Bumi sudah siap-siap ketika sore itu Roderich bertanya padanya apa yang dia lakukan dan terlihat rapih. Bumi menjawab dia hanya ingin berjalan-jalan.
"Jalan-jalan?"
"Yah… se-sekedar menghapus kepenatan…"
Karena jelas dia tidak bisa bilang kalau dia ingin mencari rumah baru.
Roderich hanya menatap Bumi dengan mengerutkan dahi sebelum akhirnya mengangguk, "Oh, Lusa adalah hari raya pernikahan kami...jadi biar Elizaveta yang memasak, oke? Sudah lama dia tidak memasak makan malam… kamu bisa santai aja, Bumi…" Roderich tersenyum lembut dan membiarkan Bumi pergi dengan tenang. Bumi keluar dengan hati berat dan bersalah.
.
.
.
.
.
.
.
I Like it Hot and Fast (And Yummy)
Daruma kuah kimchi
Warning : kata-kata super kasar. Like, kasar banget. Sexual content too. ME LIKEY SOME UST. DON'T KNOW WHAT UST IS? GOOGLE IT. SEARCH IT. [nah I'm not that mean. UST stands for Unresolved Sexual Tension I LURV YOU ALL] by the way ini Cuma filler chapter HAHAHA sorry fellas
.
.
.
.
Chapitre quinze : That is so fetch!
.
.
.
.
Feliciano adalah host terbaik yang Bumi punya.
Dia bahkan menjemput Bumi sepuluh meter dari rumah Roderich karena dia tahu Bumi tidak bakalan nyaman kalau langsung dijemput begitu saja. Feli tersenyum menyambut kedatangan Bumi. "Aku tidak terlalu senang menggunakan AC, lagipula sekarang masih cukup dingin… bagaimana jika kita buka kap mobilnya saja?" usul Feli pada Bumi. Bumi mengangguk semangat. Dia tidak pernah naik mobil yang kapnya terbuka. Ini adalah pengalaman pertamanya.
"Kita akan kemana? Dimana apartemen itu?" tanya Bumi pada Feliciano yang sudah sibuk menyetir. Feli memakai sabuk pengaman sebagaimana pengendara mobil yang baik berlaku. Bumi tidak memakai sabuk pengaman cause fuck the police. "Dekat dengan rumahku, kok." Ucap Feli. "Rumahku dekat dengan akses menuju tempatmu bekerja, Bumi. Jadi tenang saja, kalau ada apa-apa kamu bisa datang ke tempat aku, ve!" Feli menyeloroh. "Ludwig orang yang baik dan dia sangat perhatian. Gilbert mungkin kelihatan kasar tapi dia sangat baik juga. Kamu akan senang di sana, ve~"
Bumi tidak bilang apa-apa. Dia tidak bisa bilang kalau dia mengalami second thoughts karena Roderich membuatnya merasa menjadi kacang yang lupa pada kulitnya.
Setelah tiga puluh menit berlalu, mereka sampai di depan sebuah apartemen susun yang bisa dibilang bagus, namun tidak terlalu mewah. Bumi suka dengan warna krim segar dinding apartemen tersebut dan melihat-lihat sekitar. Di depan apartemen terdapat pohon-pohonan yang sudah mulai menghijau dan ada bunga-bungaan di sekitarnya. Kelihatan sangat rindang dan asri. "Disini tempatnya!" ucap Feli. "Apa kamu mau lihat dulu? Aku punya kuncinya disini, Ludwig yang memberikan…"
"Oh ya? Boleh, boleh!" Bumi menyetujui, merasa sangat excited melihat rumah barunya… mungkin. "Ada tempat di lantai tiga, Ludwig sengaja memberikanmu itu karena memang kalau di lantai satu suka banyak pencurinya… tapi tenang saja, disini ada penjaga kok, kalau terjadi apa-apa juga kamu bisa minta tolong padaku, kan?" Feli menjelaskan, dan mereka segera naik ke atas dengan lift diisi dengan penjelasan Feli mengenai seluk beluk Apartemen.
"Ludwig hari ini tidak bisa ikut karena dia sedang ada rapat di tempat kerjanya… sementara Gil, dia mungkin ketiduran." Feli tertawa kecil dan berhenti di depan sebuah pintu. "Ini dia tempatnya!"
