Ruang makan sekaligus ruang keluarga itu tampak senyap, tanpa ada pembicaraan sama sekali. Baekhyun tidak selera menyendok makanannya. Padahal, hari ini Bibi Taehee membuat sushi, makanan favorit Baekhyun. Lampu neon 15 watt yang remang-remang menambah suasana kesunyian di ruangan itu.

Paman Joo Won, pamannya Baekhyun tampak gelisah melihat sikap Baekhyun. Memang ketika dia pulang kerja, isterinya sudah menceritakan kejadian tadi siang dengan lengkap. Tentu saja paman terkejut setengah mati. Dan dia tahu saat ini keponakannya masih shock dengan hal tersebut.

"Hyun-ie, kenapa sushinya tidak dimakan? Itu kan makanan kesukaanmu. Lihat Bibimu, dia sengaja membuat itu. Ayo dimakan," ujar Paman berusaha mencairkan susana muram tersebut.

"Iya, Hyun-ie. Biasanya jika ada sushi, kau pasti akan memakan habis semuanya, kan?" timpal Bibinya. Baekhyun menggeleng, masih tertunduk sambil memainkan sendoknya. Bunyi denting terdengar begitu nyaring. Paman dan bibi tampak gelisah memperhatikan tingkah Baekhyun.

Paman menghela napas panjang, "Paman mengerti kenapa kau jadi seperti ini. Memang paman tidak tahu detail kejadiannya. Tapi besok kita datangi pengacara itu dan menanyakannya lebih jelas, bagaimana? Mungkin ada yang bisa kita lakukan," ujar Paman membesarkan hati Baekhyun.

Baekhyun mendongak memandang pamannya. "Tapi Paman, memangnya masih ada yang bisa kita lakukan?" tanya Baekhyun pesimis.

"Ya, Paman tidak bisa menjajikan banyak hal. Tapi mudah-mudahan masalahnya bisa lebih jelas lagi. Paman juga masih penasaran tentang surat perjanjian itu."

Baekhyun tersenyum sedih. Percuma, semua sudah terjadi. Kalau ada yang bisa dia lakukan, itu adalah mematuhi perjanjian konyol tersebut untuk menghindari masalah yang akan melibatkan Paman dan Bibinya.

.

.

.

.

.

MY SILLY ENGAGEMENT

Cast: Byun Baekhyun, Oh Sehun, Park Chanyeol

Genre: Romance

Rate: T

WARN!: Remake from novel "My Silly Engagement" by Dewi Sartika

.

.

.

.

.

Baekhyun bangun pagi seperti biasa. Dengan sepedanya, dia berangkat ke sekolah, bertemu dengan teman-temannya, dan belajar seperti biasa. Hari itu benar-benar menjadi hari yang biasa saja buatnya, seperti hari kemarin-kemarin, walau sebenarnya Baekhyun menyadari hari-harinya akan berubah. Awan mendung yang tidak terkira berapa lama akan bergelayut di dalam hidupnya.

Kini pria mungil itu duduk bertopang dagu di kelasnya. Sengaja Baekhyun milih tempat di pojok agar ia bisa sendirian. Tapi justru kelakuan Baekhyun yang aneh bin ajaib itu menarik perhatian Jongdae, sahabat karibnya. Penasaran, Jongdae pun menghampiri Baekhyun dan langsung bersuara.

"Baek, tumben tidak ke kantin? Tidak ada uang ya? Bagaimana kalau aku yang traktir?" bujuk Jondae.

"Malas." jawab Baekhyun sekenanya.

Jongdae segera menarik bangku dan menyeretnya ke dekat tempat Baekhyun duduk.

"Kuperhatikan sedari tadi kau murung terus. Ada apa?" tanya Jongdae penasaran.

Baekhyun masih cuek, lalu berkilah. "Tidak ada apa-apa, Jong!"

"Bohong! Hei Baek, kita sudah berteman sejak SMP. Aku tahu sekali kalau kau begini pasti ada masalah yang cukup serius kan?" tebak Jongdae. Ding-dong, tepat!

Tapi lagi-lagi Baekhyun menggeleng, menghindar. "Tidak ada, Jong," ujarnya meyakinkan walau nada suaranya jelas berkata sebaliknya.

Jongdae tertawa, lalu ditatapnya wajah Baekhyun lebih serius. "Aku tidak suka membahas ini. Tapi Baek, kau sama sekali tidak pintar berbohong." Jongdae menunjuk alis sebelah kiri Baekhyun, "kalau kau berbohong, alis kirimu bergerak-gerak."

Baekhyun kaget. Diraba alisnya. Wajahnya pun semakin bertambah pucat. Baekhyun tertunduk dan merasa alisnya semakin berkedut dan Baekhyun sadar, dia memang berbohong.

"Kenapa? Kau takut untuk bercerita?" bujuk Jongdae yang masih belum menyerah. Akhirnya Baekhyun mengangguk lemah. Jongdae tersenyum dan langsung menepuk pundak Baekhyun dengan lembut. "Kau tidak percaya pada Mr. Jongdae ini?" tanya Jongdae yang disambut gelengan kepala Baekhyun. "Kalau begitu kau bisa bercerita, daripada menanggungnya sendiri. Nanti kau bisa cepat tua Baek," canda Jongdae.

