulis dengan tinta silver. Sejenak, perhatiannya teralihkan. Quote?

.

How can a nation be called great if its bread tastes like Kleenex?

Julia Child (1912-2004)

.

Bumi tersenyum membaca quote tersebut. Julia Child adalah seorang pemasak andal Amerika. Apakah perkataannya ini untuk mendiskreditkan Amerika atau apa, Bumi tidak tahu, tapi Bumi benar-benar setuju soal rotinya yang terasa seperti tisu Kleenex. Julia Child, seorang wanita yang panjang umur, lahir tahun 1912 dan meninggal tahun 2004. Hampir seratus tahun, pikir Bumi positif. Bumi berpikir kepanjangumurannya berhubungan dengan kecintaannya akan masakan. Foods do wonders to people, Bumi ingat seseorang berkata begitu padanya. Mengingat Julia Child, dia jadi bernostalgia. Matanya melayang ke zaman dulu, dulu, dulu sekali…

.

"Kau lihat nenek ini?"

Bumi yang berumur empat belas memandang Hatta Gibran dengan pandangan jijik. "Jangan pakai sandal kalo masuk rumah," gerutu Bumi tidak rela, "Aku baru ngepel."

Hatta Gibran baru saja pulang dari Amerika, dan hal pertama yang dia lakukan adalah mengotori lantai rumah Adhiswara yang ansien dengan sandal bututnya. Saat Bumi sedang santai-santai menonton TV, tiba-tiba pria tampan paruh baya tersebut sudah duduk di sampingnya saja dan menunjukkan foto seorang wanita beruban dengan senyum simpatik tengah berpose ala anak muda dengan Pak Hatta. Butuh waktu beberapa detik untuk Bumi mengenali siapa wanita tua dengan tulang pipi tinggi tersebut dan dia hampir keselak teh yang baru dia minum.

"Itu—Julia Child?! Ngapain bapak sama Julia Child?!" seru Bumi kaget sekaligus kagum. Bumi tahu Hatta Gibran terkenal, dan dia juga tahu kedatangan Pak Hatta ke Amerika bukannya ingin main-main, tapi bertemu dengan Julia Child? Legenda, dia itu. Mengabaikan pertanyaan Bumi, sang pria memilih meneruskan perkataannya, "Umurnya sudah delapan puluh tahun lebih, tahu?" Pak Hatta baru saja mendeklarasikan sesuatu yang membuat Bumi mencelos. "Ha? A-aku tau dia emang udah tua, tapi delapan puluh?" mata Bumi menyipit, menginvestigasi foto yang baru dicetak tersebut lebih cermat. "Dia kelihatan tiga puluh tahun lebih muda!"

"It does seem so," Pak Hatta setuju.

"Resep apa yang bikin dia jadi muda gini?" Bumi berseru. "Tidak ada yang tahu, karena Nenek ini selalu membawa tongkat bersamanya. Siapapun yang bertanya soal umurnya akan digetok olehnya." Pak Hatta memutar bola matanya, membuat Bumi terkekeh memikirkan wanita tua menyenangkan di foto ini menggetok orang-orang. "Tapi aku punya teori."

Pak Hatta adalah enigma aneh, selalu punya banyak teori. Bumi sadar bahwa kedatangan tiba-tibanya ini ada hubungannya dengan salah satu pemikiran filsuf sang Tangan Dewa. Bumi tidak mengerti kenapa Pak Hatta selalu ingin berbagi pemikirannya yang seribu tingkat lebih tinggi dibandingkan anak-anak seumuran Bumi, tapi untunglah Bumi bukan anak yang bodoh-bodoh amat. "Katakan." Ucap Bumi, tertarik dengan teori Pak Hatta. Entah kenapa merasa senang karena sang pria yang lebih tua ingin berbagi teori dengannya. Bumi merasa sepadan, merasa dianggap…

"Well, foods." Bumi menaikkan alis ketika Pak Hatta bilang begitu. "Foods do us wonders. Foods do people wonders, I guess."

"That simple?" Bumi menaikkan alis. Lebih tinggi. Lebih skeptikal.

