I Like it Hot and Fast (and Yummy)

Daruma Shi

Please enjoy and keep in mind that I do not reap any economical benefits from this act. What I solely reap are the satisfaction of growing into a better writer and people's reviews.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapitre Treize : wake me up (when you're ready)

.

.

.

.

.

Sepertinya akan ada badai.

Pikir sang lelaki berkulit sawo tersebut, wajah tampan namun juga halus, dingin karena terkikis oleh kerasnya dunia masakan. Matanya memandang ke bawah—diorama de Paris, dia memanggilnya begitu, kumpulan para pejalan kaki yang ditemani oleh lampu-lampu sorot yang hanya ada di Paris. Di flatnya yang terbilang tidak murah ini, dia menumpukan dagunya dan memandang ke bawah, seakan-akan menunggu, mencari, sesuatu, yang tidak pastinamun dia tahu ada di situ. Malam hari masih membelenggu La ciel de Paris—langit-langit Paris.

"…Razak."

Suara berat khas seorang pria keturunan Filipina terdengar. Pria sawo matang itu tidak perlu berbalik untuk melihat bahwa Jazz sedang menyedekapkan tangan dengan pose yang sangat anggun, bersandar di pintu automatic-nya. Razak hanya menaikkan alis melihat pria yang bagaikan saudaranya tersebut. Jazz tidak biasanya datang ke flat Razak, walaupun mereka hanya tinggal sejauh tiga blok. Saat ini entah karena ada dorongan kehidupan apa Jazz datang pada Razak. Ini pasti berhubungan dengan kebutuhan manusiawi Jazz yang paling dia gandrungi—makan, memamah biak, eat. Apalagi saat Jazz tahu bahwa Razak adalah seorang cook.

"Jadi? Mau makan apa?" tanpa tedeng aling-aling Razak segera berjalan menuju konter dapur miliknya. Jazz tidak menampilkan wajah senang—kalau wajah yang biasanya datar tersebut memang bisa mengalami perbedaan. Paling tidak, untuk ukuran Razak yang sudah bersama-sama dengan Jazz semenjak mereka orok, membedakan ekspresi wajah sang Filipino bukanlah hal yang sulit.

"Tidak sopan sekali. Aku datang kesini bukan untuk makan, oke?" tapi tangan Jazz dengan aktif meraih sekantung lays yang tergeletak di atas meja milik Razak. Razak menggelengkan kepala namun tetap membuka kulkasnya, percaya beberapa menit lagi Jazz akan merengek padanya minta dibuatkan sesuatu. Razak berpikir apa yang membuat Jazz datang ke flatnya, sekali lagi. Dengan tangan cekatan ia membuka seplastik spaghetti yang masih belum masak.

"Malam ini ayo kita makan yang mudah-mudah saja. Aku sedang tidak mood membuat hours d'eouvrs dan kawan-kawan."

"Tidak biasanya kau tidak mood masak."

"Suka-suka aku dong."

"…kau punya tivo?"

"Ya. Baru beli kemarin."

"Sok kaya." Ucapan malas Jazz tersebut membuat Razak menyeringai kecil. Suara mereka digantikan oleh suara hidupnya TV milik Razak dan menayangkan acara-acara dari seluruh dunia.

"Aku dengar kemarin Grey sakit. Apa dia baik-baik saja?" tanya Razak, memecah suasana. Jazz hanya mengangguk kecil, matanya menatap televisi. Razak melanjutkan ocehannya dengan tenang, "Akara terdengar sangat khawatir di telepon. Mau bagaimana lagi—dia lebih kecil dibandingkan kita semua dan dia punya sejarag tipus. Aku mungkin akan menjenguknya besok, membawakan bubur sup telur—"

"Hei." Razak tidak berbalik ketika Jazz berkata lemah.

"Aku kemarin bertemu dengan orang itu."

Hening. Suasana malam yang dingin terasa merambat masuk ke dalam flat, dan itu tidak menyenangkan.

"Aku juga." Razak menjawab tanpa berbalik.

Jazz memandang Razak dengan pandangan meneliti. "…Haruka juga bertemu dengannya."

"Dunia ini sempit."

"Aku kira juga begitu." Jazz bermain-main dengan cushion milik Razak yang berwarna metallic silver, seperti warna kesan Razak. Dingin, menusuk, dan berkilau, tidak mudah disentuh. Jazz memandang punggung Razak yang sibuk bergerak kesana kemari membuat makan malam untuk mereka berdua. "Hati-hatilah untuk tidak mengoyak dia terlalu keras."