Kunci tersebut kemudian membuka pintu, dan Bumi bisa melihat sebuah ruangan yang kecil namun cukup untuk tempat tinggal satu orang, satu kamar mandi, dan sebuah dapur. Ventilasi udaranya juga baik, dan terdapat exhaust fan di pinggir ruangan. "Kata Ludwig, tempat ini sudah tiga tahun tidak berpenghuni, ve~" Feli menyodorkan Bumi masker. "Karena itu lebih baik kamu memakai masker ini, oke?"
Masker itu masker kain dengan gambar ceri dan bentuk hati.
Bumi merasa dia tidak bakalan cocok memakai masker seimut ini, dan berusaha mengontrol wajah menolaknya di depan Feli namun Feli segera menangkap perubahan wajah Bumi. "Hee? Kenapa tertawa? Kan masker ini lucu?" Feli menyengir dan memakaikan masker tersebut di wajah Bumi. "Lagipula, kamu cocok pakai ini, Ragazza. Cute."
Jir. Baper. Gue.
"Naaah, waktunya masuuuk!" Feli masuk ke dalam ruangan tersebut. Jendelanya cukup besar dan mengarah ke matahari, jadi ketika Feli membuka tirai jendela yang sudah using dan robek-robek dibagian bawah, debu-debu langsung menari disiram cahaya matahari. Bumi sempat merasa terpesona juga oleh warna emas yang dipantulkan partikel-partikel kecil sebelum menuju ke konter dapur. Untuk Bumi, dapur adalah jiwanya—dapurnya harus punya cerobong sendiri, ventilasi udara sendiri, dan cukup luas supaya Bumi tidak mengalami masalah di kemudian hari.
Beruntunglah ketika Bumi menginspeksi dapur, dapur tersebut cukup membuatnya puas, dan Bumi segera mengikuti Feli untuk melihat kamar mandinya. Dibandingkan dengan dapur, Kamar mandinya lebih kecil dan cukup berbahaya, mengingat ada celah lubang yang muat untuk tangan pria dewasa. "Ini gawat, aku harus segera bilang pada Ludwig." Feli mengerutkan dahi. "Sepertinya ini dibuat dari luar, lihat… potongannya tidak rapi."
"Apa disekitar sini ada banyak orang mesum?" tanya Bumi, tidak khawatir, hanya sebal. Jika ditanya apa yang paling dia benci di dunia ini, mungkin itu adalah penjahat selangkangan.
"Ya, cukup banyak kriminal yang berkeliaran." Feli mengangguk, ragu-ragu. "Dengar, Kalau kau merasa tidak nyaman, kamu bisa selalu datang ke tempatku, oke? Tempatku terbuka untukmu kapanpun. Bagaimanapun aku pernah merasakan jadi sepertimu, tersesat tidak tahu arah di negeri orang."
"Tidak usah mencemaskanku," Bumi menggelengkan kepala. "Tapi aku masih cukup ragu apakah aku akan pindah kesini atau tidak. Aku butuh waktu yang lama untuk mengumpulkan uang, dan lagi aku masih harus bilang pada Elizaveta dan Roderich. Aku bahkan masih belum punya tempat tidur sama sekali." Bumi mendongak ke mata Feli yang senada warna dengan kakaknya. Bedanya… mungkin Feli kelihatan seperti malaikat, dan Lovino seperti seorang gembong mafia Italiano.
"Begitu? Aku akan menyampaikannya pada Ludwig dan Gil." Feli kemudian teringat sesuatu. "Sekarang sudah jam tujuh malam… bagaimana kalau kita ke tempat Ludwig dulu? Dia tadi menelponku, seharusnya dia sudah sampai di rumahnya." Bumi teringat kalau dia juga punya janji pada kedua bersaudara tersebut untuk memasakkan mereka sesuatu dan mengangguk setuju. "Rumah mereka juga cukup dekat disini," Feli tersenyum dan membukakan pintu mobil.
Bumi menaikkan alis melihat kelakuan Feli.
"Seorang gadis harus diperlakukan layaknya seorang gadis. Kan?" Feli tersenyum menawan.
Ganteng. Banget.
Bumi butuh cowok, oi.
[atau belaian cowok doang kali ya]
"Oh." Feli mengeluarkan suara kaget ketika dia membaca message baru. "Sepertinya aka nada tambahan orang, Bumi."
Bumi hanya mengangguk, tidak terlalu terganggu dengan informasi terbaru tersebut. Gil dan Ludwig terlihat seperti sosialita, jadi Bumi yakin mereka punya banyak kenalan. Jalan cukup lengang jam segini, hanya warna biru kelam yang mewarnai langit dan lampur benderang menghiasi jalanan. Karena mereka sedang berada di wilayah kompleks, jelas sekali kalau tidak ada yang berjualan sepanjang jalan. Bumi asyik melihat-lihat sementara Feli bersenandung.
Mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana namun kelihatannya cukup pantas ditempati dua pria lajang kakak-beradik. Feli memencet bel, menunggu, dan kemudian pintu terbuka. Gil, dengan rambut pirang platina-nya yang glorious, yang ternyata menyambut mereka.
"Masuk, masuk." Ucap Gil. "Mana squirt—uooo! Ternyata kau datang, huh?"
Bumi hanya mengalihkan pandangan dan tersenyum canggung;mengingat bahwa sepertinya baru kemarin Gilbert menggodanya. "Tidak usah malu-malu begitu… Feli, masuk, Abel sudah datang."
"Abel?" Bumi membeo.
"Ya. Abel… mungkin kamu tahu? Abel Van Kornwill? Dia teman kami."
Ibu, sepertinya dunia ini kecil sekali, ya.
Ketika Bumi menginjak bagian dalam rumah, suasana terasa hangat dan menyegarkan—mungkin karena wangi aftershave yang menyengat atau bau pizza yang menguar di udara, Bumi merasa mendapat tegangan kuat akan rasa persahabatan yang dahsyat…
"PIZZAAAAA!" Feli tiba-tiba meloncat dan berlari masuk.
Gil hanya memutar bola matanya. "Orang ini kayak mencium bau ganja setiap kali mencium bau pizza. Oh… cie, keduluan masak nih ye?" goda Gil lagi, melihat wajah Bumi yang bengong. "Abel yang membawa Pizza kemari, dan walaupun aku tidak menolak lebih banyak asupan nutrisi dan gizi, Ludwig jelas-jelas melarang lebih banyak makanan untuk masuk ke dalam tubuh, takut obesitas katanya… omong kosong, dia tahu semenakutkan apa metabolisme keluarga Beilschmidt… obesitas… kuberi dia pantat ayam yang obesitas lain kali." Omel Gil.
Sesampainya di ruang keluarga, Bumi langsung merasa terperangah dengan boyish interior di rumah ini. Dipannya terbuat dari hard wood, dan terdapat PlayStation tergeletak begitu saja di depan televisi plasma. Sebuah rak penuh berisi game-game sport tertata rapi di sebelah TV dan karpetnya berwarna biru mentereng. Ludwig sedang mem-vacum cleaner setiap sisi ruangan, dan Abel sedang duduk membaca sebuah buku di sofa. Pizza yang masih beruap ternyata belum disentuh sama sekali, dan ada tiga loyang—pantasan Ludwig menolak lebih banyak makanan, pikir Bumi.
"Ah, Bumi. Kau sudah datang? Pas sekali, kami juga ingin makan malam…" Ludwig tersenyum dan menjabat tangan Bumi. Abel hanya mendongak sekilas dan menunduk lagi—namun kemudian dia mendongak lagi, kali ini lebih lama. "Ah. Halo, Van Kornwill." Ucap Bumi, jelas tidak tahu harus menyapa Abel seperti apa. "Kau… Bumi? Adhiswara?" tanya Abel, mata hijau botelnya mengases Bumi layaknya seorang juri. Bumi mengangguk tegang menunggu ekspresi apa yang akan dibuat Abel… namun Abel ternyata tidak melakukan apapun dan malah kembali membaca buku.
Bumi menghela napas, namun kemudian dia merasa senang karena Abel tidak mengabaikannya, dan malah mengingat namanya.
"Sepertinya Abel cukup tertarik denganmu," ucap Gil keras. "Kelima kali dia bertemu dengan kami berdua, dia tidak repot-repot mengingat nama keluarga kami."
Abel hanya memutar bola mata malas.
Pizza sudah dipotong dan asap hangat mengepul. Feli sudah tidak peduli dengan sekitar dan menggigit nugget yang disediakan, sementara Bumi dan Ludwig membicarakan tentang apartemen yang akan dihuni oleh sang Gadis. Sesekali Gil akan mengikuti pembicaraan, melempar satu-dua komen, memperingati Ludwig, dan kemudian mulai makan. Abel sendiri hanya duduk di atas sofa, tidak bergerak sedikitpun.
"Apa Van Kornwill tidak makan?" tanya Bumi, menggigit pizzanya yang langsung lumer di mulutnya. Bumi menggigit bibir, hendak berteriak enak.