Baekhyun tersenyum masam. Dengan suara yang hampir berbisik, diceritakannya kejadian kemarin hingga tuntas. Semua itu kelaur dengan lancar dari mulutnya. Semuanya, bahkan, perasaannya yang jadi risau karena kejadian tersebut juga tidak lupa diceritakan.

"Selama ini aku tidak percaya pada ramalan, apalagi ramalan mimpi. Tapi jika mengingat kejadian kemarin dan apa yang dikatakan Himchan, sepertinya aku terkena kutukan, Jong,"

"Kutukan? Kau percaya hal seperti itu, Baek? Hei, itu hanya kebetulan. Kebetulan waktu kau bermimpi dan besoknya ada masalah seperti itu. Hanya itu!" ujar Jongdae tegas.

Seandainya bukan kutukan, lalu yang kemarin apa? Baekhyun bertanya di dalam hatinya, tapi urung mengatakan pada Jongdae. Pikiran Baekhyun masih tetap campur aduk seperti semula, tapiagak lega karena sudah bercerita pada seseorang.

"Aku setuju kalau itu perjanjian terkonyol yang pernah ada di permukaan bumi ini. Tapi kau harusnya bersyukur, Baek! Jarang-jarang ada orang yang tidak perlu bersusah payah lagi untuk mendapatkan jodoh," celutuk Jongdae.

"Hah! Yang benar saja. Dengar, ya kotak, aku saja bahkan tidak tahu wajah orang yang dijodohkan denganku, belum lagi sifatnya. Siapa tahu dia memiliki kelainan, seperti maniak atau yang lainnya. Aishh, memikirkannya saja sudah membuatku mual dan takut!" Baekhyun meringis ketika mengucapkan itu. "Dan lagi aku masih muda. Kenapa setelah lulus aku harus menikah? Aku ingin kuliah, lalu bekerja. Kalau bisa bertemu seseorang yang membuatku jatuh cinta, nah kalau begitu baru bisa menikah. Bukan seperti ini…," urai Baekhyun panjang lebar.

Mendengar penuturan Baekhyun, Jongdae tercenung, "Kau ini bener-bener kolot ya!"

"Tentu saja!" Baekhyun jadi sewot sendiri.

"Tapi…benar juga. Memang tidak seru sehabis lulus sekolah langsung menikah," komentar Jongdae.

"Ya dan sekarang cita-citaku kandas di tengah jalan karena perjanjian paling idiot yang pernah aku dengar!" Baekhyun terduduk lemas. Matanya sudah mulai berair. Aih, inikah jalan hidupnya?

"Tapi Baek, mungkin ayahmu punya alasan sendiri ketika membuat perjanjian itu," tambah Jongdae sambil menatap Baekhyun.

"Iya, tapi apa?"

"Tidak tahu. Bukannya pengacara itu bilang yang tahu alasan itu hanya Tuan Park? calon mertuamu itu, tanyakan padanya! Mungkin kau bisa tahu jawaban dari semua ini," usul Jongdae.

Hei, benar! Baekhyun merasa bodoh sendiri. Kenapa itu tidak pernah terpikirkan di otaknya ya?

"Benar juga, aigoo terimakasih atas sarannya, Jong. Paman berniat untuk menghubungi pengacara itu. Nanti saat pulang sekolah aku akan ikut paman, sekalian bertanya alamat Tuan Park."

"Kalau begitu nanti kita pulang bersama, ya Baek?" ajak Jongdae. Baekhyun mengganguk.

Kringgg…

Bel istirahat pun berbunyi. Teman-teman Baekhyun pun berhamburan masuk ke dalam kelas.


Pengacara Shim menyambut kedua tamunya dengan ramah. Setelah bersalaman dan saling memperkenalkan diri, Paman Joo Won menjelaskan tujuan kedatangannya.

"Tuan Shim, waktu isteri saya bercerita tentang kedatangan anda kerumah, saya sangat terkejut. Saya sebagai wali Baekhyun tentu ingin juga mendapat penjelasan yang sejelas-jelasnya."

"Saya mengerti. Saya akan memperlihatkan surat perjanjian yang telah dibuat ayah Tuan Muda Bekhyun dan Tuan Park 16 tahun yang lalu. Anda bisa mempelajarinya."

Pengacara Shim menyerahkan sebuah map yang tampak rapi pada Paman Joo Won. Baekhyun ikut-ikutan melihat surat itu dengan hati yang setengah berdebar.

"Kemarin saya telah mendatangi rumah keluarga Park. Dan pihak mereka juga telah setuju. Anda bisa melihat surat persetujuan yang telah ditandatangani oleh Tuan Muda Park Chanyeol sendiri. Itu ada pada lembar keempat," Paman Joo Won segera membuka lembar keempat.

Memang di lembar itu tertera surat persetujuan yang ditandatangani Park Chanyeol untuk mematuhi semua perjanjian yang telah disepakati. Dada Baekhyun terasa sakit. Ya Tuhan, kukira kejadian kemarin hanya mimpi. Ternyata mimpi itu terus berlanjut!

"Tapi, perjanjian ini konyol saya rasa," kata Paman Joo Won sambil menyerahkan berkas tersebut pada pengacara Shim.