Pak Hatta terdiam. "Well, no. I think it's the obsession. The obsession of keeping the things straight. The obsession to be tremendously in love with what you loved to do."

Bumi kecil hanya terdiam mendengar ucapan Pak Hatta.

.

Bumi tergugu.

Pak Hatta benar.

Jatuh cinta pada sesuatu adalah hal yang mudah… yang sulit adalah untuk tetap jatuh cinta pada hal yang dulu kita cintai.

Pernahkah kita merasa bosan saat kita melakukan hal yang kita cintai? Pernah bosan saat melihat hasil gambarmu? Atau bosan saat menonton TV? Atau bosan saat kita selesai menjahitkan baju ibu kita? Bumi sadar bahwa ada titik bosan di suatu tempat yang Bumi lewati, yang membuat Bumi perlahan-lahan turun ke titik jenuh dan kemudian performanya dalam memasak juga menurun. Bumi yakin, titik itu adalah sekarang. Titik jenuh yang mengharuskan dia merasa menjadi yang paling bawah di antara yang terbawah.

Bumi, saat ini, merasa kalah.

Kalah oleh keadaan dan waktu, dan dirinya sendiri.

Obsession is what keeping me interested. No, was.

Bumi sudah tidak terobsesi lagi. Bagaimana caranya supaya Bumi bisa mendapatkan lagi rasa cintanya terhadap masakan? Bagaimana? Bumi tiba-tiba ingin menangis. Dia ingin menangis keras saat dia tahu dia sudah tidak cinta pada masakan. Ini menyakitkan. Bumi bahkan baru tahu dia tidak cinta lagi pada masakan saat rasa cinta itu sudah pupus. Ini menyakitkan.

Menyakitkan.

"Bumi?"

Bumi menatap Tiino dan Berwarld, dan sejurus Bumi berpikir untuk menangis, sampai lega, dan kemudian menceritakan bahwa dia sudah kehilangan rasa cinta yang sangat penting untuk masakan. Tapi ini adalah masalahnya, ini masalahnya sendiri. Dimana martabatnya jika dia hanya menangis seperti seorang cengeng, menunggu untuk ditepuk kepalanya, menunggu untuk dibilang kau sudah bekerja dengan baik? Kalau seseorang datang ke Bumi dan menepuk kepalanya, dan berkata "Kau bekerja dengan sangat baik," well, fuck him then. Fuck him and his lying, lying fucking pants. Bumi akan marah pada orang itu dan menamparnya bolak balik. Bumi akan dengan senang hati berteriak pada orang itu dan berseru, "Well aren't you a big fat liar!" karena Bumi tahu, mengerti, seribu persen meyakini, bahwa dia bahkan tidak bekerja dengan baik selama dua bulan ini, dia tidak bekerja cukup keras. Bagaimana dia tahu hal itu? Karena Bumi tidak menangis saat mendapat posisi sebagai handkitchen, dia tidak muntah saat melakukan pekerjaan berat, dia tidak ingin marah besar saat orang-orang mengatainya di belakangnya, dia tidak menangis karena hal apapun dalam dua bulan ini, tidak ada yang menguras perasaan, hati dan jiwanya.

Karena dulu dia melewati fase itu—fase mencintai sampai dirimu terbakar, sampai dirimu sakit, berubah jadi abu, dan kemudian terbang, melayang. Dia pernah muntah-muntah karena menggotong dua puluh gentong tomat tanpa jeda di Indonesia dulu, namun dia tidak sekalipun merasa tidak berguna. Dia tidak malas-malasan saat di suruh kesana kemari oleh Hatta Gibran.

Dia tidak.

Karena itu Bumi berdiri, matanya penuh dengan determinasi, aku ingin berubah aku ingin berubah akuinginberubahakuinginberubah—semuanya terpampang jelas di matanya. Berusaha untuk membuat suarnaya terdengar sekeras baja, Bumi berkata, "Aku mau ke belakang."