"Dia sehabis ini mau—" perkataan Ludwig dipotong Gil nyeleneh.
"Dia mau doing the do setelah ini, jadi dia pikir dia lebih senang untuk menjaga perutnya agar tetap datar."
"Doing …the do?" Bumi mengerutkan dahi.
"Dia hanya bercanda." Ludwig memelototi sang Kakak memperingati. Feli diam, menonton suasana, namun matanya tidak terbaca.
"Tidak, tunggu—si manis ini yang bercanda. Kau tidak tahu arti dari doing the do? Seriusan?" dan setelah itu Gil tertawa keras, Bumi sepertinya kehilangan elemen humornya, karena Bumi tidak merasa ingin tertawa, "Serius. Apaan itu?"
"It means having sex. With someone. He'll have a hard, long sex." Gil berkata, dan Bumi terbatuk, keselak sosis Frankfurt yang tersedia. Feli menyorongkan gelas air minum kepada Bumi, matanya khawatir. "Kak. Disgusting. Jijik." Protes Ludwig datar. "Kenapa? Anak kecil ini butuh tahu yang sesungguhnya, tahu?" Gil menyeringai. Sebelum Gil bisa mengatakan apapun lagi, suara berat Abel terdengar.
"Terima kasih sudah nyebar fitnah, tapi nggak, aku nggak melakukan apapun dengan siapapun." Abel membantah, duduk di samping Bumi dan minum air putih.
"Oh ya? Partnermu tidak bakalan senang kan kalau melihat perut sixpack-mu yang semulai keras jadi melendung penuh pizza?" Gil masih terus menggoda Abel. Bumi ingin menonjok Gil—selesaikan semua iniiii.
"Satu-satunya yang partnerku dapatkan adalah bogem mentah." Abel berkata datar.
Feli memandang mereka berdua, menyipitkan matanya. Gilbert seakan menyadari hal ini dan kemudian terdiam, namun cengiran bodoh itu masih ada. "Feli… bukankah kau bilang kau harus bertemu dengan atasanmu malam ini?" Ludwig berkata, memandang jam tangannya kasual. "Sekarang sudah jam sembilan."
Wajah Feli yang semula penuh kecurigaan berubah menjadi panik, dan detik berikutnya dia sudah berlari-lari menggigit pizza dan menyambar jaketnya. Di tengah-tengah kepanikan tersebut, dia menyemburkan sesuatu seperti 'terima kasih', 'aku pergi dulu', 'aku titip Bumi'. Dan kemudian pintu terbentur dengan kencang. Bumi melebarkan matanya bingung dengan hal apa yang membuat Feli begitu pucat.
"Nice timing, Fuhrer!" Gil tertawa kencang. Ludwig menyantap pizza-nya syahdu, namun kilat kemenangan yang mirip dengan Gil terpancar dari matanya. Kemudian mata nakal Gil beralih pada Bumi. "Hei, squirt, ini saat yang bagus. Ingat saat aku bilang aku bakalan menunjukkan sesuatu padamu?"
Bumi mengangguk penuh antisipasi.
"Kalau begitu, mau ikut kami malam ini?"
.
.
.
.
.
Nama tempat itu adalah Drop Dread.
Nama yang sangat shady, kalau kau tanya aku—tapi tidak jika kau tanya orang-orang Paris ini. Mereka yang haus darah dan perkelahian yang berujung gendutnya kantong dan dompet akan selalu datang kesini. Bisa dibilang, tempat ini adalah tempat yang pertama kali bakal diciduk Interpol dalam lapangan Perjudian Bawah Tanah. Drop Dread adalah tempat pertarungan ilegal dimana kau bisa bertaruh untuk kemenangan salah satu Petarung. Sama seperti Sabung Ayam, hanya saja kau tidak mematuk, namun meninju. Sampai mati? Mungkin. Entahlah. Bumi tidak pernah masuk ke tempat seperti ini sekalipun seumur hidup.
Sekarang sudah hampir jam dua belas malam, dan Bumi merasa bahwa dia melakukan hal yang salah mengikuti Gil. Dia, Gil, Ludwig dan Abel ternyata menuju ke sebuah tempat yang kelihatannya gelap… dan jelas ilegal.
"Selamat datang di DropDread. Password?" seorang Bouncer yang sangat mengintimidasi berdiri lima inci lebih tinggi dari Bumi. Bouncer-nya tipikal bouncer yang ada di film aksi kelas A; Botak, tinggi, pakai kacamata, dan kelihatannya bisa meniban Bumi sampai mejret. Bumi menelan ludah dan tiba-tiba kepikiran dengan meme terkenal di Tanah Airnya.