"Yah, konyol memang. Saya sendiri sebenarnya merasa aneh. Tapi Tuan Kim, perjanjian ini sah secara hukum dan saya dipercaya untuk menjaga dan menjamin perjanjian ini berjalan dengan baik. Ini tugas saya. Walau terlihat konyol, tapi ini nyata."

"Lalu bagaimana dengan keponakan saya?! Apa dia memang harus mematuhi hal ini?"

"Itu harus dan dia sudah menyetujuinya, kecuali anda ingin membatalkannya dan membayar denda. Apa anda mau?"

Paman Joo Won salah tingkah. Itu tentu tidak mungkin! Untuk hidup saja sudah pas-pasan. Paman Joo Won mengalihkan pandangan matanya pada Baekhyun. Hatinya iba melihat wajah Baekhyun yang murung.

"Saya rasa anda memang tidak mau, bukan?" ujar pengacara itu setelah melihat sikap Paman Joo Won yang berubah diam. "Keluarga Park pun tidak mau membayar denda tersebut. Jadi perjanjian ini akan berjalan sebagaimana mestinya. Nah Tuan Muda, bagaimana?" pengacara itu kini mengalihkan pertanyaan pada Baekhyun.

Baekhyun tertunduk, lesu. "Saya tidak bisa apa-apa selain menyetujuinya, bukan?" gumam Baekhyun lirih. "Tapi, saya punya permintaan. Bolehkah?" pinta Baekhyun setengah takut-takut.

"Silahkan," jawab pengacara Shim dengan tersenyum.

"Saya ingin bertemu dengan Tuan Park, ada hal yang ingin saya tanyakan padanya," urai Baekhyun.

"Wah, kebetulan sekali. Tuan Park juga meminta saya untuk menyampaikan keinginannya agar anda pindah dan tinggal di rumahnya. Anda bisa bertanya apa saja yang anda inginkan apabila anda telah pindah ke sana."

"Apa?" Baekhyun mengangkat kepalanya dan matanya yang besar membulat terkejut.

"Kenapa bisa begitu?" Paman Joo Won ikut bertanya.

"Itu hanyalah sebuah penawaran yang diberikan oleh Tuan Park pada Tuan Muda Baekhyun. Tuan Park juga menawari untuk membiayai sekolah. Tapi syaratnya Tuan Muda Baekhyun diminta pindah ke rumah keluarga Park."

"Kenapa harus begitu?" Baekhyun bertanya setengah emosi.

"Tuan Muda, Tuan Park hanya ingin memberikan kehidupan yang lebih baik. Dia sangat peduli padamu," jelas pengacara tersebut dengan sikap tenang dan berwibawa.

"Memang kehidupan saya sekarang tidak lebih baik? Saya punya Paman dan Bibi yang selalu menyayangi saya. Apa itu tidak hebat?" Baekhyun masih terbawa emosi.

"Tuan Muda, tenanglah. Sebagai informasi untuk anda berdua, keluarga Park adalah salah satu keluarga kaya yang cukup terpandang. Mereka memiliki bisnis perhotelan yang cukup besar. Tuan Park berharap calon menantu anaknya adalah seorang yang cukup pantas. Mungkin inilah alasan beliau meminta Tuan Muda Baekhyun pindah. Dia ingin memberikan penghidupan yang pantas untuk Tuan Muda Baekhyun sebagai calon suami Tuan Muda Chanyeol. Tapi tentu saja itu adalah penawaran yang tidak terikat perjanjian. Tuan Muda Baekhyun boleh menolak kalau tidak suka."

Paman Jo Woon terdiam. Baekhyun pun tidak berkata-kata. Mereka berdua diselimuti kabut pemikiran masing-masing. Aku tahu aku memang bukan orang kaya. Kalau Tuan Park tahu hal ini, mengapa dia mau membuat perjanjian konyol itu? tanya Baekhyun dalam hati.

Baekhyun menggigit bibirnya sendiri. Diliriknya Paman Joo Won. Paman, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin kehilangan keluarga yang sangat penting bagiku. Tapi kalau aku terus berada di rumah, aku akan menyulitkan Paman dan Bibi. Aku tidak ingin kalian terlibat dalam masalah karena aku.

"Tuan, masalah ini tidak bisa diputuskan sekarang…," ujar Paman dengan wajah yang ragu dan bimbang. Pengacara Shim mengganguk tanda mengerti. "Memang kami bukan orang tua kandung Baekhyun. Tapi dia seperti anak sendiri bagi kami. Keputusan ini terasa berat untuk kami," jelas Paman Joo Won.

"Paman…" Baekhyun menyentuh ujung jari Pamannya. "Tidak apa-apa. Aku ingin tahu alasan semua ini. Aku pikir jika tinggal di ruamh keluarga Park untuk beberapa hari, tidak akan jadi masalah kan?"

"Jadi kau bersedia pindah ke rumah Tuan Park, Hyun-ie?" Paman Joo Won terkesiap.

"Iya, tapi bukan berarti aku tidak akan pulang, Paman. Hanya saja…" Baekhyun terdiam. Aku tidak ingin merepotkan Paman dan Bibi. Kelanjutan kata-kata itu hanya ditelan Baekhyun sendiri.

"Hanya saja?" tanya Pamannya.

"Yah, hanya saja mungkin ini akan sedikit memakan waktu," jawab Baekhyun cepat.

