"Ah—"
Arthur mendesis. Jemari Bumi mencengkram punggungnya begitu lekat, rasanya—rasanya…
"Jangan, Chef," Bumi mendesis. Rasanya sakit sekali—ditusuk seperti ini.
"Dibilang jangan panggil chef," sembur Arthur, tenggorokannya kasar dan iapun menusuk lebih dalam. Bumi menggigit bibirnya, menahan rasa sakit datang. Cairan keluar sedikit demi sedikit—lengket, basah… kotor. "Panggil Arthur."
Arthur memejamkan mata. Rasanya tersiksa sekali sekarang.
"Ka-karpetnya kotor—basah—" Bumi terpatah-patah menyaksikan cairan itu jatuh membasahi lantai berkarpet mahal milik Arthur. Sebodo amat, pikir Arthur. Yang jadi masalah sekarang adalah…
"Ta-tapi…Ja-jarumnya terlalu dalam! Nanahnya sudah keluar semuaaa!" Bumi mengerang panas di telinga Arthur, dan benar saja, jendolan berisi cairan nanah yang terformasi di jemari Bumi sudah kempes semua, cairannya berjatuhan seperti pelumas ke lantai.
Arthur mengerutkan dahi. Ini akan jadi malam yang panjang.
,
,
,
,
,
Like it Hot and Fast (And Yummy)
Kuah Kimchi
Nothing is being reaped unless the satisfaction of being reviewed and grown to be a better writer, then guilt is not as charged!
A/N untuk chap ini full fanservice untuk satu karakter saja, tolong dimaafkan. m(_ _)m
.
.
.
.
.
.
[Tiga jam yang lalu]
Bumi memandang ke flat disekitarnya. Warnanya didominasi oleh warna putih dan biru navy, begitu bersih dan futuristik—sebuah tivo duduk di atas dipan dengan anggun, tv plasma yang sangat besar juga. Ruang tamu langsung terkoneksi ke ruang makan namun dapur terhalangi oleh sebuah dinding kaca sehingga kita bisa tahu apa yang Arthur lakukan jika ia memasak. Tirai besar dan berat menutupi dinding, dan karpet velvet dari bulu mink menggoda sensorik kaki Bumi. Jelas, flat macam ini bukan flat yang Bumi bisa bayar bahkan jika dia bekerja untuk neraka dunia akhirat.
"Duduklah," ucap Arthur. "Lakukan yang kamu suka. Aku mau mandi."
"Tunggu," tolak Bumi. "Sekujur tubuh anda dipenuhi luka."
Arthur memandang tangannya yang memar berwarna merah dan pipinya yang berwarna merah pula. Kakinya juga bukan dalam kondisi yang sangat prima. "Akan merepotkan jika mandi dengan banyak plester di tubuh. Biarkan aku mandi dulu. Lakukan rumah ini seperti rumahmu sendiri."
Bumi tentu tidak bisa mengikuti ucapan Arthur. Bagaimanapun dia hanyalah itik buruk rupa di tengah-tengah white house. Dia tidak bisa berhenti duduk, menggesekkan kaki di karpet yang lembut, dan berusaha untuk tidak menyentuh pigura dari kristal di dinding. Semuanya terlihat eksklusif. Bendera Inggris terpampang dengan bangganya di dinding, mengingatkan Bumi bahwa Arthur datang dari Negara Ratu Victoria sana. Bumi membelalak melihat banyaknya foto-foto Arthur dengan orang-orang penting—Gordon Ramsay, Benedict Cumberbatch(!), dan bahkan ada foto Arthur tersenyum lebar dengan Pangeran William dan Kate Middletone!
"Dahsyat," ucap Bumi tanpa sadar. Matanya mengarungi foto-foto yang tersusun apik tersebut dan berhenti ketika dia melihat satu foto yang terpencil sekali, di taruh di belakang tirai, berdebu—yang membuat mata Bumi melebar tidak percaya. Arthur kecil, berdiri dengan wajah sok segan, matanya memandang ke segala arah. Alisnya yang tebal berkeriut, namun tidak dapat dipungkiri bahwa wajah itu adalah wajah yang pria dewasa dengan senyum yang familiar, sangat familiar, membuat mata Bumi terpana…
Ayahnya.