"Apa maksudmu?" Razak berkata, intonasinya tenang. Jazz memutar bola mata.

"Mungkin kau terlihat tenang," ucap Jazz malas-malasan, menutup bola matanya, "Tapi aku tahu kau ingin segera menghancurkan dia berkeping-keping. Paling tidak, jangan buat dia merasa menjadi yang paling parah di dunia ini."

"Hoo?" tangan kekar milik Razak terhenti. "Apakah aku baru mendengar kau membela seseorang, Jazz?"

"Bukan urusanmu."

"Tidak, ini jelas urusanku." Razak tidak terdengar peduli, namun kuping Jazz menangkap apa yang kau sebut intonasi menggoda. "Kau, yang tidak peduli dengan pendapat orang tuamu dan kabur ke Paris dan bukannya masuk Darthmouth seperti yang ortumu inginkan, peduli pada seseorang? Kau, yang hampir bikin ibumu serangan jantung karena pernah melukis nude self-portrait dan dipamerkan di international art exhibition? Kau, yang merebut permen anak kecil tanpa merasa bersalah saat lapar?" suara Razak membuat spaghetti terdengar keras dari dapur. Jazz mengerut tidak suka, entah kenapa merasa terpojok. "Hati-hati, atau aku akan merasa kau tertarik dengan orang itu."

Jazz tidak menjawab.

Begitu pula dengan Razak.

Suara air yang mendidih.

Suara derakan spaghetti yang berubah layu.

"Kau… benaran tertarik dengannya?" Razak mengerutkan dahi. Tidak percaya dengan omongannya sendiri.

"Wake me up when you're ready," hanya itulah balasan dari Jazz di akhir pembicaraan mereka.

.

.

.

.

.

.

Pagi itu seperti pagi biasa—selesai melakukan mis en place, Arthur menyuruh mereka berbaris dan beliau menuntut reservasi dengan segera. Mata hijau emeraldnya yang indah memantulkan pancaran determinasi dan keinginan kuat untuk menyelesaikan hidangan-hidangan dengan sempurna. Selesai dia membacakan seluruh banquets, dia kemudian angkat bicara.

"Sebulan lagi kita akan melakukan jasa konsumsi di sebuah pernikahan. Aku ingin kita semua bersiap-siap mulai dari sekarang. Waktu dan tempat akan aku beri tahukan. Karena itu, untuk masing-masing commis de chef, jika kalian memiliki ide untuk apa-apa saja yang harus dihidangkan, kau boleh segera datang padaku dan aku akan melakukan screening. Mengerti?" ucapan Arthur dibalas dengan seruan 'mengerti, chef!' yang cukup lantang. "Dan Sabina, kau akan dibantu oleh Joan untuk pembuatan dessert dan cake."

Wajah Sabina begitu syok saat diinformasikan hal tersebut. "Tapi, Chef—"

"Tak ada tapi-tapian." Suara berat Lovino bereverberasi di dalam ruangan tersebut. "Kalau ada waktu menggonggong, lebih baik kau segera bekerja saja." Lovino memelototi Sabina dengan pandangan yang bisa bikin orang mengelepar kayak ikan kekurangan air. "Dan hari ini… kalian tahu apa hari ini, kan?" mata Lovino menyapu seluruh pegawai.

Hari ketujuh di akhir bulan.

Fighting event.

Semua orang diam.

"Kalau kalian mengerti, kalian bisa mulai untuk melakukan sesuatu sekarang. Kita tutup toko lebih cepat dari biasanya jadi kalian bisa mulai bergerak…. Orang yang disana, kau bisa mulai mengangkat bokong semokmu itu dari pandanganku. Menghalangi jalan." Lovino melambai ke arah Guliath. Yang ditunjuk serta merta berdiri lebih tegak seakan-akan ada yang menusuk punggungnya dari belakang.

"Sudah waktunya untuk seseorang mengatakan sesuatu tentang mulut jamban sous chef." Ucap Bumi dengan wajah kesal ke Berwarld. Tiino sedang tidak masuk karena dia sakit. Berwarld sudah ingin mengambil cuti kalau saja Tiino tidak menyuruhnya datang dan tetap bekerja. Dia menata udang di atas mayonnaise dan berkata dengan datar, "Dia hanya bersikap seperti biasanya. Ambilkan pisau." Bumi menyerahkan pisau dan berhenti komplain. Semenjak dirinya dinaikkan menjadi anak buah Berwarld, sungguh, hari-harinya jadi lebih berwarna. Tidak ada teriakan 'kesini, anak baru!' atau 'kau menghalangi, anak baru!' dan itu jelas membuat Bumi senang.