Selamat datang di Salty Spitoon. Seberapa gregetnya anda?
Semalam aku mimpi…
Terus?
Mimpinya nggak mejem sama sekali!
Bumi sepertinya sudah gila. Tapi serius, seperti itulah perasaan yang Bumi rasakan sekarang. Apa kira-kira password untuk fight club ilegal macam Drop Dread? Killer? John Cena? Uppercut? Namun semua khayalan terbang keluar jendela ketika Abel berkata dengan tenang,
"Olaf."
Dan setelah itu Bouncer itu membiarkan mereka berlima masuk.
"Olaf. Dari Frozen. Seriously?" ulang Ludwig yang kelihatan geli dan terhina dibiarkan masuk dengan password yang sangat jinak tersebut.
"Hei, terdengar sangat ironis bukan? Ini menunjukkan humor orang-orang Paris setajam pukulan mereka." cengiran Gil menjawab Ludwig. Bumi kemudian merasa tangan kasar menariknya mendekat dan sadar bahwa itu tangan Gil. "Ini pertama kalinya untukmu berada di dalam, jadi jangan terinjak sampai mati!" seru Gil pada Bumi. Bumi merasa Gil, mengesampingkan tindak tanduknya yang seperti celeng mabuk, memiliki wibawa seorang kakak.
Saat masuk ke dalam ruangan yang padat akan manusia, Bumi merasa matanya berubah kosong dan hampa saking syoknya. Sepertinya omongan Gil yang tadi bukanlah main-main apalagi bercandaan. Didalam, suasana sangat panas dan Bumi tidak berbicara soal panasnya udara. Orang-orang yang mungkin memiliki berat dua ratus enam puluh pon bergerak-gerak liar mengelilingi suatu ring kickboxing yang kelihatan reyot sekaligus kuat menahan beban, keringat dan darah selama bertahun-tahun. Pria-pria berbadan buldozer menggila, beberapa di antara mereka terlihat sibuk meneriakkan nama-nama para mantan Jawara tahun lalu dan bahkan seorang wanita naik ke leher pria berotot gajah dan meloncat-loncat penuh gairah, berseru keras.
"Gila!" seru Bumi dalam bahasa Indonesia. Matanya kagum melihat yang ada di sekitarnya. Rasanya adrenalin ikut terpompa ke seluruh tubuhnya. Tertular oleh semangat dan gairah orang-orang di sekelilingnya, Bumi hampir mendekat menuju kerumunan lagi.
"Sini." Ludwig menarik tangan Bumi menjauh dari kerumunan. "Masih belum giliran Abel."
"Abel?" Bumi memandang Abel yang kelihatan tenang-tenang saja. Mata hijau itu menunduk memandang Bumi. "Dia akan naik ke panggung itu? Kau seorang Petinju?" Bumi memandang tubuh Abel yang sama tinggi dengan Ludwig. Mereka berdua pria yang bisa dibilang bertubuh dahsyat dan Bumi bisa membayangkannya di ring kickboxing, memukul lawan dengan liar. Abel juga memiliki guratan putih bekas luka itu di alisnya…
Gilbert nyengir dan mata crimson itu bersinar bandel. "Kamu pikir darimana Abel mendapatkan luka di dahinya? Digigit cewek saat bercinta?"
Wajah Bumi memerah mendengar jawaban eksplisit sang cowok platinum. "Aku benar-benar tidak ingin tahu alasannya jika memang itu alasannya, terima kasih banyak."
"That's disgusting, really." Ludwig mengernyitkan dahi.
"Aku tidak pernah membiarkan seseorang menggigitku saat kami di ranjang." Timpal Abel datar.
"Oh ya? Jadi kau tipe yang menggigit, bukan digigit?" seringai Gilbert.
"Aku tipe yang menjilat luka yang kubuat saat partner seksku sedang lengah." Abel melengkungkan lehernya dengan anggun, matanya terbuka satu namun Bumi yakin Abel memandang Bumi secara intens. "Aku akan menggigitnya sampai dagingnya terkoyak, but I'll make it so pleasurable they'll beg for more."
Bumi merasa lehernya memanas, dan dia menelan ludah. Mungkin ini akibat dari hari yang semakin malam, jadi aura R-18 sudah mulai tercium. Suara degukan ludah itu terdengar nyaring, bahkan di kuping Bumi sendiri.