Foto itu sudah sangat berdebu, namun Bumi tidak memikirkan apapun selain menggoreskan jemarinya di atas gambar ayahnya yang tersenyum lebar merangkul Arthur. Rasanya sudah sangat lama semenjak Bumi melihat wajah yang begitu mengasihi. Rasanya sudah sangat lama semenjak Bumi menyentuh wajah itu, wajah berkulit sawo yang tegas namun juga lembut.
"Ayah," bisik Bumi, tersenyum. "Halo."
Bumi tidak menyimpan foto ayahnya, satupun. Walaupun Ibunya diam-diam menyelipkan foto kenangan di dompet Bumi, Bumi mengeluarkannya lagi. Walaupun Dara berusaha untuk mengirim semua foto tawa dan bahagia sang Ayah dengan keluarga, Bumi tetap bersikukuh. Tidak ada yang tahu betapa dekatnya sang Ayah dengan Bumi. Jadi bukankah natural untuk Bumi menyimpan foto Ayahnya?
Tidak. Tidak bisa begitu. Karena, yang ada di kepala Bumi saat melihat foto Ayahnya yang keras dalam waktu adalah apa yang akan terjadi jika sang Ayah tidak tiada.
Keriput apa dan dimana yang akan terjadi di wajah ayahnya. Banyakkah uban yang muncul di rambut ayahnya? Apakah giginya akan ompong seiring berjalannya waktu? Apakah kulitnya akan menua? Apakah dia akan terlihat ringkih? Mungkinkah tinggi Bumi melewati sang Ayah? Kuruskah ayahnya? Gemukkah badannya? Apa dia akan sering memakai topi berwarna pasir yang dulu dia gunakan untuk bepergian? Apakah dia masih memasak?
Apakah senyum itu akan tetap seperti yang dulu, tidak akan berhenti untuk tersenyum?
Namun saat melihat senyumnya yang awet muda, abadi, terpotret oleh kamera, tidak akan berubah, tetap konstan…
Ah, Bumi kangen.
Bumi,
Kangen Ayah.
Mata Bumi berkaca-kaca, dan sebelum air bah itu datang, dia segera menaruhnya di belakang tirai lagi. Tidak ingin menanyakan pada Arthur bagaimana dia mengenal Ayahnya. Karena, kenyataan bahwa Bumi merupakan keturunan Prasetyo bukanlah hal umum.
Sekangen apapun Bumi.
"Sedang apa?"
Bumi segera berbalik dan melihat Arthur yang fresh—rambutnya yang berwarna emas basah dan wajahnya terlihat segar. Bumi hanya menggeleng dan tersenyum kecil, berusaha menutupi matanya yang bergetar. Arthur hanya diam ketika Bumi melewatinya dan berkata, "Flat milik Anda terlihat sangat bagus. Saya terkesan sekali, sangat rapih dan indah. Saya harap saya bisa punya flat sebagus ini…" Bumi memandang ke sekeliling sebelum dia melihat Arthur melemparkan handuk berwarna putih secara tiba-tiba padanya.
"Mandilah, kau pasti diboyong ke Drop Dread tiba-tiba, kan?" tebak Arthur.
Bumi hanya mengangguk dalam diam. Menghela napas dan segera berdiri, dan segera menuju kamar mandi. "Cepatlah mandi," ucap Arthur. "Karena aku akan mengajarimu sesuatu."
Bumi berpikir apa yang akan diajarkan Arthur padanya.
.
.
.
.
Ketika Bumi selesai melakukan ritualnya yang tidak memakan waktu sejam penuh, Bumi melihat secarik kertas terbaring di atas konter bebas-lemak dan Arthur menyuruhnya datang mendekat. Bumi mengangguk, rambutnya masih basah sepenuhnya. Bumi meringis kecil memegang jarinya yang tadi terkena uap panas dari generator. Di dalam pemandian Arthur ada semacam mesin yang berfungsi untuk mengeluarkan uap panas selama tiga menit sekali, dan Bumi tidak tahu kenapa, namun Mesin itu juga menghasilkan uap panas yang panas sekali. Bumi tidak sengaja terkena dan sekarang, tangannya perih.
"Nama pengantin prianya Antonio Carriedo dan aku cukup dekat dengannya." Ucap Arthur. Tangannya mengetuk tulisan kasar di atas kertas.