"Kemarin aku lihat kau begitu bahagia setelah keluar dari dapur milik Joan. Bertemu belahan hati seumur hidup di dalam sana?" Tanya Berwarld tanpa mengalihkan perhatian dengan masakan di depannya. Bumi memandang Berwarld dan kembali menyisik kulit udang dengan hati-hati, sementara menunggu deglazing dalam panci.

"Aku hanya memintanya untuk mengajariku cara mencintai yang baik dan benar."

Itu terdengar sangat seksual.

"Aku harap kau memakai pengaman."

Bumi mengerutkan dahi dan perlahan menatap Berwarld. "Aku memang memakai pengaman." Dengan semua peralatan menutup tubuh itu, bisa dibilang Bumi siap maju ke tengah medan perang dan tidak bakal tergores sedikitpun. Seserius itulah baju sterilisasi dapur Joan. Berwarld berhenti memotong sejenak dan menaikkan alis, namun mengangguk dengan sedikit pemikiran, too much information is being shared here. Jelas mereka berdua memikirkan dua jenis pengaman yang sangat, sangat berbeda.

"Benarkah?" Berwarld mungkin berwajah lempeng seperti talenan, tapi Bumi mendeteksi humor dalam nada suaranya, dan itu membuatnya curiga. "Ingatkan aku untuk tidak membeli kue di tempat Joan lagi. Siapa tahu Joan mengajari pria lain cara mencintai yang baik dan benar dalam dapur itu."

"Joan wanita baik, aku yakin dia mengajari segala hal pada siapa saja. Dia benar-benar wanita perkasa." Bumi berkata polos. Berwarld mati-matian menjaga seringaian serigala miliknya agar tidak muncul. "Omong-omong soal Joan, aku dengar dia mantan Pak Francis ya?"

Berwarld menuangkan saus tar-tar dengan hati-hati di atas amuse bouche nya. "Kenapa? Cemburu?"

"Aku tidak menyukai Pak Francis seperti itu, demi apapun samber geledek."

"Ya… begitulah." Berwarld berhenti bicara setelah dia meletakkan mini cherry diatas liver-pie, hidangan yang membuat nenek-nenek sihir kabur ke Barat, konon katanya. Bumi yakin Berwarld hanya tidak ingin membicarakan masa lalu orang yang bahkan tidak dekat dengannya. Bumi segera menyelesaikan piring miliknya dan memberikannya pada servant. "Apa ada lagi yang bisa kubantu?" Tanya Bumi kemudian. Berwarld hanya menggeleng pada Bumi dan Bumi merasa bahwa Berwarld baru saja menyuruhnya untuk istirahat. Begitulah, Bumi dan Berwarld sudah bisa mengerti satu sama lain bahkan tanpa berbicara sekalipun.

Bumi berada di depan loker ketika dia mendengar pembicaraan dari luar. Langkahnya terpaku ketika dia mendengar gelak tawa dari dalam.

"Si anak baru itu… dia benar-benar menyebalkan."

Telinga Bumi berdiri. Tubuhnya mendingin.

"Kenapa dia bisa masuk di Entreé semudah itu? Benar-benar…"

"Dia memang sangat dianak emaskan. Kadang aku berpikir apa yang dilihat owner dari anak bocah itu."

"Dia mungkin punya uang."

"Dan jadi handkicthen disini? Nah. Kalau aku jadi dia, mungkin aku langsung minta jadi executive chef."

"You insolent dog."

"Atau mungkin dia punya BJOD yang hebat?"

"BJOD? Apa itu?"

"Blow Job On Demand! Hahaha!"

Bumi mengeratkan tangan, berusaha menelan rasa jengkel dan emosinya. Lagi-lagi orang-orang mengatakan hal yang seenaknya. Lagi-lagi mereka menghakimi tanpa melihat bukti. Bumi muak dengan semua orang kampret ini. Mereka bahkan berasumsi bahwa Bumi melakukan hal yang tidak pantas pada Pak Francis supaya sekedar mendapatkan posisi. Dengan langkah berat, Bumi membuka pintu menjeblak membuka dan melihat wajah-wajah menyebalkan yang sepertinya kaget juga.

Bumi tersenyum penuh paksa melihat mereka dan berkata, "Suara kalian kurang kencang, Senior. Mungkin kalian butuh toa atau semacamnya."