"Bumi?!" Tiino beranjak, sementara Berwarld menyentuh tangannya. Tiino benar-benar bingung dengan kelakuan Berwarld dan Bumi. Jelas sekali tadi Bumi terlihat sangat rapuh dan sangat sedih—tapi sedetik kemudian dia sangat berapi-api dan Tiino tidak mengerti. Hal yang Tiino mengerti adalah kenyataan bahwa Berwarld memeluknya, bibirnya mengecup punggung Tiino dan berbisik, "Aku juga tidak mengerti, Tiino," bisik Berwarld, mengerti apa yang terjadi di dalam kepala Tiino. "Tapi aku tahu saat ini dia tidak ingin diganggu."

Cepat, cepat.

Cepat

Cepat!

Kaki Bumi terasa terbakar saat berlari, dan Bumi membuka pintu belakang untuk melihat Joan, matanyanya yang indah melotot kaget karena intrusi Bumi yang tiba-tiba. "Jangan hiraukan aku." Ucap Bumi cepat-cepat, dan Joan hanya mengerutkan dahi. "Aku tidak mau," Joan keras kepala. "Mungkin kau temanku, tapi kalau kau mau masuk ke sini, pakai pengaman kepala dan baju itu." Joan menunjuk sebuah tudung kepala yang tidak atraktif dan baju gombrong berwarna putih bersih. Bumi tidak banyak cingcong dan segera mengambil segala peralatan tersebut, sebelum akhirnya dia berdiri di samping Joan.

"Wajahmu terlihat muak." Ucap Joan dengan santai. Bumi menatap Joan.

"Itu yang dikatakan Berwarld kemarin." Bumi terdiam. Joan nyengir.

"Apa yang menyebabkan kamu kesini, Wahai Anak Muda?" lanjut Joan, geli.

Bumi menatap adonan di tangan Joan.

" Aku mencari jawaban."

Joan menaikkan alis, bingung. "Jawaban?"

"Jawaban atas hilangnya cintaku." Bumi tersenyum kecil, sementara Joan hanya mengerutkan dahi tidak mengerti.

"…sudah, segitu saja. Kupikir kalian akan senang jika kalian tahu bahwa pastries tidak akan kita handel, tapi confectionary baru di depan Seine." Francis tersenyum ke arah Lovino dan Arthur yang kelihatan bosan berat. "Modus." Tuduh Arthur. "Modus sekali kau, frog. Pura-pura kepingin membantu, tapi sebenarnya cuma kepingin dekat-dekat dengan—"

"Hush, Arthur, aku benar-benar ingin membantu teman lama." Francis terlihat sangat senang akan dirinya sendiri sampai-sampai mata Lovino sakit melihat senyumnya.

"Old friend that you once snogged and shagged silly—"

"Arthur, I really, really don't want to know this Old Man's sexual life." Lovino memandang Arthur dengan pandangan jijik yang ketara. Arthur hanya menaikkan bahu.

"Anyway!" Francis yang sepertinya oke-oke saja digosipkan, mau itu tentang dirinya sendiri atau kehidupan seksnya, menepuk tangan mencari perhatian kedua orang tertinggi di restoran miliknya selain dirinya sendiri. "Pihak bride sudah bilang padaku detil dari weddingnya, dia melakukannya outdoor di sebuah taman umum di dekat Paris." Francis menyodorkan Arthur foto dari taman tersebut. Taman yang cukup luas dan rimbun, sangat ideal untuk Pesta Kebun hanya. "Perfect." Arthur mengangguk dengan puas. Dia sudah bisa membayangkan seperti apa masakan yang bagus untuk orang-orang yang diundang. "Mempelai juga memiliki beberapa keinginan : dia ingin makanan yang mengejutkan. Jadi aku serahkan pada kalian berdua masakan apa yang akan kalian buat. Spesifikasi makanan ada disini."

Alis tebal Arthur naik tiga senti melihat kertas bertuliskan tulisan indah a la fille jolie.

Untuk para chef yang akan membuat makanan, ini yang saya inginkan untuk pernikahan saya.

Fluffy

Mudah dimakan

Enak (bukan fusion dish, oke)

Terlihat asing namun sebenarnya enak saat dimakan

SURPRISE ME!