[atau itu hanya perasaan Bumi saja.]
Mata Abel turun ke leher Bumi yang berkeringat.
[…atau, sekali lagi, itu hanya perasaan Bumi saja.]
Bumi yakin, haqul yakin, ada seringai serigala di wajah Abel sedetik lalu.
[apa yang tadi hanya perasaan Bumi saja…?]
"Oke. Too much information is being shared, man. Aku tidak ingin tahu apa yang bakal kau lakukan pada partner seksmu sampai kau muncrat." Mulut Gilbert mungkin harus disiram air suci dan digosok tanah sebanyak tujuh kali. Begitu banyak hal berdosa yang dia katakan sampai-sampai Bumi tidak ingin mendengar apapun lagi! Ludwig berdeham, jelas sekali berpikiran sama dengan Gilbert, namun cukup sopan untuk tidak mengatakannya dengan bahasa stensil seperti yang dilakukan kakaknya.
"Bukankah sudah waktunya untukmu untuk naik ke atas sana?" tanya Ludwig. "Kami semua datang kesini untuk melihatmu beraksi, bukan?"
"Kau benar." Abel segera pergi ke kerumunan. "Kalian tidak naik ke atas ring?" Tanya Bumi, setelah bisa pulih dari entah hal apa tadi.
"Kami sudah tobat bertahun-tahun lalu. Kami warga sipil yang jinak sekarang." Ucap Gilbert dengan senyum malaikatnya (yang, sayangnya, Bumi yakin tidak malaikat-malaikat amat jika dibandingkan dengan semua hal yang sudah Gilbert lakukan seumur hidup.)
"Kalian juga seorang petarung?" tanya Bumi, kepo.
"Aku, West, Feli, bahkan Lovino." Jawab Gilbert. "Hanya saja kami sudah membuka mata masing-masing dan sadar bahwa menonjoki wajah orang naif saat kami bad mood bukanlah hal yang baik untuk dilakukan. Jadi kami berhenti."
Mata Bumi terbuka lebar. "Feli seorang Petarung?"
"Dan Petarung yang kuat, pula." Ludwig mengangguk, seakan-akan bangga. "Dia hanya kurang percaya diri saja, dia mundur teratur setelah hampir membuat tiga orang babak belur dan diopname selama dua minggu di rumah sakit. Kalau tadi dia tinggal, kami tidak bakalan bisa jalan kesini. Feli tidak suka datang kemari semenjak itu."
"Banci." Gil menggeleng-gelengkan kepala, walau ejekannya lebih terasa hangat dan mengasihi dibandingkan masam, "Bahkan kami sudah pernah mengirim lebih banyak orang ke rumah sakit dalam kurun waktu yang lebih panjang dibandingkan dua minggu. Hai, seksi." Gilbert tersenyum seduktif ketika seorang bunny girl lewat memegang nampan berisi uang yang sangat banyak. "Aku dan temanku disini bertaruh atas nama the Killer."
"Disini kita tidak pakai nama asli. The Killer nama panggung Abel." Bisik Ludwig pada Bumi.
"Halo juga, Tampan. Kau terlihat imut dengan setelan itu." Goda sang bunny girl sambil menggigit bibirnya yang bergincu darah merah. Ludwig menemplokkan tangan ke wajahnya sementara Bumi memejamkan mata, berharap hal ini segera berakhir tanpa ada sentuhan-sentuhan mencurigakan. "Kau suka matematika, baby?"
"Tergantung. Kenapa memang?" si cewek cekikikan.
"Because I would like to add a bed, subtract our clothes, divide your legs… and multiply." Mungkin mata Bumi mengecohnya, tapi Bumi melihat Gil menggigit cuping telinga si gadis. Hueeek. "How 'bout that? Sounds yummy?" Gil berbisik kencang di telinga sang Gadis dan menyelipkan banyak sekali uang di belahan dada sang bunny girl.
"I love math if that was the context then… I can't wait…" dan dengan itu mereka berdua seakan-akan lupa kalau ada Bumi dan Ludwig. Ludwig berusaha untuk tidak meninju wajah kakaknya ketika berkata, "Kak. Sudah mau mulai."