Dan Bumi segera meraih saputangan dalam lokernya dan segera pergi keluar, rasa lelah tergantikan amarah dan semangat memukul sesuatu dengan panci goreng.

"Kau tak jadi istirahat?" Tanya Berwarld melihat Bumi yang menerjang keluar dari ruang loker.

"Aku masih sangat kuat. Aku bantu membuat sausnya." Ucapan Bumi tidak terdengar meminta, lebih ke arah menuntut. Berwarld hanya diam dan bergeser dari tempatnya berdiri, tidak ingin membuat Bumi yang entah kenapa sangat terbakar menjadi lebih terbakar.

Bumi menatap pisau dan peralatan dapur di depannya dengan penuh tekad. Bumi sudah berubah. Bumi yang sekarang adalah Bumi yang akan bekerja keras sampai titik darah penghabisan. Bumi benci melakukan konfrontasi namun Bumi yang sekarang akan maju ke titik permasalahan, she dives head-first into it, oh yeah she does. Jika kamu bertanya apa yang Bumi tengah pikirkan sekarang, itu adalah cara supaya dia cepat menaiki tanggah kejayaan dan membuat ibunya bangga!

(dan Almarhum Ayahnya tersenyum dibalik awan surga.)

"Omong-omong, kamu tahu kalau hari ini fighting event, kan."

Ucapan Berwarld yang tiba-tiba membuat Bumi langsung menelan ludahnya dan berhenti mengelap pelipisnya sendiri dengan saputangan. Tiba-tiba semangatnya yang berapi-api melipir keluar, sedikit. "Ya, aku sangat ingat." Bumi menggaruk kepalanya. Bumi masih belum memasukkan namanya. Entahlah, dia masih belum siap… kamu pernah kan, berada di suatu situasi yang sangat riskan? Kamu punya rencana terlebih dahulu, namun kamu belum beraksi karena merasa belum siap? Takut kalah? Begitulah yang dihadapi oleh Bumi sekarang.

Bumi menggelengkan kepala. Dia merasa hipokrit sekarang.

"Mungkin kamu bakalan ingin gerak cepat. Siapa yang kemarin bilang ingin mengalahkan Roxy?"

Omongan Berwarld telak menohok. Mungkin Berwarld adalah orang yang tak banyak omong, tapi saat dia bicara dia sangat spot on. Spot on meninju hati, maksudnya.

"Aku akan memasukkan namaku." Kata Bumi akhirnya.

"You're ready, then?"

Bumi menatap Berwarld dan tersenyum.

"Very much, yes."

Berwarld melirik Bumi dan tersenyum kecil, tahu bahwa apa yang dikatakan Bumi adalah hal yang mutlak. Jadi, Berwarld hanya menepuk kepala Bumi dan mengacak-acaknya dengan rasa bangga yang tertutupi.

Setelah empat puluh servings, 25 bon appetite yang dikeluarkan pengunjung, 124 piring yang dicuci dan 27 pisau yang ditajamkan dan dicuci, restoran siap untuk tutup. Sekarang sudah jam tujuh malam dan fighting event akan dimulai.

Restoran ditutup lebih awal, seperti biasa. Orang-orang terlihat tegang, de javu sekali. Rasanya sangat sedih mengingat Bumi masih belum berani memasukkan namanya sendiri ke dalam mangkok besar tersebut. Bumi mengingatkan dirinya sendiri bahwa dia masih belum yakin dia bisa melakukan hal ini. Seorang Pemberani tidak sama dengan seseorang yang bodoh. Bumi harus memikirkan strategi dengan sangat matang. Rekan-rekan Bumi terlihat curiga satu sama lain. Bumi menghela napas dan mencuci piring dengan efisien sebelum akhirnya Mai, gadis Vietnam satu-satunya cewek yang bisa dibilang dekat dengan Bumi di restoran ini, mengajaknya untuk ke ruang tengah. Francis sudah siap dengan akuarium kecilnya, matanya memandang lautan manusia di depannya dengan puas.

"Semua sudah disini? Ok, commence!" Dia memasukkan tangannya ke dalam akuarium tersebut, memutari-mutarkan tangannya dengan penuh deliberasi yang membuat mata orang-orang tertuju pada akuarium itu saja. Francis sangat senang dengan mata yang memandang ke arahnya penuh antisipasi.

Francis menarik keluar sebuah gulungan kecil. Dengan cepat dia membuka gulungan tersebut dan mengangguk.