"Ini bukan spesifikasi, ini tulisan anak TK." Protes Lovino. "Apa maksudnya dengan fluffy? Dikira makanan buatan kita ini anak anjing, atau apa?"

"Aku bisa bilang kalau orang ini sengaja pengen ngerjain kita," ucap Arthur setelah penelitian lebih lanjut. "Boleh aku tahu siapa yang bakalan menikah ini?"

Francis nyengir kucing. "Eeeeh? Tumben kalian kepingin tahu sekali? Kenapa, kalian tidak bisa melakukan hal ini?" Francis tahu benar tombol mana yang bisa membuat Arthur dan Lovino terbakar, dan jelas tombol itu adalah tombol harga diri. Lovino langsung kelihatan sebal dan Arthur berubah serius. "Whatever," Arthur memutar bola matanya. "Tinggal menyiapkan yang berbeda dari biasanya, kan?" Lovino mengelus kertas perkamen yang dibuat sebagai tempat spesifikasi. "Sudah malam, aku ingin pulang. Selamat malam." Ucap Lovino akhirnya, berdiri dari tempat dududknya. "Oh, Lovino." Francis tiba-tiba berseru. "Kemarin malam aku di telpon kakekmu."

"Oh," Lovino hanya diam memakai jaketnya.

"Dia bertanya kepadaku kemana kau kemarin lusa." Francis mencari-cari perubahan air wajah di muka Lovino, yang masih mematung. "Bukan urusanmu. Sampai besok."

"Sampai besok." Ucap Arthur dan Francis bersamaan. Pintu segera ditutup dan Arthur menghela napas. "Biarkan dia sendiri dong."

"Lovino terlalu dingin. Seharusnya dia datang di hari ulang tahun kakeknya! Bahkan kau dan aku datang, iya kan?"

"Kau ikut campur urusan orang, it's not cool." Omel Arthur. "Mengenai makanan di pernikahan ini, aku masih belum mengerti apa yang dia inginkan… kalau dia bilang fluffy, apa itu berarti dia ingin manisan? Atau sesuatu yang mengembang… soufflé? Tapi itu bukan bidang kita… sesuatu… sesuatu…" Arthur menggaruk kepalanya, matanya memejam dengan penuh konsentrasi. Francis sibuk menulis budget yang harus dikeluarkan dan yang akan dibayar kedepannya dan berkata, "Bagaimana kalau kamu minta bantuan anak-anak baru?"

Arthur berhenti memejamkan mata dan memandang Francis dengan pandangan penuh skandal. "Tidak mau. Mereka masih kencur."

"Tidak dengan Razak." Ucap Francis.

"Aku tidak mau." Tolak Arthur keras.

"Ayolah… aku hanya ingin lihat sebesar apa dia tumbuh, Arthur."

"Kalau kau mau main-main, kau bisa lihat perkembangan anak ini besok di fighting event, oke? Pernikahan itu tidak main-main, aku tidak mau makanan yang seharusnya sempurna di hari yang sempurna itu malah jadi berantakan hanya karena aku salah menangani bawahan." Arthur menjelaskan panjang lebar.

"Halah, kau bilang begtiu… padahal kau hanya tidak mau kalau Bumi tidak ikut." Goda Francis. Arthur memelototi Francis lebih tajam, membuat Francis terkekeh menaikkan kedua tangannya dengan gaya menyerah.

"Kenapa kau sangat terobsesi dengan Razak dan Bumi, Francis?" Arthur berkata serius. "Mereka mungkin punya kekuatan yang eksepsional, tapi tidak lebih dari itu—mereka itu trainee, demi apapun!"

"Aku hanya tidak bisa menahan diri," gerutu Francis, yang kaget Arthur memanggilnya dengan nama awalnya dan bukan frog, "Razak Abdul Kahar dan Bumi Adhiswara… mereka berdua nama yang cukup terkenal, bukan?"