"Tunggu. Wajah anda." Interupsi Bumi. "masih babak belur."
Arthur terlihat jengkel. "Kau manajerku? Kenapa kau begitu peduli dengan wajahku. Lupakan itu, kita harus membicarakan hal yang lebih penting."
Bumi manyun tapi tidak dapat membantah.
"Seorang matador kelas atas dan dia juga masih muda. Sangat suka hal liar dan punya banyak sekali teman. Ini," Arthur melirik kertas di atas konter, "Adalah spesifikasi makanan yang dia minta. Sebenarnya jika dia mau, dia bisa saja meminta pihak WO untuk mengurus semua catering-nya, namun dia sepertinya ingin bermain dengan kita. Dia punya banyak kenalan dalam dunia kuliner."
Bumi menatap kertas di depannya dengan penuh minat. "Fluffy, mudah dimakan, enak tapi bukan fusion dish, terlihat asing namun sebenarnya enak saat dimakan… kenapa tidak boleh fusion dish?" tanya Bumi bingung. Arthur menaikkan bahu. "Antonio hanya ingin membuat Lovino kesulitan. Lovino ekpertnya di bidang fusion dish. Jadi," Arthur menatap Bumi tajam, "Apa keahlianmu?"
Bumi memandang Arthur nervous.
"Razak mungkin lebih muda dibandingkan dirimu, tapi dia sudah keliling dunia berkali-kali karena kejeniusannya. Dia bisa merasakan masakannya dengan ujung jarinya saja. Di umur delapan tahun memenangkan penghargaan Master Chef dan memenangakan penghargaan memasak Internasional Junior selama lima tahun berturut-turut. Sementara kau… yah, hanya kau." Entah kenapa hal itu menohok Bumi tepat di dada. Arthur memandang Bumi datar. "Kau harus punya sesuatu. Sesuatu untuk menyandung lawanmu, dan itu harus sesuatu yang kuat. Kau tidak bisa melakukan sesuatu setengah-setengah atau semuanya akan berbalik padamu." Arthur berkata. "Tapi kamu punya satu keuntungan. Tema."
"Tema?" Bumi menurunkan pandangan sebelum akhirnya teringat dengan tema yang akan dilangserkan di hari H. "Itu akan sangat menguntungkan untukmu. Dan simplisitas. Semakin simpel, maka akan semakin mudahlah kamu memenangkan fighting event kali ini." Ucap Arthur. "Carilah sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuat kamu mudah untuk memenangkan fighting event kali ini."
Bumi menggigit bibir. Berbagai macam pikiran berkecamuk dalam kepalanya. Apakah dia bisa melakukan ini?
"Dan terakhir…" Arthur mengetuk kepalanya. "Jangan stres. Lakukan sebisamu, tapi ingat… kamu melakukan ini karena kamu ingin. Karena kamu suka memasak."
"Kenapa anda melakukan ini?" tanya Bumi kemudian tanpa tedeng aling-aling. Matanya mencari-cari dalam mata Arthur yang berwarna emerald. "Kenapa anda baik sekali kepada saya? Anda bisa membantu Razak yang memiliki potensi menang dari saya. Tapi kenapa saya? Selama ini pun…" Bumi tidak melanjutkan kata-katanya namun mereka berdua tahu—anda selalu membantu saya.
Suasana hening. Hanya terdengar suara air conditioner dan suara napas mereka berdua dalam ruangan. Tangan Arthur tiba-tiba membelai satu helai rambut Bumi yang masih meneteskan air. Bumi mengejang terkejut. "Tidak…" ucap Arthur, matanya terdistraksi oleh warna kelam milik rambut Bumi. " Aku pikir ini hal yang pantas untuk dilakukan…"
Dan dengan itu Arthur memejamkan mata, tangannya mematung di sebelah pipi Bumi dan wajahnya berkeriut, seakan-akan tengah melawan monster gadungan dibelakang matanya dan dengan gerakan cepat ia berjalan menuju konter dapur. Meninggalkan Bumi terbengong bingung.