"Razak Abdul Kahar melawan Bumi Adhiswara."

Seraya petir menyambar, tubuh Bumi mendingin. Bisik-bisikan kaget terdengar dari seluruh penjuru dan Berwarld terlihat cukup kaget juga. Apa yang terjadi? Razak menantang Bumi? Bumi serta merta melemparkan pelototan ke arah Razak yang, entah kenapa, kelihatan sangat puas. Apa yang sedang terjadi?!

"Tunggu." Francis mengangkat tangannya dan semua kepala berputar ke arahnya, bertanya-tanya. "Kali ini, tema yang dipilih bukanlah dariku. Bukan dari Lovino, ataupun dari si alis tebal ini." Yang merasa disebut alis tebal hanya menaikkan alis tebalnya dan dengan sangat anggun memukul punggung Francis hingga berderak. "Bergembiralah, seorang temanku akan datang beberapa saat lagi. Dia seorang critique dan kalian semua pasti mengenalnya."

Bumi mengerutkan dahi, syoknya masih belum hilang, walau rasa syok itu dengan cepat tergantikan amarah dan gairah yang meletup. Kau mau duel? Kuberi kau duel. Dia memandang jam yang berdetik keras dan yang bisa Bumi lakukan, selain memelototi Razak, adalah menunggu.

Tiga mil dari tempat Bumi berada, seorang pria tampan yang sangat tinggi menarik koper miliknya, matanya hijau platina yang menggoda. Dia terlihat dingin bahkan dari luar, namun jika kamu lihat dengan teliti kamu bisa melihat benda bulat berwarna pink menggundal-gandul dari tasnya… itu adalah strapkelinci kecil. ya, kamu tidak salah baca. Strap kelinci di koper yang dibawa oleh seorang pria yang kelihatan bisa memutuskan sebatang baja dengan gigitan geraham. Sangat mengintimidasi.

Memutuskan untuk berhenti terlihat seperti foto model di runway, Pria ini berbalik dan melihat jam yang terpapar di dinding bandara Paris. Mengerutkan dahi, dia segera menarik koper menaiki taksi.

"Kemana, Monsieur?" Tanya sang driver, tidak terlihat begitu senang mendapat penumpang turis.

"Ke restoran Le Roi… ah, tidak. Ke Mariott."

Dengan wajah yang sepertinya tidak melihat mengerti apa itu kebahagiaan dunia, sang driver menancap gas dan sang penumpang segera sibuk dengan tab nya. Sebuah pesan LINE masuk dan dia mengetuk ikon aplikasi LINE dengan santai.

Don't tell me you're going to hotel first.

Bibir penuh itu tersenyum sinis. Dia sangat bisa membayangkan Arthur mengatakan hal itu dengan sebal.

I am, as we speak, in the middle to the said destination.

Jawabnya.

You sodding wanker

Wait until I get to u and I will harm your family jewels

Tanpa menunggu jawaban Arthur yang mulai mengarah kepada kekerasan dan pelecehan seksual, sang Penumpang menaruh tab miliknya ke dalam koper dan mulai memandang keluar taksi. Matanya tiba-tiba bertemu dengan objek yang menarik perhatiannya.

"Supir."

Sang supir hanya memandang ke belakang, matanya malas.

"Siapa itu?" Tanya sang Penumpang, menunjuk foto sang Supir dengan keluarganya yang ditempel di jok mobil. Melihat foto itu senyum supir merekah lebar, namun matanya masih sayu. Keluarga adalah moodbuster terbaik dan steroid yang paling dahsyat. "Itu keluarga saya."

"Oh ya?" penumpang itu terdiam sebelum berkata, "Anak perempuanmu sangat manis." Mata hijau segera tertutup, sadar dia baru terbang delapan jam dan tidak tidur sedikitpun. Dia butuh tidur untuk berfungsi seperti manusia normal. Dengan santai dia berkata,

"Wake me up once we arrive."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

HAHAHA. Haloo lohaaaaa saya kembaliii xDDD setelah sekian lama :"DDDD maaf saya baru comeback sekarang…. Berhubung sekarang mendekati tahun baru jadi saya pikir saya harus update! Untuk chap ini saya emang sedikitin fanservis karena saya pikir key pointnya aja belum sampe ke pembaca, masak udah mau fanservice?

Buat yang nanya ke saya pair utama siapa, saya jawab disini.