"Razak Abdul Kahar memang terkenal di kancah Internasional." Arthur berkata tidak peduli sambil mencoret kertasnya lagi, berharap dewa kuliner memberikan dia ide. "Anak dari pasangan Abdul Kahar dan Nai Martia, kan? Mereka berdua pasangan koki monster, semua pemasak andal pasti mengenal dua nama itu. Abdul Kahar berspesialisasi di bidang gastronomis, sementara Nai Martia adalah seorang patissiere. Tidak heran kejeniusan kedua orang tua Razak turun padanya. Di umur delapan tahun dia sudah meraih penghargaan Master Chef di negaranya dan memenangkan penghargaan memasak Internasional untuk Junior selama lima tahun berturut-turut." Arthur memandang coretan tidak jelas didepannya. "Aku hanya penasaran apa yang dia lakukan disini. Terakhir kali aku dengar dia sedang melakukan tur keliling dunia dengan tim masak restorannya. Yah, dia memang kuliah di Paris, sih. Tapi… di restoran ini?"

"Menjadi handkitchen pula." Francis, secara positif, terdengar bahagia.

"Bumi tidak akan berhasil jika ingin berkompetisi dengan Razak." Arthur menggelengkan kepala.

"Oooh? Apa ini? Kau tahu posisi apa yang Bumi inginkan, Iggy?" Francis memandang Arthur menggoda. "Tentu saja aku tahu. Ayahnya…" Arthur terlihat tercekik sedetik sebelum dia merileks lagi, "Ayahnya… dulu seorang saucier."

"Aku lupa kamu mengenal ayah Bumi, Arthur!" Francis penasaran. "Si Kepala Dingin, Prasetio Gitosuputro. Dia orang yang tenang sekali, bukan? Tangannya dingin saat memasak, bahkan ketika dihadapkan dengan seratus piring dalam waktu satu jam sekalipun. Bagaimana dia secara personal?"

Dia tidak dingin sama sekali. "Konyol. Orangnya konyol." Ucap Arthur jujur.

"Prasetio benar-benar hebat. Aku ingat saat itu dialah inspirasiku untuk memulai debut di kancah kuliner Perancis—dan dia bahkan bukan orang Perancis! Shame, shame." Francis menggelengkan kepala, rambut emasnya bergoyang lembut.

"Francis." Arthur menekan nama Francis. Tahu bahwa percakapan yang bahaya ini harus segera diakhiri.

Mengingat headlines di The Times saja sudah membuat dia sakit hati sekali; The End of Level-Headed Culinary Sweetheart! Semua orang berbisik-bisik, saat malam lampu dimatikan dan seisi Paris menyalakan lilin, menyanyikan anthem Paris dilanjutkan dengan requiem yang menggambarkan betapa kepergian Pria itu benar-benar membuat masyarakat Paris kehilangan. Arthur ingat, saat itu dia tujuh belas tahun dan sakit-sakitan meraih kejayaan—dia baru saja pulang dari restoran dan disuguhi berita kematian pria yang paling dia kagumi, paling dia sayangi sepenuh hati, sepenuh mati…

"Well," Francis yang mengetahui suasana hati Arthur sekarang langsung kicep dan berusaha mencari topic pembicaraan lain. "Bagaimana dengan Bumi, Arthur? Anak itu memang belum terlalu terkenal, kan? Memenangkan beberapa penghargaan di negaranya bersama timnya, namun tidak pernah secara solo. Kau pikir kau tahu kenapa?"

Arthur hanya diam memandang Francis. "Entahlah." Ucap Arthur, lega tidak lagi membicarakan soal Pria Itu. Setelah meninggalnya Pria Itu, barulah diketahui bahwa Prasetio mempunyai keluarga. Dia bahkan mempunyai dua orang anak! Hal yang mengejutkan karena Prasetio adalah seorang Tokoh Dunia yang terkenal, dan keberadaan anak istrinya yang seharusnya diketahui sejak awal malah bagaikan udara saja. Sebelum Koran-koran dunia dapat meng-interview pihak keluarga yang jelas sedang berduka, Hatta Gibran selaku teman terdekat dari Prasetio Gitosuputro secara eksplisit mengobarkan bendera perang bagi media manapun yang berani mendekati peninggalan terakhir Prasetio Gitosuputro—keluarganya. Jadilah keberadaan dari keluarga Gitosuputro disembunyikan oleh Hatta Gibran.