"Kenapa aku melakukan ini, adalah urusanku. Oke? Sekarang, ayo kita makan malam." Ucap Arthur kemudian. Bumi mengerjapkan mata, merasa sangat senang karena bisa mendapat pelajaran dari Arthur, seorang world-class chef. Walau rasa penasaran itu tetap ada, Bumi memilih untuk mengabaikannya. Yang ada di kepala Bumi sekarang adalah, kenyataan bahwa Arthur akan membuatkannya masakan!
"Haruskah saya membantu?" tanya Bumi pada Arthur, yang dijawab dengan gelengan. "Sekarang kamu adalah tamuku," ucap Arthur. "Saat di dapur, kamu mungkin anak buah, tapi sekarang keadaan kita adalah tamu dan tuan rumah. Kamu boleh duduk disana."
Dan Bumi duduk di belakang konter, memandangi Arthur yang memasak. Mata Bumi lapar mengikuti gerakan Arthur. Ada perkataan bahwa jika anda ingin menjadi seorang chef handal, curilah trik-trik dari chef yang dahulu anda ikuti, karena tidak semua chef begitu baik mengajarkan semua ilmu dan trik kepada trainee baru. Bumi menyalin semua info-info baru dalam kepalanya—kenyataan bahwa Arthur lebih suka menggunakan jamur shiitake dibandingkan jamur merang biasa, dan bahwa dia memakai tomat ceri segar dan bukannya tomat ceri yang ditaruh di dalam kulkas.
Arthur mengocok telur dengan sangat rapi, pikir Bumi. Bumi melihat pergerakan Arthur yang memasukan keju parmesan dan butter ke dalam panci bersama dengan telur yang sudah berwarna kuning menyala, menaruhnya di atas api simmer, mengaduknya, dan mengangkatnya menjauh berkali-kali. Hal itu mengakibatkan telur yang gooey dan terlihat menantang, apalagi ketika disajikan dengan roti bagel. Arthur melakukannya dengan sangat efisien sekali. Platingnya juga sangat sempurna, pikir Bumi sambil ngiler menatap tatanan tomat ceri, bagel, omelette dan jamur-jamuran di atas piring.
"Omelette biasanya digoreng dengan api kecil di atas kompor, kan?" tanya Bumi, tak kuasa membendung rasa ingin tahunya. "Anda melakukannya dengan cara yang berbeda."
"Aku melakukannya karena aku orang Inggris." Ucap Arthur, melepas apronnya. "Brits like their eggs creamy. Aku menghindari pemakaian minyak berlebih, karena aku tak suka lemak yang tidak perlu." Jelas Arthur.
"Bukankah akan lebih creamier jika anda menggunakan blue cheese?" tanya Bumi. "Aftertaste blue cheese tidak sekuat parmesan. Tapi idemu bagus juga untuk orang yang tidak suka dengan rasa yang overwhelming." Arthur mengambil piring Bumi dan Arthur ke ruang tengah.
"Akan lebih baik lagi kalau misalnya aku punya saus tomat. Tapi aku tak punya, jadi sebagai gantinya, aku memakai tomat ceri." Arthur tersenyum. Bumi terkekeh kecil dengan candaan tak lucu chef dan mulai melahap omelette yang dibuat oleh Arthur. Bumi langsung menutup mata dan menggigit bibir, tubuhnya merinding! Rasanya omelette itu memakan seluruh pancaindera Bumi dan Bumi menyukainya. Benar-benar enak! Bumi menggigit bibir dan mengerang kecil ketika omelette menyebar di permukaan lidahnya. Sungguh luar biasa! Masakan chef kelas satu memang dahsyat, pikir Bumi. Bumi membuka mata ketika dia merasa pandangan Arthur begitu intens menusuknya.
"Kau tahu," Arthur menghela napasnya yang [anehnya] gemetaran, "Tidakkah seorangpun berkata padamu kalau caramu makan… begitu aneh?"
Bumi mengerutkan dahi.
"Apa maksud anda?"
Arthur tidak menjawab dengan segera karena matanya tertuju ke arah lidah Bumi yang membersihkan bibir bagian bawahnya sebelum menyapu bagian samping mulut. "Maksudku… kau terlihat…" Arthur kebingungan mencari kata-kata, dan pada akhirnya menyerah. "…Apa kau sering makan dengan orang lain?" tanya Arthur akhirnya, menterminasikan keinginannya mengatakan hal yang membuatnya begitu risau.