"Kau serius?" Pamannya meyakinkan lagi.

"Iya, aku serius, Paman."

"Tapi, Hyun-ie…"

"Aku tidak akan apa-apa. Aku pasti akan cepat pulang," jawab Baekhyun ceria. Mungkin kata-kata itu akan disesali Baekhyun. Tapi saat ini Baekhyun tidak ingin membuat paman tersayangnya terlihat tidak berdaya.

"Hm, baiklah kalau begitu. Berhubung Tuan Muda Baekhyun sudah setuju, urusan ini pun menjadi mudah. Tuan Kim, anda tidak perlu khawatir. Keluarga Park akan memperlakukan Tuan Muda Baekhyun dengan baik. Bila terjadi apa-apa, Tuan Muda Baekhyun bisa membicarakannya dengan saya, jadi tenang saja," pengacara Shim mengambil alih pembicaraan. "Saya akan segera memberitahukannya pada Tuan Park. Tentu dia senang sekali dapat berjumpa dengan anda, Tuan Muda." Baekhyun tersenyum. Matanya melirik kearah Pamannya. Paman Joo Won diam sejenak, lantas berdiri da menyalami pengacara tersebut.

"Tampaknya saya memang tidak bisa melakukan sesuatu untuk membatalkan perjanjian itu. Kalau begitu kami mohon pamit, Tuan Shim. Terima kasih atas waktu yang telah anda berikan kepada kami."

"Saya pribadi senang dapat bertemu dengan anda, Tuan Kim. Besok saya akan menjemput Tuan Muda dan mengantarkannya ke rumah keluarga Park. Ah ya, dan jangan lupa siapkan pakaian, Tuan Muda."


Baekhyun masih tidak habis pikir dengan semua ini. Selama perjalanan, dia sendiri pun menyayangkan keputusannya yang terburu-buru untuk pergi ke rumah keluarga Park. Tapi sungguh, Baekhyun tidak ingin membuat Paman dan Bibi yang disayanginya itu menaggung beban atas semua ini. Pergi ke rumah keluarga Park adalah cara yang bisa dipikirkannya. Toh, tidak akan lama! Setelah disana sejenak, dia akan kembali pulang.

Malam masih belum memeluk bumi secara menyeluruh. Saat ini Baekhyun duduk di mobil pengacara Shim. Lampu-lampu sudah mulai menyala di antara jalan raya, berada di antara bintang-bintang yang bertaburan di angkasa. Baekhyun menikmati malam yang belum lengkap ini, merayakannya dan bersulang untuk hari ini. Kilatan lampu dari mobil yang berlawanan arah tampak indah bagai kilau berlian. Baekhyun menikmati malam ini, menikmati kepergiannya, dan menikmati hidup yang terbentang untuknya, entah hidup seperti apa?

Mobil berhenti di sebuah rumah dengan pagar yang tinggi dan sebuah pos penjaga di dekat pagar. Pengcacara Shim membuka kaca mobilnya dan berbicara pada penjaga. Beberapa saat kemudian pintu pagar terbuka dan mobil metalik itu segera masuk.

Rumah itu besar dengan lampu-lampu taman yang indah. Halaman berumput dan sebuah kolam air mancur kecil di tengahnya. Baekhyun terpesona ketika melihat rumah tersebut. Seumur hidup tak pernah dibayangkan dirinya akan masuk ke dalam seperti ini.

Pengacara Shim membukakan pintu mobil untuk Baekhyun dan mereka berjalan menuju pintu besar dengan ukiran indah. Setelah memencet bel, muncullah seraut wajah perempuan berpakaian maid yang ternyata salah satu pelayan rumah tersebut. Setelah pengacara Shim menjelaskan, pelayan itu mempersilahkan Baekhyun dan pengacara itu masuk.

Baekhyun masuk dan menatap ruangan yang bersinar, diterangi lampu kristal yang menjuntai indah. Meja tamunya terbuat dari kayu mahogany dan sofanya terlihat sangat empuk, lebih empuk dari kasur Baekhyun yang sudah tipis dimakan usia. Porselen-porselen yang indah berderet rapi, dari yang kecil hingga besar. Jam antic bandul emas, kiri dan kanan. Lukisan-lukisan cantik tergantung di dinding, menambah kemewahan ruang itu. Baekhyun berdecak kagum. Inikah rumah orang kaya? Tanyanya dalam hati.

Dari dalam ruangan, seorang perempuan yang masih cantik di usia separuh baya datang sambil mendorong kursi roda. Pengacara Shim tersenyum dan langsung menyalami orang yang duduk di kursi roda. Pria itu terlihat tua dengan kerut di sekitar pipi dan dahi. Kacamata bergagang perak tersampir di depan hidungnya. Rambutnya masih terlihat hitam, walau ada beberapa bagian yang mulai memutih.

"Inikah Byun Baekhyun?" tanya laki-laki yang duduk di kursi roda. "Ah, manis! Kau mirip sekali dengan ibumu, padahal kau seorang laki-laki."

Baekhyun dengan gugup ikut berdiri dan mendekati kedua orang tersebut. Pria mungil itu masih gugup ketika harus membalas jabatan tangan laki-laki di kursi roda itu. Ada kelembutan yang dirasakan Baekhyun di ana.