"Arthur, kau tadi bilang dia akan kalah dari Razak, bukan?"

Arthur hanya memandang Francis letih. Francis cuma tersenyum kucing.

"Kupikir, kau salah. Bumi pasti bisa melebihi Razak Abdul Kahar. Bahkan melebihi ayahnya sendiri. Karena kau tahu? Dia adalah Badai, ingat?" Senyum Francis berubah dingin.

"Badai hitam yang akan mengalahkan... dunia."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Edited : 28/7/14

Sebelumnya saya mau bilang, : MINAL AIZIN WALFAIZIN buat yang merayakan (telat banget lu)

Saya juga mau bilang : mungkin apdet ff ini akan melantur ke depannya. Kenapa? Karena agustus nanti saya udah masuk kuliah. HAHA. IYA EMANG NYEBELIN SAYA YA. Dan entah beneran atau nggak, katanya kuliah itu adalah neraka tugas. (keliengan)

Saya akan berusaha untuk ff ini kedepannya!

Dan saya akan bilang : sulit untuk bikin seluruh karakter IC sambil bikin fanservis. Jadi kalo nanti banyak OOC maafin saya ya. (soalnya di chap depan bakalan banyak fanservis (((eh)))))))

.

Pojok-balesin-komen (yang log in pake akun kemaren, segera cek pm. SEGERA! CEPAAAT!) :

Sabila Foster : HAHA SAYA JUGA MIKIR GITU KOK. RAZAK BERTINGKAH SEPERTI SEME-/OHOK/DITABOK/ emang Malon kalo ga nyebelin ga asoy~/Who am I : XDDDD NETHERLANDS PAKE SAMBEL TUKTUK NGGA? SAYA SUKA SAMBEL TUKTUK LOH. Wkwkw nethere yaa? Saya mungkin bakal masukin dia kok tapi di chap2 selanjutnya! HAHAH TUKANG NGEMIS MAKAN BENERAN LHO YA ((TIDAK PERNAH MAIN MAIN))) saya juga mikirin EngIndo geter-geter sendiri pengen bikin mereka jadian(?) tapi disini ntar kasian Lovinonya : ( IYEEE NETHERE NYA JADI TUKANG NGEMIS MAKAN KAN YA?/ Leah : JANGAN BILANG INI LEAH YANG ADA DI TWILIGHT? XDDD hahaha udah ga ketinggalan kanzzzz/shinju : okeeeeey rate M secukupnya ya? Saya juga mikirnya kayaknya FF ini selama ini nggak kerasa aura 'dewasa'nya. Kesalahan yang fatal. Saya juga mikir bagusan mana lime atau lemon… hmmm./Hompimpah : MAKASIH XDDD emang kalau Malaysia muncul harus menyebalkan. Aaamiiiin kesengsem wkwkwk. Eh jadinya malaindo atau romaindo nih? xD/ AnonAnon : IYA DONG HEHE (DITEPUK) farmasi alhamdulillaaah~ eh tapi ganteng lho yang main di Greatest Love itu : ( Razak tau nggak ya Bumi cewek? Kayaknya nggak deh… atau iya ya? xDD PUTRA HARAM OOM HATTA? Wkwk xDDD Oom Hatta tuh aseksual di kepala saya (oke kecuali kenyataan kalo dia naksir ibunya Bumi) I'm scared of your imagination too xd MalexNes nya emang kurang sih ya? Will do in next chapter!/Tomochi : HAHAH TU TAU KAN. Iya dong harus dinistain. Abis alisnya kayak minta dibully gitu. LOVINO TEGAAA BANGGETS. Yang Rate M diberikan pihak berwenang? :"") siipp. WAKAKAK LIGHT SPEED. Iya gapapa kokz. Siiip makasih Tomomi san! (entah kenapa imej anda di saya itu mirip Itano Tomomi-nya AKB48 xDD)/