"Tidak terlalu," Bumi mengingat-ingat terakhir kali dia makan dengan orang lain. Elizaveta mungkin? Makan siangpun Bumi lalui sendiri, atau bahkan dia hampir tak makan selama satu hari… tak heran Bumi mungkin turun sebanyak beberapa kilo semenjak sampai di Paris. Mendengar jawaban Bumi, wajah Arthur merileks. Bumi hanya menaikkan alis dan melanjutkan makannya. Arthur tidak berkomentar lebih jauh—hanya saja matanya hampir jatuh ketika Bumi menggigit bibir dan mengerang sekali lagi akibat senses overload.
Bumi kembali memikirkan apa yang Arthur beritahukan padanya.
Carriedo… seorang Matador. Hmm… Apa yang dia sukai? Bagaimana konsep wedding-nya? Apakah dia mempunya alergi? Apakah dia menyukai full course? Tidak… fighting event kali ini tidak full course. Siapa saja tamu-nya? Apakah kebanyakan orang luar atau orang Perancis? Bumi menggigit bagel -nya lagi dan menghela napas. Dia masih terlalu awam untuk melakukan sesuatu yang sulit serta complicated.
Fluffy… tidak biasa… umami…
Umami.
Mata Bumi membuka lebar namun kemudian dia mengerutkan dahi. Bahan makanan itu tidak akan menggambarkan Perancis. Namun…
"Benarkah aku tidak boleh membuat fusion dish?" tanya Bumi pada Arthur meminta konfirmasi lebih lanjut.
Arthur memandang Bumi. "Kenapa? Apa kamu ingin membuat fusion dish?" Arthur menyipitkan mata. "Memangnya kamu bisa membuat fushion dish?"
Bumi menyeringai kecil. "Saya dari kecil suka bereksperimen."
Arthur berpikir. "Mungkin… tidak apa-apa, pakai saja. Antonio memakan apapun yang dia lihat, dia hanya ingin membuat Lovino sebal. Dan Anri, dia tipe yang sama dengan Antonio, malah seorang pecinta kuliner yang lebih berat. Lakukanlah idemu."
Bumi tersenyum kecil sebelum akhirnya melahap sisa omelette-nya ketika tiba-tiba tangannya terasa perih lagi. Arthur menyadari rintihan kesakitan Bumi. "Apa yang terjadi?" tanya Arthur ingin tahu ke tangan Bumi. Bumi menggeleng. Pasti karena uap panas tadi. "Bukan apa-apa." Bumi segera melahap makan malamnya lagi sampai bersih kemudian mencuci piring tanpa harus disuruh.
"Kau mirip seseorang yang kukenal." Ucap Arthur, matanya memandang Bumi dengan begitu dalam. Punggung Bumi yang kecil bergerak perlahan karena mencuci piring. "Benarkah? Siapa itu?" tanya Bumi.
"Seseorang yang kukenal sejak dulu. Seseorang yang melakukan segalanya sendiri, bahkan tanpa harus disuruh." Arthur menutup matanya. Bumi mengira ada seseorang muncul di kepalanya kali ini. "Dia orang yang sangat kukagumi. Alasanku masuk ke dunia masak."
"Orang itu pasti sangat berpengaruh," tebak Bumi.
Arthur terkekeh namun tidak menjawab. "Mungkin. Entah. Untukku dia hanya pria berkumis yang suka tertawa-tawa sendiri tanpa alasan. Apa kau tahu? Kesukaannya adalah mencuci piring sehabis makan, seperti dirimu." Tangan Bumi berhenti mengelap sisa sabun di atas piring. "Dia pria yang bersih dan disiplin. Bahkan kepada anaknya yang berumur enam tahun, dia menyuruh mereka membersihkan sisa makanan mereka yang berjatuhan di meja sendiri."
Tangan Bumi bergetar.
Bumi tahu.
Bumi sangat tahu siapa pria yang dideskripsikan Arthur.
"…Dia juga sangat suka anaknya. Ada dua." Arthur melanjutkan.
Bumi menggigit bibir sebelum merespon, "Benarkah? Itu hal yang bagus."
Namun itu bukan hal yang bagus. Malam ini lubang ingatan dalam hati Bumi menganga sangat lebar.