"Kenalkan, namaku Park Jungsoo …" Baekhyun terkesiap. Tuan Park, orang yang berada di balik perjanjian tersebut. "Panggil saja aku Appa, nak" ujar laki-laki itu lagi. Baekhyun masih terpaku di dekat mereka, salah tingkah. Tapi mata Tuan Park terasa hangat memandangnya. Seperti mata Paman Joo Won…

"Kalau begitu, Baekhyun bisa memanggilku Eomma," ucap perempuan yang mendorong kursi roda itu ketika Baekhyun menyalaminya.

"Tuan Muda, nyonya ini adalah isteri Tuan Park, nyonya Park Taeyeon," jelas pengacara Shim. "Ah dimana anak-anak anda, Tuan? Mungkin bisa dikenalkan pada Tuan Muda Baekhyun juga?" tanya pengacara Shim.

"Si sulung masih bekerja. Sebentar lagi dia akan pulang. Junghan mungkin masih di rumah temannya," jawab nyonya Taeyeon.

"Kalau begitu saya mohon pamit. Nah, Tuan Muda Baekhyun, baik-baik di sini ya." ujar pengacara Shim.

Baekhyun memandang mobil metalik yang semakin menjauhi rumah. Koper Baekhyun sudah diangkut oleh pelayan dan ditempatkan di kamar tamu, di tingkat atas. Kamar itu besar dengan lemari kayu yang kuat dan sebuah meja rias lengkap dengan kacanya. Kasurnya sangat empuk dan seprainya begitu rapi tertata. Bahkan, ada kamar mandinya sendiri.

Baekhyun menatap kamar ini dengan kerjap tidak percaya. Benarkah dia akan tidur di kamar ini? Selama ini Baekhyun selalu tidur di kamar sempit yang kasurnya pun hampir rata dengan papan. Apakah ini keberuntungan yang datang setelah kemalangan dan kesialan yang dialaminya selama dua hari ini?

Pelayan yang membawa koper Baekhyun segera memindahkan baju Baekhyun ke dalam lemari. Baekhyun sendiri pun mandi. Tuan Park meminta Baekhyun merapikan diri dan ikut makan malam bersama keluarga Park, sekaligus berkenalan dengan Chanyeol, calon suaminya.

Setelah rapi, Baekhyun segera turun. Di bawah, Nyonya Taeyeon dan dua pelayannya sedang merapikan makan malam di meja makan. Tiba-tiba seseorang menarik kemeja yang dikenakannya. Baekhyun menengok dan melihat seorang anak perempuan tersenyum padanya.

"Annyeong! Apa kabar, oppa?" ucap anak perempuan kecil yang tersenyum pada Baekhyun.

"Ini anak perempuanku, Baekhyun. Namanya Seohyun," ujar Tuan Park yang muncul sambil memegang gagang pengendali kursi rodanya. "Dan yang itu, yang laki-laki, saudara kembarnya, namanya Seojun." Baekhyun tersenyum pada si kembar. Lucu sekali mereka, ujarnya dalam hati.

"Annyeong, aku Baekhyun," ujar Baekhyun ramah. Ketika Seojun melihat Baekhyun tersenyum padanya, berubahlah wajanya menjadi merah padam. Seohyun dan Seojun berusia tujuh tahun dan saat ini duduk di bangku kelas 2 SD. Dalam waktu singkat, Baekhyun langsung akrab dengan Seojun .

"Hyung sangat cantik, makanya Seojun suka sekali, seperti punya kakak perempuan hehehe," ujar Seojun sambil tertawa cekikikan di sisi Baekhyun. Baekhyun tersenyum dan langsung membelai rambut Seojun. Ditatapnya Seojun yang tampak malu-malu duduk di sisinya.

"Ah, terimakasih, Seojun-ie. Tapi hyung tidak cantik hm? Hyung ini tampan." Jawab Baekhyun sambil tertawa jenaka.

Seojun langsung merona wajahnya dan segera berlari kearah Nyonya Taeyeon yang ada disitu. Dia langsung bersembunyi di balik punggung Ibunya.

"Ya hahahaha Seojun-ie malu!" teriak Seohyun sambil tertrawa cekikikan. Baekhyun tersenyum senang. Rasanya seperti memiliki adik kembar.

Tinnn…Tinnn… Suara klakson mobil tiba-tiba terdengar.

"Itu pasti Chanyeol oppa. Chanyeol oppa pulang!" Seohyun berteriak kesenangan.

Baekhyun terkesiap. Wajahnya mendadak memucat dan jantungnya terasa berdetak cepat. Apa katanya? Chanyeol sudah pulang? Apa Chanyeol yang itu, laki-laki yang terikat perjanjian dengannya? Laki-laki yang katanya kelak jadi suaminya saat lulus SMA?

Seohyun berlari menuju pintu. Baekhyun masih terpaku bingung di tempatnya. Tak lama kemudian, Baekhyun mendengar suara laki-laki yang semakin mendekat, menuju tempatnya duduk. Tuan Park pun menghampiri Chanyeol. Baekhyun tertunduk resah. Chanyeol belum juga mendekatinya, tapi Baekhyun dapat mendengar suaranya yang berat dan sangat rendah.

"Ayo oppa, Seohyun-ie kenalkan pada Baekkie oppa. Dia sangat cantik..." Seohyun menarik Chanyeol. Chanyeol tertawa. Baekhyun dapat merasakan jantungnya berdebar lebih keras, seakan hendak meloncat dari dadanya.