"Benarkah?" Gil melihat ke arah ring dan kemudian berbalik ke bunny girl seksi itu dan membisikkan sesuatu yang membuat gadis itu terkikik kecil dan melambai menggoda sebelum pergi menuju orang-orang lain. Bumi tidak tahu apa yang Gil katakan pada Gadis itu dan Bumi tidak ingin tahu juga. Ludwig sepertinya pergi mencari seseorang, jadi tinggallah Bumi dengan Gil berduaan. Seorang pria dengan topeng mencurigakan naik ke atas ring, lampu menyorot ke arah dirinya. Dia memegang mic dan seakan dia lupa tugas mic adalah mengeraskan suara, dia berteriak, "Selamat datang di Drop Dread, para Babi Liar!" suara menyambut dan menjawab yang antusias datang dari para pengunjung, lelah menunggu dan ingin segera memulai pertunjukan. Musik death metal mengiringi di belakang dan entahlah, Bumi merasa sangat bersemangat. Dia bahkan tidak merasa kesal dipanggil Babi Liar.
"Rule number one: We don't talk about Drop Dread. Rule number two: we never, talk, about,Drop Dread!"suara sang laki-laki terdengar sangat bersemangat, sampai-sampai saliva melayang dari bibirnya yang kering. Mendengar rule number one membuat Bumi teringat film Fight Club. "Oh but who the fuck am I kidding now? This year's tournament is going to break some hell loose everyone's going to fucking spread this shit to some peasants up there!"
Suara teriakan itu menggema, mungkin sampai keluar dari bar. Bumi ikut berteriak bersemangat.
"Sekarang dari sisi kiri, kita bisa lihat pendatang baru dari selatan… Pirate!" suara jeritan memuja terdengar dan mata Bumi melebar. Pria dengan tubuh lithe dan rambut emas yang familiar… mata hijau emerald… dan alis tebal yang branded, milik satu orang saja di dunia ini…!
"Chef!?" seru Bumi, melihat siluet yang sedang bersiap-siap dan bertelanjang dada di atas ring. Arthur kelihatan ganas malam ini. "Whoah… jadi hari ini dia datang. Boleh juga." Gil menaruh tangannya di atas alis, memfokuskan pandangan. "Apa aku harus terkejut lagi nanti, ketika ternyata banyak orang yang kukenal adalah petarung di underground kickboxing?" gumam Bumi sedikit sebal. "Entahlah, squirt, but consider yourself lucky to have this macabre. Arthur tidak ikut tournament setiap harinya dan dia bisa dibilang orang terkenal." Gil meraup popcorn yang dibelinya dari penjaja dengan wajah puas.
"Abel, Arthur… memangnya tidak akan ketahuan? Apalagi sepertinya ini cukup melanggar hukum…" Bumi mengerutkan dahi. "Lagipula tangan seorang chef adalah yang terpenting."
"Arthur… maksudku, Pirate tau apa yang dia inginkan. Dan dia mendapatkannya. Memangnya kamu kira polisi-polisi di atas tidak tahu? Mereka tahu, tapi tempat ini punya orang dalam—pejabat-pejabat tinggi, polisi, Interpol… semuanya bahkan bertaruh disini. Tempat ini punya pelindung. Dan semua pegawainya sangat loyal." Gil memandang Bumi. "Squirt, you're really a mother hen, huh?"
"listen," Bumi mengerutkan dahi. "I've been called worst. I've been starved out, felt up, teased, stalked, threatened… and called Taylor Swift. But never, ever, I've been called squirt in my whole life."
Gil menaikkan alisnya, amused.
"Well you do look like Taylor Swift." Gil membalas. "Only hotter. You go, Glen Coco."
Bumi mangap.
"Tau Gretchen Wieners?" Bumi mengetes.
"Yap. Dan yang tadi fetch banget."
"Please!" Bumi langsung ketawa ngakak. Seorang cowok, tinggi, berotot, mengquote kalimat-kalimat dari film 'Mean Girls'… Bumi Cuma bisa menggeleng-geleng kepala, tidak kuat dengan bebas humor. "Ngapain kau, mengquote Orange is the New Black? Coba kalau aku orang biasa, mungkin aku bakalan sedih banget mendengar kau ditindas sebegitu kejinya."
"Sori, tapi Orange is the New Black itu keren. Aku nggak bisa stop ngequote mereka." Kikik Bumi. Gil sudah ingin menjawab, namun suara yang menggelegar terdengar, membuat mereka memotong konvo konyol mereka tentang chickflick buat anak gadis ababil.
"Anddd on the west we have this man with killing intent…" Cowok MC itu berteriak, fetchily. "theeee KILLEEEERRR!"
Seketika Bumi menjatuhkan rahangnya ke lantai, sementara Gil bertepuk tangan sekeras mungkin, yakin malam ini adalah malam yang sangat… fetch banget.