"Waktunya tidur." Ucap Arthur melihat jam dinding. "Ayo. Kuantar ke ruang tidur."
"Tunggu." Bumi menatap Arthur. "Dimana anda akan tidur?"
Arthur menatapnya tanpa ekspresi. "Aku hanya punya satu kamar. Ayo."
Bumi hanya tersenyum dengan sedikit nervous. Inilah yang dia maksud dengan melanggar seribu kode etik ketimuran dan pancasila Indonesia. "Saya tidur di ruang tamu saja."
Arthur memandangnya datar. "Apakah aku kelihatan akan menyetujui hal itu? Ikut aku."
"Tapi saya—"
"Ikut."
Bumi hanya menghela napas merasa terkalahkan ketika Arthur membimbingnya ke ruang tidur. Ruangan itu kelihatan sangat fantastik—ruangan besar remang-remang seperti di sebuah kamar hotel. TV plasma embedded, sofa berbentuk S yang kelihatannya mahal—ini bahkan kelihatan lebih gila dari ruang tamunya, pikir Bumi. Bumi tidak tahu harus apa. Apalagi ketika melihat Arthur membawa sebuah aid kit dan duduk di atas tempat tidur.
"Sini." Ucap Arthur memanggil Bumi, "Lihat tanganmu."
Bumi menengok ke tangannya dan mendapati gumpalan nanah terbentuk di tempat dia terkena generator tadi. Disekitar gumpalan berwarna merah daging tersebut, warna cokelat "Nanah mengumpul di satu tempat ketika kulitmu terbakar. Aku sering mengalami hal ini ketika sedang memasak fricasse poullete. Karena butuh suhu tinggi, kadang kau tak sengaja membuka panci dan uap tekanan tinggi langsung menyerang kulitmu."
"Biar saja, aku tidak merasa kesakitan atau apa, kok. Tenang saja," ucap Bumi sungkan. Seorang seleb mengobati luka nanah biasa? Sungguh aneh. Tapi tatapan Arthur begitu keras kepala dan Bumi tidak dapat berkata apa-apa, jadi dia menyerahkan tangannya pada Arthur tanpa banyak bacot.
"Oh My—that hurts!" gumam Bumi ketika jarum yang sudah disterilkan dan dipanaskan ditusukkan ke bola nanahnya. "Tunggu," ucap Arthur dengan segala kesabaran yang ada. Bumi terus menerus mengerang sedari tadi, dan hal itu benar-benar membuatnya… terdistraksi. Fast forward, Bumi benar-benar membuat Arthur salah paham dengan bullshitnya.
"Aku bukannya mau menjamahmu atau apa, kau bisa berhenti mengerang-erang seperti itu." Arthur menghela napas setelah seluruh cairan menyusut. Bumi berhenti mengerang, namun rasa sakit masih ada sehingga dia meniup-niup jarinya. Arthur mengerutkan dahi dan menarik tangan Bumi, "Jangan ditiup, nanti jadi tidak steril…"
Bruk.
Tiba-tiba terdengar suara barang jatuh dari belakang Arthur, lalu terdapat apel menggelinding. Bumi dan Arthur berbalik untuk melihat seorang pria berkulit sawo, dan wajah merah terlihatmenutup matanya yang berwarna hijau olive.
"Ka-kalian bisa lanjut, kok." Ucap pria itu, tergagap. "S-sungguh, aku kesini bukan mau ganggu. Hm, aku tutup mataku, kok. Dan aku nggak akan ganggu, oke? Kalian lanjut aja. Selamat malam!" si cowok langsung ngacir ke kamar terdekat, membuat Arthur dan Bum melongo, tertinggal dalam bisu dan terjebak dalam kesalahpahaman.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Siapakah cowok itu?
DAN YAY UNTUK KOMEN KE 200! Saya sebenernya bikinbid buat diri sendiri, setiap kali komen mencapai digit baru, saya akan update. DAN BENER, PEMIRSA. AKHIRNYA DIGIT BARU TERCAPAI!
Untuk pojok-balesin-komen, saya mau postpone dulu. Besok saya edit lagi, karena sumpah, saya ngantuk banget. Doakan saya ya. Uts nih.
;_;