Chanyeol menghampiri dan Baekhyun berdiri dari tempatnya duduk, tersenyum kikuk ke Chanyeol. Wow, tampan! Puji Baekhyun dalam hati ketika melihat sosok Chanyeol. Laki-laki itu tinggi atletis dan berkulit bersih. Rahangnya begitu tegas, bermata bulat dengan bola mata berwarna hitam pekat yang begitu mempesona. Telinganya agak besar namun itu justru cocok dengan wajahnya. Bibirnya sangat kissable dan hidungnya mancung. Chanyeol tampak dewasa.

Chanyeol menghampiri Baekhyun. Senyum tipis menghiasi bibirnya. Baekhyun tersenyum kikuk, terlebih lagi ketika Chanyeol menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Baekhyun merasa tidak enak. Mata itu begitu angker, begitu dingin. Baekhyun langsung salah tingkah dan gugup. Rambutnya yang berwarna coklat bergoyang-goyang.

"Oh, ini orangnya? Orang yang Aboeji sodorkan padaku itu? Hmm, lumayan," ujarnya dengan senyum sinis yang menusuk hati Baekhyun seketika.

"Anu…kenalkan…" Baekhyun lekas-lekas menyodorkan tangan kanannya hendak memperkenalkan diri. "Aku Byun Baekhyun," ujar Baekhyun dengan gugup dan masih berusaha menguasai diri.

Chanyeol menatap uluran tangan Baekhyun sekilas, lantas melongos dengan gaya angkuh tanpa membalasnya. Tangan Baekhyun mengambang di udara selama sekian detik dan Baekhyun tetap membiarkannya terulur kosong. Tanpa mempedulikan Baekhyun, Chanyeol dengan cepat memutar tubuhnya kearah Tuan Park. Ditatapnya Tuan Park sesaat kemudian mengangguk lalu Chanyeol memalingkan wajahnya kearah salah seorang pelayan yang ada disitu.

"Sepertinya aku tidak ikut makan malam," ujarnya sambil bergegas menuju tangga, "tolong antar makan malam ke kamarku," ujar Chanyeol. Pelayan yang ada disitu segera mengganguk tanda mengerti.

"Chanyeol!" bentak Tuan Park pada Chanyeol yang sudah bergegas menaiki anak tangga. "Tidak sopan bersikap seperti itu pada calon suamimu!"

Chanyeol mengangkat bahu dan terus naik. Sekilas ditatapnya Baekhyun dengan senyum mengejek. Baekhyun terdiam. Apa-apaan ini? Aku juga tidak pernah berharap untuk menjadi suaminya! Aku datang agar tidak lebih membebani Paman dan Bibi. Kalau aku punya uang banyak, ingin rasanya aku melempar mukanya yang angkuh itu.

Baekhyun menahan darahnya yang mulai naik ke kepala akibat diperlakukan seperti itu oleh Chanyeol. Tuan Park menggerakkan kursi roadanya kearah Baekhyun. "Baekhyunie, maafkan dia. Ah, apa salahku sehingga dia jadi kehilangan tata kramanya? Biasanya Chanyeol tidak seperti itu," ujar Tuan Park dengan wajah penuh penyesalan. Baekhyun tersenyum pahit.

"Tidak apa-apa, Appa…" Huh! Rasanya aku ingin mencekik laki-laki itu!

Bel pintu sekali lagi berbunyi. Kini si kecil Seojun yang berlari membukakan pintu. Seraut wajah pria cantik menyembul dari balik pintu. Rambutnya panjang sebahu dan di cat pirang yang tampak lembut dari dekat. Pria cantik tersebut segera masuk sambil menyubit pipi si kecil Seojun.

"Hallo tampan," ujarnya sambil mencopot sepatunya.

"Nah, itu anak ketigaku. Namanya Junghan."

Junghan melangkah dengan cuek kearah ayahnya dan memandang sekilas kearah Baekhyun. Kini pria cantik itu mengernyitkan dahi bingung.

"Junghan, ini Baekhyun…Byun Baekhyun," ucap Tuan Park memperkenalkan.

"Oh jadi ini orang yang kemarin diceritakan pengacara Shim itu? Hmmm, ternyata biasa-biasa aja. Apalagi gayanya sama sekali tidak modis."

"Junghan, jaga mulutmu!" bentak Tuan Park marah.

"Ups, sorry. Hallo, namaku Park Junghan." Junghan melambaikan tangannya dari tempatnya berdiri dengan sikap acuh tak acuh, bahkan terkesan bermain-main. Baekhyun mengangguk kikuk.

"Baekhyun. Byun Baekhyun."

"Baekhyunie, Junghan ini seusia denganmu dan sama-sama masih kelas 2 SMA," terang Tuan Park sambil tersenyum pada Baekhyun. Baekhyun mebalas senyuman itu dengan anggukan.

"Aboeji, aku ganti baju dulu."

"Ya, tapi kau harus ikut makan malam di bawah," perintah Tuan Park tegas. Junghan menggangguk sambil berlari ke atas. Tuan Park menghela napas, "Diatas Junghan, ada seorang lagi. Dia anak dari isteriku. Taeyeon memang isteri keduaku. Namanya Sehun, kira-kira beda empat tahun denganmu. Nanti ketika makan malam, kau bisa berkenalan dengannya."