.
.
.
.
SORRY but I don't have anything against Taylor Swift. I just… I can't stop quotting Orange is the New black, okay :DDD dan siapapun yang tahu references title kita, YOU GO GLEN COCO!
Or we should totally stab Caesar lmfao.
Dan yap, Abel vs Arthur. Cool, huh?
Oh iya, sebenernya aku bingung… waktu aku liat di chara design, Belgium, Nether dan beberapa yg lainnya nggak punya nama ofisial, kan? Jadi aku kasih nama yang mungkin akan dipakai. Banyak nanya siapa itu Anri… itu Belgium. Karena saya cukup suka sama pair SpaBel HAHAHA
Dan buat Seme Idaman, OC-mu belum muat di chap ini ya, muuppphhh :9999
Pojok balesin comen:
Seme idaman : yaaaa JENGJENGEJEEEENGGGG hahaha maaf banget kalo misalnya ngecewain :""" kalo soal request fanfic aku nggak tahu juga nih, jus jambu otakku tidak keluar akhir-akhir ini… :DDD hmmm iya apalah arti gender, LoveWins right? HAHA kalo fs lovibumi mungkin masih cukup lama dimaapkeun yaaa :""DDD AKTING KAMU RUARRR BIASAAAA saya mau pake OC Rifki dan malah udah gambar orangnya kayak gimana, kamu maunya dia jadi love interest atau nggak? yap, tapi menurut aku sama aja sih, soalnya gol aku sekitar 9 halaman lho? Mungkin karena kemarin aksinya kurang kali ya? /Sabil Foster : CUAT-CUATIN DONG. HAHAHA GIL EMANG GITU :ddddd MA-MASOKIS APA AKU INOSEN [[[[DITABOK]]]] HAHAHA OKELAH KALO KAMU MAUNYA GITU UR WISH IS MY COMMAND?/Hanakichi Ajibana : Lo-Lovino emang suka cewek walau rada homo kalo sama Spain :") kalo soal battle, kayaknya masih dihalangin sama filler chapter, jadi maaf kalo rada lama… HAHA KETUBAN DITELEN :""0 ADUH PARAH BANGET AKU KETAWA. Yaa inilah yang mau ditunjukkin sama Gilbert. Okedeeeyyy :")/Anon-Anon : I'M SORRY FOR NOT FULFILLING YOUR DESIRE—EHEM. ENAK BANGET HAHA. Sepertinya anda harus libur juga senpie. :9 SIAPA YANG KENCAN HAHA SAYANGNYA GIL TIDAK JALAN BERDUA SAJA DENGAN BUMI HAHA ;( NAH disini Abel flirting tuh tuh tuh aku bikin demi kakak : ) HAHA SALAM LIBUR JUGA SENPIE~/flyneza : TATAKAAEEEE SUSUMEEEE hahaha xDDD iya itu Gil ngeflirt Bumi! HAHAHA EXCITED SEKALI ANDA. ADUH BUMI SEPERTINYA BANYAK YANG MAU MENYEMEKAN (?) kalo dia cowok tapi :""""""" NGGAK PAPA nggak ada author yang nggak suka review panjang! :DDD h-hah…. Sa-saya tidak tahu harus ngomong apa kalau ada tsundere gini…/kuroi uso : WKWKWK iyaaa sama Belgium! Emangnya Nether nama resminya Will ya? Aku nggak tau :o wkwkwk itu Cuma common sense seorang kritik? Dia pamer doaang wkwkw tujuan cerita ini emang harem :"") maaf kalau bikin anda kecewa :""" SIP LAAA Lovi maunya sama Bumi doaaanggg/gaga : HAY LADY GAGA HAHA. Saya juga senang anda senang. HAHA SELINGKUH. Aku bingung kebagi dua, banyak yang bilang selingkuhin bumi aja tapi banyak yang gaterima kalo Bumi nggaks ama lovi :( NGGAK BUKAN LOVEHOTEL :'''' oke sippp batas fs sampe parah? Sejauh yang saya masih rencanain sih paling eye-fucking sama dirty-talk? Tapi kalo udah chap 25 ke atas mungkin akan lebih… hot? Entahlah xDDD/Misaki younna : HALO SAY. IYA LAAA SAYA SUKA SPABEL AHAHAHAHA Anri itu Belgium kok. NETHER EMANG SUKA MODUSANNN WKWKWK jangan ngiri dong ya ampun :""" ini hadiah paling geje serius :"""