Pair utama tetap RomaIndo tapi bakalan ada banyak saingan buat Lovino. Saya udah bilang kalau saya ini penganut SLOW BUILT. SLOW BUILT. SLOW BUILT. Jadi saya nggak percaya sama yang namanya tiba-tiba nyosor terus cipokan. Dan dalam tiga belas chap ini bisa dibilang baru empat bulan yang dibuang Bumi sia-sia. Belum ada tanda-tanda Lovi suka sama Bumi. Jadi buat yang nanya kapan ada fanservice antara Bumi-Lovi, itu susah banget men. Apalagi Lovi tipe-tipe tsundere kampret. Bakal susah nyari chemistry di antara mereka berdua. Kalo mau maksa, saya bisa langsung bikin mereka berdua jatuh cinta karena suatu alasan tertentu, made them make love, and then that's that. Tapi saya pikir saya bisa bikin Bumi (karakter milik saya, saya tau) marah dan kecewa sama apa yang saya lakuin. They just write themselves out, really.

Estimasi cerita ini selesai mungkin tiga puluh atau pertengahan menuju empat puluh chapter.

Saya ulang. Estimasi cerita ini selesai mungkin tiga puluh atau pertengahan menuju empat puluh chapter.

Estimasi cerita ini selesai mungkin tiga puluh atau pertengahan menuju empat puluh chapter.

Estimasi cerita ini selesai mungkin tiga puluh atau pertengahan menuju empat puluh chapter.

Estimasi cerita ini selesai mungkin tiga puluh atau pertengahan menuju empat puluh chapter.

Cukup lama kan waktunya? Jadi saya tekanin lagi… masih lama buat Bumi-Lovino untuk bersatu. Tenang aja.

Dan btw, buat orang pertama yang bisa jawab siapa si cowok misteri di atas, saya kasih hadiah! Seriusan!

Pojok-balesin-komen :

Forever-tsundere : HALO MAKASIH UDAH REVIEWWWW haahaha nggak papa aku ngerti kok kalo banyak pr :"""" iya saya juga terpana waktu saya tiba-tiba kepingin nulis Haru :D nggak usah panggil senpa OTL siapa sayaaahhhh iya makasih banget :""" SAYA SUDAH UPDATE MAKASIH BANGET YAA SAYANG MUMUMUMUUU/Freeze112 : udah update lhooo xDD/VARGAS : Hai VARGAS! Makasih udah komen, ini udah lanjuut./gaga : pe-penulisan rapih…. Makasih banget :""""""" /Veria-313: iya, aku emang suka sama nama OC yang unik… tadinya aku mau nama OC nya Kudungga, sama kayak nama raja Hindu-Buddha kerajaan tertua di Indonesia soalnya nama dia itu nama asli Indonesia tapi nggak jadi karena terlalu jantan :""" okee aku juga nggak go to implicit kok xDD/fiv : emang belum ada maaf :" aku nggak suka kalau terlalu terburu buru… /an : haaai haha. Sepertinya dari life-experience ya ngomongnya? Oke deeeh tenang aja kok. Aku nulis bukan buat bikin orang sedih atau nangis. Aku mau bikin orang senang aja dengan tulisan aku. :"/D.N.A Girlz : HAHAHAH MAKASIH YA KAPSLOK JEBOLNYAAAHHH/kuroi uso : kerja sama sih nggak, cuma dianakemasin doang sama Arthur WKWKWKWK tenang pair akhir RomaIndo kok. Saya Cuma suka banget sama polyamor hahaha. Soal Lovi masih lama taunya… masih lama banget, maaf ya :" oke deeeh ditampung idenya sayaaang/Misaki Younna : EH KAMU ANAK SMP LAPSAT? AKU JUGA DULU HAHAH TERNYATA DUNIA INI KECIL SEKALI YA :ddd/Tomochi : makasih untuk dirimu yang dengan baik hatinya masih mau review…. Srsly I hope this chapter will be free from those goons… I swear they just grown up from my paragraph… I rlly need to purchase some typoside. (geddit? Typoside? Pestiside? Insecticide? Okay forget it) HAHA BENAR SEKALI episode selanjutnya fighting event lho~ tenang aja ga ada yang menderita disini (oke adalah dikit tapi nggak semenderita di cerita itu :""") HAHAHA TENANG AJAAA MAKASIH ITANO-SAN :DDD/Sabila Foster : AKU TJIPOK KAMU JUGA YA HAHAHA MAKASIH BEIB. AAMIIN INI APDET NIH APDET APDETTTTT