"Anu, Appa, jadi Nyonya Taeyeon…," belum sempat Baekhyun bicara, Tuan Park sudah menggerakan jari telunjuknya ke dekat bibir.

"Bukan Nyonya. Panggil dia Eomma." Baekhyun tersenyum kikuk.

"Iya… maksud saya Eomma, dia isteri kedua Appa, lalu isteri pertama Appa bagaimana?"

"Dia sudah meninggal, kira-kira dua belas tahun yang lalu," Tuan Park menghentikan sejenak kata-katanya. "Chanyeol dan Junghan masih membutuhkan figur seorang ibu, terutama Junghan, dia sangat membutuhkannya," jelas Tuan Park dengan mata sendu.

Entah kenapa, ketika memandang mata itu Baekhyun merasa iba. Baekhyun mengangguk tanda mengerti. Hei, bukankah ini saat yang tepat apabila dia menanyakan tentang hubungan Tuan Park dengan ayahnya dan maksud dari perjanjian konyol itu?

Baekhyun bersiap-siap untuk bertanya, tapi Nyonya Taeyeon sudah memanggil untuk segera mengambil tempat di meja makan. Apa boleh buat, diurungkan niatnya untuk sementara waktu. Sekarang buakn saat tepat untuk bertanya.

"Hm… kau benar-benar mirip dengan mendiang Ibumu, Baekhyunie," tiba-tiba Tuan Park berkomentar. Baekhyun tercekat.

"Appa mengenal Ibuku?" tanya Baekhyun seketika.

"Hahaha, bukan hanya kenal. Kami bertiga, Ayahmu, Ibumu dan Appa sendiri adalah teman dekat saat SMA," terang Tuan Park.

Baekhyun terpesona. Dia ingin bertanya lebih banyak lagi. Tapi lagi-lagi Nyonya Taeyeon sudah memanggil mereka. Menyadari hal tersebut, Baekhyun mengurungkan niatnya sementara waktu. Dia segera membantu Tuan Park mendorong kursi rodanya menuju ruang makan. Nyonya Park membantu suaminya mengambil tempat di meja makan di sudut depan.

Si kembar segera ikut bergabung dan duduk di dekat Nyonya Taeyeon. Baekhyun sengaja mengambil tempat dekat si kembar, terutama dekat Seojun. Ketika Baekhyun mengambil tempat duduk di sisinya, wajah si kecil Seojun mendadak bersemu merah.

Junghan turun dari atas dengan pakaian santai, namun tidak mengurangi kecantikan pada dirinya. Baekhyun sempat heran apa ada pria secantik ini? Calon adik iparnya itu langsung bergabung dan mengambil tempat duduk di samping ayahnya. Baekhyun terpesona…. ternyata Junghan sangat cantik sekaligus tampan dari dekat, apalagi sikapnya sangat anggun. Mungkin begitulah orang kaya, pikir Baekhyun.

"Panggil Chanyeol! Dia harus ikut makan malam bersama kita. Disini ada tamu penting yang harus dia kenal," perintah Tuan Park pada salah satu pelayannya. "Oh iya, mana Sehun?" tanya Tuan Park pada isterinya.

"Mungkin dia masih di studio. Sebentar lagi juga dia kemari," jawan Nyonya Taeyeon sambil menyendokkan nasi ke piring Seohyun.

"Selamat malam, maaf terlambat…" sebuah suara memecah obrolan mereka. Baekhyun menoleh kearah suara tersebut. Matanya menangkap sesosok tubuh jangkung dengan kulit yang putih bersih nyaris albino. Senyum samar laki-laki itu begitu menawan dengan bibir yang berwarna kemerahan basah. Matanya berwarna biru dengan tatapan yang lembut. Baekhyun terpaku menatap sosok tersebut. Dia seperti orang Perancis. Tampan tapi juga tampak misterius. Ketika Sehun mendekat, Baekhyun dapat mencium bau cat minyak dari tubuhnya.

"Sehun…duduklah, nak," ujar Tuan Park senang ketika Sehun berdiri satu meter dari meja makan. Pria itu perlahan berjalan menuju meja makan. Sehun mengambil tempat tepat di hadapan Baekhyun. Senyum kecil dilemparkan kearah Baekhyun dengan sopan.

"Nah Baekhyun, ini Sehun, anak kedua. Dia lebih tua dari Junghan empat tahun," jelas Tuan Park. "Dan lebih muda dari Chanyeol dua tahun."

"Hai," sapa Baekhyun.

"Hallo!" Sehun tersenyum, masih dengan senyum yang sopan dan tidak meremehkan. Hm, dia kelihatannya lebih baik dari Chanyeol, gumam Baekhyun dalam hati.

Chanyeol muncul dan ikut bergabung dengan keluarganya. Diambilnya tempat duduk di sebelah Junghan. Matanya menatap Baekhyun sekilas, tapi kemudian melengos dengan angkuh. Baekhyun tertunduk sedih diperlakukan seperti itu, tapi mau apa lagi.

"Ngomong-ngomong bagaimana dengan sekolahmu, Baekhyun?" tanya Tuan Park memulai percakapan.

"Eh, ehmmm cukup baik Appa," Baekhyun menjawab dengan gugup.

"Appa senang sekali kau mau tinggal disini. Tapi kalau pulang pergi ke sekolahmu dari sini cukup memakan waktu kan?" Baekhyun diam sejenak, lalu mengangguk.

"Tidak apa-apa, Appa. Sudah biasa," jawab Baekhyun sopan.

"Tidak bisa begitu. Appa pikir terlalu memberatkanmu. Appa punya usul yang lebih baik. Bagaiman kalau kau pindah sekolah saja ke sekolah Junghan? Kalian bisa pergi bersama-sama dan bisa diantar jemput sopir."

Apa?! Baekhyun hampir saja tersedak mendengarnya.

"Apa?! Tidak bisa begitu, Aboeji! Kenapa aku disamakan dengannya? Dia jelas-jelas berbeda derajat denganku!" Junghan segera protes sebelum Baekhyun sempat menolak.

"Junghan!" Tuan Park membentak "Jangan karena kau orang kaya lantas kau menjadi sombong! Aboeji tidak suka dengan sikapmu!"

"Tapi, Aboeji…"

"Baekhyun akan menjadi bagian dari keluarga ini. Dia pantas mendapatkan yang terbaik. Apalagi dia akan menjadi calon suami kakakmu. Artinya dia akan menjadi saudaramu. Coba kau hargai itu!" suara Tuan Park terdengar begitu tegas.

"Aboeji tidak bisa memutuskan seenaknya seperti itu! Sejak semula Chanyeol hyung juga tidak pernah menyetujui perjodohan itu! Itu hanya egosentris Aboeji!" balas Junghan lebih keras.

"Junghan!Jaga mulutmu!"

"Tapi benar kan?! Karena perjanjian konyol yang Aboeji buat 16 tahun yang lalu, semua jadi berubah. Memangnya Abeoji kira Chanyeol hyung senang? Aku senang? Tidak!"

Hentikan! Baekhyun menutup matanya dan ingin sekali menjeritkan hal tersebut. Tolong, jangan berbicara hal itu! Tolong, jangan jadikan aku tidak berarti di sini! Ini juga bukan kemauanku. Lagipula aku tidak berniat untuk tinggal di sini lama-lama. Tapi bibir Baekhyun kaku. Lidahnya kelu. Baekhyun tidak bisa mengatakan itu semua.

BRAK!

Tiba-tiba meja digebrak dengan kuat. Baekhyun terkejut, begitu juga yang lain. Semua mata tertuju pada orang yang menggebrak meja. Sehun...

"Junghan, bersikaplah dewasa sedikit. Disini ada tamu yang harus kita hormati. Suka atau tidak suka!" suara Sehun terdengar begitu tajam pada Junghan.

Mendengar perkataan Sehun yang demikian tajam, Junghan hanya melengos kesal, lalu tertunduk sebal. Bahkan Sehun membentaknya? Baekhyun menatap Sehun. Bingung sekaligus senang. Rasanya Sehun membela Baekhyun. Ia jadi terharu dan rasanya ingin menangis senang.

"Aku mau makan di kamar saja. Bibi Lee, tolong bawakan makan malamku ke kamar," pinta Sehun sambil berdiri dari bangkunya dan pergi meniggalkan meja makan. Baekhyun menatapnya, begitu juga dengan semua orang.

"Sehun-ah," Chanyeol memanggil adiknya. Sehun menengok. "Hei, jarang-jarang kita bisa makan malam bersama seperti ini, tapi kau malah pergi begitu saja," tegur Chanyeol lembut.

"Suasana di meja makan ini terasa kurang nyaman. Aku takut mood untuk lukisanku hilang lagi. Maaf hyung, kalau aku tidak sopan. Aboeji dan Eomonie juga. Maaf …," ujar Sehun sebelum berlalu dari meja makan.

Baekhyun menatap punggung tegap milik Sehun. Bagi Baekhyun, Sehun hadir sebentar dan pergi dalam sekejap dari tatapan matanya. Tapi hati Baekhyun berterima kasih karena Sehun telah membelanya, walau mungkin bukan itu maksudnya secara langsung. Itu adalah permulaan makan malam terburuk dalam hidup Baekhyun.

.

.

.

.

.

TusukBaekhyunChanyeol

.

.

.

.

.

A/N: Hai hai ~ terimakasih sudah bersedia fav/foll/com hehehe XD dan juga terimakasih untuk Song Soo Hwa (soal ChanBaek atau HunBaek itu masih rahasia xD), Park Beichan (sudah lanjut ya), azurradeva (ini lanjutannya hehehe) dan yeolloaddedbaek (btw thanks untuk koreksinya di chapter kemaren hehehe, sudah di edit lagi ya). Ada yang sadar nama Paman dan Bibinya Baekhyun disini? Yup Joo Won dan Kim Tae Hee XD saya ambil dari drama Yong Pal, nggak tau aja mendadak kepikiran mereka lol. Seohyun disini bukan Seohyun SNSD ya, saya hanya menyamakan nama dia dengan Seojun, kalau Seojun jelas dia Seojun The Return of Superman! saya suka dia karena Chanyeol juga suka /gawoy/ Dan untuk Junghan ... iya ini Junghan Seventeen hmz, jangan tanya kenapa saya milih dia pft.